Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Morfometrik Pertumbuhan Rahang Bawah terkait Aktivitas Mandibula dan Umur pada Anakan Domba Merino Jantan Pascalahir
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pola pertumbuhan rahang bawah (mandibula) dombamerino jantan pada enam bulan pertama pascalahir tidak linier mengikuti pertambahan umur karenaaktivitas feeding dipengaruhi olehnya. Model pendugaan MARS (Multivariate Adaptive RegressionSplines) digunakan untuk pembuktian pola tersebut. Lima belas ekor anakan domba merino pascalahirdiukur panjang dan lebar rahang bawah setiap selang satu bulan selama enam bulan. Data totalpanjang dan lebar mandibula (cm) ditabulasi dan diolah dengan piranti MARS for Windows versi 2.0.Hasil analisis model MARS untuk hubungan umur terhadap panjang mandibula adalah Y = 13,022 +0,933 * BF2 {BF2 = max (0, umur – 4,000)}; {(BF =3, MI =1, M0 = 0, GCV = 3,148, R2 = 0,984)}, sedangkanuntuk lebarnya adalah Y = 4,940 + 0,382 * BF1 + 0,368 * BF2 {BF1= max (0, umur - 4,000) dan BF2 = max(0, 4,00 - umur)} ; {MI = 1, M0 = 0, GCV = 0,532 dan R2 = 0,984)}. Hasil ini menunjukkan pertambahanukuran panjang ataupun lebar rahang bawah berjalan linier dengan umur setelah anak domba merinomencapai umur empat bulan, sedangkan ini masih di bawah umur empat bulan, hubungan tersebuttidak linier, bahkan pada rentang umur satu menuju empat bulan lebar mandibula justru menampakkanpenyusutan. Pengamatan ini menyimpulkan bahwa, pola pertumbuhan bagian rahang bawah tidakberjalan linier dengan umur sebagai implikasi dari fungsi mandibula saat menyusu dan memamah-biakdi awal pertumbuhan anakan domba merino
Pemaparan Gelombang Elektromagnetik Telepon Genggam pada Mencit (Mus musculus albinus) Periode Awal Kebuntingan
Peningkatan penggunaan telepon genggam diiringi dengan peningkatan kepedulian masyarakatterhadap bidang kesehatan dan keamanan terkait emisi gelombang elektromagnetik yang berasaldari telepon genggam. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat keamanan paparan gelombangelektromagnetik telepon genggam melalui pengamatan terhadap jumlah implantasi dan anak lahirdengan menggunakan mencit sebagai hewan model. Dua puluh empat ekor mencit betina disinkronisasidan dikawinkan dengan mencit jantan dengan perbandingan jantan dan betina 1:1 (single mating).Pemaparan dilakukan dengan gelombang berfrekuensi 900 MHz selama 7 hari pertama setelah mencitkawin. Mencit betina dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan lamanya waktu paparan. Waktupaparan adalah satu, dua, dan empat kali per hari dengan masing-masing lama paparan 15 menit untukkelompok pertama, kedua, dan ketiga, sementara kelompok keempat sebagai kelompok kontrol tidakdiberikan paparan. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pengaruh nyata lama paparan gelombangelektromagnetik telepon genggam terhadap jumlah implantasi dan anak lahir dari induk yang terpapar(P>0,05). Untuk seluruh kelompok, jumlah implantasi berkisar antara 8,66 sampai dengan 10,00 danjumlah anak lahir berkisar antara 10,00 sampai dengan 12,33; tidak berbeda nyata dengan nilai padakelompok kontrol. Berdasarkan hasil penelitian, lama paparan gelombang elektromagnetik yang berasaldari telepon genggam dalam penelitian ini masih berada dalam tingkat aman untuk mencit bunting
Infestasi Cacing Parasitik pada Insang Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus)
Penelitian mengenai infestasi cacing parasitik pada insang ikan mujair (Oreochromis mossambicus) di kolam Kecamatan Dramaga dan kolam Kecamatan Ciomas-Bogor telah dilakukan. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif. Dari 13 sampel ikan mujair yang diperiksa, diperoleh 12 sampel ikan mujair terinfeksi cacing parasitik dan 1 sampel ikan mujair tidak terinfeksi cacing parasitik. Cacing parasitik yang berasal dari kelas Trematoda sub kelas Monogenea yaitu Dactylogyrus sp, Discocotyle sp, dan Gyrodactylus sp serta sub kelas Digenea ditemukan di kolam Kecamatan Dramaga. Cacing parasitik yang berasal dari sub kelas Monogenea yaitu Dactylogyrus sp, Tetraonchus sp dan Gyrodactylus sp ditemukan di kolam Kecamatan Ciomas. Jumlah seluruh cacing parasitik yang diisolasi dari kolam Kecamatan Dramaga berjumlah 50 ekor dengan nilai indeks prevalensi 85,7%. Jumlah seluruh cacing parasitik yang diisolasi dari kolam Kecamatan Ciomas berjumlah 136 ekor dengan nilai indeks prevalensi sebesar 100%. Berat badan ikan akan tergantung pada jenis cacing parasitik yang menginfeksinya dan sifat toleransi individual ikan
Sifat Fisik dan Kimia, Jumlah Sel Somatik dan Kualitas Mikrobiologis Susu Kambing Peranakan Ettawa
Induk kambing Peranakan Ettawa laktasi diseleksi dari peternakan Cordero Farm untuk menentukan variasi jumlah sel somatik (JSS), sifat fisik dan kimia, serta kualitas mikrobiologi susunya. Sampel susu individu diambil setiap hari (pemerahan pagi dan sore). Jumlah sel somatik sampel susu dianalisa dengan metode breed dan sifat dan kimia susu dianalisa dengan alat milk analyzer. Status inflamasi ambing ditentukan dengan uji tidak langsung (Uji IPB-1) dan uji bakteriologi menggunakan metode konvensional. Komposisi susu yang disekresikan 5-30 hari setelah melahirkan dan susu yang disekresikan lebih dari 30 hari setelah melahirkan tidak berbeda nyata (
Bobot Badan, Indeks Massa Tubuh, dan Glukosa Darah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang Diberi Pakan Berenergi Tinggi dan Nikotin Cair
Nikotin dengan dosis tertentu telah dilaporkan memiliki pengaruh terhadap penurunan nafsu makan pada tikus, tetapi belum pernah dilaporkan pada hewan model monyet ekor panjang. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nikotin terhadap bobot badan, indeks massa tubuh (IMT) dan kadar glukosa darah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang diberi diet berenergi tinggi selama tiga bulan. Sepuluh monyet jantan dewasa secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi pakan dengan bahan utama dari lemak sapi dan kelompok kedua dengan pakan monyet komersial (monkey chow). Cairan nikotin ditambahkan kedua pakan dengan dosis 0,75 mg/kg berat badan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (tersarang) dalam waktu. Data yang dikumpulkan dianalisis untuk mengetahui hubungan antara waktu dan perlakuan. Pengukuran dilakukan setiap empat minggu terhadap berat badan, indeks massa tubuh dan kadar glukosa darah. Hasil penelitian menunjukkan penurunan bobot badan yang tidak signifikan (P>0,05), namun IMT dan kadar glukosa darah menurun secara signifikan pada kelompok pertama (
Kualitas Oosit Domba dari Ovarium setelah Penyimpanan pada Suhu dan Periode Waktu yang Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik oosit domba dari ovarium yang disimpan pada suhu dan periode penyimpanan yang berbeda. Ovarium dari rumah potong hewan dibagi menjadi tiga kelompok. Ovarium disimpan dalam larutan NaCl 0,9 % pada suhu 4, 27-28, dan 37-38 °C selama 2, 5-7, dan 8-10 jam untuk masih-masing suhu penyimpanan. Pada setiap akhir periode penyimpanan, oosit dikoleksi dari ovarium dengan menggunakan metode penyayatan. Oosit kemudian diseleksi dan dibagi menjadi 4 (empat) kelompok yaitu kelompok A, B, C, dan D berdasarkan lapisan sel kumulus dan gambaran sitoplasmanya. Oosit dengan kualitas A yang dikoleksi dari ovarium 2 jam dan 5-7 jam (P>0,05) tidak berbeda, tetapi kemudian menurun setelah penyimpanan 8-10 jam (
Histopatologi Insang Ikan Lele (Clarias bathracus) yang Terinfestasi Dactylogyrus sp.
Insang ikan lele (Clarias bathracus) yang terinfestasi cacing Dactylogyrus sp. sulit untuk dapat dilihat gejala klinisnya, tetapi parasit ini sangat merugikan pada budidaya ikan lele. Perubahan histopatologi sangat konsisten terjadi pada infestasi cacing pada insang. Penelitian ini diawali dengan pemeriksaan natif insang ikan lele (Clarias bathracus) dan ikan yang terinfestasi parasit Dactylogyrus sp. dan dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi. Pengumpulan sampel ikan lele (Clarias bathracus) dilakukan dari bulan Februari-September 2012 di Laboratorium Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan kelas I Denpasar dengan jumlah sampel sebanyak 32 kasus. Dari hasil pemeriksaan gejala klinis insang yang terinfestasi Dactylogyrus sp. didapat bahwa insang mengalami pembengkakan pada lamela insang dan berwarna merah pucat. Ukuran Dactylogyrus sp. yang ditemukan pada pengamatan preparat natif berkisar antara 200 - 500 μm. Pada pemeriksaan insang yang terinfestasi Dactylogyrus sp. terjadi perubahan histopatologi yang konsisten, yaitu hiperplasia tulang rawan hyalin, proliferasi sel mukus, hipertrofi sel klorid, hiperplasia lamela sekunder, dan fusi lamela sekunder. Perubahan ini dapat mengakibatkan kematian pada ikan akibat kekurangan oksigen dan perubahan osmoregulasi ion dalam tubuh ikan
Pertumbuhan dan Produktivitas Ulat Sutera Bombyx mori L. yang Diberi Pakan Ayam Broiler
Penelitian ini bertujuan mengamati pertumbuhan dan produktivitas ulat sutera Bombyx mori yang diberi pakan buatan dengan formula pakan ayam broiler. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tujuh kombinasi pakan dan 20 ulangan. Sebagai perlakukan adalah: A, pakan 100% tepung daun murbei (DM); B, 100% DM + 0,5% betasitosterol; C, 75% DM+25% pakan broiler (PB)+ 0,5% betasitosterol; D, 50% DM + 50% PB + 0.5% betasitosterol; E, 25% DM + 75% PB + 0,5% betasitosterol; F, 100% PB + 0,5% betasitosterol; dan G, 100% PB. Satu unit percobaan terdiri dari satu ekor larva yang dipelihara secara individual. Parameter yang diamati adalah: konsumsi bahan kering pakan, kecernaan pakan, bobot badan akhir instar, pertambahan bobot badan, ECI (efficiency conversion of ingested feed), ECD (efficiency conversion of digested feed) periode istar V, bobot pupa, bobot kokon dan persentase kulit kokon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva yang diberi pakan E, 25% DM + 75% PB + 0,5% betasitosterol, konsumsi pakannya terbanyak, menghasilkan bobot badan akhir instar V, bobot pupa, bobot kokon, dan persentase kulit kokon tertinggi
Kualitas Morfologi Oosit Sapi Peranakan Ongole yang Dikoleksi secara In Vitro Menggunakan Variasi Waktu Transportasi
Salah satu alternatif usaha peningkatan populasi sapi di Indonesia adalah dengan transfer embrio. Kualitas oosit yang baik akan menghasilkan tingkat pembelahan dan blastosis yang baik. Lama waktu transportasi dari rumah potong hewan (RPH) ke laboratorium merupakan salah satu faktor yang dilaporkan berpengaruh terhadap kualitas oosit. Waktu transportasi yang tepat untuk menghasilkan oosit dengan kualitas morfologi terbaik belum pernah dilakukan untuk ovarium sapi di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama waktu transportasi ovarium terhadap kualitas morfologi oosit sapi yang dikoleksi secara in vitro. Koleksi ovarium dilakukan di RPH, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dilakukan proses koleksi oosit dengan metode aspirasi. Ovarium dikelompokkan berdasarkan waktu transportasinya, yaitu 2, 3, 4, dan 5 jam. Oosit yang diperoleh kemudian dikelompokkan berdasarkan kualitasnya dengan mengklasifikasikan menjadi kualitas A, B, C, dan D. Pada penelitian ini ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara lama waktu transportasi ovarium sapi terhadap kualitas morfologi oosit (P< 0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ovarium yang mengalami perlakuan transportasi selama 2 jam menghasilkan persentase jumlah oosit dengan kualitas morfologi A dan B yang lebih baik jika dibandingkan dengan ovarium yang mengalami perlakuan transportasi selama lebih dari 2 jam
Efektivitas Fluoroquinolon Terhadap Isolat Bakteri Saluran Pencernaan Ular Sanca Batik (Python reticulatus)
Telah dilakukan penelitian tentang efektivitas antibiotika golongan fluoroquinolon (flumequin dan enrofloksasin) terhadap Salmonella dan E. coli yang diisolasi dari saluran pencernaan ular sanca batik (Python reticulatus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas fluoroquinolon terhadap infeksi saluran pencernaan pada ular dan reptil pada umumnya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 8 ekor sanca batik dewasa yang menderita gangguan pencernaan dengan lesi klinis berupa mouthrot. Sampel ulas kloaka dan mulut serta sampel darah diambil dari semua ular, untuk selanjutnya dilakukan uji mikrobiologis berupa isolasi dan identifikasi bakteri melalui media Brilliant Green Agar (BGA), Mc Conkay Agar (MCA), Triple Sugar Iron (TSI) dan media biakan murni. Isolat murni yang didapatkan adalah Salmonella spp. dan E. coli dan selanjutnya dilakukan uji sensitivitas bakteri terhadap flumequin dan enrofloksasin serta penentuan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) untuk enrofloksasin. Hasilnya adalah kedua antibiotika efektif terhadap Salmonella dan intermediet terhadap E. coli. Nilai MIC enrofloksasin terhadap Salmonella adalah 2,5 μg/ml