Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
Not a member yet
418 research outputs found
Sort by
PENGARUH MOBILISASI PROGRESIF LEVEL I-V TERHADAP STATUS HEMODINAMIK PADA PASIEN POST VENTILASI MEKANIK DI ICU RUMAH SAKIT INDRIATI SOLO BARU
Mobilisasi progresif yaitu pemberian tindakan berupa teknik yang berfungsi sebagai pengobatan bertahap dan dilakukan kepada pasien kritis di Ruangan Intensive Care Unit. Mobilisasi pada pasien post ventilasi mekanik penting dilakukan karena dapat memperlancar peredaran darah, membantu pernapasan menjadi lebih baik, mengembalikan aktivitas pasien agar dapat bergerak normal dan memenuhi kebutuhan gerak harian, serta mengembalikan tingkat kemandirian pasien setelah operasi (Merdawati, 2018). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mobilisasi progresif Level I-V terhadap status hemodinamik pasien post ventilasi di ruang ICU. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan rancangan Pre Experimental, teknik sampling memakai metode non probability sampling dengan purpose sampling dan sampel yang digunakan sebanyak 30 responden, instrumen yang digunakan SOP mobilisasi progresif level I-V dan lembar observasi bed monitor. Uji Wilxocon yang dan didapatkan nilai P Value pada MAP Pre_Post yaitu 0,002, RR Pre_Post yaitu 0,001, Nadi Pre_Post yaitu 0,000, Suhu Pre_Post yaitu 0,009, dan SPO2 Pre_Post yaitu 0,000 (P Value < 0,005) yang artinya ada Pengaruh Mobilisasi Progresif Level I-V Terhadap Status Hemodinamik Pada Pasien Post Ventilasi Mekanik Di ICU Rumah Sakit Indriati Solo Baru
Hubungan Kadar Leutinizing Hormone (LH) terhadap Kadar Interferon Gamma (IFNγ) dan Neutrophil Lympocyte Ratio (NLR) pada Remaja Putri dengan Overweight dan Obesitas
Remaja memiliki kerentanan terhadap masalah gizi dan metabolisme. Obesitas pada remaja putri dapat mengakibatkan terganggunya siklus menstruasi. Status gizi juga dikaitkan dengan kondisi inflamasi kronis yang menstimulus sekresi protein inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar hormon LH terhadap kadar hormon IFNγ dan profil NLR pada remaja putri dengan overweight dan obesitas. Jenis Penelitian ini penelitian kuantitatif dengan rancangan post test design. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling sebanyak 30 responden. Analisis yang digunakan uji pearson product moment. Karakteristik responden terdapat 12 remaja putri dengan status obesitas grade 1, 9 responden obesitas grade 2 dan 9 responden lainnya overweight. Pada hasil uji analisis korelasi antara kadar LH terhadap IFNγ p value 0,63 (>0,05) dan uji korelasi antara kadar LH terhadap NLR p value 0,45 (>0,05). Tidak terdapat hubungan antara kadar hormon LH terhadap kadar hormon IFNγ dan profil NLR pada remaja putri dengan overweight dan obesitas
Adolescents have susceptibility to nutritional and metabolic problems. Obesity in adolescent girls can result in disruption of the menstrual cycle. Nutritional status is also associated with chronic inflammatory conditions that stimulate the secretion of inflammatory proteins. This study aimed to determine the correlation between LH hormone levels to IFNγ hormone levels and NLR profiles in adolescent girls with overweight and obesity. This type of research is quantitative research with post test design. The sampling used a purposive sampling technique which involved 30. The analysis used pearson product moment. The characteristics of respondents were 12 adolescent girls with grade 1 obesity status, 9 respondents were grade 2 obese and 9 other respondents were overweight. In the results of the correlation analysis test between LH levels to IFNγ p value 0.63 (>0.05) and test the correlation between LH levels to NLR p value 0.45 (>0.05). There was no correlation between LH hormone levels to IFNγ hormone levels and NLR profiles in overweight and obese adolescent girls.
 
PENGARUH LINGKUNGAN, BEBAN DAN KOMPENSASI TERHADAP KEPUASAN KARYAWAN DI RSIA MUTIARA BUNDA
RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) merupakan rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan khususnya pada ibu dan anak. Pertumbuhan rumah sakit meningkat pesat dipengaruhi oleh beberapa persaingan, adanya perubahan bidang kependudukan, ilmu pengetahuan dan teknologi, perekonomian, persaingan pasar dan sosial serta sumber daya manusia. Adanya ketidakpuasan karyawan baik dari lingkungan kerja, beban kerja dan kompensasi menyebabkan ketidakstabilan yang dialami rumah sakit sehingga menimbulkan kerugian secara finansial dan menurunnya angka produktifitas karyawan serta dampak lain yang dapat mengganggu kestabilan organisasi rumah sakit. Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh lingkungan, beban dan kompensasi terhadap kepuasan karyawan di RSIA Mutiara Bunda Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian ini adalah cross-sectional design. Sampel pada penelitian adalah karyawan RSIA Mutiara Bunda Malang berjumlah 100 orang, menggunakan Teknik Purposive Sampling. Analisis penelitian menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan antar variabel (model causal) dengan AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan, beban dan kompensasi secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap kepuasan karyawan di RSIA Mutiara Bunda Malang. Rumah sakit hendaknya memperhatikan beban kerja karyawan sesuai job desk masing-masing bagian, meningkatkan kompensasi, memberikan reward untuk karyawan teladan, mengatur kondisi lingkungan kerja rumah sakit yang kondusif (fisik dan psikologis) untuk mendukung kinerja karyawan rumah sakit yang lebih optimal.
RSIA (Mother and Child Hospital) is a hospital that provides health srvices, especially for mothers and children. The rapid growth of hospitals is influenced by several competitions, changes in population, science and technology, the economy, market and social competition and human resources. The existance of employee dissatisfaction regarding the work environment, workload, and compensation causes instability experienced by hospitals, resulting in financial losses and reduced employee productivity rates as well as other impacts that can disrupt the stability of the hospital organization. The aim of the research was to analyze the influence of the environment, burden, and compensation on employee satisfaction at RSIA Mutiara Bunda Malang. The research method used is a quantitative method with the research design being a cross-sectional design. The sample in the research was 100 employees of RSIA Mutiara Bunda Malang, using purposive sampling technique. Research analysis uses linear multiple regression to determine the relationship between variables (causal model) and AMOS. The results of the research show that environment, burden and compensation simultaneously (together) influence employee satisfaction at RSIA Mutiara Bunda Malang. Hospital should pay attention to employee workload according to the job description of each department, increase compensation, provide rewards for exemplary employees, organize conducive hospital work environment condition (physical and psycological) to support more optimal performance of hospital employees
PSIKOEDUKASI DENGAN PENDEKATAN SKILL TRAINING MODEL TERHADAP KEMAMPUAN MENGENALI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL REMAJA
Perkembangan psikososial rasa remaja berada pada tahap pencarian identitas diri. Hal tersebut membuat remaja mulai berpikir tentang dirinya sendiri sebagai persiapan ke arah kedewasaan. Upaya yang dilakukan untuk membantu remaja agar mampu mencapai perkembangan psikososial pada rentang adaptif dan sehat adalah dengan melakukan psikoedukasi. Penelitian ini bertujuan memberikan psikoedukasi dengan pendekatan skill training model untuk meningkatkan kemampuan mengenali perkembangan psikososial pada remaja berdasarkan teori Erikson. Desain penelitian menggunakan quasy experiment with control group terhadap 50 orang responden yang diambil secara acak dengan teknik proportionate stratified random sampling. Responden kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yakni kontrol dan eksperimen masing-masing terdiri dari 25 orang. Intervensi diberikan selama 2 hari dengan jumlah sesi sebanyak 5 sesi meliputi topik tentang perubahan aspek biologis dan psikoseksual, perubahan aspek kognitif dan bahasa, perubahan aspek moral dan spiritual, perubahan aspek emosi dan psikososial, dan perubahan aspek bakat dan kreativitas pada remaja. Kemampuan remaja dalam mengenali perkembangan kesehatan mentalnya diukur dengan kuesioner dengan reliabilitas 0,983. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney untuk membandingkan skor subjek pada pretest dan posttest dari kelompok kontrol dan eksperimen. Hasil penelitian diperoleh: 1) tidak ada perbedaan kemampuan mengenali perkembangan psikososial remaja pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah intervensi (p-value 0,235 > 0,05); 2) terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan mengenali perkembangan psikososial remaja pada kelompok eksperimen (p-value 0,000 < 0,05); 3) terdapat perbedaan kemampuan mengenali perkembangan psikososial antara kelompok kontrol dan eksperimen (p-value 0,003 < 0,05). Psikoedukasi dengan pendekatan skill training model dinilai cukup efektif digunakan sebagai pilihan intervensi bagi perawat jiwa atau profesional terkait lainnya untuk membantu remaja mengenali kemampuan perkembangan psikososialnya.
The psychosocial development of adolescents is at the stage of searching for self-identity. This makes teenagers start to think about what and who they are at that time and in the future as preparation for adulthood. Psychoeducation is an intervention option to help adolescents achieve their psychosocial development in the adaptive and healthy range. This research aims to provide psychoeducation with a skills training model approach to improve the ability to recognize psychosocial development in adolescents based on Erikson\u27s theory. The research design used a quasi-experiment with a control group on 50 respondents taken randomly using a proportional stratified random sampling technique. The respondents were then divided into 2 groups, namely the control and the experiment consisting of 25 people each group. The intervention provided in 5 sessions in 2 days include: changes in biological and psychosexual aspects, changes in cognitive and language aspects, changes in moral and spiritual aspects, changes in emotional and psychosocial aspects, and changes in talent and creativity aspects. Adolescents\u27 ability to recognize the development of their mental health was measured by a questionnaire with a reliability of 0.983. Data were analyzed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests to compare subjects\u27 scores on the pretest and posttest from the control and experimental groups. The results of the study were obtained: 1) there was no difference in the ability to recognize the psychosocial development of adolescents in the control group before and after the intervention (p-value 0.235 > 0.05); 2) there was a significant difference in the ability to recognize the psychosocial development of adolescents in the experimental group (p-value 0.000 < 0.05); 3) there was a difference in the ability to recognize psychosocial development between the control group and the experiment (p-value 0.003 < 0.05). Psychoeducation with a skills training model approach is considered a quiet effective intervention for psychiatric nurses or other related professionals to help adolescents recognize their psychosocial development abilities
ANALISIS FAKTOR KETERAMPILAN TRIAGE BENCANA PADA ANGGOTA BASARNAS SURAKARTA
Triase bencana adalah proses mengklasifikasikan pasien berdasarkan tingkat keparahan bencana. Kemampuan seorang responden dalam melakukan triase bencana dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pengetahuan triase responden, usia, tingkat pendidikan, senioritas, dan pengalaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan triase bencana di kalangan anggota Basarnas Surakarta. Penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi seluruh anggota Basarnas Pos Daerah Administratif Khusus Provinsi Surakarta, dengan jumlah sampel 32 orang menggunakan purposive sampling. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan relawan kuesioner tentang keterampilan relawan Hasil menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan triase bencana adalah faktor masa kerja dengan nilai p value sebesar 0,042 Kesimpulan pada penelitian ini dari 5 faktor yang diteliti hanya 2 faktor yang berpengaruh. Hal tersebut menunjukan bahwa faktor lama kerja dan tingkat pendidikan memiliki hubungan dengan pelaksanaan triage bencana anggota Basarnas Surakarta sehingga perlu pendalaman teorti serta menambah materi di bagian kurikulum Basarnas mengenai Triage
Disaster triage is the process of classifying patients based on the severity of the disaster. A respondent\u27s ability to carry out disaster triage is influenced by several factors, including the respondent\u27s triage knowledge, age, education level, seniority and experience. The aim of this research is to identify factors related to the implementation of disaster triage among members of Basarnas Surakarta. Descriptive research with cross sectional design. The population is all members of the Basarnas Post Special Administrative Region of Surakarta Province, with a sample size of 32 people using purposive sampling. The questionnaire used was a volunteer knowledge questionnaire, a questionnaire about volunteer skills. The results showed that the factor related to the implementation of disaster triage was the work period factor with a p value of 0.042. Conclusions in this study, of the 5 factors studied, only 2 factors had an influence. This shows that the factors of length of work and level of education are related to the implementation of disaster triage for Basarnas Surakarta members, so it is necessary to deepen the theory and add material to the Basarnas curriculum section regarding Triage
PENGARUH MODISCO TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN PADA BALITA
Defisiensi gizi merupakan ketidakseimbangan atau kekurangan antara kebutuhan energi dengan asupan yang dikonsumsi sehari-hari, atau dapat diartikan nutrisi yang dikonsumsi dibawah rata-rata. Dampak yang terjadi ketika seorang balita mengalami malnutrisi berpengaruh pada terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Upaya yang dapat dilakukan dengan pemberian Modified Dietetic Skimmed Milk and Coconut Oil (Modisco) karena mengandung lebih tinggi kalori dan protein. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh modisco terhadap peningkatan berat badan pada balita. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan pendekatan pretest posttes without control grup design. Tempat penelitian di Azzamil day care Kabupaten Pekalongan bulan Maret-Mei 2023. Sample yang digunakan 18 balita gizi kurang, dengan teknik purposive sampling Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi. Modisco formula I yaitu susu full krim 100gr, gula pasir 50gr, margarine 50 gr dan dicampur dalam air hangat diberikan sehari 1x selama 30 hari. Analisis data menggunakan analisis bivariate dengan uji beda mean, yaitu uji paired t test. Hasil penelitian diperoleh rata-rata berat badan balita sebelum dilakukan intervensi adalah 9,50 kg dan setelah diberikan memiliki rata-rata 10,21 kg dengan selisih kenaikan sebesar 710 gram. Nilai p diperoleh sebesar 0,000 (<0,05) hal ini juga menunjukkan berarti terdapat pengaruh modisco terhadap peningkatan berat badan pada balita. Kesimpulan bahwa modisco salah nutrisi tambahan yang tinggi protein dan kalori yang mampu meningkatkan berat badan pada anak terutama dengan gizi kurang, sehingga diharapkan modisco menjadi salah satu alternative program nutrisi tambahan yang dapat diberikan dalam penatalaksanaan gizi kurang dan gizi buruk.
Nutritional deficiency is an imbalance or deficiency between energy needs and the intake consumed daily, or it can be interpreted as the nutrition consumed being below average. The impact that occurs when a toddler experiences malnutrition has an impact on growth and development disorders. Efforts that can be made are by giving Modified Dietetic Skimmed Milk and Coconut Oil (Modisco) because it contains higher calories and protein. The aim of this research was to determine the effect of modisco on weight gain in toddlers. This type of research is quasi experimental with a pretest posttest approach without control group design. The research location was Azzamil day care, Pekalongan Regency, March-May 2023. The sample used was 18 malnourished toddlers, using a purposive sampling technique. The instrument used was an observation sheet. Modisco formula I, namely 100g full cream milk, 50g granulated sugar, 50g margarine and mixed in warm water, is given once a day for 30 days. Data analysis uses bivariate analysis with a mean difference test, namely the paired t test. The research results showed that the average weight of toddlers before the intervention was carried out was 9.50 kg and after it was given the average was 10.21 kg with a difference in increase of 710 grams. The p value obtained was 0.000 (<0.05), this also shows that there is an influence of modisco on increasing body weight in toddlers. The conclusion is that Modisco is one of the additional nutrients that is high in protein and calories which can increase body weight in children, especially those with malnutrition, so it is hoped that Modisco will become an alternative additional nutrition program that can be provided in the management of malnutrition and malnutrition
ANALISIS KUALITATIF EKSTRAK DAGING LIDAH BUAYA DENGAN METODE MASERASI ETANOL 96%
Latar belakang: Tanaman lidah buaya banyak dibudidayakan untuk pertanian, pengobatan, dan tanaman hias, dan dapat juga ditanam di dalam pot. Gel lidah buaya segar dapat langsung digunakan untuk pengobatan secara tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui uji kualitatif fitokimia ekstrak lidah buaya. Metode: metode yang digunakan adalah membuat ekstrak lidah buaya jenis A. Vera dan A. Barbandensis dengan metode maserasi etanol 96%. Dilanjutkan dengan uji fitokimia pada identifikasi alkaloid, flavonoid, sapinin dan tepenoid. Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa lidah buaya A. Vera memiliki kandungan alkaloid lebih banyak dibandingkan dengan A. Barbandensis. Sedangkan ekstrak lidah buaya jenis A. Barbandensis memiliki kandungan Flavonoid dan Saponin lebih banyak. Diskusi: senyawa fitokimia yang terkandung tersebut dapat digunakan sebagai komponen obat herbal untuk kesehatan.
Aloe vera plants are widely cultivated for agriculture, medicine and ornamental purposes, and can also be grown in pots. Fresh aloe vera gel can be used directly for traditional treatment. The aim of this research was to determine the qualitative test of the phytochemicals of aloe vera extract. Method: The method used is to make extracts of A. Vera and A. Barbandensis aloe vera using the 96% ethanol maceration method. Followed by phytochemical tests to identify alkaloids, flavonoids, sapinin and tepenoids. Results: The results of the study showed that A. Vera aloe vera contains more alkaloids than A. Barbandensis. Meanwhile, A. Barbandensis type aloe vera extract contains more flavonoids and saponins. Discussion: the phytochemical compounds contained in it can be used as components of herbal medicine for health
PENGARUH PEMBERIAN PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) TERHADAP PENGETAHUAN DAN TINDAKAN BHD PADA SISWA SMA KARYA PEMBANGUNAN MARGAHAYU
Kondisi kegawat daruratan henti jantung dapat terjadi dimana saja termasuk di lingkungan sekolah. Besaran masalah ini terlihat dari angka kematian akibat penyakit jantung dimana di Indonesia terdapat 251 kematian akibat penyakit jantung pada setiap 100.000 penduduk di tahun 2019. Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di lingkungan sekolah dirasakan penting untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan BHD pada siswa SMA. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi apakah pelatihan BHD memberikan pengaruh terhadap pengetahuan dan tindakan BHD pada siswa SMA Karya Pembangunan Margahayu. Quasi experiment dengan pretest-postest with One Grup Design dipergunakan dalam studi ini. Teknik purposive sampling kemudian mendapatkan 50 sample. Uji statistik Wilcoxon dipergunakan dalam analisa data. Setelah pelatihan BHD, didapatkan bahwa 42 siswa (84.0%) memiliki pengetahuan baik dan 20 siswa ditemukan memiliki kemampuan cukup dalam tindakan BHD (36.0%). Uji statistik Wilcoxon diperoleh p-value 0,000 Ë‚ 0,05 yang memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh pelatihan BHD terhadap meningkatnya pengetahuan dan tindakan BHD pada siswa SMA Karya Pembangunan Margahayu. Simpulan dari penelitian adalah bahwa pelatihan BHD memiliki pengaruh terhadap pengetahuan dan tindakan BHD pada siswa. Diharapkan dengan memiliki ketrampilan BHD, siswa dapat menghadapi kondisi kegawat daruratan yang dapat terjadi disekitar mereka termasuk di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Basic Life Support (BLS) training for high school students is important to increase knowledge and skills in BLS. The need of BLS training can be seen from the number of deaths from heart disease in Indonesia, where there were 251 deaths caused by heart disease in every 100,000 citizens in 2019. BLS training is considered to be important in increasing BLS knowledge and skills towards High School students. The purpose of this study is to identified whether there is an influence of BLS training towards knowledge and skills in students of Margahayu High School of Development. This research design uses quasi-experiments with pretest-postest with One Group Design. Purposive sampling techniques was used to collect 50 samples. Wilcoxon statistical test is chosen to analised the data. After the BHD training, it was found that 42 students (84.0%) had good knowledge and 20 students were found to have sufficient skills in BLS (36.0%). Furthermore, Wilcoxons statistical tests identified the p-value of 0,000( Ë‚ 0,05) which shows the influence of giving BLS training on the improvement of BLS knowledge and skills in students of Margahayu Karya Development High School. It is concluded from this study that BLS training can affect students BLS knowledge and psichomotor. It is expected that by having the BLS skills, students will be able to cope with the emergency situation that might occur surround them, including at school and the community
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN ATRIAL FIBRILASI PADA PASIEN MITRAL STENOSIS DI RSD Dr. SOEBANDI JEMBER
Mitral stenosis merupakan kelainan katup jantung dengan prevalensi yang masih tinggi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit ini menjadi penyebab tersering morbiditas dan mortalitas dini pada generasi muda di seluruh dunia. Salah satu komplikasi dari mitral stenosis adalah atrial fibrilasi yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko seperti, usia lanjut, dilatasi atrium sinistra, rendahnya nilai Left Ventricular Ejection Fraction (LVEF) dan Tricupsid Annular Plane Systolic Excursion (TAPSE), serta presentasi trombus. Penelitian ini bertujuan untuk menilai faktor risiko kejadian atrial fibrilasi pada pasien mitral stenosis. Penelitian ini menggunakan jenis analitik deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian adalah seluruh pasien rawat jalan yang terdiagnosis mitral stenosis di Poli Jantung RSD dr. Soebandi Jember pada periode antara Januari 2022 - Januari 2024. Data variabel dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda). Jumlah sampel penelitian sebanyak 70 pasien, pasien mitral stenosis didominasi oleh wanita dan pasien berusia >40 tahun. Sebanyak 81% pasien mitral stenosis mengalami atrial fibrilasi. Dari enam variabel yang diteliti didapatkan bahwa derajat mitral stenosis (P = 0,005 ; OR = 12,744) dan usia >40 tahun (P = 0,012 ; OR = 15,835) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian atrial fibrilasi berdasarkan hasil uji bivariat dan multivariat. Dapat disimpulkan bahwa faktor risiko terkait kejadian atrial fibrilasi pada pasien mitral stenosis di RSD dr. Soebandi Jember adalah derajat mitral stenosis dan usia lanjut.
Mitral stenosis is a heart valve disorder with a high prevalence in developing countries such as Indonesia. This disease is the most common cause of morbidity and premature mortality in young people throughout the world. One of the complications of mitral stenosis is atrial fibrillation, which can be caused by several risk factors such as advanced age, left atrial enlargement, low Left Ventricular Ejection Fraction (LVEF), and Tricupsid Annular Plane Systolic Excursion (TAPSE), as well as thrombus presentation. This study aims to assess the risk factors for atrial fibrillation in mitral stenosis patients. This research uses descriptive analytics with a cross-sectional research design. The research sample was all outpatients diagnosed with mitral stenosis at the Cardiac Polyclinic, RSD Dr. Soebandi Jember in the period between January 2022 - January 2024. Variable data was analyzed using univariate, bivariate (chi-square), and multivariate analysis (multiple logistic regression). The total research sample was 70 patients, with mitral stenosis patients being dominated by women and patients aged >40 years. As many as 81% of mitral stenosis patients experience atrial fibrillation. Of the six variables studied, it was found that the degree of mitral stenosis (P = 0.005; OR = 12.744) and age >40 years (P = 0.012; OR = 15.835) had a significant relationship with the incidence of atrial fibrillation based on the results of bivariate and multivariate tests. It can be concluded that the risk factors related to the incidence of atrial fibrillation in mitral stenosis patients at RSD Dr. Soebandi Jember is the degree of mitral stenosis and advanced age
PENGARUH PELATIHAN BANTUAN HIDUP TERHADAP KETERAMPILAN, KESIAPAN DAN MOTIVASI PENANGANAN CARDIOPULMONARY RESUSCITATION PADA MAHASISWA NERS
Salah satu kondisi kegawatdaruratan adalah henti jantung. Bantuan Hidup Dasar atau tindakan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) merupakan intervensi untuk mengembalikan, mengembangkan, dan mempertahankan fungsi vital pada korban henti jantung dan henti nafas. Keterampilan melakukan BHD diperlukan semua orang termasuk mahasiswa yang bertujuan untuk mengurangi keparahan yang akan muncul dan dampak buruk selanjutnya. Sehingga mahasiswa diharapkan memiliki keterampilan, kesiapan dan motivasi dalam melakukan penanganan CPR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) terhadap keterampilan, kesiapan dan motivasi penanganan CPR pada Mahasiswa Ners. Metode penelitian ini merupakan quasi experiment dengan desain pre test and post test without control group design. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 responden yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Analisis data dengan menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil uji statistik Wilcoxon antara keterampilan responden sebelum seluruhnya (100%) kurang terampil dan setelah dilakukan pelatihan BHD 19 responden (52,8%) terampil. Kesiapan penanganan CPR sebelum intervensi 16 responden (44,4%) dalam kategori kesiapan cukup, sesudah intervensi 23 responden (63,9%) dalam kategori kesiapan baik. Motivasi responden sebelum 88,9% (kurang motivasi), sesudah 91,7% (motivasi tinggi). Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan nilai p-value 0,000 Ë‚ 0,05 untuk keterampilan, nilai p-value 0,000 Ë‚ 0,05 untuk kesiapan dan nilai p-value 0,000 Ë‚ 0,05 untuk motivasi. Hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh pelatihan Bantuan Hidup Dasar terhadap keterampilan, kesiapan dan motivasi penanganan CPR pada mahasiswa di Universitas Kusuma Husada Surakarta. Disimpulkan pemberian pelatihan bantuan hidup dasar berpengaruh pada tingkat keterampilan, kesiapan, dan motivasi responden dalam melakukan cardiopulmonary resuscitation.
One of the emergency conditions is cardiac arrest. Basic Life Support or Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) is an intervention to restore, develop and maintain vital functions in victims of cardiac arrest and respiratory arrest. Skills in carrying out BLS are needed by everyone, including students, with the aim of reducing the severity that will arise and the subsequent negative impacts. So students are expected to have the skills, readiness and motivation to carry out CPR. This research aims to determine the effect of BLS training on the skills, readiness and motivation to handle CPR in nursing students. This research method is a Quasi Experiment with a Pre Test and Post Test Without Control Group Design. The sample in this study was 36 respondents obtained using the Purposive Sampling technique. Data analysis using the Wilcoxon statistical test. The results of the Wilcoxon statistical test between the skills of respondents before all (100%) were less skilled and after BLS training 19 respondents (52.8%) were skilled. Readiness to handle CPR before the intervention was 16 respondents (44.4%) in the sufficient readiness category, after the intervention 23 respondents (63.9%) were in the good readiness category. Respondents\u27 motivation before 88.9% (less motivation), after 91.7% (high motivation). The results of the Wilcoxon statistical test show p-value of 0.000 Ë‚ 0.05 for skills, p-value of 0.000 Ë‚ 0.05 for readiness and p-value of 0.000 Ë‚ 0.05 for motivation. This shows the influence of Basic Life Support training on the skills, readiness and motivation to handle CPR among students at Kusuma Husada University, Surakarta. It was concluded that providing basic life support training affected the level of skills, readiness and motivation of respondents in carrying out cardiopulmonary resuscitation