MEDIA MATRASAIN (Journal)
Not a member yet
349 research outputs found
Sort by
PENYUSUNAN INSTRUMEN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG KAWASAN SEKITAR TPA REGIONAL ILO-ILO
ABSTRAK
Pemanfaatan ruang dalam pelaksanaannya tidak selalu sejalan dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya tekanan perkembangan pasar terhadap ruang, belum jelasnya mekanisme pengendalian, dan lemahnya penegakan hukum. Selain itu, dapat disebabkan juga karena produk rencana tata ruang yang kurang memperhatikan aspek pelaksanaan atau pemanfaatan ruang yang kurang memperhatikan rencana tata ruang. Maka, pengendalian pemanfaatan ruang sangat diperlukan untuk mewujudkan terciptanya pembangunan yang tertib tata ruang. Salah satu pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang yang dilakukan berada di kawasan sekitar Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Sampah Regional Ilo-Ilo. Isu dan permasalahan di kawasan tersebut adalah terjadinya dominasi kegiatan pemanfaatan ruang yang tinggi seperti peruntukan permukiman dan perkantoran yang berpotensi melampaui daya dukung dan daya tampung peruntukan yang direncanakan. Kawasan sekitar TPA Sampah Regional Ilo-Ilo berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Utara Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Utara Tahun 204-2034 memiliki peruntukkan ruang sebagai tanaman pangan, perkebunan dan tanaman tahunan. Agar pemanfaatan tata ruang dapat berjalan sesuai dengan rencana tata ruang maka diperlukan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di kawasan sekitar TPA Sampah Regional Ilo-Ilo menghasilkan 5 (lima) zona kendali kawasan. Setiap zona kendali kawasan memiliki peruntukkan kawasan, ketentuan intensitas pemanfaatan ruang, ketentuan tata bangunan, ketentuan sarana prasarana, dan pemberian insentif dan pemberian disinsentif.
Kata Kunci: Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Zona Kendali Kawasan, TPA Sampah Regional.
ABSTRACT
Spatial utilization in its implementation is not always in line with the established spatial plan. This is caused by several factors, including market development pressure on space, unclear control mechanisms, and weak law enforcement. In addition, it can also be caused by spatial planning products that pay less attention to aspects of implementation or spatial use that pay less attention to spatial planning. So controlling the use of space is very necessary to realize the creation of an orderly spatial development. One of the implementations of space utilization control done in the area around the Ilo-Ilo Regional Waste Final Processing Site (TPA). Issues and problems in the area are the domination of high spatial use activities such as the designation of settlements and offices which have the potential to exceed the carrying capacity and capacity of the planned designation. The area around the Ilo-Ilo Regional Waste TPA based on Regional Regulation of North Sulawesi Province Number 1 of 2014 about Spatial Planning for North Sulawesi Province Year 204-2034 has space allotment as food crops, plantations and annual crops. In order for the spatial utilization to run according to the spatial plan, a Space Utilization Control Instrument is needed. The Spatial Utilization Control Instrument in the area around the Ilo-Ilo Regional Waste TPA produces 5 (five) area control zones. Each area control zone has respective area designation, spatial use intensity provisions, building layout provisions, and infrastructure facility provisions as well as provision of incentives and disincentives.
Keywords: Space Utilization Control, Area Control Zones, The Ilo-Ilo Regional Waste TP
PROSPEK PENERAPAN GREEN TRANSPORTATION DI KOTA TOMOHON
ABSTRAK
Adapun dalam RTRW Kota Tomohon tahun 2013-2033 menyampaikan terkait upaya pengembangan sistem transportasi juga dalam RPJMD Kota Tomohon tahun 2021-2026 mengenai upaya peningkatan infrastruktur yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Berdasarkan penetapan kebijakan tersebut, maka diperlukan penanganan yang tepat. Transportasi hijau (green transportation) juga sebagai atribut penyusun kota hijau (green city) adalah suatu upaya perwujudan moda transportasi yang ramah lingkungan serta berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan Kota Tomohon dalam penerapan konsep green transportation. Kualitatif deskriptif digunakan sebagai metode dengan analisis kondisi dan kesesuaian infrastruktur dan analisis SWOT sebagai input bagi analisis kesiapan (readiness assessment) dengan metode skoring yang akan mengukur tingkat kesiapan pemahaman masyarakat, kesiapan preferensi masyarakat dalam melakukan perjalanan, dan kesiapan infrastruktur dasar transportasi hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat memperoleh skor 5 dengan kategori siap, untuk preferensi masyarakat dalam melakukan perjalanan memperoleh skor 7 dengan kategori siap, dan untuk infrastruktur dasar green transportation memperoleh skor 5 dengan kategori tidak siap. Setelah dilakukan perhitungan secara menyeluruh maka diperoleh presentase kesiapan adalah 66,6% dengan kategori cukup siap.
Kata Kunci: Transportasi Hijau, Infrastruktur, Analisis Kesiapan
ABSTRACT
In terms of Tomohon City RPJMD efforts to improve environmentally friendly and sustainable infrastructure, the 2013–2033 Tomohon City Spatial Planning communicates related to efforts to develop the transportation system. It is necessary to handle the right in light of these policies' determination. Green transportation(green transportation) likewise as a constituent characteristic of a green city(green city) is a work to understand a harmless to the ecosystem and practical method of transportation. This study means to look at the preparation of Tomohon City in applying the idea green transportation. The scoring method for readiness analysis (readiness assessment) will measure the level of readiness of the community's understanding, the community's preferences for traveling, and the readiness of the basic infrastructure for green transportation. Descriptive qualitative is used as a method with analysis of the condition and suitability of infrastructure and SWOT analysis as input. The consequences of the review show that local area understanding gets a score of 5 in the prepared classification, for individuals' inclinations in voyaging, they get a score of 7 in the prepared class, and for fundamental foundation green transportation get a score of 5 with the ill-equipped classification. The percentage of readiness is 66.6%, with the category of "quite ready" following a thorough calculation.
Keywords: Green Transportation, Infrastructure, Readiness Assessmen
DENTIFIKASI REGIONAL HERITAGE SEBAGAI POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA SEJARAH DI KECAMATAN AIRMADIDI KABUPATEN MINAHASA UTARA
Abstrak
Kabupaten Minahasa Utara memilik potensi alam yang luas serta kekayan sejarah dan budaya daerah yang menjadi daya tarik tersendiri sehingga kabupaten Minahasa Utara menjadi salah satu daerah tujuan wisata Indonesia di provinsi Sulawesi Utara. Menurut RTRW Kabupaten Minahasa Utara, kawasan wisata budaya berada di kecamatan Airmadidi yang memiliki berbagai peninggalan budaya yang seharusnya dilinduni dan dikembangkan untuk menjadi tujuan wisata berbasis budaya dan sejarah. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi peninggalan budaya di kecamatan Airmadidi, dan menganalisis karakteristik peninggalan sejarah di kecamatan Airmadidi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjawab rumusan masalah yang ada. Berdasarkan hasil analisis, di kecamatan Airmadidi terdapat 19 objek peninggalan sejarah. Menurut UU No. 10 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya, 10 dari 19 objek peninggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, sedangkan 9 lainnya belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Beberapa objek peninggalan sejarah yang ada di kawasan budaya di kecamatan Airmadidi dalam kondisi kurang baik dan tidak terpelihara, padahal memiliki karakteristik yang unik dan nilai historial yang tinggi, sehingga sangat layak untuk dikembangkan sebagai potensi Kawasan Wisata Sejarah.
Kata Kunci: Kawasan Wisata, Sejarah dan Budaya, Kabupaten Minahasa Utara Abstract
North Minahasa Regency has vast natural potential and rich regional history and culture which is the main attraction so that North Minahasa Regency becomes one of Indonesia's tourist destinations in North Sulawesi province. According to RTRW North Minahasa Regency, the cultural tourism area is in Airmadidi sub-district which has various cultural relics that should be protected and developed to become cultural and history-based tourist destinations. Based on the description above, this study aims to examine the potential of cultural relics in Airmadidi sub-district, and analyze the characteristics of historical relics in Airmadidi sub-district. This research uses qualitative descriptive methods to answer existing problem formulations. Based on the results of the analysis, in Airmadidi sub-district there are 19 historical heritage objects. According to Law No. 10 of 2011 concerning Cultural Heritage, 10 of the 19 historical heritage objects have been designated as cultural heritage, while the other 9 have not been designated as cultural heritage. Some historical heritage objects in the cultural area in Airmadidi sub-district are in poor condition and not maintained, even though they have unique characteristics and high historical value, so they are very worthy to be developed as potential Historical Tourism Areas.
Keywords: Tourism, History and Culture Area, North Minahasa Regenc
DESAIN WALE LANSIA DI MANADO DENGAN KONSEP ARSITEKTUR BIOFILIK
Abstrak
. Meningkatnya perekonomian di masa globalisasi ini menghasilkan masyarakat dengan mobilitas tingkat tinggi dan sebagai konsekuensi terkesan lalai dalam menjalankan kewajibannya dalam menjaga dan mengurus orang tua, terlebih lagi bagi para lansia. Yang paling terdampak adalah para orang tua yang tidak tinggal satu atap dengan anak-cucu dan jarang dikunjungi sehingga tak heran mereka merasa terasingkan dan terabaikan. Berangkat dari situasi dan realita yang sulit ini, banyak lansia yang tinggal di panti jompo/panti werdha oleh karena pilihan sendiri ataupun keterpaksaan. Tidak heran rasa kekeluargaan antar para lansia cenderung kuat karena adanya rasa sepenanggungan-senasib serta kolektivitas yang disebabkan mental usia. Kondisi para orang tua lanjut usia menuntut kebutuhan dan kualitas hidup yang tinggi yang antara lain pemeriksaan kesehatan berkala & rutin, kebutuhan asupan gizi yang baik, rutinitas fisik yang tidak terlalu intens namun bisa menjaga ketahanan tubuh untuk tetap prima serta kondisi hunian yang sehat dan tentram yang didukung dengan kondisi sosial yang ramah dan interaktif..
Provinsi Sulawesi Utara menempati urutan ke lima sebagai provinsi dengan penduduk lanjut usia terbanyak di Indonesia, sementara ketersediaan fasilitas yang menunjang beragam aktivitas bagi para lansia di Manado sangatlah terbatas. Dari uraian-uraian diatas maka perancangan Wale Lansia di Manado dengan penerapan tema Arsitektur Biophilik yang mampu mencakup segala aspek kebutuhan orang tua lansia dan diharapkan dapat menjadi salah satu jawaban untuk segala kegiatan dan kebutuhan lanjut usia.
Kata Kunci – Wale, Lansia, Biofilik
Abstract
The growing economy in this era of globalization has produced people with high levels of mobility and as a consequence they seem negligent in fulfilling their obligations to care for and care for their parents, especially the elderly. The most affected are parents who do not live under the same roof as their children and grandchildren and are rarely visited, so it is not surprising that they feel marginalized and abandoned. Starting from this difficult situation and reality, many older people live in nursing homes/residential homes by choice or by compulsion. Not surprisingly, the sense of kinship among the elderly tends to be strong because of a sense of shared destiny and collectivity caused by mental age. The condition of elderly parents demands high needs and quality of life that include regular and routine health check-ups, the need for good nutritional intake, physical routines that are not too intense but can maintain the body's recovery capacity to maintain itself. fit, as well as a healthy and calm life. conditions that are sustained in friendly and interactive social conditions.
North Sulawesi province ranks fifth as the province with the oldest population in Indonesia, while the availability of facilities supporting various activities for the elderly in Manado is very limited. From the above descriptions, the design of Elderly Wale in Manado with Biophilic Architecture theme application is able to cover all aspects of the needs of elderly parents and is expected to be one of the answer for all activities and needs of the elderly.
Keywords – Wale, Elderly, Biophili
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS MASYARAKAT DI JALAN PEDESTRIAN KOTA MANADO DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LIVING
Secara sederhana, active living berarti berusaha untuk tetap aktif secara fisik setiap hari tanpa harus melakukannya, seperti penggunaan transportasi aktif untuk berjalan kaki atau bersepeda di jalur pedestrian. Menurut Government of Western Australia (2015), hal ini memiliki faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang sehingga active living memberikan dampak triple-bottom-line baik dalam menghidupkan lingkungan pedestrian yang merupakan salah satu upaya mewujudkan healthy city.
Tujuan penelitian ini memfokuskan faktor utama yang paling mempengaruhi seseorang untuk bergerak aktif sepanjang jalur pedestrian Laksda John Lie berdasarkan teori triple-bottom-line, berlokasi di Kawasan komersial terbesar Kota Manado serta usulan dalam menaikan tingkat minat masyarakat terhadap active living. Metode yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, observasi lapangan dan kuisioner bersifat tertutup, pengumpulan sampel data menggunakan teknik purposive. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa secara umum masyarakat setuju tentang pentingnya active living dan faktor utama seseorang untuk bergerak aktif dalam sebuah lingkungan komersial adalah faktor lingkungan.
Kata kunci – active living, bergerak aktif, pedestrian
In simple terms, active living means trying to stay physically active every day without having to do so, such as the use of active transportation for walking or cycling on pedestrian paths. According to the Government of Western Australia (2015), this has factors that influence a person's behavior so that active living has a triple-bottom-line impact in reviving the pedestrian environment which is one of the efforts to realize a healthy city.
The purpose of this research is to focus on the main factors that most influence a person to move actively along the Laksda John Lie pedestrian path based on the triple-bottom-line theory, located in the largest commercial area of Manado City and suggestions in increasing the level of public interest in active living. The methods used are qualitative and quantitative, field observations and closed questionnaires, data sample collection using purposive techniques. The results of this study suggest that in general people agree about the importance of active living and the main factor for a person to move actively in a commercial environment is environmental factors.
Keywords – active living, move actively, pedestria
PENERAPAN TEORI ARSITEKTUR NEO -VERNAKULAR DALAM RE-DESAIN TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN MANADO
Abstrak
Kepariwisataan merupakan salah satu faktor pendorong ekonomi terkuat di Indonesia terlebih khusus pariwisata maritim, berhubung Indonesia merupakan suatu negara kepulauan sehingga pengadaan sarana dan prasarana transportasi laut berupa terminal pelabuhan menjadi sangat penting baik sebagai fungsi perhubungan transportasi orang antar pulau, pengembangan ekonomi daerah, serta sebagai pendukung berlangsungnya kegiatan pariwisata. Melihat kondisi terminal pelabuhan Manado sekarang, masih terdapat beberapa kekurangan yang masih dapat dioptimalkan terkait pengelolaan terminal penumpang serta fasilitas – fasilitas pendukung pada objek tersebut berupa lahan parkir, pola sirkulasi kendaraan yang terkesan tidak teratur, serta pengorganisasian ruang dalam. Terminal penumpang pelabuhan Manado juga memiliki banyak potensi yang masih dapat dimanfaatkan, salah satunya adalah nilai historik yang terkandung pada lokasi tersebut berupa bangunan eks belandayang dapat meningkatkan nilai historik tapak sebagai suatu tujuan pariwisata, sehingga arsitektur vernakular dapat digunakan untuk mempertahankan nilai tersebut serta dapat mempresentasikan budaya – budaya rumah adat Walewangko. Namun melihat perkembangan jaman sekarang, gaya arsitektur yangsering digunakan adalah modern, serta pada masa kini sudah terdapat berbagai macam teknologi, bahan dan material yang lebih maju, sehingga arsitektur vernakular akan mudah dianggap kuno. Maka dari itu, arsitektur neo vernakular akan diterapkan agar objek dapat beradaptasi dengan perkembangan jaman terkait bangunan bangunan modern. Dalam perancangan ini, metode perancangan yang digunakan adalah metode “glassbox” yang merupakan metode perancangan yang tidak timbul secara spontan melainkan dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan serta mempertimbangkan hal-hal tertentu berupa data, analisa dan sintesis.
Kata Kunci – Pelabuhan, Terminal, Arsitektur, Kepariwisataan, Manado.
Abstract
Tourism is one of the strongest economic driving factors in Indonesia, especially maritime tourism, because Indonesia is an archipelagic country so that the procurement of marine transportation facilities and infrastructure in the form of port terminals is very important both as a function of inter-island transportation for people, regional economic development, and as a support to the ongoing tourism activities. Looking at the current condition of the Manado port terminal, there are still some deficiancy that can still be optimized related to the management of the passenger terminal and the supporting facilities on the object in the form of parking lots, vehicle circulation patterns that seem irregular, and the organization of indoor space. Manado Port Passenger Terminal also has a lot of potential that can still be utilized, one of which is the historical value contained at the location in the form of ex-Dutch buildings which can increase the historical value of the site as a tourism destination, therefore vernacular architecture can be used to maintain the historical value also can represent some of the traditional house Walewangko. Looking at current developments of time, the architectural style that is often used is the modern style, and nowadays there are various kinds of technology, tools and materials that are more advanced, so that vernacular architecture will easily be considered ancient. Therefore, neo vernacular architecture will be applied so that objects can adapt to the developments of the times related to modern buildings. In this design, the design method used is the "glassbox" method, which is a design method that does not arise spontaneously but is carried out in stages, taking into account and considering certain things in the form of data, analysis and synthesis.
Keywords – Port, Terminal, Architecture, Tourism, Manado
EVALUASI PEMANFAATAN RUANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASIONAL PENERBANGAN BANDARA INTERNASIONAL SAM RATULANGI MANADO
ABSTRAK
Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) adalah wilayah daratan dan/atau perairan serta ruang udara di sekitar bandar udara yang digunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin Keselamatan Penerbangan. Pertumbuhan penduduk Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara yang signifikan, dan dengan banyaknya destinasi wisata yang ada di Provinsi Sulawesi Utara maka dapat banyak menarik wisatawan dari luar Provinsi Sulawesi Utara untuk datang berkunjung dan menyebabkan kebutuhan akan ruang di kawasan perkotaan semakin meningkat. Dengan ketersediaan lahan yang relatif tetap dan meningkatnya kebutuhan akan ruang, maka perluasan pemukiman atau pembangunan cenderung mendekati kawasan-kawasan disekitar landasan pacu bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini dilakukan dilakukan pada kawasan keselamatan oprasi penerbangan Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado khususnya kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan dengan wilayah studi yaitu Kota Manado pada Kecamatan Mapanget di kelurahan Lapangan, kelurahan Mapanget Barat dan Kabupaten Minahasa Utara Kecamatan Talawaan yaitu di desa Wusa. Teknik analisis yang digunakan peneliti yaitu analisis spasial berupa overlay peta dan pembuatan peta tematik, analisis penggunaan lahan dan analisis deskriptif kualitatif dengan fokus variabel yaitu ketentuan kegiatan dan pemanfaatan ruang. Sampel dari penelitian ini sebanyak 85 responden dari masyarakat yang tinggal atau mempunyai lahan di kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan.Setelah dilakukan analisis, didapati hasil bahwa bahwa terdapat ketidaksesuaian peruntukan dan pemanfaatan ruang pada kawasan KKOP Khususnya pada Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan.
Kata Kunci: Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan, Lahan, dan Pemanfaatan Ruang.
ABSTRACT
The Aviation Operational Safety Area (KKOP) is the land and water area as well as the airspace around the airport used for flight operations in order to ensure Aviation Safety. The significant population growth of Manado City and North Minahasa Regency, and the many tourist destinations in North Sulawesi Province, can attract many tourists from outside North Sulawesi Province to come to visit and cause the need for space in urban areas to increase. With the relatively fixed availability of land and the increasing need for space, the expansion of settlements or development tends to approach the areasaround the runway of Sam Ratulangi Manado International airport. This research was conducted in theflight operation safety area of Sam Ratulangi Manado International Airport, especially the Possible Accident Hazard area with the study area namely Manado City in Mapanget Sub-district in Lapangan village, West Mapanget village and North Minahasa Regency Talawaan Sub-district, namely in Wusa village. The analysis technique used by researchers is spatial analysis in the form of map overlay and thematic map making, land use analysis and qualitative descriptive analysis with variable focus on activity provisions and space utilization. The sample of this study was 85 respondents from people who live or own land in the accident hazard area. After the analysis, the results showed that there was a mismatch in the designation and utilization of space in the KKOP area, especially in the Possible Accident Hazard Area.
Keywords: Aviation Operational Safety Areas, Land and Space Utilization
PENATAAN KAWASAN WISATA BUKIT WAWO
ABSTRAK
Kota Tomohon adalah salah satu Kota di Provinsi Sulawesi Utara yang mempunyai potensi wisata yang menarik. Kota Tomohon memiliki berbagai potensi dibidang pariwisata yang tidak kalah bagus dengan daerah lain. Khususnya wisata alam Bukit Wawo. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik dan menganalisis penataan kawasan wisata bukit wawo. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Metode analisis data kuantitatif adalah metode yang digunakan untuk data yang bersifat numerik sedangkan metode analisis kualitatif adalah metode yang digunakan untuk data yang bersifat non numerik atau teks. Hasil penelitian menggambarkan penataan kawasan wisata di bukit wawo dengan tetap melihat kondisi infrastruktur pariwisata yang ada untuk diperlukan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan terutama pada jaringan jalan, jaringan air bersih, tempat sampah, listrik, telekomunikasi, dan infrastruktur pengelolaan limbah.
Kata Kunci: Daya Tarik Wisata, Infrastruktur Pariwisata, Penataan Kawasan Wisata
ABSTRACT
Tomohon City is one of the cities in North Sulawesi Province which has attractive tourism potential. Tomohon City has various potentials in the tourism sector that are no less good than other areas. Especially the natural tourism of Wawo Hill. The aim of this research is to identify the characteristics and analyze the arrangement of the Wawo Hill tourist area. The research methods used are qualitative and quantitative analysis. The quantitative data analysis method is a method used for data that is numerical in nature, while the qualitative analysis method is a method used for data that is non-numerical or text in nature. The results of the research illustrate the arrangement of the tourist area on Wawo Hill while still looking at the condition of the existing tourism infrastructure which requires comprehensive and sustainable treatment, especially the road network, clean water network, trash cans, electricity, telecommunications and waste management infrastructure.
Keywords: Touris Attraction, Tourism Infrastructure, Arrangement of Tourist Area
MANIFESTASI COMPACT CITY DI KOTA KOTAMOBAGU
Seiring berkembangnya zaman pada saat ini menimbulkan banyak permasalahan diantaranya urban sprawl. Peningkatan penduduk yang bermukim di kota Kotamobagu setiap tahunnya tentu akan semakin menambah kebutuhan ruang untuk pemenuhan kebutuhan penduduk yang semakin meningkat dan beragam, salah satu solusi mencegah meluasnya urban sprawl adalah dengan konsep compact city karena konsep ini merupakan salah satu model konsep pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini melakukan kajian di 4 Kecamatan yang berada di Kota Kotamobagu menggunakan metode penelitian kualitatif-kuantitatif dengan cara observasi langsung, pengambilan data melalui instansi dan dokumentasi. Pengelolahan data terbagi atas 3 bentuk yaitu editing, tabulating dan mapping. Analisis data menggunakan analisis statistik kuantitatif dan kemudian di uji variabel menggunakan analisis regresi linear berganda menggunakan metode stepwise sehingga didapat 2 variabel bebas yang mempengaruhi implemetasi compact city di Kota Kotamobagu yaitu faktor lahan terbangun dan indeks aksesibilitas perkotaan. faktor yang didapat kemudian dianalisis menggunakan analisis kategori metode sturges untuk mengukur tinggi rendahnya kekompakkan yang ada di masing-masing kecamatan, sehingga berdasarkan hasil analisis di dapat 2 wilayah Kecamatan yang sudah termasuk kategori compact yaitu Kecamamatan Kotamobagu Barat dan Kotamobagu Utara, sedangkan untuk kategori middle terdapat di Kecamatan Kotamobagu Timur dan kategori sprawl terdapat di Kecamatan Kotamobagu Selatan.
Kata Kunci : kota kompak, perluasan kota, pembangunan berkelanjutan.
As time goes by, it has created many problems, including Urban Sprawl. The increase in population living in the city of Kotamobagu every year will certainly increase the need for space to meet the needs of an increasingly diverse and increasing population. One solution to prevent the spread of urban sprawl is the compact city concept because this concept is one of the models of sustainable development. This research conducted a study in 4 sub-districts in Kotamobagu City using qualitative-quantitative research methods by direct observation, data collection through agencies and documentation. Data processing is divided into 3 forms editing, tabulating and mapping. Data analysis used quantitative statistical analysis and then variables were tested using multiple linear regression analysis using the stepwise method to obtain 2 independent variables that influence compact city implementation in Kotamobagu City, namely the builtup land factor and the urban accessibility index. The factors obtained were then analyzed using the Sturges method category analysis to measure the level of compactness in each sub-district, so that based on the results of the analysis it was found that 2 sub-districts were included in the compact category, namely West Kotamobagu and North Kotamobagu sub-districts, while for the middle category there were in East Kotamobagu District and the sprawl category is in South Kotamobagu District.
Keywords : compact city, urban sprawl, sustainable developmen
PERANCANGAN PUSAT UMKM SULAWESI UTARA DI MANADO DENGAN PENDEKATAN TEMA ARSITEKTUR SIMBIOSIS
Abstrak
Pertumbuhan perekonomian suatu daerah sangat menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat didalamnya. Seperti halnya Provinsi Sulawesi Utara yang merupakan suatu daerah dengan luas administrasi yang besar dan jumlah kepadatan penduduk yang tinggi. Demi mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat, terdapat beberapa sektor yang menunjang pertumbuhan perekonomian di Sulawesi Utara, salah satunya ialah sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Kemajuan sektor UMKM sendiri ditunjang dengan adanya kekayaan komoditas di Sulawesi Utara. Namun sektor UMKM di Sulawesi Utara cenderung belum berkembang dengan maksimal karena tidak dibarengi dengan kualitas SDM yang ada di Sulawesi Utara dan akses pasar untuk produk- produk UMKM yang belum memadai. Tujuan dari perancangan ini yaitu Menghadirkan suatu Objek Pusat UMKM Sulawesi Utara di Kota Manado yang mampu menjadi Sarana Pengembangan serta pemberdayaan Ekonomi Sulawesi Utara dengan hadirnya wadah pemasaran produk-produk UMKM dan wadah pelatihan untuk pelaku usaha demi kemajuan sektor UMKM di Sulawesi Utara. Ditunjang dengan lokasi di Kota Manado, objek Pusat UMKM ini dirancang dengan tujuan untuk menunjang sektor Pariwisata di Kota Manado. Metode perancangan yang digunakani adalah metode image-present-test oleh John Zeisel. Pendekatan perancangan yang dilakukan ada tiga yaitu pendekatan tipologi, pendekatan kajian tapak dan lingkungan, dan pendekatan tema perancangan. Pendekatan tema Arsitektur Simbiosis digunakan untuk mengakomodir berbagai aspek yang berbeda dalam satu objek yaitu aspek kebudayaan serta aspek fungsi ruang. Aristektur Simbiosis diimplementasikan dengan menghadirkan ruang-ruang khusus sesuai karakteristik Arsitektur Simbiosis, menghadirkan ruang bersifat multi-purpose atau time-sharing untuk mewadahi berbagai aktivitas dalam satu ruangan, mengkolaborasikan beberapa kebudayaan yang ada di Sulawesi Utara yang diimplementasikan dengan ornamen pada objek bangunan baik secara indoor ataupun outdoor, serta menerapkan konsep Arsitektur Tradisional dan dikolaborasikan dengan konsep Arsitektur Modern.
Kata Kunci – Ekonomi, UMKM, Arsitektur, Simbiosis, Sulawesi Utara.
Abstract
The economic growth of a region greatly determines the level of social welfare in it. As is the case with North Sulawesi Province which is an area with a large administrative area and a high population density. In order to achieve the level of social welfare, there are several sectors that support economic growth in North Sulawesi, one of which is the Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) sector. The progress of the MSME sector itself is supported by the wealth of commodities in North Sulawesi. However, the MSME sector in North Sulawesi tends to not develop optimally because it is not accompanied by the quality of existing human resources in North Sulawesi and inadequate market access for MSME products. The purpose of this design is to present a North Sulawesi UMKM Center Object in Manado City which is capable of becoming a North Sulawesi Economic Empowerment and Development Facility with the presence of a forum for marketing MSME products and a training forum for business actors for the advancement of the MSME sector in North Sulawesi. Supported by a location in Manado City, the UMKM Center object was designed with the aim of supporting the Tourism sector in Manado City. The design method used is the image-present-test method by John Zeisel. There are three design approaches taken, namely the typology approach, the site and environmental study approach, and the design theme approach. The Symbiosis Architecture theme approach is used to accommodate various different aspects in one object, namely cultural aspects and spatial function aspects. Symbiosis Architecture is implemented by presenting special spaces according to the characteristics of Symbiosis Architecture, presenting multi-purpose or time-sharing spaces to accommodate various activities in one room, collaborating several cultures in North Sulawesi which are implemented with ornaments on building objects both indoors or outdoor, as well as applying the concept of Traditional Architecture and collaborating with the concept of Modern Architecture.
Keywords – Economy, UMKM, Architecture, Symbiotic, North Sulawes