Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Periode Kritis Pertumbuhan Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merr) dalam Berkompetisi dengan Gulma
Periode kritis terhadap persaingan dengan gulma menjadi pertimbangan dalam menentukan kapan saat yang tepat untuk mengendalikan gulma dan tindakan yang tepat dilakukan untuk melakukan pengelolaan gulma. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor dengan ketinggian tempat 209 meter diatas permukaan laut pada bulan April-Juli 2016. Rancangan lingkungan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak dengan 12 taraf perlakuan dengan tiga ulangan. Taraf perlakuan terdiri atas bersih gulma dan bergulma (0-2 MST, 0-4 MST, 0-6 MST, 0-8 MST, 0-10 MST, 0-panen). Penyiangan gulma dilakukan secara manual dan waktunya disesuaikan dengan perlakuan periode kompetisi gulma untuk setiap petak. Berdasarkan hasil penelitian, periode kritis kedelai hitam Mallika adalah 2-6 MST dengan kehilangan hasil panen dari awal tanam hingga panen diperoleh berkisar antara 23.61% hingga 83.54%
Efektivitas Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Caisin (Brassica Chinensis L.)
Lahan pertanian Indonesia yang terdegradasi mengakibatkan menurunnya produktivitas sayuran. Salah satu penyebabnya yaitu penggunaan pupuk anorganik tanpa pengembalian sisa tanaman dan bahan organik ke dalam tanah. Perlunya usaha dan strategi yang sesuai untuk meningkatkan kualitas lahan, serta mempertahankan kesuburan dan kesehatan tanah dengan pemanfaatan pupuk hayati. Pupuk biologi adalah produk biologi yang aktif memproduksi berdasarkan mikroba-mikroba yang dapat meningkatkan keefisienan pemupukan, kesuburan dan kesehatan tanah. Pemanfaatan dari pupuk hayati diharapkan dapat menumbuhkan tanaman yang lebih sehat, bebas dari hama dan penyakit, produksi yang tinggi, ramah lingkungan, berkelanjutan dan dapat mereduksi pupuk anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk hayati pada pertumbuhan dan hasil caisin di lapangan yang dilakukan di Leuwikopo, Darmaga, Bogor Indonesia pada Februari hingga April 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan 7 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang dimkasud yaitu tanpa pupuk hayati dan NPK (P0), 1 dosis NPK (P1), Biofertilizer + 1 dosis NPK (P2), biofertilizer + 0.75 dosis NPK (P3), biofertilizer + 0.5 dosis NPK (P4), biofertilizer + 0.25 dosis NPK (P5) dan biofertilizer (P6). Hasilpenelitian menunjukkan pupuk hayati tidak dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman caisin yang diukur seperti tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang akar. Kombinasi pupuk hayati dengan 0.5 hingga 1 dosis NPK mampu memproduksi berat basah tajuk tanaman dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan NPK saja. Dengan demikian, penggunaan pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik urea, SP-36 dan KCL sebesar 50%
Manajemen Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Di Pelantaran Agro Estate, Kalimantan Tengah
Penelitian dilakukan di Pelantaran Agro Estate, Kalimantan Pusat mulai 14 Februari sampai 14 Juni 2011. Penelitian belajar dan memahami pengelolaan pembuahan kelapa sawit. Data dikumpulkan dari sumber primer dan sekunder. Data primer dianalisis mengenai keefektifan (waktu tepat, jenis kanan, dosis benar, metode yang benar), efisiensi tenaga kerja, dan kekurangan nutrisi. Pengelolaan pemupukan di Pelantaran Agro Estate (PAGE) pada umumnya telah dilaksanakan sesuai dengan standar pemupukan. Taman tersebut telah memperhatikan ketentuan dan rekomendasi yang telah direkomendasikan pemupukan dan telah mengacu pada prinsip 4 T (waktu yang tepat, jenis hak, dosis tepat, dan metode yang benar) dalam hal mencapai efektivitas dan efisiensi pemupukan. . Namun, dalam penggunaan tenaga kerja belum efisien yang tentunya berdampak pada efisiensi waktu dan biaya. Realisasi pemupukan belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan rekomendasi. Hambatan dalam penerapan pemupukan masih ditemukan di daerah berawa dan bergelombang
Karakterisasi Morfologi dan Pengaruh Perlakuan Pemupukan dan Pemberian Silika (Si) pada Genotipe Hibrida Anggrek Cattleya
Cattleya merupakan anggrek yang memiliki bunga dengan ukuran besar dan disebut queen of orchid karena memiliki keindahan dari variasi warna pada bunganya. Pemupukan berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Silika berperan dalam memperkuat jaringan tanaman sehingga lebih tahan serangan penyakit dan hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan dan pemberian silika (Si) terhadap pertumbuhan beberapa hibrida anggrek Cattleya. Penelitian dilakukan di rumah Anggrek Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB pada bulan April hingga Juli 2015. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan faktor tunggal yaitu perlakuan pemupukan. Terdapat empat perlakuan yaitu pupuk organik cair lengkap 2 ml L-1, NPK 32:10:10 2 g L-1, pupuk organik cair lengkap 2 ml L-1 + silika 2.5 ml L-1, dan NPK 32:10:10 2 g L-1 + silika 2.5 ml L-1. Perlakuan terdiri dari tiga kali ulangan, setiap ulangan terdiri dari 3 tanaman. Hasil karakterisasi menunjukan tidak terdapat keragamaan pada penampang melintang daun serta posisi pembungaan, bentuk ujung, susunan, bentuk tepi dan tekstur permukaan daun, tipe pembungaan, resupinasi, perhiasan, serta bentuk bunga. Pupuk yang memberikan hasil paling baik untuk ketiga genotipe adalah pupuk organik cair lengkap ditambahkan silika (Si) pada 5 parameter pengamatan yaitu pertambahan jumlah, panjang, lebar dan tebal daun, serta muncul anakan baru
Produksi dan Kualitas Jamur Merang (Volvariella volvaceae) pada Kelompok Tani “Mitra Usaha” Kabupaten Karawang
Penelitian dilaksanakan di Kelompok tani Mitra Usaha, Desa Panyingkiran, Kabupaten Karawang dari 9 Februari hingga 8 Juni 2015. Kegiatan penelitian dilaksanakan untuk meperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam produksi jamur merang, serta menganalisis kelayakan usaha pada kelompok tani Mitra Usaha Karawang. Media yang digunakan dalam produksi jamur merang yaitu jerami, kapas, dedak, dan kapur. Proses produksi meliputi pengomposan jerami dan kapas, pasteurisasi, penebaran bibit, penyiraman, panen dan pasca panen. Jamur merang dapat dipanen sejak 9 hari setelah penebaran bibit atau 5 hari setelah penyiraman. Panen dilakukan setiap hari selama 20 – 25 hari. Kelompok tani Mitra Usaha memiliki 12 kumbung jamur, dengan rata – rata setiap kumbung mampu menghasilkan 200 kg/kumbung jamur dalam satu siklus produksi selama kurang lebih 1.5 bulan. Hasil analisis usaha tani produksi jamur merang, kelompok tani Mitra Usaha memiliki nilai R/C rasio lebih dari 1 yaitu 1.91, sehingga layak untuk terus berproduksi. Analisis usaha tani menggunakan asumsi produksi jamur satu kumbung adalah 200 kg per kumbung, harga jamur Rp22 000,00 per kg. BEP (Break Event Point) untuk harga didapatkan sebesar Rp11 536,00 dan BEP volume produksi sebesar 105 kg
Pengaruh Pemupukan N, P, dan K pada Dua Varietas Benih Kedelai (Glycine Max (L) Merr.) terhadap Kandungan Antosianin dan Hubungannya dengan Vigor Benih
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemupukan N, P, dan K pada kandungan antosianin dan vigor benih pada dua varietas kedelai untuk mencari korelasi antara mereka. Penelitian ini dilaksanakan Kebun Percobaan Leuwikopo IPB dan Laboratorium Teknologi Benih AGH, IPB pada Februari sampai Juli 2011. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Split Plot. Faktor pertama adalah varietas kedelai (Anjasmoro dan Detam 1). Faktor kedua adalah pemupukan NPK (tanpa pupuk, NPK, NP, NK, dan PK). Pengamatan meliputi pengamatan vegetatif dan produksi benih, kandungan antosianin benih, viabilitas benih, vigor kekuatan tumbuh dan vigor daya simpan benih. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa varietas berpengaruh pada kandungan antosianin benih. Varietas Detam 1 menunjukkan kandungan antosianin lebih tinggi dari varietas Anjasmoro. Aplikasi pupuk berpengaruh pada vigor daya simpan dari biji kedelai melalui pengusangan terkontrol. Aplikasi NPK dan pupuk NK memberikan nilai tertinggi untuk vigor daya simpan dari biji (83,33% dan 80,00%) lebih tinggi dari vigor daya simpan terendah yang dihasilkan oleh perlakuan tanpa pemupukan (61,33%). Elektrokonduktivitas tidak terpengaruh oleh pemberian pupuk dan varietas tetapi dipengaruhi oleh interaksi dari keduanya. Korelasi tidak ditemukan antara kandungan antosianin dan vigor benih
Pengelolaan Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit (Elais guineensis Jacq.) Di Kebun Bangun Bandar, Sumatera Utara
Penelitian ini dilakukan di Bangun Bandar Estate, Sumatera Utara selama tiga bulan, dimulai pada 13 Februari 2012-12 Mei 2012. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial. Data yang diperoleh adalah data primer (metode langsung) dan data sekunder (metode tidak langsung). Data primer adalah semua informasi yang diperoleh langsung dari pengamatan penulis pada ketinggian pengamatan, diameter batang, daun pelepah untuk jumlah biji di pra pembibitan. Pengamatan jumlah bibit mati (membusuk dan coklat), observasi langsung untuk menentukan kegiatan teknis. Di lapangan dan dibandingkan dengan standar, serta diskusi langsung dengan serikat pekerja dan staf tentang kelapa sawit. data sekunder yang diperoleh dari koleksi peternakan seperti laporan harian, laporan bulanan, laporan tahunan dan arsip taman. Data sekunder meliputi iklim, produktivitas, pupuk, rekomendasi, struktur organisasi dan hal yang berhubungan dengan tenaga kerja. Berdasarkan pengamatan, dalam manajemen pembibitan umum di estate akan baik meskipun masih ada beberapa masalah yang terjadi di lapangan. Persentase tanaman yang tumbuh dengan baik dalam 2 minggu untuk transportasi minggu, yang mencapai 95,98% sehingga kecambah tumbuh dengan sangat baik, tanaman akan digunakan sebagai bahan tanam
Pengelolaan Pemangkasan Jeruk Keprok (Citrus sp.) Di Kebun Blawan, Bondowoso, Jawa Timur
Program penelitian dilakukan di Blawan Estate, Bondowoso, Jawa Timur selama tiga bulan mulai tanggal 13 Februari sampai 13 Mei 2012. Tujuan program penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial. Program penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode langsung dan tidak langsung, dengan mengikuti seluruh praktik di lapangan, observasi lapangan perkebunan, dan diskusi dengan staf (metode langsung). Informasi yang dikumpulkan termasuk data primer dan data sekunder. Kriteria pemangkasan, kondisi tanaman, prestasi kerja, waktu pemangkasan, dan pertumbuhan tunas meningkat sebagai data primer. Pemangkasan bisa menurunkan intensitas dan tingkat keparahan antraknosa. Namun, pengelolaan pemangkasan jeruk tidak dapat diimplementasikan sebagai SOP (Standart Operating Prosedure)
Proliferasi In Vitro Plb Anggrek Dendrobium lasianthera Hasil Induksi Mutasi Genetik dengan Kolkisin Melalui Penambahan Benzyl Adenine
Dendrobium lasianthera merupakan spesies anggrek yang endemik di Papua. Proliferasi atau perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan merupakan salah satu alternatif dalam memperbanyak spesies tanaman dengan jumlah individu yang terbatas. Keragaman karakteristik pada tanaman hias, baik yang bersifat alami atau hasil dari induksi mutasi, dianggap penting dalam menentukan nilai ekonomisnya. Pengembangan protokol produksi membutuhkan penelitian terkait media yang sesuai untuk memperbanyak tanaman. Penelitian dilakukan dengan mengkulturkan eksplan anggrek Dendrobium lasianthera berupa plb (protocorm-like body) dari anggrek D. lasianthera yang telah diinduksi mutasi melalui perendaman dalam larutan mutagen kolkisin pada penelitian sebelumnya. Pengamatan dilakukan terhadap kemampuan pertumbuhan 960 eksplan dari 16 kombinasi perlakuan (termasuk kontrol) perendaman kolkisin ditumbuhkan pada media MS0 yang ditambahkan sitokinin BA (6-Benzyladenine) sebanyak 1 mgL-1 dan 2 mgL-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan dengan kombinasi perlakuan perendaman yang berbeda memiliki kemampuan pertumbuhan yang berbeda secara nyata, dilihat dari jumlah daun, akar, plb dan tunas baru yang terbentuk selama periode pengamatan.Perbedaan dalam konsentrasi BA dalam media tidak menunjukkan respon yang berbeda nyata dalam jumlah daun dan akar baru yang terbentuk, namun nyata meningkatkan jumlah tunas baru yang terbentuk dan mempercepat pembentukan tunas. Eksplan yang ditumbuhkan pada media BA 1 mgL-1 memiliki rata-rata waktu awal pembentukan tunas yang lebih singkat dibandingkan dengan media BA 2 mgL-1. Beberapa planlet hasil induksi mutasi menunjukkan perbedaan fenotipe dari planlet kontrol berupa bentuk daun yang berbeda