Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Pemangkasan Teh (Camellia Sinensis (L.) O. Kuntze) Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah
Penelitian ini dilakukan di Kendal, Jawa Tengah dari bulan Februari sampai Juni 2011. Kegiatan penelitian dilakukan dengan cara mengikuti semua kegiatan di kebun baik aspek teknis maupun aspek manajerial diantaranya menjadi seorang Karyawan Harian Lepas (KHL) selama satu bulan, pendamping mandor selama satu bulan, dan bekerja sebagai pendamping bagian kepala kebun selama dua bulan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman kerja, dan pembelajaran terhadap aspek manajemen pemangkasan teh menurut aspek teknis dan manajerial. Pemangkasan merupakan kegiatan pemeliharaan untuk meremajakan tanaman teh untuk meningkatkan produksi pucuk. Kegiatan pemangkasan tanaman teh di Kendal, Jawa Tengah sudah cukup baik. Jenis pemangkasan yang dilaksanakan adalah pemangkasan produki setengah bersih,. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemangkasan dilaksanakan dengan tinggi bidang petik 107 cm, diameter bidang petik 112 cm, tinggi pangkasan 61 cm dan diameter pangkas 60 cm, persentase pucuk burung telah mencapai 89 %. Meskipun ketentuan-ketentuan kebun mengenai pemangkasan tidak selalu dapat diterapkan secara menyeluruh dilapangan, tetapi pihak manajemen selalu mengusahakan agar pelaksanaan dilapangan mendekati standar operasional prosedur (SOP)
Uji Daya Hasil Lanjutan 30 Galur Padi Tipe Baru Generasi F6 Hasil dari 7 Kombinasi Persilangan
Padi merupakan tanaman penting di Indonesia. Salah satu proses untuk menghasilkan padi varietas baru adalah dengan menguji saya hasil lanjutan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). bahan yang digunakan adalah 30 galur padi tipe baru serta empat varietas pembanding yaitu Ciherang, Inpari 13, IPB 4S dan IR 64. Hasil menunjukkan bahwa tinggi tanaman berkisar 95-126.5 cm, jumlah gabah total per malai berkisar 114-251, persentase gabah isi berkisar 57-91% dan bobot 1000 butir berkisar 24.541-31.047 gram. Galur IPB159-F-1, IPB159-F-13 dan IPB160-F-1 memiliki potensi hasil masing-masing 8.1 ton ha-1, 7.9 ton ha-1 dan 7.8 ton ha-1
Evaluasi Karakter Agronomi dan Analisis Kekerabatan 10 Genotipe Lokal Kacang Hijau (Vigna radiata L. Wilczek)
Kacang hijau (Vigna radiata L. Wilczek) merupakan salah satu tanaman Leguminosae yang cukup penting di Indonesia. Permasalahan yang sering muncul pada budidaya kacang hijau adalah tidak serempaknya panen sehingga membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang lebih banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi karakter agronomi 10 genotipe lokal kacang hijau dan menganalisis jarak genetik antar genotipe-genotipe tersebut berdasarkan karakter kuantitatif dan kualitatif. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo Dramaga, Bogor pada bulan April hingga Agustus 2013, dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yang terdiri atas 10 genotipe kacang hijau lokal dan satu varietas nasional sebagai pembanding dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang diuji berbeda nyata dengan pembanding pada komponen pertumbuhan, komponen umur tanaman, dan komponen produksi. Genotipe LL3 merupakan genotipe dengan keragaan terbaik (berdasarkan parameter: komponen produksi, komponen umur tanaman, dan komponen keserempakan panen), diikuti LL4, LWL, dan LKH. Berdasarkan analisis jarak genetik, genotipe-genotipe yang diuji mengelompok menjadi empat kelompok (berdasarkan karakter kuantitatif) dan tiga kelompok (berdasarkan karakter kualitatif)
Efektivitas Herbisida IPA Glifosat 486 SL Untuk Pengendalian Gulma Pada Budidaya Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) Belum Menghasilkan
Penelitian dilakukan di perkebunan PTPN VIII Cikumpay Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada bulan September 2012 sampai Desember 2012. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas herbisida IPA glifosat 486 SL. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan satu faktor. Penelitian ini menggunakan 7 perlakuan dengan empat ulangan. Perlakuan dosis IPA glifosat 486 SL yang diberikan adalah 1.0 l ha-1 (P1), 1.5 l ha-1 (P2), 2.0 l ha-1 (P3), 2.5 l ha-1 (P4), 3.0 l ha-1 (P5), Penyiangan Manual (P6), dan Kontrol (P7). Herbisida IPA glifosat 486 SL tidak efektif menekan pertumbuhan gulma di perkebunan karet belum menghasilkan. Perhitungan rata-rata perlakuan herbisida pada setiap dosis tidak menunjukan perbedaan yang nyata walaupun secara umum terjadi penurunan berat kering gulma pada setiap perlakuan. Selama pengamatan tidak ditemukan gejala keracunan pada tanaman karet untuk setiap perlakuan dosis. Hal tersebut menunjukan bahwa aplikasi herbisida IPA glifosat 486 SL tidak berbahaya pada tanaman karet belum menghasilkan
Pelapisan Benih Menggunakan Bakteri Probiotik untuk Mempertahankan Viabilitas Benih Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) selama Penyimpanan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pelapisan benih menggunakan bakteri Bacillus subtilis, Serratia marcescens, dan Pseudomonas kelompok fluorescens terhadap viabilitas dan daya simpan benih jagung manis (Zea mays saccharataSturt.). Penelitian disusun dengan rancangan petak tersarang (Nested Design) dengan petak utama adalah periode simpan minggu ke 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, dan 24 dan anak petak adalah perlakuan coating dengan bakteri Bacillus subtilis, Serratia marcescens, Pseudomonas kelompok fluorescens, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang sangat nyata antara perlakuan coating benih dan periode simpan terhadap daya berkecambah, berat kering kecambah normal, kadar air, dan populasi bakteri. Perlakuan coating benih dan periode simpan menunjukkan interaksi yang nyata terhadap indeks vigor benih. Tolok ukur kecepatan tumbuh benihhanya dipengaruhi oleh faktor tunggal periode simpan. Benih yang dilapisi bakteri menghasilkan nilai berat kering kecambah normal yang nyata lebih baik daripada benih tanpa coating. Benih tanpa coating memiliki nilai daya berkecambah sebesar 56.7% pada periode simpan 24 minggu. Benih yang dilapisi bakteri Bacillus subtilis dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 64.0% sampai periode simpan 24 minggu, sedangkan Serratia marcescens mampu mempertahankan daya berkecambah hingga 60.0% . Berdasarkan tolok ukur daya berkecambah, pelapisan benih menggunakan bakteri Bacillus subtilis dan Serratia marcescens merupakan perlakuan pelapisan benih yang potensial untuk lebih dikembangkan. Bakteri Bacillussubtilis lebih mampu bertahan hidup selama penyimpanan dibanding dengan bakteri Serratia marcescens maupun Pseudomonas fluorescens. Populasi bakteri Bacillus subtilis sampai dengan periode simpan 24 minggu adalah 14.2 × 104 cfu g-1
Kemampuan Benih Kedelai (Glycine max L.) untuk Mempertahankan Viabilitasnya setelah Didera dengan Etanol
Lot benih dengan tingkat viabilitas yang berbeda 60–80% dibutuhkan dalam penelitian invigorasi untuk meningkatkan vigor benih dan hasil panen. Percobaan laboratorium dilakukan untuk menentukan metode pengusangan cepat dengan larutan etanol 96% yang dapat menghasilkan tingkat viabilitas benih kedelai (Glycine max L.) yang diinginkan dan mengetahui vigor daya simpan benih tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor pada bulan November 2012 sampai Mei 2013. Benih kedelai verietas Gema, Burangrang, dan Ijen diberi perlakuan lama perendaman dalam larutan etanol 96%. Benih yang telah diusangkan diuji viabilitasnya dengan metode UKD-dp. Benih dengan tingkat viabilitas yang diinginkan, P20 dan P40, disimpan pada dua kondisi simpan, 27–30 0C dengan RH 61–72% dan 22–270C dengan RH 58-74%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa benih kedelai varietas Gema, Burangrang, Ijen dengan tingkat viabilitas 80% P20 dapat diperoleh dengan merendam benih didalam larutan etanol 96% berturut-turut selama 22 menit 31.8 detik, 22 menit 58.8 detik, 15 jam 19.8 menit sedangkan untuk tingkat viabilitas 60% P40 diperoleh dengan lama perendaman berturut-turut selama 99 menit 27.6 detik, 109 menit 34.2 detik, 40 jam 4.8 menit. Benih kedelai dengan tingkat viabilitas P20 dan P40 dapat mempertahankan vigor daya simpan (VDS) selama 8 minggu pada kedua kondisi simpan
Controlled Deterioration Test untuk Menguji Ketahanan Benih Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) terhadap Kondisi Cekaman Kekeringan
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari-April 2012. Percobaan pertama bertujuan untuk menentukan toleransi benih beberapa varietas kacang hijau terhadap cekaman kekeringan menggunakan PEG 6000 dengan berbagai tingkat tekanan osmotik (0, -0.5, -1, -2 dan -3) bar. Percobaan kedua, Controlled Deterioration Test (CDT) dengan suhu 45°C, kadar air 20%, 22%, 24% dan 26% serta lama penderaan 0 jam, 24 jam, 48 jam dan 72 jam bertujuan untuk mendapatkan kondisi air benih dan lama penderaan yang efektif untuk menguji vigor lima varietas benih kacang hijau. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dua faktor. Percobaan ketiga bertujuan untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara hasil percobaan pertama dan percobaan kedua, sehingga dapat diketahui keefektifan metode CDT sebagai indikator dalam menguji ketahanan benih kacang hijau terhadap cekaman kekeringan. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap variabel KCT dan IV diperoleh hasil bahwa PEG 6000 yang mampu menyeleksi benih yang tahan dan tidak tahan terhadap kekeringan adalah tekanan osmotik -1 bar. Hasil dari percobaan dua yaitu kondisi CDT yang dapat digunakan untuk menguji vigor benih adalah kondisi CDT (kadar air/lama penderaan) 20%/48 jam dan 22%/24 jam. Hasil analisis korelasi antara variabel-variabel pada tekanan osmotik PEG 6000 -1 bar dengan VCDT pada dua kondisi CDT (20%/48 jam dan 22%/24 jam) menunjukkan korelasi nyata pada variabel %KN (r= 0.61 dan 0.58) dan KCT (r=0.62 dan 0.59)
Ketahanan Penyakit Antraknosa terhadap Cabai Lokal dan Cabai Introduksi
Penyakit yang menyebabkan rendahnya produktivitas cabai di Indonesia adalah antraknosa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe tanaman cabai yang tahan terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum. Penelitian ini dilakukan di lapangan dan laboratorium, menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak, satu faktor dan dua ulangan. Isolat Colletotrichum acutatum yang digunakan adalah BGR 027, PYK 04 dan BKT 05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe IPB C15 memiliki ketahanan paling baik terhadap tiga isolat Colletotrichum acutatum. Genotipe ini merupakan salah satu sumber untuk sifat ketahanan cabai terhadap penyakit antraknosa. Genotipe introduksi lebih mendominasi untuk sifat ketahanan dan keragaan daya hasil daripada genotipe lokal. Dengan demikian perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan genotipe lokal yang tahan antraknosa
Pematahan Dormansi Rimpang Kaempferia parvifloraWall. ExBaker
Kaempferiaparviflora (Zingiberaceae family) has a potency to be developed for a new medicinal plants in Indonesia. One of problems in its cultivation is the lack of planting material availability due to the long dormant period. The objectives of this research were to study the effect of various concentrations of BAP and ethephon, and also the effect of the prior growing condition to the dormancy breaking and shoot growth of K.parviflora rhizome. Two separate experiments were applied for two lots of rhizomes namely Cikabayan and Pasir Sarongge lots. Each experiment was arranged in completely random design with 2 factors. Experiment-1 used 4 concentrations of BAP (0, 50, 100, and 150 ppm) as the first factor. While, experiment-2 used 5 concentrations of ethephon (0, 200, 400, 600 and 800 ppm) as the first factor. The second factor in both experiments were prior shade condition at 55% artificial shading and natural shading. A rhizome without soaked application (control) and a rhizome with soaked by aquadestilata without PGRs (0 ppm) were used as compared items. Data was analyzed with ANOVA. Combined Analysis of Variance and t-test were performed in order to compare between 2 lots. Result showed that concentration of BAP until 150 ppm and concentration of ethephon until 800 ppm were not effective to stimulate bud induction time. Meanwhile, rhizome from 55% artificial shading had a shorter periode of dormancy than the natural shading. In the addition, plants from Pasir Sarongge rhizomes lot had more plant number, plant height, leaf number, leaf length, and leaf width than Cikabayan rhizomes lot