Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Respon Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Pupuk Kalium dan Pupuk Daun
Bawang merah (Allium ascalonicum) mengalami penurunan produksi yang disebabkan rendahnya tekanan turgor sel sehingga kandungan air dalam umbi cepat menguap saat penyimpanan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui respon  bawang merah terhadap pemberian pupuk kalium dan pupuk daun serta mengetahui kombinasi pupuk yang terbaik. Penelitian dilaksanakan dilahan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jatimulyo, Malang, pada bulan Oktober-Desember 2016. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan yaitu : P0: Tanpa pemupukan, P1: Pupuk daun seminggu sekali, P2: 100 kg.ha-1 Urea, 300 kg.ha-1 SP-36 dan 200 kg.ha-1 KCl, P3: 100 kg.ha-1 K2O (KNO3) + 2 g.l-1 pupuk daun seminggu sekali, P4: 120 kg.ha-1 K2O (KNO3) + 2 g.l-1 pupuk daunseminggu sekali, P5: 150 kg.ha-1 K2O (KNO3) + 2 g.l-1 pupuk daun seminggu sekali, P6: 100 kg.ha-1 K2O (KNO3) + 2 g.l-1 pupuk daun dua minggu sekali, P7: 120 kg.ha-1 K2O (KNO3) + 2 g.l-1 pupuk daun dua minggu sekali, P8: 150 kg.ha-1 K2O (KNO3) + 2 g.l-1 pupuk daun dua minggu sekali. Hasil penelitian pemberian pupuk kalium dan pupuk daun berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan per rumpun, luas daun, jumlah umbi, bobot segar umbi, bobot umbi kering matahari, bobot susut umbi, bobot umbi kering matahari per hektar dan indeks panen. Kombinasi pupuk paling baik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman serta bobot susut umbi bawang merah yaitu 120 kg.ha-1 K2O (KNO3) + 2 g.l-1 pupuk daun seminggu sekali
Keragaman Genetik Karakter Morfologi Beberapa Genotip Padi Merah (Oryza sativa L.) pada Fase Vegetatif dan Generatif
Padi merah merupakan salah satu plasma nutfah padi lokal yang memiliki keunggulan baik dari rasa, kepulenan maupun fungsinya bagi tubuh. Saat ini, potensi pengembangan plasma nutfah padi lokal menjadi varietas padi unggul tergolong rendah, hal tersebut dikarenakan masih kurangnya analisa keragaman genetik plasma nutfah padi lokal yang telah dikoleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik beberapa karakter morfologi sembilan genotip padi merah (Oryza sativa L.) pada fase vegetatif dan generatif. Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat keragaman genetik yang luas pada beberapa karakter morfologi sembilan genotip padi merah (Oryza sativa L.) pada fase vegetatif dan generatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari–Agustus 2017 di kebun percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Nilai Koefisien Keragaman Genetik (KKG) dari semua karakter pengamantan kuantitatif tergolong dalam kategori rendah, yakni berkisar antara 5% - 16% begitu juga nilai Koefisien Keragaman Fenotip (KKF) yakni berkisar antara 6% - 18%. Nilai heritabilitas pada beberapa karakter pengamatan kuantitatif tergolong dalam nilai heritabilitas tinggi (h2> 0,5), yaitu berkisar antara 0,75 – 0,8. Dari hasil pengamatan terhadap beberapa karakter kualitatif juga menunjukkan adanya keragaman pada setiap genotip padi merah. Penampilan pada semua karakter yang diamati pada penelitian ini lebih besar dipengaruhi oleh faktor genetik dari pada faktor lingkungan
Analisis Hubungan Kekerabatan Genotip Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) Berdasarkan Karakter Kualitatif dan Kuantitatif
Biji bunga matahari merupakan salah satu sumber penghasil minyak nabati di Indonesia. Sementara itu, di Indonesia masih mengimpor biji dan minyak bunga matahari untuk keperluan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan kekerabatan pada karakter kualitatif dan kuantitatif 29 genotip bunga matahari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Agustus 2017 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang terletak di Jatimulyo, Kota Malang, Jawa Timur. Penelitian meng-gunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan 29 genotip bunga matahari diulang 3 kali. Pengamatan dilakukan berdasarkan karakter kualitatif dan kuantitatif. Karakter yang berkontribusi tinggi dalam variasi dipelajari berdasarkan principal component analysis (PCA) dengan pendekatan koefisien korelasi Pearson. Pengelompokkan genotip berdasarkan agglomerative hierarchical clustering (AHC) dengan similaritas koefisien korelasi Pearson dan metode aglomerasi un-weighted pair-group average. Hasil evaluasi kekerabatan 29 genotip bunga matahari berdasarkan karakter kualitatif meng-gunakan principal component analysis (PCA) terbagi menjadi 6 komponen utama (principal component, PC) dengan nilai keragaman kumulatif 74,48%. Hasil evaluasi kekerabatan 29 genotip bunga matahari berdasarkan karakter kuantitatif menggunakan principal component analysis (PCA) terbagi menjadi 3 komponen utama dengan nilaikeragaman kumulatif 79,52%. Pengelompokan genotip bunga matahari berdasarkan karakter kualitatif dengan agglomerative hierarchical clustering (AHC)Â Â terbagi menjadi empat kelompok utama pada koefisien 31%-91%. Pengelompokan berdasarkan karakter kuantitatif terbagi menjadi empat kelompok utama pada koefisien 96%-99%
Fenologi dan Karakterisasi Morfo-Agronomi Tanaman Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) pada Kawasan Tropis
Bunga matahari (Helianthus annuus L.) adalah tanaman yang memiliki banyak manfaat dalam berbagai bidang, seperti industri, pangan, kesehatan dansebagai bahan kosmetik. Informasi mengenai fenologi pertumbuhan dan karakter morfo-agronomi pada bunga matahari dapat digunakan sebagai informasi dasar tentang tanaman tersebut utamanya untuk perakitan varietas baru yang bersifat unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari fenologi dan melakukan karakterisasi pada 32 aksesi bunga matahari. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang pada bulan Januari-Mei 2018.Bahan tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah 32 aksesi bunga matahari. Terdapat 41 variabel pengamatan. Variabel yang diamati meliputi karakter kuantitatif dan karakter kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan fenologi pertumbuhan yang beragam pada 32 aksesi bunga matahari berdasarkan pengamatan pada karakter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah hari dari penanaman sampai pemanenan dan periode pemasakan biji. Terdapat keragaman pada 41 karakter morfo-agronomi yang diamati, kecuali pada karakter warna hijau daun dan warna hijau kelopak daun yang memiliki nilai keragaman rendah
Pengaruh Pemberian Pyraclostrobin dan Azoxystrobin terhadap Kualitas Buah Jeruk Keprok Batu 55 (Citrus reticulate)
Tanaman jeruk (Citrus reticulate) me-rupakan tanaman tahunan yang berasal dari Asia Tenggara. Tanaman ini sudah terdapat di Indonesia terutama Kota Batu. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman jeruk adalah kurang optimalnya dalam perawatan sehingga kualitas jerukbelum bisa dipenuhi oleh produsen dalam negeri.Oleh karena itu agar dalam budidaya tanaman dapat dicapai kualitas yang baik, maka perlu dilakukannya pem-berian zat pengatur tumbuh berbahan aktif Pyraclostrobin dan Azoxystrobin.Penelitian  di-laksanakan pada bulan April hingga Juni 2018 di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtrobika (BALITJESTRO) Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa aplikasi Pyraclostrobin dan Azoxystrobin memberikan hasil yang nyata pada parameter persentase buah bertahan, diameter buah, berat buah, warna buah dan total asam,aplikasi Pyraclostrobin 2 g.l-1dan 3 g.l-1 mampu meningkatkan persentase buah bertahan, aplikasi Pyraclostrobin 0,8 ml.l-1 meningkatkan diameter buah dan berat buah sedangkan aplikasi Pyraclostrobin dengan konsentrasi 0,8 ml.l-1 dan 2 g.l-1 menghasilkan warna buah yang lebih baik, aplikasi Azoxytrobin  1 ml.l-1 mampu menurunkan kadar total asam
Induksi Poliploidi pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pemberiaan Kolkisin
Bawang merah termasuk salah satu komoditas pertanian yang sangat terkenal di kalangan masyarakat sebagai bahan utama dalam bumbu hampir pada setiap masakan Indonesia. Rendahnya minat petani budidaya bawang merah lokal menjadi salah satu kendala yang menyebabkan semakin langkanya bawang merah lokal. Hal ini dikarenakan petani tidak bisa bersaing dengan bawang merah impor yang mempunyai kualitas umbi lebih besar dan harga yang lebih terjangkau.Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya suatu usaha perbaikan tanaman. Salah satunya dengan kegiatan Induksi Poliploidi untuk mendapatkan sifat yang lebih unggul. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh kolkisin pada poliploidisasi bawang merah Batu Ijo berdasarkan pengamatan morfologi dan sitologi.Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-April 2018 di Desa Sumberbulu Kecamatan. Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Parameter yang diamati adalah waktu munculnya tunas (hst), tinggi tanaman (cm), Jumlah daun, waktu panen (hst), Jumlah siung, diameter umbi (cm), berat basah tanaman (g), berat kering tanaman (g) dan jumlah kromosom. Metode yang digunakanyaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi konsentrasi kolkisin dengan lama peren-daman hanya terjadi pada tinggi tanaman umur 21, 28, dan 35 hst. Tinggi tanaman meningkat akibat perendaman kolkisin konsentrasi 400 ppm selama 5 jam. Sedangkan Konsentrasi kolkisin 200 ppm dan Lama perendaman 10 jam berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan daun meningkat. Terjadi peng-gandaan jumlah kromosom Batu Ijo menghasilkan kromosom triploid (2n=3x) pada konsentrasi 200 ppm dan lama perendaman 10 jam
Kajian Hubungan Unsur Iklim terhadap Produktivitas Tanaman Apel (Malus sylvestris Mill.) di Beberapa Sentra Produksi
Apel (Malus sylvestris Mill.) ialah salah satu jenis buah yang banyak digemari oleh masyarakat di Indonesia karena memiliki rasa yang khas dan kandungan gizi yang tinggi. Kota Batu dan Kabupaten Malang merupakan daerah sentra produksi apel tertinggi di Indonesia. Unsur iklim yang memiliki peranan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman apel ialah curah hujan dan suhu. Terjadinya perubahan unsur iklim (curah hujan dan suhu) di wilayah Kota Batu dan Kabupaten Malang sangat berpotensi memberikan pengaruh terhadap hasil produktivitas tanaman apel. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mempelajari hubungan antara unsur iklim (curah hujan dan suhu) terhadap produktivitas tanaman apel di beberapa sentra produksi. Penelitiandilaksanakan pada Bulan Maret-Mei 2018di Kecamatan Bumiaji, Kecamatan Batu dan Kecamatan Poncokusumo. Penelitian menggunakan metode survei dengan mengumpulkan data hasil observasi lapang dan data sekunder terkait data unsur iklim dan produktivitas apel dari tahun 2008-2017. Selanjutnya data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi yang menunjukkan hubungan yang kuat dan nyata antara unsur iklim dengan produktivitas apel terjadi pada variabel iklim yaitu suhu maksimum dan suhu rata-rata di Kecamatan Bumiaji, suhu maksimum di Kecamatan Batu serta bulan basah di Kecamatan Poncokusumo
Uji Galur Harapan Kedelai (Glycine max L. Merr) terhadap Cekaman Kekeringan
Produksi kedelai pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 885.000 ton biji kering, mengalami penurunan 8.06% dibandingkan tahun 2015 yang mencapai angka 963.183 ton biji kering dengan luas panen 614.095 ha dan pruduktivitas 1.57 t.ha-1 (BPS, 2016). Untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri dilakukan strategi peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam dengan pemanfaatan lahan–lahan marginal pada lahan kering, diperlukan upaya untuk menguji varietas yang adaptif dan memiliki produksi hasil yang optimal, terutama toleran terhadap cekaman kekeringan air. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh serta menguji katahanan galur kedelai (Glycine max L. Merr) terhadap cekaman kekeringan air. Bahan yang digunakan adalah empat galur kedelai (G1, G2, G3, G15a) dan varietas Dering 1. Penelitian dilaksanakan pada November 2017 sampai dengan Februari 2018 di Green House Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi ,Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman, luas daun, panjang akar dan berat kering akar, jumlah bunga, bobot kering total tanaman, jumlah polong, jumlah polong bernas, jumlah polong hampa, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji dan indeks panen varietas Dering 1 tidak berbeda nyata dengan keempat galur pada kondisi cekaman kekeringan 75% kapasitas lapang. Galur G1, G3 dan G15a tanaman kedelai memiliki keseragaman yang tinggi dengan varietas Dering 1
Efektivitas Transformasi Genetik pada Kedelai (Glycine max L. Merrill) Menggunakan Particle Bombardment
Kedelai merupakan salah satu komoditas penting pertanian. Kebutuhan komoditas kedelai dalam negeri saat ini, rata-rata sebanyak 2.3 juta ton biji kering/tahun (BPS, 2018). Perakitan kultivar unggul kedelai dapat dilakukan melalui transformasi genetik. Beberapa faktor penting dari keberhasilan transformasi genetik particle bombardment yaitu faktor fisik misalnya ukuran partikel emas, posisi dan letak eksplan, faktor biologi misalnya embryo tip dan mengetahui seberapa stabil gen yang telah ditransformasi (Kikkert et al., 2004). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi peletakan embrio (inside dan outside), ukuran partikel emas dan stabilitas ekspresi gen pada embrio yang optimum. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioresource Universitas Miyazaki, Jepang pada bulan April hingga Juli 2018. Bahan yang digunakan sebagai eksplan dalam penelitian ini ialah embryo tip biji kedelai kultivar Williams 82 dengan jumlah 9 embrio per ulangan. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi, efektivitas posisi dan letak eksplan, efektivitas ukuran partikel emas dan stabilitas ekspresi gen yang ditampilkan dalam bentuk persentase. Hasil yang dari penelitian ini ialah terdapat ekspresi gen GUS yang berbeda pada posisi peletakan embrio secara inside dan outside. Metode peletakan inside memilki ekspresi gen GUS yang terbaik. Kemudian terdapat perbedaan ekspresi gen GUS pada masing-masing ukuran partikel emas yang ditembakkan pada saat transformasi genetik. Pada ukuran partikel emas 0.6 µm memiliki persentase ekspresi gen GUS terbaik dan metode peletakan inside dan hasil penelitian ini memiliki peluang sebagai metode yang dapat dipilih pada transformasi emrio kedelai menggunakan particle bombardment. Hal ini dibuktikan pada 14 hari setelah transformasi masih terdapat ekspresi gen GUS setinggi 34.1%
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Ketan (Zea mays ceratina) dengan 3 Jenis Pemberian Pupuk Kandang dan Pupuk Anorganik
Jagung ketan merupakan salah satu jenis jagung yang memiliki kandungan amilopektin yang tinggi, rasa manis, lunak dan pulen. Namun jagung ketan kurang populer, khususnya pada masyarakat kota karena. kurang mendapat perhatian untuk dibudidayakan Upaya peningkatan hasil tanaman jagung ketan dilakukan antara lain dengan pemupukan. Penggunaan pupuk anorganik dapat diimbangi dengan penggunaan pupuk kandang. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kombinasi jenis pupuk kandang dengan dosis pupuk anorganik yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung ketan (Zea mays ceratina). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2018 di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Kelurahan Jatimulyo. Penelitian faktorial yang disusun secara acak kelompok (RAK Faktorial) yang terdiri dari faktor pertama pupuk kandang 10 t ha-1 (K) dan faktor kedua pupuk anorganik (N). Masing-masing faktor terdiri dari 3 taraf yang diulang 3 kali. Parameter pengamatan adalah parameter pertumbuhan dan hasil. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi nyata antara pemberian pupuk kandang dengan pupuk anorganik terhadap parameter pertumbuhan dan hasil. Terdapat interaksi nyata antara pemberian pupuk kandang dengan pupuk anorganik pada parameter pertumbuhan dan hasil yaitu tinggi tanaman, luas daun, bobot kering total tanaman, dan bobot segar tongkol tanpa kelobot per petak. Namun pada parameter pertumbuhan jumlah daun tidak terjadi interaksi antara perlakuan pupuk kandang dan pupuk anorganik. Pertumbuhan dan hasil tanaman terbaik pada perlakuan pupuk kandang ayam 10 t ha-1 dengan penambahan 25% pupuk anorganik