MEDIA MATRASAIN (Journal)
Not a member yet
349 research outputs found
Sort by
POLA PERILAKU MANUSIA BERDASARKAN KONFIGURASI RUANG PADA DESAIN PROTOTYPE BANGUNAN GEDUNG KANTOR
ABSTRAK
Adanya batasan tingkat kemampuan pegawai dalam berinteraksi, kesesakan ruang fungsi pelayanan dan ruang kerja, kesulitan aksesibilitas bergerak sementara terdapat intensitas aktivitas pegawai yang terus menerus terjadi dalam setiap hari yang memberikan respon dan rasa yang tidak sesuai menjadi stimulus memicu perubahan perilaku manusia dalam hubungan ruang yang terjadi di dalam lingkungan kerja pada gedung Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) kabupaten Buol di Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif secara deskriptif, dengan teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi dengan analisis Space syntax, teknik Behaviour mapping dengan dua analisis Place-centre Mapping dan Person-centre Mapping, dan kuesioner sebagai data pembanding dari hasil analisis penulis. Berdasarkan hasil analisis space syntax, Gedung DPUPR Buol dengan desain prototype, memiliki nilai konektivitas dan Integriti tinggi dalam konfigurasi ruang, menunjukkan ruang- ruang tidak saling terkoneksi dengan baik, dan terdapat intensitas pergerakan yang tinggi pada pola perilaku sesuai hasil observasi behaviour mapping, sehingga memunculkan tujuh atribut fenomena perilaku oleh weinsman, dimana kesesakan adalah atribut yang mendominasi. Konfigurasi ruang yang ada pada gedung DPUPR Buol, sehingga perlu ditata kembali dan dapat memenuhi standar luas Bangunan Gedung Negara (BGN) dan hirarkis fungsi kelembagaan, dengan cara menyesuaikan luas ruang kerja, ruang dengan pergerakan tinggi dikoneksikan sesuai hirarkis, menghadirkan teritori dan memisahkan pelayanan publik dan privat, sehingga membatasi aksesibilitas antara pegawai dan pengunjung sebagai kontrol aktivitas di dalam ruang kerja.
Kata Kunci: Bangunan Gedung Negara, Konfigurasi Ruang, Pola Perilaku Manusia.
ABSTRACT
There are limits to the level of employee ability to interact, crowded service and work space, difficulty in moving around while there is an intensity of employee activity that continuously occurs every day which provides inappropriate responses and feelings which are the stimulus that triggers changes in human behavior in the spatial relationships that occur. in the work environment at the Public Works and Spatial Planning Service (DPUPR) building in Buol district in Central Sulawesi. This research uses descriptive qualitative methods, with data collection techniques, namely observation techniques with Space syntax analysis, Behavior mapping techniques with two analyzes of Place-centre Mapping and Person-centre Mapping, and questionnaires as comparative data from the results of the author's analysis. Based on the results of space syntax analysis in Hillier's theory, the DPUPR Buol Building with a prototype design, has high connectivity and integrity values in the spatial configuration, indicating that the spaces are not well connected to each other, and there is a high intensity of movement in behavioral patterns according to the results behavior mapping observations, giving rise to seven attributes of behavioral phenomena by Weinsman, where crowding is the dominant attribute. The existing space configuration in the DPUPR Buol building needs to be reorganized and can meet the standards for the size of the State Building (BGN) and hierarchical institutional functions, by adjusting the size of the work space, spaces with high movement are connected hierarchically, presenting territories and separating public services and private, thereby limiting accessibility between employees and visitors to control activities in the work space.
Keywords: State Buildings, Space Configuration, Human Behavior Pattern
STRATEGI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA DI KOTA GRESIK
Di tengah maraknya era 4.0, potensi industri kreatif sangatlah pesat, banyak menjadikan dari kalangan manapun di haruskan dapat terjun langsung di bidang industri kreatif. Sebagai contoh di kabupaten Gresik. Baik berasal dari kalangan tingkat kecil, menengah maupun hingga perusahaan tingkat tinggi bahkan sudah masuk di rana dunia industri kreatif dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat kota Gresik.. Riset ini bertujuan untuk melakukan kajian pengembangan industri kreatif yang dapat meningkatkan sumber daya di era digitalisasi 4.0 dengan cara memberikan pelatihan maupun Fasilitas Sarana Prasarana yang mendukung. .Metode pengumpulan data dilakukan melalui survey dan dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif melalui metode pengembangan Industri Kreatif terhadap variabel antara lain Pengetahuan di bidang industri kreatif yakni melalui pembinaan, pendidikan, workshop, serta event yang memperkenalkan industri kepada khalayak; Pendidikan, baik itu pendidikan formal, pendidikan informal serta pendidikan non formal, analisis Pelaku usaha di bidang industri kreatif. Melalui penataan fasilitas Pengembangan usaha industri kreatif, bantuan modal usaha dan strategi marketing Industri kreatif. Diharapkan melalui strategi pengembangan Industri kreatif terhadap Pelaku Usaha, akan memberi dampak bagi peningkatan ekonomi Kota Gresik khususnya Sumber Daya Manusia di bidang Industri Kreatif
PUSAT PELATIHAN dan PEMENTASAN PADUAN SUARA Di KOTA MANADO - HARMONIZATION IN ARCHITECTURE
ABSTRAK
Paduan suara adalah sebuah seni musik yang membutuhkan kerjasama dan kolaborasi antar individu untuk menciptakan harmoni yang indah dalam nyanyian. Kota Manado adalah salah satu kota dengan jumlah peminat paduan suara yang tinggi. Kurangnya fasilitas dan wadah untuk berlatih dan menampilkan paduan suara di Manado membuat para pelaku paduan suara tidak efektif untuk meningkatkan keterampilan dalam paduan suara.
Pusat Pelatihan dan Pementasan Paduan Suara di Manado dirancang untuk menjadi wadah bagi masyarakat yang ada sebagai fasilitas pendukung berkembangnya paduan suara yang ada di Manado dan sekitarnya. Pusat Pelatihan dan Pementasan Paduan Suara ini diharapkan dapat bermanfaat untuk lebih berkembangnya paduan suara yang ada di Manado dan sekitarnya baik dalam segi kualitas maupun kuantitas.
Harmonization in Architecture sebagai tema perancangan merupakan sebuah upaya untuk menciptakan harmoni antara arsitektur dan musik. Arsitektur dan musik memiliki peran yang saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Sebagaimana harmonisasi dalam musik dibutuhkan untuk menyeimbangkan hati dan suara maka harmonisasi dalam arsitektur yang mencakup elemen-elemen seperti bentuk, warna, tekstur, dan suara dicocokkan dan diterapkan secara harmonis untuk menciptakan suasana dan estetika objek arsitektur yang baik.
Kata Kunci: Pusat Pelatihan, Pusat Pementasan, Paduan Suara, Hamonization in Architecture
ABSTRACT
Choir is an art of music that requires cooperation and collaboration between individuals to create beautiful harmony in singing. Manado City is one of the cities with a high number of choir enthusiasts. The lack of facilities and containers to practice and perform choirs in Manado makes choir performers ineffective in improving skills in choirs.
The Choir Training and Performance Center in Manado is designed to be a forum for the existing community as a supporting facility for the development of choirs in Manado and its surroundings. This Choir Training and Performance Center is expected to be useful for the further development of choirs in Manado and its surroundings both in terms of quality and quantity.
Harmonization in Architecture as a design theme is an effort to create harmony between architecture and music. Architecture and music have roles that complement and reinforce each other. Just as harmonization in music is needed to balance heart and sound, harmonization in architecture that includes elements such as shape, color, texture, and sound is matched and applied harmoniously to create a good atmosphere and aesthetics of architectural objects
Keywords: Training Center, Performance Center, Choir, Hamonization in Architectur
KONSERVASI LINGKUNGAN PERKOTAAN: PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN REVITALISASI MANGROVE DI PESISIR PANTAI TUMINTING DAN MOLAS, MANADO
Revitalisasi mangrove merupakan upaya penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, mencegah abrasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Penelitian ini berfokus pada kegiatan penyuluhan dan pendampingan revitalisasi mangrove di pesisir pantai Tuminting dan Molas, Manado. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat lokal, serta penyuluhan dan pelatihan terkait pentingnya konservasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat dalam program revitalisasi mangrove meningkat setelah diberikan penyuluhan dan pendampingan intensif. Selain itu, ditemukan bahwa pengetahuan masyarakat tentang manfaat mangrove, seperti perlindungan dari badai dan penyediaan habitat bagi berbagai spesies, mengalami peningkatan yang signifikan. Program ini juga berhasil menanam kembali area mangrove yang rusak dan memperbanyak serapan CO2 untuk mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan. Hasil rancangan untuk penyerapan CO2 adalah luas total rancangan yang dihasilkan 145.259 m2 atau 14.5 ha dengan total kerapatan 8.8 dan rata rata 0.1 ind/m2, Jumlah pohon dengan jenis Rhizopora Stylosa adalah 17.510 pohon, Total cadangan karbon adalah 4.766 ton/ha, Total estimasi serapan CO2 yang didapatkan adalah 18.068 ton/ha dengan rata-rata 1.246 ton/ha. dan dapat diestimasikan rata-rata serapan CO2 per pohon adalah sekitar 1,03 ton/ha
STRATEGI MODEL PENGEMBANGAN WISATA BATAS KAMPUNG MENJADI AGROWISATA LOKAL DI SURABAYA
Agrowisata adalah wisata alam berbasis pertanian dan merupakan salah satu wisata yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia, ditinjau dari kondisi geografisnya yang mendukung pengembangan pertanian sebagai salah satu daya tarik objek wisata . Salah satunya agrowisata yang berada di kampung Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya yang bernama Wisata Batas Kampung. Wisata Batas Kampung merupakan wisata pertanian yang menawarkan kesejukan alam dengan didukung potensi buah yang ada disana yaitu buah jeruk dan memiliki dua jenis yaitu jeruk siam dan jeruk semboro. Dalam pengembangan objek wisata ini masih terdapat banyak kendala permasalahan sarana dan prasarana yang belum tersedia sesuai dengan kriteria sebagai tujuan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana di Wisata Batas Kampung sehingga dapat diketahui apakah ketersediaan sarana dan pradarana pariwisata sudah sesuai dengan kriteria sehingga menjadi agrowisata lokal rekreasi yang mendukung ekonomi warga sekitar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif diskriptif dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai datanya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah Potensi pengembangan objek destinasi agrowisata ini layak untuk dikembangkan, agar dapat dikenal oleh masyarakat umum dan para wisatawan dan adanya tingkat kepedulian terhadap pemerintah serta pihak pengelola pengembangan agrowisata tersebut agar terciptanya kawasan wisata yang potensial untuk dikunjungi
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR ETNIK PADA PASAR DESA ADAT KEDONGANAN DI KABUPATEN BADUNG
Pasar Desa Adat Kedonganan merupakan salah satu pasar yang terletak di Kabupaten Badung, Bali. Pasar Desa Adat Kedonganan memiliki potensi karena terletak di pinggir pantai dan memiliki fungsi penunjang berupa wisata kuliner hasil laut. Akan tetapi, Pasar Desa Adat Kedonganan mengalami penurunan pengunjung dan pedagang serta Pasar Desa Adat Kedonganan masih belum memenuhi Kriteria Peraturan Daerah Provinsi Bali (Perda Bali) Nomor 5 Tahun 2005, Sehingga pasar layak untuk di Redesain. Redesain Pasar akan menerapkan Konsep Arsitektur Etnik berupa Konsep Arsitektur Tri Hita Karana dan Konsep Arsitektur Tri Angga. Hal ini bertujuan untuk selain memenuhi Peraturan Daerah juga untuk mengenalkan dan menyebar luaskan Konsep Arsitektur Tradisional Bali kepada masyarakat awam
STUDI PENERAPAN ARSITEKTUR BIOPHILIC DALAM PERANCANGAN EDUWISATA KEDELAI
ABSTRAK
Potensi alam dan potensi pertanian lokal merupakan sebuah bibit potensi unggulan yang harus dikembangkan. Ditengah tengah maraknya pengembangan berbagai sektor pertanian di indonesia, diperlukannya pengembangan pendukung wisata edukasi mengenai pertanian tersebut, kegiatan wisata edukasi berbasis pertanian ini merupakan kegiatan dimana potensi areal pertanian dimanfaatkan semaksimal mungkin dan ditunjang dengan fungsi pendukung lain seperti kegiatan produksi, edukasi dan pariwisata didalamnya. hal tersebut bertujuan selain meningkatkan produktivitas suatu daerah, juga dapat menaikkan kualitas kesejahteraan masyarakat yang ada disekitarnya. Metode yang digunakan pada penulisan jurnal ini yaitu dengan menggunakan metode deskriptif dan kualitatif, sehingga dapat menghasilkan data data deskriptif berupa rencana penerapan tema hubungan alam dan manusia pada rancangan kawasan wisata edukasi pertanian dengan menjadi suatu ikonik dan menjadi sarana potensial bagi masayarakat sekitar. Kawasan wisata edukasi pertanian ini merupakan tempat dimana sektor pertanian sebagai pondasi utama yang kemudian didukung oleh sarana produksi, edukasi dan sarana pariwisata didalamnya. Dengan menerapkan rencana pendekatan Arsitektur Biofilik. Rencana implementasi Arsitektur Biofilik pada kawasan ini nantinya diwujudkannya melalui orientasi pada bangunan dan mengkoneksikan antar ruang dalam dan area lingkungan sekitar, dengan berbagai aspek, baik secara visual maupun non visual yang diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan dari berbagai aspek penggunan juga masyarakat yang akan dilibatkan nantinya.
Kata Kunci: Wisata Pertanian, Arsitektur Biofilik, Pertanian, Potensi Alam, Eduwisata
ABSTRACT
The Natural potential and local agricultural potential are potential fields that must be developed. In the midst of the intensive development of various agricultural sectors in Indonesia, it is necessary to develop supporting educational tourism regarding agriculture. This agricultural-based educational tourism activity is an activity where the potential of agricultural areas is utilized to the maximum extent possible and is supported by other supporting functions such as production, education and tourism activities within it. This aims to not only increase the productivity of an area, but also to improve the quality of life of the people around it. The qualitative descriptive method was chosen in this writing with the hope of producing descriptive data in the form of a plan to implement a nature-based theme in the design of an agricultural educational tourism area by becoming iconic and a potential facility for the surrounding community. This agricultural educational tourism area is a place where the agricultural sector is the main foundation which is then supported by production facilities, education and tourism facilities within it. By implementing a Biophilic Architecture approach plan. The plan to implement Biophilic Architecture in this area will be realized through building orientation and connecting the interior space and the surrounding environment, with various aspects, both visual and non-visual, which are expected to have a positive impact on various aspects of use as well as the community who will be involved later.
Keywords: Agricultural Tourism, Biophilic Architecture, Agriculture, Natura
ANALISIS PERUBAHAN GUNA LAHAN TERKAIT PEMBANGUNAN JALAN RINGROAD I DI KECAMATAN TIKALA KOTA MANADO DAN KECAMATAN TOMBULU KAMBUPATEN MINAHASA
ABSTRAK
Transportasi serta aturan untuk tanah berkaitan amat akrab, alhasil dikira membuat satu landuse transport sistem. Supaya aturan untuk tanah bisa terkabul dengan bagus hingga keinginan transportasinya wajib terkabul dengan bagus. Dibuatnya jalan Ringroad I merupakan salah satu kemudahan yang menjadi ketertarikan masyarakat dalam pertimbangannya untuk menjadikan lokasi di sekitar kawasan tersebut menjadi kawasan yang menguntungkan, melihat dampak yang besar di berikan dikarenakan adanya jalan Ringroad I yang sangat efisien, membuat mobilisasi dari satu tempat ke tempat satunya menjadi lebih mudah. Dengan melihat berbagai pertimbangan tersebut, membuat beberapa pihak menerapkan pengalihfungsian lahan di daerah sekitarnya walaupun daerah tersebut diperuntukan sebagai kawasan lainnya tetapi demi mencapai keinginan dan kenyamanannya dalam menjalankan aktivitas, maka segala tempat yang dinilai strategis dalam pengaplikasiaanya, langsung dialihfungsikan demi kepentingan pribadi maupun beberapa pihak. Tujuan riset ini guna mengetahui bagaimana Kesesuaian Guna Lahan Di Kecamatan Tikala Kota Manado dan Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa Terkait Dengan Kebijakan Tata Ruang Kabupaten/Kota. Riset ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan teknik overlay peta menggunakan software ArcGis. Hasil riset ini menggambarkan bahwa pembangunan jalan ringroad 1 memberikan dampak dalam perubahan guna lahan di sekitar jalan ringroad 1. Dampak yang terjadi antara lain yaitu dampak mobilitas, dampak sosial, dampak ekonomi, dan dampak lingkungan.
Kata Kunci: Dampak; Perubahan Lahan; Jalan Ringroad I
ABSTRACT
Transportation and land use are so closely related that they are considered to form one landuse transport system. In order for land use to be well realized, its transportation needs must be well met. The creation of the Ringroad I road is one of the conveniences that attracts people in their consideration to make the location around the area a profitable area, seeing the great impact given due to the Ringroad I road which is very efficient, making mobilization from one place to another easier. By looking at these various considerations, it makes several parties apply land conversion in the surrounding area even though the area is designated as another area but in order to achieve their desires and convenience in carrying out activities, all places that are considered strategic in their application are immediately converted for personal interests and several parties. The purpose of this research is to find out how the suitability of land use in Tikala District, Manado City and Tombulu District, Minahasa Regency is related to the Regency / City Spatial Policy. This research uses a qualitative descriptive analysis method with map overlay techniques using ArcGis software. The results of this study illustrate that the construction of ringroad 1 has an impact on land use change around ringroad 1. The impacts include mobility impacts, social impacts, economic impacts, and environmental impacts.
Keywords: Impact; Land Use Change; Ringroad
RE-DESAIN LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II DI KOTA TOMOHON DENGAN METODE PENDEKATAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PARADOKS
Di era revolusi 4.0 kecanggihan teknologi saat ini dimanfaatkan dengan secara optimal dan di gunakan oleh masyarakat terlebih juga anak-anak. Era ini merupakan peralihan generasi yaitu generasi Z dan generasi Alfa. Generasi Z adalah anak dengan kelahiran pada tahun 1990 - 2015 dan generasi Alpha adalah anak dengan kelahiran dimulai pada tahun 2015. Teknologi memberikan berbagai manfaat dan pengaruh yang baik maupun buruk. Salah pemanfaatan teknologi tersebut justru memberikan dampak negatif bagaikan “boomerang” bagi anak-anak seperti terjadinya cyberbullying, penyebaran video pornografi, penipuan (hoax) dan masih banyak lagi. Dari isu permasalahan, tujuan dari perancangan ini yaitu menghadirkan sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak sebagai wadah yang layak bagi anak bermasalah (konflik hukum atau sosial), tempat mereka dibina dan didik di era revolusi 4.0 dimana kegiatan pembinaan terkait pemanfaatan teknologi pada saat ini secara layak dan semestinya sehingga dapat menjadikan anak-anak cerdas, terampil dalam berkarya serta menghadirkan ruang wadah aktivitas dengan sarana dan fasilitas yang memadai sehingga dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa anak didik bisa terlatih kreatif, telaten dan bisa diterima kembali di lingkungan masyarakat. Metode yang digunakan dalam perancangan ini yaitu metode “glassbox” dengan mempertimbangkan Data objek, analisa, sintesis serta luaran. Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II di Kota Tomohon, salah satu lembaga pemasyarakatan anak di Sulawesi Utara. Berdasarkan survey, pembinaan dari segi pendidikan, layanan kegiatan pembelajaran, ruang berinteraksi belum teroptimalisasikan. terkait dengan paradoks seperti pertentangan antara hukum dan kebebasan, Penggunaan tema Arsitektur Paradoks digunakan sebagai acuan karena paradoks identik dengan bertentangan, berbeda, berubah dari sekitar atau yang ada.
Kata Kunci – Pembinaan, Anak, Arsitektur, LPKA, Tomohon.
Abstract
In the era of revolution 4.0, technological sophistication is currently optimally utilized and used by the public, especially children. This era is a generation transition, namely the Z generation and the Alpha generation. Generation Z are children born between 1990 - 2015 and Generation Alpha are children born starting in 2015. Technology provides various benefits and influences, both good and bad. Incorrect use of this technology actually has a negative impact like a "boomerang" for children such as cyberbullying, the spread of pornographic videos, fraud (hoaxes) and many more. From the problem issues, the purpose of this design is to present a Special Child Development Institution as a suitable place for troubled children (legal or social conflicts), where they are fostered and educated in the 4.0 revolution era where coaching activities are related to the use of technology at this time in a proper and appropriate manner. should be so that it can make children smart, skilled at work and present a space for activities with adequate facilities and facilities so that they can prove to the community that students can be trained creatively, painstakingly and can be accepted back into society. The method used in this design is the "glassbox" method by considering object data, analysis, synthesis and output. Class II Child Special Development Institution in Tomohon City, one of the children's correctional institutions in North Sulawesi. Based on the survey, coaching in terms of education, service learning activities, interaction space has not been optimized. related to paradoxes such as the conflict between law and freedom, the use of the theme of Paradox Architecture is used as a reference because paradox is synonymous with contradictory, different, changing from around or existing.
Keywords – Development, Children, Architecture, LPKA, Tomohon
EVALUASI PENERAPAN KONSEP KELURAHAN CERDAS (SMART VILLAGE) DI KOTA MANADO
Abstrak
Kelurahan Cerdas adalah upaya untuk memberdayakan kelurahan- kelurahan di Indonesia untuk secara aktif dan reaktif melakukan perencanaan secara bottom up sehingga dalam pembangunan dapat memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat. penerapan program kelurahan cerdas bertujuan menciptakan terobosan baru dalam kehidupan lingkungan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan melakukan kajian evaluasi penerapan program kelurahan cerdas di kota Manado, dengan mengambil sampel lokasi penelitian di 10 kelurahan yang ada di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan metoda Deskrptif Kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, sebaran kuesioner dan wawancara stakeholder. Kuesioner disusun dengan didasarkan pada 5 Variabel penelitian yang diambil dari 5 konsep Kelurahan Cerdas Data kuesioner disebarkan kepada 80 responden dalam bentuk pertanyaan tertutup dan terbuka. Hasil kuesioner dianalisis secara kuantitatif dan disajikan dalam tabel dan grafik. Kesimpulan hasil penelitian menunjukan 90 % masyarakat di 10 kelurahan mengetahui adanya Program Kelurahan Cerdas namun belum semua masyarakat dilibatkan dalam implementasi program. Program Kelurahan cerdas sangat diperlukan masyarakat dalam proses pembangunan kota yang berkesinambungan.
Kata Kunci – Kelurahan Cerdas, Evaluasi, Program, Kota Manado
Abstract
Smart Village is an effort to empower villages in Indonesia to actively and reactively carry out bottom-up planning so that development can meet the needs and expectations of the community. the implementation of the smart village program aims to create new breakthroughs in environmental life to produce a positive impact on society. This study aims to conduct an evaluation study of the implementation of the smart village program in the city of Manado, by taking samples of research locations in 10 villages in the city of Manado. This study uses a qualitative descriptive method with data collection through observation, distribution of questionnaires and interviews with stakeholders. The questionnaire was prepared based on 5 research variables taken from 5 Smart Village concepts. Questionnaire data was distributed to 80 respondents in the form of closed and open questions. The results of the questionnaire were analyzed quantitatively and presented in tables and graphs. The conclusion of the research results shows that 90% of the people in 10 urban villages are aware of the Smart Village Program, but not all of the people are involved in program implementation. The smart village program is needed by the community in the process of sustainable urban development.
Keywords – Smart Village, Evaluation, Program, Manado City