Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Budidaya Padi Organik dengan Waktu Aplikasi Pupuk Kandang yang Berbeda dan Pemberian Pupuk Hayati
Percobaan dilaksanakan di Cikarawang, Dramaga, Bogor dari bulan November 2012 hingga Maret 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang paling tepat dalam pemberian pupuk kandang dan pemberian pupuk hayati. Percobaan ini menggunakan rancangan percobaan secara split plot dan rancangan lingkungannya adalah Rancangan Kelompok Lengkap, terdiri atas 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama, sebagai anak petak, adalah waktu aplikasi pupuk kandang ayam dengan 4 perlakuan yaitu, aplikasi pupuk kandang 10 ton/ha yang diberikan saat 2 minggu sebelum tanam, 10 ton/ha yang diberikan saat 4 minggu setelah tanam, 10 ton/ha yang diberikan saat 6 minggu setelah tanam, dan aplikasi bertahap 5 ton/ha yang diberikan saat 2 minggu sebelum tanam dan 5 ton/ha saat 4 minggu setelah tanam. Faktor ke-2, sebagai petak utama, adalah pemberian pupuk hayati dengan 2 perlakuan (dengan dan tanpa pupuk hayati). Produktivitas padi paling tinggi (5.04 ton GKG/ha) diperoleh dari perlakuan aplikasi bertahap 5 ton pupuk kandang /ha saat 2 minggu sebelum tanam dan 5 ton pupuk kandang /ha saat 4 minggu setelah tanam dengan tambahan pupuk hayati. Produktivitas tersebut tidak berbeda nyata dengan 4.72 ton GKG/ha akibat aplikasi 10 ton pupuk kandang/ha pada 2 minggu sebelum tanam, tanpa pupuk hayati
Pemanfaatan Alat Deteksi Bunyi untuk Menduga Kadar Air dan Viabilitas Benih Kedelai (Glycine max L. Merrill)
Deteksi cepat kadar air dan viabilitas benih sangat penting dalam teknologi benih. Pemanfaatan bunyi yang dihasilkan benih bila dipantulkan dengan benda lain adalah salah satu cara yang belum diteliti. Penelitian ini bertujuan mempelajari pemanfaatan alat deteksi bunyi untuk menduga kadar air dan viabilitas benih kedelai (Glycine max L. Merrill) dengan melihat frekuensi gelombang bunyi yang dihasilkan. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan, percobaan pertama mempelajari pengaruh antara ukuran benih dan kadar air terhadap frekuensi bunyi yang dihasilkan dari pantulan benih. Percobaan kedua mempelajari pengaruh antara ukuran benih dan viabilitas terhadap frekuensi bunyi yang dihasilkan dari pantulan benih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu ukuran benih + kadar air dan ukuran benih + viabilitas. Hasil menunjukan bahwa pada percobaan pertama terdapat interaksi antara ukuran benih dan kadar air. Ukuran benih sedang memiliki korelasi yang positif antara kadar air dan ukuran benih terhadap frekuensi dan memiliki nilai korelasi (r) 0.96 yang mendekati 1 (≈1), artinya semakin tinggi kadar air maka frekuensi pantulan bunyi yang dihasilkan semakin tinggi. Percobaan kedua tidak terdapat interaksi antara ukuran benih dan viabilitas. Ukuran benih sedang memiliki nilai frekuensi tertinggi yaitu 482.36 Hz
Pertumbuhan dan Produksi Daun Torbangun (Plectranthus amboinicus Spreng.) dengan Pemupukan Organik dan Pemangkasan
Tanaman torbangun berkhasiat untuk memperlancar air susu ibu (ASI) karena mengandung laktagogen. Penelitian mengenai tanaman torbangun lebih banyak di bidang farmakologinya saja, oleh sebab itu perlu adanya penelitian di bidang teknik budi daya dengan menggunakan pupuk organik dan pemangkasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengaruh pupuk organik dan pemangkasan terhadap pertumbuhan dan produksi daun torbangun. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pada siklus 1 dengan faktor pemupukan, dan rancangan perlakuan Split plot pada siklus 2 dengan pemupukan sebagai petak utama dan pemangkasan sebagai anak petak. Rataan hasil pada masing-masing siklus diuji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ). Pemupukan organik terbagi menjadi 5 taraf; tanpa pemupukan, pupuk kandang sapi+fosfat alam, pupuk kandang sapi+abu sekam padi, fosfat alam+abu sekam padi, dan pupuk kandang sapi+fosfat alam+abu sekam padi. Pemangkasan terbagi menjadi 2 taraf; tanpa dipangkas dan dipangkas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemupukan yang menggunakan pupuk kandang sapi+fosfat alam+abu sekam padi dapat meningkatkan bobot basah pucuk 125.21% dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan. Pemangkasan menurunkan biomasa tanaman dan jumlah daun. Pertumbuhan tanaman torbangun termasuk lambat, sehingga pemanenan harus dilakukan pada umur tanaman yang lebih lama
Kemunduran Benih Kedelai Akibat Pengusangan Cepat Menggunakan Alat IPB 77-1 MM dan Penyimpanan Alami
Kemunduran benih ditandai dengan penurunan vigor, viabilitas, dan peningkatan asam lemak bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penurunan viabilitas, vigor dan peningkatan asam lemak bebas benih kedelai Varietas Anjasmoro dan Wilis antara benih yang telah diusangkan menggunakan Alat Pengusangan Cepat (APC) IPB 77-1 MM dengan penyimpanan alami dan untuk mengetahui hubungan antara viabilitas dan vigor dengan asam lemak bebas. Penelitian terdiri atas dua percobaan yaitu penyimpanan alami dan pengusangan. Penyimpanan alami terdiri atas 5 waktu penyimpanan yaitu 0, 2, 4, 6, 8 minggu dan pengusangan terdiri atas 5 waktu pengusangan 0, 15, 30, 45, 60 menit. Hasil menunjukkan bahwa adanya kesesuaian (korelasi nyata) laju penurunan viabilitas dan vigor antara penyimpanan alami selama 8 minggu dengan pengusangan selama 60 menit, sedangkan pada asam lemak bebas tidak adanya kesesuaian (korelasi tidak nyata) antara penyimpanan alami selama 8 minggu (diasumsikan setelah penyimpanan selama 8 minggu terjadi peningkatan asam lemak bebas) dengan pengusangan selama 30 menit (Anjasmoro) dan 15 menit (Wilis). Viabilitas dan vigor dengan asam lemak bebas berkorelasi negatif, artinya semakin tinggi asam lemak bebas maka viabilitas dan vigor semakin rendah
Pengaruh Jarak Tanam dan Jenis Stek Terhadap Kecepatan Penutupan Arachis pintoi Krap. & Greg. Sebagai Biomulsa Pada Pertanaman Tomat (Licopersicon esculentum M.)
Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan Darmaga Bogor dari bulan Desember 2011- Mei 2012. Tujuan penelitian untuk mempelajari pengaruh jenis stek dan jarak tanam tanam terhadap kecepatan penutupan A. pintoi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan serta hasil tanaman tomat. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 2 faktor yaitu jenis stek ( pangkal, tengah, pucuk) dan jarak tanam tanam ( K1: 20 cm x 20 cm; K2:20 cm x 15 cm; K3: 20 cm x 10 cm; K4: 20 cm x 5 cm). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jarak tanam dan jenis stek nyata dapat meningkatkan persen penutupan tanah, sedangkan interaksinya tidak berpengaruh nyata. Perlakuan K4 dan K3 lebih cepat penutupanya disbanding K2 dan K1. Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan komponen hasil tanaman tomat. Penutupan dapat mengurangi berat kering gulma dan mampu meningkatkan bobot buah tomat per tanaman
Viabilitas Benih Melon (Cucumis Melo L.) pada Kondisi Optimum dan Sub-Optimum Setelah Diberi Perlakuan Invigorasi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan invigorasi dengan menggunakan GA3 dan air kelapa pada benih melon yang memiliki viabilitas rendah dan tinggi di kondisi optimum dan sub-optimum (kekeringan). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor dari bulan Februari hingga Desember 2012. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan yaitu percobaan invigorasi pada kondisi optimum dan percobaan invigorasi pada kondisi sub-optimum. Setiap percobaan disusun dalam Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor yang pertama yaitu tingkat viabilitas, daya berkecambah rendah (60%-75%) dan daya berkecambah tinggi (80%-95%). Faktor yang kedua adalah perlakuan invigorasi (kontrol, air kelapa, GA3 80 ppm, GA3 100 ppm, kombinasi air kelapa dan GA3 80 ppm dan kombinasi air kelapa dan GA3 100 ppm). Variabel yang diamati adalah indeks vigor, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, potensi tumbuh maksimum dan berat kering kecambah normal. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa pada kondisi optimum semua perlakuan invigorasi dapat meningkatkan indeks vigor dari 16.67% menjadi 30.67%-48% kecuali perlakuan GA3 100 ppm. Perlakuan dengan GA3 80 ppm dan GA3 100 ppm mampu meningkatkan daya berkecambah benih melon tingkat viabilitas rendah dari 72% menjadi 85.33% dan 88%. Pada kondisi sub-optimum semua perlakuan invigorasi tidak mampu meningkatkan viabilitas benih melon
Analisis Produktivitas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di PT. Perdana Inti Sawit Perkasa I, Riau
Kegiatan magang dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman lapangan, serta bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit, meliputi faktor umur tanaman, tenaga kerja panen, curah hujan,dan hari hujan. Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Sei Air Hitam, PT. Perdana Inti Sawit Perkasa I, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau pada bulan Februari-Juni 2013. Model yang digunakan untuk menganalisis adalah model analisis regresi linear berganda. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa umur tanaman, tenaga kerja panen, curah hujan, dan hari hujan berpengaruh nyata terhadap produktivitas kelapa sawit dengan nilai koefisien determinasi sebesar 79.8%. Uji asumsi klasik yang dilakukan terhadap model menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan data sudah terdistribusi normal, sehingga model layak digunakan
Pengeringan Dan Penyimpanan Serbuk Sari Mentimun (Cucumis Sativus L.) Serta Pemanfaatannya Dalam Produksi Benih Hibrida
Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh penurunan kadar air selama pengeringan dengan daya berkecambah serbuk sari mentimun KE014 dan kemampuannya dalam produksi benih hibrida. Percobaan pertama dan kedua, serbuk sari KE014 dikeringkan selama 8, 16, dan 24 jam dalam MgCl2, setelah itu disimpan selama 56 hari dalam ultrafreezer. Daya berkecambah diamati selama pengeringan dan penyimpanan. Pada percobaan tiga, serbuk sari KE014 di penyimpanan, digunakan dalam penyerbukan untuk produksi benih hibrida. Hasil menunjukkan, pengeringan serbuk sari selama delapan jam menurunkan kadar air secara nyata dari 12.05% menjadi 6.71%, sedangkan daya berkecambah meningkat dari 10.16% menjadi 25.60%. Pengeringan lebih lama tidak menurunkan kadar air secara signifikan. Pengeringan selama 8 jam mempertahankan daya berkecambah serbuk sari selama 56 hari penyimpanan. Pengeringan serbuk sari KE014 meningkatkan kemampuannya dalam pembentukan buah dan biji, tetapi tidak untuk daya berkecambah dan bobot 1000 butir benih. Oleh karena itu, serbuk sari KE014 perlu dikeringkan minimum selama 8 jam setelah panen untuk dapat disimpan dan digunakan dalam produksi benih hibrida
Aplikasi 1-Methylcyclopropeneuntuk Meningkatkan Vase life Bunga Potong Tapeinochilos anannaceae K. Schum
Kualitas bunga Tapeinochilos anannaceae K. Schum (kasturi) sebagai bunga potong harus dipertahankan kesegarannya selama masa simpan, sehingga perlu diaplikasikan perlakuan pasca panen yang tepat. Salah satu perlakuan pasca panen yang dapat digunakan adalah pemberian 1-Methylcyclopropene (1-MCP). Posisi bunga selama penyimpanan diduga dapat mempengaruhi vase life bunga potong. Penelitian ini bertujuan untuk memperpanjang vase life bunga potong kasturi dengan menggunakan 1-MCP, mendapatkan konsentrasi 1-MCP optimum dan mencari posisi yang terbaik untuk memperpanjang vase life bunga potong kasturi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor dan sepuluh ulangan, faktor pertama adalah konsentrasi 1-MCP yang terdiri dari lima taraf: 0 ppm (A0), 0.1 ppm (A1), 0.2 ppm (A2), 0.3 ppm (A3) dan 0.4 ppm (A4). Faktor kedua yaitu posisi penyimpanan secara vertikal dan horizontal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 1-MCP pada bunga potong kasturi secara nyata dapat memperpanjang vase life bunga potong kasturi hingga 1.2-1.8 kali lipat dibandingkan tanpa perlakuan 1-MCP. Kombinasi perlakuan yang optimum untuk memperpanjang vase life bunga potong kasturi adalah 1-MCP dengan konsentrasi 0.3 ppm dan disimpan dengan posisi vertikal
Pertumbuhan Anggrek Phalaenopsis amabilis pada Perlakuan Chitosan dan Asam Salisilat
Pertumbuhan vegetatif tanaman anggrek Phalaenopsis dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti cahaya, suhu, dan kelembaban. Bahan organik tertentu berpengaruh terhadap pertumbuhan, perkembangan dan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, diantaranya chitosan dan asam salisilat. Penelitian ini dilaksanakan untuk menguji pemberian bahan organik chitosan dan asam salisilat terhadap pertumbuhan anggrek Phalaenopsis amabilis. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). dengan faktor tunggal yaitu perlakuan bahan organik. Terdapat enam perlakuan yaitu, chitosan 3 ppm, chitosan 6 ppm, asam salisilat 5 ppm, asam salisilat 10 ppm serta chitosan 3 ppm + asam salisilat 5 ppm. Setiap perlakuan diulang lima kali dengan setiap ulangan berupa 1 botol yang berisi 3 planlet. Bahan organik dicampur kedalam media MS ½ kemudian planlet di pindahkan kedalam media tersebut, selanjutnya disimpan di laboratorium kultur jaringan selama empat minggu. Planlet kemudian diaklimatisasi kedalam media tanam spaghnum moss dan disimpan di greenhouse. Perlakuan dilanjutkan dengan menyemprotkan bahan organik ke tanaman dua minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik pemberian bahan organik untuk pertumbuhan vegetatif anggrek Phalaenopsis amabilis adalah bahan organik chitosan dengan konsentrasi 3 ppm. Hal ini ditunjukkan oleh perlakuan chitosan 3 ppm yang nyata meningkatkan peubah persentase tumbuh dan peubah panjang daun termuda