Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Studi epidemiologi penyakit metabolik di kota Tomohon
Latar belakang: Riskesdas 2007, 2013 dan 2018 menunjukkan Penyakit Tidak Menular di Sulawesi Utara menduduki peringkat 10 besar di tingkat nasional. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan tingginya Penyakit Tidak Menular di Sulawesi Utara, maka diperlukan studi jangka panjang tentang prevalensi, dan komorbiditas penyakit metabolik dengan lebih rinci. Penelitian ini bertujuan untuk melihat prevalensi dan komorbiditas penyakit tidak menular di kota Tomohon. Metode: Kami menggunakan data dari Dinas Kesehatan kota Tomohon dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir untuk melihat pola perubahan penyakit selama periode tersebut. Kami juga mencari data dari dua Rumah Sakit di kota Tomohon dan salah satu Puskesmas di Tomohon untuk melihat apakah ada persamaan pola kejadian penyakit. Untuk membandingkan data sekunder, kami melakukan survei prevalensi penyakit tidak menular secara langsung ke 630 orang dengan rentang usia antara 17-91 tahun yang mewakili 25% populasi masyarakat tersebut. Hasil: Dari penelitian ini kami menemukan (1) Hipertensi, arthritis dan penyakit sendi, dan diabetes mellitus konsisten menjadi penyakit metabolik utama selama 9 tahun terakhir. (II) Pola yang sama juga terlihat pada laporan Rumah Sakit dengan tambahan penyakit yang berhubungan dengan jantung, stroke dan penyakit ginjal. (III) Data dari puskesmas juga menunjukkan hipertensi, diabetes mellitus dan arthritis menjadi penyakit metabolik utama dengan tambahan hiperurisemia. (IV) Survei secara langsung menunjukkan hiperurisemia, hipertensi, hiperkolesterolmia, gout arthritis dan diabetes mellitus merupakan 5 penyakit metabolik terbanyak pada populasi tersebut. Selain itu, kami juga menemukan komorbiditas penyakit metabolik dari data Puskesmas dan survei secara langsung. (I) Puskesmas menunjukkan hipertensi dan kormobiditasnya menempati posisi pertama komorbiditas penyakit metabolik. (II) Data survei secara langsung juga menunjukkan pola yang sama dengan data Puskesmas. Simpulan: Menurut data keempat sumber data yang kami kumpulkan, tiga penyakit metabolik utama kota Tomohon adalah hipertensi, diabetes mellitus dan penyakit persendian.Latar belakang: Riskesdas 2007, 2013 dan 2018 menunjukkan Penyakit Tidak Menular di Sulawesi Utara menduduki peringkat 10 besar di tingkat nasional. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan tingginya Penyakit Tidak Menular di Sulawesi Utara, maka diperlukan studi jangka panjang tentang prevalensi, dan komorbiditas penyakit metabolik dengan lebih rinci. Penelitian ini bertujuan untuk melihat prevalensi dan komorbiditas penyakit tidak menular di kota Tomohon. Metode: Kami menggunakan data dari Dinas Kesehatan kota Tomohon dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir untuk melihat pola perubahan penyakit selama periode tersebut. Kami juga mencari data dari dua Rumah Sakit di kota Tomohon dan salah satu Puskesmas di Tomohon untuk melihat apakah ada persamaan pola kejadian penyakit. Untuk membandingkan data sekunder, kami melakukan survei prevalensi penyakit tidak menular secara langsung ke 630 orang dengan rentang usia antara 17-91 tahun yang mewakili 25% populasi masyarakat tersebut. Hasil: Dari penelitian ini kami menemukan (1) Hipertensi, arthritis dan penyakit sendi, dan diabetes mellitus konsisten menjadi penyakit metabolik utama selama 9 tahun terakhir. (II) Pola yang sama juga terlihat pada laporan Rumah Sakit dengan tambahan penyakit yang berhubungan dengan jantung, stroke dan penyakit ginjal. (III) Data dari puskesmas juga menunjukkan hipertensi, diabetes mellitus dan arthritis menjadi penyakit metabolik utama dengan tambahan hiperurisemia. (IV) Survei secara langsung menunjukkan hipertensi, hiperurisemia, hiperkolesterolmia, gout arthritis dan diabetes mellitus merupakan 5 penyakit metabolik terbanyak pada populasi tersebut. Selain itu, kami juga menemukan komorbiditas penyakit metabolik dari data Puskesmas dan survei secara langsung. (I) Puskesmas menunjukkan hipertensi dan kormobiditasnya menempati posisi pertama komorbiditas penyakit metabolik. (II) Data survei secara langsung juga menunjukkan pola yang sama dengan data Puskesmas. Simpulan: Lima penyakit metabolik utama kota Tomohon adalah hipertensi, gout arthritis, hiperurisemia, diabetes mellitus, dan dislipidemia, khususnya hiperkolesterolemia. Komorbiditas yang tinggi di antara penyakit metabolik ini memberi ruang pada eksplorasi disposisi genetik dan pengaruh faktor lingkungan
“Fast blood delivery and instant blood order” untuk ibu Inpartu Kala III yang kurang mampu di Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat
Abstrak Kematian Ibu menurut WHO adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan atau cedera. Angka Kematian Ibu merupakan salah satu indikator pembangunan kesehatan dalam RPJMN 2015-2019 dan SDGs. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) periode 1994-2012 Angka Kematian Ibu sudah mengalami penurunan yaitu pada tahun 1994 sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 1997 sebesar 334 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2002 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, kemudian pada tahun 2007 mengalami penurunan menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Namun pada tahun 2012 terjadi peningkatan kembali sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2015 berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) angka kematian ibu mengalami penurunan menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup.Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yang memiliki 13 Kecamatan dengan 22 wilayah kerja Puskesmas. Berdasarkan Renstra 2016 jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Lima Puluh Kota selama tiga tahun terakhir terjadi peningkatan. Pada tahun 2015 sebanyak 4 kasus, kemudian pada tahun 2016 sebanyak 6 kasus, dan pada tahun 2017 terdapat 8 kasus.Tujuan pengagasan program “fast blood delivery and instant blood order” ini merupakan salah satu solusi bagi pemerintah untuk menurunkan serta menekan angka kematian ibu yang diakibatkan oleh perdarahan persalinan dan pasca salin di Kabupaten Lima Puluh Kota. Dimana penyebab utama kasus kematian ibu adalah didominasi oleh perdarahan. Untuk itu program ini diharapkan dapat membantu masyarakat khususnya ibu inpartu kala III yang kurang mampu. Dengan adanya program ini masalah kesehatan ibu dapat teratasi dan kematian ibu dapat diturunkan.Keyword: Fast Blood Delivery, Instant Blood Order, Kematian Ib
Poster-Foto Sebagai Media Edukasi Siswa Dalam Memahami Masalah Kesehatan Masyarakat di Sekolah Dasar
Sampai sejauh mana media komunikasi visual dapat diimplementasikan dalam intervensi kesehatan berbasis sekolah?. Tidak dapat dipungkiri bahwa media visual merupakan platform komunikasi yang efektif untuk mengatasi perbedaan bahasa, budaya dan tingkat pengetahuan suatu komunitas. Pada ranah kesehatan masyarakat, media komunikasi visual telah dimanfaatkan sebagai media promosi kesehatan. Meskipun demikian, media visual masih belum menjadi “amunisi” utama untuk menyampaikan materi edukasi maupun untuk berkomunikasi dengan target populasi. Kurangnya totalitas dalam memanfaatkan media komunikasi visual menunjukkan bahwa potensi media visual masih dipandang sebelah mata. Program Sekolah Sehat yang diinisiasi oleh Department of Biostatistics, Epidemiology, and Population Health (BEPH) UGM mengimplementasikan media komunikasi visual berupa foto, poster, dan booklet (terdiri dari lembar materi, refleksi, dan koleksi stiker) sebagai platform untuk menyampaikan materi edukasi kesehatan. Kami mengadaptasi informasi dari sumber yang terpercaya menjadi materi edukasi yang sesuai dengan bahasa dan budaya lokal. Selain itu, media visual juga dimanfaatkan untuk menunjukkan partisipasi komunitas dalam program ini. Respon positif diterima semenjak tiga bulan implementasi media visual. Elemen kreatif media visual tampak berdampak positif terhadap kegiatan edukasi. Untuk kedepannya, para pemangku kepentingan dan pakar kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan peran media visual sebagai salah satu alat edukasi dan komunikasi kesehatan yang efektif, terutama pada intervensi berbasis sekolah.Penyampaian edukasi kesehatan di sekolah memiliki hambatan di berbagai aspek seperti budaya lokal, bahasa dan tingkat pengetahuan siswa sekolah setiap daerah. Sampai saat ini edukasi kesehatan pada siswa sekolah hanya berupa penyuluhan dan permainan edukatif. Para peneliti belum secara intens meneliti keefektifan gambar lokal dalam media poster sebagai pendukung dalam mentransfer pengetahuan kesehatan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui manfaat poster sebagai media edukasi dengan menggunakan gambar lokal mengadaptasi budaya di sekolah. Strategi dalam pembuatan poster diawali dengan pengambilan foto saat kegiatan, lalu menggabungkannya dengan kalimat ajakan yang disesuaikan dengan bahasa anak. Media poster ini diharapkan memunculkan antusiasme siswa serta meningkatkan pengetahuan dan rasa kepemilikan bersama siswa dan pihak sekola
Analisis pelaksanaan SIJARI emas (sistem informasi jejaring rujukan maternal and neonatal survival) dalam pelayanan maternal: kabupaten Banyumas
Latar Belakang:Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang menyumbangkan AKI (Angka Kematian Ibu) tertinggi di Indonesia. Salah satu proram untuk mengatasinya adalah dengan efisiensi rujukan yang dikemas dalam program SIJARI EMAS. Program SIJARI EMAS telah dilaksanakan di 5 provinsi dengan AKI tertinggi di Indonesia, salah satunya Jawa Tengah. Pada region Jawa Tengah program SIJARI EMAS dilaksanakan di 7 Kabupaten, salah satunya Kabupaten Banyumas. Kabupaten Banyumas telah melaksanakan program ini sejak tahun 2012. Alasan Kabupaten Banyumas dipilih untuk menjalankan program ini karena, tingginya AKI di Kabupaten Banyumas pada tahun 2012 yaitu mencapai 144 per 100.000 KH, sekaligus menempati peringkat ke-6 di Jawa Tengah. Setelah program berjalan 5 tahun, Kabupaten Banyumas masih memilki AKI yang tinggi, hingga menempati peringkat ke-7 di Jawa Tengah dibandingkan dengan Kabupaten atau Kota lain yang tidak menjalankan program. Hal tersebut menggambarkan bahwa program SIJARI EMAS tidak berdampak signifikan terhadap kematian ibu di Banyumas. Metode: Kajian ini menggunakan literatur review tentang penggunaan sistem elektronik rujukan kesehatan. Hasil: SIJARI EMAS memudahkan dalam pelayanan rujukan maternal, namun masih perlu investasi intitusional untuk pelaksanaan yang baik. Penerimaan operator tentang kemanfaatan dan kemudahan program merupakan isu yang perlu diperhatikan. Sosialisasi dan pelatihan telah dilakukan, namun perlu memperluas jaringan pelayanan PONEK. Kesimpulan: Perlu dilakukan evaluasi atau penelitian lebih lanjut terhadap program SIJARI EMAS dari segi operator program di Puskesmas yaitu Bidan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit. Latar Belakang:Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang menyumbangkan AKI (Angka Kematian Ibu) tertinggi di Indonesia , dan Kabupaten Banyumas merupakan daerah dengan AKI tertinggi sebesar 101 per 100.000 KH pada tahun 2015. Banyak faktor yang menyebabkan AKI di Jawa Tengah tetap tinggi, salah satunya masalah keterlambatan rujukan. Dalam mengatasai masalah ini Pemerintah telah menginisiasi program yang meningkatkan efisiensi rujukan maternal yang dikemas sebagai program SIJARI EMAS, program SIJARI EMAS telah dilaksanakan di 7 kabupaten salah satunya Kabupaten Banyumas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pelaksanaan program SIJARI EMAS di Kabupaten Banyumas.Metode: Kajian ini menggunakan literatur review tentang pelaksanaan sistem rujukan maternal di Banyumas.Hasil: Berdasarkan hasil literatur review menunjukan sitem rujukan berbasis elektonik memudahkan dalam pelayanan rujukan, namun masih perlu ada regulasi pendukung dalam pelaksanaan program system rujukan berbasis elektronik, seperti evaluasi SDM terkait pelaksanaan program.Kesimpulan: Perlu dilakukan sosialisasi program dan penelitian lebih lanjut atau evaluasi pelaksanaan program SIJARI EMAS dari segi kesiapan SDM yang terlibat dalam program yang meliputi Puskesmas yaitu Bidan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit. Keyword: SIJARI EMAS, Rujukan, materna
[PHS4]
Latar Belakang: Berdasarkan data Community and Family Health Care (CFHC) FKKMK UGM tahun 2018, sebanyak 32,6% keluarga di Jaten memiliki anggota keluarga yang menderita hipertensi. Salah satu upaya pengendalian PTM dilakukan dengan pembentukkan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM. Posbindu PTM di Dusun Jaten telah dibentuk sejak bulan April 2018 namun partisipasi remaja dalam pelaksanaan kegiatan tersebut masih rendah. Dirancang “PROTECTOR JATEN” (Program Deteksi Dini dan Cegah Penyakit oleh Remaja Jaten) untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan remaja yang dimulai dengan pembentukan kader remaja dan dilanjutkan dengan kegiatan Sekolah Kader untuk membekali kader remaja pengetahuan dan keterampilan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader remaja di dusun Jaten mengenai sistem lima meja dalam pelaksanaan Posbindu PTM.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode mixed method. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan rancangan pre-eksperimental dengan one group pretest posttest design kepada 11 orang kader remaja. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara semi struktural terhadap 5 orang kader remaja yang dipilih secara acak.Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan tentang PTM dan pelaksanaan Posbindu PTM yang signifikan setelah dilakukan Sekolah Kader (p= 0,003) dengan nilai rata-rata pretest 6,646 dan nilai rata-rata posttest 8,573. Terdapat peningkatan keterampilan kader remaja dalam melaksanakan sistem lima meja Posbindu PTM yang dinilai dengan observasi langsung pada saat pendampingan kegiatan Posbindu PTM. Kesimpulan: Kegiatan Sekolah Kader dapat meningkatkan pengetahuan kader remaja mengenai PTM dan pelaksanaan Posbindu PTM; Kegiatan Sekolah Kader dapat meningkatkan keterampilan kader remaja dalam melaksanakan pemeriksaan dalam pelaksanaan Posbindu PTM.Latar Belakang: Berdasarkan data Community and Family Health Care (CFHC) FKKMK UGM tahun 2018, sebanyak 32,6% keluarga di Jaten memiliki anggota keluarga yang menderita hipertensi. Salah satu upaya pengendalian PTM dilakukan dengan pembentukkan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM. Posbindu PTM di Dusun Jaten telah dibentuk sejak bulan April 2018 namun partisipasi remaja dalam pelaksanaan kegiatan tersebut masih rendah. Dirancang “PROTECTOR JATEN” (Program Deteksi Dini dan Cegah Penyakit oleh Remaja Jaten) untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan remaja yang dimulai dengan pembentukan kader remaja dan dilanjutkan dengan kegiatan Sekolah Kader untuk membekali kader remaja pengetahuan dan keterampilan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader remaja di dusun Jaten mengenai sistem lima meja dalam pelaksanaan Posbindu PTMMetode: Penelitian ini dilakukan dengan metode mixed method. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan rancangan pre-eksperimental dengan one group pretest posttest design kepada 11 orang kader remaja. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara semi struktural terhadap 5 orang kader remaja yang dipilih secara acak.Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan tentang PTM dan pelaksanaan Posbindu PTM yang signifikan setelah dilakukan Sekolah Kader (p= 0,003) dengan nilai rata-rata pretest 6,646 dan nilai rata-rata posttest 8,573. Terdapat peningkatan keterampilan kader remaja dalam melaksanakan sistem lima meja Posbindu PTM yang dinilai dengan observasi langsung pada saat pendampingan kegiatan Posbindu PTM.Kesimpulan: Kegiatan Sekolah Kader dapat meningkatkan pengetahuan kader remaja mengenai PTM dan pelaksanaan Posbindu PTM; Kegiatan Sekolah Kader dapat meningkatkan keterampilan kader remaja dalam melaksanakan pemeriksaan dalam pelaksanaan Posbindu PTM
Modifikasi Kantong SOSA dalam Pemutusan Penularan TB Paru di Kota Medan Tahun 2018
Prevales rate TB Paru di Sumatera Utara 794/100.000 penduduk dan Insidens Rate 501/100.000 penduduk dengan kematian akibat TB 41/100.000 penduduk. Insidens rate TB di Kota Medan diperkirakan 129 per 100.000 penduduk. Kantong SOSA (Sori Syarifah) wadah yang diisi dengan lisol 5-20 % dapat membunuh kuman TB dalam dahak, kantong ini juga disertai pesan promosi kesehatan. Kantong SOSA pernah diuji coba dalam upaya pemutusan rantai penularan TBC Paru dengan penilaian masa penularan yang masih singkat sehingga belum didapatkan hasil yang signifikan. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi kantong SOSA dan botol SOSA menganalisa efektivitas kantong SOSA dan botol SOSA. Disain penelitian crossectional, variabel independen karakteristik penderita (umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan) dan variabel dependen risiko penularan TBC Paru berdasarkan peran PMO, kepatuhan minum obat, kebiasaan menggunakan masker, kebiasaan membuang dahak, perilaku mencegah penularan melalui lingkungan dan efektivitas penggunaan botol dan kantong. Populasi seluruh penderita TBC Paru BTA+ yang berobat ke Puskesmas kota Medan dari bulan Maret sampai Juli 2018 berjumlah 125 penderita dan analisa menggunakan uji Kruskal-Wallis da Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran PMO, kepatuhan minum obat, kebiasaan menggunakan masker, kebiasaan membuang dahak dan perilaku mencegah penularan melalui lingkungan ternyata penggunaan kantong dan botol SOSA lebih efektif dibandingkan dengan kelompok non intervensi (p<0,05). Demikian juga botol SOSA lebih efektif dan lebih dapat diterima oleh penderita TBC Paru dalam menurunkan risiko penularan TB Paru dibandingkan dengan kantong SOSA (p=0,039). Direkomendasikan kepada petugas TB puskesmas agar lebih memotivasi dan mengedukasi penderita TBC Paru untuk menggunakan botol SOSA sebagai wadah tempat membuang dahak, masker dan tisu habis pakai. Penderita TBC Paru dianjurkan patuh minum obat sesuai dengan anjuran petugas TB Puskesmas, selalu memakai masker ketika batuk dan membuang dahak pada botol SOSA. Penderita TBC Paru dan orang sekitarnya dianjurkan untuk selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).Prevales rate TB Paru di Sumatera Utara 794/100.000 penduduk dan Insidens Rate 501/100.000 penduduk dengan kematian akibat TB 41/100.000 penduduk. Insidens rate TB di Kota Medan diperkirakan 129 per 100.000 penduduk. Kantong SOSA (Sori Syarifah) wadah yang diisi dengan lisol 5-20 % dapat membunuh kuman TB dalam dahak, kantong ini juga disertai pesan promosi kesehatan. Kantong SOSA pernah diuji coba dalam upaya pemutusan rantai penularan TBC Paru dengan penilaian masa penularan yang masih singkat sehingga belum didapatkan hasil yang signifikan. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi kantong SOSA dan botol SOSA menganalisa efektivitas kantong SOSA dan botol SOSA.Disain penelitian crossectional, variabel independen karakteristik penderita (umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan) dan variabel dependen risiko penularan TBC Paru berdasarkan peran PMO, kepatuhan minum obat, kebiasaan menggunakan masker, kebiasaan membuang dahak, perilaku mencegah penularan melalui lingkungan dan efektivitas penggunaan botol dan kantong. Populasi seluruh penderita TBC Paru BTA+ yang berobat ke Puskesmas kota Medan dari bulan Maret sampai Juli 2018 berjumlah 125 penderita dan analisa menggunakan uji Kruskal-Wallis da Mann-Whitney.Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran PMO, kepatuhan minum obat, kebiasaan menggunakan masker, kebiasaan membuang dahak dan perilaku mencegah penularan melalui lingkungan ternyata penggunaan kantong dan botol SOSA lebih efektif dibandingkan dengan kelompok non intervensi (p<0,05). Demikian juga botol SOSA lebih efektif dan lebih dapat diterima oleh penderita TBC Paru dalam menurunkan risiko penularan TB Paru dibandingkan dengan kantong SOSA (p=0,039). Direkomendasikan kepada petugas TB puskesmas agar lebih memotivasi dan mengedukasi penderita TBC Paru untuk menggunakan botol SOSA sebagai wadah tempat membuang dahak, masker dan tisu habis pakai. Penderita TBC Paru dianjurkan patuh minum obat sesuai dengan anjuran petugas TB Puskesmas, selalu memakai masker ketika batuk dan membuang dahak pada botol SOSA. Penderita TBC Paru dan orang sekitarnya dianjurkan untuk selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
ANALISIS SPASIAL KEJADIAN PENYAKIT KUSTA DI KABUPATEN BLORA PROVINSI JAWA TENGAH
Spatial analysis of leprosy in BloraPurposeThis research aimed to discover the existence of leprosy agglomeration and factors causing leprosy.MethodThis research was an epidemiological study conducted in Blora. Data were analyzed using individual approach and spatial analysis.ResultsThere were clusters of leprosy cases at coordinates 7.215035 S and 111.535428 E radius of 10.54 km. Variables related to leprosy incidence were economic status and the distance of reservoir. The economic status obtained coefficient value -0.882169, error standard 0.372429, t-statistic -2.36869 and p-value 0.01881. While the distance of reservoir obtained coefficient value 0.00344507, standard error 0.000965419, t-statistic 3.56847 and p-value 0.00045.ConclusionThere were clusters of leprosy patients. There was a significant correlation between the variable of economic status and the distance of reservoir with the leprosy incidence. Health offices and related sectors need to provide informal skills training to leprosy patients for increasing family income.Latar Belakang : Tahun 2014 jumlah penderita kusta baru di dunia sebanyak 213.899 kasus. Sedangkan di Indonesia sebanyak 16.131 kasus dengan New Case Detection Rate (NCDR) adalah 6,4 per 100.000 penduduk. Prevalensi kasus kusta di Kabupaten Blora berada pada kisaran 1,10-1,15/10.000 penduduk pada tahun 2011 – 2014 sehingga termasuk daerah endemis penyakit kusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengelompokan penderita kusta dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kusta di Kabupaten Blora.Metode : penelitian cross sectional ini dilaksanakan di Kabupaten Blora, menggunakan pendekatan epidemiologi. Data dianalisa menggunakan pendekatan individual dan analisis spasial. Ini dilakukan dengan menyelidiki hubungan antara penyakit kusta dengan status ekonomi, kepadatan penduduk, jarak waduk/bendungan, jarak jalan, jarak sungai, dan jarak puskesmas.Hasil : Dalam analisis cluster terdapat pengelompokan kasus kusta pada koordinat 7.215035 S dan 111.535428 E radius 10,54 km, dengan p-value 0,000053. Variabel yang berhubungan dengan kejadian penyakit kusta dalam penelitian ini adalah status ekonomi dan jarak waduk/bendungan. Hasil analisis spasial menunjukkan status ekonomi diperoleh nilai koefisien -0,882169, standart error 0,372429, t-statistic -2,36869 dan p-value 0,01881. Sedangkan jarak waduk/bendungan diperoleh nilai koefisien 0,00344507, standart error 0,000965419, t-statistic 3,56847 dan p-value 0,00045,Kesimpulan : Terdapat pengelompokan penderita kusta di Kabupaten Blora. Ada hubungan variabel status ekonomi dan jarak waduk/bendungan dengan kejadian campak. Dinas kesehatan dan sektor terkait perlu memberikan pelatihan keterampilan informal kepada penderita kusta untuk meningkatkan pendapatan keluarga.Kata kunci : spasial, kusta, Kabupaten Blor
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)
Factors associated with quality of life among patients with chronic obstructive pulmonary diseasePurposeThis study is conducted to examine factors associated with quality of life among patients with the chronic obstructive pulmonary disease.MethodsThis study was a cross-sectional study involving 146 patients from Muhammadiyah and Temanggung hospital. The quality of life was measured using clinical questionnaire. The independent variables were body mass index, smoking status, severity level, hypertension, diabetes mellitus, and depression. Data were analyzed using Chi-Square and Poisson regression.ResultsThe majority of patients aged 67 years (36.3%) are male (61%), had normal weight (55.5%) and quitted smoking for 0-5 years (20.6%). Spirometry shows that almost half (40,4%) patients are at the moderate level. The highest proportion of comorbidities are hypertension (34.2%), depression (32.9%) and diabetes mellitus (6.2%). There are 28.1% patients who had a poor quality of life. Multivariate analysis shows that current smoker, very severe level of the disease and depression related to the quality of life.ConclusionCurrent smoker, very severe level of the disease and depression could lead to a worse quality of life. Medication management programs should encourage patients to stop smoking. The development of interventions focusing on depression is also needed.Latar belakang : Insiden PPOK sebesar 164/100.000 penduduk usia diatas 15 tahun di Kabupaten Temanggung. Semakin meningkatnya prevalensi PPOK dan penyakitnya yang kronis, menyebabkan kualitas hidup pasien semakin menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien PPOK.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional, dilakukan pada Maret-April 2017. Subjek penelitian sebanyak 146 pasien PPOK di Poli Paru RS PKU Muhammadiyah dan RSUD Kabupaten Temanggung. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Variabel dependen adalah kualitas hidup yang dinilai menggunakan Clinical COPD Questionnaire (CCQ). Variabel independen adalah BMI, status merokok, derajat keparahan, hipertensi, diabetes dan depresi. Data dianalisis menggunakan Chi Square dan regresi poisson untuk uji bivariat dan regresi poisson untuk uji multivariat. Hasil : Sebagian besar pasien PPOK berusia 61-70 tahun (36,30%), laki-laki (60,96%), BMI dengan kategori normal (55,48%) dan telah berhenti merokok selama 0-5 tahun (20,55%). Pemeriksaan spirometri menunjukkan bahwa sebanyak 40,41% pasien mengalami derajat sedang. Komorbiditas tertinggi yang dialami yaitu hipertensi (34,25%) diikuti depresi (32,88%) dan dan diabetes (6,17%). Hasil penilaian CCQ menunjukkan sebanyak 28,08% pasien memiliki kualitas hidup buruk. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa masih merokok, derajat sangat berat dan depresi berhubungan dengan kualitas hidup pasien PPOK (p<0,05).Kesimpulan : Masih merokok, derajat sangat berat dan munculnya depresi dapat memperburuk kualitas hidup pasien PPOK. Managemen pengobatan pasien sebaiknya mendorong kepatuhan pasien untuk berhenti merokok dan pengembangan intervensi fokus pada depresi
Psychosocial problems of adolescents living in slum riverbank area
Factors associated with adolescents psychosocial problems in the Code riverbank in YogyakartaPurpose: To identify factors related to adolescent psychosocial problems in the watershed of the Code River in Yogyakarta.Method: The samples are 173 adolescents aged 12-19 years who were selected by consecutive sampling technique based on predetermined inclusion and exclusion criteria. The research instruments used were questionnaire of respondent characteristics, Pediatric Symptom Checklist-Youth Report questionnaire, Child And Adolescent Social Support Scale questionnaire, and residence environment questionnaire. This study used univariate analysis, Chi square test, Fisher test and logistic regression test.Results: A total of 11.6% of adolescents in the Code riverbank area experienced psychosocial problems. Level of education, parental support and the fairness of residence are associated with adolescent psychosocial problems, with level of education as the greatest factor.Conclusion: Adolescent psychosocial problems that occur in the watershed of the Code River in Yogyakarta are related to educational level, parental support and the fairness of adolescent residence.Purpose: To identify factors related to the psychosocial problem of adolescents in the area of Kali Code of Yogyakarta City.Method: This research is a correlational analytic research with community-based cross sectional study design. The study was conducted from July to September 2017 along the riverbanks of Code River in Gondokusuman, Gondomanan and Pakualaman sub-districts. The sample in this study amounted to 173 adolescents aged 12-19 years who were selected by consecutive sampling technique based on inclusion and exclusion criteria that have been established. The research instrument used was respondent characteristic questionnaire, Pediatric Symptom Checklist-Youth Report questionnaire, Child And Adolescent Social Support Scale questionnaire, and environmental questionnaire of residence. This study used univariate analysis, Chi square test, Fisher test and logistic regression test.Results: A total of 11.6% of adolescents in the riverbank area of Kali Code Kota Yogyakarta experienced psychosocial problems. The level of education, parental support and the feasibility of the dwelling has a relationship with the psychosocial problems of adolescents in the riverbank area of Kali Code Kota Yogyakarta. The level of education is the biggest factor associated with the psychosocial problems of adolescents in the area of the river Kali Code Yogyakarta.Conclusion: The adolescent psychosocial problems that occur in the riverbank area of Kali Code Kota Yogyakarta are related to educational level factors, parental support and feasibility of adolescent residence
Kontribusi agen dan faktor penyebab kejadian luar biasa keracunan pangan di Indonesia: kajian sistematis
Contribution of agents and factors causing foodborne outbreak in Indonesia: a systematic review PurposeThe purpose of this study is to understand burden of foodborne outbreak in Indonesia during 2000 -2015. MethodSystematic review conducted based on publish and unpublished (grey literature) data during 2000 -2015. Publish data from search engine such as Google scholar, open access, repository online university in Indonesia. Grey literature collected from investigation report from selected university (UGM, UI and UNAIR), Ministry of Health, Food and Drug Administration (BPOM) Indonesia. 2 reviewer will select and extract relevant data. ResultsDuring 2000 – 2015 there was 1.176 foodborne outbreak with West Java Province as the highest event with 61.119 foodborne cases (AR: 8.5%) and 291 deaths (CFR: 0.4%). Women have more risk on foodborne with proportion 58.3%. Daily meal (36.6%) and special celebration (29.7%) as more risk activities with house (48.9%) and school (13.7%) as highest risk area for foodborne outbreak. Homemade food (46.9%) and catering food (18.9%) as highest causes of cases with pathogen bacterial as frequent agent (74.9%) such as E.coli. The most contributing factor was inadequate cooking and storage at inappropriate temperature.ConclusionHigh risk population of foodborne outbreak was women with pathogen bacterial as the highest agent. The most contributing factor was pathogen resistance and growth. It need to increase monitoring and food-handler as food safety standard