Jurnal Anestesi Perioperatif
Not a member yet
    288 research outputs found

    Severe Hypokalemia in the Intensive Care Unit: Case Series on Potassium Correction Strategies and Clinical Outcomes

    Full text link
    Hypokalemia is one of the electrolyte disorders that often occurs in intensive care units (ICUs), defined as a serum potassium concentration below 3.5 mmol/L. Its severity is classified as mild (3.0–3.4 mmol/L), moderate (2.5–3.0 mmol/L), and severe (<2.5 mmol/L). Hypokalemia occurs when the body loses too much potassium due to several factors such as vomiting, excessive diarrhea, kidney disease, hormonal disorders, or taking diuretic drugs. Symptoms of hypokalemia generally appear when serum potassium is less than 3.0 mmol/L, ranging from mild weakness to life-threatening cardiac arrhythmias. In critically ill patients, untreated severe hypokalemia can lead to cardiac arrhythmias, respiratory arrest, and renal dysfunction, with a higher risk of complications and mortality in patients with hypotension, diabetes, or chronic kidney disease. This case series involved six ICU patients with severe hypokalemia (K⁺ ≤1.8 mmol/L) who underwent rapid potassium correction at a rate of 10–40 mEq/hour adjusted to the patient's clinical severity. In patients with ventricular arrhythmias, initial correction of 2 mEq/minute was followed by 10 mEq over 5–10 minutes. Most patients showed clinical improvement, while worse outcomes were observed in patients with hyperthyroidism and after return of spontaneous circulation (ROSC). This case series highlights the importance of individualized potassium replacement strategies, immediate intervention, and careful monitoring to prevent life-threatening complications and improve outcomes in patients with severe hypokalemia in the ICU

    MANAJEMEN HIPERTIROID MOLA HIDATIDOSA PADA KURETASE DENGAN ANESTESI BLOK SUBARACHNOID REGIONAL

    No full text
    Mola hidatidosa yang disertai hipertiroidisme merupakan kondisi berisiko tinggi karena potensi terjadinya krisis tiroid yang mengancam jiwa. Hipertiroid dapat menjadi komplikasi penyakit trofoblast gestasional, termasuk pada mola hidatidosa dan koriokarsinoma. Laporan ini memaparkan manajemen anestesi pada pasien perempuan usia 39 tahun dengan diagnosis mola hidatidosa dan hipertiroid. Pasien datang dalam keadaan sadar, dengan tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit, laju napas 20 kali/menit, dan saturasi oksigen 98% dalam udara bebas. Skor indeks Wayne adalah 19, dengan peningkatan kadar T4 dan penurunan kadar TSH. Sebelum tindakan kuretase, pasien diberikan propiltiourasil (PTU) 3×100 mg dan propranolol 3×20 mg. Prosedur kuretase dilakukan dengan anestesi spinal menggunakan levobupivakain 15 mg dan adjuvan fentanil 25 µg. Selama dan setelah prosedur, kondisi hemodinamik pasien tetap stabil. Spinal anestesi dipilih karena dianggap lebih aman dan memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah dibanding dengan anestesi umum, khususnya pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi akibat hipertiroidisme. Diagnosis dan tata laksana hipertiroid perlu dilakukan secara cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius, terutama pada pasien dengan gejala berat seperti perdarahan aktif atau ancaman krisis tiroid. Mola hidatidosa dengan hipertiroid meliputi dua macam penyakit yang dapat membahayakan hidup dengan timbulnya krisis tiroid. Hipertiroid dikenal dapat menjadi penyulit pada penyakit trofoblast gestasional, baik pada khoriokarsinoma maupun pada mola hidatidosa. Kami melaporkan seorang perempuan usia 39 tahun yang merupakan pasien mola hidatidosa dengan hipertiroid. Pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4V5M6, tekanan darah 120/80 mmHg, detak jantung 102x/mnt, respirasi 20x/mnt, SpO2 98% dalam posisi supine dengan udara ruang. Indeks Wayne pasien 19 dan terdapat peningkatan T4 dan penurunan TSH yang menunjukan hipertiroid klinis pada pasien. Satu hari sebelum tindakan, pasien diberikan PTU 3x100 mg, dan propranolol 3x20 mg. Pasien selanjutnya dilakukan prosedur  kuretase dengan menggunakan anestesi blok subarachnoid regional menggunakan levobupivacain 15 mg ditambahkan adjuvan fentanyl 25 mcg. Kondisi pasien stabil setelah kuretase. Manajemen anestesi pada kasus hipertiroid dan mola hidatidosa dengan tindakan kuretase dapat dilakukan dengan metode RASAB karena lebih aman dan minimal risiko dibandingkan dengan anestesi umum. Diagnosis dan manajemen hipertiroid harus dilakukan secara cepat dan tepat, terutama pada mola hidatidosa yang disertai dengan tanda kegawatan, baik dari perdarahan mola, maupun ancaman krisis tiroid.

    Manajemen Anestesi pada Pasien Achondroplasia dan Osteogenesis Imperfecta

    No full text
    Osteogenesis Imperfecta (OI) merupakan bentuk displasia skeletal yang jarang ditemukan, diturunkan secara autosomal dominan, dan ditandai oleh gangguan osifikasi endokondral yang menyebabkan perawakan pendek, penurunan massa tulang, serta kerapuhan tulang. Dari sudut pandang anestesi, pasien dengan OI menghadirkan tantangan yang signifikan, terutama pada manajemen jalan napas. Kelainan kraniofasial seperti hipoplasia midface, makroglosia, dan keterbatasan ekstensi tulang servikal sering menyulitkan laringoskopi langsung serta menghambat visualisasi glotis. Kondisi ini meningkatkan risiko kesulitan intubasi dan komplikasi perioperatif. Pemberian anestesi umum yang cermat dengan ventilasi terkontrol, pemantauan invasif, serta persiapan menyeluruh terhadap kondisi darurat sangat penting untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan oksigenasi, sehingga keselamatan pasien dapat dipertahankan. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien dengan osteogenesis imperfecta serta strategi yang digunakan untuk menghadapi tantangan tersebut.Administrasi anestesi umum yang hati-hati dengan ventilasi terkontrol, pemantauan invasif, dan persiapan untuk kondisi darurat memastikan kondisi yang aman untuk mempertahankan hemodinamik dan oksigenasi sehingga memberikan hasil yang sangat baik bagi pasien. Achondroplasia adalah penyakit genetik autosomal dominan yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan kerapuhan tulang. Manajemen anestesi pasien dengan achondroplasia membuktikan tantangan dengan kelainan saluran udara bagian atas mereka dan kesulitan memvisualisasikan pembukaan glotis pada laringoskopi langsung. Kata Kunci : Achondroplasia; Kesulitan intubasi; Manajemen Anestesia ; Osteogenesis imperfect

    ANALISIS HUBUNGAN EARLY WARNING SCORE (EWS) DENGAN KEJADIAN IN HOSPITAL CARDIAC ARREST (IHCA) : STUDI RETROSPEKTIF DI RS PENDIDIKAN UTAMA

    No full text
    Henti jantung saat masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Kejadian in-hospital cardiac arrest (IHCA) perlu dideteksi sedini mungkin oleh tenaga kesehatan agar dapat segera dilakukan penaganan. Salah satu instrumen yang digunakan untuk mendeteksi perubahan klinis pasien ialah early warning sign (EWS). Nilai EWS yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya IHCA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara EWS dan kejadian IHCA di RS Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien di RS Islam Sultan Agung Semarang periode Mei–Juli 2023. Sebanyak 110 subjek pada penelitian ini diperoleh melalui metode non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji spearman untuk menilai hubungan dan keeratan antar variabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien dengan EWS risiko tinggi (skor>7) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian IHCA (p7 berisiko tinggi mengalami IHCA. Henti jantung saat ini masih menjadi penyebab nomer satu kematian di dunia. Kejadian henti jantung yang terjadi di rumah sakit (IHCA) harus dapat dideteksi sedini mungkin oleh tenaga kesehatan di rumah sakit sehingga dapat memberikan penanganan sesegera mungkin. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan klinis pada pasien ialah early warning sign (EWS). Skor EWS yang semakin tinggi dikaitkan dengan peningkatan kejadian IHCA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara EWS terhadap kejadian IHCA di RS Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien di RS Islam Sultan Agung Semarang periode Mei – Juli 2023. Sebanyak 110 subjek pada penelitian ini diambil menggunakan non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji spearman untuk mengetahui hubungan serta keeratan antar variable. Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien dengan EWS resiko tinggi (skor > 7) secara signifikan berhubungan terhadap kejadian IHCA (p  7 beresiko tinggi mengalami IHCA.

    Korelasi Nilai Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI) dengan Durasi Ventilasi Mekanik pada Pasien Pasca Operasi Bedah Otak

    No full text
    Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) merupakan kondisi umum pada pasien pascabedah otak dan berpotensi menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan drive napas, serta cedera paru akut, yang dapat menyulitkan proses penyapihan ventilator. Pemantauan TIK secara invasif belum menjadi prosedur rutin, sehingga dibutuhkan alternatif noninvasif, salah satunya Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI). Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik pada pasien pascabedah otak. Desain penelitian ini adalah observasional prospektif, dilakukan di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Februari–April 2024. Pemeriksaan TCD-PI dilakukan 12–24 jam setelah pasien masuk ICU. Sebanyak 39 pasien memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan rerata nilai TCD-PI sebesar 1,39 dan rerata durasi ventilasi mekanik selama 6,59 hari. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik, dengan koefisien korelasi r=0,671 dan koefisien determinasi r²=0,450 (p<0,001). Simpulan, terdapat korelasi positif dengan kekuatan sedang antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik, sehingga TCD-PI berpotensi sebagai indikator noninvasif untuk memprediksi lamanya ventilasi mekanik pada pasien pascabedah otak. Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) merupakan masalah yang sering  terjadi pada pasien pasca operasi bedah otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan drive pernapasan dan cedera paru akut pada pasien neurokritis sehingga sulit untuk lepas dari bantuan ventilasi mekanik. Pemantauan TIK dengan metode invasif tidak rutin dilakukan dan memiliki berbagai risiko dan komplikasi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi di otak seperti TCD-PI (Transcranial Doppler Pulsatility Index) dapat menjadi alternatif untuk mengevaluasi TIK. Penelitian ini menggunakan studi prospektif observasional dengan analisis korelasi untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (r2) dan arah korelasi dari pemeriksaan TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik pasien pasca operasi bedah otak. Subjek penelitian adalah pasien yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari-April 2024 dengan melakukan pemeriksaan TCD-PI pada pasien pasca bedah otak 12-24 jam setelah  admisi di ICU. Sebanyak 39 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata TCD-PI pada seluruh subjek penelitian adalah 1,39 dan rata-rata durasi ventilasi mekanik pada seluruh pasien penelitian adalah 6,59 hari. Dari uji Pearson product moment antara TCD-PI dengan durasi ventilasi mekanik didapatkan koefisien korelasi r = 0,671dan koefisien determinasi r2 = 0,450 (p < 0,001). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik memiliki arah korelasi positif berkekuatan medium/sedang.

    Perbandingan Penggunaan Phenylephrine Secara Bolus Dan Infus Kontinu Sebagai Preventif Terhadap Kejadian Spinal Anesthesia-Induced Hypotension

    Full text link
    Hipotensi merupakan efek samping kardiovaskular yang umum terjadi akibat anestesi spinal, disebabkan oleh blokade simpatis yang memicu vasodilatasi, penurunan tahanan vaskular perifer, dan penurunan tekanan darah. Fenilefrin, agen simpatomimetik yang bekerja langsung sebagai agonis α-1 adrenergik, merupakan pilihan utama dalam pencegahan spinal anesthesia-induced hypotension (SAIH) karena kemampuannya menginduksi vasokonstriksi secara langsung. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas fenilefrin dalam bentuk bolus dan infus kontinu untuk mencegah SAIH. Penelitian dilakukan dengan desain uji klinis acak terhadap 38 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal di RSUP Haji Adam Malik, Medan. Intervensi meliputi pemberian Fenilefrin secara infus kontinu 20 mcg/menit dan bolus 50 mcg sebelum induksi anestesi spinal. Hasil menunjukkan rerata tekanan darah sistol pada kelompok bolus sebesar 113,78±20,86 mmHg dan pada kelompok infus 112,63±8,17 mmHg (p=0,823), menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua metode. Variabel denyut jantung juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Simpulan, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemberian fenilefrin secara bolus maupun infus kontinu dalam pencegahan SAIH.Pendahuluan Hipotensi merupakan efek samping kardiovaskular dari anestesi spinal. Blok simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah meyebabkan tahan vascular perifer menurun yang mengakitbatkan turunnya tekanan darah dan terjadinya hipotensi. Phenylephrine adalah obat simpatomimetik yang bekerja langsung sebagai α-1 agonis adrenergik yang bekerja langsung pada pembuluh darah untuk mengaktivasi vasokonstriksi. Sehingga menjadi obat pilihan dalam preventif SAIH. Pemberian phenylephrine dapat diberikan secara bolus dan infus kontinu. Metode Penelitian ini membandingakn efek phenylephrine bolus dan infus dengan jumlah sampel 38 dan dibagi 2 kelompok, dengan desain uji klinis dengan randomisasi, yang dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan phenylephrine infus kontinu 20 mcg/menit dan bolus 50 mcg sebelum dilakukan anestesi spinal. Hasil didapatkan hasil rerata tekanan darah sistol pada kelompok phenylephrine bolus 113,78±20,86 dan pada phenylephrine infus 112,63±8,17 dengan nilai perbandingan 0,823 yang menandakan tidak ada perbedaan yang signifikan. Pada variable heart rate tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Kesimpulan Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemberian phenylephrine bolus dan phenylephrine infus dalam preventif terhadap SAI

    Perbandingan Apgar Score pada Menit Pertama antara Sectio Caesarea Metode Konvensional dengan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery di RS Bina Sehat Jember

    No full text
    Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) merupakan metode seksio sesaria yang menggunakan pendekatan multimodal untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah pembedahan dengan tujuan mempercepat pemulihan pascapersalinan. Metode ERACS terbukti memberikan manfaat klinis bagi ibu, namun penelitian mengenai dampaknya terhadap kondisi bayi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan skor Apgar bayi antara prosedur seksio sesaria konvensional dan ERACS. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Bina Sehat Jember periode September 2022–Agustus 2023. Total terdapat 92 sampel, terdiri atas 46 bayi yang lahir melalui seksio sesaria konvensional dan 46 bayi yang lahir dengan metode ERACS. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk menilai perbedaan skor Apgar antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76 bayi memiliki skor Apgar baik, 16 bayi memiliki skor Apgar sedang, dan tidak terdapat bayi dengan skor Apgar rendah. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara skor Apgar bayi pada kelompok seksio sesaria konvensional dan ERACS (p=0,099).Background: Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) is a sectio caesarea method that uses a special approach to optimize maternal health pre-operatively, intra-operatively, and after cesarean surgery with the purpose of faster post-natal recovery. ERACS has been proven to have a good impact on mothers, but there is no research on the impact of ERACS on babies, so this research was conducted on the difference in baby Apgar scores between conventional SC and ERCAS.Methods: This research is an analytical observational study using medical record data from Bina Sehat Jember Hospital for the period September 2022 - August 2023. The total number of research samples was 92 samples, with 46 babies born using conventional SC and 46 babies born using ERACS SC. The data were analyzed using chi-square to determine whether there was a significant difference in the baby's Apgar score between the conventional SC method and the ERACS SC method.Results: The research results showed that 76 babies were born with good Apgar scores, 16 babies were born with moderate Apgar scores, and no babies were born with low Apgar scores.Conclusion: There is no significant difference between the Apgar scores of babies born using the conventional cesarean section method and babies born using the Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) section method with a value of p=0.099

    Blokade Peribulbar dengan Adjuvan Fentanil: Efek Hemodinamik dan Analgetik pada Vitrektomi

    Full text link
    Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Studi ini merupakan penelitian pertama yang membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Desain penelitian ini adalah single blind randomized controlled trial yang melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/ml. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan, Mann Whitney dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastolik, dan MAP antara kedua kelompok (p>0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/ml memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi.Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Penelitian dilaksanakan di Netra Klinik Spesialis Mata 2 Bandung sejak Juni–Agustus 2024 yang menggunakan single blind randomized controlled trial dengan melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri atas 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji-t tidak berpasangan, Mann Whitney dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastol, dan MAP antara kedua kelompok (p>0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p>0,05). Simpulan, kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/mL memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi

    Perbandingan Efektivitas Anestesi Spinal Menggunakan Levobupivakain dengan atau Tanpa Fentanyl 25 Microgram Sebagai Adjuvan pada Pasien Seksio Sesarea

    Full text link
    Levobupivakain merupakan salah satu agen anestesi lokal yang sering digunakan dalam anestesi spinal. Penambahan adjuvan seperti fentanil terbukti dapat meningkatkan kualitas anestesi, khususnya pada tindakan seksio sesarea. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda yang bertujuan membandingkan efektivitas levobupivakain 0,5% dosis 12,5 mg dengan levobupivakain 0,5% dosis 10 mg yang dikombinasikan dengan fentanil 25 µg pada pasien yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. Hasil menunjukkan bahwa onset blok sensorik dan motorik lebih cepat pada kelompok kombinasi (2,90 menit dan 2,92 menit) dibanding dengan levobupivakain tunggal (4,22 menit dan 5,15 menit; p0,05). Efek samping yang sering ditemukan adalah mual muntah (18,5% pada levobupivakain tunggal dan 40,7% pada kombinasi) serta menggigil (37% dan 44,4%). Simpulan, penambahan fentanil 25 µg pada levobupivakain mempercepat onset dan memperpanjang durasi sensorik, namun disertai peningkatan kejadian mual muntah.Levobupivakain digunakan untuk anestesi spinal. Penambahan adjuvan seperti fentanyl pada anestesi spinal merupakan pilihan yang menjanjikan pada persalinan SC. Penelitian ini merupakan penelitian experimental clinical trial double blind, untuk mengetahui perbandingan efektifitas penggunaan levobupivakain 0,5% 12,5 mg dan levobupivakain 0,5% 10 mg dengan fentanyl 25 mcg pada pasien seksio sesarea yang menjalani anestesi spinal. Onset kerja sensorik dan motorik dengan levobupivakain sebesar 4,22 (3,02-5,03) dan 5,15 (4,27-5,90), dan dengan kombinasi levobupivakain dan fentanyl sebesar 2,90 (2,00-3,25) (p0,05), 69,00 (58,00-81,00) (p>0,05), dan 80,60 (74,00-96,60) (p>0,05). Pada kelompok levobupivakain tunggal dan regimen kombinasi, masing-masing sebanyak 18,5% dan 40,7% mengalami efek samping mual dan muntah, serta 37% dan 44,4% orang mengalami efek samping menggigil. Didapatkan perbedaan efektivitas anestesi spinal menggunakan levobupivakain dengan atau tanpa fentanyl 25 mcg sebagai adjuvan pada pasien yang menjalani seksio sesarea

    Perbandingan Capaian Kedalaman Anestesi dengan Konduksi Ketamin dan Fentanyl pada Anestesi Umum di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

    Full text link
    Kedalaman anestesi yang memadai untuk mencegah komplikasi intraoperatif, termasuk intraoperative awareness. Ketamin dan merupakan obat koinduksi yang umum digunakan, namun keduanya memiliki profil hemodinamik dan efek terhadap kedalaman anestesi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek koinduksi ketamin dan fentanil terhadap kedalaman anestesi dan stabilitas hemodinamik menggunakan bispectral index score (BIS). Penelitian merupakan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap 44 pasien yang menjalani anestesi umum di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh periode April–Mei 2025. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ketamin 0,5kg/BB (n=22) dan fentanil 2 μg/kgBB (n=22). Parameter BIS, tekanan darah diastol, sistol laju jantung, laju napas dan SpO2 diukur pada menit ke-0, 5, 10, 15, dan 20 pascainduksi. Hasil menunjukkan bahwa ketamin menurunkan BIS lebih cepat dan lebih dalam, dengan perbedaan bermakna signifikan pada menit ke-5 (p=0,002), 15 dan 20 (p<0,001). Ketamin juga mempertahankan tekanan darah lebih stabil, sedangkan fentanil meningkatkan laju jantung lebih tinggi pada menit ke-10 (p=0,032). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada laju napas dan SpO2.  Ketamin lebih unggul dalam mencapai kedalaman anestesi yang cepat dan stabil secara hemodinamik, dibanding dengan fentanil.Anestesi umum diperlukan untuk memastikan pasien tidak sadar selama operasi, dengan kedalaman anestesi yang memadai untuk mencegah komplikasi seperti kesadaran intraoperatif. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek koinduksi Ketamin dan Fentanyl terhadap kedalaman anestesi dan stabilitas hemodinamik menggunakan Bispectral Index Score (BIS). Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental acak tersamar tunggal pada 44 pasien di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, dibagi menjadi kelompok Ketamin (n=22) dan Fentanyl (n=22). Parameter yang dinilai meliputi nilai BIS, tekanan darah (TDS/TDD), heart rate (HR), respiratory rate (RR), dan saturasi oksigen (SpO₂) pada menit ke-0, 5, 10, 15, dan 20 pasca-induksi. Hasil menunjukkan bahwa Ketamin menghasilkan penurunan nilai BIS lebih cepat dan dalam, dengan perbedaan signifikan pada menit ke-5 (p=0,002), 15, dan 20 (p<0,001). Ketamin juga mempertahankan tekanan darah lebih stabil, terutama pada menit ke-5 (TDS p=0,005; TDD p=0,013). Sementara itu, Fentanyl menyebabkan peningkatan HR lebih tinggi pada menit ke-10 (p=0,032). Tidak ada perbedaan signifikan pada RR dan SpO₂, meskipun Ketamin cenderung menjaga SpO₂ lebih konsisten. Ketamin lebih unggul dalam mencapai kedalaman anestesi yang cepat dan stabil secara hemodinamik, terutama pada fase awal induksi, dibandingkan Fentanyl. Temuan ini mendukung penggunaan Ketamin sebagai alternatif koinduksi yang efektif, khususnya pada pasien dengan risiko hipotensi atau kebutuhan sedasi mendalam

    221

    full texts

    288

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Anestesi Perioperatif
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇