Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Respon Pertumbuhan Varietas PS 862 dan Varietas Bululawang Pada Bibit Bud Chips Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Terhadap Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh Ekstrak Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Tebu mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi tetapi produksi gula masih dikatakan rendah karena kurangnya penyediaan bibit tebu dan dan kualitas varietas yang digunakan. PG Rejo Agung lebih sering menggunakan bibit bagal, pada kenyataannya lebih efisien menggunakan Bud Chips. Usaha untuk mempercepat pertumbuhan akar bibit Bud Chips dapat dipacu dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa ekstrak bawang merah yang mengandung auksin dan giberelin. Faktor lain yang mempengaruhi hasil produksi adalah kualitas varietas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan respon pertumbuhan bibit Bud Chips varietas Bululawang dan PS 862 terhadap perlakuan ZPT ekstrak bawang merah. Hipotesis penelitian ini adalah diduga terdapat respon pertumbuhan terbaik pada bibit Bud Chipsvarietas PS 862 lebih baik terhadap perlakuan ZPT ekstrak bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan di PT. PG Rajawali 1 Unit PG Rejo Agung Baru, Kota Madiun, Jawa Timur, April-Juli 2023. Bahan: bibit Bud Chips varietas Bululawang dan varietas PS 862, tanah top soil, air, bawang merah, ZPT Atonik. Alat: alat tulis, meteran, cetok, timbangan, kamera, dan jangka sorong. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial. Bud Chips tebu pada varietas Bululawang dan varietas PS 862 diberikan perlakuan perendaman ZPT Atonik, air, dan ZPT ekstrak bawang merah hasilnya berbeda nyata pada jumlah akar, panjang akar, kecepatan tumbuh tunas, persentase tumbuh tunas, tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang. Varietas PS 862 menunjukkan respon pertumbuhan yang lebih baik pada perendaman ZPT ekstrak bawang merah. Pertumbuhan bibit Bud Chips pada varietas Bululawang dan PS 862 perlakuan air saja menunjukkan adanya respon pertumbuhan
Pengaruh Konsentrasi Giberelin terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat Ceri (Solanum lycopersicum var. cerasiforme)
Produksi tomat ceri di Indonesia masih tersedia dalam jumlah yang rendah, ditunjukkan melalui data impor tomat ceri yang berada di angka 3.128 kg dengan harga pembelian US12.148 per tahun. Produksi tomat ceri yang rendah dapat disebabkan oleh gugur bunga. Gugurnya bunga tomat ceri menurunkan hasil buah tomat ceri dan fruit set. Permasalahan ini dapat diatasi dengan pemberian giberelin eksogen. Giberelin eksogen dapat mencegah terjadinya gugur bunga dan buah pada tanaman. Percobaan ini bertujuan mempelajari pengaruh perbedaan konsentrasi zat pengatur tumbuh giberelin serta mempelajari konsentrasi zat pengatur tumbuh yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tomat ceri. Percobaan dilaksanakan di Desa Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur pada bulan Juni – Oktober 2023. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor konsentrasi giberelin, terdiri dari 6 taraf, yaitu G0: tanpa pemberian giberelin, G50: 50 ppm giberelin, G100: 150 ppm giberelin, G150: 150 ppm giberelin, G200: 200 ppm giberelin, dan G250: 250 ppm giberelin. Variabel pengamatan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot kering, umur berbunga, jumlah bunga, jumlah buah, fruit set, bobot buah per buah, bobot buah per tanaman, derajat kemanisan, dan kadar vitamin C. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konsentrasi pemberian giberelin yang berbeda memberikan hasil yang berbeda pada parameter pertumbuhan maupun hasil. Pemberian giberelin 150 ppm mampu menghasilkan bobot buah per tanaman tertinggi jika dibandingkan tanpa pemberian giberelin. Konsentrasi optimum giberelin yang dapat diaplikasikan pada tanaman tomat ceri dengan hasil yang optimal berdasarkan hasil percobaan ini adalah konsentrasi 160 ppm
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) terhadap Berbagai Metode Pengendalian Gulma pada Musim Kemarau
Tomat merupakan salah satu tanaman hortikultura dengan permintaan yang terus meningkat, sehingga diperlukan adanya berbagai upaya untuk meningkatkan produksi tanaman tomat. Permasalahan yang banyak ditemui yaitu keberadaan gulma dalam area penanaman tomat. Keberadaan gulma dapat menurunkan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman tomat karena akan menyebabkan terjadinya persaingan dalam memperebutkan air, cahaya matahari serta unsur hara dengan tanaman utama, sehingga diperlukan adanya metode pengendalian gulma yang efisien dalam menekan pertumbuhan gulma. Penelitian dilaksanakan pada Juni-Oktober 2023 di Desa Bocek, Jawa Timur. Penelitian menggunakan RAK dengan 9 perlakuan dan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi pengamatan gulma, pengamatan pertumbuhan, pengamatan komponen hasil, pengamatan efisiensi pengendalian gulma, indeks gulma dan pengamatan fitotoksisitas. Data dianalisis menggunakan analisis ragam pada taraf 5% dan apabila perlakuan berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5%. Hasil menunjukkan terdapat 12 jenis gulma sebelum pengolahan lahan dan terdapat 3 penambahan jenis gulma baru pada pengamatan analisis vegetasi 42, 49, 56, dan 63 HST yang tergolong gulma berdaun lebar dan rumput-rumputan. Gulma yang mendominasi yaitu Cynodon dactylon dan Digitaria longiflora. Perlakuan herbisida oksifluorfen 240 g ha-1 + penyiangan 35 HST serta mulsa jerami + penyiangan 35 HST efektif menekan pertumbuhan gulma dan meningkatkan pertumbuhan tanaman karena adanya penyiangan pada umur 35 HST. Perlakuan penyiangan 21, 28, dan 35 HST, herbisida oksifluorfen 240 g ha-1 + penyiangan 35 HST serta mulsa jerami + penyiangan 35 HST efektif meningkatkan komponen hasil tinggi dibandingkan tanpa pengendalian gulma
Keragaman Morfologi Enam Galur Kacang Bambara (Vigna subterranea L.) dalam Rangka Penyusunan Deskripsi
Kacang bambara merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang dibudidayakan di Indonesia. Produktivitas kacang bambara masih tergolong rendah sehingga diperlukan upaya perbaikan produktivitas kacang bambara melalui program pemuliaan tanaman. Penelitian ini dilaksanakan untuk mempelajari keragaman morfologi enam galur kacang bambara untuk menyusun deskripsi dari galur-galur tersebut. Deskripsi yang telah disusun dapat memberikan informasi yang diperlukan dalam program pemuliaan tanaman. Evaluasi keragaman morfologi dilakukan menggunakan enam galur kacang bambara (BBL 1.1, TVSU 86, CCC 1.6, PWBG 6, SS 3.4.2, dan SS 2.4.2) dengan 48 ulangan. Pengamatan dilakukan berdasarkan buku Descriptor for Bambara Groundnut (Vigna subterranea) oleh IPGRI yang telah disesuaikan dengan penelitian. Sedangkan penyusunan deskripsi diadaptasi dari deskripsi kacang tanah oleh Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan. Hasil evaluasi keragaman morfologi menunjukkan bahwa terdapat keragaman morfologi antar galur kacang bambara. Enam galur kacang bambara memiliki karakter kuantitatif yang beragam. Semua galur memiliki karakter kualitatif yang sama kecuali karakter bentuk pucuk daun muda terminal pada galur SS 3.4.2 dan bentuk biji pada galur TVSU 86
Pengaruh Aplikasi Penggunaan Mulsa Reflektor Terhadap Albedo, Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Tomat (Solanum Lycopersicum Mill.)
Tomat (Solanum lycopersicum Mill.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak digemari dan dikembangkan di Indonesia. Proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh faktor iklim seperti suhu, kelembapan dan intensitas cahaya Intensitas cahaya yang kurang mempengaruhi proses fotosintesis pada tanaman tomat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2023 di di lahan Pusat Kajian Pertanian Organik Terpadu (PKPOT) berlokasi di Jl. Raya Golek No. 1, Golek, Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) secara faktorial dan uji regresi dengan faktor iklim albedo. Variabel pengamatan dalam penelitian ini yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah, bobot buah per petak panen, kadar padatan terlarut dan albedo. Data yang diperoleh dilakukan analisis ragam pada taraf 5% apabila terdapat beda nyata, maka dilakukan uji nyata jujur dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan mulsa reflektor dan macam varietas menunjukkan adanya interaksi terhadap kadar padatan terlaut. Perlakuan mulsa reflektor juga berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah, bobot buah per petak panen. Akan tetapi, perbedaan macam varietas hanya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Terdapat hubungan linear positif pada albedo dengan tinggi tanaman dan albedo dengan bobot buah per petak panen. Tinggi tanaman memiliki tingkat keeratan yang kuat, sedangan pada hasil bobot buah perpetak panen memiliki tingkat keeratan yang cukup kuat
Keragaan Delapan Belas Genotipe Melon (Cucumis melo L.) pada Dataran Rendah Bengkulu Utara
Produksi melon dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Perluasan areal tanam melon merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan produksi melon. Hasil perakitan varietas tanaman berupa hibrida baru perlu dilakukan pengadaptasian pada berbagai ketinggian tempat sehingga akan diperoleh hibrida yang spesifik lokasi. Penelitian berjuan untuk mendapatkan informasi penting tentang genotipe melon yang paling cocok untuk dikembangkan di dataran rendah Bengkulu Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2024 di Desa Lubuk Sahung, Kota Arga Makmur, Bengkulu Utara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktor tunggal dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor perlakuan dalam penelitian adalah 18 genotipe melon. Pengamatan dilakukan pada karakter diameter batang, panjang daun, umur berbunga jantan, umur berbunga hermafrodit, jumlah petal bunga jantan, jumlah petal bunga hermaprodit, panjang tangkai bunga jantan, diameter bunga hermaprodit, umur panen, panjang buah, diameter buah, bobot buah, ketebalan daging buah, ketebalan rongga buah, ketebalan kulit buah, padatan total terlarut, dan vitamin C. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik dengan uji-F pada taraf 5%. Apabila terdapat pengaruh nyata dari perlakuan maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak Costat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan delapan belas genotipe melon memberikan pengaruh nyata pada semua karakter yang diamati kecuali panjang daun, panjang tangkai bunga jantan, panjang tangkai bunga hermaprodit dan diameter bunga jantan. Hasil pengujian 18 genotipe melon di dataran menengah Bengkulu Utara mendapatkan beberapa genotipe melon yang diseleksi berdasarkan total padatan terlarut dan bobot buah. Genotipe melon yang diseleksi berdasarkan padatan total terlarut tertinggi secara berturut-turut adalah G35 (13,330Brix), G40 (13,330Brix), G41 (13,330Brix) dan G42 (130Brix). Sedangkan genotipe yang diseleksi berdasarkan bobot buah terberat secara berurutan adalah G26 (1600 g), G25 (810 g) dan G37 (784,33 g)
Pengaruh Aplikasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Melon (Cucumis melo L.) Sistem Hidroponik
Peningkatan produksi melon dapat dilakukan melalui penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan frekuensi pemberian PGPR terhadap pertumbuhan dan hasil melon sistem hidroponik. Penelitian dilakukan di CV. Happy Tani, Dau, Malang pada bulan Februari - Mei 2023 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan faktor pertama konsentrasi PGPR yang terdiri dari 5 taraf, yakni: 0 ml/L, 5 ml/L, 10 ml/L, 15 ml/L, dan 20 ml/L. Sedangkan faktor kedua adalah frekuensi PGPR dengan 3 taraf, yakni: 1, 2, dan 3 minggu sekali, terdapat 15 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali. Variabel pengamatan meliputi bobot kering (tajuk, akar, dan total), bobot buah, diameter buah, panjang buah, ketebalan daging buah, indeks kemanisan buah, uji organoleptik, dan intensitas penyakit. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam, data yang menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan konsentrasi dan frekuensi PGPR. Perlakuan konsentrasi PGPR memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil pada variabel bobot kering (tajuk, akar, dan total), bobot buah, diameter buah, panjang buah, ketebalan daging buah, indeks kemanisan buah, uji organoleptik (tekstur, rasa aroma dan aftertaste), dan intensitas penyakit layu fusarium. Konsentrasi PGPR 15 dan 20 ml/L memberikan hasil lebih baik. Sedangkan perlakuan frekuensi PGPR memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil pada bobot kering akar, bobot buah, panjang buah, uji organoleptik (rasa, aroma, dan aftertaste). Frekuensi pemberian PGPR 2 minggu sekali memberikan hasil lebih baik
Pengaruh Pupuk Kandang dan Pupuk KCl pada Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Batu Ijo
Permasalahan budidaya bawang merah dalam upaya meningkatkan produksi salah satunya adalah terlalu banyak memberikan pupuk anorganik. Upaya dalam memperbaiki produktivitas lahan yang menurun mampu dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan kombinasi yang tepat pupuk kandang kambing sebagai pupuk dasar dan pupuk KCl pada pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan di lapang pada bulan Mei hingga Juli 2023, yang berlokasi di Kelurahan Doko, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Penelitian merupakan percobaan non faktorial dan dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan terdiri dari 9 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian didapatkan kombinasi pupuk kandang dan pupuk KCl memberikan hasil bobot kering 18,05 ton ha-1 dan lebih tinggi 22,28% dibandingkan dengan perlakuan tanpa pupuk kandang. Perlakuan yang mendapatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah yang lebih tinggi adalah perlakuan 10 ton ha-1 pupuk kandang kambing + 75 kg ha-1 KCl. Kombinasi 10 ton ha-1 pupuk kandang + 75 kg ha-1 KCl memberikan hasil bobot kering 18,05 ton ha-1 dan lebih tinggi 36,74% dibandingkan dengan kombinasi 5 ton ha-1 pupuk kandang + 75 kg ha-1 KCl
Pengaruh Induksi TSS (True Shallot Seed) dengan Kolkisin Terhadap Variasi Ploidi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat penting di Indonesia. Salah satu kriteria umbi bawang merah yang disukai konsumen ialah umbi yang berukuran besar. Upaya untuk meningkatkan variasi dan perbaikan karakter bawang merah adalah dengan induksi poliploidi menggunakan kolkisin. Penelitian dengan tujuan untuk mempelajari variasi bawang merah dan mendapatkan bawang merah tetraploid hasil induksi poliploidi dengan kolkisin telah dilaksanakan di kebun Universitas Brawijaya PSDKU Kediri di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri pada bulan Maret sampai Juli 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan dua faktor. Faktor pertama konsentrasi kolkisin (0%; 0,25%; 0,50%; 0,75%) dan faktor kedua lama perendaman (24 jam; 48 jam) yang diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi dan lama perendaman kolkisin menyebabkan daya kecambah TSS menurun. Nilai LC50 diperoleh pada perendaman konsentrasi 0,84% selama 24 jam dan konsentrasi 0,44% selama 48 jam. Konsentrasi 0,25% selama 48 jam dan 0,75% selama 24 jam menghasilkan variasi yang tinggi terhadap jumlah daun, sedangkan konsentrasi 0,25% selama 48 jam menghasilkan variasi yang tinggi terhadap bobot per umbi. Bawang merah tetraploid dihasilkan pada konsentrasi 0,25% dan 0,50% selama 24 jam, sedangkan konsentrasi 0,75% selama 24 jam menghasilkan bawang merah heksaploid.
Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Waktu Penyiangan Gulma terhadap Pertumbuhan Kacang Hijau Varietas Vima 1 (Vigna radiata L.).
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan tanaman legum penting ketiga di Indonesia setelah kedelai dan kacang tanah. Kacang hijau merupakan tanaman yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan di Indonesia. Permintaan terhadap kacang hijau meningkat seiring dengan banyaknya olahan makanan yang menggunakan kacang hijau. Salah satu penyebab penurunan produksi tanaman kacang hijau adalah kekurangan unsur dalam tanah dan keberadaan gulma. Upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan dan mengoptimalkan produksi tanaman kacang hijau adalah dengan pemberian pupuk NPK yang tepat, selain itu penyiangan gulma juga meningkatkan hasil produksi kacang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk bertujuan untuk mengetahui interaksi dosis pupuk NPK dan waktu penyiangan gulma yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau varietas vima-1. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya yang terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan percobaan faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama ialah perlakuan dosis pupuk NPK dan kedua ialah perlakuan waktu penyiangan gulma. Metode pengambilansampel berupa metode non destruktif. Analisis ragam menggunakan ANNOVA dengan taraf 5%. Uji Lanjut menggunakan beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dosis pupuk 250 kg.ha-1 memberikan hasil yang baik dan berpengaruh nyata terhadap bobot biji pertanaman dan bobot biji perhekta