JURNAL CITA HUKUM
Not a member yet
403 research outputs found
Sort by
The Dynamics of The Democratic Process In Legal Politics In Indonesia And Egypt
AbstractThe implementation of democratic systems in several Muslim countries has obstacles. This is due to the development of people\u27s thinking patterns about understanding democracy itself. Islam as a religion emphasizes the establishment of harmonious relations, but when applying the relationship of Islam and democracy in the life of the state does not necessarily be smooth at the level of practice. But on the other hand, It faced with the reality of the problems in implementing democratization in the Islamic world. Some countries claimed to succeed as democratic countries, generally after going through a transition period of transfer of government power. But on the contrary, not a few countries that have not or are not ready to accept change as a process of democratization are trapped in the struggle for power and lead to conflict and violence. Therefore it is important to discuss the challenges and obstacles of democratization in the Islamic world. With a normative-empirical approach, this article aims to analyze the problems of the democratization process in two Muslim countries, namely Indonesia and Egypt. This study found that the process of democratization as a part of the legal-political system in Muslim countries must adapt to the culture and political conditions of each country. The challenges of the democratization process in Indonesia and Egypt, namely the media, ideology, natural resources, common vision and mission in developing the country, strong commitment from all components of the nation, the political will of the head of state related to power-sharing and strengthening dialogue with the people.Keywords: Democracy, Muslim Countries, Conflict of Power, Legal Politics Abstrak Penerapan sistem demokrasi di beberapa negara muslim memiliki kendala. Hal ini disebabkan semakin berkembangnya pola pemikiran masyarakat mengenai pemahaman demokrasi itu sendiri. Islam sebagai agama yang menitikberatkan kepada terjalinnya hubungan yang harmonis dalam kehidupan bernegara, namun ketika menerapkan hubungan Islam dan demokrasi dalam kehidupan bernegara tidak serta merta mulus pada tataran praktiknya. Idealnya sebuah negara yang menjalankan sistem demokrasi memiliki tingkat partisipasi masyarakat yang kian meningkat dalam turut serta membangun negara. Namun di sisi lain dihadapkan pada realitas adanya problematika dalam menerapkan demokratisasi di dunia Islam. Ada negara yang diklaim berhasil sebagai negara demokratis, umumnya setelah melewati masa-masa transisi perpindahan kekuasaan pemerintahan. Namun sebaliknya, tidak sedikit negara yang belum atau tidak siap menerima perubahan sebagai proses demokratisasi justru terjebak dalam perebutan kekuasaan dan berujung kepada konflik dan kekerasan. Oleh karena itu penting untuk dibahas tentang apa saja tantangan dan hambatan demokratisasi di dunia Islam. Dengan pendekatan normatif-empiris, artikel ini bertujuan untuk menganalisa problematika proses demokratisasi di dua negara Muslim yaitu Indonesia dan Mesir. Studi ini menemukan bahwa proses demokratisasi yang merupakan bagian dari sistem politik hukum di negara muslim haruslah menyesuaikan dengan kultur dan kondisi politik masing-masing negara tersebut.Kata Kunci: Demokrasi, Negara Muslim, Media, Konflik Kekuasaan, sistem hukum ketatanegaraan АннотацияВнедрение демократической системы в нескольких мусульманских странах сталкивается с препятствиями. Это связано с развитием у людей образов мышления в отношении понимания самой демократии. Ислам, как религия, подчеркивает установление гармоничных отношений в государственной жизни, однако практически применение исламских и демократических отношений в жизни государства не обязательно гладко. В идеале страна, в которой действует демократическая система, дожна иметь все более высокий уровень участия общественности в строительстве страны. Однако, с другой стороны, существуют проблемы в применении демократизации в исламском мире. Есть страны, которые считаются успешными как демократические страны, как правило, после завершения переходного периода передачи государственной власти. Напротив, многие страны, которые не готовы или не готовы принять перемены как процесс демократизации, попадают в ловушку борьбы за власть и приводят к конфликтам и насилию. Поэтому важно обсудить, какие существуют проблемы и препятствия на пути демократизации в исламском мире. Данная статья с нормативно-эмпирическим подходом направлена на анализирование проблем процесса демократизации в двух мусульманских странах, а именно Индонезии и Египте. Это исследование показывает, что процесс демократизации, который является частью правовой политической системы в мусульманских странах, должен адаптироваться к культуре и политическим условиям каждой страны.Ключевые слова: Демократия, Мусульманское Государство, Сми, Конфликт Власти, Конституционно-Правовая Система
Understanding the Rights of Wife in The Law Number 1 of 1974 About Marriage Among the Terrorist Wives in Central Java
AbstractThe terrorist or ex-terrorist wives in Solo Central Java have experienced diverse conditions after their husband officially becomes a terrorist prisoner. The Rights of Wife in Law No. 1 of 1974 about Marriage among terrorist wives in Solo have sharpened the analysis on how their level of perception of the wife rights that regulated by Law No. 10 of 1974. This study aims to reveal the reality of cases that take place with terrorist wifes related to the fulfilment of their rights as a wife regulated by law, and to categorize their marital status related to the validity in a positive law (whether the marriage is registered or not in The Office of Religious Affairs/KUA). Besides, this paper also wants to explore the terrorist wife’s understanding who are legally married in KUA regarding their rights which are highly protected by the law. This research uses a qualitative method which aims to find concept and theory, and library research by applying the empirical or sociological legal approach. Data used are Primary Data, namely the terrorist prisoner’s wives in Solo Central Java, and secondary data from the Marriage Law (Law No. 1 of 1974), Compilation of Islamic Law (KHI), books, journals, articles, doctrine of legal experts, and the result of other papers and research related to the problem that become the subject in this research discussion. After analyzing and interpreting the existing data, it can be concluded that the terrorist prisoner wives in Solo Central Java have a fairly good understanding of their rights as wives regulated in Law No. 1 of 1974. If there are rights that unfulfilled by the husband, they will accept as sincerity attitude towards the husband status who becomes a prisoner. Keywords: Understanding, wife\u27s rights, Terrorist Prisoner’s Wives AbstrakPara istri teroris atau mantan teroris di Solo telah mengalami kondisi yang beragam setelah suami mereka secara resmi menjadi tahanan teroris yang telah tinggal di penjara. Hak-Hak Istri dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan di antara istri-istri teroris di Solo telah mempertajam analisis tentang bagaimana tingkat persepsi mereka tentang hak-hak istri yang diatur oleh UU No. 10 tahun 1974. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kenyataan dari kasus-kasus yang terjadi dengan istri-istri teroris terkait dengan pemenuhan hak-hak mereka sebagai seorang istri yang diatur oleh hukum, dan untuk mengkategorikan status perkawinan mereka terkait dengan validitas dalam hukum positif (apakah pernikahan terdaftar atau tidak di Kantor Urusan Agama (KUA)). Selain itu, makalah ini juga ingin mengeksplorasi pemahaman istri teroris yang menikah secara resmi di KUA tentang hak-hak mereka yang sangat dilindungi oleh hukum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk menemukan konsep dan teori, dan penelitian kepustakaan dengan menerapkan pendekatan hukum empiris atau sosiologis. Sumber data yang digunakan adalah Data Primer, yaitu istri-istri tahanan teroris di Solo, dan data sekunder dari UU Perkawinan (UU No. 1 tahun 1974), Kompilasi Hukum Islam (KHI), buku, jurnal, artikel, pandangan ahli hukum, dan hasil tulisan dan tulisan lain yang berkaitan dengan masalah yang menjadi subjek dalam diskusi penelitian ini. Setelah menganalisis dan menafsirkan data yang ada, dapat disimpulkan bahwa para istri napi teroris di Jawa Tengah memiliki pemahaman yang cukup baik tentang hak-hak mereka sebagaimana para istri diatur dalam UU No. 1 tahun 1974. Jika saja ada hak yang tidak dijamin oleh mereka untuk kewajiban yang tidak terpenuhi oleh suami, maka itu disebabkan oleh sikap ketulusan mereka terhadap status suami yang menjadi tahanan.Kata Kunci: Pemahaman, hak-hak istri, Istri Tahanan Teroris АннотацияЖены террористов или бывших террористов в городе Соло оказались в разных условиях после того, как их мужья официально стали заключенными террористами. Права жены в Законе № 1 1974 года о браке жен террористов в Соло уточнили с помощью анализа их уровня восприятия о правах жены, которые регулируются Законом № 10 1974 года. Цель этого исследования - раскрыть реальные случаи, которые имели место с женами-террористами, связанные с реализацией их прав в качестве жены, регулируемых законом, и для классификации их семейного положения, связанного с действительностью в позитивном праве (независимо от того, зарегистрирован брак или нет в Управлении по Делам Религии (KUA)). Кроме того, данная статья также исследует понимание жен террористов, которые состояли в законном браке в KUA относительно их прав, которые защищены законом на высоком уровне. В этом исследовании используется качественный метод, нацеленный на поиск концепций и теорий, а также литературные исследования с применением эмпирического или социологического правового подхода. Используемые источники данных: первичные данные, а именно жены заключенных террорисов в Соло, и вторичные данные из Закона о браке, Сборник Исламского Права (KHI), книги, журналы, статьи, мнения экспертов по правовым вопросам, и результаты других работ и статей, связанных с проблемами, которые являются предметом этой научной дискуссии. После анализа и интерпретации существующих данных можно сделать вывод о том, что жены заключенных террористов на Центральной Яве достаточно хорошо понимают свои права как жен, регулируемых Законом № 1 от 1974 года. Если только существуют права, которые они подделывают для невыполненных обязательств мужа, то это обусловлено их искренним отношением к статусу мужа, который становится заключенным.Ключевые слова: Понимание, Права жены, Жены заключённых террористо
The Anti-Corruption Education on the Basis of Religion and National Culture
AbstractActs of corruption have harmed many people and even tortured themselves. Corruption precaution through education way is considered not effective and encouraging since it could not eradicate corruption act which was committed by each layer of society even from educated to regular people. Moreover, it is not sufficient enough vanished with the law approach and enforcement. This study is empirical qualitative research conducted through a literature review and social reconstruction approach. Specifically, the study explains how the concept of visible anti-corruption character education on religious and national culture-based utilized as a strategic step to instill anti-corruption education among students. The results revealed that the embedding and developing students must be built upon faith and piety to Allah SWT, the optimal noble character, and being settled to the family environment. The learning concept of this notion is varied and arranged systematically, comprehensively, and proportionally according to the percentage of proposed effectiveness.Keywords: Anti-Corruption Education, Religion & National Culture AbstrakPerbuatan korupsi telah merugikan banyak kalangan dan menyengsarakan diri sendiri. Pencegahan korupsi melalui jalur pendidikan dinilai belum efektif dan menggembirakan, karena belum dapat memberantas korupsi yang dilakukan oleh lapisan masyarakat, bahkan kalangan terpelajar sampai keakar-akarnya. Pemberantasan korupsi ternyata tidak cukup pula dengan pendekatan dan penegakan hukum. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif empiris dengan pendekatan telaah literatur dan rekonstruksi sosial. Penelitian ini menjelaskan bagaimana konsep pendidikan karakter antikorupsi berbasis agama dan budaya bangsa yang visibel, sebagai langkah strategis untuk menanamkan pendidikan antikorupsi di kalangan pelajar. Hasil penelitian menjelaskan, bahwa penanaman dan pengembangan peserta didik harus berlandaskan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkarakter (berakhlak mulia) secara optimal, dan telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga. Konsep pembelajarannya variatif dan disusun secara sistematis, komprehensif dan proporsional sesuai persentase efektifitas yang akan dicapai.Kata Kunci: Pendidikan Anti Korupsi, Agama & Budaya Bangsa АннотацияКоррупция нанесла вред многим людям. Предотвращение коррупции с помощью образования считается неэффективным и безнадежным, поскольку оно не смогло искоренить коррупцию, которая привержена обществом к своим корням. Оказывается, одного подхода и правоохранительных органов недостаточно для искоренения коррупции. Эта работа представляет собой качественно-эмпирическое исследование с подходом обзора литературы и социальной реконструкции. Это исследование объясняет, каким образом концепция антикоррупционного воспитания, основанная на религии и видимой национальной культуре, воспринимается как стратегический шаг к воспитанию антикоррупционного образования среди учащихся. Результаты исследования объяснили, что совершенствование и развитие учащихся должны основываться на вере и преданности Всемогущему Богу, оптимально быть человеком с характером (благородный характер) и в первую очередь внедряться в семейную среду. Концепция обучения разнообразна и организована систематически, всесторонне и пропорционально в зависимости от процента эффективности, который должен быть достигнут.Ключевые Слова: Антикоррупционное Образование, Религия и Национальная Культура
Government Policy in Public Services in the Republic of Tatarstan, Russia
AbstractGovernment policy is a step taken by the government to achieve a goal. The main objective of the policy of the Republic of Tatarstan is to provide the conditions for the full social and cultural development of the whole society, to strengthen civil society and society\u27s morals on the basis of respect for the rights of citizens and their recognition as the highest value. This study aims to explain how government policies are related to public services and to find out how the government of the Republic of Tatarstan provides the best services for the welfare of the people. This research uses qualitative research methods with a descriptive approach. The results of this study explain that the government has taken the right policy steps in providing services to the community, namely by providing fast, responsive, optimal, fair, transparent service and utilizing technological advances for the welfare of the people in the Republic of Tatarstan.Keywords: Government Policy, Public Service, Republic of Tatarstan AbstrakKebijakan pemerintah merupakan suatu langkah yang diambil oleh pemerintah untuk tercapainya suatu tujuan. Tujuan utama dari kebijakan Republik Tatarstan adalah untuk menyediakan kondisi bagi perkembangan sosial dan budaya-budaya penuh seluruh masyarakat, untuk memperkuat masyarakat sipil dan moral masyarakat atas dasar penghormatan pada hak-hak yang di miliki warga negara serta pengakuannya sebagai nilai tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Kebijakan pemerintah terkait dengan pelayanan publik dan untuk mengetahui bagaimana pemerintah dalam memberikan pelayanan bagi kesejahteraan seluruh masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pemerintah Republik Tatarstan telah mengambil langkah kebijakan yang tepat dalam pelayanan kepada masyarakat yaitu dengan pelayanan yang cepat, tanggap, optimal, adil, transparan, dan memanfaatkan kemajuan teknologi demi kesejahteraan masyarakat di Republik Tatarstan.Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah, Pelayanan Publik, Republik Tatarstan АннотацияПравительственная политика - это шаг, сделанный правительством для достижения цели. Основная цель политики Республики Татарстан - обеспечение условий для полноценного социального и культурного развития всего общества, укрепление гражданского общества и нравственности общества на основе уважения прав граждан и признания их высшее значение. Это исследование призвано объяснить, как политика правительства связана с государственными услугами, и выяснить, как правительство Республики Татарстан предоставляет лучшие услуги для благосостояния людей. В этом исследовании используются качественные методы исследования с описательным подходом. Результаты этого исследования объясняют, что правительство предприняло правильные политические шаги по предоставлению услуг населению, а именно путем предоставления быстрых, оперативных, оптимальных, справедливых и прозрачных услуг и использования технологических достижений на благо людей в Республике Татарстан.Ключевые слова: государственная политика, государственная служба, Республика Татарста
Reconstruction to Prove Elements of Detrimental to State Finances in the Criminal Act of Corruption in Indonesia
AbstractState financial loss is one of the elements of the criminal act of corruption in Article 2 paragraph (1) and Article 3 of Law No. 31 of 1999 in conjunction with Law No. 20 of 2001 concerning the Eradication of Corruption Crime. The formulation of the element of detrimental to state finances in the two articles at the level of evidence still raises various obstacles because it is an obscure norm and is multi-interpretative. The results of the research show that proving that the element of detrimental to state finances in the criminal act of corruption is still understood as a formal crime so that the proof is sufficient by fulfilling the act and there is no need for consequences, whether potential loss of state finances or actual loss, the perpetrator can be convicted. After the Constitutional Court through its decision Number 25/PUU-XIV/2016 stated that the word "can" in Article 2 paragraph (1) and Article 3 is unconstitutional and has fundamentally changed the qualification of corruption to become a material crime, but in its application there are different views of law enforcement officials in proving that the element is detrimental to state finances, giving rise to legal uncertainty. In the upcoming reform of the criminal law of corruption, a more appropriate model of proof is to use the concept of state financial loss in the sense of the material crime. Through this concept, a new act can be seen as fulfilling the elements of a corruption crime on the condition that there must be an effect that the state loss is real and occurs (actual loss). The concept of proving state financial losses in a material sense ensures fair legal certainty.Keywords: Reconstruction, Evidence, State Financial Losses, Corruption Crime. Abstrak Kerugian keuangan negara merupakan salah satu unsur tindak pidana korupsi dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Rumusan unsur merugikan keuangan negara pada kedua pasal tersebut dalam tataran pembuktian masih menimbulkan berbagai hambatan karena merupakan norma kabur dan bersifat multi tafsir. Hasil penelitian menunjukan, meskipun Mahkamah Konstitusi dalam putusannya Nomor 25/PUU-XIV/2016 telah menyatakan kata “dapat” pada kedua pasal tersebut inkonstitusional, telah merubah secara mendasar tindak pidana korupsi menjadi tindak pidana materiel, namun dalam penerapannya terdapat ketidakseragaman pandangan aparat penegak hukum dalam membuktikan unsur tersebut sehingga telah menimbukan ketidakpastian hukum. Model pembuktian yang lebih tepat adalah menggunakan konsep kerugian keuangan negara dalam arti tindak pidana materiel. Melalui konsep ini, suatu perbuatan baru bisa dipandang memenuhi unsur tindak pidana korupsi dengan syarat harus adanya akibat bahwa kerugian negara benar-benar nyata dan terjadi (actual loss). Konsep pembuktian kerugian keuangan negara dalam arti materiel lebih menjamin kepastian hukum yang adil.Kata Kunci: Rekonstruksi, Pembuktian, Kerugian Keuangan Negara, Tindak Pidana Korupsi.АннотацияФинансовые убытки государства являются одним из элементов коррупции в пункте (1) статьи 2 и в статье 3 Закона № 31 от 1999 г. в сочетании с Законом № 20 от 2001 г. Об Искоренении коррупционных преступлений. Расположение элементов, наносящих ущерб государственным финансам, в двух статьях на уровне доказательств по-прежнему создает различные препятствия, поскольку эта норма расплывчата и имеет множество толкований. Результаты исследования показывают, что доказательства элементов, которые наносят ущерб государственным финансам в преступном акте коррупции, по-прежнему понимаются как формальное преступление, так что доказательства являются достаточными путем совершения действия, и нет необходимости в последствиях, будь то потенциальный ущерб государственных финансов или фактических ущерб, виновный может быть осужден. После того, как Конституционный суд через его решение № 25/PUU-XIV/2016 заявил, что слово «может» в статье 2 (1) и статьи 3 является неконституционным и коренным образом изменил квалификацию коррупции в материальное преступление, но в естественном применении существуют различные точки зрения сотрудников правоохранительных органов в доказательстве того, что эти элементы наносят ущерб государственным финансам , вызывая юридическую неопределенность. В рамках предстоящей реформы уголовного законодательства о коррупции более подходящей моделью доказательства является использование концепции финансовых потерь государства в смысле материального преступления. В рамках этой концепции новый закон может рассматриваться как выполнение элементов преступного коррупционного деяния при условии существования реальных и возникающих потерь государства (фактическая потеря).Ключевые Слова: Реконструкция, Доказательства, Финансовые Потери Государства, Коррупционная Преступност
Foreign Science of Administrative Law and Possible Areas of Its Adaptation in Ukraine
AbstractThe purpose of the article is to study the foreign science of administrative law and to determine certain areas of its adaptation in Ukraine. To achieve this purpose, we have used such methods of scientific cognition as dialectical, historical, formal and logical, system, and structural. The authors of the article have studied the content and specific features of foreign administrative and legal science, as well as have suggested possible ways to implement it into the scientific and legal system of Ukraine. It has been stated that the effective development of the national system of public administration is impossible without the quality functioning of science, which deals with studying forms and methods of administration, and an effective management system is essential for the success of any country. It has been noted that to achieve high results in the work of state agencies, their staff must be well educated on the use of optimal forms and methods of administration activity. Professionals who represent the state or local self-governments while performing their professional duties must have all the necessary skills (means) to achieve the tactical and strategic objectives set before them. The leadership of such agencies must be able to think globally and be able to set specific and objective tasks, as well as to provide the most effective means for their implementation. The historical aspects of the formation and development of administrative and legal science as a key element of the administrative system in different countries have been studied.Keywords: Administrative Law, Legal Regulation, Administrative, and Legal Science, Administrative Activity, Legislative Provision. Abstrak:Tujuan artikel ini adalah untuk mempelajari ilmu asing dari hukum administrasi dan untuk menentukan area tertentu dari adaptasinya di Ukraina. Untuk mencapai tujuan ini, penulis menggunakan metode kognisi ilmiah seperti dialektis, historis, formal dan logis, sistem, dan struktural. Penulis artikel telah mempelajari konten dan fitur khusus dari ilmu hukum dan administrasi asing, serta telah menyarankan cara yang mungkin untuk diterapkan ke dalam sistem ilmiah dan hukum Ukraina. Telah dinyatakan bahwa pengembangan yang efektif dari sistem administrasi publik nasional tidak mungkin tanpa fungsi ilmu pengetahuan yang berkualitas, yang berkaitan dengan mempelajari bentuk dan metode administrasi, dan sistem manajemen yang efektif sangat penting untuk keberhasilan negara manapun. Perlu dicatat bahwa untuk mencapai hasil yang tinggi dalam pekerjaan lembaga negara, staf harus dididik dengan baik tentang penggunaan bentuk dan metode kegiatan administrasi yang optimal. Profesional yang mewakili pemerintah sendiri negara bagian atau lokal saat menjalankan tugas profesional mereka harus memiliki semua keterampilan (sarana) yang diperlukan untuk mencapai tujuan taktis dan strategis yang ditetapkan sebelumnya. Pimpinan lembaga tersebut harus mampu berpikir secara global dan dapat menetapkan tugas yang spesifik dan obyektif, serta menyediakan sarana yang paling efektif untuk pelaksanaannya. Aspek historis pembentukan dan perkembangan ilmu administrasi dan hukum sebagai elemen kunci dari sistem administrasi di berbagai negara telah dipelajari.Kata Kunci: Hukum Administrasi, Peraturan Hukum, Tata Usaha, dan Ilmu Hukum, Kegiatan Administrasi, Ketentuan Legislatif. АннотацияЦелью статьи является изучение зарубежной науки административного права и определение направлений ее адаптации в Украине. Для достижения поставленной цели использованы следующие методы научного познания: диалектический, исторический, формально-логический и системно-структурный. В статье исследуется содержание и особенности зарубежной науки административного права, а также предлагаются возможные пути ее внедрения в научно-юридическую систему Украины. Указывается, что развитие отечественной системы публичного управления невозможно без качественного функционирования науки, занимающейся изучением форм и методов администрирования, а действенная управленческая система является крайне необходимым для успешной жизнедеятельности любой страны. Отмечается, что для достижения высоких результатов в работе государственных органов их кадровый состав должен быть хорошо образованным по вопросам использования оптимальных форм и методов управленческой деятельности. Специалисты, которые во время выполнения своих профессиональных обязанностей представляют государство или органы местного самоуправления, должны обладать всеми необходимыми навыками (средствами) для достижения поставленных перед ними тактических и стратегических задач. Руководство таких органов должно быть способным к глобальному мышления и уметь ставить конкретные и объективные задачи, а также предоставлять для их выполнения наиболее эффективные средства.Ключевые слова: Административное право, Правовое регулирование, Наука административного права, Управленческая деятельность, Законодательное обеспечение
Liability for Damage Caused by Domestic and Wild Animals in Turkish Law
Abstract.The Turkish Code of Obligations holds pet owners objectively liable for any damage caused by their pets regardless of fault on the grounds that they failed to carry out their supervisory duty. There is, however, no regulation on compensation for damages caused by wild or stray animals. The legal gap in this field is filled by case laws. The aim of this study is to compare pet owner liability regulated by private law as strict liability and state liability for damage caused by wild animals protected by national legislation and international conventions. The research material consists of current legislation, and judicial and administrative decisions on property damage and bodily injury caused by animals. Tort claims for damages caused by pets and wild animals differ by statute of limitations, judicial remedy, the law on which the case is based, and strict liability principles. Pet owner liability for damage caused by the pet is based on strict liability in private law while administrative court decisions hold the administration liable based sometimes on strict liability and sometimes on negligence.Keywords: Pet owner liability; Pets; Wild animals; Strict liability; Compensation Abstrak.Kode Kewajiban Turki meminta pemilik hewan peliharaan bertanggung jawab secara obyektif atas kerusakan yang disebabkan oleh hewan peliharaan mereka, terlepas dari kesalahan yang dilakukan. Adapun alasan yang diajukan karena pemilik hewan gagal menjalankan tugas pengawasan. Namun, tidak ada peraturan tentang kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh hewan liar atau tersesat tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kewajiban pemilik hewan peliharaan yang diatur oleh hukum privat sebagai kewajiban yang ketat dan kewajiban negara atas kerusakan yang disebabkan oleh hewan liar yang dilindungi oleh undang-undang nasional dan konvensi internasional. Materi penelitian terdiri dari undang-undang saat ini, dan keputusan yudisial dan administratif tentang kerusakan properti dan cidera tubuh yang disebabkan oleh hewan. Klaim kerugian atas kerusakan yang disebabkan oleh hewan peliharaan dan hewan liar berbeda menurut undang-undang pembatasan, upaya hukum, hukum yang menjadi dasar kasus, dan prinsip tanggung jawab yang ketat. Tanggung jawab pemilik hewan peliharaan atas kerusakan yang disebabkan oleh hewan peliharaan didasarkan pada tanggung jawab yang ketat dalam hukum privat, sementara keputusan pengadilan administratif memegang tanggung jawab administrasi terkadang berdasarkan tanggung jawab yang ketat dan terkadang pada kelalaian.Kata kunci: Kewajiban pemilik hewan peliharaan; Hewan peliharaan; Hewan liar; Tanggung jawab yang ketat; Kompensasi Аннотация.Обязательственный кодекс Турции возлагает на владельцев домашних животных объективную ответственность за ущерб, причиненный их домашними животными, независимо от причиненного им вреда. Выдвинутые причины заключались в том, что владелец животного не выполнил свои обязанности по надзору за ним. Однако нет никаких правил относительно компенсации ущерба, причиненного дикими или бродячими животными. Целью этого исследования было сравнить обязанности владельцев домашних животных, регулируемые частным правом как строгое обязательство, и обязанности государства за ущерб, причиненный дикими животными, охраняемыми национальными законами и международными конвенциями. Материалы исследования состоят из действующего законодательства, судебных и административных решений в отношении имущественного ущерба и телесных повреждений, причиненных животными. Иски о возмещении ущерба, причиненного домашними и дикими животными, различаются в зависимости от закона об исковой давности, установленного закона, закона, на котором основано дело, и строгих принципов ответственности. Ответственность владельца домашнего животного за ущерб, причиненный домашним животным, основана на строгой ответственности по частному праву, в то время как решения административных судов предусматривают административную ответственность, иногда основанную на строгой ответственности, а иногда на небрежности.Ключевые слова: Обязанности владельцев домашних животных; Домашнее животное; Дикое животное; Строгая ответственность; Компенсаци
Нормативно-Политические Вопросы Обращение С Обеспечением Низкого Образования В Индонезии (Policy In Handling The Low Education Relevance In Indonesia)
AbstractThe problem of Human Resources (HR) in Indonesia is becoming increasingly complex, this is reflected in the large number of formal education graduates from various levels who are not absorbed in the world of work. Many factors cause this to happen, including the mismatch between HR competencies and the labor market, the growth of the workforce is greater than the availability of available employment and population distribution between regions is not evenly distributed. If you look at the achievements of Indonesian tertiary education graduates, many of Indonesian tertiary education graduates are slow to get jobs, this shows that there is a broken link between higher education and the world of work. Higher education has not been able to produce graduates with high selling prices armed with the knowledge they have learned even though in general higher education graduates have greater employment opportunities than high school or lower level graduates. Many realities on the ground show that the quality of Indonesian people as a potential resource still does not meet expectations. This happens because of the low quality of education in Indonesia. By fulfilling good educational needs, the students will get benefits and can improve the quality of life of the knowledge they have, so that after completing their education, they can get decent jobs or create quality jobs. Indonesia\u27s education world must start to build links with the world of work, so that the world of work responds to graduates produced in accordance with what the world of work wants; this paradigm must be understood and built by the Indonesian government. Education transformation is needed so that education is able to produce reliable and resilient human resources; education and educators must be improved.Keyword: Education; Policy; Indonesia Abstrak:Permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia menjadi semakin kompleks, hal ini tercermin dengan banyaknya para lulusan pendidikan formal dari berbagai jenjang yang tidak terserap dalam dunia kerja. Banyak factor yang menyebabkan hal ini terjadi, diantaranya yaitu ketidaksesuaian antara kompetensi SDM dengan pasar kerja, pertumbuhan angkatan kerja lebih besar dari ketersediaan lapangan kerja yang ada serta ditribusi penduduk antar daerah belum merata. Jika melihat dari capaian para lulusan pendidikan tinggi Indonesia, banyak dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia lambat mendapatkan pekerjaan, Ini menunjukkan terdapatnya mata rantai yang putus antara pendidikan tinggi dan dunia kerja. Perguruan tinggi belum mampu menghasilkan lulusan dengan harga jual yang tinggi berbekal dengan ilmu yang telah dipelajari meskipun secara umum lulusan pendidikan tinggi memiliki peluang kerja lebih besar dibanding lulusan tingkat SMA ataupun lebih rendah lagi. Banyak realita di lapangan yang menunjukkan bahwa kualitas masyarakat Indonesia sebagai sumber daya yang potensial masih belum memenuhi harapan. Hal ini terjadi dikarenakan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan terpenuhi kebutuhan pendidikan yang baik, siswa-siswa peserta didik tersebut akan mendapatkan manfaat dan dapat meningkatkan kualitas hidup dari pengetahuan yang dimiliki, sehingga setelah menyelesaikan pendidikannya, mereka dapat memperoleh pekerjaan yang layak atau menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. Dunia pendidikan Indonesia haruslah memulai untuk membangun mata rantai dengan dunia kerja, sehngga respon dunia kerja terhadap lulusan yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan dunia kerja; paradigma seperti ini harus dipahami dan dibangun oleh pemerintah Indonesia.Transformasi pendidikan diperlukan agar pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang handal dan tangguh; pendidikan dan tenaga pendidik harus ditingkatkan.Kata Kunci: Pendidikan; Kebijakan; Indonesia АннотацияПроблема человеческих ресурсов в Индонезии становится все более сложной, что отражается в большом количестве выпускников формального образования разных уровней, которые не поглощены работой. Это обусловлено многими факторами, в том числе несоответствием между компетенциями в области людских ресурсов и рынком труда, рост рабочей силы превышает доступную занятость, а распределение населения между регионами распределяется неравномерно. Если вы посмотрите на достижения индонезийских выпускников высших учебных заведений, многие выпускники высших учебных заведений в Индонезии не могут найти работу, и это показывает, что существует разрывная связь между высшим образованием и миром труда. Высшее образование не смогло подготовить выпускников с высокими отпускными ценами, вооруженных знаниями, которые они узнали, хотя в целом выпускники высших учебных заведений имеют более широкие возможности трудоустройства, чем выпускники старших классов. Многие реалии на местах показывают, что качество индонезийского народа как потенциального ресурса все еще не соответствует ожиданиям. Это происходит из-за низкого качества образования в Индонезии. Выполняя хорошие образовательные потребности, студенты получают преимущества и могут улучшить качество жизни знаний, которые они имеют, так что после завершения обучения они могут получить достойную работу или создать качественную работу. Мир образования Индонезии должен начать строить связи с миром труда, чтобы мир труда реагировал на выпускников, произведенных в соответствии с тем, что хочет мир труда; эта парадигма должна быть понята и построена правительством Индонезии: трансформация образования необходима для того, чтобы образование могло производить надежные и устойчивые человеческие ресурсы; образование и воспитатели должны быть улучшены.Ключевые слова: образование; Политика; Индонези
Prospect of Judicial Preview in the Constitutional Court Based on the Construction of Constitutional Law
AbstractThe Constitutional Court is a state institution that has the authority for reviewing laws against the Constitution (Judicial Review). Several times in issuing its decisions, the Constitutional Court has acted as a Positive Legislator. The potential for a legal vacuum as the implication of revoking a law is large. and also the slow formation of laws by the legislative body (DPR) and the lack of quality of regulations. The current law-making does not pay attention to legal ideals based on Pancasila so that the resulting legal products lose their meaning. This has resulted in many people whose constitutional rights have been violated. The state should be present to give full constitutional rights to its citizens. The Constitutional Court needs additional authority to maintain the supremacy of the constitution. additional authority as a preventive mechanism is Judicial Preview. The French state places Judicial Preview as an authority of the Constitutional Council. Austria and Germany apply Judicial Preview as a preventive measure for losses that can occur if the Draft Law is passed. A renewal of the Constitutional Law to perfect existing ones makes the prospect of Judicial Preview in Indonesia an Urgency for immediate implementation.Keywords: Constitutional Court, Authority, Judicial Preview AbstrakMahkamah Konstitusi merupakan lembaga negara yang memiliki kewenangan pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar (Judicial Review). Dalam mengeluarkan putusannya Mahkamah Konstitusi beberapa kali bertindak sebagai Positif Legislator. Potensi terjadinya kekosongan hukum sebagai implikasi dicabutnya suatu Undang-Undang sangatlah besar. Ditambah dengan lambatnya pembentukan Undang-Undang oleh lembaga legislatif (DPR) serta kualitas peraturan yang kurang. Pembuatan Undang-Undang saat ini tidak memperhatikan cita hukum yang berakar pada Pancasila sehingga produk hukum yang dihasilkan kehilangan maknanya. Hal ini mengakibatkan banyak masyarakat yang dilanggar hak konstitusionalnya. Negara seharusnya hadir untuk memberikan hak konstitusional secara penuh kepada warga negaranya. Untuk mencegah hal tersebut maka Mahkamah Konstitusi membutuhkan suatu kewenangan tambahan untuk menjaga tegaknya supremasi konstitusi. Kewenangan tambahan sebagai mekanisme preventif tersebut berupa Pengujian Rancangan Undang-Undang (Judicial Preview). Perancis menempatkan Judicial Preview sebagai kewenangan dari Constitutional Council. Austria dan Jerman juga memberlakukannya sebagai tindakan pencegahan. Pembangunan Hukum Konstitusi untuk menyempurnakan yang sudah ada menjadikan prospek Pengujian Rancangan Undang-Undang di Indonesia menjadi urgensi untuk segera diterapkan.Kata Kunci: Mahkamah Konstitusi, Kewenangan, Judicial Preview АннотацияКонституционный суд - это государственное учреждение, которое имеет право проверять законы на предмет соответствия Конституции. Вынося свои решения, Конституционный суд несколько раз выступал в качестве позитивного законодателя. Потенциал правового вакуума как последствия отмены закона огромен, особенно в сочетании с медленным формированием законов законодательным органом (DPR) и отсутствием качественных нормативных актов. Текущее формирование законодательства не обращает внимания на идеалы права, укоренившиеся в Pancasila, так что получаемые легальные продукты теряют свое значение. Это привело к тому, что конституционные права многих людей были нарушены. Государство должно присутствовать, чтобы предоставить своим гражданам полные конституционные права. Чтобы этого не произошло, Конституционному суду необходимы дополнительные полномочия для защиты верховенства конституции. Дополнительные полномочия в качестве превентивного механизма представлены в форме судебного предварительного надзора (Judicial Preview). Франция помещает судебный предварительный надзор в ведение Конституционного Совета. Австрия и Германия также приняли его в качестве меры предосторожности. Разработка Конституционного закона с целью усовершенствования существующего делает перспективу судебного надзора в Индонезии неотложной его реализацией.Ключевые Слова: Конституционный Суд, Власть, Судебный Надзор
Environmental Protection and BITs of Bangladesh, Malaysia and USA: A Comparison
Abstract In absence of any global treaty, the bilateral investment treaties (BITs) are playing an important role in regulating foreign investments in the host countries. According to the United Nations Conference on Trade and Development, there are 2361 BITs in force and like other members of the World Trade Organization, Bangladesh, Malaysia, and the USA also signed BITs to facilitate trade. The primary purpose of economic globalization is the economic development of the developing and least-developed countries as well as to facilitate the benefits of the home states. Bangladesh and Malaysia foreign investment laws have no specific provision of protecting the environment and fails to maintain high standard like USA environment laws. This paper addresses two questions: (a) do the bilateral investment treaties of Bangladesh, Malaysia, and USA have any specific provisions to protect the environment in the host country? (b) should environmental protection be considered during the entry of foreign investments in Bangladesh, Malaysia, and USA? Using the doctrinal research method, we critically analyzed 40 BITs signed by Bangladesh, Malaysia, and USA with different countries to explore whether there is any specific reference to protecting the environment. We find that the existing BITs mainly have provisions to promote and protect foreign investments, and 7 out of 40 BITs have a specific reference to protecting the environment. Therefore, governments should consider this important factor to insert while signing any future BITs.Keywords: Bilateral investment treaties, environmental protection, Bangladesh, Malaysia, United States of America. AbstrakJika tidak ada perjanjian global, maka perjanjian investasi bilateral (BIT) memainkan peran penting dalam mengatur investasi asing di negara setempat. Menurut Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan, ada 2.361 BIT yang masih berlaku, dan seperti anggota Organisasi Perdagangan Dunia lainnya, maka negara Bangladesh, Malaysia, dan AS juga menandatangani BIT untuk memfasilitasi perdagangan. Tujuan utama globalisasi ekonomi adalah pembangunan ekonomi negara-negara berkembang dan negara tidak berkembang, serta untuk memfasilitasi keuntungan negara asal. Undang-undang investasi asing Bangladesh dan Malaysia tidak memiliki ketentuan khusus untuk melindungi lingkungan dan gagal mempertahankan standar tinggi seperti undang-undang lingkungan AS. Makalah ini membahas dua pertanyaan: (a) apakah perjanjian investasi bilateral Bangladesh, Malaysia, dan AS memiliki ketentuan khusus untuk melindungi lingkungan di negara asal? (b) haruskah perlindungan lingkungan dipertimbangkan selama masuknya investasi asing di negara Bangladesh, Malaysia dan Amerika Serikat? Dengan menggunakan metode penelitian doktrinal, penulis menganalisis secara kritis 40 BIT yang ditandatangani oleh negara Bangladesh, Malaysia dan AS dengan berbagai negara untuk mengeksplorasi apakah ada referensi khusus untuk melindungi lingkungan. Kami menemukan bahwa BIT yang ada terutama memiliki ketentuan untuk mempromosikan dan melindungi investasi asing, dan 7 dari 40 BIT memiliki referensi khusus untuk melindungi lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah harus mempertimbangkan faktor penting ini untuk dimasukkan saat menandatangani BIT di masa mendatang.Kata Kunci: Perjanjian investasi bilateral, perlindungan lingkungan, Bangladesh, Malaysia, Amerika Serikat. АннотацияВ отсутствие какого-либо глобального договора Двусторонние Инвестиционные Договоры (ДИД) играют важную роль в регулировании иностранных инвестиций в принимающих странах. По данным Конференции Организации Объединенных Наций по торговле и развитию в настоящее время действует 2361 ДИД, и, как и другие члены Всемирной Торговой Организации, Бангладеш, Малайзия и США также подписали ДИД для облегчения торговли. Основная цель экономической глобализации – это экономическое развитие развивающихся и наименее развитых стран, а также получение выгод для стран базирования. Законы Бангладеш и Малайзии об иностранных инвестициях не содержат конкретных положений о защите окружающей среды и не поддерживают высокие стандарты, такие как законы США об окружающей среде. В настоящей статье рассматриваются два вопроса: (а) есть ли в Двусторонних Инвестиционных Договорах Бангладеш, Малайзии и США какие-либо конкретные положения по защите окружающей среды в принимающей стране? (б) следует ли учитывать защиту окружающей среды при ввозе иностранных инвестиций в Бангладеш, Малайзию и США? Используя метод доктринального исследования, мы критически проанализировали 40 ДИД, подписанных Бангладеш, Малайзией и США с разными странами, чтобы выяснить , есть ли какие-либо конкретные ссылки на защиту окружающей среды. Мы обнаружили, что существующие ДИД в основном содержат положения о поощрении и защите иностранных инвестиций, а 7 из 40 ДИД содержат конкретные ссылки на защиту окружающей среды. Таким образом, правительству следует учитывать этот важный фактор при подписании будущих ДИД.Ключевые слова: Двусторонние инвестиционные договоры, охрана окружающей среды , Бангладеш, Малайзия, Соединенные Штаты Америк