Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pinching dan Jumlah Bibit Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Krisan Pot Tipe Spray (Chrysanthemum morifolium)
Tanaman krisan (Chrysanthemum) merupakan tanaman hias potong atau tanaman hias pot. Permintaan tanaman krisan pot cukup banyak. Semakin banyak permintaan maka produksi juga akan semakin meningkat. Permasalahan yang terjadi yaitu ketersediaan bibit terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan pinching. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan pinching dan jumlah bibit yang paling sesuai terhadap pertumbuhan dan pembungaan krisan pot tipe spray yang memenuhi standar. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April – Juli 2021 di greenhouse Atha Flora yang berlokasi di Dusun Gondang Legi, Daungsengon, Tutur, Pasuruan, Jawa Timur yang berada pada ketinggian 900 mdpl dan memiliki suhu rata-rata harian 24ºC. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan dan terdiri dari 9 perlakuan yaitu: (P1N1) tanpa pinching 4 bibit per pot, (P1N2) tanpa pinching dengan 3 bibit per pot, (P1N3) tanpa pinching 2 bibit per pot, (P2N1) single pinching 4 bibit per pot, (P2N3) single pinching 2 bibit per pot, (P2N2) single pinching 3 bibit per pot, (P3N1) double pinching 4 bibit perpot, (P3N2) double pinching 3 bibit per pot, (P3N3) double pinching 2 bibit per pot. Hasil menunjukkan perlakuan pinching dan pengurangan jumlah bibit per pot dapat meningkatkan jumlah daun, luas daun, jumlah cabang, dan menambah umur vase life. Akan tetapi menurunkan diameter bunga, memperpanjang waktu muncul bunga dan coloring. Perlakuan double pinching dengan penggunaan bibit 2 per pot mampu menghemat penggunaan bibit hingga 50 % dengan kualitas yang sama dengan 4 bibit per pot
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Seledri (Apium graveolens L.) pada Pemberian Dosis Nitrogen dan Bahan Organik
Pemanfaatan seledri selain sebagai sayuranpelengkap atau penyedap rasa juga bermanfaatdi bidang kesehatan. Perbaikan budidaya pada seledri pada lahan dengan kondisi C-organikdan N-tersedia dalam kategori sedang dapatdilakukan dengan pemupukan. Kebutuhanunsur nitrogen pada seledri dapat dipenuhidengan pupuk nitrogen. Pengoptimalanserapan hara pada tanaman dilakukan denganpenambahan bahan organik. Selainmeningkatkan ketersediaan unsur hara, bahanorganik dapat memperbaiki kualitas tanahsehingga penyerapan unsur hara optimal.Penelitian dilakukan untuk mempelajariinteraksi dosis nitrogen dan bahan organikserta mendapatkan dosis nitrogen dan bahanorganik yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman seledri. Penelitian dilaksanakandi Desa Sumberejo, Kota Batu pada bulan Mei hingga Juli 2022. Penelitian merupakanpercobaan faktorial yang di rancangmenggunakan Rancangan Acak Kelompok(RAK) dengan 3 ulangan terdiri 2 faktor. Faktorpertama, dosis nitrogen terdiri dari 4 taraf yakni25 kg ha-1, 75 kg ha-1, 125 kg ha-1 dan 175 kg ha-1. Faktor kedua, dosis bahan organik berupakotoran kambing terdiri dari 3 taraf meliputi 0 ton ha-1, 15 ton ha-1, dan 30 ton ha-1. Variabelpengamatan meliputi panjang tanaman, jumlahdaun, jumlah anakan, bobot segar, dan shoot:root rasio. Analisa data menggunakan uji F pada taraf 5%. Hasil yang berbeda nyatadilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitiantidak menunjukkan interaksi antara pemberiandosis nitrogen dan bahan organik terhadappertumbuhan dan hasil pada tanaman seledri. Pemberian dosis nitrogen 125 kg ha-1 dan 175 kg ha-1 meningkatkan pertumbuhan panjangtanaman, jumlah anakan, dan jumlah daunmasing-masing sebesar 18,5%; 40,3%; dan 16,57%. Pada komponen hasil, pemberiandosis nitrogen 125 kg ha-1 dan 175 kg ha-1meningkatkan bobot segar konsumsi sertashoot:root rasio masing-masing sebesar82,44%; dan 118%. Sedangkan pemberianbahan organik tidak berpengaruh nyataterhadap pertumbuhan dan komponen hasiltanaman seledri
The Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk Kandang Ayam dan Pupuk Anorganik Npk terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.)
Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan digemari masyarakat serta memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kebutuhan komoditas ini semakin meningkat sejalan dengan semakin bervariasinya jenis dan menu masakan yang memanfaatkan produk ini. Berdasarkan data BPS pada tahun 2012 – 2016, produksi cabai besar pada provinsi Jawa Timur selalu mengalami penurunan, dari yang semula 99.670 ton menjadi 95.539 ton. Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi cabai merah. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mempelajari kombinasi terbaik dari pemberian dosis pupuk kandang ayam dan pupuk anorganik NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2020 hingga Juli 2020 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bawa pemberian pupuk kandang ayam dan pupuk anorganik NPK memberikan hasil yang berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan yaitu tinggi tanaman, jumlah bunga per petak, jumlah buah panen per petak, panjang buah, diameter buah, bobot segar buah per petak dan hasil per hektar. Dosis dengan perlakuan pupuk kandang ayam 10 t.ha-1 +50% NPK menunjukkan respon hasil yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah
Keragaman Karakteristik Fisik Biji 22 Genotipe Jarak Kepyar (Ricinus communis L.) sebagai Dasar Seleksi
Jarak kepyar (Ricinus communis L.) tergolong dalam famili Euphorbiaceae. Tanaman ini berpeluang secara ekonomis. Bijinya mengandung minyak hingga 40-60%. Minyak jarak kepyar dapat dimanfaatkan ke banyak kegunaan di dunia industri di antaranya sumber bahan bakar biodesel, bahan kosmetika, polimer plastik berupa resin dan cat. Produksi jarak kepyar di Indonesia masih fluktuatif. Salah satu cara dalam meningkatkan produktivitas tanaman jarak kepyar ialah dengan pemuliaan tanaman. Untuk memperoleh varietas yang memiliki sifat yang unggul diperlukan adanya keragaman genetik. Keragaman genetik merupakan hal mendasar agar seleksi bisa berjalan efektif. Adapun karakteristik fisik biji jarak kepyar sendiri dapat digunakan sebagai dasar dalam kegiatan seleksi. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui keragaman karakter kuantitatif dan kualitatif biji pada 22 genotipe jarak kepyar sebagai dasar dalam seleksi. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2021. Bahan yang digunakan dalam penelitian ialah 22 genotipe jarak kepyar hasil seleksi tahan layu fusarium, pupuk NPK dan urea, deskriptor UPOV (Ricinus communis L.), polibag 40×40 cm, tanah, dan air. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok diulang 2 kali. Setiap plot terdiri dari 3 tanaman. Jarak antar plot 60x60 cm. Pengamatan dilakukan pada karakter kuantitatif dan kualitatif biji jarak kepyar. Hasil analisis menunjukkan hasil yang sangat nyata. Nilai koefisien variasi genetik (KVG) dan koefisien variasi fenotip (KVF) diperoleh hasil berkriteria rendah hingga tinggi pada karakter kuantitatif biji. Sedangkan pada karakter kualitatif biji diperoleh nilai koefisien kemiripan yang rendah atau keragaman genetik yang tinggi
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi Nutrisi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi Pagoda (Brassica narinosa L.H. Bailey) pada Hidroponik Substrat
Sawi pagoda dikonsumsi karena kandungan gizinya yang baik. Ketersediaan produksi sawi pagoda dapat ditingkatkan dengan memperhatikan penggunaan media tanam dan pemberian konsentrasi nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi, pengaruh komposisi media tanam, dan pengaruh konsentrasi nutrisi terhadap pertumbuhan dan hasil sawi pagoda pada hidroponik substrat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2021 di greenhouse Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah komposisi media tanam dengan 2 taraf yaitu M1 (pasir dan arang sekam 1:1) dan M2 (cocopeat dan arang sekam 1:1). Faktor kedua adalah konsentrasi nutrisi dengan 5 taraf yakni N1 (800 ppm), N2 (950 ppm), N3 (1100 ppm), N4 (1250 ppm), dan N5 (1400 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi nyata antara komposisi media tanam dan konsentrasi nutrisi terhadap bobot segar total dan panjang akar sawi pagoda. Perlakuan cocopeat dan arang sekam 1:1 + konsentrasi nutrisi 1250 ppm dan 950 ppm memberikan pengaruh yang sama terhadap bobot segar total dan panjang akar sawi pagoda. Komposisi media tanam cocopeat dan arang sekam 1:1 menunjukkan tinggi tanaman, jumlah daun, lebar tajuk, bobot segar konsumsi, dan luas daun per tanaman sawi pagoda yang lebih tinggi daripada pasir dan arang sekam 1:1. Konsentrasi nutrisi 1250 ppm memberikan jumlah daun yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi nutrisi 1100 ppm dan 1400 ppm
Respon Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L. var. Tymoti F1) Terhadap Berbagai Jenis Tanaman Sela Pada Sistem Tanam Tumpangsari
Keterbatasan lahan menjadi kendala dalam melakukan budidaya tanaman sehingga mengakibatkan menurunnya produksi tanaman. Tumpangsari merupakan suatu pola tanam dengan membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman pada satu area lahan dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan dan salah satu upaya dari intensifikasi pertanian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon tanaman tomat terhadap berbagai jenis tanaman sela. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Juli 2021 di Kebun Percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 6 kombinasi perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah tomat monokultur (P1), tomat + kangkung (P2), tomat + kailain (P3), tomat + sawi (P4), tomat + selada (P5) dan tomat + bayam (P6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari tomat dan selada memberikan produktivitas tertinggi yaitu 77.79 ton/ha dan produktivitas terendah yaitu 55.00 ton/ha pada tumpangsari tomat dan bayam. Tumpangsari tomat dan selada memberikan NKL tertinggi sebesar 1.79 dan NKL terendah terdapat pada tumpangsari tomat dan bayam sebesar 1.4
Struktur dan Pemanfaatan Tanaman pada Pekarangan Desa dan
Pekarangan desa dan kota memiliki struktur dan penggunaan tanaman yang berbeda sehingga menjadi pembeda di antara keduanya. Struktur dan pemanfaatan tanaman pada pekarangan penting dalam dalam upaya konservasi keragaman hayati serta upaya optimalisasi pekarangan untuk mendukung kebutuhan hidup masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan keragaman struktur dan pemanfaatan tanaman pada pekarangan desa dan kota. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan observasi dan wawancara terhadap dua kelompok masyarakat pemilik pekarangan yang ada di Kabupaten Malang dan di Kota Bekasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan struktur dan pemanfaatan pada pekarangan yang ada di kedua wilayah tersebut. Perbedaan tersebut antara lain pekarangan desa menunjukkan keragaman jenis tanaman yang lebih tinggi dibandingkan tanaman di pekarangan kota. Strata pohon pada pekarangan desa lebih banyak dibandingkan di pekarangan kota. Berdasarkan pemanfaatannya, tanaman di pekarangan desa lebih beragam dibandingkan pekarangan kota, demikian pula dengan bagian tanaman yang digunakan. Tanaman di pekarangan desa digunakan oleh masyarakat sebagai makanan, obat-obatan, estetika, papan, ritual budaya dan lingkungan Sedangkan di perkotaan, tanaman pekarangan lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan terhadap keindahan dan lingkungan
Karakteristik Kacang-Kacangan Tipe Tegak untuk Alternatif Substitusi Kedelai (Glycine max L.)
Tanaman kacang-kacangan dikenal sebagai sumber protein yang penting dalam tubuh manusia, salah satunya kacang kedelai. Kementrian Pertanian memperkirakan produksi kacang kedelai di Indonesia akan terus menurun sejak tahun 2021 hingga 2024. Adanya substitusi kacang kedelai dengan kacang lainnya diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti tanaman kedelai. BPTP Jawa Timur memiliki beberapa koleksi genotip kacang-kacang tipe tegak dan tipe merambat yang belum dikarakterisasi untuk dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kacang kedelai. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik morfologi dan agronomis 8 genotip kacang-kacangan tipe tegak dan mengetahui potensi kacang yang dapat menjadi alternatif pengganti kedelai.Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Agustus 2021 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (BPTP Jatim). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman kacang Koro merupakan kacang yang berpotensi sebagai alternatif pengganti kedelai dilihat dari nilai kandungan protein sebesar 32,2%, serta potensi produksi seperti bobot polong segar 998,7 g, bobot polong kering 935 g, dan bobot biji kering 407,6 g
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair (POC) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bunga Kol (Brassica oleracea var. botrytis L.) : Effect of Type and Concentration of Liquid Organic Fertilizer on Growth and Yield of Cauliflower Plants (Brassica oleracea var. botrytis L.)
Tanaman bunga kol banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Penggunaan pupuk kimia dapat mengancam keseimbangan ekosistem dan menurunkan kesuburan tanah. Upaya dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia yaitu dengan menggunakan pupuk organik cair. Penelitian ini untuk mengetahui, mengukur dan menganalisis pemberian jenis dan konsentrasi pupuk organik cair yang berbeda untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil bunga kol. Bahan yang digunakan yaitu pupuk ZA, pupuk SP-36, pupuk KCl, air, benih bunga kol varietas PM 126 F1, pupuk kandang kambing, POC Nasa, POC Green Tonik dan POC Bio Sugih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan kombinasi perlakuan P1: POC Nasa 1 ml/l Air, P2: POC Nasa 2 ml/l Air, P3: POC Nasa 3 ml/l Air, P4: POC Green Tonik 1 ml/l Air, P5: POC Green Tonik 2 ml/l Air, P6: POC Green Tonik 3 ml/l Air, P7: POC Bio Sugih 1 ml/l Air, P8: POC Bio Sugih 2 ml/l Air, P9: POC Bio Sugih 3 ml/l Air. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga April 2022 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kelurahan Jatimulyo, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis dan konsentrasi POC Green Tonik 3 ml/l memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bunga kol. Pemberian POC Green Tonik 3 ml/l menghasilkan panen bunga kol per hektar sebesar 15,67 t ha-1 atau lebih tinggi 56,7% dibandingkan POC Green Tonik 1 ml/l.
Kata kunci: Bio Sugih, Bunga Kol, Green Tonik, Nasa.
Cauliflower plants are much favored by the people of Indonesia. The use of chemical fertilizers can threaten the balance of the ecosystem and reduce soil fertility. Efforts to reduce the use of chemical fertilizers are by using liquid organic fertilizers. This study was to determine, measure and analyze the application of different types and concentrations of liquid organic fertilizer to increase the growth and yield of cauliflower. The materials used were ZA fertilizer, SP-36 fertilizer, KCl fertilizer, water, cauliflower seeds of PM 126 F1 variety, goat manure, Nasa POC, Green Tonic POC and Bio Sugih POC. This study used a randomized block design (RAK) with a combination of treatments P1: POC Nasa 1 ml/l Water, P2: POC Nasa 2 ml/l Water, P3: POC Nasa 3 ml/l Water, P4: POC Green Tonic 1 ml/l l Water, P5: POC Green Tonic 2 ml/l Water, P6: POC Green Tonic 3 ml/l Water, P7: POC Bio Sugih 1 ml/l Water, P8: POC Bio Sugih 2 ml/l Water, P9: POC Bio Sugih 3 ml/l Water. The research was carried out from February to April 2022 at the Experimental Field of the Faculty of Agriculture, Universitas Brawijaya, Jatimulyo Village, East Java. The results showed that the type and concentration of POC Green Tonic 3 ml/l gave the best results on the growth and yield of cauliflower plants. Giving POC Green Tonic 3 ml/l resulted in cauliflower harvest per hectare of 15.67 t ha-1 or 56.7% higher than POC Green Tonic 1 ml/l.
Keywords: Bio Sugih, Cauliflower, Green Tonic, Nasa
Pengaruh Konsentrasi dan Interval Waktu Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terung Ungu (Solanum melongena L.)
Tanaman terung (Solanum melongena L.) merupakan tanaman hortikultura semusim yang termasuk kedalam famili Solanaceae dan merupakan tanaman sayuran penting ke empat di dunia. Produksi terung tahun 2017-2020 mengalami fluktuasi disebabkan oleh pemanfaatan lahan budidaya yang masih bersifat sampingan juga pemberian pupuk anorganik tanpa diimbangi pemberian pupuk organik. Pemberian pupuk organik cair (POC) dengan konsentrasi dan interval waktu yang tepat dapat menjadi solusi untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan interval waktu pemberian POC yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil terung ungu. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jalan Kuping Gajah, Kota Malang pada bulan Maret hingga Juni 2022 dengan ketinggian ±557 mdpl dan rerata suhu 22ºC–25ºC. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok non faktorial dengan 10 kombinasi perlakuan dan 3 kali pengulangan, yaitu: K0: tanpa POC (kontrol), K5;1: 5 ml.l-1 air + interval 1 minggu sekali, K5;2: 5 ml.l-1 air + interval 2 minggu sekali, K5;3: 5 ml.l-1 air + interval 3 minggu sekali, K10;1: 10 ml.l-1 air + interval 1 minggu sekali, K10;2: 10 ml.l-1 air + interval 2 minggu sekali, K10;3: 10 ml.l-1 air + interval 3 minggu sekali, K15;1: 15 ml.l-1 air + interval 1 minggu sekali, K15;2: 15 ml.l-1 air + interval 2 minggu sekali, K15;3: 15 ml.l-1 air + interval 3 minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian POC dengan konsentrasi 15 ml.l-1 air dan interval pemberian 2 minggu sekali merupakan kombinasi terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil terung ungu