Jurnal Konstruksi
Not a member yet
    76 research outputs found

    Analisis Stabilitas Timbunan dengan Geotextile Woven

    Full text link
    Tanah lunak menjadi salah satu permasalahan yang sering ditemukan dilapangan terutamaproyek pembangunan jalan terutama untuk pekerjaan timbunan. Maka perlu metode perbaikan tanah agar tanahtimbunan tetap solid atau tidak longsor. Metode perbaikan tanah yang akan menjadi penelitian adalah metodereplacement soil atau pergantian tanah dikombinasikan dengan geotextile woven sehingga digunakan metodeini bisa menjadi solusi untuk mengatasi tanah lunak di area pekerjaan timbunan.Penelitian ini dibantu denganprogram yang diambil dalam hasil output dari penelitian ini yaitu pola kelongsoran dan faktor keamanan untukstabilitas timbunan. Lokasi penelitian di Proyek Jalan Tol Kayu Agung- Palembang – Betung STA 8+875 –8+975, penilitian ini untuk mengetahui stabilitas timbunan dengan menggunakan metode geotextile danpergantian tanah dasar. Ketinggian tinggi timbunan sebesar 3,11 m dan kedalamam tanah yang akan digantisebesar 2 m material yang digunakan adalah tanah pasir dengan berat volume = 17 kN/m3, c= 15 kN/m3, sudutgeser dalam = 20° dan untuk pembebanan lalu lintas adalah 15 kPa (15 kN/m3) ditambahkan beban perkarasandengan tebal 0,85 m memiliki berat jenis sebesar 19 kN/m3 jadi total beban adalah 31,15 kN/m3 .Hasil analisisini dibantu oleh program finite element untuk metode untuk tanah timbunan tanpa perkuatan faktorkeamanannya sebesar 1,241 belum memenuhi SF yaitu sebesar 1,35, hasil timbunan dengan geotextile adalahsebesar 1,284 masih belum memnuhi dan untuk metode pergantian tanah dasar hasilnya adalah sebesar 1,416.Maka diambil metode replecement soil ditambahkan geotextile untuk struktur timbunan karena memenuhiSF > 1,35

    Analisis Penggunaan Serbuk Bata Merah Sebagai Filler Pada Campuran Laston Lapis Aus (ACWC)

    Full text link
    Laston merupakan lapis permukaan jalan. Laston juga disebut Laston Lapis Aus (ACWC),secara umum bahan campuran ACWC terdiri dari agregat kasar, agregat halus, aspal, dan bahanpengisi (Filler). Untuk spesifikasi campuran agregat kasar yang digunakan berupa batu pecah denganspesifikasi tertentu yang merupakan hasil mesin pemecah batu (Stone Crusher). Salah satu upayauntuk meningkatkan kinerja aspal beton adalah dengan mengganti bahan pengisi (Filler) denganmaterial lain. Berdasar hal tersebut apakah serbuk bata merah sebagai filler dapat meningkatkan nilaikarakteristik Marshall dan dapat menaikan stabilitas aspal pada campuran Laston Lapis Aus(ACWC). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan dari serbuk batamerah sebagai filler terhadap campuran laston lapis aus (ACWC) dapat mempengaruhi nilaikarakteristik marshall. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan dilaboratorium tentang pembahasanpengujian campuran Lasto Lapis Aus (ACWC) dengan menggunakan bahan pengisi serbuk batamerah sebagai filler. Berdasarkan hasil analisis dapat di ambil kesimpulan bahwa penambahan fillerserbuk bata merah sebanyak 6 % sebagai bahan pengisi dalam campuran Laston Lapis Aus (ACWC)dapat memenuhi spesifikasi yang disyaratkan oleh Bina Marga tahun 2010 (revsi 3) yaitu didapatkanKadar Aspal Optimum sebesar 5,4 %

    Kerugian Finansial Akibat Kemacetan Ditinjau Dari Bahan Bakar Minyak Di Kabupaten Garut

    Full text link
    Padatnya pergerakan lalu lintas menyebabkan penumpukan kendaraan dititik tertentu yang mengakibatkan kemacetan dikarenakan padatnya volume dan tingginya hambatan samping sehingga mempengaruhi kapasitas jalan, khususnya pada Ruas Jalan Jendral Ahmad Yani yang berada di wilayah Kabupaten Garut yang merupakan daerah komersial. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi pengguna jalan yang berdampak pada pemborosan bahan bakar minyak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kerugian finansial akibat kemacetan ditinjau dari bahan bakar minyak pada jenis kendaraan yang berbeda dengan melalui pengolahan data menggunakan metode yang diterbitkan Departemen Perkjaan Umum PD-T-15- 2005-B untuk mencari biaya konsumsi bahan bakar dan MKJI 1997 untuk menganalisis ruas jalan. Dari hasil analisis didapatkan nilai kerugian finansial tertinggi akibat kemacetan ditinjau dari bahan bakar minyak dengan berbagai jenis kendaraan berbahan bakar premium dan solar di Minggu kesatu dan Minggu kedua adalah pada Hari Rabu dengan total pertahun Rp.4,836,235,04/Km untuk Minggukesatu dan Rp. 5,163,933,13/Km untuk Minggu kedua. Tingginya nilai kerugian pada Hari Rabu diakibatkan oleh rendahnya kecepatan kendaraan dan padatnya volume lalu lintas yang menyebabkan kerugian lebih besar. Dengan besarnya nilai kerugian yang ditimbulkan kemacetan alangkah baiknya nilai kerugian tersebut disalurkan untuk perbaikan sarana dan prasarana jalan agar dapat mengurangi nilai kerugian bahan bakar minyak

    Identifikasi Faktor Risiko Kecelakaan Kerja Menuju Zero Accident pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Cisumdawu Phase II

    Full text link
    Identifikasi faktor risiko digunakan untuk menggali risiko-risiko yang mungkin dapatmempengaruhi pelaksanaan proyek konstruksi. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan dankesehatan kerja (K3) sangatlah penting untuk meminimalisir risiko kecelakaan dalam setiapaktifitas proyek konstruksi bangunan menuju zero accident. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui Identifikasi Faktor Risiko Kecelakaan Kerja Menuju Zero Accident pada ProyekPembangunan Jalan Tol di Sumedang. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analisisdeskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian ini dengan menggunakan metode Brainstormingyang merupakan identifikasi awal dari semua risiko yang mungkin akan terjadi, denganmenggunakan sampel foto pada pekerjaan Box Culvert yang telah diidentifikasi peluangkecelakaan berdasarkan klasifikasi jenis kecelakaan dan akibat kecelakaan bedasarkan jenis lukayang di analisis menggunakan penilaian risiko menurut ISO 2008 yang berdasarkan Permen PuNomer 09 Tahun 2008. Hasil dengan tingkat frekuensi sedang yang muncul yaitu dengan kriteria 1xdalam 6 bulan. Hasil tersebut menyebutkan bahwa penyedia jasa konstruksi (kontraktor) telahmeningkatkan keselamatan pada setiap pekerjaan agar mengurangi peluang risiko kecelakaankerja yang terjadi untuk menuju zero accident

    Analisis Debit Puncak Rencana Serta Keseimbangan Air Irigasi Pada Daerah Aliran Sungai Ciwulan Hulu Kabupaten Tasikmalaya

    No full text
    Indonesia merupakan daerah yang beriklim tropis dimana pada musim penghujan mempunyai curah hujan yang relatif cukup tinggi, dan seringkali mengakibatkan terjadinya banjir. Perkembangan wilayah dan meningkatnya populasi penduduk memicu adanya aktivitas-aktivitas baru yang berpengaruh pada pola penggunaan air yang tersedia. Sungai Ciwulan merupakan salah satu sungai di Provinsi Jawa Barat yang berhulu di Gunung Cikuray dan Gunung Karacak di Kabupaten Garut yang memiliki panjang 114 km dan bermuara ke Samudera Indonesia di Kabupaten Tasikmalaya. Lokasi yang dijadikan objek penelitian ini yaitu bendung Biuk yang ada pada DAS Ciwulan hulu yang teletak di perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya tepatnya di Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya dengan luas DAS 31,69 km2 serta areal potesial sebesar 1140 ha. Dalam penelitian ini menggunakan satu data curah hujan dari stasiun curah hujan terdekat dengan periode 10 tahun dari tahun 2007 sampai dengan 2017. Hidrograf Satuan Sintesis yang digunakan yaitu HSS Nakayasu dan HSS Snyder. Dalam mencari besaran debit andalan menggunakan metode Fj Mock serta metode Thornthwaite untuk menganalisa evapotranspirasi (ET0). Dari hasil perhitungan debit puncak rencana pada aliran sungai Ciwulan hulu dengan metode HSS Nakayasu menghasilkan debit puncak rencana sebesar 104,7588 m3/det, sedangkan pada metode HSS Snyder debit puncak rencana yang dihasilkan sebesar 101,23 m3/det. Pada analisis ketersediaan dan kebutuhan air, persentase terpenuhi terbesar terjadi pada bulan Februari setengah bulanan pertama dengan persentase 419,82%. Namun pada bulan Agustus setengah bulanan kedua mengalami kekurangan air dengan persentasi terpenuhi hanya 20,45%

    Analisa Efektivitas Waktu dan Biaya Proyek Ditinjau Dari Unsur – Unsur Manajemen Proyek (Studi Kasus Overlay Runway Bandara Innternasional Soekarno - Hatta)

    Full text link
    nalisa Efektivitas Waktu dan Biaya Proyek ditinjau dari Unsur – Unsur Manajemen Proyek. Masalah keterlambatan dalam industri konstruksi merupakan fenoemena nasional dan tidak terkecuali pada proyek Overlay Runway Bandara Internasional Soekarno – Hatta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1)apa saja faktor – fator keterlambatan yang berpengaruh terhadap pelaksanaan proyek Overlay Runway Bandara Internasional Soekarno – Hatta. (2) apa saja yang timbul dari keterlambatan proyek pada pelaksanaan proyek Overlay Runway Bandara Internasional Soekarno – Hatta. (3) Bagaimana pengaruh faktor keterlambatan pelakanaan proyek Overlay Runway Bandara Internasional Soekarno – Hatta.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kaulitatif, penelitian ini tidak diarahkan untuk untuk membuktikan hipotesis, tetapi lebih ditekankan pada pengumpulan data yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan keadaan sesungguhnya yang terjadi di lapangan. Teknik analisa data yang digunakan yaitu menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi, faktor keterlambatan dianalisis untukmengetahui pengaruhnya terhadap efektivitas waktu dan biaya proyek.Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa: (1) Faktor keterlambatan yang mempengaruhi terhadap keterlambatan proyek adalah faktor NOTAM dan cuaca buruk. (2) Keterlambatan tersebut berdampak terhadap efektivitas waktu dan biaya proyek, dimana efektivitas waktu pada proyek Overlay Runway Bandara Internasional Soekarno – Hatta sebesar 34,88% dan efektivitas biaya proyek sebesar 38,22%. (3) Solusiyang bisa dilakukan berdasarkan faktor keterlambatan yaitu dengan cara mengajukan NOTAM tambahan dan menghindari bulan – bulan musim penghujan

    PERENCANAAN GEOMETRIK DAN PERKERASAN RUAS JALAN BATUKARAS – MADASARI

    Full text link
    Perkembangan suatu wilayah, akan meningkatkan mobilitas orang dan barang, baik di dalam maupun keluar wilayah yang nantinya akan meningkatkan kebutuhan sarana dan prasarana transportasi. Kondisi tersebut apabila tidak diantisipasi sedini mungkin, dikhawatirkan akan terjadinya permasalahan transportasi seperti, kemacetan, kerusakan jalan, dan sebagainya. Pada perencanaan geometrik jalan untuk wilayah Batukaras – Madasari ini memliki panjang rencana yaitu 3,7 km, pembangunan jalan ini merupakan salah satu alat Transportasi yang bertujuan untuk membangun wilayah wisata Madasari. Perencanaan meliputi sebagian besar langkah kerja dari proses analisa. Perencanaan dititik beratkan pada perencanaan geometrik dan perkerasan jalan. Peroses Perencanaan jalan raya di awali dengan pengumpulan data –data yang diperlukan. Data – data didapat dari lapangan berupa data CBR tanah, data ukur dan data – data lainnya yang dibutuhkan. Data – data ini nantinya akan menghasilkan penampang untuk jalan berupa geometrik jalan dan akan menghasilkan perkerasaan jalan berupa pengikat aspal. Pada perencanaan geometrik hanya direncanakan untuk penampang jalannya maka dibutuhkan perencanaan perkerasan jalan supaya jalan dapat dipakai semaksimal mungkin oleh pengguna. Dalam perencanaan batukaras – Madasari terdapat 14 tikungan, 7 lengkung cembung , 7 lengkung cekung Dengan Kecepatan rata – rata 60 – 90 dan lebar perkerasan adalah 2 x 3 m. untuk perkerasaannya menghasilkan perkerasan dengan umur 5 – 10 tahun dengan CBRtanah dasar 5,32. Perkerasan yang dihasilkan yaitu: untuk umur 5 tahun dihasilkan perkerasan laston untuk lapis permukaan tebal 5cm, Batu pecah kelas B untuk lapis antara 20 cm, sirtu kelas A untuk lapis pondasi/ bawah 10 cm. Sedangkan untuk umur 10 tahun dihasilkan perkerasan laston untuk lapis permukaan 9 cm, Batu pecah kelas A untuk lapis antara 15 cm dan perkerasan sirtu/ pitrun Kelas B untuk lapis pondasi/ bawah 10 cm

    ANALISIS ALIRAN AIR MELALUI BANGUNAN TALANG PADA DAERAH IRIGASI WALAHIR KECAMATAN BAYONGBONG KABUPATEN GARUT

    Full text link
    Irigasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan usaha mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan dan usaha-usaha pertanian lainnya. Oleh sebab itu perlu adanya keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air untuk  memenuhi  kebutuhan  air  Irigasi, maka debit  yang  tersedia  harus cukup untuk di salurkan ke setiap saluran sampai kepetakan sawah. Oleh karena itu perlu di lakukan pengukuran debit air, kebutuhan air Irigasi, agar penyaluran air efektif dan efisien. Penelitian ini di lakukan di Daerah Irigasi Walahir, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, penelitian ini di lakukan dengan cara mengambil data sekunder, data tersebut di kompilasikan dengan metode Hamon untuk menentukan evapotranspirasi, penyiapan lahan, penggunaan konsumtif, perlokasi, penggantian lapisan air, dan curah hujan efektif, dan menentukan pola tanamnya. Dengan menggunakan sistem pola tanam Padi-Padi-Palawij, dalam jangka waktu penyiapan lahan satu setengah bulan. Dari hasil analisis di dapatkan  besarnya  nilai  debit  kebutuhan  air  Irigasi maksimum untuk penyaluran air secara keseluruhan untuk Daerah Irigasi Walahir yang di ambil dari Sungai Cipandai melalui bangunan intake sebesar 181,35 lt/dtk, dengan luas area persawahan 60 Ha. Maka dari itu debit air yang mengalir di saat musim penghujan dari Bulan November sampai Bulan Mei sangat mencukupi untuk mengairi sampai ke petakan sawah terakhir, sedangkan hasil analisis terutama pada musim kemarau dari bulan Juni sampai bulan Oktober jumlah kebutuhan air lebih besar dari ketersediaan air. Maka dari itu antisipasinya dengan menggunakan sistem golongan atau sistem gilir pemberian air dengan jangka waktu satu minggu dua kali, supaya debit air yang tersedia di saat musim kemarau bisa mencukupi untuk kebutuhanya. Dengan kebutuhan air Irigasi untuk per hektarnya dari hasil analisis di dapat, kebutuhan air Irigasi 9 Ha dengan debit air 17,682 lt/dtk, kebutuhan air Irigasi 9 Ha dengan debit air 17,682 lt/dtk, kebutuhan air Irigasi 6 Ha dengan debit air 11,788 lt/dtk, kebutuhan air Irigasi 30 Ha dengan debit air 58,939 lt/dtk, dan kebutuhan air Irigasi 6 Ha dengan debit air 11,788l lt/dtk. Dan dari hasil analisis dimensi bangunan talang dengan debit rencana Q = 0,020135m3/dtk, dengan kecepatan standar aliran air V = 0,25 m/dtk, luas penampang basah A = 0,08054 m2, tinggi jagaan fb = 0,30 m, dan tinggi muka air yang baru 0,268 m, maka dimensi bangunan talang baru hasil analisis dengan debit rencana di dapat, lebar dasar saluran B = 0,30 m, dan tinggi total saluran H = 0,60 m

    Studi Analisa Kuat Tarik Material Baja Ringan Yang Digunakan Pada Bangunan Di Kabupaten Garut

    Full text link
    Seiring berkembangnya kemajuan zaman terutama bidang industri kontruksi di Indonesia yang tumbuh dan berkembang cukup pesat. Menuntut sebuah permintaan akan kebutuhan teknologi kontruksi yang mengharapkan suatu desain yang safety, serviceability, dan ekonomis, sekarang ini penggunaan material baja ringan sebagai kontruksi atap banyak digunakan sebagai alternatif pengganti dari material kayu maupun baja konvensional. Kenyataannya kontruksi atap dengan material ini banyak mengalami kegagalan struktur yang sebagian besar disebabkan oleh kesalahan analisis maupun kualitas bahan. Berdasarkan kegagalan yang sering terjadi, dengan menggunakan alat uji tarik (Universal Testing Machine) dari PUSKIM Cileunyi. maka perlu diteliti untuk mengetahui apakah mutu bahan baja ringan yang beredar di Garut, sesuai dengan yang disyaratkan untuk keperluan struktur yaitu G550 atau 550 Mpa. Dengan melakukan penelitian eksperimental pengujian kuat tarik di Laboratorium, untuk dapat diketahui secara pasti kuat tarik sehingga dapat ditentukan kemampuan bahan. Hasil data yang diperoleh dari pengujian kuat tarik sampel baja ringan yang berbeda merek sebanyak lima merek di wilayah Garut ialah berupa grafik dan kuat tarik material baja ringan.Untuk sampel I C, I R, II R, dan III C memiliki kuat tarik diatas standar 550 Mpa, sedangkan untuk sampel yang lain memiliki kuat tarik dibawah standar 550 Mpa

    Analisis Struktur Bawah Jembatan 4 Kota Baru Parahyangan

    Full text link
    Pada umumnya struktur jembatan terbagi menjadi dua bagian yaitu struktur bawah dan struktur atas. Studi kasus yang diangkat hanya mengenai struktur bawah abutment dan pilar dengan tujuan mendapatkan besarnya kekuatan terhadap beban kerja yang terjadi, besarnya kebutuhan tulangan struktur pilar, serta besarnya daya dukung izin aksial pondasi. Metode yang digunakan pada adalah dengan mengadakan studi literatur untuk melakukan analisis banding kekuatan struktur hasil analitis dengan dilapangan. Dimensi yang ditinjau telah memenuhi syarat terhadap stabilitas guling ≥ 2,2 dan stabilitas geser ≥ 1,1. Daya dukung izin bored pile dari masing – masing metode yaitu sebesar 801 ton, 218,93 ton, 678,24 ton pada abutment serta 803,72 ton, 227,47 ton, 678,24 ton pada pilar, sementara dilapangan sebesar 500 dan 600 ton. Untuk perhitungan tulangan mutu beton yang digunakan adalah K 500 (fc’ = 41,5 MPa) dan K 300 (fc’ = 24,9 MPa). Kebutuhan tulangan satu pier wall didapat As total 120000 mm2, sedangkan As total dilapangan sebesar 123791,36 mm2. Kebutuhan tulangan lentur pile cap Asx sebesar 4894 mm2, digunakan tulangan D32 – 150, Asy sebesar 4320 mm2 digunakan D32 - 150. Tulangan susut arah x sebesar 2447 mm2 digunakan tulangan 25 – 150, arah y sebesar 2160 mm2 dengan tulangan D25 – 200. Untuk tulangan geser arah x digunakan tulangan D13 – 350 dan arah y dengan tulangan D13 – 400

    56

    full texts

    76

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Konstruksi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇