Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Pengaruh Teknik Skarifikasi Fisik dan Media Perkecambahan terhadap Daya Berkecambah Benih Pala (Myristica fragrans)
The objective of this experiment is studying the effect of physical scarification of nutmeg seed coat and germination media to accelerating germination rate and enhancing nutmeg seed viability. This experiment was conducted in December 2013 until May 2014 at Leuwikopo Experimental Field’s green house and Seed Laboratory of Agronomy and Horticulture Department, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University. This experiment was using factorial randomize complete block design with 3 replications. The first factor was physical scarification on the seed coat with three levels: without scarification, one hole scarification on seed’s base, and two holes scarifications on seed’s base. The Second factor was the seed germination substrate that consist of sand, charcoal of husk rice, and mixture of sand and compost 1:1 (v/v). The results showed that two holes physical scarification could enhance germination process according to the earlier appearance of roots and shoot. Sand as the germinating substrate was observed as a better substrate according to the parameters of germinating potency and shoot height. Two holes physical scarification treatment which was sowed in sand substrate showed the increase of lateral root number into 6 lateral roots. Nutmeg seedling growth from sand substrate seedling showed a better growth than the charcoal of husk rice substrate seedling by evaluating these parameters on stem diameter, seedling’s height, amount of leaves, canopy’s width, and leaves colour
Manajemen Pemupukan pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Kabupaten Rokan Hulu, Riau
Kegiatan penelitian dilaksanakan di Kabupaten Rokan Hulu, Riau dimulai dari tanggal 13 Februari hingga 13 Mei 2012. Kegiatan penelitian menyangkut aspek teknik dan manajerial dan menjadi karyawan harian lepas (KHL), supervisior dan asisten kebun. Kegiatan penelitian bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknik dan pengetahuan manajerial. Pengumpulan data yang penulis lakukan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi segala informasi yang diperoleh di lapang yang meliputi ketepatan pemupukan, tepat dosis, tepat waktu, dan metode aplikasi. Data sekunder diperoleh dari file perusahaan, berupa data curah hujan, produktivitas, rekomendasi pemupukan, struktur organisasi, dan semua yang berkaitan dengan tenaga kerja. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif
Manajemen Penyadapan Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Perkebunan Karet di Simalungun, Sumatera, Utara
Penelitian dilaksanakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi manajemen penyadapan tanaman karet. Kegiatan magang dilaksanakan di Perkebunan Karet Simalungun, Sumatera Utara pada tanggal 10 Februari hingga 9 Juni 2014. Manajemen penyadapan ditujukan untuk menjaga kontinuitas dan meningkatan produksi karet alam sesuai dengan umur ekonomis tanaman. Persentase populasi tanaman siap sadap rata-rata per-hanca di PT BSRE pada tahun tanam 2005 dan 2009 adalah 96.82%. Konsumsi kulit sadapan antara penyadap kelas A dan kelas B pada sistem sadap tarik ½ S d/3 dan sadap sorong ¼ S d/3 tidak berbeda nyata dan belum sesuai dengan standar penyadapan perusahaan. Faktor pendidikan dan pengalaman kerja penyadap mempengaruhi produksi cuplump pada sistem sadap tarik ½ S d/3, sedangkan faktor usia tidak mempengaruhi. Faktor pendidikan, usia, dan pengalaman kerja penyadap tidak mempengaruhi produksi cuplump pada sistem sadap sorong ¼ S d/3. Manajemen bidang sadap dan penggunaan zat stimulansia di perkebunan karet ini bersifat spesifik klon. Penyakit kering alur sadap (KAS) klon seri PB nyata lebih tinggi pada tahun tanam 2005 dibandingkan pada tahun tanam 2009, sedangkan penyakit KAS pada klon PB 330 dan DMI 35 tidak berbeda nyata pada tahun tanam sama
Pengaruh Pupuk Organik Guano dan Chitosan terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anggrek Phalaenopsis spp.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik guano dan kitosan pada pertumbuhan dan perkembangan anggrek Phalaenopsis dilakukan di pembibitan Gunung Batu, Bogor pada bulan Maret sampai Agustus 2011. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan pemupukan terdiri atas pupuk Thaichung 1 g L-1, pupuk Thaichung 1 g L-1 + kitosan 10 ppm, Thaichung pupuk 1 g L-1 + guano 10 ml L-1, dan pupuk Thaichung 1 g L-1 + kitosan 10 ppm + guano 10 ml L-1. pupuk Thaichung 1 g L-1 yang dibutuhkan untuk P. bellina dan P. modesta, dan guano 10 ml L-1 yang dibutuhkan untuk P. amabilis di kompot dalam kondisi panas dan kering
Pengaruh Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dan Dosis Pupuk Kandang Ayam terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Jagung (Zea mays L.)
Pemberian VAM dan dosis pupuk kandang ayam telah diteliti terhadap pertumbuhan dan produksi jagung menggunakan rancangan split plot dengan rancangan lingkungan rancangan kelompok lengkap teracak. Faktor pertama sebagai petak utama adalah VAM (tanpa VAM dan dengan VAM) dan faktor kedua sebagai anak petak adalah dosis pupuk kandang ayam (0, 5, 10, 15, dan 20 ton ha-1). Dosis pupuk kandang ayam 0 ton ha-1 digunakan untuk menentukan 100% pupuk anorganik dan dosis lain dari pupuk kandang ayam digunakan untuk menentukan 50% dari pupuk anorganik. Secara statistik, penerapan VAM tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan produksi jagung. Penggunaan VAM memberikan tinggi tanaman lebih tinggi dari tinggi tanaman tanpa menggunakan VAM pada 9 minggu setelah tanam. Beberapa perlakuan dengan VAM menunjukkan pertumbuhan dan produksi yang lebih tinggi dibandingkan tanpa VAM. Pemberian dosis pupuk kandang ayam menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan produksi jagung. Dosis pupuk kandang ayam memberikan respon linear pada tinggi tanaman saat 9 minggu setelah tanam dan jagung berbiji
Optimasi Produksi Bibit Tanaman Kentang (Solanum tuberosum) Kultivar Granola dengan Teknik Fotoautotrofik
Tanaman yang ditumbuhkan dalam kondisi in vitro pada umumnya tidak melakukan fotosintesis, lapisan kutikula dan jaringan pembuluh antara akar dan pucuk tidak berkembang serta stomata belum berfungsi dengan baik sehingga sulit bertahan pada saat aklimatisasi. Teknik fotoautotrofik perlu dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan planlet saat dipindahkan ke kondisi ex vitro. Penelitian ini bertujuan mempelajari respon pertumbuhan kentang kultivar Granola yang dikulturkan dengan sistem fotoautotrofik untuk menyediakan bibit kentang yang unggul dan bermutu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 2, analisis morfologi stomata dilakukan di Laboratorium Mikro Teknik, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan dari bulan November 2014 hingga April 2015. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan terpisah. Percobaan pertama menggunakan bahan tanam buku tunggal, percobaan kedua menggunakan bahan tanam pucuk. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor, yaitu konsentrasi gula dan ventilasi. Pada percobaan pertama diperoleh bahwa peningkatan konsentrasi gula nyata meningkatkan jumlah daun dan buku tunas kentang (Solanum tuberosum). Interaksi gula yang rendah dan penambahan ventilasi menyebabkan peningkatan jumlah stomata dan kloroplas serta mengecilnya diameter stomata daun. Sebanyak 45 % planlet yang ditumbuhkan pada media dengan konsentrasi gula 25 gL-1 dengan ventilasi 1 serta 67 % planlet dari media gula 25 gL-1 dengan ventilasi 2 mampu bertahan selama aklimatisasi dan diduga dapat digunakan untuk produksi bibit. Pada percobaan 2 tidak terdapat planlet yang mampu bertahan pada tahap aklimatisasi
Penanganan Budidaya Kentang (Solanum tuberosum L.) di Bandung, Jawa Barat
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari aspek pengelolaan budi daya komoditas kentang. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada tanggal 14 Februari sampai dengan 14 Juni 2011. Aspek khusus yang diamati adalah pengaruh pembumbunan awal terhadap pertumbuhan tanaman kentang. Perlakuan yang dilakukan adalah ketinggian pembumbunan pada 10 cm, 15 cm, 20 cm dan variabel yang diamati adalah persentase pertumbuhan bibit, tinggi tanaman, jumlah stolon per batang dan bobot umbi saat panen. Hasil analisis menunjukkan bahwa tinggi perlakuan pembumbunan berpengaruh nyata terhadap persentase tumbuh bibit pada 21 hari setelah tanam dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada 28 hari setelah tana
Penggunaan Pupuk Cair Hayati Berbahan Dasar Sawi Putih dan Keong untuk Meningkatkan Produksi Sawi Putih (Brassica pekinensis (Lour))
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan PCH sebagai substitusi pupuk anorganik untuk produksi sawi putih sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi mulai bulan Januari hingga Mei 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan satu faktor perlakuan yang terdiri atas 13 macam perlakuan dan menggunakan empat kali ulangan, sehingga terdapat 52 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada parameter tinggi tanaman perlakuan 1 440 L PCH keong ha-1 menghasilkan tinggi krop tertinggi yaitu 29.94 cm, sedangkan untuk parameter lingkar horizontal, lingkar vertikal dan diameter 2, perlakuan 200 kg NPK ha-1 + 720 L PCH keong ha-1 yang menghasilkan nilai tertinggi dengan nilai masing-masing berturut 34.42 cm, 68.33 cm, dan 9.31 cm. Perlakuan 300 kg NPK ha-1 + 360 L PCH keong/ha menunjukan hasil tertinggi untuk parameter diameter 1 yaitu sebesar 11.04. Perlakuan 100 kg NPK ha-1 + 1080 L PCH campuran (sawi+keong) ha-1 menghasilkan bobot rata-rata tajuk tanaman tertinggi yaitu 996.43 g per tanaman. Secara umum perlakuan 200 kg NPK ha-1 + 720 L PCH keong ha-1 menunjukan hasil terbaik berdasarkan uji hedonik oleh 30 panelis terhadap semua parameter yang diujikan yaitu warna, bentuk, ukuran, kerenyahan, dan kesukaan