Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
    160 research outputs found

    Rhoma Irama: Konstruksi dan Reproduksi Tubuh Sang Raja Dangdut

    Full text link
    This article deals with the relationship between construction and reproduction in dangdut music, particularly Rhoma Irama. The impact of Rhoma Irama's dangdut construction stimulates the reproduction space of listeners with various creativity through the medium of the body. Power became the main capital in perpetuating construction and reproducing the figure of Rhoma Irama. I would like to discuss the 'fake' body or fake singer phenomena to read construction and body relations. In my opinion, the phenomenon of the fake body in music practice is not just a fandom pattern or for purely economic reasons, but an intertwined form of construction and power. This reproduction makes the construction scheme even more attractive. To disclose the problem, I refer to Michel Foucault for power relations in discussing this practice. This article uses a literature study and ethnography to provide a holistic analysis of the constellation of culture through musical practice. The findings of this article articulate the pattern and power negotiation between Rhoma Irama and the agents—such as listeners, fans, or other dangdut musicians. This article provides an important concern for body reading in the anthropological world of popular music. Artikel ini membahas relasi antara konstruksi dan reproduksi dalam musik dangdut, khususnya merujuk pada Rhoma Irama. Secara lebih lanjut, dampak konstruksi dangdut Rhoma Irama yang menstimulasi ruang reproduksi dari pendengar dengan beragam kreativitas melalui medium tubuh. Kuasa menjadi modal utama dalam melanggengkan konstruksi dan mereproduksi kembali figur Rhoma Irama. Dengan menautkan beberapa fenomena besar atas tubuh ‘palsu’ atau penyanyi palsu, pembacaan relasi tubuh dan konstruksi menjadi perhatian utama. Bagi saya, fenomena tubuh palsu dalam praktik musik bukan sekedar pola fandom atau guna alasan ekonomi semata, melainkan wujud yang berkelindan atas konstruksi dan kuasa. Pilihan-pilihan reproduksi tersebut lantas membuat skema konstruksi menjadi semakin menarik. Dalam mengartikulasikan relasi tersebut, saya merujuk Michel Foucault atas relasi kuasa dalam membahas praktik tersebut. Dengan menggunakan mix-metode antara studi literatur dan etnografi, artikel ini memberikan satu analisis yang holistik dalam menyingkap konstelasi budaya melalui praktik musik. Temuan dari artikel ini akan mengartikulasikan bahwa alasan reproduksi terjalin karena adanya tarik ulur kuasa antara Rhoma Irama dan pelaku reproduksi—baik pendengar, penggemar, ataupun pelaku musik dangdut lainnya. Artikel ini memberikan satu perhatian penting atas pembacaan tubuh dalam jagad musik populer secara antropologis

    Musik Indisch dalam Perspektif Poskolonial: Studi Kasus Karya Ki Hadjar Dewantara dan Constant van de Wall

    Full text link
    Indisch music is a music that uses a combination of “Eastern” music idioms and “Western” music idioms in composition and popular in Dutch-East Indies era. This article analyses the composition of Indisch music composed by Ki Hadjar Dewantara, a well-known educational figure and composer in Indonesia and Constant van de Wall, a Javanese-Dutch composer in a postcolonial perspective. Using a qualitative method and with a music theory framework and a postcolonial theory framework, this article answers two research questions: the first is how Ki Hadjar Dewantara and Constant van de Wall in making their Indisch music works viewed in terms of their composition and the second is how the contestation of the struggle the power that is built into their piano composition in a postcolonial perspective. The composition of the two composers shows that Dutch colonialism in the Dutch East Indies has produced a mixed culture called Indisch culture which has become an arena of contestation and power struggle for the colonizers and colonized. Starting from this point, the authors hope that this article contributes to the world of piano education in Indonesia. Music teacher and student of music need to understand of postcolonial theory in addition to music theory and music history.Musik Indisch adalah jenis musik yang menggunakan perpaduan idiom musik “Timur” dan idiom musik “Barat” di dalam komposisinya dan populer di zaman Hindia-Belanda. Artikel ini menganalisis komposisi musik Indisch yang digubah oleh Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan dan komponis terkenal di Indonesia dan Constant van de Wall, seorang komponis Jawa-Belanda. Dengan menggunakan metode kualitatif dan dengan kerangka teori musik dan kerangka teori poskolonial, artikel ini menjawab dua pertanyaan riset: yang pertama adalah bagaimana Ki Hadjar Dewantara dan Constant van de Wall dalam membuat karya musik Indischnya ditinjau dari bentuk komposisi mereka dan yang kedua adalah bagaimana kontestasi perebutan kuasa yang terbangun dalam komposisi piano mereka dalam perspektif poskolonial. Komposisi kedua komponis tersebut menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda di Hindia-Belanda telah menghasilkan kebudayaan campuran yang bernama kebudayaan Indisch yang telah menjadi arena kontestasi dan pertarungan kuasa bagi si penjajah dan yang terjajah. Berangkat dari titik tersebut, penulis berharap artikel ini dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan piano di Indonesia. Pemahaman teori poskolonial di samping teori musik dan sejarah musik penting dimiliki oleh guru dan siswa piano Indonesia

    UrFear Huhu and The Multitude of Peer Gynts sebagai Tawaran Liveness pada Pertunjukan Virtual

    Full text link
    This article deals with the “liveness” debate of virtual performance. Liveness is the most discussed issue when various artists choose virtual performances for their work. One of the reasons for the largest number of medium migration from live shows to virtual shows is the Covid-19 pandemic, that throughout 2020. In this article, the issue of liveness is linked to the liveness debate from scholar performance studies, Peggy Phelan, Philip Auslander, and Daniel Meyer-Dinkgräfe. Daniel Meyer-Dinkgräfe suggested that virtual performance have to be formulated differently from live performance. Regarding the suggestion, this article will discuss a virtual performance from Teater Garasi, “UrFear: Huhu and the Multitude Peer of Gynts”. Furthermore, this article investigates the various modes of performance in Teater Garasi performances. This investigation reveals the Moda initiative and special treatment that they did. According to the choice of performance modes and special treatments, Teater Garasi’s can offer the presence of liveness in virtual performance. Artikel ini membahas tentang tawaran liveness pada pertunjukan virtual. Liveness menjadi persoalan yang paling banyak dibicarakan ketika pelbagai seniman memilih pertunjukan virtual sebagai medium mereka berkarya. Salah satu penyebab banyaknya migrasi medium dari pertunjukan langsung ke pertunjukan virtual adalah pandemi Covid-19    yang terjadi sepanjang tahun 2020. Di dalam artikel ini, ihwal liveness akan ditautkan dengan perdebatan liveness dari scholar performance studies, Peggy Phelan, Philip Auslander, dan Daniel Meyer-Dinkgräfe. Khususnya Daniel Meyer-Dinkgräfe menyarankan agar pertunjukan virtual memiliki formulasi yang berbeda dari pertunjukan live. Atas dasar itu, artikel ini akan menautkan pertunjukan virtual Teater Garasi yang bertajuk UrFear: Huhu and the Multitude Peer of Gynts. Lebih lanjut, artikel ini menginvestigasi ragam moda performans pada pertunjukan Teater Garasi. Investigasi ini ditautkan dengan mempertanyakan liveness dan perlakuan khusus yang dilakukan Teater Garasi dalam menciptakan pertunjukannya. Bertolak dari pilihan moda performans dan perlakuan khusus yang ditawarkan, pertunjukan virtual Teater Garasi dapat menjadi tawaran akan hadirnya liveness pada pertunjukan virtual

    Apakah Wayang Kulit Dibentuk oleh Sunan Kalijaga?

    No full text
    AbstrakArtikel ini menganalisa cerita wali sanga, lebih tepatnya hubungan Sunan Kalijaga dengan seni wayang, dengan lebih mendalam. Legenda yang membicarakan tentang bagaimana dan kenapa Sunan Kalijaga mengubah bentuk wayang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Penelitian ini membahas tentang apakah aturan agama Islam memang memerlukan wali sanga untuk mengubah bentuk wayang atau tidak. Pola pikir tentang menggambarkan tokoh-tokoh penting dalam agama lain, seperti halnya dalam agama Hindu dan Budha, juga diteliti di sini. Setelah melihat pola pikir dan aturan-aturan yang berbeda di dalam beberapa tradisi ini, kita akan bisa menarik kesimpulan yang baru tentang cerita Sunan Kalijaga.AbstractThis article examines the story of wali sanga, or to be more precise the story which connects Sunan Kalijaga with the art of shadow puppetry in detail. The story about how and why did Sunan Kalijaga change the shape of wayang figures is well known by all Indonesians. This research will examine if according to Islamic law, was it really required to change the shape of wayang figures or not. We will also talk about the way of thinking about depicting important figures in other religions, such as in Hinduism and in Buddhism too. After we saw all the different points of view and rules about this in the different traditions, we will be able to draw a new conclusion about the story of Sunan Kalijaga

    Musik Protes di Indonesia Pada Era Reformasi: Sebuah Kajian Historis

    Full text link
    Musik protes telah menjadi bagian dari dinamika politik di suatu negara, termasuk Indonesia. Karya seni tersebut dinilai mampu menguatkan keeratan sosial di masyarakat sehingga mampu memunculkan berbagai pergerakan dalam melawan kebijakan-kebijakan otoritas yang berkuasa. Era Reformasi dinilai sebagai masa yang membuka secara luas kreativitas dan penyampaian opini dari masyarakat. Hal ini membangun sebuah gagasan bahwa musik protes akan berkembang lebih beragam dibandingkan dengan pada masa orde baru. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan mengenai perkembangan musik protes di Indonesia pada era reformasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada historiografi yang bersumber pada literatur-literatur di Internet. Hasil dari penelitian ini menggambarkan perkembangan musik protes di era reformasi, musik protes sebagai field of struggle, masuknya musik protes dalam pop culture serta peran media digital dalam perkembangan musik protes. Melalui media digital, musik protes tidak hanya diproduksi oleh musisi-musisi ternama namun semua orang mampu membuat bahkan mendistribusikan karyanya masing-masing. Penelitian lebih lanjut dapat mendalami musik protes melalui wawancara dengan tokoh-tokoh yang relevan

    Kajian Sifat Relasi Antara Manusia Dengan Alam Dilihat dari Bentuk dan Fungsi Gerabah Pejaten Bali

    Full text link
    Saat ini permintaan akan gerabah mengalami penurunan yang cukup signifikan karena jumlah penggunaan yang semakin berkurang. Meski produksinya tampak menurun, para perajin gerabah di Bali masih terus membuat produk warisan leluhur ini. Pengrajin meyakini bahwa gerabah merupakan hasil alam yang mampu menjalankan fungsinya dalam berbagai peran dalam kehidupan budaya di Bali. Artikel ini akan mengkaji fungsi gerabah Bali dalam hubungan manusia dengan alam dalam konteks budaya Bali. Analisis menggunakan teori fungsi kompleks dalam aspek fungsi dari Papanek. Konsep Pangider Bhuwana dan Tri Hita Karana digunakan untuk memahami fungsi gerabah Bali dalam konteks budaya spiritual. Hasilnya, peran gerabah dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali yaitu gerabah sebagai alat, menjalankan fungsi praktis untuk peralatan rumah tangga; gerabah sebagai komunikasi, berupa ornamen, memberikan informasi, misalnya tentang jenis bangunan, gengsi, dan status pemiliknya; gerabah sebagai simbol, adalah gerabah sebagai upakara dalam upacara agama Hindu. Penggunaan gerabah di Bali masih penting, terutama dalam konteks adat dan ritual karena gerabah mencerminkan hubungan yang kuat antara manusia dan alam. Unsur-unsur alam yang terkandung dalam gerabah melambangkan unsur-unsur yang terkandung dalam tubuh manusia.Kata kunci: gerabah, fungsi, relas

    Struktur Dramatisasi Basalisiah dalam Trilogi Ritual Tabuik Pariaman

    Full text link
    AbstractThis article discusses the dramatization of the basalisiah event in the Tabuik Pariaman ritual trilogy. Basalisiah as a form of cultural performance has presented a dramatic identity of the character of the Tabuik Pariaman ritual.  This dramatic trilogy is contained in a separate Tabuik ritual trilogy, namely manabang batang pisang, maarak jari-jari, and maarak saroban. The performance of the show is situational, tends to change, is unpredictable, and without directing, but has clear and intact rules. The role of the basalisiah pawang, Anak Tabuik, and basalisiah audience really determines the dramatization of basalisiah. Sosoh and cime'eh become speech styles in the dramatization of the show. With the concept of theatricality, performativity and liminality become the basis for the analysis of the structure of basalisiah dramatization from the point of view of the character of the Tabuik performance, Prosest basalisiah in the Tabuik Pariaman ritual trilogy influenced by histrionic behavior so as to form a behavior that dramatizes situations from basalisiah to bacakak (fighting). Basalisiah recorded the history and dramatization style of theatricality in Tabuik cultural performances that can be relevant in the renewal of the world of performances.  AbstrakArtikel ini membahas tentang dramatisasi peristiwa basalisiah dalam trilogi ritual Tabuik Pariaman. Basalisiahsebagai bentuk pertunjukan budaya telah mempresentasikan sebuah identitas ‘dramatik’ karakter ritual Tabuik Pariaman. Dramatik ini terdapat dalam trilogi ritual Tabuik yang terpisah, yaitu manabang batang pisang, maarak jari-jari, danmaarak sorban. Performatif pertunjukannya bersifat situasional, cenderung berubah-ubah, tidak bisa diprediksi, dan tanpa ‘directing’, namun memiliki aturan yang jelas dan utuh. Peran pawang basalisiah, Anak Tabuik, dan penonton basalisiah sangat menentukan dramatisasi basalisiah. Sosoh dan cime’eh menjadi gaya tutur dalam dramatisasi pertunjukan. Dengan konsep teatrikalitas, performativitas dan liminal menjadi dasar analisis struktur dramatisasi basalisiah dalam sudut pandang karakter pertunjukan Tabuik. Prosesi basalisiah dalam trilogi ritual Tabuik Pariaman dipengaruhi oleh perilaku histrionik, sehingga membentuk suatu perilaku yang mendramatisir situasi dari basalisiah sampai bacakak (berkelahi). Basalisiah mencatatkan sejarah dan gaya dramatisasi teatrikalitas dalam pertunjukan budaya Tabuik yang bisa relevan dalam pembaruan dunia pertunjukan.

    Nilai-Nilai Tradisi Bukoba di Pasir Pengaraian Rokan Hulu Provinsi Riau

    Full text link
    Bukoba Tradition is an oral tradition that delivers news in the form of verse, and the verse contains words and meanings to be conveyed accompanied by music. Bukoba is a tradition that contains values which should be recognized by the younger generation. Bukoba contains educational, religious, social, and traditional values. Educational value is an invitation to listeners to preserve customs, culture and tradition which had been long gone. Religion value is in the form of conveying to the audience for always carrying out acts of worship and never forgetting Allah SWT. Social Value is when the audience can meet their relatives and old friends who haven't seen them for a long time. Traditional value is a medium to inherit traditional values. Introduction to values in Bukoba must be instilled to the younger generation of Rokan Hulu so that they can be nurtured and not eroded by globalization.Keywords: Bukoba, Values, Oral Tradition

    Improvisation and Music Education: From the Sonic to Social Attunement

    Full text link
    In order to create a relationship to music, artists first need to create a relationship with their inner sound, and the way in which they approach the manifestation of sound from their instrument (whether it'd be through the use of hands, voice, or a plain manifestation of thoughts). Since this process is dialectic in its nature, the ability to develop this type of responsiveness, sometimes referred to as "attunement", is as important in the musical sphere as it is in social exchanges. Therefore, musical practice can play an important role in developing such aptitude among people of all ages. This paper focuses on the factors that stimulate or inhibit expression, through the lens of western classical and Javanese gamelan musical practice. It will be argued that the change of awareness in individual experience, gained through music improvisation can find its reflection on the interactive synchrony in a larger social and cultural frame

    Pembentukan Hiasan Kepala Busana Pengantin Sebagai Proses Pembelajaran Dalam Menciptakan Modifikasi

    Full text link
    The bridal costume, seen from the structure and fashion accessories, has aestheticvalue and symbolic value. The bridal costume consists of headdresses, clothes, skirts,and accessories. This study examines the object of the bride’s clothing on the head.The phenomenon of modifying a wedding dress headdress needs attention, so that itscultural value is maintained. Qualitative research methods with an aesthetic approach. The research objective was to find the concept of the formation of a bride dress headdress and to find the value of the function of a modified bridal headdress. It is hoped that the modified form of the bride’s headdress will not leave behind the typical Gorontalo bridal dress. The results showed that the modification of the headdress of The bridal costume was born because the roles of tools, materials, and the formation process were more varied. Modification has a value of personal function, social function, and physical function. Busana pengantin perempuan Gorontalo memiliki ciri estetik dan makna simbolik. Struktur busana terdiri dari busana bagian atas (hiasan kepala), busana bagian tengah (baju dan aksesorisnya), dan busana bagian bawah (rok dan ornamen hiasnya). Penilitian ini fokus membahas busana bagian atas, yaitu hiasan kepala/sunthi. Fenomena modifikasi hiasan kepala busana pengantin Gorontalo perlu mendapatkan perhatian, agar nilai-nilai tradisionalnya tetap terjaga. Penelitian ini menggunakan pendekatan teknologi dan estetika untuk menemukan ide penciptaan. Tujuan penelitian untuk menemukan konsep pembentukan hiasan kepala busana pengantin sebagai media pembelajaran dalam membuat kreasi busana tradisional. Konsep tersebut diharapkan dapat menemukan cara pembentukan hiasan bagian kepala yang melahirkan estetika baru, tanpa  meninggalkan ciri khas busana adatnya. Hasil penelitian ditemukan bahwa lahirnya bentuk modifikasi pada hiasan kepala busana pengantin karena adanya peranan aspek tecnoware. Perkembangan tecnoware yang dimaksud meliputi alat, bahan, dan proses, sedangkan nilai fungsi yang mempengaruhi modifikasi dibedakan menjadi fungsi personal, fungsi sosial, dan fungsi fisik

    144

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Seni
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇