Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Keragaan In Vitro dan In Vivo Hibrida Somatik antara Solanum melongena cv. Dourga dengan Solanum torvum Sw.
Terung adalah tanaman yang mudah terserang oleh banyak jenis penyakit. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan terhadap penyakit tersebutadalah dengan mengintroduksi sifat ketahanandari kerabat liarnya melalui fusi protopas. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari keragaan in vitro dan in vivo hibrida somatik hasil fusi protoplas Solanum melongena cv. Dourga dengan Solanum torvum Sw. Penelitian ini merupakan penelitian faktor tunggal dengan tujuh taraf klon, yaitu Solanum melongena cv. Dourga (SM), Solanum torvum Sw. (ST), dan 5 klon hibrida somatik (SMST1, SMST2, SMST3, SMST4, and SMST5) yang disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Peubah yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang tangkai daun, jumlah akar, panjang akar, jumlah buku, warna batang, warna tangkai daun, jumlah duri pada permukaan daun, dan bentuk lobus daun. Pada kondisi in vitro, pertumbuhan Solanum torvum Sw. berbeda sangat nyata dengan kelima klon hibrida somatik. Klon SMST1, SMST2, dan SMST4 menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari klon SMST3 dan SMST5. Pada kondisi in vivo, klon-klon yang diuji memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan Solanum torvum Sw
Penambahan Bahan Organik pada Media Pertumbuhan Krisan (Dendrathema grandiflora Tzvelve) secara In Vitro
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh dari penambahan berbagai bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman krisan secara in vitro, dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura. Hasil penelitian diolah menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan media bahan organik terdiri atas tujuh taraf (MS0 tanpa penambahan bahan organik, kulit pisang 50 g/l + ½ MS (½ konsentrasi hara makro, mikro dan vitamin), kulit pisang 100 g/l + ½ MS, kulit pisang 150 g/l + ½ MS, ubi jalar ungu 50 g/l + ½ MS, ubi jalar ungu 100 g/l + ½ MS dan ubi jalar ungu 150 g/l + ½ MS). Faktor kedua adalah perlakuan varietas krisan dengan dua jenis (Puspita Nusantara dan Puspita Pelangi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan organik dalam media kultur jaringan krisan memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah akar, dan panjang akar. Varietas krisan memberikan pengaruh pada tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman krisan. Interaksi antara media bahan organik dan varietas krisan terjadi pada tinggi tanaman umur 4–10 MSK
Penentuan Media Pengujian Viabilitas Serbuk Sari Cabai Besar dan Cabai Rawit (Capsicum annuum L.)
Sampai saat ini, belum ada media yang menunjukkan korelasi daya berkecambah serbuk sari dengan produksi dan mutu benih. Oleh karena itu, peneltian ini bertujuan untuk menentukan media pengujian serbuk sari in vitro yang terbaik untuk cabai dan mempelajari korelasi daya berkecambah serbuk sari cabai secara in vitro dengan produksi dan mutu benih. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Pertama, mencari media yang sesuai dengan daya berkecambah serbuk sari CB 005 dan CR 002. Kedua, mempelajari korelasi daya berkecambah serbuk sari pada media yang terpilih dengan produksi dan mutu benih. Hasilnya, PGM F menunjukkan nilai daya berkecambah serbuk sari yang konsisten lebih tinggi dari pada media yang lain, sehingga PGM F digunakan sebagai media dasar dalam percobaan modifikasi media. Media yang digunakan untuk pengujian serbuk sari CB 005 dan CR 002 yaitu PGM 1 dan PGM 4 (PGM F). Secara umum, daya berkecambah CB 005 tidak berbeda menggunakan PGM 1 dan PGM 4. PGM 1 memberikan nilai rata-rata daya berkecambah serbuk sari CR 002 yang lebih tinggi dari pada PGM 4. Pengujian daya berkecambah serbuk sari CB 005 dengan media PGM 1, PGM 4 (PGM F), dan Ewid 1 tidak berkorelasi dengan pembentukan buah, pembentukan biji, daya berkecambah benih, dan bobot 1000 butir
Budidaya Tanaman Akar Wangi (Vetiveria zizanioides (L.) Nash) dalam Wadah: Pengaruh Jenis Media Tanam dan Jumlah Bibit
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan jumlah bibit dalam budidaya tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) secara hidroponik menggunakan polybag terhadap pertumbuhan tanaman akar wangi varietas Verina 2. Penelitian dilakukan di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan Bawah, IPB dengan elevasi 240 m di atas permukaan laut (dpl) mulai dari bulan November 2012 hingga Juli 2013. Penelitian disusun berdasarkan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan dua faktor dan lima ulangan. Faktor pertama adalah komposisi media tanam (v/v) yang terdiri atas tiga taraf, yaitu 100% arang sekam, arang sekam : styrofoam (2:1), dan arang sekam : styrofoam (1:1). Faktor kedua adalah jumlah bibit dalam satu polybag yang terdiri atas dua taraf yaitu satu bibit dan dua bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara komposisi media tanam dan jumlah bibit per polybag tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman dan pertumbuhan akar tanaman akar wangi. Tanaman yang ditanam pada media arang sekam : styrofoam (1:1) memiliki jumlah daun, jumlah anakan, jumlah akar, panjang akar, kandungan klorofil, dan karotenoid yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang ditanam pada media lainnya. Penanaman dua bibit per polybag menghasilkan jumlah daun, jumlah anakan, bobot basah dan kering tajuk, dan jumlah akar yang lebih tinggi dibandingkan dengan satu bibit per polybag. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penanaman dua bibit per polybag pada media arang sekam : styrofoam (1:1) menghasilkan pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan akar terbaik pada tanaman akar wangi
Perlakuan Benih Cabai (Capsicum annuum L.) dengan Rizobakteri untuk Mengendalikan Phytophthora capsici, Meningkatkan Vigor Benih dan Pertumbuhan Tanaman
Perlakuan benih menggunakan rizobakteri sebagai alternatif pengganti penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan (1) menyeleksi keefektifan isolat rizobakteri dalam menghambat pertumbuhan Phytophthora capsici secara in vitro, dan (2) mempelajari pengaruh perlakuan benih menggunakan rizobakteri terhadap pertumbuhan P. capsici, vigor benih dan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini terdiri atas dua tahap percobaan, kedua percobaan tersebut menggunakan rancangan acak lengkap. Percobaan satu (pesemaian) terdiri atas lima taraf yaitu perlakuan benih dengan rizobakteri ST116B, ST156, E3, metalaksil, dan tanpa perlakuan (kontrol). Percobaan dua (di rumah kaca) terdiri atas enam taraf yaitu perlakuan rizobakteri ST116B, ST156, E3, metalaksil, kontrol positif, dan kontrol negatif. Terdapat 7 rizobakteri dari 23 isolat yang diuji yaitu ST156, E3, ST116B, ST81, SK7, ST116, dan ST109B menghambat pertumbuhan P. capsici secara in vitro. Perlakuan benih dengan rizobakteri ST116B, ST156, dan E3 nyata meningkatkan vigor benih pada tolok ukur indeks vigor. Perlakuan benih terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman (jumlah daun) dan berpotensi mengendalikan penyakit busuk phytophthora pada tanaman cabai adalah dengan rizobakteri ST116B
Perlakuan Priming Benih untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang (Vigna Unguiculata) Selama Penyimpanan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh priming dalam mempertahankan vigor benih kacang panjang selama dalam penyimpanan. Perlakuan priming yang dilakukan adalah perendaman benih dalam air, KNO3, CaCl2, asam askorbat, dan pelembapan diantara kertas selama dua jam. Perlakuan priming menyebabkan peningkatan kadar air benih hingga sekitar 9%, sedangkan perlakuan pelembapan diantara kertas hanya meningkatkan kadar air 1-2 % dibanding kontrol. Setelah selesai perlakuan, benih dikeringkan kembali hingga kadar air 12-13% lalu disimpan di ruang kamar(26-30.8 °C; RH 68-77 %) dan AC (±20 °C; RH ±50%) menggunakan plastic polipropilen (tebal 0.08 mm). Perlakuan priming mampu mempertahankan indeks vigor dan kecepatan tumbuh sampai dengan 15 minggu penyimpanan baik pada penyimpanan ruang AC ataupun kamar. Perlakuan perendaman dalam air dapat menjadi pilihan terbaik sebagai perlakuan benih sebelum simpan karena murah dan mudah dilakukan serta memberikan hasil yang baik
Simulasi Uji BUSS (Baru, Unik, Seragam Stabil) Enam Varietas Nenas (Ananas comosus L. Merr.).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter keunikan, keseragaman, dan kestabilan dari enam varietas nenas sebagai simulasi UJI BUSS untuk permohonan hak Perlindungan Varietas Tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasir Kuda, Bogor, Jawa Barat. Bahan percobaan terdiri dari enam varietas nenas yang terdiri dari varietas yang diuji yaitu Dole 14, P-1972, Mayan Gold 01, Champaka, Pasir Kuda dan varietas referensi yaitu varietas Subang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam varietas dapat dinyatakan berbeda. Perbedaan antara varietas kandidat dengan varietas referensi terdapat tujuh karakter pada bagian tanaman, enam karakter pada bagian daun, empat karakter pada bagian bunga, sembilan belas karakter pada bagian tangkai buah dan buah. Keenam varietas dapat dinyatakan seragam dan stabil. Tipe simpang hanya ditemukan pada satu tanaman dengan dua crown pada varietas Subang, jumlah tipe simpang yang ditemukan masih dibawah batas standar keseragaman
Induksi Kalus dan Embrio Somatik Tanaman Jambu Biji Merah (Psidium guajava L.)
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh protokol yang tepat dalam menginduksi kalus dan embrio somatik tanaman jambu biji merah. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan September 2012 sampai dengan bulan Maret 2013. Penelitian tersusun atas dua percobaan yaitu percobaan pertama merupakan induksi kalus dan percobaan kedua merupakan induksi embrio somatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media dengan perlakuan zat pengatur tumbuh R1 (5 mg l-1 2.4-D), R3 (5 mg l-1 2.4-D + 1 mg l-1 BAP) dan R6 (2.5 mg l-1 2.4-D + 2 mg l-1 2-iP) merupakan perlakuan terbaik untuk menginduksi kalus kompak pada 4 minggu setelah tanam (MST), sedangkan untuk menginduksi kalus remah didapatkan media dengan perlakuan zat pengatur tumbuh terbaik yaitu R5 (5 mg l-1 2.4-D + 2 mg l-1 2-iP). Embrio somatik primer terbentuk pada perlakuan R2E4 (2.5 mg l-1 2.4-D dipindahkan ke 1 mg l-1 2.4-D + 2 mg l-1 2-iP) dan perlakuan R5E4 (5 mg l-1 2.4-D + 2 mg l-1 2-iP dipindahkan ke 1 mg l-1 2.4-D + 2 mg l-1 2-iP) masing-masing pada 12 dan 16 MST
Pertumbuhan dan Produksi Padi Varietas Jatiluhur dan IR64 pada Sistem Budidaya Gogo dan Sawah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi dari dua varietas padi yang berbeda, yaitu IR64 sebagai varietas padi sawah dan Jatiluhur sebagai varietas padi gogo yang dibudidayakan secara sawah dan gogo. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari hingga Juni 2012 di rumah plastik Kebun Percobaan Sawah Baru, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan petak terbagi dengan tiga ulangan. Sistem budidaya yang digunakan yaitu sawah dan gogo yang ditempatkan sebagai petak utama; sedangkan varietas IR64 dan Jatiluhur ditempatkan sebagai anak petak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan sistem budidaya berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi padi. Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan padi, namun tidak berpengaruh nyata terhadap produksi. Interaksi perlakuan sistem budidaya dan varietas secara umum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi. Penelitian ini menunjukkan bahwa varietas padi gogo dapat ditanam secara budidaya sawah dengan hasil yang tidak berbeda dengan varietas padi sawah