Buletin Agrohorti
Not a member yet
    465 research outputs found

    Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) Organik dengan Berbagai Dosis dan Cara Aplikasi Pupuk Kandang Kambing

    Get PDF
    Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan sumber protein nabati yang memiliki potensi diproduksi dengan sistem pertanian organik. Tujuan percobaan ini untuk mendapatkan dosis pupuk kandang kambing optimal dan cara aplikasi pupuk yang tepat untuk meningkatkan produksi kedelai organik. Percobaan dilaksanakan di Kebun Cikarawang, Bogor pada bulan April sampai Agustus 2014. Percobaan ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan dua faktor perlakuan terdiri atas dosis pupuk kandang kambing (0, 6, 12, dan 18 ton/ha) dan cara aplikasi pupuk (alur dan sebar) dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengaruh interaksi dosis dan cara aplikasi pupuk sangat nyata pada bobot kering 100 butir biji namun tidak nyata pada produktivitasnya. Jumlah polong isi per tanaman tertinggi (40,6 polong) dari pemberian 18 ton pupuk kandang kambing/ha dengan produktivitas 2,2 ton/ha. Jumlah polong isi per tanaman terbanyak (27 polong) dihasilkan dari cara aplikasi pupuk dalam alur. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disarankan cara aplikasi pupuk alur atau sebar dengan dosis rekomendasi 18 ton pupuk kandang kambing/ha dapat meningkatkan produksi kedelai organik

    Manajemen Pemupukan Organik dan Anorganik Kelapa Sawit di Sekunyir Estate, Kalimantan Tengah

    Get PDF
    Kegiatan penelitian dilaksanakan di Sekunyir Estate, Kalimantan Tengah dari tanggal 9 Februari hingga 8 Juni 2016. Pemupukan kelapa sawit bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga dapat berproduksi optimal. Pemenuhan kebutuhan hara tanaman kelapa sawit dilakukan secara organik dengan memanfaatkan limbah TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) dan anorganik. Biaya pemupukan sebesar 60% dari total seluruh biaya produksi kelapa sawit sehingga perlu manajemen yang baik dalam pengelolaannya. Hasil pengamatan menunjukan bahwa manajemen pemupukan di Sekunyir Estate sudah sangat baik dengan menerapkan konsep efektivitas dan efisiensi. Efektifitas dilihat dari aplikasi pemupukan dengan konsep 4T yaitu tepat (waktu, dosis, jenis dan cara). Efisiensi bertujuan agar penggunaan input produksi dapat sesuai dengan kebutuhan. Sekunyir Estate telah melakukan efisiensi biaya sebesar 60% pada pemupukan anorganik dan 55% pada pemupukan organik. Aplikasi TKKS di Sekunyir Estate tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas dan pengurangan pupuk kalium karena dipengaruhi oleh aplikasi teknis di lapangan. Manajemen pemupukan organik dan anorganik pada kelapa sawit harus dikelola secara baik dan benar agar menghasilkan produksi kelapa sawit yang optimal serta berkelanjutan.

    Keefektifan Konsentrasi dan Jenis Pelarut Tepung Umbi Teki (Cyperus rotundus L.) sebagai Bioherbisida Pratumbuh untuk Pengendalian Gulma Asystasia gangetica (L.) T. Anderson

    Get PDF
    Cyperus rotundus merupakan salah satu jenis gulma yang berpotensi untuk digunakan sebagai bioherbisida pratumbuh. Kandungan metabolit gulma teki Cyperus rotundus terbanyak terdapat pada bagian umbi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keefektifan umbi teki (Cyperus rotundus) sebagai bioherbisida dalam menekan perkecambahan gulma Asystasia gangetica dan mengetahui jenis pelarut dan konsentrasi yang tepat dalam menekan perkecambahan biji gulma Asystasia gangetica. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga November 2016. Penelitian ini terdiri dari 2 percobaan. Percobaan pertama merupakan pengujian ekstrak tepung umbi Cyperus rotundus terhadap perkecambahan gulma Asystasia gangetica dengan menggunakan metode uji di atas kertas. Percobaan kedua merupakan pengujian ekstrak tepung umbi teki Cyperus rotundus terhadap perkecambahan gulma Asystasia gangetica menggunakan media tanah. Percobaan pertama dan kedua menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Perlakuan terdiri jenis pelarut metanol dan aquades, dan konsentrasi 50 g L-1, 100 g L-1, 150 g L-1, 200 g L-1, 250 g L-1 dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung umbi teki Cyperus rotundus mampu menekan perkecambahan gulma Asystasia gangetica pada media kertas. Hasil percobaan ini menunjukkan kecenderungan makin tinggi konsentrasi makin menekan perkecambahan gulma Asystasia gangetica pada media kertas. Kedua jenis pelarut menunjukkan keefektifan yang sama dalam menekan perkecambahan pada media kertas. Tepung umbi teki yang diberikan belum efektif dalam menekan perkecambahan gulma Asystasia gangetica pada media tanah

    Keragaman Populasi F2 Padi (Oryza sativa L.) pada Kondisi Cekaman Suhu Tinggi

    Get PDF
    Pemanasan global menyebabkan dampak negatif, antara lain menurunkan produktivitas padi.Pemuliaan tanaman diharapkan mampu menghasilkan varietas baru tanaman padi yang toleran terhadap cekaman suhu tinggi. Tujuan Penelitian untuk mendapatkan informasi tentang keragaan karakter pertumbuhan genotipe F2 padi dan seluruh tetuanya pada kondisi cekaman suhu tinggi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai Juni 2015. Materi genetik yang digunakan adalah 150 individu segregan F2 yang berasal dari persilangan IPB 4S dan IR64, 20 individu tetua IPB 4S, 20 individu tetua IR64. Semua materi genetik ditanam dalam kondisi tercekam suhu tinggi di rumah kaca Institut Pertanian Bogor. Hasil perhitungan nilai tengah menunjukan beberapa karakter memiliki nilai tengah lebih baik dibandingkan tetua dan terdapat segregan transgresif. Karakter agronomi yang diamati dikendalikan oleh gen aditif, dominan, epistasis duplikat, dan epistasis komplementer. Berdasarkan nilai heritabilitas yang tinggi dan koefisien keragaman genetik yang luas maka karakter panjang malai, persentase gabah bernas per malai, dan bobot gabah per malai contoh dapat dijadikan kriteria seleksi untuk seleksi generasi awal pemuliaan padi toleran cekaman suhu tinggi. Seleksi langsung berdasarkan jumlah gabah bernas per malai dengan intensitas 50% menghasilkan diferensial seleksi 24,7% pada karakter jumlah gabah bernas per malai

    Manajemen Pemangkasan Tanaman Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Unit Perkebunan Tambi, Jawa Tengah

    Get PDF
    Penelitian dilaksanakan di Unit Perkebunan Tambi, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah pada bulan Februari hingga Juni 2017. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi tanaman teh pada waktu menjelang dan setelah pemangkasan, serta aspek teknis pelaksanaan dan pengelolaan pemangkasan. Kriteria-kriteria sebelum dilaksanakan pemangkasan yaitu tinggi tanaman > 110 cm, diameter bidang petik ± 120 cm, dan persentase pucuk burung > 70%. Pengamatan saat pemangkasan yaitu tinggi pangkasan, alat pangkas, tipe/jenis pangkasan, persentase kerusakan cabang, waktu pemangkasan, luas areal pangkasan, jumlah tenaga kerja dan kapasitas pemangkas, serta daur/gilir pangkasan. Pengamatan setelah pemangkasan yaitu pertumbuhan tunas baru. Hasil pengamatan tinggi tanaman sebelum pemangkasan adalah < 110 cm dengan diameter bidang petik < 120 cm, dan persentase pucuk burung > 70%. Produktivitas tertinggi dicapai pada tahun pangkas III dan menurun pada tahun pangkas IV. Tipe atau jenis pangkasan yang dilakukan di UP Tambi adalah pemangkasan bersih menggunakan sabit pangkas. Gilir pangkas di UP Tambi adalah 4-5 tahun. Kerusakan cabang akibat pemangkasan tidak dipengaruhi oleh lama bekerja dan usia tenaga kerja

    Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Jagung Hibrida melalui Aplikasi Pupuk N, P, K dan Bakteri Probiotik

    Get PDF
    Penelitian dilaksanakan Kebun Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Muara, Bogor dan Laboratorium Ilmu  dan Teknologi  Benih,  Departemen  Agronomi  dan  Hortikultura,  Fakultas Pertanian,  Institut  Pertanian Bogor dari bulan November 2016 hingga Mei 2017 dengan rancangan RKLT satu faktor dan tiga ulangan. Faktor  yang  digunakan  adalah  kombinasi  pupuk  N,  P,  K  dan  bakteri  probiotik  yang  terdiri  dari  15  taraf perlakuan yaitu P1N1, P2N1, P3N1, P4N1, P5N1, P1N2, P2N2, P3N2, P4N2, P5N2, P1N4, P2N4, P3N4, P4N4 dan P5N4 dengan keterangan bahwa N1 = kontrol, N2= 75 kg ha-1  Urea, 50 kg ha-1  Sp-36, 25 kg ha-1 Kcl dan N4= 225 kg ha-1, 150 kg ha-1  Sp-36, 75 kg ha-1  Kcl serta P1= kontrol, P2= P24 + AzL7, P3= P24 + AcCKW5, P4= P24 + AzL7 dan P5= P24 + AcCKB20. Bakteri P24 merupakan bakteri golongan Pseudomonas sp. sebagai pelarut fosfat, AzL7 adalah bakteri dari kelas Azotobacter, AcCKB20 dan AcCKW5 bakteri kelas Actinomycetes sp. sebagai penambat nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pupuk N, P, K dan bakteri probiotik mempengaruhi tinggi tanaman dan jumlah daun 2, 4, 6 dan 8 MST serta mempengaruhi diameter batang 4, 6 dan 8 MST. Kombinasi pupuk N, P, K dan bakteri probiotik juga mempengaruhi jumlah tongkol panen, bobot tongkol kupasan, bobot pipilan kering, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol, jumlah baris biji, bobot benih per tongkol, rendemen benih, produktivitas benih serta mempengaruhi indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal dan bobot 1000 butir benih. Perlakuan kombinasi terbaik untuk produksi dan mutu benih jagung hibrida adalah ((bakteri probiotik P24 + AcCKW5(cair 2) dengan dosis Urea 225 kg ha-1, SP-36 150 kg ha-1, KCl 75 kg ha-1

    Induksi Mutasi Fisik pada Paku Bintik (Microsorum punctatum) melalui Iradiasi Sinar Gamma

    Get PDF
    Pemuliaan mutasi dengan iradiasi sinar gamma merupakan salah satu cara dalam meningkatkan keragaman genetik tanaman. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui radiosensitivitas dan nilai LD50 (Lethal dose 50) sinar gamma pada M. punctatum serta mengamati keragaan tanaman M. punctatum hasil iradiasi sinar gamma pada MV1. Nilai LD50 merupakan salah satu parameter untuk mengukur tingkat sensitivitas suatu jaringan terhadap iradiasi. Semakin rendah nilai LD50 suatu jaringan tanaman, semakin tinggi tingkat radiosensitivitasnya, sehingga semakin besar peluang terjadinya mutasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal (dosis iradiasi sinar gamma) dengan 3 ulangan. Iradiasi sinar gamma diberikan terhadap stek rimpang dengan satu daun dari tanaman M. punctatum secara tunggal (acute irradiation) menggunakan Gamma Cell 220 dengan dosis 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 gray. Semua rimpang dengan satu daun hasil iradiasi ditanam di lapangan hingga 16 minggu setelah iradiasi (MSI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian iradiasi sinar gamma pada M. punctatum menghasilkan LD50 sebesar 86,25 gray dan perlakuan iradiasi sinar gamma antar perlakuan berbeda nyata terhadap tinggi dan lebar daun, sedangkan karakter jumlah daun tidak berbeda nyata. Perlakuan iradiasi juga menyebabkan defisiensi warna hijau pada daun M. punctatum. Secara morfologi, perlakuan iradiasi sinar gamma terhadap M. punctatum belum menghasilkan mutan-mutan yang diinginkan, namun secara genetik, terdapat penggandaan jumlah kromosom dan aberasi kromosom pada perlakuan dosis iradiasi tertinggi (50 gray)

    Peranan Pupuk Nitrogen dan Fosfor pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Belum Menghasilkan Umur Tiga Tahun

    Get PDF
    Pada saat ini lahan semakin terbatas untuk ekstensifikasi dalam perluasan lahan perkebunan kelapa sawit, oleh karena itu perlu adanya peningkatkan produktivitas melalui peningkatkan efektivitas dan efesiensi penggunaan pupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon pertumbuhan vegetatif dan produksi terhadap pupuk N dan P, serta menentukan dosis optimal pupuk N dan P pada kelapa sawit umur tiga tahun. Penelitian dilaksanakan di blok I, Kebun Pendidikan dan Penelitian Kelapa Sawit Jonggol IPB-Cargill, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan terpisah yaitu peran pupuk nitrogen dan peran pupuk fosfor . Rancangan percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) satu faktor yaitu dosis pemupukan. Pupuk nitrogen meningkatkan tinggi tanaman, panjang pelepah, lingkar batang, dan luas daun secara quadratik. Dosis optimum pupuk N pada tanaman kelapa sawit umur tiga tahun adalah 572 g N tanaman-1 semester-1. Pupuk fosfor meningkatkan panjang pelepah, lingkar batang, dan kadar unsur hara P pada daun ke-17 secara quadratik. Dosis optimum pupuk P pada tanaman kelapa sawit umur tiga tahun adalah 464 g P2O5 tanaman-1 semester-1.

    Pengaruh Jenis Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Bibit Pepaya (Carica Papaya L. ) Genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh dari tipe-tipe media tumbuh pada semaian benih dan perkecambahan genotipe-genotipe benih pepaya IPB 3, IPB 4 dan IPB 9 serta mengetahui media pertumbuhan yang sesuai untuk pertumbuhan semaian pepaya yang baik dan memiliki bobot yang ringan dalam memudahkan pengangkutan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret hingga September 2011 di rumah kaca FATETA IPB, Leuwikopo Bogor dan kebun percobaan PKBT IPB, Tajur Bogor. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan menggunakan dua faktor. Faktor pertama adalah lima macam media pertumbuhan dengan rasio 2:1:1, yaitu M1 = tanah : pasir : pupuk kandang, M2 = tanah : pasir : arang sekam padi, M3 : tanah :  pasir : cocopeat, M4 = tanah : pupuk kandung : cocopeat dan M5 = tanah : pupuk kandang : arang sekam. Penelitian terdiri dari 15 kombinasi dengan 3 ulangan sehingga ada 45 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkecambahan pepaya yang tertinggi pada media dengan campuran tanah, pupuk kandang dan arang sekam (M5) sebesar 70% dan genotipe IPB 3 (G1) sebesar  70.91%. Media dengan komposisi tanah, pupuk kandang dan arang sekam (M5) dengan rasio 2:1:1 merupakan media terbaik untuk persemaian pepaya yang berumur 6 MST dan memiliki bobot semaian per polibag yang teringan dibandingkan dengan media tanam lainnya untuk memudahkan transportasi bibit

    Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Sei Lukut, Siak, Riau

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Sei Lukut, First Resources Group yang terletak di Desa Maredan Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau dari bulan Maret sampai Juni 2016. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, memperoleh pengalaman dan keterampilan kerja tentang budidaya kelapa sawit khususnya dalam manajemen panen. Pengamatan yang dilakukan meliputi angka kerapatan panen, taksasi panen harian, kapasitas panen, tenaga kerja panen, evaluasi panen, sarana dan prasarana panen, dan manajemen transportasi panen. Kebun Sei Lukut secara umum telah melaksanakan prosedur kerja secara baik pada setiap kegiatan budidaya kelapa sawit seperti pada kegiatan pemanenan. Permasalahan dalam kegiatan panen yang ditemukan di Kebun Sei Lukut yaitu, persentase pemakaian alat pelindung diri yang rendah, dan kapasitas panen masih dibawah standar perusahaan

    434

    full texts

    465

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Agrohorti
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇