Buletin Agrohorti
Not a member yet
    465 research outputs found

    Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik.) melalui Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi gedi (Abelmoschus manihot (L) Medik.). Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai dengan Agustus 2011 di Unit Lapang Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, Indonesia. Bahan tanam merupakan stek gedi yang berasal dari Sorong, Papua Barat. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok Teracak (RKLT) dengan satu faktor perlakuan yaitu dosis pupuk. Terdapat delapan taraf pupuk yang dicobakan 0, 20, 40, 60 ton.ha−1 pupuk organik dan 0, 20, 40, 60 ton.ha−1 pupuk organik + NPK. Pupuk organik yang dipakai adalah pupuk kandang ayam dan pupuk anorganik yang dipakai adalah NPK 15-15-15. Hasil penelitian menunjukkan pupuk organik dengan dosis 30.39-34.04 ton.ha−1 akan memberikan hasil yang optimum. Dosis pupuk optimum pupuk organik + NPK belum dapat ditentukan. Namun, penambahan pupuk NPK pada pemupukan organik dapat meningkatkan hasil panen tanaman

    Pengelolaan Pembibitan Karet (Hevea brassiliensis Muel Arg.) di Balai Penelitian Sembawa, Palembang, Sumatera Selatan

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengelolaan pembibitan karet. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Sembawa, Pelembang, Sumatera Selatan pada bulan Februari sampai Juni 2014. Bagian Urusan Bahan Tanam (UBT) telah memisahkan diri dari bagian kebun dan memiliki susunan organisasi sendiri dengan tujuan berfokus pada penyediaan bibit yang dibutuhkan oleh konsumen. Permintaan bibit karet yang sangat tinggi dari kalangan masyarakat baik swasta, pemerintah, dan petani mengakibatkan UBT harus memiliki manajemen yang baik dalam memenuhi permintaan konsumen. Terbatasnya jumlah lahan yang diperlukan untuk menanam batang bawah merupakan faktor utama yang menyebabkan UBT tidak dapat dalam memenuhi seluruh permintaan bibit karet yang dibutuhkan oleh konsumen. Proses pembelian bibit karet dilakukan langsung di kantor UBT, konsumen terlebih dahulu membayar uang muka sebesar 30% dan kegiatan sertifikasi dilakukan oleh Badan Sertifikasi dan Tanaman Perkebunan

    Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Kakao (Theobroma Cacao L.) Di Cilacap, Jawa Tengah

    Get PDF
    Penelitian ini berlangsung di daerah Cilacap, Jawa Tengah mulai dari 14 Februari sampai 14 Juni 2011. Tujuan penelitian ini yaitu untuk pengetahuan, pembelajaran dan memahami manajemen pemangkasan kakao di kebun. Aktivitas penelitian terdiri atas teknikal dan aspek manajerial yaitu sebagai karyawan harian lepas selama satu bulan, asisten mandor selama satu bulan, dan sebagai pendamping asisten afdeling selama dua bulan. Data primer diperoleh dari semua aktivitas penelitian dan pengamatan langsung di lapang, sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan laporan perusahaan. Pemangkasan yang dilakukan selama penelitian yaitu pemangkasan pemeliharaan. Pemangkasan mempengaruhi jumlah tunas air, bantalan yang berbunga, ketahanan cherelle (pentil buah) dan buah terhadap hama dan penyakit tanaman. Rotasi pemangkasan juga mempengaruhi kestabilan produksi biji tahunan kakao

    Pengaruh Pupuk Organik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kenikir (Cosmos caudatus) dan Katuk (Sauropus androgynus)

    Get PDF
    Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh dosis pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman kenikir (Cosmos caudatus) dan katuk (Sauropus androgynus) yang dilaksanakan di Vegetable Garden, Unit Lapangan Darmaga, University Farm, Institut Pertanian Bogor mulai Juni 2008 hingga November 2008. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok faktor tunggal terdiri atas 6 perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan tersebut yaitu, dosis pupuk kandang sapi 0 ton ha-1, 5 ton ha-1, 10 ton ha-1, 20 ton ha-1, dosis pupuk kandang sapi 20 ton ha-1 ditambah pupuk majemuk NPK dosis 100 kg ha-1 , dan dosis pupuk kandang sapi 20 ton ha-1 ditambah pupuk majemuk NPK dosis 200 kg ha-1. Pengamatan yang dilakukan pada tanaman kenikir yaitu, daya tumbuh, tinggi tanaman, dan jumlah daun, sedangkan pada tanaman katuk diamati daya tumbuh, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anak daun, dan bobot panen. Hasil penelitian menunjukkan dosis pupuk kandang sapi dan pupuk kandang sapi yang ditambah pupuk majemuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh dan jumlah daun tanaman kenikir dan katuk, serta jumlah anak daun dan bobot panen tanaman katuk. Hasil yang berbeda nyata pada tinggi tanaman kenikir umur 2 MST dan pertambahan tinggi tanaman katuk umur 6, 7, 8, 9, dan 11 MST. Tanaman kenikir umur 4 MST mulai berbunga kemudian pertambahan tinggi menjadi lambat dan daun muda tidak dapat muncul serta berkembang, sehingga tidak ada bagian yang dapat dikonsumsi dan dipanen. Tanaman kenikir mati pada 8 MST

    Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Teh (Cammellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi Wonosobo, Jawa Tengah

    Get PDF
    Magang ini dilakukan di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah dari bulan Februari hingga Juni 2013. Tugas terdiri dari beberapa pekerjaan diantaranya sebagai pekerja lapangan selama satu bulan, sebagai asisten mandor selama satu bulan, sebagai asisten kepala blok selama empat minggu dan asisten kepala bagian kebun selama dua minggu. Tujuan umum adalah untuk memperluas pengetahuan mahasiswa magang tentang aspek teknis dan manajerial perkebunan teh, mengasah keterampilan dan pengalaman kerja. Kegiatan pemangkasan memperhatikan produksi pucuk. Apabila produksi pucuk dianggap stabil pada musim kemarau maka pelaksanaan pemangkasan dapat dilakukan 100 % di semester I. pada gilir pangkas tahun ini semua blok melaksanakan pemangkasan dalam dua semester. Realisasi luas areal yang dipangkas dalam satu tahun tidak selalu sama dengan rencana yang telah ditetapkan sebesar 25 %. Berdasarkan data yang diperoleh dalam kurun waktu lima tahun realisasi pangkasan hanya 17.83 % dari luas areal tanaman menghasilkan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi waktu pelaksanaan pemangkasan diantaranya kondisi kebun, iklim, dan tenaga kerja

    Hubungan Angka Kerapatan Panen dan Sistem Rotasi Panen Dengan Produktivitas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Sumatera Utara

    Get PDF
    Kegiatan berlangsung dari bulan Februari hingga Juni 2014 di kebun Tanjung Jati PTPN II, Sumatera Utara. Pengamatan diuji menggunakan metode kuantitatif yang terdiri dari penjumlahan, rata-rata, dan persentase. Sedangkan uji statistik menggunakan t-student. Rotasi panen, angka kerapatan panen, manajemen tenaga panen dan produktivitas panen merupakan aspek penting dalam kegiatan panen. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, nilai AKP estimasi dengan realisasi tidak berbeda nyata. Tenaga panen menjadi sangat menentukan bagi produksi kelapa sawit. Tingkat kedisiplinan tenaga panen yang masih tergolong rendah sebagaimana terlihat pada mutu hanca menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan  untuk lebih meningkatkan kualitas produksi perusahaan.  Produktivitas kelapa sawit di kebun belum sesuai dengan standar Marihat

    Respons Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Belum Menghasilkan Umur Dua Tahun terhadap Pemupukan Kalsium

    Get PDF
    Kelapa sawit merupakan tanaman tahunan yang dapat berproduksi secara ekonomis sampai dengan umur 25–30 tahun sehingga diperlukan pemeliharaan pertumbuhan vegetatif untuk menunjang umur produksi. Pengapuran pada tanah masam akan memperbaiki kesuburan tanah melalui penyediaan unsur hara. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan respons pertumbuhan vegetatif TBM-2 kelapa sawit terhadap pemberian pupuk Kalsium (Ca). Penelitian dilaksanakan pada Maret 2014 sampai dengan Februari 2015 di Kebun Percobaan dan Penelitian IPB-Cargill, Kecamatan Jonggol, Bogor. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) satu faktor yaitu dosis pemupukan Ca dengan 4 taraf perlakuan yakni: 1) tanpa Ca (Ca0) sebagai kontrol, 2) Ca 600 g tanaman-1 (Ca1), 3) Ca 1 200 g tanaman-1 (Ca2), dan 4) Ca 2 400 g tanaman-1 (Ca3). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah pelepah tumbuh, panjang pelepah daun ke-9, dan luas daun. Pemberian pupuk kandang 50 000 g per lubang tanam tidak memberikan perbedaan pertumbuhan pada setiap perlakuan sehingga menjadi dosis yang cukup sebagai pupuk dasar pada lokasi penelitian dilakuka

    Pengaruh Pemberian Auksin (NAA) dengan Sitokinin (BAP, Kinetin dan 2ip) terhadap Daya Proliferasi Tanaman Kantong Semar (Nepenthes mirabilis) Secara In Vitro

    Get PDF
    Auksin dan sitokinin umumnya digunakan sebagai zat pengatur tumbuh secara in vitro. Sudah ditemukan bahwa kombinasi auksin (NAA) dan sitokinin (BAP, kinetin, dan 2ip) untuk proliferasi tunas Nepenthes mirabilis secara in vitro. Penelitian ini dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor, auksin sebagai faktor pertama dan sitokinin sebagai faktor kedua. Kombinasi auksin dan sitokinin yang digunakan adalah NAA: 1 dan 2 mg / l sedangkan BAP, kinetin, dan 2ip masing-masing sebanyak 0, 2,5, dan 5 mg / l. Kombinasi zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke media Murashige dan Skoog (MS). Hasil terbaik untuk proliferasi tunas yaitu perlakuan tanpa sitokinin dan tambahan NAA 1 mg / l sebanyak 5,2 tunas dalam 10 minggu

    Evaluasi Beberapa Tolok Ukur Vigor untuk Pendugaan Perpanjangan Masa Edar Benih Padi (Oryza sativa L.)

    Get PDF
    Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh beberapa tolok ukur vigor benih yang paling efektif untuk pendugaan perpanjangan masa edar benih padi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor dan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan Hortikultura, Cimanggis, Depok dari bulan Juli 2011 sampai Oktober 2011. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah lot  benih dan faktor kedua adalah periode simpan. Faktor lot benih terdiri atas var. Ciherang dengan tanggal kadaluarsa 15 Juni 2011 (Lot A), var. Inpari 10 Laeya dengan tanggal kadaluarsa 10 Juli 2011 (Lot B), var. Situ Bagendit dengan tanggal kadaluarsa 21 Juli 2011 (Lot C). Faktor kedua adalah periode simpan terdiri atas 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 minggu. Variabel yang efektif untuk menduga masa simpan benih padi adalah nilai delta. Penelitian ini menunjukkan Lot A mencapai akhir Periode II dan memasuki Periode III dari enam minggu periode penyimpanan. Lot B dan Lot C mencapai titik anomali, dengan nilai delta maksimum pada dua minggu setelah periode penyimpanan. Lot B dan Lot C pada penelitian ini hanya bisa dilakukan perpanjangan masa edar sampai periode simpan 2 minggu

    Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati Serta Reduksi Pupuk NPK terhadap Ketersediaan Hara dan Populasi Mikroba Tanah Pada Tanaman Padi Sawah Musim Tanam Kedua di Karawang, Jawa Barat

    Get PDF
    Penelitian dilakukan di Karawang, Jawa Barat pada bulan Oktober 2010 sampai April 2011. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh aplikasi pembenaman jerami dan pupuk hayati serta pupuk organik dalam mengurangi penggunaan pupuk NPK pada musim tanam kedua. Percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak yang terdiri atas 13 perlakuan. Perlakuan tersebut adalah P1 = jerami + 0.5 dosis NPK, P2 = jerami + 0.5 dosis NPK + pupuk organik granul (POG) + pupuk organik cair (POC), P3 = jerami + 0.5 dosis NPK + POG, P4 = jerami + 0.5 dosis NPK + POG + pupuk hayati 1, P5 = jerami + 0.75 dosis NPK + pupuk hayati 2, P6 = jerami + 0.5 dosis NPK + pukan, P7 = jerami + 0.5 dosis NPK + pupuk hayati 1, P8 = jerami + 0.5 dosis NPK + pupuk hayati 2, P9 = jerami + 1 dosis NPK, P10 = tanpa jerami + 1 dosis NPK, P11 = jerami + 0.5 dosis NPK + pupuk hayati 3, P12 = tanpa jerami + 0.5 dosis NPK + pupuk hayati 3, dan P13 = tanpa pupuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pupuk hayati (bio 1, 2, atau 3) dapat meningkatkan ketersediaan hara dan populasi mikroba tanah. Aplikasi ini dipengaruhi jumlah pembentukan batang pada 7 MST dan daun berwarna pada 3 dan 7MST. Jerami + 0.5 dosis NPK + pupuk hayati 2 tidak berbeda signifikan dengan perlakuan 1 dosis NPK

    434

    full texts

    465

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Agrohorti
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇