Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
    160 research outputs found

    SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS AS DOXA IN THE NETWORK PRACTICE OF ART COLLECTIVES IN INDONESIA

    Full text link
    This study examine the phenomenon of networks of art collectives in Indonesia, which proliferated in the period leading up to 2020, and their connection to the global discourse of the Sustainable Development Goals. These networks represent a form of social practice that emerged from the transformation of the objective structure of the field of art and the subjective internalization of such changes by art practitioners. The research applies Pierre Bourdieu’s theory of social practice and employs a literature study method to map the social and economic relations of art collectives within the Indonesian art field from 2000 to 2024. By using Bourdieu’s framework, this study reveals that: (1) the structure of the artistic production field in Indonesia from 2000 to 2024 has been shaped by the art market and fund  structures, which have driven the differing orientations of art collectives along two distinct heteronomous poles; (2) the network practices of visual art collectives in Indonesia are propelled by the discourse of sustainable development as a form of doxa produced by the field of power

    FUNGSI GAMELAN DALAM RANGKAIAN SEMBAHYANG UMAT HINDU DI PURA SEDALEMAN KARANGANYAR

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi gamelan dalam rangkaian sembahyang umat Hindu di Pura Sedaleman, Karanganyar. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi peran gamelan dalam konteks kegiatan keagamaan, mayoritas studi tersebut cenderung berfokus pada penggunaan gamelan dalam upacara perayaan keagamaan yang terdiri dari serangkaian kegiatan dengan tujuan yang lebih luas. Penelitian ini mengisi celah dengan mengeksplorasi fungsi gamelan pada sembahyang bersama yang lebih personal dan bertujuan mencapai kekhusyukan umat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi langsung untuk memperoleh data yang komprehensif. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi fungsi gamelan dalam rangkaian sembahyang umat Hindu di Pura Sedaleman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi gamelan di antaranya sebagai simbol dan tanda sakral, pendorong respon fisik pada tubuh umat, serta sebagai sarana kontemplasi dan penghayatan estetis selama rangkaian sembahyang berlangsung. Fungsi-fungsi tersebut berkontribusi secara signifikan terhadap kelancaran rangkaian sembahyang. Temuan ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan terkait fungsi gamelan dalam perspektif keagamaan kepada khalayak umum

    ANALISIS METAFORA VISUAL ADEGAN PENOBATAN RATU ELIZABETH II DALAM DRAMA BIOPIK 'THE CROWN'

    Full text link
    Penelitian ini menganalisis penggunaan metafora visual dalam adegan penobatan Ratu Elizabeth II pada season satu episode 5 dari serial drama biografi The Crown. Tujuannya adalah mengidentifikasi berbagai bentuk metafora visual, seperti pencahayaan, komposisi gambar, dan simbol visual lainnya yang memperkaya narasi dan penggambaran sejarah. Teknik yang dianalisis meliputi Potret/Gambar Gabungan, Konstruksi Gabungan, Fotomontase, Kategori Animasi, dan Superimposisi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual untuk mengevaluasi efektivitas setiap teknik. Hasil menunjukkan bahwa metafora visual dalam The Crown memperkuat narasi visual sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap kompleksitas sejarah dan karakter. Fotomontase menggambarkan peristiwa penting secara kompleks, Konstruksi Gabungan menciptakan citra visual yang kaya, sementara Superimposisi dan Potret/Gambar Gabungan menambah kedalaman emosional dan simbolik. Kategori Animasi menghadirkan dinamika dan gerakan dalam cerita. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan metafora visual dalam film dan drama dapat menjadi strategi efektif untuk menghidupkan kembali peristiwa sejarah secara menarik dan bermakna.Penelitian ini menganalisis penggunaan metafora visual dalam adegan penobatan Ratu Elizabeth II pada season satu episode 5 dari serial drama biografi The Crown. Tujuannya adalah mengidentifikasi berbagai bentuk metafora visual, seperti pencahayaan, komposisi gambar, dan simbol visual lainnya yang memperkaya narasi dan penggambaran sejarah. Teknik yang dianalisis meliputi Potret/Gambar Gabungan, Konstruksi Gabungan, Fotomontase, Kategori Animasi, dan Superimposisi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual untuk mengevaluasi efektivitas setiap teknik. Hasil menunjukkan bahwa metafora visual dalam The Crown memperkuat narasi visual sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap kompleksitas sejarah dan karakter. Fotomontase menggambarkan peristiwa penting secara kompleks, Konstruksi Gabungan menciptakan citra visual yang kaya, sementara Superimposisi dan Potret/Gambar Gabungan menambah kedalaman emosional dan simbolik. Kategori Animasi menghadirkan dinamika dan gerakan dalam cerita. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan metafora visual dalam film dan drama dapat menjadi strategi efektif untuk menghidupkan kembali peristiwa sejarah secara menarik dan bermakna

    STRUKTUR KOMPOSISI DAN IRINGAN PENTAS JULA-JULI PADA PERTUNJUKAN LUDRUK DI PADEPOKAN SENI KIRUN

    Full text link
    Ludruk adalah kesenian khas Jawa Timur yang mulai ditinggalkan masyarakat. Hal ini mendorong seniman Ludruk seperti H. Muhammad Syakirun melalui Padepokan Seni Kirun (PADSKI) untuk berinovasi dalam upaya melestarikan kesenian Ludruk. Perkembangan dilakukan dengan fragmentasi, yaitu menghadirkan beberapa segmen Ludruk secara ekslusif. Pertunjukan PADSKI banyak menampilkan pentas Jula-Juli sebagai ikon Ludruk karena nilai pesannya yang mendalam, dan ditampilkan dengan struktur komposisi yang lebih luwes dan responsif terhadap fenomena sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dan struktur komposisi pentas Jula-Juli yang dimainkan Padepokan Seni Kirun. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang dibantu dengan studi musikologi, sedangkan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertunjukan Ludruk di Padepokan Seni Kirun terdiri dari beberapa adegan, yaitu tari Ngremo, Bedayan, lawakan, dan Lakon, dengan kidungan Jula-Juli sebagai elemen khas di setiap adegan. Padepokan ini juga menampilkan segmen khusus Pentas Jula-Juli yang mengangkat tema dari kidungan lawakan dan Bedayan. Struktur komposisi musik Jula-Juli menggunakan gending pathet wolu dengan variasi tema lirik dan cengkokan di setiap adegan—sambutan dalam tari Ngremo dengan cengkokan lugu, nasionalisme dan kritik sosial dalam Bedayan dengan cengkokan dol-tinuku, serta lelucon dan persatuan dalam lawakan dengan cengkokan lugu dan dolana

    NEO EVOLUSI BUDAYA TARIAN PERANG DALAM TRADISI OJUNG DI DESA BLIMBING KECAMATAN KLABANG KABUPATEN BONDOWOSO

    Full text link
    The Ojung tradition is a ritual tradition of requesting rainfall which is carried out by the Madurese and Pandalungan communities in East Java. When tracing the cultural genealogical roots of the tradition, it seems to remind people's collective memory of war dance movements from the classical period, but it is possible that the Ojung tradition is thought to have originated from a much older period of time, which is in prehistory. This study aims to determine the Neo Evolution of War Dance in the Ojung Tradition found in Blimbing Village, Klabang District, Bondowoso Regency. This research uses data collection methods in the form of field methods, namely case studies and uses data collection techniques, namely triangulation techniques. This research uses an analysis method in the form of an interpretative qualitative analysis method and uses a historical analysis model. The results of this study indicate that the Ojung Tradition which is still preserved in Blimbing Village, Klabang Subdistrict, Bondowoso Regency is an evolved culture rooted in the war dance of the Austronesian Nation which has undergone various processes of change and development while maintaining the main concept or core value of the tradition itself

    KOMODIFIKASI MOMEN NOSTALGIA MUSIK KOES PLUS OLEH GRUP BAND PELITA HATI ASAL KARANGANYAR

    Full text link
    This research examines the Koes Plus music performance and the commodification of nostalgic moments by the Pelita Hati group to explain how the Pelita Hati group utilizes a memory or nostalgic moment of Koes Plus song lovers to become a commodity as a process of transforming use value into exchange value. The researcher explains three problem formulations presented in this scientific thesis, namely: (1) What is the general picture of the pop music industry during the Koes Plus era? (2) What is the performance process carried out by Pelita Hati? (3) What is the process of commodification of nostalgic moments that occurs in the Pelita Hati group? In order to explore and understand the phenomenon of music in the context of performances of nostalgic moments through the song Koes Plus, this research uses Vincent Mosco's theory of audience commodification. This research uses a qualitative method described descriptively, in collecting data using the results of observation, interviews, documentation, literature study.The results of this research are that there is a commodification process that occurs in the band Pelita Hati which takes advantage of a memory or nostalgic moment of Koes Plus song fans to gain profit. Apart from that, the Pelita Hati group also brought back songs from Koes Plus with their creativity. From these two things, Pelita Hati tries to reproduce industrial products that it tries to resell. In this case, it can be interpreted that the profits are not only obtained by the Pelita Hati group itself, but also by listeners and audiences who love Koes Plus music. Keywords: Commodification, Nostalgia, Koes Plus

    PENDEKATAN AUTOETNOGRAFI DALAM PENELITIAN ARTISTIK: STUDI KASUS DAN IMPLIKASI METODOLOGIS

    Full text link
    The primary aim of this research is to enhance understanding of autoethnographic perspectives in artistic research. It also seeks to explore the contributions, challenges, and potential of this approach in expanding creative knowledge. Certain artists may perceive the evaluation of their own artworks as excessively subjective, which may lead to doubts regarding the scientific rigor of the subsequent research. This study examines various autoethnographic models within artistic research and their application in previous studies. Employing a qualitative framework, this study utilizes a literature review approach. Content analysis was employed to extract data from relevant documents, while meta-synthesis was used for comprehensive analysis. This study uncovers that there are four distinct kinds of autoethnographic approaches: realistic, impressionistic, expressionistic, and conceptualistic. These models provide several frameworks that can be utilized for studies focused on artwork, practice, studio, and reflective experiences, particularly in relation to the subjective experiences of creators. This study discovered a theory of artistic experience that is strongly linked to the fusion of the artistic research model and the autoethnographic approach model. This research has profound implications for broadening art research approaches, enhancing comprehension of the creative process, promoting critical cultural analysis, producing novel theories of artist experience, and fostering future art and autoethnographic research

    PROTO-PERFORMANCE DALAM DEMONSTRASI BURUH DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA: YANG TIDAK BIASANYA

    Full text link
    Kajian ini menelaah bagaimana relasi kuasa antara buruh Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kesultanan selaku Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta terungkap melalui konstruksi demonstrasi yang dipersiapkan oleh Serikat Buruh di Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktivisme buruh di Yogyakarta dan sekitarnya dinilai unik karena relasi antara buruh sebagai rakyat dan Sultan sebagai raja tidak bisa dilihat secara hitam putih. Kajian ini mengungkap sifat-sifat radikalitas dan iterabilitas dari persiapan demonstrasi (proto-performance) melalui kacamata kajian budaya dan kajian performans (performance studies). Kajian ini menggunakan metode etnografi performans untuk melihat demonstrasi sebagai aksi performatif, dan oleh karena tubuh para demonstran memiliki pengetahuannya sendiri tentang budaya. Sumber data primer dalam penelitian ini berupa observasi langsung dan percakapan dengan aktivis-aktivis buruh di DIY, serta sumber sekunder berupa artikel-artikel berita. Data dikumpulkan melalui catatan-catatan selama observasi. Hasil dari kajian ini adalah bahwa proto-performance dari demonstrasi buruh bersifat radikal karena mereka berusaha membebaskan diri dari script kultural normatif untuk mengimajinasikan kehidupan buruh yang sejahtera

    KOSMOPOLITANISME DIGITAL: SEBUAH TAWARAN STRATEGI KEBERLANJUTAN SENI DAN BUDAYA TRADISI DI ERA DIGITAL

    Full text link
    Seni dan budaya tradisional dihadapkan pada tantangan yang signifikan dalam mentransmisikan nilai-nilainya dari satu era ke era berikutnya. Kehadiran teknologi mutakhir menjadi pendorong utama percepatan evolusi budaya. Namun, globalisasi, yang didorong oleh teknologi mutakhir, sering dianggap sebagai ancaman terhadap seni dan budaya tradisional. Di samping berpotensi menghilangkan kemampuan kebudayaan dalam bertransformasi, agar dapat terus berlanjut, sikap ultra-konservatisme budaya juga tidak relevan bahkan dengan kebudayaan itu sendiri yang pada dasarnya bersifat dinamis dan terus bertransformasi seiring waktu. Dalam bentuk conceptual paper dan dengan metode studi pustaka, tulisan ini berupaya untuk menawarkan suatu “jalan ketiga”, yakni “kosmopolitanisme digital” di tengah-tengah dua kutub ekstrim ultra-konservatisme budaya dan sikap teknofilia yang diharapkan dapat menjadi suatu “model” sikap (pada tataran personal) yang dapat digunakan oleh para pengemban kebudayaan untuk mengembangkan kebudayaan tradisional di era teknologi digital, khususnya di dalam realitas digital media sosial. Kosmopolitanisme digital mengacu pada pandangan atau sikap yang mencerminkan pemahaman, keterlibatan, dan identitas yang melintasi batas-batas geografis dalam era digital. Kosmopolitanisme digital, dapat menjadi suatu strategi, sekaligus jembatan antara keberlanjutan budaya dan pengaruh global, memberikan peluang baru dan tantangan untuk pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional dalam era digital

    ANALISIS VISUAL DESAIN COVER BUKU SERI TEMPO EDISI “CHAIRIL ANWAR” TAHUN 2022

    Full text link
    Cover merupakan halaman paling depan yang berfungsi untuk memuat identitas, melindungi, dan menyampaikan isi buku melalui visualnya karena menjadi media pertama yang dilihat oleh pembaca. Dengan demikian, aspek visual dalam desain cover buku perlu diperhatikan agar dapat memenuhi fungsi-fungsi tersebut. Buku seri Tempo edisi Chairil Anwar tahun 2022 merupakan bentuk kolaborasi antara pihak penerbit dengan ilustrator digital Bambang Nurdiansyah yang karya ilustrasinya digunakan dalam desain cover, sehingga tampilan visual cover buku ini menarik karena membawa ciri khas dari ilustratornya. Ciri khas ilustrasi Bambang Nurdiansyah yaitu memadukan unsur figuratif dengan objek lain seperti flora dan benda dengan pewarnaan digital yang menyerupai teknik aquarel secara manual. Perubahan ilustrasi pada desain cover cetakan ini menampilkan seluruh ciri khas ilustrator dibandingkan cetakan pertamanya yang hanya menampilkan wajah tokoh Chairil Anwar dengan pewarnaan yang monokromatik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis visual dalam desain cover buku seri Tempo edisi Chairil Anwar tahun 2022 berdasarkan aspek ilustrasi, warna, tipografi, dan layout. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode analisis visual. Data visual cover buku kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam desain cover buku tersebut terdapat kategori objek representasional, berupa figur, benda, dan flora dengan teknik digital bergaya aquarel; penggunaan dan perpaduan warna yang harmonis; penggunaan kelompok huruf Gothic sans serif pada elemen teks yang jelas dan mudah dibaca; serta penerapan prinsip-prinsip layout yang membentuk kesatuan dari keseluruhan aspek visual dalam desain cover buku

    144

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Seni
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇