Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Manajemen Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Rambutan Sumatera Utara
Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil devisa bagi Indonesia, sehingga diperlukan upaya khusus untuk meningkatkan produksi kelapa sawit. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan manajemen pemupukan kelapa sawit pada perkebunan. Kegiatan penelitian dilaksanakan mulai 06 Februari hingga 05 Juni 2017 di Kebun Rambutan Sumatera Utara. Kegiatan penelitian bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam aspek budidaya tanaman kelapa sawit secara umum dan secara khusus untuk mempelajari manajemen pemupukan tanaman kelapa sawit yang terdapat di Kebun Rambutan Sumatera Utara. Kegiatan penelitian yang dilakukan meliputi aspek teknis sebagai karyawan harian lepas (KHL) dan aspek manajerial sebagai pendamping mandor serta pendamping asisten. Pengamatan yang dilakukan meliputi kaidah 5T ( tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, tepat tempat, tepat waktu), losses (kehilangan pupuk) dan prestasi kerja penabur. Hasil pengamatan yang didapat di lapang dibandingkan dengan standar dari Departemen Riset Perusahaan. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif, mencari rata-rata, persentase hasil pengamatan, dan menggunakan uji t-student. Kegiatan pemupukan di Kebun Rambutan sudah cukup baik karena sudah memenuhi standar perusahaan hingga 90%. Realisasi waktu pemupukan belum memenuhi standar karena pupuk Urea, RP, Borate, MOP dan Kiserit belum di aplikasikan di lapangan. Rata-rata ketepatan tempat pemupukan sebesar 168,50 cm. Nilai tersebut lebih rendah dari standar perusahaan 175 cm
Pengelolaan Panen Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) di Afdeling 5 Kebun Tinjowan, Sumatera Utara
Penelitian telah dilaksanakan di Kebun Tinjowan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara bertujuan melatih keterampilan dan kemampuan dalam bidang perkebunan, serta memperoleh pengalaman kerja secara langsung dengan mempelajari aspek teknis maupun manajerial. Hal yang diamati dalam pengelolaan panen adalah angka kerapatan panen, kehilangan hasil, taksasi produksi, kualitas pekerjaan panen, rotasi panen, kriteria panen, kebutuhan tenaga panen, sarana dan prasarana panen, organisasi panen, serta transportasi panen. Hasil pengamatan menunjukkan pengelolaan panen perlu ditingkatkan. Pencegahan kehilangan hasil perlu digalakkan
Pengaruh Pemangkasan Pucuk dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bibit Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan pucuk dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi bibit ubi jalar (Ipomoea batatas L.). Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial RKLT dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah pemangkasan, terdiri atas pemangkasan dan tanpa pemangkasan. Faktor kedua adalah jarak tanam, terdiri atas jarak tanam 100 cm x 30 cm, 100 cm x 25 cm dan 100 cm x 15 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan berpengaruh terhadap peningkatan panjang batang, jumlah dan panjang cabang primer, jumlah dan panjang cabang sekunder, serta jumlah stek pucuk ukuran 25 cm. Perlakuan jarak tanam berpengaruh terhadap peningkatan jumlah dan panjang cabang primer serta jumlah stek pucuk ukuran 25 cm. Produksi bibit ubi jalar lebih banyak dihasilkan pada perlakuan pemangkasan dan jarak tanam 100 cm x 30 cm
Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) di Wilayah PG Madukismo dengan Aspek Korelasi Pemupukan terhadap Produktivitas
Rendahnya produksi gula di Indonesia disebabkan karena menurunnya produktivitas dan rendemen tanaman tebu. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas adalah memperbaiki teknik budidaya tanaman tebu. Salah satu teknik budidaya yang perlu diperbaiki dan berhubungan dengan produktivitas tebu adalah pemupukan. Kegiatan penelitian dilaksanakan mulai 05 Februari 2017 hingga 05 juni 2017 di wilayah kerja PG Madukismo, Yogyakarta. Kegiatan penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengkaji korelasi pemupukan dengan produktivitas tanaman tebu. Hasil pengamatan menunjukkan adanya korelasi nyata antara pemupukan dengan produktivitas tanaman tebu terutama pada pupuk ZA. Penambahan pupuk ZA akan meningkatkan produktivitas tebu dimana pupuk ZA mengandung kandungan N yang tinggi dibandingkan dengan pupuk yang lain sehingga dapat menghasilkan bobot yang tinggi. Peningkatan produktivitas dengan penambahan pupuk ZA tidak diikuti dengan rendemen tebu yang dihasilkan. Rendemen tebu yang dihasilkan tidak berkorelasi nyata terhadap pemupukan
Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Daya Simpan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) Varietas Anjasmoro
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tiga jenis kemasan yaitu kemasan hermetik, jeriken plastik dan karung beralas plastik terhadap mutu fisik maupun fisiologis benih kedelai (Glycine max (L.) Merrill) varietas Anjasmoro selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Januari sampai Juli 2016. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan yang digunakan adalah jenis kemasan (P) yang terdiri atas tiga taraf yaitu kemasan hermetik (P1), jeriken plastik (P2), dan karung beralas plastik (P3). Penyimpanan dilakukan selama 6 bulan dan diamati setiap bulan terhadap variabel kadar air, daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh dan bobot kering kecambah normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis kemasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap mutu fisik maupun fisiologis benih kedelai varietas Anjasmoro selama penyimpanan. Perlakuan jenis kemasan dapat mempertahankan viabilitas dan vigor benih kedelai hingga bulan ke-2 penyimpanan. Hasil tersebut menunjukan bahwa benih kedelai dapat disimpan selama 4 bulan setelah panen
Analisis Produksi Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Di Kebun Buatan, Kabupaten Pelalawan, Riau
Kegiatan penelitian dilaksanakan di PT. Inti Indosawit Subur, Kebun Buatan, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau dari tanggal 13 Februari sampai dengan 13 Mei 2012. Kegiatan penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang budidaya tanaman kelapa sawit dan secara khusus menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit.Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.Kebun Buatan secara umum sudah menerapkan teknik budidaya kelapa sawit sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedures) yang telah ditetapkan oleh perusahaan.Berdasarkan persamaan regresi linear berganda, produksi TBS (Tandan Buah Segar) dipengaruhi oleh jumlah hari kerja efektif tenaga kerja panen dan jumlah output pemanen.Nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan dalam analisis adalah 98.3%.Permasalahan utama adalah menurunnya produktivitas tanaman pada tanaman yang berumur lebih dari 22 tahun karena umur tanaman tersebut sudah diatas umur produktivitas maksimal rata-rata kelapa sawit
Evaluasi Keragaan Generasi Pertama Selfing Jagung Ketan Lokal
Jagung ketan lokal memiliki produktivitas yang rendah. Keutamaan jagung ketan lokal yaitu memiliki pati yang mengandung amilopektin lebih banyak. Kegiatan pemuliaan tanaman diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan memperbaiki karakter jagung ketan agar memiliki rasa lebih manis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi beberapa karakter kuantitatif, kualitatif, dan potensi sifat prolifik pada generasi S1 jagung. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo, Dramaga, Bogor pada bulan Februari – Mei 2017. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal yaitu genotipe dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan yaitu genotipe jagung yang terdiri atas 16 genotipe uji dan 1 genotipe pembanding URI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe- genotipe uji jagung ketan memiliki beberapa karakter kuantitatif dan kualitatif yang berbeda dari genotipe- genotipe uji yang lain maupun varietas pembanding URI. Sebanyak tujuh karakter yang diamati memiliki nilai heritabilitas arti luas (h2bs) yang tinggi dan satu karakter memiliki nilai heritabilitas arti luas (h2bs) yang sedang. Karakter ASI memiliki nilai KK dan heritabilitas arti luas yang tinggi serta berkorelasi negatif dengan komponen hasil berupa diameter tongkol, jumlah baris biji, dan bobot tongkol berkelobot sehingga dapat dipertimbangkan sebagai kriteria seleksi. Genotipe JLP1-2, JWP12-5, dan JWP12-8 memiliki potensi sifat prolifik dengan jumlah tongkol per tanaman masing-masing sebanyak 2,55 tongkol, 2,20 tongkol, dan 2,31 tongkol. Genotipe SD2, JWP12-5, JWP12-3, JWP22-1, dan JLP1-6 memiliki karakter agronomi dan komponen hasil yang baik
Pertumbuhan dan Produksi Benih Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) Asal Teknik Budi Daya yang Berbeda
Amorphophallus muelleri merupakan tanaman asli Indonesia yang telah dimanfaatkan secara turun temurun. Permintaan benih A. muelleri terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan umbi. Ketersediaan benih untuk memenuhi produksi umbi masih terus diupayakan agar permintaan pasar tercukupi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi benih iles-iles yang berasal dari teknik budi daya yang berbeda. Benih yang digunakan yaitu benih dari hasil teknik budi daya menggunakan GA3, jenuh air, dan tanah. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan iles-iles meliputi panjang petiol dan lebar tajuk dari benih asal ketiga teknik budi daya tidak berbeda nyata. Demikian pula komponen hasil budi daya yang meliputi diameter umbi, tinggi umbi, dan bobot basah umbi tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa benih hasil teknik budi daya tanah, induksi GA3, dan jenuh air pada iles-iles tidak mempengaruhi pertumbuhan dan produksi
Uji Daya Hasil Lanjutan Galur-Galur Dihaploid Padi Sawah Hasil Kultur Antera
Penelitian ini bertujuan menguji daya hasil galur-galur dihaploid padi sawah (Oryza sativa L.) hasil kultur antera dan membandingkannya dengan varietas pembanding. Terdapat 19 galur dihaploid padi sawah dan 2 varietas pembanding, Inpari 13 dan Ciherang. Percobaan diulang 3 kali dengan rancangan kelompok lengkap teracak. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Babakan IPB, Darmaga, dan di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Cimanggu, Bogor, pada Desember 2015-Mei 2016. Pengamatan dilakukan terhadap karakter tinggi tanaman, jumlah anakan, umur berbunga dan panen, panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah bernas/malai, jumlah gabah hampa/malai, persen gabah bernas dan hampa per malai, bobot 1.000 butir, produktivitas, serta scoring penyakit hawar daun bakteri. Terdapat beberapa galur yang tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, diantaranya galur CG9-26-1-5, CG9-33-1-4, CG9-53-1-3, HR2-6-1-1, HR3-6-2-1, HR5-7-1-1 dan HR5-9-1-1, namun galur CG9-33-1-4 memiliki produktivitas terendah. Galur CG12-30-1-3 merupakan galur dengan produktivitas tertinggi karena jumlah gabah bernas dan gabah total per malai tinggi serta bobot 1.000 butir yang berat yakni 27,35 g. Galur HR5-7-1-1 dan HR3-10-1-1 memiliki produktivitas lebih dari 4 ton ha-1, namun galur HR3-10-1-1 rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri serta memiliki bobot 1.000 butir yang rendah. Galur HR2-33-1-1, HR4-12-1-1, HR5-9-4-1 dan HR5-13-2-2 memiliki produktivitas antara 3,68-3,93 ton ha-1, namun galur HR4-12-1-1 dan HR5-13-2-2 agak rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri