MEDIA MATRASAIN (Journal)
Not a member yet
349 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA SITU JATIJAJAR SEBAGAI TEMPAT REKREASI EDUKASI AGROWISATA DAN WISATA AIR
Penurunan kualitas ruang kota sebagai akibat pertumbuhan ekonomi kota yang menepikan badan air sebagai elemen lanskap kota perlu diwaspadai demi keberlanjutan pembangunan. Kota Depok yang menamakan diri sebagai “Kota Seribu Situ†telah kehilangan beberapa situnya dalam dasawarsa terakhir ini akibat penggusuran pembangunan infrastruktur yang tidak peka terhadap badan air. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan pembangunan yang lebih peka terhadap hidrologi lingkungan (water sensitive urban design), terutama Situ-situ yang seyogyanya menjadi potensi wisata di kota Depok. Tujuan penulisan ini adalah untuk memahami seberapa jauh peran desain arsitektur dapat berfungsi sebagai inovasi desain yang peka terhadap hidrologi lingkungan dan menjadi fasilitas pendukung atau pembangkit kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mendukung kebijaksanaan pemerintah Kota Depok dikaitkan dengan wisata air, edukasi, dan agrowisata. Dengan metoda penelitian kualitatif partisipatif yang bersifat eksploratif, penelitian ini menggunakan Situ Jatijajar sebagai studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan, meliputi survei lapangan dengan observasi visual ditambah dengan arsip dan data sekunder untuk melengkapi metode pengambilan data primer yang dilakukan dengan interview terhadap masyarakat dan para pemangku kepentingan. Paper ini memaparkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Kawasan sekitar Situ Jatijajar, dengan hasil akhir berupa eksplorasi rancangan inovasi untuk Kawasan Wisata Air dan Rekreasi Edukasi serta Agrowisata. Hasilnya meliputi tipologi fasilitas lanskap wisata yang dilengkapi dengan fasilitas bangunan wisata air, yang berfungsi juga untuk mendukung rekreasi edukasi dan agrowisata. Hasilnya diharapkan dapat berfungsi sebagai eksperimen arsitektur dalam mendesain, yang sekaligus diharapkan dapat menjadi pendorong terjadinya inovasi sosial. Penelitian ini juga diharapkan dapat menawarkan suatu pendekatan 'Desain sebagai Generator' yang mendukung kebijakan pemberdayaan masyarakat melalui desain
KUALITAS RTH PERKOTAAN BERBASIS URBAN SURFACE TEMPERATURE SEBAGAI ANTISIPASI TERBENTUKNYA URBAN HEAT ISLAND (Studi Kasus: Ruang Terbuka Hijau Kota Kendari)
Keberadaan Ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Kendari memiliki peranan penting selain fungsi ekologi juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi bagi sebuah perkotaan. Seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya penggunaan lahan untuk bangunan terdapat masalah yakni luas RTH berkurang dari tahunketahun demikian pula halnya dengan kualitas RTH, sedangkan kondisi dan luas RTH tersebut memberi pengaruh terhadap terbentuknya efek urban heat island (UHI). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas RTH perkotaan di Kota Kendari melalui metode Urban Surface Temperature sebagai antisipasi terhadap terbentuknya efek urban heat island. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitiatif dengan pendekatan survey terhadap luas RTH, analisis metode kuantitiatif digunakan untuk menghitung luasan dan kualitas RTH dan penggunaan software GIS untuk mendapatkan data Urban Surface temperatur RTH Perkotaan hingga RTH per kecamatan di Kota Kendari, sedangkan secara kualitatif digunakan untuk melihat kualitas RTH tersebut terhadap aspek pembentuk Urban Heat Island sebagai antisipasinya. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa temperatur permukaan di Kota Kendari sangat dipengaruhi oleh ketersediaan luas RTH sebagai pendingin suhu permukaan. Semakin luas dan baik kondisi RTH maka akan semakin dingin suhu permukaan dan sebaliknya. Diketahui pula bahwa Kecamatan Kendari Barat merupakan kecamatan yang memiliki luas RTH perkotaan terkecil sebesar 1,6 Km2 atau 9,4% dari total luas wilayah kecamatannya sehingga kecenderungan suhu permukaan pada lingkungan perkotaan lebih tinggi (panas)
MAKNA RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN KOTA LARGO DE LECIDERE KOTA DILI, TIMOR LESTE
Taman Largo de Lecidere menjadi salah satu taman yang cukup representatif di Kota Dili. Keberadaan ruang publik merupakan kekuatan rancangan yang mampu membentuk kesan dalam kota. Menurut pendapat beberapa orang taman Largo de Lecidere sudah berhasil memberi makna sebagaimana konsep awal perencanaan dan pembangunannya guna membawa manfaat bagi Kota Dili dan warganya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan taman Largo de Lecidere sebagai ruang publik dan bagaimana maknanya bagi warga kota. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Pengamatan dilakukan diruang terbuka taman yang telah ditentukan untuk mendapatkan gambaran pola pemanfaatannya. Analisa yang dilakkan didasarkan pada hasil diskusi para ahli yang diambil dari beberapa jurnal dan buku literatur. Adapun hasil penelitian setelah dianlisa menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang terbuka publik taman Largo de Lecidere belum maksimal sesuai konsep awal pemanfaatan taman. Hal ini ditandai dengan belum berhasilnya upaya menjadikan taman sebagai paru-paru kota/hutan kota dan belum memberi makna yang demokratis bagi pengunjung taman sebagai ruang terbuka publik yang bebas dan bisa diakses oleh semua warga terutama oleh pengunjung lanjut usia dan balita
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM KESIAP SIAGAAN MENGANTISIPASI ANCAMAN BENCANA ALAM DI DESA KALI DAN KALI SELATAN MINAHASA
Artikel ini merupakan suatu luaran dari implementasi kegiatan bidang pengabdian kepada masyarakat khususnya dalam bidang kebencanaan yang dapat melibatkan masyarakat. Melalui program dengan skim Program Kemitraaan Masyarakat (PKM) tahun 2018, tim telah melaksanakan kegiatan “PKM Pelatihan Teknis Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Ancaman Bencana di Desa Kali dan Kali Selatan Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa†yang telah dihadiri sebanyak 46 orang peserta dari anggota masyarakat setempat. Luaran dari kegiatan ini ialah tersedianya karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal nasional serta tersedianya petunjuk teknis yang praktis dan memadai bagi masyarakat. Program ini dilaksanakan dengan metode survey, observasi lokasi lingkungan permukiman desa, melakukan wawancara dengan pemerintah desa Kali dan Kali Selatan serta mitra kerja yaitu masyarakat yang ada disekitar lokasi rawan banjir, tanah lonsor, erupsi gunung berapi dan pihak yang berkepentingan lainnya (stakeholders) serta studi pustaka. Sebagai kesimpulan, upaya peningkatan ketentraman, keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat di desa memerlukan kerjasama antara pemerintah dari kedua desa dimaksud dengan masyarakat, lembaga sosial masyarakat, lembaga pendidikan tinggi sebagai antisipasi terhadap ancaman bencana. Pertumbuhan dan perkembangan suatu komunitas masyarakat ditentukan oleh adanya rasa tenteram, aman dan nyaman yang perlu difasilitasi oleh pemerintah melalui: pembangunan infrastruktur yang tanggap terhadap ancaman bencana alam seperti: banjir dan tanah longsor dan erupsi gunung berapi; melaksanakan penghijauan bukit serta memelihara drainase; penegakan peraturan dalam membangun rumah pada kawasan rawan bencana; pelatihan teknis / sosialisasi; penempatan tanda-tanda jalur evakuasi; pendampingan baik dari pemerintah dalam hal ini melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa serta Lembaga Pendidikan Tinggi yang memiliki kepakaran ilmu dan teknologi, ketrampilan dalam bidang kebencanaan serta lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan lainnya yang berkompeten dalam rangka memberikan rasa tenteram, aman dan kenyamanan
STUDI ANALOGIS BENTUK ARSITEKTURAL DAN MUSIK BAROK
Di samping dapat melihat bentuk dan mendengar bunyi, kita dapat juga mendengar bentuk dan melihat bunyi. Ketika kita mendengar bunyi (auditory) kita pun dapat melihat ruang (spatiality). Meski bahasa yang dipergunakan arsitektur dan musik berbeda, namun kedua bidang ini memiliki karakter berkesenian yang sama yaitu pencarian makna keindahan yang tiada akhir, untuk memenuhi kerinduan manusia akan nilai-nilai puitis yang tertanam dalam lubuk sanubarinya. Arsitektur bisa menjadi sesuatu yang sangat indah, dan bagi setiap orang keindahannya berbeda-beda karena ada „lagu‟ dalam setiap komposisi arsitektur yang dinikmati secara visual dan berdasarkan sensasi persepsi subjektif. Melalui penjelajahan imajinatif dan perseptif karya seni Barok, penelitian ini mencoba mencari analogi antara sensasi auditory (berupa nada, irama, ritme, tempo, dinamika) dengan manifestasi wujud arsitektur (bentuk, material, tekstur, struktur, hirarki, sikuens) dengan bantuan pendekatan konsep representatif dan analogis. Melalui kajian dengan penelusuran dengan membandingkan secara analogis (yang bersifat atributif) telah membuktikan adanya keterkaitan dan kesenambungan unsur bentuk antara arsitektur serta musik Barok. Sistem representasi menjadi kunci dalam menghantarkan visi arsitektur serta musik Barok yang bersifat imajinatif dan ekspresif ke dalam perwujudan bentuk atau suatu manifestasi