Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Profil Tekanan Darah Normal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar dan Sprague-Dawley

    Get PDF
    Tikus putih (Rattus norvegicus) merupakan hewan coba yang digunakan untuk penelitian biomedik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan nilai tekanan darah normal tikus putih dengan galur (Wistar dan Sprague-Dawley) dan jenis kelamin yang berbeda melalui pengukuran tekanan darah non-invasive. Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan instrumen CODA® pada 20 ekor tikus putih. Profil tekanan darah yang diukur meliputi tekanan darah sistolik, diastolik, tekanan arteri rata-rata, denyut jantung, dan aliran darah pada ekor. Nilai tekanan darah sistolik, diastolik, dan tekanan arteri rata-rata pada galur Sprague-Dawley lebih tinggi secara signifikan (P<0.05) dibandingkan Wistar. Tikus putih galur Sprague-Dawley jantan memiliki profil tekanan darah diastolik dan tekanan arteri rata-rata yang lebih tinggi secara signifikan (P<0.05) dibandingkan betina. Galur Wistar jantan menunjukkan profil tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan betina namun tidak berbeda secara signifikan (P>0.05). Sprague-Dawley jantan menunjukkan hasil tekanan darah diastolik dan tekanan arteri rata-rata yang lebih tinggi secara signifikan (P<0.05) dibandingkan Wistar jantan. Studi ini menekankan pentingnya memilih ras dan jenis kelamin hewan coba tikus dalam studi kardiovaskuler

    Deteksi Parasit Darah pada Sapi Perah Berdasarkan Analisis Pcr Duplex

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi parasit darah pada sapi (Babesia spp., Theileria spp., dan Trypanosoma spp.) secara molekular berdasarkan analisis duplex PCR. Seratus sampel darah sapi perah Friesian Holstein diambil secara acak untuk deteksi parasit darah dengan pemeriksaan ulas darah. Sebanyak tiga puluh dari seratus sampel diseleksi untuk analisis PCR single berdasarkan jenis parasit dan tingkat parasitemia yang terdiri dari 5 sampel positif Babesia spp, 15 sampel positif Theileria spp., dan 10 sampel negatif parasit darah untuk dilanjutkan pada tahap PCR single. Optimasi PCR single dilakukan menggunakan tiga primer spesifik untuk B. bovis (Bover2A), T. annulata (Cytob 1) dan T. evansi (ITS 1). Hasil optimasi PCR single menunjukan bahwa suhu anneling 56 °C merupakan suhu optimal untuk deteksi Babesia bovis dan T. evansi sedangkan T. annulata tidak menunjukan hasil positif pada kondisi tersebut. Hasil analisis PCR single menunjukan 28 sampel positif B. bovis, 1 sampel positif T. evansi, 1 sampel negatif semua parasit darah dan 0 sampel positif T. annulata sehingga hanya B. bovis dan T. evansi yang dilanjutkan ke tahap analisis duplex PCR duplex. Teknik duplex PCR berhasil dioptimasi dengan dilakukannya modifikasi penambahan MgCl2 (25 μM) sebanyak 0.5 L/tube sehingga dapat diaplikasikan untuk mendeteksi parasit darah B. bovis dan T. evansi pada sampel di lapan

    Kompetensi Maturasi Oosit in vitro dan Kajian Histologi Folikel dari Ovarium Domba Pascapenyimpanan pada Suhu 4°C

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kompetensi maturasi oosit secara in vitro dan gambaran histologi ovarium pascapenyimpanan ovarium pada suhu 4°C selama empat hari. Ovarium dari rumah potong hewan dibagi menjadi 4 kelompok dan disimpan pada suhu 4°C selama 0 jam (kelompok H-0/kontrol), 24 jam (Kelompok H-1), 48 jam (Kelompok H-2), 72 jam (Kelompok H-3) dan 96 jam (Kelompok H4). Pada setiap akhir periode penyimpanan, oosit dikoleksi dan diseleksi berdasarkan keadaaan kekompakan sel-sel kumulus, kehomogenan dari sitoplasma (Grade A sampai C). Oosit dengan grade A dan B dimaturasi secara in vitro selama 24 jam. Gambaran folikel dalam ovarium pascapenyimpanan dikaji dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Terjadi penurunan yang signifikan (P<0.05) pada jumlah oosit dengan grade A setelah hari kedua penyimpanan. Kemampuan oosit untuk mencapai MII menurun setelah penyimpanan hari kedua (P<0.05). Seiring dengan penurunan jumlah oosit yang mencapai MII, terjadi peningkatan jumlah oosit yang mengalami degenerasi pada hari ketiga dan keempat pascapenyimpanan ovarium (P<0.05). Dari gambaran histologi, ditemukan adanya folikel yang mengalami piknotik setelah penyimpanan 24 jam. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kualitas oosit persentase oosit mencapai MII menurun setelah penyimpanan 24 jam. Terjadi perubahan struktur sel dan degenerasi dari oosit pada gambaran histologi folikel dalam ovarium

    Data Dasar Perancangan Alat Celup Puting sesuai dengan Bentuk Puting Sapi Perah di Jawa Barat

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah membuat data dasar mengenai ukuran puting sapi perah peranakan Frisien Holstein di Jawa Barat. Data digunakan sebagai acuan untuk merancang bangun prototipe alat celup puting sesuai dengan bentuk puting dan kondisi peternakan sapi perah di Indonesia. Penelitian dirancang menggunakan kajian lapang lintas seksional. Data diperoleh dengan cara pengukuran bentuk eksterior puting pada 324 ekor sapi perah dalam masa laktasi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puting bagian depan memiliki rerata lebih panjang dibandingkan dengan puting bagian belakang, berturut turut panjang puting Kanan depan/KaD (6,11 ± 1,42 cm), Kiri depan/KiD (6,11 ± 1,48 cm), Kanan belakang/KaB (4,94 ± 1,37 cm), dan Kiri belakang/KiB (4,88 ± 1,41 cm). Setiap peningkatan umur laktasi menyebabkan panjang puting dari semua kuartir mengalami pertambahan ukuran, dan peningkatan yang signifikan terjadi pada laktasi ke-6 (P<0,05), kecuali pada puting KaB tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (P>0,05). Rerata lingkar puting hampir sama pada seluruh kuartir, yaitu 7,66 ± 1,45 cm (KaD), 7,70 ± 1,49 cm (KiD), 7,13 ± 1,38 (KaB), dan 7,07 ± 1,46 (KiB). Rerata lingkar puting juga mengalami pertambahan ukuran seiring dengan bertambahnya umur laktasi. Peningkatan rata-rata lingkar puting secara signifikan terjadi pada umur laktasi ke-5 (P<0,05). Jarak antara puting kanan dan kiri bagian depan lebih lebar (8,08 ± 2,97 cm) dibandingkan dengan jarak antara puting kanan dan kiri bagian belakang (3,02 ± 2,54 cm). Jarak antara puting depan belakang bagian kanan (7,38 ± 2,56 cm) memiliki rerata yang hampir sama dengan jarak antar puting depan belakang bagian kiri (7,27 ± 2,54 cm). Puting depan memiliki jarak yang lebih dekat dengan lantai dibandingkan dengan puting belakang, dengan perbedaan jarak sebesar 0,97 cm

    Isolasi dan Identifikasi Bakteri Listeria monocytogenes dari Susu Sapi Segar di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan

    Get PDF
    Listeria monocytogenes merupakan bakteri patogen yang dapat menginfeksi manusia melalui bahan pangan sehingga menimbulkan penyakit listeriosis. Wabah listeriosis terjadi akibat konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi L. monocytogenes, di antaranya daging, susu, dan produk susu. Serotipe bakteri L. monocytogenes dikaitkan dengan kasus wabah epidemik dan sporadik listeriosis pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi L. monocytogenes dari susu sapi segar di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan, melakukan analisis karakteristik molekuler, dan menentukan serotipe isolat bakteri L. monocytogenes yang diperoleh. Sebanyak 107 sampel susu diperoleh dari lima kecamatan di Kabupaten Enrekang dan dikumpulkan menjadi 31 sampel pool, kemudian dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri. Tahap pengayaan dilakukan dengan media Listeria enrichment broth (LEB) kemudian dilakukan kultur pada media Listeria selective agar base (LSA), dilanjutkan dengan uji biokimiawi. Isolat bakteri L. monocytogenes yang diperoleh dikonfirmasi dengan polymerase chain reaction (PCR) dan dilakukan pengurutan oligonukleotida. Identifikasi serotipe dilakukan dengan PCR multipleks. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 21 isolat merupakan bakteri L. monocytogenes dan analisis pengurutan oligonukleotida menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh memiliki kemiripan sebesar 99% dengan strain L. monocytogenes yang terdapat pada basis data GenBank. Identifikasi serotipe menunjukkan bahwa keseluruhan isolat termasuk dalam serogrup 2, yaitu serotipe 1/2c dan 3c

    Deteksi Brucellosis pada Babi secara Serologis dan Molekuler di Rumah Potong Hewan Kapuk, Jakarta dan Ciroyom, Bandung

    Get PDF
    Brucellosis pada babi merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Brucella suis. Penyakit ini telah terdeteksi di Indonesia, namun belum banyak diteliti. Pada penelitian ini dilakukan deteksi brucellosis pada babi secara serologis menggunakan metode Rose Bengal Test (RBT) dan Complement Fixation Test (CFT) serta secara molekuler menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) AMOS untuk mengetahui spesies Brucella yang menginfeksi babi. Sampel penelitian berupa serum dan limfonodus dikoleksi dari 2 Rumah Potong Hewan Kapuk, Jakarta dan Ciroyom, Bandung. Hasil  pengujian secara serologis menunjukkan bahwa brucellosis tidak ditemukan pada sampel babi dari Rumah Potong Hewan Kapuk, Jakarta. Sementara hasil pengujian secara serologis dari Rumah Potong Hewan Ciroyom, Bandung menunjukkan 2,5% (1/40) positif dan 7,5%(3/40) positif PCR. Hasil PCR positif menunjukkan terdeteksi 2 spesies Brucella (B. abortus dan B. suis) pada 2 sampel organ limfonodus dan Brucella suis pada satu sampel limfonodus, sedangkan dari organ limpa terdektesi dua sampel positif Brucella suis. Hal ini menunjukkan bahwa selain Brucella suis, Brucella abortus juga menginfeksi babi pada penelitian ini

    Isolasi dan Sensitifitas Antibiotika terhadap Streptococcus spp dari Kambing PE Mastitis Subklinis Kronis

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk isolasi dan sensitifitas antibiotika terhadap Streptococcus spp dari susu kambing PE mastitis subklinis kronis di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 10 sampel susu kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman digunakan dalam penelitian ini. Kriteria kambing PE mastitis subklinis kronis dengan uji California Mastitis Test (CMT) dua kali yaitu saat laktasi dan laktasi berikutnya dengan hasil positif (++) atau (+++) yang diikuti dengan penghitungan jumlah sel somatik (JSS) dengan metode Breed. Isolasi Streptococcus spp., dengan kultur dalam media blood agar selanjutnya di inkubasikan pada suhu 37°C selama 24 jam. Sensitifitas antibiotika terhadap Streptococcus spp., dengan agar difusi menggunakan kertas cakram antibiotika yang sudah diketahui konsentrasinya. Saat uji CMT pertama terdapat dua sampel positif (++) dan delapan sampel positif (+++) dengan rataan JSS masing-masing 2.400.000 sel/ml dan 4.475.000 sel/ml, sedangkan uji CMT kedua terdapat empat sampel positif (++) dan enam sampel positif (+++) dengan rataan JSS masing-masing 2.775.000 sel/ml dan 4.550.000 sel/ml. Susu kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman dapat diisolasi Streptococcus spp., sebanyak 8 isolat dengan tipe hemolitik α, β, dan γ masing-masing 2, 1, dan 5 isolat. Streptococcus spp., resisten terhadap penisilin sedangkan terhadap tetrasiklin, ampisilin, eritromisin, dan sulfonamide masih sensitif. Penelitian ini menunjukkan bahwa Kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman disebabkan oleh Streptococcus spp., dengan penisilin resisten, sedangkan tetrasiklin, ampisilin, eritromisin, dan sulfonamide masih sensitif

    Status Akrosom dan Kualitas Post-Thawed Spermatozoa pada Beberapa Rumpun Sapi dari Dua Balai Inseminasi Buatan

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas dan status akrosom spermatozoa semen beku pasca-thawing beberapa rumpun sapi dari dua Balai Inseminasi Buatan (BIB). Semen beku dari sapi limousin, ongole, simental dan brahman yang di-thawing di dalam air hangat (37 oC) selama 30 detik dan kemudian dievaluasi motilitas spermatozoa, viabilitas, dan membran plasma utuh  (MPU). Evaluasi Status akrosom spermatozoa menggunakan pewarnaan Trypan Blue - Giemsa (TBG) dan Coomassie Blue (CB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motilitas (51 ± 1,87%) dan MPU spermatozoa (72,53 ± 1,68%) dari sapi ongole lebih tinggi daripada rumpun sapi  yang lainnya pada BIB A (P<0,05). Namun, dari BIB B, motilitas dan MPU dari limousin lebih tinggi dari rumpun lainnya (P <0,05) dengan persentase masing-masing 51 ± 1,58% dan 72,60 ± 0,62%. Spermatozoa dengan TAU (95,40 ± 0,79%) dari rumpun sapi ongole menggunakan CBB G250 pada BIB B lebih tinggi dibandingkan 3 rumpun sapi lainnya (P<0,05). Akrosom spermatozoa dapat dievaluasi menggunakan TBG dan CBB G250. Namun, TBG lebih kompleks dan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan membutuhkan jangka panjang

    Penentuan Patogenesitas Molekuler Virus Newcastle Disease yang Diisolasi dari Ayam Komersial Tahun 2013-2016

    Get PDF
    Newcastle Disease (ND) atau yang dikenal dengan “Tetelo” masih menjadi masalah di peternakan unggas komersil, meskipun telah dilakukan vaksinasi ND secara rutin, namun wabah ND masih tetap terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogenesitas molekuler dan genotipe virus ND berdasarkan analisis sekuen fragmen gen F, serta melihat hubungan kekerabatan antara isolat dalam penelitian dengan isolat ND di Indonesia sebelumnya serta strain vaksin pada peternakan ayam yang menerapkan vaksinasi ND secara berkala. Penelitian ini menggunakan primer yang didesain dengan konsensus fragmen gen F dari GenBank dan desain dengan aplikasi amplifX pada posisi 91-800 nt dengan panjang 710bp. Urutan basa pada primer kemudian di cek dengan BLAST primer dan di uji spesifisitas dengan beberapa virus penyakit unggas yaitu vaksin infectious bronchitis (IB) 120, virus vaksin infectious laryngotracheitis (ILT), virus vaksin avian influenza (AI), dan virus vaksin infectious bursal disease (IBD). Delapan sampel paru diperoleh dari delapan peternakan ayam komersial di Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Magelang dan Muntilan. Tiga sampel diisolasi pada telur ayam berembrio dan diidentifikasi menggunakan uji HA dan HI. Lima sampel lain dilakukan ekstraksi secara langsung dari gerusan organ paru. Sampel di identifikasi dengan metode reverse transciptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) untuk mendeteksi gen F menggunakan  primer forward 5’ TCT CTT GAT GGC AGG CCT CTT G ‘3 dan reverse 5’ CCG CTA CCG ATT AAT GAG CTG AGT’3 dengan panjang produk 710 bp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel positif virus ND. Analisis hasil sekuen dengan menggunakan perangkat lunak MEGA v.7 didapatkan susunan asam amino penyusun cleavage site 112RRQKR↓F117 dan 112RRRKR↓F117yang menunjukkan bahwa virus ND tersebut digolongkan strain velogenik. Berdasarkan analisis pohon filogenetik isolat ND-Layer/GK-SR1/2013, ND-Lay/Pullet-80/ 27/16 (N), ND-Bro/Lingga 2L/24/2 (N), dan ND-Lay/Smg-P/2015 merupakan genotip VIIi, sedangkan 3 isolat ND yaitu ND-Bro/Yog-P/2015, JKT/P1/2016 (Jakarta), dan JKT/P2/2016 (Jakarta) merupakan ND genotip VIIh. Jarak genetik isolat yang diteliti dengan virus ND Indonesia yang pernah dilaporkan sebelumnya pada fragmen gen F posisi 91-798 berkisar 0,4 – 9,6 % dengan tingkat homologi mencapai 90,4 – 99,5%

    Trematodosis pada Sapi Potong di Wilayah Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro

    Get PDF
    Trematodosis pada sapi adalah penyakit penting yang disebabkan oleh trematoda yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang tinggi pada peternakan sapi potong dan sapi perah. Studi cross sectional dilakukan untuk menentukan prevalensi dan faktor risiko trematodosis pada sapi potong yang dilaksanakan dari bulan Agustus 2014 sampai bulan Maret 2015 di Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Sebanyak 533 sampel tinja secara acak diambil dari peternakan sapi potong tradisional. Sampel diperiksa untuk keberadaan telur trematoda dengan metode modifikasi filtrasi dan sedimentasi. Prevalensi trematodosis dihubungkan dengan kategori musim, umur, jenis kelamin, pola pemeliharaan dan padang penggembalaan yang dianalisis statistik dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa ditemukan telur trematoda pada 12 (2.25%) sampel. Spesies trematoda yang menginfeksi dengan prevalensi tertinggi adalah Paramphistome (1.31%) dan rataan ukuran telur terbesar adalah Fasciola sp. Berdasarkan pada kategori di atas, prevalensi tertinggi ditemukan pada musim hujan, sapi betina dengan umur lebih dari 2 tahun, digembalakan di padang penggembalaan sebelah Timur dengan nilai masing-masing 2.59%; 3.1%; 2.68%; 2.71% dan 5.49%. Perbedaan signifikan (P<0.05) hanya ditemukan pada tingkat prevalensi kategori lokasi padang penggembalaa

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇