Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Berbagai Media Tanam dan Dosis Pupuk Nitrogen Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.)
Sawi hijau adalah jenis sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang cerah karena rasanya yang enak, ketersediaan mudah, dan budidayanya yang tidak terlalu rumit. Tanaman sawi kaya akan nutrisi, misalnya dalam setiap 100 gram sawi terdapat 2,3 gram protein, 0,3 gram lemak, 4,0 gram karbohidrat, 220,0 mg kalsium, 38,0 mg fosfor, 2,9 mg zat besi, 1940 mg vitamin A, 0,09 mg vitamin B, dan 102 mg vitamin C, serta 92 gram air. Tingginya permintaan akan sawi hijau memicu pengembangan produksi guna memenuhi kebutuhan konsumen. Peningkatan produksi memerlukan perhatian pada teknik budidaya, termasuk penggunaan kombinasi media tanam dan pupuk nitrogen. Unsur nitrogen sangat penting bagi pertumbuhan vegetatif tanaman dan penggunaan kombinasi pupuk organik dan anorganik dapat meningkatkan serapan nitrogen oleh tanaman. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-April di Greenhouse Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Media tanam yang digunakan mencakup campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kandang sapi dengan variasi perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan media tanam campuran 1:1:1 (tanah, arang sekam, pupuk kandang sapi) serta pemberian 75 kg N/ha (urea) + 75 kg N/ha (ZA) memberikan hasil terbaik dalam hal tinggi tanaman, luas daun, bobot segar, dan berat konsumsi. Namun, perlakuan dengan campuran 0:2:1 dan berbagai dosis pupuk nitrogen (150 kg N/ha urea, 150 kg N/ha ZA, 75 kg N/ha urea + 75 kg N/ha ZA, 112,5 kg N/ha urea + 37,5 kg N/ha ZA) menghasilkan pertumbuhan serta hasil sawi hijau yang lebih rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya unsur hara dalam campuran media tanam tersebut
Potensi Bakteri Pelarut Fosfat pada Lahan Tegakan Hutan dan Perkebunan Singkong di Kawasan Kampus IPB Dramaga Bogor
Tanaman memerlukan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan, salah satunya yaitu fosfor (P). Namun tanaman hanya dapat menyerap P dari tanah dalam bentuk ion fosfat (H2PO4- dan HPO42-). Tantangan besar yang dilakukan untuk menyediakan P terlarut atau tersedia, terjawab oleh penemuan Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Mikrob ini menghasilkan asam-asam organik yang dapat melarutkan senyawa fosfat kompleks dan atau mengikat kation dari ion (PO43-) untuk melepaskan P tersedia dalam tanah. Areal rhizosfer tanah memiliki potensi keragaman mikrob yang tinggi karena menyediakan sumber makanan (eksudat) yang dikeluarkan dari akar tanaman. Penelitian ini bertujuan menentukan kualitas isolat BPF dari ekosistem perkebunan singkong dan hutan Kampus IPB Dramaga dengan Indeks Pelarut Fosfat (IPF) tertinggi pada berbagai sumber P dan variasi pH serta menentukan isolat BPF yang bersifat non-patogenik terhadap manusia, hewan, dan tanaman. Penelitian ini diawali dengan mengisolasi BPF dari areal rhizosfer, menumbuhkannya pada media selektif Pikovskaya, identifikasi morfologi koloni secara makroskopis, seleksi koloni BPF yang menghasilkan halozone (zona bening), mengukur IPF, dan mengujinya pada media Pikovskaya dengan berbagai sumber P dan tingkatan pH. Hasil isolasi menunjukkan adanya 9 isolat 2 diantaranya dari tegakan hutan dan 7 dari perkebunan singkong yang menghasilkan halozone. Isolat 6P dan 7P dari tegakan hutan memiliki IPF tertinggi berturut-turut sebesar 3,10 dan 3,33. Adapun isolat BPF hanya dapat mengasilkan halozone pada media sumber P dari kompleks Ca-P dengan kondisi pH basa dan pH tanah. Dari 9 isolat terpilih, 6 diantaranya yaitu isolat 1P, 3P, 4P, 6P, 7P, dan 9P teruji bersifat non-patogen terhadap sel manusia, hewan, maupun tanaman
Pengaruh Pemangkasan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Berbagai Varietas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) adalah tanaman jenis sayuran yang memiliki bentuk buah kecil dengan rasa yang pedas. Tanaman ini merupakan salah satu spesies dalam genus capsicum yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Berbagai usaha dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan produktivitas cabai rawit. Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman cabai rawit adalah dengan pemangkasan dan pemilihan varietas cabai rawit. Pemilihan varietas yang sesuai dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi, baik kualitas maupun kuantitasnya. Pemangkasan dapat mengefisienkan penggunaan nutrisi tanaman. Pemangkasan diharapkan mampu meningkatkan produksi tanaman cabai rawit. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Desember 2022 di Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan pada beberapa varietas cabai rawit dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit. Perlakuan pangkas pucuk pada varietas Bhaskara dan Dewata 43 menunjukkan jumlah daun terbaik dibandingkan perlakuan lain. Varietas Bhaskara dengan perlakuan pangkas pucuk menunjukkan jumlah cabang, jumlah bunga, jumlah buah, dan bobot buah per tanaman yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang lain
Pengaruh Aplikasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascolonicum L.)
Bawang merah merupakan salah satu tanaman yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Produktivitas bawang merah di Indonesia dari tahun 2015 - 2019 mengalami penurunan akibat kesuburan tanah yang menurun karena penggunaan pupuk anorganik yang terus menerus dan berlebihan. Pemberian PGPR diharapkan mampu mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk anorganik. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi antara aplikasi PGPR dan Pupuk NPK serta kombinasi yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil bawang. Penelitian dilaksanakan di Desa Bocek, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur mulai bulan April – Juni 2023. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT), terdiri atas 6 perlakuan yaitu P0N1= (Tanpa PGPR + NPK 300 kg ha-1), P0N2= (Tanpa PGPR + NPK 400 kg ha-1), P0N3= (Tanpa PGPR + NPK 500 kg ha-1), P1N1= (PGPR + NPK 300 kg ha-1), P1N2= (PGPR + NPK 400 kg ha-1), P1N3= (PGPR + NPK 500 kg ha-1) dan diulang sebanyak 4 kali. Parameter pengamatan ialah panjang tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, luas daun, bobot kering tanaman, laju pertumbuhan, jumlah umbi, diameter umbi, bobot segar umbi, bobot kering umbi, analisis tanah dan analisis serapan hara N, P, K. Analisa data menggunakan analisis ragam taraf 5% dan uji lanjut Duncan Multyple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi dari aplikasi PGPR dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Perlakuan dosis 400 kg ha-1 NPK yang dikombinasikan dengan PGPR konsentrasi 40 ml menunjukkan hasil yang paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah
Pengaruh Ekstrak Kecambah dan Media Tanam terhadap Pertumbuhan Microgreens Alfalfa (Medicago sativa L.)
Bercocok tanam di wilayah perkotaan sulit untuk dilaksanakan karena keterbatasan lahan. Upaya yang dapat dilakukan agar tetap melakukan budidaya tanaman seperti sayuran adalah ditanam dengan teknik microgreens. Microgreens adalah sayuran yang ditumbuhkan dan dipanen dalam waktu yang singkat dan mengandung nutrisi yang tinggi. Budidaya secara microgreens memerlukan zat pengatur tumbuh dan media tanam yang baik agar dapat menghasilkan kualitas microgreens yang baik. Salah satu tanaman yang dapat dibudidayakan dengan teknik microgreens adalah alfalfa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2023 di Ruang Tumbuh Kelurahan Merjosari, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial yang disusun dengan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor yaitu Ekstrak Kecambah Kacang Hijau dan Media Tanam. Setiap faktor terdiri dari 3 taraf sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali dengan total terdapat 27 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara ekstrak kecambah dan media tanam pada tinggi tanaman microgreens alfalfa. Konsentrasi ekstrak kecambah 50 dan 100 g l-1 meningkatkan persentase perkecambahan, tinggi tanaman, panjang akar dan bobot segar microgreens alfalfa. Media tanam cocopeat meningkatkan persentase perkecambahan, tinggi tanaman, panjang akar dan bobot segar microgreens alfalfa
Pengaruh Perlakuan Hormo-Priming Terhadap Viabilitas Beberapa Galur Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)
Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) merupakan komoditas yang memiliki prospek usaha pengembangan yang bagus di Indonesia. Upaya yang bisa dilakukan guna mengembangkan potensi keberhasilan dalam berbudidaya ialah penerapan teknologi benih dengan hormo-priming guna meningkatkan mutu benih. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh priming dengan GA3 terhadap perkecambahan dan pertumbuhan jagung manis, telah dilaksanakan pada September-November 2022 di Agro Techno Park Universitas Brawijaya, Malang. Uji perkecmbahan dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 4 ulangan. Data hasil diolah menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan uji Beda Nyata Jujur taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi antara galur dan pemberian konsenterasi GA3 hanya terjadi pada panjang plumula, namun tidak dengan variabel lainnya. Pengaruh sepuluh galur jagung manis dan perlakuan GA3 nyata di hampir semua variabel pengamatan perkecambahan. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa benih galur G9 dan G7 memiliki daya kecambah dan vigor yang baik. Perlakuan hormo-priming dengan GA3 pada konsenterasi 50 ppm merupakan konsenterasi paling efisien meningkatkan daya kecambah dan vigor benih
Pengaruh Dosis Asam Humat dan Pupuk Kalsium terhadap Pertumbuhan Rumput Bermuda (Cynodon dactylon)
Perkembangan ruangan publik baik itu taman dan fasilitas olahraga membutuhkan rumput. Penggunaan asam humat bermanfaat sebagai bahan penggembur tanah dan sebagai tambahan masukan bahan organik, asam humat dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi pada media tanam. Kalsium diperlukan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, khususnya pada akar dan tunas tanaman. Penelitian dalam upaya meningkatkan produktivitas rumput dengan menggunakan kombinasi antara asam humat dan pupuk kalsium pada rumput bermuda masih belum banyak dilakukan. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kombinasi asam humat dan pupuk kalsium terhadap pertumbuhan rumput bermuda serta mengetahui dosis asam humat serta pupuk kalsium yang tepat untuk pertumbuhan yang terbaik pada rumput bermuda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei. Penelitian dilaksanakan di Kepanjen, Jawa Timur. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 9 perlakuan. Parameter hasil yang diamati yaitu jumlah rumah, panjang akar, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, dan persentase penutupan. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan selanjutnya dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Jika dalam sidik ragam pada taraf 5% terdapat pengaruh nyata, maka uji perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan perlakuan dosis asam humat 40 kg ha-1 + pupuk kalsium 0 kg ha-1 sudah menunjukkan respon yang cukup baik pada pertumbuhan rumput bermuda. Perlakuan pada dosis tersebut lebih menghemat biaya dibandingkan dosis perlakuan dengan tambahan pupuk kalsium yang tidak terlalu menunjukkan perbedaan yang nyata
Pengaruh Defoliasi dan Aplikasi Kinetin Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Bugenvil Glabra (Bougainvillea glabra)
Bugenvil Glabra (Bougainvillea glabra) sangat populer karena kecantikan warnanya dan cara merawatnya yang mudah. Namun, masih terdapat permasalahan yang muncul terlebih di musim hujan, salah satunya adalah bugenvil sulit berbunga. Untuk menunjang pertumbuhan tanaman bugenvil yang baik dan cepat diperlukan tambahan perlakuan defoliasi dan zat pengatur tumbuh kinetin. Defoliasi dapat meningkatkan proses pembungaan dengan cara menghilangkan daun muda yang baru tumbuh sehingga translokasi fotosintat dapat sepenuhnya membentuk bunga. Kinetin termasuk ke dalam hormon sitokinin yang berperan aktif dalam pembentukan tunas. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh defoliasi dan kinetin terhadap pertumbuhan dan pembungaan bugenvil glabra. Penelitian ini dilaksanakan di Sentra Bugenvil Kediri di Desa Dawung Bedug, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Lokasi penelitian ini memiliki ketinggian tempat 78 meter. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor yang diulang sebanyak 3 kali. Apabila terdapat hasil berbeda nyata akan dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi kinetin tidak berinteraksi terhadap defoliasi pada variabel panjang tanaman, luas daun, jumlah cabang, jumlah seludang bunga, waktu awal muncul bunga dan lama kesegaran seludang bunga, namun memberikan interaksi terhadap jumlah daun. Perlakuan tanpa defoliasi merupakan perlakuan terbaik terhadap jumlah seludang dengan rata-rata 26,67 sedangkan pemberian konsentrasi 25 ppm kinetin merupakan perlakuan terbaik terhadap lama kesegaran bunga bugenvil dengan rata-rata 93,71Perlakuan defoliasi sekali+50 ppm kinetin merupakan perlakuan terbaik terhadap jumlah cabang dan jumlah daun bugenvil dengan rata-rata 24,56 dan 29,54. Perlakuan defoliasi sekali+25 ppm kinetin merupakan perlakuan terbaik terhadap panjang tanaman dan luas daun bugenvil dengan rata-rata 74,84 dan 34,73
Pengaruh Aplikasi Pupuk Bokashi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.)
Bit (Beta vulgaris L.) adalah salah satu tanaman yang berpotensi menjadi sumber gula alternatif serta memiliki banyak manfaat kesehatan. Beragamnya manfaat tanaman bit serta tingginya kebutuhan menjadikan tanaman bit penting untuk dibudidayakan. Budidaya tanaman bit selama ini dilakukan di dataran tinggi sehingga pengembangan produksinya dapat dilakukan di luar daerah tumbuhnya seperti di dataran menengah. Budidaya di luar lingkungan tumbuh perlu didukung dengan pengelolaan lingkungan salah satunya dengan penambahan pupuk organik seperti bokashi. Selain media tumbuh, varietas juga menjadi salah satu faktor yang menentukan respon tanaman bit terhadap lingkungan tumbuhnya. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh perbedaan dosis pupuk bokashi dan perbedaan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bit. Penelitian dilaksanakan pada Agustus hingga Desember 2019 di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Alat yang digunakan adalah penggaris, meteran, timbingan digital dan jangka sorong. Bahan yang digunakan adalah bibit tanaman bit varietas Crimson Globe (Vikima) dan Ayumi 04 serta pupuk bokashi. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan petak utama dua varietas tanaman bit dan anak petak adalah dosis pupuk bokashi terdiri dari lima taraf yaitu tanpa bokashi, 22 ton ha-1, 30 ton ha-1, 38 ton ha-1 dan 46 ton ha-1. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara varietas dan dosis bokashi yang diaplikasikan. Perbedaan varietas tanaman tidak berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman. Penambahan bokashi berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman bit yaitu pada panjang tanaman, jumlah daun, luas daun dan bobot basah tanaman serta panjang umbi, diameter umbi dan bobot umbi. Secara umum, kedua varietas menunjukkan hasil di bawah potensi produksinya di dataran tinggi
Estimasi Cadangan Karbon Tanaman Tahunan di Lingkungan Kampus Universitas Sunan Bonang dalam Mengurangi Dampak Pemanasan Global di Kota Tuban
Dampak perubahan iklim terhadap berbagai aspek kehidupan telah dirasakan oleh masyarakat global, termasuk Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dalam hal ini, kontribusi sektor pertanian terhadap emisi gas rumah kaca sebagai penyumbang perubahan iklim di Kabupaten Tuban cukup besar. Jika tidak diimbangi dengan upaya mitigasi, maka emisi gas rumah kaca akan semakin meningkat setiap tahunnya. Memperbanyak vegetasi, terutama pohon yang berfungsi sebagai penyerap karbon di atmosfer, merupakan salah satu upaya mitigasi yang dapat dilakukan. Namun, Kabupaten Tuban justru kehilangan beberapa lahan hutan. Universitas Sunan Bonang Tuban terletak di daerah perkotaan, namun spesies pohon di area kampus masih tetap dipertahankan. Hal ini merupakan salah satu upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh pihak kampus. Sebagai bentuk partisipasi kampus dalam mengurangi pemanasan global, maka perlu dilakukan identifikasi jenis pohon yang ada di dalam kampus, stok karbon, maupun jumlah karbon yang diserap dari atmosfer. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Juli 2022 di area kampus Universitas Sunan Bonang Tuban. Semua jenis spesies pohon akan dievaluasi berdasarkan biomassa per diameter pohon dan estimasi jumlah karbon yang diserap oleh tegakan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat sebanyak 66 pohon jati di kampus Universitas Sunan Bonang. Pohon mimba menyumbangkan cadangan karbon paling banyak, yaitu 239,34 kg atau 41 persen dari total cadangan karbon di Universitas Sunan Bonang, yaitu 581,27 kg atau 2,1 ton CO2 yang diserap dari atmosfer