Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Kajian Konsentrasi dan Waktu Aplikasi PGPR pada Tanaman Jagung Manis (Zea mays var. saccharata)
Jagung manis (Zea mays saccharata) merupakan tanaman hortikultura yang sangat sering dijumpai oleh masyarakat dunia. Banyak petani tidak mengetahui ataupun ada yang tidak perduli dengan keadaan tanah dengan menggunakan pupuk kimia atau pupuk anorganik secara berlebihan. Ketika menggunakan pupuk kimia tanaman hanya akan menyerap kandungan yang dibutuhkan tanaman. Pengembalian unsur hara atau mikroorganisme tanah yang telah hilang harus dikembalikan ke dalam tanah agar keadaan tanah dapat menjadi baik dan dapat memberikan unsur hara atau mikroorganisme yang dibutuhkan oleh tanaman budidaya selanjutnya. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dapat membantu tanaman dalam meningkatkan pertumbuhan suatu tanaman dan juga dapat melindungi tanaman dari patogen patogen tertentu yang dapat mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2020 sampai Oktober 2020. Penelitian dilakukan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Petak Terbagi yang terdiri dari petak utama dan anak petak dengan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan W0 : Bersamaan dengan tanam, W1 : 1 minggu sebelum tanam, W2 : 2 minggu sebelum tanam, D0 : 0 ml/liter air, D1 : 10 ml/liter air, D2 : 20 ml/liter air. Perlakuan waktu aplikasi PGPR dan perlakuan konsentrasi PGPR menunjukkan pengaruh nyata pada parameter berat kering total tanaman dan crop growth rate. Perlakuan konsentrasi PGPR menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter hasil bobot segar tongkol dengan kelobot, bobot segar tongkol tanpa kelobot dan hasil panen dengan hasil terbaik pada perlakuan konsentrasi PGPR 10ml/liter air
Evaluasi Keragaman Pada Populasi F2 Tanaman Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.)
Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) memiliki nutrisi yang sama baiknya dengan kedelai. Permasalahan tersebut menjadi peluang pengembangan kecipir pada kegiatan perakitan tanaman melalui proses pemuliaan tanaman yang diawali dengan karakterisasi dan evaluasi keragaman. Hasil keragaman tertinggi terdapat pada populasi F2, hal tersebut disebabkan karena pada populasi ini terjadi segregasi. Penelitian ini dilaksanakan di lahan budidaya Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur yang berlangsung pada bulan April-November 2019. Penelitian ini menggunakan metode single plant, dengan karakter yang diamati sebanyak 28 karakter pada total 300 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan dari keempat populasi F2 memiliki perbedaan karakter yang muncul pada masing-masing karakter dari masing-masing populasi. Berdasarkan hasil analisis data kualitatif menunjukkan hasil keragaman yang dominan beragam dan hanya beberapa karakter menunjukkan hasil keragaman yang seragam. Sedangkan pada analisis karakter kuantitatif, koefisien keragaman yang diperoleh cenderung rendah hingga sedang, dan hanya ditemukan satu hasil koefisien keragaman kategori tinggi (≥ 50,1%) yaitu pada hasil biji per tanaman di populasi F2.1
Pengaruh Campuran Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Sistem Rakit Apung
Selada (Lactuca sativa L.) banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, karena kandungan gizi tinggi, terutama sumber mineral. Selada mempunyai prospek yang cukup tinggi dari aspek klimatologi, teknis, ekonomi dan bisnis. Kondisi alam dan luasan lahan produksi masih menjadi masalah dalam proses budidaya selada. Teknologi hidroponik sistem rakit apung menjadi satu usaha yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ketersediaan lahan yang semakin sempit dengan hasil produksi yang lebih maksimal. Pada budidaya hidroponik, jenis nutrisi yang sering digunakan ialah nutrisi AB mix yang mengandung bahan kimia sintetis. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus menyebabkan peranan pupuk kimia menjadi tidak efektif. Pupuk organik cair mampu menjadi satu solusi dalam mengurangi penggunaan pupuk sintetis. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2019 hingga Februari 2020 di Green House FP-UB. Percobaan ini dirancang dalam RAKF yang terdiri dari 2 faktor masing-masing 3 taraf yang diulang 3 kali. Faktor pertama ialah konsentrasi (POC) dan faktor kedua ialah varietas. Hasil penelitian menunjukkan interaksi perlakuan 25% POC dengan varietas Matt Green mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun pada 28 HST, panjang akar dan hasil tanaman serta interaksi campuran 50% POC dengan varietas Fion Green memperoleh nilai indeks panen tertinggi
Pengaruh Waktu Penyiangan Gulma dan Dosis NPK Pada Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)
Sebuah percobaan lapang untuk meneliti pengaruh waktu penyiangan gulma dan dosis NPK pada pertumbuhan dan hasil jagung manis. Percobaan ini dilakukan sejak bulan Januari hingga Juni 2020 di lahan percobaan FP-UB di sekitar Perumahan Griya Santa, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur dengan jenis tanah andosol. Percobaan ini dirancang dalam sebuah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama, ialah: Tanpa penyiangan gulma (P0), Penyiangan hari ke 14 dan 28 (P1) dan Penyiangan hari ke 14, 28 dan 42 (P2). Faktor kedua, ialah: Dosis NPK 400 kg ha-1 (D1), Dosis NPK 500 kg ha-1 (D2) dan Dosis NPK 600 kg ha-1 (D3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara waktu penyiangan gulma dengan pemberian dosis pupuk NPK pada pertumbuhan dan hasil jagung manis. Terjadi pergeseran vegetasi yang menyebabkan terjadinya perbedaan beberapa jenis gulma pada sebelum olah tanah dan sesudah olah tanah. Perlakuan penyiangan hari ke 14, 28 dan 42 memberikan hasil panen optimal dengan peningkatan hasil panen dari 5,13 ton ha-1 menjadi 9,97 ton ha-1 atau 94,34% lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa penyiangan. Perlakuan pemberian dosis pupuk NPK Phonska 600 kg ha-1 memberikan hasil panen optimal dengan peningkatan hasil panen dari 6,42 ton ha-1 menjadi 8,49 ton ha-1 atau 32,24% lebih tinggi dibandingkan perlakuan pemberian dosis pupuk 400 dan 500 kg ha-1
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Npk Terhadap Pertumbuhan dan Hasil pada Tanaman Terung (Solanum Melongena L.)
Terung (solanum melongena L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang berbentuk buah. Salah satu tanaman terung yang sering di konsumsi yaitu terung ungu. Produksi tanaman terung mulai tahun 2009 – 2014 meningkat, akan tetapi tahun 2016 mengalami penurunan produksi, menjadi sekitar 509.724 ton. Faktor yang menyebabkan penurunan produksi terung yaitu turunnya produktivitas tanah dan kurangnya ketersediaan unsur hara yang terdapat didalam tanah. Penelitian dilakukan dikebun percobaan Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang dengan ketinggian tempat 400 mdpl dan curah hujan rata–rata 151–400 mm/tahun. Penelitian ini dilakukan pada bulan April–Juli 2019 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK ) dengan 2 faktor, faktor pertama (P0) tanpa POC dan (P1) POC 5cc/l, lalu faktor ke dua yaitu ( N1) NPK 100 kg/ha, (N2) NPK 200 kg/ha, (N3) NPK 300 kg/ha, (N4) NPK 400 kg/ha, dan (N5) NPK 500 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P1N4 menghasilkan bobot buah panen pertanaman yang lebih tinggi dan memperlambat umur panen terakhir dibandingkan perlakuan yang lain. perlakuan 5 ml pupuk organik cair mampu meningkatkan tinggi tanaman tetapi dapat memperlambat umur panen pertama dibandingkan tanpa pupuk organik cair. Perlakuan pemberian 400 kg/ha menghasilkan jumlah buah panen per tanaman yang lebih tinggi
Pengaruh Konsentrasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Dan Dosis Pupuk Kotoran Kambing Pada Hasil Terung (Solanum Melongena L.) Varietas Mustang F1
Aplikasi konsentrasi PGPR dan aplikasi pupuk kotoran kambing merupakan salah satu langkah yang digunakan dalam intensifikasi. Hal tersebut karena PGPR mengandung beberapa mikroorganisme yang dapat berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan mampu meningkatkan hasil produksi pertanian. Sementara itu, pupuk kotoran kambing dapat menambah unsur hara pada lahan sub-optimal yang cenderung kandungan bahan organiknya rendah, ketersediaan air rendah, keasaman tanah tinggi (pH rendah), dan sangat minim unsur hara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni - September 2019 di lahan yang terletak di Donowari, karang ploso. Penelitian ini ialah penelitian faktorial dengan menggunakan rancangan acak kelompok, faktor pertama adalah R0: Tanpa PGPR, R1: PGPR 15 ml L-1, R2: PGPR 30 ml L-1. Faktor kedua adalah pupuk organik kotoran kambing, yaitu: P1: 0 ton ha-1, P2: 10 ton ha-1, P3: 20 ton ha-1, P4: 30 ton ha-1. Pengamatan yang dilakukan meliputi komponen pertumbuhan yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun. Sedangkan parameter pengamatan komponen hasil meliputi jumlah buah pertanaman, bobot buah pertanaman, diameter buah dan bobot buah pertanaman. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F untuk mengetahui adanya pengaruh dari perlakuan dan dilanjutkan dengan uji antar perlakuan dengan menggunakan BNJ pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara konsentrasi PGPR dan dosis pupuk kotoran kambing terhadap komponen pertumbuhan dan hasil tanaman terung. Aplikasian PGPR dengan konsentrasi 30 ml L-1 dan pupuk kotoran kambing dengan dosis 30 ton ha-1 mampu meningkatkan pertumbuhan diantaranya tinggi, jumlah daun, persentase fruit set, jumlah buah pertanaman, bobot buah pertanaman, panjang buah dan diameter buah pertanaman
Keragaman Genetik Dan Fenotip Pada Dua Populasi Bayam Hijau (Amaranthus hybridus L.)
Bayam hijau (Amaranthus hybridus L.) merupakan tumbuhan yang biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang penting. Berdasarkan tingkat potensial produksi bayam, produktivitas bayam di Indonesia masih tergolong rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan produktivitas tanaman bayam tetap stabil ialah dengan penggunaan varitetas unggul. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2020 yang bertempat di Kelurahan Pucangan, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode petak tunggal. Berdasarkan hasil penelitian populasi By3 dan By7 memiliki nilai keragaman fenotip dan genetik yang rendah pada karakter tinggi tanaman, diameter batang, bobot segar tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun dan lebar daun. Populasi By3 dan By7 memiliki nilai keragaman fenotip dan genetik yang rendah pada karakter tinggi tanaman, diameter batang, bobot segar tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun dan lebar daun. Nilai keragaman rendah menunjukkan bahwa kedua populasi memiliki tampilan seragam secara fenotip maupun genetik.Â
Evaluasi Variasi Genetik Hasil Persilangan Diploid X Tetraploid Beserta Resiproknya Pada Tanaman Semangka (Citrullus lanatus)
Musim tanam sebelumnya dilakukan persilangan berupa persilangan dua tetua berbeda yaitu semangka diploid dan semangka tetraploid. Tetua tersebut disilangkan kembali secara bolak balik yang dikenal persilangan resiprok. Hasil persilangan 6 genotip yang telah dilakukan menghasilkan generasi F1 yang seragam sehingga bila ditanam kembali akan menghasilkan F2 yang beragam. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui variasi genetik serta menganalisis pengaruh dari tetua betina pada berbagai karakter yang diamati. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lamong, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada bulan Februari sampai bulan Mei 2020. Rancangan percobaan yang dilakukan berupa Rancangan Acak Kelompok dengan menggunakan 3 galur triploid (hasil persilangan tetraploid x diploid), 3 galur resiprok (hasil persilangan diploid x tetraploid), 1 galur diploid dan 1 galur tetraploid sehingga didapatkan 8 perlakuan. Karakter pengamatan yang digunakan adalah karakter kualitatif yang terdiri dari bentuk dan warna daun, warna kulit buah, warna daging buah, ukuran biji dan warna biji. Karakter kuantitatif yang diamati terdiri dari jumlah percabangan, umur berbunga jantan dan betina pertama muncul, berat buah, kadar gula serta berat biji. Hasil penelitian ini berupa didapatkan nilai keragaman genetik yang tergolong rendah pada tiap parameter. Adanya perbedaan yang nyata pada parameter kemanisan buah pada perbandingan galur triploid TR x Tai-tet dengan galur resiprok Tai-tet x TR serta galur resiprok ITHT x TRA dengan galur resiprok (ITHT x TRA) x TR. Selain itu, terdapat adanya perbedaan yang nyata berat buah pada perbandingan galur resiprok ITHT x TRA dengan galur resiprok (ITHT x TRA) x TR
Analisis Keragaman Morfologi dan Filogenetik Ciplukan (Physalis sp.)
Ciplukan (Physalis sp.) tumbuh dan menyebar di wilayah Indonesia dengan nama lokal yang bervariasi dan dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juni 2020 di Seed and Nursery Industry Agro Techno Park Universitas Brawijaya, yang berlokasi di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bahan yang digunakan adalah 57 genotipe ciplukan koleksi Universitas Brawijaya yang terdiri dari spesies P. angulata, P. peruviana dan P. pubescens, media semai, plastik ukuran 25x20x10 cm, talang, pupuk kandang, pupuk anorganik, pestisida dan tali rafia. Penelitian dilakukan dengan metode survei terhadap karakter pada setiap genotipe. Penelitian dilakukan observasi pada 37 karakter kualitatif dan pengukuran pada 17 karakter kuantitatif. Pengamatan dilakukan berdasarkan deskriptor Manual Gráfico para la Descripción Varietal De Tomate de Cascara (Physalis ixocarpa Brot. ex Horm), keragaman dengan pendekatan koefisien korelasi Pearson, sedangkan analisis filogenetik menggunakan analisis klaster dan index similarity Gower. Keragaman total yang diperoleh adalah sebesar 82,165% berdasarkan 13 komponen utama dan 22 karakter yang berpengaruh terhadap keragaman, hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa Physalis sp. terbagi menjadi 3 kelompok yang menunjukkan spesies berbeda, yaitu P. peruviana, P. angulata dan P. pubescens. Jarak genetik seluruh genotip menyebar antara 0,42 hingga 0,05 atau indeks similaritas sebesar 58% hingga 95%.. Jarak genetik terdekat ditunjukkan oleh genotip PAN-77211-02 dan PAN-78111-03, yaitu 0,05 atau 95%. Sementara untuk genotip yang memiliki jarak genetik terjauh adalah pada genotip PPB-68154-04-U, yaitu 0,28 atau 72%
Keragaan Beberapa Galur Marigold (Tagetes erecta L.) di Dataran Tinggi
Tanaman marigold (Tagetes erecta L.) adalah tanaman bunga hias dan digunakan dalam upacara keagamaan. Selain itu, bunganya yang berwarna kuning atau jingga mengandung karotenoid yang diminati untuk industri fitofarmaka dan pewarna makanan. Meningkatnya permintaan bunga marigold menyebabkan perlunya dilakukan pemuliaan tanaman untuk meningkatkan produksi untuk memenuhi tingkat permintaan tersebut. Salah satu langkah dalam pemuliaan tanaman adalah pelepasan varietas baru dengan sifat yang diinginkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi keragaan 4 galur tanaman marigold yang berpotensi untuk dilepas sebagai varietas baru di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan pada Januari – Juni 2018 di lahan milik PT BISI International Tbk., Pujon, Malang dengan ketinggian ±1.050 meter diatas permukaan laut. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan genotipe yang terdiri dari 4 galur potensial yaitu MG 17010, MG 17011, MG 17013, dan MG 1704 serta 3 varietas pembanding yaitu MG 8001, Rose 1602 dan Casanova. Analisis data kuantitatif menggunakan analisis ragam dengan taraf 5% dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur dengan taraf 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produktivitas keempat galur yang diuji tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan varietas pembanding. Galur MG 17014 menunjukkan performa diameter bunga yang berbeda nyata dari galur MG 17010 dan varietas pembanding MG 8001 dan dapat bersaing dengan varietas pembanding Casanova. Masing-masing galur memiliki karakteristik yang berbeda dengan perbedaan karakter tinggi tanaman dan warna bunga sebagai penciri utamanya