Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
    160 research outputs found

    Elemen Visual dan Respon Pengunjung Terhadap Interior Noch Kafe di Kota Malang

    Full text link
    Ngopi culture of the Indonesian people today will proliferate services that provide various types of coffee drinks and comfortable and aesthetically pleasing seats. One of the cafes that provide this service is Noch Kafe, located in Malang City. This study aims to determine the visual elements of the interior at Noch Kafe and to determine the visitor's response to the visual elements of the interior. The study was conducted using qualitative methods to analyze descriptive data and images, and quantitative methods of percentages to analyze visitor response data. Descriptive data were obtained through interviews, documentation, and observation, while the response data were obtained through questionnaires. The results showed that the visual elements of the interior have a Scandinavian style with a blend of modern styles and are adapted to the climatic conditions and Indonesian culture. Space-forming elements are made simple and function properly. These can be seen through application of wood materials and the choice of white color on the walls. In addition, the form adapts to climatic conditions, as seen in glass ceilings and walls. Furniture is also made of wood and is simple in shape and according to its function. The results of visitors' responses to visual elements influenced by personal experience show a good/excellent response to most of the visual elements. However, the survey results also concludes that visitors are disfavored with the shape of the table, the shape of the shelves, the night lighting on the terrace area, and the photo/picture decoration

    Stereotip Sinden Sunda: Keadilan Perempuan dalam Berekspresi Seni

    Full text link
    Sinden merupakan sebuab praktik kesenian dalam bidang tarik suara, membawakan lagu tradisi seperti kawih sunda. Sinden memiliki stereotipe yang dibuat sama seperti ronggeng, hal tersebut sangat melekat pada konotasi negative perempuan, begitupun pandangan ataupun stereotipe yang berada dimasyarakat seringkali membuat posisi sinden dinilai buruk sebagai perempuan penggoda. Dalam hal ini penelitian difokuskan kepada pandangan seorang perempuan pelaku sinden mengenai perkembangan dan respon masyarakat dalam lingkup sosial terhadap sinden sebagai seorang perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pandangan masyarakat saat ini mengenai praktik sinden, khususnya di tanah Sunda. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif analisis dengan mendeskripsikan hasil analisis data yang telah diperoleh dilapangan. Pengumpulan data melalui wawancara dan studi literatur untuk menguatkan data dan hasil penelitian. Hasil yang ditemukan bahwa saat ini pergeseran pandangan negatif akan sinden menuju pandangan dan apresiasi yang tinggi dari masyarakat, sehingga stereotipe akan perempuan yang memiliki nilai buruk sudah semakin pudar, tentunya hal tersebut didukung dengan pola pikir dan perekembangan masyarakat dari hasil perjuangan para pesinden terdahulu

    Identitas Visual pada Coffeeshop dan Warung Kopi di Surabaya

    Full text link
    Tulisan ini membahas tentang Makna Identitas yang dapat dikonstruksikan ke dalam bentuk Visual berupa Warung Kopi & Coffeeshop yang merupakan bagian dari The Wave Culture Of Coffeeshop yang dapat mencerminkan konsep indentitas sendiri antara Warung Kopi & Coffeeshop di Surabaya sebagai ruang ublik privat. Penelitian ini sangat unik karena Makna & tanda visual yang tampak didalamnya mampu mengidentifikasi sebuah tempat sesuai dengan klasifikasi demografis & geografis pengunjungnya. Kategori dalam penelitian ini masuk ke dalam ranah budaya visual dengan model deskriptif kualitatif, menggunakan metode semiotika. Permasalahan yang dibaca peneliti mencoba untuk menjawab apakah sebuah artefak budaya berupa identitas visual mampu menggambarkan konsep ruang publik privat berupa Warung Kopi & Coffeeshop yang dipengaruhi oleh keberadaan budaya warga Kota Surabaya. Agar dapat mencapai tujuan tersebut, proses observasi dilakukan dengan mengamati & mendokumentasikan identitas visual, kemudian dianalisis menggunakan Metode Analisis Visual Saussure untuk menemukan makna dibalik dokumentasi dari tempat-tempat ‘ngopi’ yang diproduksi oleh pemiliknya. Sudut pandang peneliti merupakan poin utama dibantu dengan referensi dari sumber-sumber terkait dengan topik dalam penelitian sebagai perspektif dalam membedah unit analisis penelitian. Metodelogi visual digunakan sebagai pisau analisis pada keberadaan branding, tipografi (teks & tulisan), ilustrasi/gambar, peralatan, & keseluruhan desain ruang. Urgensi dalam penilitian dapat menambah khasanah penelitian budaya visual yang memberikan kesimpulan keberadaan tempat/ruang publik privat memiliki identitas yang menyangkut pada aspek fisik & sosial, dimana Kota Surabaya sebagai aspek kajian. Warung kopi lekat dengan Budaya ‘Arek’ & ‘Cangkrukan’  yang ada di Surabaya. Warung Kopi identik dengan tempat ‘ngopi’ yang sederhana & terbuka. Sedangkan Coffeeshop identik dengan ruang publik privat yang eksklusif untuk masyarakat. Diferensiasi terhadap dua objek ini membuat penelitian mengenai identitas visual ini perlu untuk dapat dikembangkan lebih lanjut. Karena benda dalam objek penelitian merupakan artefak budaya yang dapat mengindikasikan suatu peradaban, sehingga akan selalu ada unsur ideologis dalam elemen visual yang terus berkembang mengikuti budaya & teknologi. Dimana komoditi utama didalamnya adalah kopi yang terus diproduksi, dikonsumsi, & dikembangkan.Kata kunci: Identitas, brand, warung kopi, coffeeshop, semiotik

    Lagu-Lagu Daerah Indonesia pada Panggung Musik Nasional 1950-1960an

    Full text link
    Lagu-lagu daerah telah memainkan peranan penting sebagai representasi keindonesiaan dalam ranah musik. Ia tidak hanya menjadi musik hiburan, namun juga diterima sebagai artikulasi kemajemukan dan kekayaan suku bangsa dan budaya Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menelusuri, kapan dan bagaimana lagu-lagu daerah muncul dan mendapatkan maknanya sebagai identitas keindonesiaan. Menggunakan pendekatan historis serta metode kajian literatur, lensa pengamatan diarahkan pada rentang 1950-1960an sebagai kurun di mana isu budaya daerah intensif memenuhi ruang-ruang diskurs nasional sebagai implikasi kebijakan budaya pemerintah Orde Lama pada masa Demokrasi Terpimpin. Hasil penelusuran mendapati bahwa kebijakan budaya pada kurun Demokrasi Terpimpin telah mendorong lembaga-lembaga kesenian, musisi dan industri rekaman memobilisasi lagu-lagu daerah Indonesia untuk tampil ke tengah panggung musik nasional sebagai identitas musik Indonesia sekaligus sebagai counter culture musik popular barat. Pada kurun itu untuk pertamakalinya, lagu-lagu yang hari ini dikenal sebagai lagu daerah direkam secara modern dalam bentuk piringan hitam oleh berbagai musisi dan perusahaan rekaman dalam negeri

    Media Alternatif Seni dan Konstruksi Identitas Studi Kasus Tentang Zine Blcak Metal Istiqomah

    Full text link
    Zine Black Metal Istiqomah adalah bentuk media alternatif yang mengusung tema identitas hibrid black metal dan Islam.Menggunakan konsep perpaduan identitas musik underground black metal dan identitas Islam, zine Black Metal Istiqomah menarasikan pesan keagamaan bahasa yang santai tanpa intensi menggurui. Menggunakan metode penelitian kulitatif, penelitian ini fokus, untuk menginvestigasi bagaimana strategi pengkarya, zine, dalam menegosiasikan san mengonstruksi dua identitas yang saling bersebrangan tersebut. Penelitian dianalisis secara tekstual mengunakan teori semiotika Roland Barthes untuk memahami desain karya dan bentuk visual zine Black Metal Istiqomah. Bentuk visual karya kemudian dianalisis secara kontekstual menggunkan teori hibriditas Jan Pieterse untuk mengungkap proses negosiasi identitas black metal dan identitas Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan zine Black Metal Istiqomah mengalami proses negosiasi pada bentuk visual karya, berupa peyederhanaan beberapa simbol identitas secara visual. Identitas black metal pada zine berperan sebagai tanda visual karya, sedangkan identitas Islam berperan pada bagian konten cerita. Pda akhirnya zine Black Metal Istiqomah merupakan bentuk penggabungan identitas yang berhasil menciptakan identitas kekaryaan dan secara tidak langsung menciptakan bentuk identitas hibrid atau nbaru yaitu Black Metal Istiqomah di kalangan Penggemarny

    Jejak Seni Pertunjukan dalam Hikayat Banjar: Silang Budaya Jawa dan Banjarmasin

    Full text link
    Abstract Hikayat Banjar contains traces of ancient arts around Banjar kingdom. In this work, the poet states that the customs in Banjar have their roots in Majapahit in many times. The artistic traces of this text also show a connection with Javano-Balinese art. The aims of this research to reveal the past art forms that contained in Hikayat Banjar and see their relationship with Javanese art. The approach of this research is culture as text. In Hikayat Banjar there are various types of traditional music, dance, and traditional drama. These art forms show a similar pattern with Javanese and Balinese art, especially from the palace. These performing art in Hikayat Banjar show the relationship between Banjarese and Javanese arts. From a musical point of view, gamelan in Hikayat Banjar is closely related to the karawitan tradition in Javanese courts. The dance in Hikayat Banjar shows similarities to the wireng genre in Java. The form of theatre in the Hikayat Banjar separated in two kinds, the drama that played by humans and puppets. This traditional theatre form has a close relationship with Javanese and Balinese arts in the past. Despite having the same artistic roots as Java and Bali, the arts in Banjar developed in the different situations and conditions. The relationship between Javanese and Banjar arts also related to the migration from Java to Banjarmasin in the 17th century.Keywords: Hikayat Banjar, performing art, karawitan, dance, traditional theatre. AbstrakHikayat Banjar memuat jejak kesenian kuno Banjar dan sekitarnya. Dalam karya ini, penyair berkali-kali menyatakan bahwa adat di Banjar berakar dari Majapahit. Jejak kesenian dari teks ini juga menunjukkan adanya kaitan dengan kesenian Jawa dan Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk kesenian masa lalu yang tertuang dalam Hikayat Banjar dan melihat kaitannya dengan kesenian Jawa. Penelitian ini berpegang pada pendekatan bahwa kebudayaan adalah teks. Dalam Hikayat Banjar terdapat berbagai jenis karawitan, tari, dan drama tradisi. Bentuk-bentuk kesenian itu menunjukkan adanya kesamaan pola dengan kesenian Jawa dan Bali, khususnya dari lingkungan istana. Jejak-jejak itu menunjukkan hubungan antara kesenian Banjar dengan Jawa. Dari segi seni musik, gamelan di Hikayat Banjar terkait erat dengan tradisi karawitan di istana-istana Jawa. Seni tari dalam Hikayat Banjar menunjukkan kemiripan dengan genre tari wireng di Jawa. Bentuk teater dalam teks Hikayat Banjar ada yang dimainkan oleh manusia dan ada yang menggunakan wayang. Bentuk teater tradisi itu memiliki kedekatan dengan kesenian Jawa dan Bali pada masa lampau. Walaupun memiliki kesamaan akar kesenian dengan Jawa dan Bali, kesenian di Banjar berkembang mengikuti situasi dan kondisi yang berbeda. Pertalian kesenian Jawa dan Banjar terkait dengan adanya perpindahan penduduk dari Jawa ke Banjarmasin pada abad ke-17.Kata Kunci: Hikayat Banjar, seni pertunjukan, karawitan, tari, drama tradisional

    Strategi Menggerakkan Festival Warga Studi Kasus Penyelenggaraan Layang Lakbok Art and Culture Festival

    Full text link
    ABSTRACTA festival is a cultural event that all cultural communities in the world have. One of the festival's functions is to improve the life energy of the cultural community that organizes it. Layang Lakbok Art and Culture Festival is a festival organized by Lakbok residents, Ciamis Regency, West Java. This festival stems from the spirit of a group of young people who are members of the Pematang Sawah Association to develop the post-harvest celebration of Lakbok residents into a bigger event. This idea and spirit then invite all citizens to be involved in the festival production process. The process of spreading ideas, spirit, and the festival production is carried out using the social capital owned by the youth, in particular, and in general by all citizens. The social capital used covers all aspects that are owned by citizens, starting from kinship relations, friendship, habits, actions, conflict management, arts, culinary, and many others. Thus, Layang Lakbok Art and Culture can be said to be a citizen festival that is owned and produced independently by them. The citizen participation aspect is the key to organizing this festival. This research is an attempt to interpret the practices that the author has alone experienced, together with the residents, to be precise in the production process of the Layang Lakbok Art and Culture Festival. For this reason, the research method used was the action research method where the author is directly involved in the process of procuring the Layang Lakbok Festival. This paper is expected to reveal the various participation done by the residents in organizing Layang Lakbok so that how the Layang Lakbok Festival is developed can be better known. ABSTRAKFestival merupakan sebuah peristiwa budaya, yang dimiliki oleh seluruh komunitas budaya di dunia. Salah satu dari fungsi festival adalah memperbaiki energi kehidupan dari komunitas budaya yang menyelenggarakannya. Layang Lakbok Art and Culture Festival adalah Sebuah festival yang diselenggarakan oleh warga Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Festival ini berangkat dari semangat sekelompok anak-anak muda yang tergabung dalam Paguyuban Pematang Sawah dalam mengemas ulang perayaan pasca panen warga Lakbok menjadi eventyang lebih besar. Ide dan semangat ini kemudian dibagikan kepada seluruh warga untuk ikut terlibat dalam proses produksi festival. Proses penyebaran ide, semangat hingga proses produksi festival dilakukan dengan menggunakan modal sosial yang dimiliki oleh anak-anak muda tersebut pada khususnya dan pada umumnya oleh seluruh warga. Modal sosial yang digunakan mencakup seluruh aspek yang dimiliki oleh warga yaitu mulai dari relasi kekerabatan, pertemanan, kebiasaan, tindakan, manajemen konflik, kesenian, kuliner dan lain sebagainya. Jadi Layang Lakbok Art and Culture merupakan sebuah festival warga, yang dimiliki oleh warga dan diproduksi secara mandiri oleh warga. Aspek partisipasi warga menjadi kunci dalam penyelenggaraan festival ini. Penelitian ini adalah upaya memaknai praktik yang telah dialami sendiri oleh penulis bersama warga dalam proses pewujudan Layang Lakbok Art and Culture Festival. Jadi metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian bertindak, di mana penulis terlibat langsung dalam proses pewujudan Layang Lakbok Festival. Lalu tulisan ini diharapkan dapat meraba lapis-lapis partisipasi warga dalam penyelenggaraan Layang Lakbok sehingga dapat dilihat bagaimana sesungguhnya Layang Lakbok Festival digerakkan.

    Eternal: Interpretasi Puisi Simbol “Q” Karya Sutardji Calzoum Bachri

    Full text link
    ABSTRACTThe work "Eternal" is a musical composition performance that adopts the meaning and significance of Sutardji Calzoum Bachri's symbolic poem "Q" as the base idea. The results of an in-depth observation of Sutardji Calzoum Bachri's symbolic poem "Q" are five main points which are derived from the interpretation of the author.  The five points are (1) We (humans) and God have different positions, different substances and different characteristics, unimaginably different, so humans need guidance ('Q' = al-Quran) in order to reach Him;  (2) Humans will always be limited in any ways as 'humans’, in contrast to creators and beings who are assigned the title alif, lam, mim;  (3) As human beings who have reason and sense, we’ll always look for meanings and be side by side with the universe (habluminallah and habluminannas);  (4) Confusion makes people speculate on everything;  and (5) In the end, questions will end in questions again. These points are used as the basis for the theme or the atmospheric description for creating the materials for the musical and working on each of the musical compositions in "Eternal".  The musical compositions are as follows: "Aku", "Q", "Seru!", "Alif Lam Mim", and "Tanya". The composition of the musical "Eternal" goes through three stages, namely the preparation of content ideas, the preparation of the composition ideas, and the actual composing.                        Keywords: Eternal, Music Analyzer, The Symbolic Poem “Q” ABSTRAKKarya “Eternal” adalah pertunjukan komposisi musik yang mengangkat arti dan makna puisi simbol “Q” karya Sutardji Calzoum Bachri sebagai ide gagasannya. Hasil pengamatan mendalam terhadap puisi simbol “Q” karya Sutardji Calzoum Bachri dapat ditemukan lima poin utama yang berasal dari hasil interpretasi pengkarya. Kelima poin tersebut yaitu (1) Kita (manusia) dan Tuhan memiliki perbedaan posisi, perbedaan zat dan perbedaan sifat, jauh tak terbayangkan, maka manusia butuh pedoman (‘Q’=al Quran) untuk sampai pada-Nya; (2) Manusia akan selalu terbatas dalam kadarnya sebagai ‘manusia’, berbeda dengan pencipta dan makhluk yang diberi predikat alif, lam, mim; (3) Sebagai manusia yang memiliki akal senantiasa mentadaburi (mencari makna) dan bersanding dengan alam semesta (habluminallah dan habluminannas); (4) Kebingungan membuat manusia berspekulasi terhadap segala hal; dan (5) Pada akhirnya pertanyaan akan berakhir pada pertanyaan kembali. Poin-poin tersebut digunakan sebagai titik pijak tema atau penggambaran suasana untuk menyusun materi musikal dan garap masing-masing komposisi musik dalam karya “Eternal”. Adapun komposisi musik tersebut sebagai berikut. “Aku”, “Q”, “Seru!”, “Alif Lam Mim”, dan “Tanya”. Penyusunan karya musik “Eternal” menggunakan tiga tahapan, yaitu penyusunan gagasan isi, penyusunan ide garapan, dan penuangan ide garapan. Kata kunci: Eternal, Analisa Musik, Puisi Simbol “Q”

    Esensi Manusia sebagai Makhluk Berseni dan Beragama

    Full text link
    AbstractThis study is motivated by the gap between the disciplines of art and religion, which are generally considered separate and inseparable. This paper intends to prove that art and religion are actually complementary disciplines and humans cannot be separated between the two. This study aims to explain how the essence of human as a creature is religious, artistic, and religious also artistic at the same time. This study used qualitative research methods with informant data sources, places & events, and documents or archives. Data were collected using in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. Interviews were aimed at 6 different religious figures from the IMP organization (Indonesia Merayakan Perbedaan), namely Islam, Christianity, Catholicism, Hinduism, Buddhism, and Believers. Observations are aimed at human activities of various religions in religion and art which are carried out offline and online. Document analysis is aimed at extracting data from books, journals and other literature. The validity of the data was tested by source triangulation and informant review techniques. Data were analyzed using interactive analysis techniques with data reduction, display, and verification procedures. The results of the study show that humans are actually creative creatures so that the emergence of religion and art cannot be separated from human creativity in seeking true truth. Humans have institutionalized religion while not for art, so that art and religion are not really to be contested. Artwork and religious worship are manifestations of the truth as a result of human reflection. The conclusion is that art and religion are institutions that are inseparable and complementary, which are essential for humans. AbstrakKajian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara lembaga seni dan agama yang umumnya dianggap terpisah dan tidak dapat disatukan. Tulisan ini hendak membuktikan bahwa sejatinya seni dan agama menjadi disiplin yang saling melengkapi dan manusia tidak bisa lepas antara keduanya. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana esensi manusia sebagai makhluk beragama, berseni, dan beragama sekaligus berseni. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan sumber data informan, tempat & peristiwa, dan dokumen atau arsip. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Wawancara ditujukan pada 6 tokoh agama berbeda dari organisasi (IMP) Indonesia Merayakan Perbedaan yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Penghayat Kepercayaan. Observasi ditujukan pada aktifitas manusia dari berbagai agama dalam beragama dan berseni yang dilakukan secara offline maupun online. Analisis dokumen ditujukan untuk mengali data yang bersumber dari buku, jurnal, dan literatur lainya. Keabsahan data diuji dengan teknik triangulasi sumber dan review informan. Data dianalisis dengan teknik analisis interaktif dengan prosedur reduksi data, display, dan verifikasi. Hasil kajian menunjukan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk kreatif sehingga munculnya agama dan seni tidak lepas dari kreativitas manusia dalam upaya mencari kebenaran sejati. Manusia telah melembagakan agama sedangkan tidak untuk seni, sehingga seni dan agama sejatinya tidak untuk dipertentangkan. Karya seni dan ibadah agama merupakan manifestasi kebenaran hasil renungan manusia. Kesimpulanya adalah bahwa seni dan agama menjadi lembaga yang keduanya tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi juga dibutuhkan manusia secara esensial

    Konstruksi Gender melalui Senjata Tradisional Bé. Rang di Sumbawa Nusa Tenggara Barat

    Full text link
    This paper deals with how the gender construction is realized through bé. rang in the community of Rempe Village, Seteluk District, West Sumbawa. Bé. rang is a traditional weapon of the Sumbawa people in the form of a slaughter weapon made by a panre (master/blacksmith). In general, the people of Sumbawa recognize three types of gender, namely tau salaki (male), tau swai (female) and tau calabai (transgender). The absence of tau swai and tau calabai in the nganyang tradition, the use of the term bé. rang as sanak salaki (brother), and differentiation and restriction of access to tau swai and tau calabai from the use of bé. rang, becoming the reason this research was conducted. The problem of this research is dissected using the concepts of externalization, objectivation, and internalization proposed by Peter L. Burger and Thomas Luckmann (1990). The results of this study indicate that in general gender construction occurs through bé. rang. This gender construction produces “value standards” which tend to be masculine and few discriminatory but quite dynamic. Besides that, the gender construction that is manifested through bé. rang is very structure/hierarchical and tends to be negotiative. This can be seen from how tau calabai that are still given the opportunity to access bé. rang salaki with the consideration that they will return to the “normal” tau salaki. The gender hierarchy is reflected in the classification according to the type of bé. rang that can be accessed, such as tau ode (boys), tau taruna (youth), tau salaki rango (adult men), tau swai (female) and tau calabai (banci) is evidence of a very structured and hierarchical gender construction. This gender construction occurred, was inherited and strengthened by existing institutions in the Sumbawa community such as the family, the West Sumbawa Regency Government, the Tana Samawa Customary Institution, the Rempe Village Government, schools, and the Titik Api group also played an important role as a tool of legitimacy in gender construction through bé. rang. Penelitian ini menyoal bagaimana konstruksi gender terwujud melalui bé. rang di masyarakat Desa Rempe, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Bé. rang sendiri merupakan senjata tradisional masyarakat Sumbawa berjenis senjata penebas yang dibuat oleh seorang panre (empu/pandai besi). Secara umum masyarakat Sumbawa mengenal tiga jenis gender yakni tau salaki (laki-laki), tau swai (perempuan) dan tau calabai (banci). Ketidakhadiran tau swai dan tau calabai dalam tradisi nganyang, adanya penggunaan istilah bé. rang sebagai sanak salaki (saudara laki-laki), serta pembedaan dan pembatasan akses tau swai dan tau calabai terhadap penggunaan bé. rang, menjadi alasan penelitian ini dilakukan. Permasalahan penelitian ini dibedah dengan menggunakan konsep eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang dikemukakan Peter L. Burger dan Thomas Luckmann (1990). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara garis besar konstruksi gender memang terjadi melalui bé. rang. Konstruksi gender tersebut menghasilkan “standar nilai” yang cenderung maskulin dan sedikit diskriminatif namun cukup dinamis. Selain itu konstruksi gender yang terwujud melalui bé. rang sangat terstruktur/hierarkis dan cenderung negosiatif. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana tau calabai yang masih diberi kesempatan untuk mengakses be.rang salaki dengan pertimbangan akan kembali menjadi tau salaki “normal”. Adapun hierarki gender tergambar dari adanya klasifikasi sesuai jenis be. rang yang dapat diakses seperti tau ode (anak laki-laki), tau taruna (pemuda), tau salaki rango (laki-laki dewasa), tau swai (perempuan) dan tau calabai (banci) merupakan bukti terjadinya konstruksi gender yang sangat terstruktur dan hierarkis. Konstruksi gender tersebut terjadi, terwariskan dan diperkuat oleh lembaga- lembaga yang ada dalam masyarakat Sumbawa seperti keluarga, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, Lembaga Adat Tana Samawa, Pemerintah Desa Rempe, sekolah-sekolah, dan kelompok Titik Api juga berperan penting sebagai perangkat legitimasi dalam konstruksi gender melalui bé. rang

    144

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Seni
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇