Buletin Agrohorti
Not a member yet
    465 research outputs found

    Perbandingan Perkembangan dan Kualitas Buah Tiga Aksesi Jeruk Pamelo (Citrus maxima (Burm.) Merr.)

    Get PDF
    Pamelo (Citrus maxima (Burn.) Merr.) telah dibudidayakan di berbagai wilayah Indonesia, namun pengembangan pamelo di Indonesia masih sangat terbatas. Upaya pengembangan pamelo diarahkan pada ketersediaan kultivar unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi perbedaan perkembangan dan kualitas buah pada tiga aksesi jeruk pamelo. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan IPB dari bulan Desember 2015 sampai Juli 2016. Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan satu faktor yaitu aksesi (aksesi 1, aksesi 2, dan aksesi 3) yang terdiri atas 3 ulangan. Hasil penelitian menujukkan bahwa perbedaan diameter dari aksesi 1 secara signifikan lebih tinggi dari aksesi lainnya pada akhir pengamatan. Semua aksesi menunjukkan bahwa diameter buah terus meningkat di perkembangan awal namun perkembangan buah semakin lambat pada periode pematangan. Aksesi 1 juga menunjukkan hasil nyata lebih tinggi pada volume dan bobot buah dibanding aksesi lainnya namun pada kelunakan buah aksesi 1 berbeda nyata lebih rendah dibanding aksesi 3. Aksesi 2 merupakan aksesi dengan tebal kulit buah paling tinggi dibanding aksesi 1 dan 3. Kandungan jus buah pada aksesi 1 berbeda nyata lebih tinggi dibanding aksesi 3 namun tidak berbeda dengan aksesi 2. Kandungan asam/ATT pada aksesi 2 paling tinggi dibanding aksesi lainnya. Aksesi 1 memiliki rasio PTT/ATT lebih tinggi dibanding aksesi 2 dan 3. Perbedaan aksesi tidak menunjukkan hasil berbeda nyata pada bagian dapat dimakan, pigmen klorofil kulit buah, dan kandungan gula/PTT. Aksesi 1 adalah aksesi terbaik berdasarkan kriteria ukuran buah, kandungan jus, dan rasa buah yang memiliki kadar asam paling rendah

    Asesmen Carbon Footprint pada Produksi Minyak Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Sei Lukut, Kabupaten Siak, Riau

    Get PDF
    Jejak karbon telah digunakan sebagai indikator dalam produksi yang berkelanjutan pada banyak tanaman, namun jejak karbon jarang dievaluasi pada pertanaman kelapa sawit di Indonesia. Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengevaluasi jejak karbon tahunan pada produksi minyak kelapa sawit. Kegiatan dilaksanakan di kebun Sei Lukut, Kabupaten Siak, Provinsi Riau dari Maret sampai Juni 2016. Evaluasi pada jejak karbon mencakup kegiatan budidaya, pengolahan TBS di PKS, dan kegiatan rumah tangga. Lokasi studi telah mengaplikasikan manajemen produksi yang baik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jejak karbon dari satu liter CPO adalah 9,55 kg

    Analisis Keragaan Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens ) Lokal Asal Kediri dan Jember

    Get PDF
    Keberagaman hasil produksi cabai selain disebabkan oleh pengaruh lingkungan, juga karena pengaruh genotipe yang beragam. Penggunaan benih hibrida (sifat seragam) oleh petani masih rendah dan mengharuskan pemulia tanaman untuk memanfaatkan genotipe lokal yang relatif sergam dan tahan pada lingkungan tertentu. Eksplorasi perlu dilakukan untuk memperluas pemanfaatan plasma nutfah lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi lima belas aksesi lokal asal Kediri dan Jember dan memperoleh setidaknya satu karakter unggul yang sama atau lebih baik dari galur dan varietas cabai rawit pembandingnya. Penelitian dilaksanakan dari November 2016 hingga Mei 2017 di Kebun Percobaan IPB Pasir Kuda dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Teracak Lengkap (RKLT) dan diuji lanjut dengan Tukey Beda Nyata Jujur (TABEL). Bahan genertik yang diuji terdiri atas 15 aksesi (CR1, CR2, CR3, CR4, CR5, CR6, CR7, CR8, CR9, CR10, CR11, CR12, CR13, CR14, dan CR15), 3 galur cabai koleksi Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB (Bonita, F4321295285, F3321290), dan 1 varietas hibrida komersial sebagai pembanding (Varietas Taruna). Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh nyata pada hampir seluruh parameter yang diamati, kecuali bobot 100 butir. Hasil analisis korelasi menunjukkan umur berbunga dan umur panen bernilai positif, umur panen dengan jumlah buah dan bobot buah per tanaman bernilai positif, dan bobot per buah dengan bobot buah per tanaman bernilai positif. Berdasarkan nilai analisis ragam, Bonita, Taruna, CR14, CR3, dan CR8 memiliki keunggulan potensi hasil yang cukup baik dibanding genotipe lain

    Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat

    Get PDF
    Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha memperoleh varietas yang berproduktivitas tinggi. Institut Pertanian Bogor telah merakit genotipe kentang yaitu PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, dan PKHT-12. Petani umumnya menggunakan benih dari hasil panen sebelumnya. Benih yang digunakan secara terus menerus dapat menyebabkan rendahnya produksi, maka perlu adanya alternatif teknik perbanyakan di lapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe IPB asal stek buku tunggal dengan keragaan produksi G2 tertinggi dan membandingkan hasil produksi kentang antara tanaman yang berasal dari bahan tanam stek buku tunggal dengan umbi di lapang. Penelitian dilaksanakan pada Februari-Juli 2017 di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan dan Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Percobaan pertama menggunakan stek buku tunggal genotipe PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, PKHT-12, Atlantik, Granola, Medians dan Intan. Percobaan kedua menggunakan bahan tanam stek buku tunggal dan umbi dari genotipe PKHT-4, Intan dan Medians. Hasil penelitian menunjukan keragaan  produksi  pada  bahan  tanam stek buku  tunggal  dipengaruhi  oleh  genotipe.  Genotipe  PKHT-6 menghasilkan keragaan produksi dan hasil tertinggi dibanding genotipe maupun varietas pembanding yaitu 18,32 ton ha-1. Ketiga genotipe pada percobaan kedua menggunakan bahan tanam umbi yaitu PKHT-4, Intan dan Medians menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman genotipe yang sama asal stek buku tunggal. Tanaman PKHT-4 asal umbi menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas pembandingnya yaitu 17,00 ton ha-1.Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha memperoleh varietas yang berproduktivitas tinggi. Institut Pertanian Bogor telah merakit genotipe kentang yaitu PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, dan PKHT-12. Petani umumnya menggunakan benih dari hasil panen sebelumnya. Benih yang digunakan secara terus menerus dapat menyebabkan rendahnya produksi, maka perlu adanya alternatif teknik perbanyakan di lapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe IPB asal stek buku tunggal dengan keragaan produksi G2 tertinggi dan membandingkan hasil produksi kentang antara tanaman yang berasal dari bahan tanam stek buku tunggal dengan umbi di lapang. Penelitian dilaksanakan pada Februari-Juli 2017 di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan dan Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Percobaan pertama menggunakan stek buku tunggal genotipe PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, PKHT-12, Atlantik, Granola, Medians dan Intan. Percobaan kedua menggunakan bahan tanam stek buku tunggal dan umbi dari genotipe PKHT-4, Intan dan Medians. Hasil penelitian menunjukan keragaan  produksi  pada  bahan  tanam stek buku  tunggal  dipengaruhi  oleh  genotipe.  Genotipe  PKHT-6 menghasilkan keragaan produksi dan hasil tertinggi dibanding genotipe maupun varietas pembanding yaitu 18,32 ton ha-1. Ketiga genotipe pada percobaan kedua menggunakan bahan tanam umbi yaitu PKHT-4, Intan dan Medians menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman genotipe yang sama asal stek buku tunggal. Tanaman PKHT-4 asal umbi menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas pembandingnya yaitu 17,00 ton ha-1

    Manajemen Pemanenan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Divisi 2 Bangun Koling Estate, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah

    Get PDF
    Kegiatan penelitian dilakukan di divisi 2 Bangun Koling Estate yang terletak di Desa Tumbang Koling, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dari bulan Februari hingga Juni 2016. Kegiatan penelitian dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan kerja, menambah pengalaman serta mempelajari kegiatan budidaya kelapa sawit secara teknis dan manajerial. Pengamatan yang diamati meliputi angka kerapatan panen dan estimasi produksi, kebutuhan tenaga panen, kapasitas panen, alat panen dan alat pelindung diri, mutu buah, transportasi buah, dan kehilangan hasil. Hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa manajemen panen sudah berlangsung secara baik, tetapi perlu ditingkatkan agar didapatkan hasil yang optimal. Evaluasi yang harus dilakukan yaitu hasil taksasi belum menggambarkan hasil realisasi panen, penggunaan alat pelindung diri yang masih minim, kapasitas panen yang masih rendah dan masih terdapatnya losses di lapang

    Manajemen Pengendalian Gulma Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) di Kebun Aneka Persada, Riau

    Get PDF
    Kegiatan penelitian dilaksanakan di Kebun Aneka Persada, Riau mulai 6 Februari 2017 sampai  6 Juni 2017. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan profesional, teknis, manajerial, dan analisis kegiatan di lapangan dengan melaksanakan kegiatan sesuai tahapan yang ada di lokasi penelitian. Pengamatan data primer yang dilakukan yaitu dominansi jenis gulma, metode pengendalian gulma, kondisi gulma dominan setelah semprot, metode pengendalian gulma yang digunakan, alat pelindung diri (APD), kondisi alat penyemprot, dan tenaga kerja. Hasil pengamatan pada 6 blok yang diamati menunjukkan bahwa vegetasi gulma yang dominan yaitu A. intrusa, D. ciliaris, B. alata, M.bracteata, dan C. lapacea. Asystasia intrusa mati setelah 3 MSA dengan herbisida berbahan aktif  Isopropilamina glifosat  480 g l-1 + Metil metsulfuron 20 % dosis masing-masing 115 ml ha-1 + 4,5 g ha-1. Hasil uji yang dilakukan bahwa parameter flowrate, kecepatan jalan, dan prestasi kerja terdapat perbedaan yang sangat nyata, yang berarti bahwa penggunaan MHS lebih efektif dan efisien daripada penggunaan knapsack sprayer karena luasan semprot yang dapat dicakup menjadi lebih lua

    Optimasi Pengujian Daya Berkecambah dan Faktor yang Mempengaruhi Viabilitas dan Vigor Benih Kelor (Moringa oleifera Lam.) dalam Penyimpanan

    Get PDF
    Kelor (Moringa oleifera Lam.) merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Adanya permintaan kelor yang semakin meningkat perlu didukung ketersedian benih bermutu. Benih bermutu dipengaruhi oleh daya berkecambah dan teknologi penyimpanan benih yang tepat. Penelitian ini bertujuan mempelajari optimasi pengujian daya berkecambah benih kelor dan untuk mengetahui pengaruh faktor kemasan dan kondisi ruang simpan terhadap viabilitas dan vigor benih selama penyimpanan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB dan rumah kaca kebun percobaan Leuwikopo, IPB Dramaga, pada bulan April-Oktober 2016. Optimasi pengujian daya berkecambah meliputi pengamatan first count dan final count serta pengaruh perlakuan pemotongan sayap benih dan kemasakan buah terhadap viabilitas. Hasil pengamatan first count jatuh pada hari ke-10 dan final count pada hari ke-15 setelah benih ditanam. Selama periode simpan 6 bulan, penyimpanan benih kelor dalam kemasan aluminium foil dan plastik pada suhu AC (17-19 °C) dan suhu kamar (27-29 °C) memberikan hasil KA, viabilitas dan vigor lebih baik dibandingkan kemasan kertas. Penyimpanan dalam kemasan aluminium foil memberikan hasil rata-rata KA (7,75%), viabilitas (PTM 86,22%), dan vigor (KCT 9,58 %KN/etmal) terbaik, sedangkan penyimpanan menggunakan plastik memberikan hasil rata-rata viabilitas (DB 82,11%), dan vigor (IV 66,83%) terbaik. Penyimpanan menggunakan suhu AC lebih baik dalam mempertahankan KA, viabilitas, dan vigor dibandingkan suhu kamar

    Produksi Tomat Cherry dan Tomat Beef dengan Sistem Hidroponik di Perusahaan Amazing Farm, Bandung

    Get PDF
    Penelitian di Perusahaan Amazing Farm dilakukan bulan Februari hingga Juni 2017. Tujuan umum kegiatan penelitian yaitu mempelajari dan meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial dalam budidaya tomat cherry dan tomat beef. Tujuan khusus dari kegiatan penelitian adalah mengevaluasi kuantitas dan kualitas tomat cherry dan tomat beef dengan sistem hidroponik. Metode yang digunakan adalah metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung dilaksanakan dengan mengikuti dan mengamati kegiatan teknis dalam budidaya tomat di lapangan serta wawancara. Metode tidak langsung dilakukan dengan mengumpulkan data pendukung dari perusahaan berupa  informasi keadaan umum perusahaan, arsip kebun dan studi pustaka. Hasil pengamatan menunjukkan bobot tomat cherry tertinggi yaitu saat panen ke-17 sebesar 166,53 gram/tanaman dan bobot tomat beef tertinggi yaitu saat panen ke-11 sebesar 303,93 gram/tanaman. Semakin bertambah umur panen, semakin menurun bobot tomat dan mutu tomat. Produksi tomat mencapai 50% pada panen ke-19 dari 39 kali panen tomat cherry dan panen ke-17 dari 44 kali panen tomat beef

    Induksi Akar dan Tunas Setek Batang Tanaman Pohpohan (Pilea trinervia Wight) dalam Media Air dengan Perlakuan IBA dan Aerasi

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan aerasi dan hormon pertumbuhan tanaman Indol -3-butiryc acid (IBA) pada induksi tunas dan akar setek Pohpohan (Pilea trinervia Wight.) dalam media air. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Pasir Kuda, Pusat Kajian Holtikultura Tropika (PKHT) IPB pada bulan Juni-Oktober 2016. Penelitian menggunakan rancangan split-plot dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah aerasi terdiri dari dua taraf yaitu aerasi dan tanpa aerasi. Faktor kedua sebagai anak petak adalah IBA dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0.0, 0.5, 1.0, dan 2.0 mg L-1. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan aerasi dan IBA berpengaruh terhadap persentase setek bertunas, jumlah akar, panjang akar, jumlah tunas, dan panjang tunas, namun tidak berpengaruh pada persentase setek hidup dan setek berakar. Kombinasi perlakuan tanpa aerasi dan IBA 0.5, 1.0, dan 2.0 mgL-1 menghasilkan jumlah akar paling banyak

    Pengaruh Jarak Tanam dan Dosis Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Talas Belitung (Xanthosoma sagittifolium (L.))

    Get PDF
    Jarak tanam dan dosis pupuk kalium yang tepat sangat penting diperhatikan dalam budidaya talas belitung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan produksi talas belitung. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan Atas, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, pada bulan Februari sampai Agustus 2016. Rancangan yang digunakan adalah split plot RKLT tiga ulangan. Faktor pertama adalah jarak tanam yang terdiri dari 2 taraf (J1= 1 m x 1 m ; J2= 1 m x 0,5 m) dan faktor kedua adalah dosis pupuk kalium yang terdiri dari 2 taraf (K1= 100 kg ha-1 KCL ; K2= 150 kg ha-1 KCL). Jarak tanam 1 m x 1 m merupakan jarak tanam terbaik untuk pertumbuhan dan produksi talas belitung. Dosis pupuk 150 kg KCL ha-1 merupakan dosis pupuk terbaik untuk pertumbuhan dan produksi talas belitung. Interaksi perlakuan jarak tanam 1 m x 1 m dan dosis pupuk 100 kg ha-1 KCL terbaik untuk pertumbuhan talas belitung

    434

    full texts

    465

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Agrohorti
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇