TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
Not a member yet
    225 research outputs found

    CURRICULUM ANALYSIS TEACHER PROFESSIONAL EDUCATION PROGRAM (PPG) OF ISLAMIC EDUCATION IN INDONESIA

    No full text
     Abstract The existence of Professional Teacher Education program (PPG) becomes a demand after the Law of Teachers and Lecturers (UU G-D) requires professional teachers to have an educator certificates. Professional education contains practical activities of applying academic educational ability in professional activities of teachers in schools along with systematic supervision mechanisms and in a relatively adequate time (at least one year or two semesters). The substance of the Teacher Professional program curriculum rests on the accommodation of teachers\u27 competence, pedagogic, professional, personal, and social. The demands of the teacher\u27s competence spawned several offers of learning expenses that became a person\u27s reinforcement to become a professional teacher, whether related to the content of teaching materials or the strengthening of teaching skills. The structure of the PPG program curriculum contains workshops on learning tool development, teaching exercises through micro teaching- learning, peer learning, and field experience programs (PPL), and pedagogy enrichment programs. Abstrak Keberadaan Program Profesi Guru (PPG) menjadi tuntutan setelah UU G-D mempersyaratkan guru profesional memiliki sertifikat pendidik. Pendidikan profesi berisi kegiatan praktik menerapkan kemampuan akademik kependidikan dalam kegiatan profesional guru di sekolah disertai mekanisme pembimbingan dan supervisi yang sistematis dan dalam waktu yang relatif memadai (sekurang-kurangnya satu tahun atau dua semester). Substansi kurikulum Program Profesi Guru (PPG) bersandar pada akomodasi tuntutan kompetensi guru, yakni pedagogik, professional, personal, dan  sosial. Tuntutan kompetensi guru tersebut melahirkan beberapa tawaran beban belajar yang menjadi penguat seseorang menjadi guru professional, apakah terkait dengan konten  materi ajar atau penguatan teaching skill. Struktur kurikulum program PPG berisi lokakarya pengembangan perangkat pembelajaran, latihan mengajar melalui pembelajaran mikro, pembelajaran pada teman sejawat, dan program pengalaman lapangan (PPL), dan program pengayaan bidang studi dan/atau pedagogi. How to Cite : Fauzan., Bahrissalim. (2017). Curriculum Analysis Teacher Professional Education Program (PPG) of Islamic Education in Indonesia. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 4(2), 148-161. doi:10.15408/tjems.v4i2.6400. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v4i2.640

    Front Metter

    No full text

    The Influence of E-Learning Model Web Enhanced Course to Conceptual Understanding and Self Regulated Learning in Mathematics for Elementary School Students

    No full text
    Abstract This study is aimed to analyze students’ conceptual understanding and their self-regulated learning in mathematics between students who are treated using the e-learning model web enhanced course and those who are taught with the power point and to find out the appropriate e-learning design in learning math for elementary school. This study was conducted through quasi-experiment with a pre test-post test control group design. The population of this study is all of the 5thgrade students of private Islamic Elementary School (MI) in Jakarta, while the sample is taken from two classes of the population. The instruments used in this study are the essay, questionnaire, and observation sheet. The results showed that 1) students’ conceptual understanding of mathematics using e-learning model web enhanced course is better than students who get the learning using power point, 2) students’ self-regulated learning treated using e-learning model web enhanced course is better than students’ who get the learning using power point, 3) e-learning design that fits in the learning of mathematics in primary schools is e-learning design, incorporating text, images, and animations as well as providing convenience for group discussion. Based on these results it can be concluded that the e-learning web-enhanced model affects the conceptual understanding of mathematics and self-regulated learning of elementary school students.   Abstrak Studi ini bertujuan untuk menganalisa pemahaman konseptual siswa dan pembelajaran mandiri dalam matematika antara siswa yang diperlakukan menggunakan pembelajaran berbasis internet dan siswa yang diajarkan menggunakan power point dan untuk menemukan bentuk pembelajaran berbasis internet yang tepat dalam pembelajaran matematika untuk sekolah dasar. Studi ini diadakan melalui quasi-experiment dengan bentuk pre test dan post test. Populasi studi ini adalah seluruh siswa kelas 5 MI di Jakarta, sedangkan sampel diambil dari dua kelas dari keseluruhan populasi. Instrument yang digunakan dalam studi ini adalah essay, questionnaire, dan lembar observasi. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa 1) pemahaman konseptual siswa dalam matematika dengan menggunakan pembelajaran berbasis internet lebih baik dari pada siswa yang belajar menggunakan power point, 2) pembelajaran mandiri siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis internet lebih baik dari pada siswa yang belajar menggunakan power point, 3) bentuk pembelajaran berbasis internet yang cocok dalam belajar matematika untuk sekolah dasar adalah bentuk pembelajaran berbasis internet, memasukan teks, gambar, dan animasi senyaman mungkin untuk diskusi kelompok. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis internet mempengaruhi pemahaman konseptual pelajaran matematika dan pembelajaran mandiri siswa sekolah dasar.   How to Cite : Arifin, F. Herman, T. (2017). The Influence of E-Learning Model Web Enhanced Course to Conceptual Understanding and Self Regulated Learning in Mathematics for Elementary School Students. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 4(1), 45-52. doi:10.15408/tjems.v4i1.5536. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v4i1.553

    The Influence of Parents’ Parenting and Emotional Quotient on Students’ Social Skills

    No full text
    Abstract This research aims at knowing and finding empirical data about the influence of independent variables, i.e., parenting and emotional quotient on students’ social skills as a dependent variable.This study employed a quantitative research design in the form of ex-post-facto or causal comparative with the 3x2 factorial design. The method used to collect the data was surveyed with a questionnaire. The data were analyzed by using two-way analysis of variance. The samples are 172 students of the elementary school in Mustika Jaya Bekasi. The result of this research showed that the social skills gained by the students with democratic parenting on average were highest among others. Further, the students having high emotional quotient showed better social skills compared to those with low emotional quotient. The students raised with democratic parenting both with high and low emotional quotient earned the highest social skills. Students with high emotional quotient nurtured by permissive parenting showed better social skills than those raised by authoritarian parenting. In contrast, students with low emotional quotient raised with authoritarian parenting produced better social skills than those nurtured by permissive parenting. So, there is the influence of parenting and emotional quotient on students’ social skills at 6th Grade of elementary schools in Mustika Jaya Bekasi District. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menemukan data empiris tentang pengaruh variabel bebas, yaitu pola asuh dan kecerdasan emosional terhadap ketrampilan sosial siswa sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dalam bentuk kompresif faktual atau komparatif kausal dengan 3x2 desain faktorial. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah survei dengan kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan analisis varian dua arah. Sampelnya adalah 172 siswa sekolah dasar di Mustika Jaya Bekasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan sosial yang diperoleh siswa dengan pola asuh demokratik rata-rata paling tinggi. Selanjutnya, siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi menunjukkan kemampuan sosial yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang memiliki kecerdasan emosional rendah. Para siswa yang diangkat dengan pola asuh demokratis baik dengan kecerdasan emosional tinggi maupun rendah memperoleh keterampilan sosial tertinggi. Siswa dengan kecerdasan emosional tinggi yang dipelihara dengan pola asuh permisif menunjukkan kemampuan sosial yang lebih baik daripada yang diangkat oleh pola asuh otoriter. Sebaliknya, siswa dengan kecerdasan emosional rendah yang diangkat dengan pola asuh otoriter menghasilkan keterampilan sosial yang lebih baik daripada yang dipelihara oleh pola asuh permisif. Jadi, ada pengaruh parenting dan emotional quotient terhadap keterampilan sosial siswa di kelas 6 SD di Mustika Jaya Kabupaten Bekasi.Kata kunci: orangtua orangtua, kecerdasan emosi, keterampilan sosial. How to Cite : Masyithoh, S. (2017). The Influence of Parents’ Parenting and Emotional Quotient on Students’ Social Skills. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 4(1), 32-44  doi:10.15408/tjems.v4i1.5901. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v4i1.590

    THE CORRELATION BETWEEN EFL LEARNERS’ MOTIVATION ON ENGLISH COURSE AND THEIR ENGLISH LEARNING ACHIEVEMENT

    No full text
    Abstract A Study has been conducted to examine the correlation between EFL learners’ motivation on English course (X) and their English learning achievement (Y). A mixed method design used in this study. Instruments of this research were observation, questionnaire, document, and interview. Quantitative method used to measure the correlation between two variables. 30 higher students of the public school have involved in this study. The result showed that the correlation between EFL learners’ motivation on English course and their English score. Even though the correlation was positive, but it was low and not significant. Meanwhile, The investigation found five explanations. First, in some cases, the method that teacher used for learning activity was not suitable with the students’ condition. Second, most students felt difficulty with grammatical structure. Third, students would understand the material if they felt interesting with their teacher and materials. If they didn’t feel comfortable with both of those things, they would not understand the material at all. Forth, they didn’t have high curiosity because they were not remembered about the material explanation from their tutor on English course in the next day. It means that they were not learned it again at home. Fifth, 43% of students would rather to studying with their teacher at school than at English course. 36% of students would rather to studying with their teacher at courses that at school because they felt more understand learning at English course and 21% of samples were abstained.  Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menguji korelasi antara motivasi peserta didik bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) dalam mengikuti kursus bahasa Inggris (X) dan prestasi belajar bahasa Inggris mereka di sekolah (Y). Desain metode campuran digunakan dalam penelitian ini. Instrumen penelitian ini adalah observasi, kuesioner, dokumen, dan wawancara. Metode korelasi digunakan untuk mengukur hubungan antar dua variabel. 30 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) terlibat sebagai sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan ada korelasi antara motivasi peserta didik EFL terhadap nilai bahasa Inggris mereka. Meskipun hasil menunjukan adanya hubungan yang positif namun rendah dan tidak signifikan. Hasil investigasi menemukan lima temuan. Pertama, dalam beberapa kasus, metode yang digunakan guru untuk kegatan belajar tidak sesuai dengan kondisi siswa. Kedua, kebanyakan siswa merasa kesulitan dalam memahami stuktur gramatika dalam bahasa Inggris. Ketiga, siswa akan memahami materi jika mereka merasa tertarik dengan guru dan bahan ajarnya. Jika mereka tidak merasa nyaman dengan kedua hal tersebut, merek tidak akan memahami materi sama sekali. Keempat, mereka tidak memiliki keingintahuan yang tinggi karena mereka tidak ingat penjelasan materi dari tutor mereka pada saat kursus bahasa inggris dihari berikutnya. Artinya mereka tidak mempelajarinya lagi dirumah. Kelima, 43% siswa memilih untuk belajar dengan guru mereka disekolah, 36% siswa memilih belajar dengan tutor di tempat kursus mereka, dan 21% tidak memilih keduanya.  How to Cite : Apriliyanti, D. L., Darliani. Y. (2017). The Correlation Between EFL Learners’ Motivation on English Course and Their English Learning Achievement. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 4(2), 232-239. doi:10.15408/tjems.v4i2.6401. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v4i1.6401

    The Ethics of Non-Therapeutic Male Circumcision Under Islamic Law

    No full text
    Abstract This qualitative research is a philosophical review about analyzing how circumcision can (cannot) be morally justified. It is typically assumed among Muslims that circumcision is mandatory according to Islamic law (Sharia). However, in this paper, I will argue that this is not clear in Islamic texts. Because firstly there is no textual evidence in the Quran about this matter and secondly permissibility of circumcision is not an agreed topic among Muslim scholars. This entails that circumcision is not a necessary part of being a Muslim. Although this idea seems idiosyncratic according to the majority of Muslims, I’m inclined to emphasize that we should not marginalize this idea, rather we have to support it for educational prosperity in Muslim communities. But perhaps more importantly this paper helps to introduce new Muslim intellectuals’ argument that moral reasoning is independent from (and even superior to) Islamic law. Since we do not have ultimate and decisive secular reason (e.g., medical reason) against male circumcision in every occasion, therefore, morally speaking, I believe it is not reasonable to say that male circumcision is always wrong. Muslims who support male circumcision still can find some secular reasons to defend this from their cultural identity. Abstrak Penelitian kualitatif ini merupakan tinjauan filosofis yang bertujuan menganalisis bagaimana sunat dapat atau tidak dapat dibenarkan secara moral. Ummat Muslim beranggapan bahwa hukum sunat adalah wajib menurut hukum Islam (Syariah). Akan tetapi, dalam tulisan ini, saya akan berargumen bahwa belum ada penjabaran yang pasti perihal asal hukum wajib pada sunat ini dalam Islam. Argumen ini memiliki dua alasan. Alasan pertama adalah tidak ada bukti tertulis dalam Al Qur\u27an tentang asal hukum wajib sunat ini dan alasan kedua adalah pembolehan sunat bukanlah topik yang disepakati di antara para cendikia Muslim. Atas dasar tersebut, keadaan yang mensyaratkan seseorang untuk sunat bukanlah hal yang wajib untuk menjadi seorang Muslim. Meskipun gagasan ini tampaknya idiosynkratik menurut mayoritas umat Muslim, saya menekankan bahwa kita tidak boleh menyisihkan gagasan ini, tetapi kita harus mendukungnya untuk kemakmuran pendidikan di komunitas Muslim. Kendati demikian mungkin yang lebih penting lagi bahwa tulisan ini membantu untuk memperkenalkan argumen intelektual Muslim yang baru bahwa penalaran moral adalah independen dari (dan bahkan lebih tinggi dari) hukum Islam. Karena kita tidak memiliki alasan kuat dan alasan sekuler (seperti alasan medis) terhadap sunat pada laki-laki didalam setiap keadaan. Kendati demikian, secara moral, saya percaya bahwa tidak beralasan untuk mengatakan bahwa sunat laki-laki itu selalu salah. Muslim yang mendukung sunat pada laki-laki masih dapat dilakukan dengan menemukan beberapa alasan sekuler untuk mempertahankan kegiatan sunat dari identitas budaya ummat muslim.  How to Cite : Dabbagh, H. (2017). The Ethics Of Non-Therapeutic Male Circumcision Under Islamic Law: A Lesson For Educational Prosperity In Muslim Communities  . TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 4(2), 216-223. doi:10.15408/tjems.v4i2.6017. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v4i2.6017

    SOCIALLY RESPONSIBLE UNIVERSITY: PERSPECTIVES OF UNIVERSITY’S TOP MANAGEMENT LEADERS

    No full text
    Abstract Carnegie Foundation for Advancement of  Teaching described UCE as the “collaboration between higher education institutions (HEIs) and their larger communities (local, regional or state, national, and global) for the mutually beneficial exchange of knowledge and resources in a context of partnership and reciprocity.”  Thus the term socially responsible university was proposed by Teichler (2017) which refers to the need for a university to be relevant to the society and that “the university has to pay attention as well that it serves the generally agreed function of generating, preserving and disseminating knowledge appropriately.”  However, this function is the least emphasized by the university community and in criteria for promotion.  This Article examines the nature of and the factors affecting universities’ engagement with their communities from the multiple perspectives of top management leaders of the university.  Specifically, the research sought to access views on UCE and explores cultural and institutional barriers to involvement, and levels of recognition, support, and reward for community engagement. The article highlights the two perspectives from the respondents; their beliefs of what is currently occurring in their universities and their views on what ought to be occurring. Abstrak Carnegie Foundation for Advancement of Teaching (Yayasan Carnegie untuk Kemajuan pengajaran) menggambarkan university-community engagement (UCE) sebagai "kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi (HEIs) dan komunitas mereka yang lebih besar (lokal, regional atau negara, nasional, dan global) untuk pertukaran pengetahuan dan sumber daya yang saling menguntungkan dalam konteks kemitraan dan timbal balik.” Dengan demikian istilah universitas yang bertanggung jawab secara sosial diusulkan oleh Teichler (2017) yang mengacu pada perlunya sebuah universitas menjadi relevan dengan masyarakat dan bahwa “universitas harus memperhatikan dalam melayani fungsi yang disepakati bersama untuk menghasilkan, melestarikan dan menyebarkan pengetahuan dengan tepat.” Namun, fungsi ini paling tidak ditekankan oleh komunitas universitas dan dalam kriteria untuk promosi. Artikel ini mengkaji sifat dan faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan universitas dengan komunitas mereka dari berbagai perspektif pimpinan manajemen puncak pada universitas. Secara khusus, penelitian ini berupaya untuk mengakses pandangan tentang UCE dan mengeksplorasi hambatan budaya dan kelembagaan untuk keterlibatan, dan tingkat pengakuan, dukungan, dan penghargaan untuk keterlibatan masyarakat. Artikel ini menyoroti dua perspektif dari responden; keyakinan mereka tentang apa yang sedang terjadi di universitas mereka dan pandangan mereka tentang apa yang seharusnya terjadi.How to Cite : Md.Yunus, A. S., Azman, N. Rahman, S. A. (2017). Socially Responsible University: Perspectives of University’s  Top Management Leaders. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 4(2), 128-147. doi:10.15408/tjems.v4i2.8008. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v4i2.800

    The Program of Teachers’ Accompaniment on the Learning of Science at Madrasah Ibtidaiyah

    No full text
    Abstract The program of USAID PRIORITAS has a follow-up activity in form of accompaniment program. The accompaniment is committed to ensure that the teachers apply the training results. One of the accompaniments is carried out at MI Al Misbah Cipadung Bandung to apply module 3 related to skills of science. Focus of the accompaniment is to observe the feasibility of accompaniment activities, examine students’ skills in doing an experiment and making an experimental report. Data are acquired through observation and assessment rubric. The results of observation show that the teachers carry out six observed aspects, (setting of students’ seats, teachers’ role as facilitator, serving individual difference, paying attention to gender, the learning using the scientific approach, and students’ works), while the aspect of assessment of authenticity and literacy is not carried out. The average of students’ skills in carrying out and writing down the experiment belongs to good category.Abstrak Program USAID PRIORITAS memiliki aktifitas tindak lanjut berhubungan dengan pendampingan guru. Program pendampingan dibuat untuk memastikan para guru mengaplikasikan hasil pelatihan. Salah satu bentuk pendampingan dilaksanakan di MI Al Misbah Cipadung Bandung untuk mengaplikasikan modul 3 yang berhubungan dengan kemampuan sains. Focus dari pendampingan adalah mengobservasi kemungkinan dilaksanakan kegiatan-kegiatan pendampingan, menguji kemampuan siswa dalam melakukan eksperimen dan menuliskan hasilnya. Data didapatkan melalui observasi dan penilaian berdasar rubric. Hasil observasi menunjukkan bahwa para guru memiliki enam aspek, (mengatur tempat duduk siswa, guru sebagai fasilitator, memahami perbedaan individu, memperhatikan perbedaan gender secara merata, pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, dan kerja siswa), di sisi lain otentisitas penilaian dan kemampuan literasi tidak digunakan. Rata-rata kemampuan para siswa dalam melakukan dan menuliskan hasil eksperimen berada pada tahapan baik.How to Cite : Nuryantini, A., Y. Wiana, R. Septia, E., C., S. (2016). The Program of Teachers’ Accompaniment on the Learning of Science at Madrasah Ibtidaiyah. TARBIYA: Journal Of Education In Muslim Society, 3(2), 140-147. doi:10.15408/tjems.v3i2.4672. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i2.467

    Back Matter

    No full text

    The Utilization of Media in the Learning Process of Environmental Education for Building Awareness of the Elementary Students

    No full text
    Abstract Environment Education (or the Pendidikan Lingkungan Hidup-PLH) is expected to be one of the instruments that can raise the awareness of students in communicating with nature. Therefore, the teaching method is very important in delivering this material, so PLH will be interesting for students and achieving optimum results. This paper will demonstrate the results of Problem Based Learning by using certain media, including Story Telling Method, Role Play Method, Outdoor Learning Method, and Kamishibai Card Method in the learning process of PLH in 4 schools at Balikpapan, Bandung and Medan. The result shows that utilization of media as the methods  in PLH will be more easily understood by the students. Abstrak Pendidikan Lingkungan (atau Pendidikan Lingkungan Hidup-PLH) diharapkan bisa menjadi salah satu instrumen yang dapat meningkatkan kesadaran siswa dalam berkomunikasi dengan alam. Oleh karena itu, metode pengajaran sangat penting dalam menyampaikan materi ini, sehingga PLH akan menarik bagi siswa dan mencapai hasil yang optimal. Makalah ini akan menunjukkan hasil Pembelajaran Berbasis Masalah dengan menggunakan media tertentu, termasuk Metode bercerita, Metode Bermain Peran, Metode Pembelajaran Luar Ruangan, dan Metode Kartu Kamishibai dalam proses pembelajaran PLH di 4 sekolah di Balikpapan, Bandung dan Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media sebagai metode PLH akan lebih mudah dipahami oleh siswa. How to Cite : Rachman, I. Matsumoto, T. Kodama, Y. Hadi D., A. (2016). The Utilization of Media in the Learning Process of Environmental Education for Building Awareness of the Elementary Students. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 3(2), 158-167. doi:10.15408/tjems.v3i2.5423. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i2.542

    21

    full texts

    225

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇