Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Uji Daya Hasil Pendahuluan Beberapa Galur Mutan Padi Gogo Situgintung di Lahan Kering
Peningkatan jumlah penduduk setiap tahun menuntut adanya peningkatan produksi padi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Budidaya padi gogo menjadi upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi padi di Indonesia dengan mengoptimalkan penggunaan lahan kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daya hasil dan komponen hasil dari 10 galur mutan padi gogo Situgintung. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi (PRTPR), ORTN-BRIN, Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada bulan Januari hingga Agustus 2023. Penelitian ini menggunakan faktor tunggal yaitu genotipe sebagai perlakuan yang disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan 3 ulangan. Uji beda nyata jujur digunakan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh galur mutan yang diuji memiliki produktivitas yang sama dibandingkan dengan dua varietas pembanding Limboto dan Situgintung, kecuali galur G107 dan G29 yang lebih tinggi dibandingkan kedua varietas pembanding serta galur G229 juga nyata lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Situgintung. Beberapa karakter menunjukkan korelasi positif terhadap produktivitas galur mutan padi gogo, meliputi lebar daun bendera, panjang batang, jumlah anakan produktif, jumlah anakan total, jumlah gabah bernas, persentase gabah bernas, jumlah gabah total, dan kerapatan gabah per malai. Karakter yang berkorelasi negatif terhadap produktivitas adalah persentase gabah hampa.
Kata kunci: padi gogo, galur mutan, produktivita
Efektivitas Aplikasi Pupuk NPK dengan Kandungan Magnesium (14-14-14+1.5MgO) pada Hasil dan Komponen Hasil Jagung Manis
Pemupukan tanaman yang seimbang dalam jangka panjang dapat mempengaruhi produksi tanaman jagung manis secara optimal. Magnesium merupakan unsur hara makro esensial untuk metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan tanaman. Aplikasi pupuk majemuk seperti pupuk NPK dengan penambahan magnesium dapat mengoptimalkan hasil panen serta berkontribusi secara signifikan terhadap ketahanan pangan. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Sawah Baru IPB, Jawa Barat. Percobaan disusun dengan rancangan acak kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan faktor tunggal yaitu dosis pemberian pupuk. Perlakuan disusun dalam 6 taraf aplikasi yaitu: (1) tanpa pemberian pupuk yang diuji (kontrol), (2) pupuk NPK standar sebagai pembanding, (3) 0.5 dosis pupuk uji (0.5 NPK), (4) 0.75 dosis pupuk uji (0.75 NPK), (5) 1.0 dosis pupuk uji (1.0 NPK), (6) 1.5 dosis pupuk uji (1.5 NPK). Percobaan dilakukan dengan empat ulangan sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taraf pemupukan NPK+Mg (14-14-14+1.5MgO) dari 0.75 (P3) sampai dengan 1.50 dosis (P5) secara umum dapat memberikan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot tongkol berkelobot, produksi serta produktivitas yang secara statistik lebih tinggi terhadap perlakuan pembanding (P1). RAE tertinggi mencapai 197.95 % atau 1.98 kali peningkatan hasil dari perlakuan pembanding terhadap kontrol, yang didapatkan pada perlakuan dengan 1.50 dosis NPK (14-14-14+1.5MgO).
Kata kunci: defisit magnesium, efektivitas agronomi relatif, produksi, produktivita
Keragaman Genetik Matoa (Pometia pinnata) menggunakan Penanda Molekuler SSR
Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati dengan berbagai jenis spesies tumbuh-tumbuhan. Keanekaragaman tersebut terdiri dari tanaman buah yang salah satunya berasal dari buah Matoa (Pometia pinnata). Matoa merupakan tanaman dari famili Sapindaceae yang tersebar di wilayah tropis. Tanaman matoa banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional yang diketahui mengandung kelompok senyawa diantaranya flavonoid, tanin, dan saponin. Analisis keragaman genetik matoa menjadi informasi dasar untuk pelaksanaan kegiatan seleksi dan persilangan lanjutan dalam program pemuliaan matoa. Marka mikrosatelit merupakan salah satu metode analisis marka molekuler kodominan. Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan seleksi primer ssr untuk analisis kekerabatan 10 aksesi matoa Dramaga dengan 4 outgrup Pometia pinnata kalimantan melalui pendekatan marka mikrosatelit. DNA diisolasi menggunakan CTAB. Sepuluh primer mikrosatelit yang digunakan adalah Pp.e.6402R(L), Pp.e.66857R(L), Pp.e.80271R(L), Pp.e.89451R(L), Pp.e.115726R(L), Pp.e.161167R(L), Pp.e.186462R(L), Pp.e.187105R(L), Pp.e.238124R(L), Pp.e.287861R(L). Amplifikasi mengacu pada protokol ThermoScientific DreamTaq Green PCR Master Mix. Rata-rata alel yang didapat dari 10 lokus yang diuji ± 2. Ditemukan 1 pasang lokus yang memiliki NA paling rendah yaitu lokus Pp.e.287861R(L) yang memiliki alel 1, dan hanya 2 DNA yang dapat diamplifikasi pada 10 pasang lokus primer yang digunakan, yaitu DNA yang berasal dari aksesi IPBA8, IPBA9.
Kata kunci: alel, genetik, keanekaragaman genetik, marka mikrosatelit, tanaman bua
Manajemen Pemanenan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Langga Payung Estate, Sumatera Utara
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia, karena berperan signifikan sebagai penyumbang devisa negara terbesar. Permintaan pasar kelapa sawit terus meningkat, sehingga penting untuk meningkatkan produksi tanaman. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu memperbaiki cara budi daya, terutama dengan melakukan pemanenan yang baik. Penelitian bertujuan menganalisis aspek dalam pemanenan kelapa sawit. Pengamatan dan pengumpulan data dilakukan dengan menghitung dan mengamati AKP, taksasi produksi, transportasi, kapasitas, teknis, premi, mutu panen, dan sarana prasarana. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji t-student dengan taraf 5%. Pembelajaran aspek teknis meliputi kegiatan pengendalian gulma, pemupukan, penunasan, dan pemanenan. Sistem panen yang digunakan yaitu sistem ancak giring. Rotasi panen dilakukan dengan sistem 6/7, dengan rata – rata frekuensi 3.59 kali dalam waktu 4 bulan. Persentase AKP yang didapatkan sebesar 18% dan taksasi produksi sebesar 10.169 kg. Evaluasi panen yang diamati yaitu mutu buah, mutu ancak, basis, premi, dan denda panen. Mutu buah yang dipanen cukup baik, serta kehilangan hasil sudah memenuhi standar.
Kata kunci: mutu buah, sistem panen, taksasi produksi, transportasi pane
Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelengkeng Umur Satu Tahun
Kelengkeng (Dimocarpus longan L.) merupakan tanaman yang berasal dari daratan Cina sehingga tergolong tanaman sub-tropis. Pada tahun 2022, Indonesia mampu memproduksi kelengkeng mencapai 46.096 ton/tahun. Salah satu alternatif untuk produksi dalam budidaya tanaman adalah menggunakan pupuk hayati. Penggunaan pupuk hayati diharapkan mampu menekan penggunaan pupuk anorganik dan tanaman kelengkeng dapat tumbuh lebih sehat, ramah lingkungan dan berproduksi dengan baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pupuk hayati terhadap pertumbuhan tanaman kelengkeng. Penelitian ini dilakukan pada bulan April - September 2024 di Kebun Pendidikan dan Penelitian Kelapa Sawit IPB-Cargill Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Metode pengumpulan data dilakukan dengan melakukan percobaan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Perlakuan disusun dalam 4 taraf pemupukan pupuk hayati yaitu: (1) kontrol tanpa aplikasi pupuk (P0), (2) pupuk hayati 50 g per tanaman (P1), (3) pupuk hayati 100 g per tanaman (P2), (4) pupuk hayati 200 g per tanaman. Peubah yang diamati adalah diameter batang, tinggi tanaman, jumlah cabang dan tingkat kehijauan daun. Hasil dari penelitian ini adalah pupuk hayati tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kelengkeng.
Kata kunci: budidaya, hortikultura, respons pertumbuhan, tanaman bua
Aplikasi GA3 dan Kinetin untuk Mengurangi Kesenjangan Hasil Cabai Katokkon (Capsicum annuum L. var. chinense)
Produktivitas cabai katokkon perlu ditingkatkan untuk menekan fluktuasi harga cabai rawit, terutama di dataran rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemberian GA3 dan kinetin terhadap pertumbuhan dan hasil cabai katokkon. Percobaan dilaksanakan pada bulan Oktober 2023 hingga Mei 2024 di Kebun Percobaan Leuwikopo, IPB Darmaga, Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor zat pengatur tumbuh (ZPT) yaitu GA3 (0, 100, 200 ppm) dan kinetin (0, 100, 200 ppm). ZPT diaplikasikan melalui semprot daun pada umur 30, 40, dan 50 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinetin 100 ppm meningkatkan jumlah cabang primer, sekunder, dan tersier. Kombinasi kinetin 200 ppm dan GA₃ 200 ppm meningkatkan bobot panen per tanaman sebesar 26.45% pada panen ke-3 dan 96.83% pada panen ke-4 dibandingkan kontrol, meskipun total hasil panen tidak berbeda nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kinetin dan GA₃ berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan percabangan dan hasil awal cabai katokkon. Penggunaan kinetin 100 ppm direkomendasikan untuk meningkatkan percabangan, sedangkan kombinasi kinetin 200 ppm dan GA₃ 200 ppm dapat digunakan untuk meningkatkan hasil panen pada fase awal produksi.
Kata kunci: giberelin, jumlah cabang, produktivitas, sitokinin, zat pengatur tumbu
Efektivitas Pupuk Anorganik (N dan Ca) terhadap Daya Hasil dan Nilai Ekonomi pada Tanaman Cabai
Pemupukan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam budidaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pupuk anorganik (N dan Ca) terhadap hasil dan kelayakan ekonomi pada tanaman cabai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Perlakuan disusun dalam 7 taraf pemupukan: tanpa aplikasi pupuk anorganik cair (P0), pemupukan anorganik cair pembanding (P1), pemupukan 0.50 dosis rekomendasi anorganik (N dan Ca) (P2), pemupukan 0.75 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) (P3), pemupukan 1.00 dosis rekomendasi anorganik (N dan Ca) (P4), pemupukan 1.25 dosis rekomendasi anorganik (N dan Ca) (P5) dan pemupukan 1.50 dosis anorganik (N dan Ca) (P6). Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan 1.00 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) dapat meningkatkan pertumbuhan terhadap peubah jumlah cabang dan jumlah buah dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, perlakuan tersebut meningkatkan komponen hasil dan hasil cabai dibandingkan dengan kontrol. Pemberian 1.00 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) efektif secara agronomi karena dapat meningkatkan hasil sebesar 1.58 kali lipat. Perlakuan 1.00 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) juga efektif secara ekonomi dengan menghasilkan R/C rasio tertinggi dan memberikan keuntungan terbesar. Dosis rekomendasi yang disarankan untuk tanaman cabai adalah 2.0 kg ha-1 per aplikasi pupuk anorganik (N dan Ca).
Kata kunci: dosis rekomendasi, pupuk cair, pupuk majemuk, tanaman hortikultur
Pemantapan Satuan Panas Sebagai Kriteria Panen Terukur Pisang Raja Bulu (Musa sp. AAB Group)
Pisang merupakan buah klimakterik sehingga penting untuk menentukan waktu panen yang tepat dan terukur agar menghasilkan pisang dengan kualitas baik serta daya simpan yang panjang. Penentuan waktu panen terukur dapat dilakukan dengan mengakumulasikan satuan panas yang diterima tanaman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi akumulasi satuan panas 1400 ˚C hari sebagai kriteria panen terukur pisang Raja Bulu. Penandaan bunga yang antesis dilakukan di Kebun Percobaan IPB Sukamantri, Bogor, Jawa Barat (560 m dpl) pada bulan Januari hingga Februari 2023 serta pengujian kualitas buah dilakukan pada bulan April hingga Mei 2023 di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu perbedaan waktu antesis dengan lima perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa akumulasi satuan panas ±1400 ˚C hari setelah antesis kurang tepat untuk dijadikan kriteria panen terukur pisang Raja Bulu untuk menghasilkan umur simpan yang panjang. Akumulasi satuan panas tersebut mampu dicapai pada 99-102 hari setelah antesis dengan daya simpan 8-13 hari setelah antesis. Perbedaan waktu antesis bunga dengan kriteria panen akumulasi satuan panas yang sama secara umum tidak mempengaruhi karakter panen, laju respirasi, kualitas fisik, serta kualitas kimia buah pisang Raja Bulu pada stadia kematangan pascapanen yang sama.
Kata kunci: antesis, kualitas fisik, kualitas kimia, pascapanen, umur simpa
Pengaruh Silika dan Media Tanam terhadap Keberhasilan Aklimatisasi dan Pertumbuhan Planlet Dendrobium violaceoflavens x Dendrobium canaliculatum
Anggrek Dendrobium section Spatulata hasil hibridisasi yang baru dikembangkan di Indonesia adalah Dendrobium violaceoflavens x Dendrobium canaliculatum. Perbanyakan melalui kultur jaringan dapat menjadi salah satu alternatif perbanyakannya, namun metode ini memiliki fase aklimatisasi yang sangat rentan dan sering kali menyebabkan tingkat kematian di atas 50% jika kondisi lingkungan tidak optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh silika dan media tanam pada pertumbuhan Dendrobium violaceoflavens x Dendrobium canaliculatum pada masa aklimatisasi. Unsur silika dipilih karena dapat meningkatkan ketahanan terhadap cekaman pada tanaman. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT) dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi silika (SiO2) dengan empat taraf konsentrasi; 0 g L-1, 0.01 g L-1, 0.02 g L-1 dan 0.03 g L-1. Faktor kedua yaitu perlakuan media tanam sebanyak tiga jenis; spaghnum moss, moss hitam dan sabut kelapa. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan konsentrasi silika tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, kerapatan stomata, ketebalan epidermis dan persentase hidup. Sementara itu, perlakuan berbagai media tanam berpengaruh nyata pada jumlah daun, tinggi tanaman, kerapatan stomata, ketebalan epidermis dan persentase hidup. Media tanam terbaik adalah moss hitam dan sabut kelapa. Interaksi perlakuan konsentrasi silika dan media tanam pada peningkatan ketebalan epidermis dan berpengaruh nyata pada kerapatan stomata.
Kata kunci: anggrek, epidermis, silika, stomat
Panen dan Pasca Panen Bunga Potong Lili (Lilium sp.) di Perusahaan Bianca Lelies, Heerhugowaard, Belanda
Lili (Lilium sp.) merupakan tanaman hias dari famili Liliaceae, bunganya yang indah dan harum. Manfaat lili selain sebagai dekorasi, juga digunakan dalam parfum dan simbol budaya. Perbanyakan melalui umbi, atau stek sisik umbi. Lili tumbuh optimal di lingkungan beriklim sedang hingga dingin. Penanganan panen dan pasca panen yang baik pada bunga potong lili dapat memperpanjang masa hidup sehingga bunga akan sampai di tangan konsumen dengan keadaan segar dan indah. Nilai komersial bunga potong lili dapat dipertahankan lebih lama dengan penyimpanan pada suhu yang tepat. Tujuan percobaan ini adalah mengetahui dan mempelajari pertumbuhan, proses panen dan pascapanen bunga potong lili. Data kuantitatif (numerik) diolah dengan menggunakan rataan, persentase dan standar deviasi, uji t-student taraf α=5%, uji f, dan uji lanjut DMRT (Duncan’s Multiple Range Test). Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis deskriptif P. Pengamatan percobaan dilakukan terhadap empat varietas lili yang diproduksi oleh Bianca Lelies yaitu Arletta, Canberra, Helvetia, dan Tisento. Terdapat perbedaan nyata tinggi tanaman, terlihat pada varietas Helvetia nyata lebih pendek dibanding varietas lainnya. Perbedaan sangat nyata panjang kuntum ditunjukkan pada varietas Canberra, antara tanaman yang berasal dari umbi berukuran perimeter 16-18 cm dan 14-16 cm. Penyimpanan 2 x 24 jam pada penyimpanan suhu rendah (2-3 °C) memberi pengaruh nyata terhadap masa hidup bunga lili yaitu memperlambat kemunduran fisik lebih dari satu hari.
Kata kunci: lili, kriteria panen, masa hidup, penyimpanan suhu renda