Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Karakter Fisiologi dan Pertumbuhan Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica) pada Manajemen yang Berbeda di Lahan Agroforestri
Manajemen budidaya tanaman kopi penting untuk pertumbuhan tanaman kopi yang nantinya dapat meningkatkan hasil dari tanaman kopi. Budidaya tanaman kopi dengan sistem agroforestri salah satunya terdapat di UB Forest. Tujuan dari penelitian ini aialah mempelajari dan mendapatkan manajemen yang sesuai untuk budidaya tanaman kopi dalam sistem agroforestri. Penelitian dilakukan di hutan pendidikan UB Forest pada bulan februari 2019 hingga juni 2019. Penelitian menggunakan (rancangan acak kelompok (RAK) sederhana 1 perlakuan dengan 4 taraf perlakuan LC, Perlakuan MC, perlakuan HC dan perlakuan BAU. Hasil menunjukan bahwa perlakuan manajemen yang berbeda berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan. Manajemen yang berbeda memberikan pengaruh nyata pada varaibel tinggi tanaman, lebar kanopi, diamter batang, luas daun, indeks luas daun (ILD), indeks klorofil daun dan kerapatan stomata daun tanaman kopi. Parameter pertumbuhan tinggi tanaman dan diameter batang, dan lebar kanopi dan parameter ILD tanaman kopi sesuai dengan standar budidaya tanaman kopi. Paramter karakter fisiologis indeks klorofil daun dan kerapatan stomata tanaman daun kopi dipengaruhi oleh faktor lingkungan parameter pertumbuhan yang dipengaruhi oleh lingkungan ialah luas daun perhalai tanaman kopi. Perlakuan Business as usual (BAU) ialah perlakuan terbaik yang merupakan rekomendasi pada manajemen budidaya tanaman kopi khususnya di kawasan UB Forest
Karakterisasi Jagung Ketan (Zea mays L. var ceratina) pada Generasi S5
Jagung ketan dapat digunakan sebagai pengganti tepung tapioka dan juga dapat dijadikan sebagai campuran bahan baku kertas, tekstil dan industri perekat. Studi keragaman genetik tentang jagung ketan masih rendah. Penelitian tentang karakterisasi karakter kualitatif dan kuantitatif jagung ketan dapat dijadikan sebagai informasi dasar dalam kegiatan awal pemuliaan tanaman jagung ketan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter kualitatif, karakter kuantitatif dan keragaman 13 galur jagung ketan generasi S5. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Batu pada bulan Agustus sampai Desember 2018 tanpa menggunakan rancangan yang terdiri dari satu faktor yaitu galur G1, G2, G3, G4, G5, G6, G7, G8, G9, G10, G11, G12, G13. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter kualitatif pada masing-masing galur menunjukkan keseragaman pada masing-masing galur yang diuji. Berdasarkan karakter kualitatif pada masing-masing galur menunjukkan keseragaman pada masing-masing galur yang diuji. Karakter kuantitatif pada masing-masing galur memiliki keragaman yang rendah kecuali pada karakter jumlah cabang samping pada galur G2 (KKG 57,77%), panjang poros utama di atas cabang samping teratas pada galur G2, G4 dan G8 (KKG 86,96% - 91,41%). Galur G2 memiliki kadar amilopektin tertinggi sebesar 53,84%, sedangkan kadar amilopektin terendah yaitu galur G1 dengan kadar sebesar 43,19%. Semakin tinggi kadar amilopektin, maka akan semakin tinggi pula tingkat kepulenan pada jagung. Galur G2 memiliki kadar amilopektin tertinggi sebesar 53,84%, sedangkan kadar amilopektin terendah yaitu galur G1 dengan kadar sebesar 43,19%. Semakin tinggi kadar amilopektin, maka akan semakin tinggi pula tingkat kepulenan pada jagung
Pengaruh Taraf Naungan dan Pemangkasan Terhadap Produksi Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di UB Forest Malang
Kopi arabika adalah kopi yang paling banyak dikembangkan di Indonesia karena memiliki aroma dan cita rasa yang unik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi kopi adalah dengan mengetahui taraf naungan yang baik dan juga dilakukan pemangkasan pada tanaman kopi. Penelitian ini dilaksanakan di UB Forest Dusun Sumbersari, Karangploso, Kabupaten Malang pada Mei hingga Agustus 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Tersarang dengan 2 faktor dan diulang sebanyak 4 kali. Faktor pertama yaitu taraf naungan yaitu: naungan rendah(N1); naungan sedang(N2); naungan tinggi(N3). Faktor kedua yaitu pemangkasan yaitu: dipangkas (P1); tanpa dipangkas (P2), juga menggunakan Pengelolaan Kopi Baik sebagai kontrol. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F (analisis ragam) pada taraf 5%. Apabila terjadi pengaruh yang nyata diantara perlakuan maka dilakukan uji lanjut BNT (Benar Nyata Terkecil) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada parameter pertumbuhan dan produksi yang meliputi jumlah dompolan per cabang, jumlah cabang berbuah, luas daun per tanaman, indeks luas daun, jumlah cabang primer+sekunder+tersier, panjang cabang primer+sekunder+teriser dan produksi per tanaman, hasil yang tertinggi rata-rata diperoleh pada naungan Pengelolaan Kopi Baik dengan perlakuan dipangkas dengan memperoleh hasil produksi per tanaman sebesar 1,75 kg. Intensitas cahaya dan cahaya yang diterima (Intersepsi) mempengaruhi hasil produksi tanaman, hasil tertinggi diperoleh naungan Pengelolaan Kopi Baik yaitu 1,75 kg produksi per tanaman. Perlakuan pada naungan Pengelolaan Kopi Baik merupakan yang terbaik, sehingga dapat dijadikan rekomendasi untuk budidaya tanaman kopi khususnya pada lahan UB Forest
Pengaruh Dosis Pupuk Kandang Ayam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Terung Gelatik (Solanum melongena L.)
Terung gelatik merupakan komoditas hortikultura yang banyak diminati masyarakat karena harga yang terjangkau serta dapat dimanfaatkan sebagai obat pencernaan dan kesehatan kulit. Namun penelitian mengenai terung gelatik dan produksinya masih jarang dilakukan. Salah satu permasalahan dalam budidaya terung gelatik di Indonesia ialah masih banyaknya petani yang menggunakan pupuk anorganik berlebihan. Maka untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman ini perlu dilakukan aplikasi pupuk kandang ayam dan penggunaan varietas unggul. Selain menambah unsur hara tanah, pupuk kandang ayam mampu meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Varietas unggul yang dapat digunakan yaitu varietas Jeno F1 dan Kenari karena keduanya mampu beradaptasi dengan baik di dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil terung gelatik varietas Jeno F1 dan Kenari. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2019 di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Â Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan pemberian pupuk kandang ayam dosis 40 ton ha-1 pada varietas Jeno F1 memberi pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (54,54 cm), jumlah daun (19,95 helai), luas daun( 1249,74 cm2), diameter batang (8,27 mm), berat buah (42,91 gram), jumlah buah (25 buah), diameter buah (45,40 mm), indeks panen (0,88%), dan berat buah per hektar (52,94 ton ha-1). Pada varietas Kenari penambahan dosis pupuk kandang ayam 50 ton ha-1 mampu memberi pengaruh nyata terhadap jumlah daun (19,50 helai), diameter batang (8,19 mm), jumlah buah (17,8 buah), diameter buah (4,19 cm), indeks panen (0,73%), dan berat buah per hektar (22,57 ton ha-1)
Pengaruh Konsentrasi Paklobutrazol Dan Komposisi Media Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Krisan Pot (Chrysanthemum sp.)
Krisan merupakan salah satu jenis tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi dan estetika yang tinggi dan menjadi salah satu jenis tanaman hias yang cukup digemari di Indonesia. Tanaman krisan dapat dibudidayakan dalam bentuk bunga potong dan bunga pot. Tanaman krisan umumnya memiliki tinggi tanaman mencapai 120 cm. Tanaman krisan pot yang diminati masyarakat umumnya dengan memiliki tinggi tanaman 25-35 cm. Adapun upaya yang dapat dilakukan dengan memberikan zat penghambat pertumbuhan untuk mendapatkan tinggi tanaman krisan yang diminati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemberian konsentrasi Paklobutrazol dengan komposisi media tanam yang tepat untuk menghasilkan kualitas tanaman krisan pot. Penelitian dilaksanakan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu pada bulan Februari hingga Mei 2019. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan konsentrasi Paklobutrazol dan media tanam yang berbeda menunjukkan pertumbuhan dan hasil tanaman krisan yang berbeda dibandingkan dengan perlakuan yang tidak diberi Paklobutrazol. Hal ini dapat dilihat dari parameter pertumbuhan tinggi tanaman menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun, jumlah cabang dan jumlah bunga yang lebih banyak dengan perlakuan tanpa diberi Paklobutrazol dan media tanam pupuk sapi. Lama kesegaran bunga yang lebih tahan didapatkan pada perlakuan tanpa diberi Paklobutrazol dan media tanam pupuk sapi. Pemanfaatan pupuk kandang sapi sebagai media tanam salah satu cara untuk menghasilkan kualitas tanaman krisan pot
Pengaruh Bobot Umbi dan Pemupukan Kalium pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Talas Mbote (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) di Lahan Kering
Umbi talas mbote adalah satu diantara beberapa komoditas umbi-umbian yang berpotensi sebagai sumber bahan pangan alternatif. Dalam budidaya tanaman talas mbote biasanya petani menggunakan bahan tanam umbi dengan bobot umbi lebih kecil yang kurang nilai ekonomisnya, sedangkan umbi yang bobotnya lebih besar akan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tanaman talas mbote biasanya ditanam di pekarangan, sehingga perhatian petani pada masalah unsur hara masih rendah. Berdasrkan hal tersebut dapat diketahui bahwa adanya kesamaan karakteristik pekarangan dan lahan kering yaitu tingkat kesuburan yang rendah. Pemupukan merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah. Unsur kalium sangat dibutuhkan dalam jumlah yang besar oleh tanaman umbi-umbian. Oleh karena itu, perlunya dilakukan percobaan tentang pengaruh bobot umbi dan pemupukan kalium. Hal ini bertujuan untuk mempelajari dan mendapatkan informasi mengenai pengaruh bobot umbi dan pupuk kalium pada pertumbuhan dan hasil tanaman talas di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Agro Techno Park Universitas Brawijaya yang terletak di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang pada bulan November 2018 sampai dengan Mei 2019. Rancangan yang digunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hasil umbi yang maksimum sebesar 24,87 ton ha-1 pada bobot umbi 25-30 g diperlukan penambahan pupuk kalium sebesar 73% (197,8 kg KCl ha-1). Pada bobot umbi 35-40 g dengan peningkatan dosis kalium (67,75 kg KCl ha-1) menyebabkan turunnya hasil umbi sekitar 11,8 %. Sedangkan pada bobot umbi 45-50 g diperlukan dosis K sebesar 87% (235,8 kg KCl ha-1) untuk mendapatkan hasil umbi maksimum sebesar 20,82 ton ha-1
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat Ungu (Lycopersicum esculentum. L. var. indigo rose) Terhadap Intensitas Naungan dan Pemberian Pupuk MgSO4
Tomat Ungu (Lycopersium esculentum L. var. indigo rose) merupakan salah satu jenis komoditas tomat yang termasuk ke dalam tanaman hortikultura golongan sayur-sayuran dan buah-buahan yang merupakan sumber antioksidan dan bermanfaat bagi kesehatan manusia. Sumber antioksidan tomat ungu berasal dari senyawa yang terkandung di dalam buah tomat ungu seperti likopen dan β-karoten, perbedaan yang dimiliki oleh tomat ungu apabila dibandingkan dengan tomat pada umumnya adalah tomat ungu tersebut memiliki sumber antioksidan tambahan yaitu kandungan antosianin di dalam buahnya. Selain itu, buat tomat ungu juga mengadung berbagai macam jenis vitamin diantaranya, B1, B2, B3, E, C serta D. Dalam industri pertanian, tanaman tomat ungu masih sangat minim untuk dibudidayakan, sehingga dibutuhkan beberapa upaya untuk meningkatkan produksi, tidak hanya memperhatikan dari segi kuantitas namun juga secara kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh intensitas naungan dan pupuk MgSO4, serta untuk menentukan intensitas naungan dan dosis pemupukan MgSO4 yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat ungu. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2018 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jatimulyo, Malang, Jawa Timur. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT). Pengamatan dilakukan secara non destruktif dan destruktif yang dibagi menjadi dua variabel, yaitu variabel pengamatan pertumbuhan yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan waktu muncul bunga serta variabel pengamatan hasil panen yang meliputi jumlah buah per tanaman, diameter buah, bobot buah total, kadar likopen, kadar β-karoten dan kadar antosianin. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang nyata dari kombinasi perlakuan tanpa naungan dan pemupukan MgSO4 2 gr.tan-1 terhadap kandungan antosianin
Uji Efektivitas Herbisida Glifosat dan Metil Metsulfuron Pada Pengendalian Gulma Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Kelapa sawit ialah salah satu tanaman yang berkontribusi dalam perekonomian negara Indonesia. Pengaruh kelapa sawit dalam membantu nilai ekspor tidak lepas dari produksi yang dihasilkan. Menurut Ditjenbun (2019), luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2019 mencapai 14.677.560 ha dengan produksi sebesar 42.869.429 ton. Hasil produksi yang tinggi menjadi tujuan bagi perusahaan supaya dapat mencapai keuntungan yang optimal. Fase pertumbuhan tanaman kelapa sawit terbagi menjadi dua fase yaitu fase tanaman belum menghasilkan (TBM) dan fase tanaman menghasilkan (TM). Pengendalian gulma kelapa sawit dilakukan pada piringan pohon dan gawangan. Gulma yang berada pada piringan pohon kelapa sawit menghaslikan (TM) perlu dilakukan pengendalian dengan tujuan untuk mengurangi kompetisi unsur hara serta memudahkan pemupukan dan pengambilan brondolan buah kelapa sawit (Pahan, 2013). Pengendalian gulma ialah suatu usaha pemeliharaan tanaman budidaya dengan menghentikan persaingan antara tanaman budidaya dan gulma dalam mendapatkan unsur hara, air, dan cahaya matahari supaya tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya. Dosis herbisida ialah faktor yang menentukan efektivitas penggunaan herbisida. Pemberian dosis yang tepat dapat menekan laju pertumbuhan dan perkembangan gulma, tetapi jika dosis herbisida terlalu tinggi akan mengurangi efektivitas dan dapat meracuni tanaman budidaya.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2019 di PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Kebun Tanjung Garbus, Deli Serdang, Sumatera Utara.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok(RAK) dengan enam perlakuan dan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan perlakuan herbisida campuran glifosat dan metil metsulfuron dengan berbagai dosis dapat mengendalikan Davallia trichomanoides, Ottochloa nodosa, dan Asystasia intrusa
Pengaruh Aplikasi Biourin Sapi Dan Pupuk Urea Pada Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bunga Kol (Brassica oleracea L var.botrytis)
Sayuran merupakan komoditas penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Sayuran memiliki keragaman jenis tanaman dan banyak dikembangkan di Indonesia, salah satunya yaitu tanaman bunga kol. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui interaksi antara peningkatan dosis biourin sapi dan pupuk urea pada pertumbuhan dan tanaman bunga kol serta mengetahui pengaruh aplikasi biourin sapi dan pupuk urea pada pertumbuhan dan hasil tanaman bunga kol. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2020 sampai bulan Juni 2020 di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Penelitian dilakukan dengan menggunkan rancangan acak kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor I adalah dosis biourin sapi yang terdiri dari 3 taraf. Faktor II adalah dosis pupuk urea yang terdiri dari 3 taraf. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara aplikasi biourin sapi dan pupuk urea pada semua parameter pengamatan dan hasil tanaman bunga kol. Biourin sapi dosis 4000 l ha-1 optimal untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bunga kol pada parameter jumlah daun, luas daun, diameter bunga, bobot segar bunga, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Sedangkan pupuk urea dosis 150 kg ha-1 optimal untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bunga kol pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter bunga, bobot segar bunga, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman
Pengaruh Pemotongan Bibit Umbi Dan Waktu Pemberian PGPR Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu kodomitas hortikultura penting di Indonesia. Seiring berjalannya waktu kebutuhan bawang merah semakin meningkat namun tidak diiringi dengan peningkatan produktifitas. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh serta interaksi dari pemotongan ujung umbi dan waktu pengaplikasian PGPR. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli-September 2019 di lahan percobaan Jatimulyo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan menginteraksikan dua faktor yaitu pemotongan umbi bibit bawang merah dan waktu pengaplikasian PGPR. Adapun kombinasi didapatkan 9 kombinasi perlakuan dengan tiga kali ulangan. Kombinasi perlakuan sebagai berikut; M0P1 : Ujung umbi tanpa pemotongan + Tanpa pengaplikasian PGPR; M0P2 : Ujung umbi tanpa pemotongan + Pengaplikasian PGPR pada saat tanam; M0P3 : Ujung umbi tanpa pemotongan + Pengaplikasian PGPR pada saat 2 MST; M1P1 : Pemotongan ujung umbi ¼ bagian + Tanpa pengaplikasian PGPR;M1P2 : Pemotongan ujung umbi ¼ bagian + Pengaplikasian PGPR pada saat tanam; M1P3 : Pemotongan ujung umbi ¼ bagian + Pengaplikasian PGPR pada saat 2 MST; M2P1 : Pemotongan ujung umbi ½ bagian + Tanpa pengaplikasian PGPR; M2P2 : Pemotongan ujung umbi ½ bagian + Pengaplikasian PGPR pada saat tanam; M2P3: Pemotongan ujung umbi ½ bagian + Pengaplikasian PGPR pada saat 2 MST. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F). Apabila terdapat pengaruh di antara perlakuan maka dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan uji BNJ dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan interaksi kedua perlakuan terdapat pada beberapa parameter yaitu pada pengamatan panjang tanaman, jumlah daun, dan luas daun