Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
Not a member yet
418 research outputs found
Sort by
ARANG AMPAS TEBU UNTUK MENURUNKAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS MINYAK GORENG BEKAS
Minyak digunakan secara berulangkali mengakibatkan penurunan kualitas minyak. Salah satunya adalah peningkatan asam lemak bebasnya. Limbah ampas tebu yang diubah ke dalam bentuk arang digunakan menurunkan asam lemak bebas pada minyak goreng bekas. Penambahan arang ampas tebu dengan variasi massa dapat menurunkan asam lemak bebas. Asam lemak bebas minyak bekas sebelum ditambah dengan arang ampas tebu adalah 0,62 %. Angka tersebut mengalami penurunan setelah penambahan variasi massa ampas tebu dimulai dengan 2,5 gram; 5,0 gram; 7,5 gram; 10,0 gram dan 12,5 gram. Hasil asam lemak bebas berturut-turut 0,61%; 0,55%; 0,48%; 0,45%; 0,43%. Kondisi optimum dari massa arang ampas tebu sebesar 12,5 gram. Prosentase penurunan asam lemak bebas sebesar 30,41 % dengan kadar asam lemak bebas dari sebelum dilakukan adsorbsi sebanyak 0,61% menjadi 0,43%.
Oils used repeatedly will result in a decrease in the quality of oil. One of which is the increase in free fatty acids. The waste bagasse which is converted into charcoal form used to lower free fatty acid in used oil casting. The addition of charcoal of bagasse with variation of mass can decrease free fatty acid. The fatty acid free of used oil before it is added with sugarcane bagasse is 0,62%. The number decreases after the addition of variation of bagasse mass begins with 2,5 grams; 5,0 grams; 7,5 grams; 10,0 grams and 12; 5 grams. Free fatty acids result are 0,61%; 0,55%; 0,48%; 0,45%; 0; 43% respectively. The optimum condition from the mass of charcoal of bagasse is 12,5 grams. Percentage of free fatty acid decrease of 30,41% with free fatty acid content from before adsorbs 0,61% to 0,43%
HUBUNGAN KEPEMIMPINAN KEPALA RUANG SAAT HANDOVER DENGAN PELAKSANAAN HANDOVER
Banyak data baik dari luar negeri maupun dalam negeri yang menyatakan bahwa sebagian besar penyebab kesalahan medis adalah ketidaktepatan komunikasi handover , dilihat dari proses, teknik, maupun dokumentasi. Perlu pengkajian lebih mendalam agar menjadi komunikasi yang lebih baik sehingga mengurangi terjadinya kesalahan medis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisi hubungan kepemimpinan kepala ruang saat handover dengan pelaksanaan handover. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif non eksperimental dengan uji chi square. Sampelnya adalah 104 perawat pelaksana. Pengumpulan data menggunakan kuesioner.Hasil penelitiannya adalah ada hubungan antara kepemimpinan kepala ruang saat handover dengan pelaksanaan handover di ruang rawat inap (p = 0,0014). Bagi Rumah Sakit diharapkan dapat mengoptimalkan kembali fungsi kepemimpinan dan manajemen kepala ruang dalam komunikasi efektif handover.
Many data both from abroad and domestic states that most of the causes of medical error is the inappropriateness of handover communication, seen from the process, technique, and documentation. It needs more in-depth review to become better communication so as to reduce the occurrence of medical errors. The purpose of this research is to analyze the leadership relationship of the head room when handover with handover implementation. This research uses non experimental quantitative research with chi square test. The sample was 104 implementing nurses. Data collection using questionnaires.The result of the research is there is correlation between headroom leadership when handover with handover implementation in inpatient room (p = 0,0014). For hospitals expected to re-optimize the function of leadership and management of the head of space in effective communication handover
EFEKTIVITAS METODE BOM TERHADAP PRODUKSI ASI
Permasalahan mayoritas yang dialami ibu adalah tidak keluarnya ASI pada hari pertama sampai hari ketiga post partum. Akibatnya, bayi baru lahir yang seharusnya mendapatkan ASI dini akan tertunda dan sebagai alternatifnya diberikan susu formulaKelancaran proses laktasi atau produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh perawatan payudara, frekuensi penyusuan, kejiwaan ibu, kesehatan ibu, dan kontrasepsi, begitu juga untuk produksi ASI sangat dipengaruhi fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial. Usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin dapat dilakukan dengan perawatan atau pemijatan payudara, pijat oksitosin, membersihkan puting, menyusui dini dan teratur serta teknik marmet atau teknik memerah dan memijat. Metode “BOM†(Breastcare, Oxytocin Massage, and Marmet Technique) yaitu stimulasi untuk membantu produksi dan pengeluaran ASI melalui breastcare (pemijatan payudara), oxytocin massage (pijatan atau rangsangan pada tulang belakang) dan marmet technique (kombinasi antara memerah ASI dan memijat payudara). Ibu nifas di PKD Shifa secara studi pendahuluan dari 5 (lima) ibu nifas, belum mengetahui bagaimana cara agar produksi ASI banyak dengan menggunakan “BOM†melalui wawancara terstruktur. Tujuan penelitian adalah mengkaji efektivitas metode BOM (Breastcare, Oxytocin, and Marmet Teachnique) terhadap produksi ASI. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen. Dilaksanakan di PKD Syifa Cemani dengan jumlah sampel 30 orang dan menggunakan analisa Mann Whitney U Test. Hasil yang didapatkan dari 30 sampel adalah nilai p value sebesar 0,000< 0,05 sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan bermakna antara dua kelompok, dimana metode BOM (Breastcare, Oxytocin, and Marmet Teachnique) sangat efektif terhadap Produksi ASI.
The problem of the majority experienced by postpartum mother is not the release of milk on the first day until the third day postpartum. As a result, newborns who should be breastfeeding early will be delayed and alternatively given formula milk. Efforts to stimulate the hormone prolactin and oxytocin can be done with breast care or massage, oxytocin massage, nipple cleaning, early and regular breastfeeding and marble techniques or techniques of flushing and massaging. The method of â€ÂBOM†(Breastcare, Oxytocin Massage, and Marmet Technique) is stimulation to assist breast milk production and expenditure through breastcare, oxytocin massage (massage or stimulation of the spine) and marmet technique (combination of milking and breast massage). PKD Syifa based on preliminary study through interviews of 5 postpartum women found overall postpartum in postpartum days one until seven have less milk production based on the frequency of breastfeeding babies. The objective of the study was to assess the effectiveness of BOM (Breastcare, Oxytocin, and Marmet Teachnique) methods against breastmilk production. This study uses quasi-experimental method. Performed at PKD Shifa from July to September 2017 with a sample size of 30 people and using Mann Whitney U Test analysis. The results obtained from 30 samples are p value of 0.000 <0,05 so it can be concluded that there are significant differences between the two groups, where the method of BOM (Breastcare, Oxytocin, and Marmet Teachnique) is very effective against breastmilk Production
PENGARUH PEMBERIAN POSISI SEMI FOWLER TERHADAP RESPIRATION RATE PADA PASIEN ASMA BRONKIAL DI PUSKESMAS AIR UPAS KETAPANG
Pada penyakit asma, serangan umumnya datang pada malam hari, tetapi dalam keadaan berat serangan dapat terjadi setiap saat tidak tergantung waktu. Inspirasi pendek dan dangkal, mengakibatkan penderita menjadi sianosis, wajahnya pucat dan lemas, serta kulit banyak mengeluarkan keringat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian posisi Semi fowler terhadap respiration rate pada pasien asma bronkial di Puskesmas Air Upas Ketapang Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan Quasi Eksperimental dengan Pre and post test with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah sejumlah 48 orang yang mengalami asma bronkial di Puskesmas Air Upas Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan jumlah sampel pada penelitian ini adalah 42 responden. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan uji Wilcoxon dengan nilai p value 0,000 sehingga ada pengaruh pemberian posisi semi fowler terhadap respiration rate pada pasien asma bronkial di Puskesmas Air Upas Ketapang
In asthma, the attacks usually come at night, but in a state of severe attacks can occur at any time does not depend on time. Inspiration short and shallow, resulting in the patient became cyanotic, his face pale and limp, and skin a lot of sweat. This study aimed to determine the effect of semi fowler position against respiration rate in patients with bronchial asthma in the Main Clinic Air Upas Ketapang. This research used the quasi experimental quantitative method with the pre and post test with control group design. It’s population was 48 asthma sufferers at the main clinic Air Upas Ketapang of west Borneo. The samples of research were determined through the purposive sampling technique and consisted of 42 respondents who were divided into two groups: 21 in the control group and 21 in the experimental group. The data of research were analyzed by using the Wilcoxon’s analysis.The results showed the Wilcoxon test with p value of 0.000 so that there is the effect of semi fowler position against respiration rate in patients with bronchial asthma in the Main Clinic Air Upas Ketapang
GAMBARAN STATUS GIZI KURANG DAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA PADA BALITA DI DESA BATUR, KECAMATAN GETASAN, KABUPATEN SEMARANG
Kelompok usia yang sangat rentan terhadap masalah status gizi adalah kelompok anak usia 1–5 tahun. Status gizi pada balita berkaitan langsung dengan pola konsumsi dan penyakit infeksi. Penyakit infeksi terkait lingkungan dapat meliputi diare, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA),dan pneumonia. Rendahnya status gizibalita dapat meningkatkan kejadian sakit pada balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan gizi terhadap kejadian penyakit pada balita usia 12-60 bulan Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan rancangan cross sectional study. Populasi penelitian yaitu seluruh balita di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang yang mengikuti penimbangan Posyandu Balita yang tersebar di 19 dusun. Teknik pengambilan sampel secara random sampling dengan responden penelitian adalah ibu yang memiliki balita berusia 12 – 60 bulan dengan status gizi kurang. Data didapat dari sumber sampel sebanyak 35 balita dengan status gizi kurang. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi diantaranya umur ibu, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan makan balita, dan lingkungan fisik rumah. Permasalahan Gizi kurang erat kaitannya dengan kejadian penyakit pada balita, namun kondisi badan panas (demam), batuk, dan pilek kerap dialami oleh balita yang menandai gejala ISPA. Kasus status gizi kurang pada balita di Desa Batur dikategorikan masih tinggi dilihat dari hasil penimbangan bulan september 2017 sebesar 10,29%.
The age groups that are particularly vulnerable to nutritional status are groups of children aged 1 - 5 years. The nutritional status of children under five is directly related to consumption pattern and infectious diseases. Illnesses related to environmental condition may include diarrhea, upper respiratory tract infections (ISPA), and pneumonia. The low nutritional status of children under five can increase the incidence of illness in toddlers. The purpose of this study was to determine the relationship of nutrition to disease incidence in children aged 12 - 60 months. The method used is descriptive approach with cross sectional study design. The research population is all children under five in Batur Village, Getasan Subdistrict, Semarang Regency which follow Balita Posyandu weighing spread in 19 hamlets.Sampling was done by random sampling with the respondents of the researchwere mothers who have children aged 12 - 60 months with less nutritional status. Data obtained from the sample source as many as 35 children under-five with less nutritional status. Factors that affect nutritional status include maternal age, education, occupation, toddler eating habits, and the physical environment of the house. Problems Nutrition is less closely related to the incidence of disease in toddlers, but the condition of fever, coughs, and colds are often experienced by toddlers that indicate symptoms of upper respiratory tract infections. Cases of underweight status of children under five in Batur village are still considered high in terms of weighing in September 2017 of 10.29%
DUKUNGAN PERAWAT DAN KELUARGA DALAM PEMBERIAN ASUPAN NUTRISI CAIRAN PADA PASIEN PENDERITA DEMAM BERDARAH DI RUMAH SAKIT PARU DR. ARIO WIRAWAN, SALATIGA
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypthy. Penyakit ini dapat menyerang semua orang, tidak mengenal usia maupun jenis kelamin. Kondisi tersebut menyebabkan demam terus-menerus selama 2–7 hari, manifestasi perdarahan berupa: tanda kebocoran plasma darah serta dapat timbul syok hipovolemik dari penderita DBD. Perawat dan keluarga memiliki faktor dalam proses penyembuhan pasien, utamanya adalah kecukupan kebutuhan cairan saat masa perawatan selama di rumah sakit. Bentuk dukungan yang diberikan oleh perawat dan keluarga ini guna mendukung perawatan pasien selama di rumah sakit dilihat dari upaya pemenuhan kecukupan cairan tubuh. Tujuan penelitian ini untuk memberikan gambaran bentuk dukungan perawat dan keluarga dalam upaya pemenuhan kecukupan pemberian asupan cairan pada pasien DBD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif. Dengan kriteria penelitian ini adalah keluarga atau pasien DBD yang di rawat inap di rumah sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga minimal selama 2 hari. Kegiatan penelitian dilaksanakan dari bulan Februari - Maret 2017. Hasil penelitian didapatkan penderita DBD mengalami gangguan pada asupan nutrisi dan cairan sehingga asupan tersebut kehilangan cairan yang berlebihan. Penanganan pada pasien demam berdarah dengue (DBD) mempunyai tujuan yaitu untuk memberikan asupan nutrisi dan cairan yang sesuai dengan kebutuhan pasien melalui dukungan perawat dan keluarga. Upaya yang telah dilakukan dalam pemenuhan keseimbangan asupan nutrisi dan cairan dengan menyiapkan asupan nutrisi yang sesuai kebutuhan kepada pasien seperti menyuapi dan menyediakan makanan yang disukainya. Sehingga dukungan perawat dan keluarga berperan dalam penanganan kasus demam berdarah dengue (DBD) terkait pemenuhan kebutuhan asupan nutrisi dan cairan untuk metabolisme tubuh guna mendukung prose pemulihan pasien.
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an infectious disease caused by dengue virus that is transmitted through Aedes Aegypthy mosquito bites. This disease can affect everyone, not knowing age or gender. The condition cause a continuous fever for 2-7 days, Bleeding in the form of manifestation: plasma a sign of a leak, can arise shock, as well as marked with tachycardia and perfusi tissue that decline. Nurses and family has a factor in the healing process patients, thing is sufficiency needs a liquid during the care of patients during at hospital. The formulation problems research is what was the support provided by nurses and family to bolster care of patients during at hospital in terms of efforts to achieve sufficiency bodily fluids. The purpose of this research to give a form of support from nurses and family in an effort to achieve the adequacy liquid intake among respondents dengue hemorrhagic fever(DHF). The subjects of the study were family or dengue hemorrhagic patients who were hospital Paru Dr.Ario Wirawan Salatiga for a minimum of 2 days. The research was conducted from February to March 2017. The results reveal that DHF sufferers would experience lack of nutrients and fluids needed due to excessive body fluid loss. Treatment to patients with dengue haemorrhagic fever (DHF) by nurses or family members aimed atproviding nutritional intake and fluid that suited the needs of patients. Efforts had been made to meet the balance of nutritional and fluid intake such as the provision of necessary nutritional intake (in the foods they like) and the direct support for or feeding the patients. So that support nurses and family had a role in the handling of dengue haemorrhagic fever (DHF) related meeting the needs of nutritional intake and a liquid to metabolism of the body to support prose recovery respondents
PENGARUH PEMBERIAN JUS KACANG HIJAU TERHADAP PROFIL LIPID DARAH PADA PASIEN DISLIPIDEMIA RAWAT JALAN
Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Faktor risiko timbulnya dislipidemia diantaranya adalah mengkonsumsi makanan tinggi lemak, kebiasaan merokok, hipertensi, berat badan yang berlebih, peningkatan kadar kolesterol. Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh pemberian jus kacang hijau terhadap profil lipid darah pada pasien dislipidemia rawat jalan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian RCT (Randomized Control Trial) dengan pendekatan studi eksperimental menggunakan rancangan Non Equivalent Control Design. Sampel diambil dari populasi pasien dislipidemia yang menjalani rawat jalan di poliklinik ilmu penyakit dalam. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 36 0rang dengan teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Analisis data menggunakan uji One Way Anova (Analysis of Variance) dengan tingkat kepercayaan 95% (α= 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh intervensi jus kacang hijau terhadap profil lipid(kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida) (p<0,05) pada pasien dislipidemia rawat jalan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Kesimpulan: Terdapat pengaruh intervensi jus kacang kedelai dan kacang hijau terhadap profil lipid(kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida) (p<0,05) pada pasien dislipidemia rawat jalan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Dyslipidemia is a disorder on lipid metabolism, characterized by an increase or decrease in lipid fraction in plasma. Risk factors for dyslipidemia include high-fat foods diet, smoking habits, hypertension, overwieght, cholesterol levels increasing. The objective of the research is to analyze the effect of mungbean juice treatment on blood lipid profile among patients with dyslipidemia of outpatient in dr. ZainoelAbidin Banda Aceh. This research method was RCT (Randomized Control Trial) with experimental study approach using Non Equivalent Control Design method. The sample was taken from the population of dyslipidemia patients who were outpatient in internist polyclinic. The number of samples obtained by 36 persons which is simple random sampling used. Data analysis using One Way Anova test (Analysis of Variance) with level of trust 95% (α = 0,05).The research result show there was an effect of mungbean juice treatment intervention on lipid profile (total cholesterol, HDL, LDL, triglyceride) (p <0.05) among dyslipidemia patients of outpatient in dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. The conclusions, there was an effect of soybean and mungbean juice intervention on lipid profile (total cholesterol, HDL, LDL, triglyceride) (p <0.05) in patients with dyslipidemia in RSUD dr. ZainoelAbidin Banda Aceh
HUBUNGAN TINGGI BADAN ORANG TUA DAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN PANJANG BADAN LAHIR BAYI DI KABUPATEN SLEMAN
Panjang badan lahir menggambarkan laju pertumbuhan janin selama dalam kandungan. Faktor genetik yakni tinggi badan orang tua juga berperan dalam menentukan panjang badan bayi lahir. Jika tinggi badan orang tua pendek karena faktor genetik maka akan diwariskan kepada anak, akan tetapi jika tinggi badan orang tua pendek karena nutrisi, maka tidak diwariskan kepada anak. Berat badan lahir bayi merupakan faktor penting yang berhubungan dengan panjang badan lahir. Bayi dengan berat badan lahir rendah beririko memiliki panjang badan yang kurang. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan tinggi badan orang tua dan berat badan lahir bayi dengan panjang badan lahir bayi di Kabupaten Sleman. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cohort retrospektif. Subjek penelitian sebanyak 76 ibu hamil trisemester III. Data tinggi badan orang tua diukur menggunakan microtoice dengan ketelitian 0,1 cm data berat badan lahir bayi diukur menggunakan baby scale dengan ketelitian 0,1 gram, dan data panjang badan lahir diukur menggunakan length board dengan ketelitian 0.1 cm. Analisis data menggunakan korelasi spearman dan regresi linier ganda dengan nilai p<0,05. Hasil analisis rank spearman hubungan tinggi badan ayah dengan panjang badan lahir p= 0,019 dan hubungan tinggi badan ibu dengan panjang badan lahir p=0,219, berat badan lahir dengan panjang badan lahir p=0,005. Analisis regresi linier ganda menunjukan pengaruh tinggi badan ayah (B=0,054, p=0,132) berat badan lahir (B= 1,083, P=0,201), dengan panjang badan lahir. Kesimpulan secara bersama-sama ada hubungan antara tinggi badan orang tua dan berat badan lahir bayi dengan panjang badan lahir bayi.
The length of the birth body is the growth rate of the fetus in the womb. Maternal weight gain during pregnancy is one of the factors that grows fetus in the womb. The genetic factor height of the parents also play a role in determining the length of the baby\u27s body was born. If the height of the parent body is short due to genetic factors it will be inherited to the child, will if the height of the parent body short because of nutrition, it is not inherited to the child. The purpose of this study was to analyze the relationship of height parent and baby,s birth weight with baby\u27s long-term birth in Sleman District. The method is was analytic observational with retrospective cohort design. Subjek of this study was 76 pregnant women, trismester III. The height of the parents is measured using microtoice with a precision of 0.1 cm, infant birth weight measured using baby scale with a precision 0,1 gram. Body length data was measured using length board with a precision 0.1 cm. Data analysis used spearman correlation and multiple linear regression with p<0,05. Results: . Result of rank spearman analysis correlation of father’s height with length of the baby’s birth p= 0,019, correlation of mother’s height with length of the baby’s birth p= 0,219, correlation of baby’s birth weight with length of the baby’s birth p=0,005. Result of multiple regression linier analysis showed that the effect of the effect of father’s height (B=0,054, p=0,132), birth weight (B= 1,083, P=0,201) with length of the baby’s birth. Conclusion:: father\u27s height and baby’s birth weght had correlation with length of the baby\u27s birth.
 
PENDIDIKAN KESEHATAN MENIGKATKAN KEMAMPUAN TUGAS PERAWATAN HIPERTENSI FAMILY CAREGIVER
Hipertensi pada lansia merupakan peningkatan tekanan darah sistolik diatas 140mmHg dan tekanan diastolik 90mmHg atau lebih dan menduduki peringkat pertama masalah kesehatan. Perawatan hipertensi memerlukan peran aktif keluarga sebagi suatu sistem pendukung. Pemberian pendidikan kesehatan tentang teknik terapi relaksasi nafas dalam berguna untuk menurunkan stres sebagai dampak yang muncul dari hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kemampuan tugas perawatan hipertensi family caregiver di Kelurahan Langenharjo Kabupaten Kendal. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan desain pre and post-test with control group. Populasi penelitian adalah family caregiver di Kabupaten Kendal. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sejumlah 68 yang terbagi dalam kelompok intervensi (n=34) dan kelompok kontrol (n=34). Intervensi berupa pendidikan kesehatan tentang teknik terapi relaksasi nafas dalam diberikan pada kelompok intervensi. Data diambil melalui kuesioner dan dianalisa melalui uji sampel (paired t-test dan independentt-test). Hasil penelitian menunjukan setelah diberikan pendidikan kesehatan, kemampuan tugas perawatan family caregiver pada kelompok intervensi adalah 60,97 (SD 2,30), dan mengalami peningkatan sebesar 34% dari sebelum intervensi. Sementara pada kelompok kontrol, kemampuan tugas perawatan menunjukan nilai 46,14 (SD 2,94). Hasil analisis mendapatkan nilai p-value = 0,002 α=0,05, yang mengindikasikan adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kemampuan tugas perawatan hipertensi family caregiver. Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan bagi tenaga kesehatan untuk melibatkan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan pasien melalui pendidikan kesehatan.
Hypertension in the elderly describes an increase in the systolic blood pressure of above 140 mmHg and the diastolic pressure of 90 mmHg or more and becomes the first ranked health problem. The treatment of hypertension requires an active participation of the family as a support system. The provision of health education about deep breathing relaxation therapy is useful for reducing stress as an impact arising from hypertension. This study aimed to determine the effects of health education on the ability to perform hypertension treatment among the family caregivers in Langenharjo urban-village in Kendal regency. This study employed a quasi-experimental design with pre and post-test with a control group The population was the family caregivers in Kendal. The samples were taken by using purposive sampling and involved 68 caregivers who were assigned to the intervention group (n = 34) and the control group (n = 34). An intervention of health education about deep breathing relaxation therapy was given to the intervention group. The data were collected through the questionnaires and analyzed by the paired t-test and the independent t-test. The results showed that after given the intervention, the ability to perform hypertension treatment among the family caregivers in the intervention group was 60.97 (SD 2.30), indicating an increase of 34% as before the intervention. Meanwhile, in the control group, the ability of the family caregivers demonstrated a value of 46.14 (SD 2.94). The result of the analysis obtained a p-value of 0.002, and α of 0.05, indicating the effects of health education on the ability of performing hypertension treatment among the family caregivers. Based on the findings, it is recommended that the healthcare providers involve the family to address the patient’ health problems through the health education programs
UJI VALIDITAS, REALIBILITAS HASIL PENGUKURAN BERAT BADAN MENGGUNAKAN RUMUS JUNG DENGAN TIMBANGAN ELEKTRONIK PADA PASIEN STROKE LANJUT USIA
Pasien stroke akut seringkali tidak memiliki waktu dan sarana yang memadai untuk melakukan penimbangan berat badan pasien yang sebenarnya (aktual). Untuk pasien stroke tirah baring (bed rest), terpaksa harus di ukur menggunakan tempat tidur (hospital bed) khusus yang dilengkapi dengan timbangan berat badan elektronik. Akan tetapi, harganya sangat mahal dan tidak dimiliki oleh semua rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan instrumen yang bisa mengukur secara akurat dan tersedia secara luas di rumah sakit.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui validitas dan realibilitas hasil pengukuran berat badan menggunakan rumus Jung dengan timbangan elektronik pada pasien stroke lanjut usia. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2017 sebanyak 94 pasien stroke rawat jalan di poliklinik Neuro RSUD dr. Moewardi Surakarta dilakukan pengukuran berat badan aktual menggunakan timbangan elektronik yang sebelumnya telah dikalibrasi ke terdekat 0,1 kg. Selanjutnya, dilakukan pengukuran lingkar lengan atas dan tinggi lutut yang kemudian dimasukkan kedalam rumus estimasi berat badan lansia Jung. Hasil penelitian ini adalah Rumus jung memiliki validititas yang baik terhadap timbangan elektronik pada pengkuruan berat badan pasien stroke lansia yang dapat dilihat pada nilai AUC sebesar 88,91% pada taraf signifikansi (a = 0,05) yaitu p-value = 0,000 < 0,05. Rumus jung terbukti realible/handal digunakan untuk pengkuruan berat badan pada pasien stroke lansia. Hal ini ditunjukkan dengan nilai AUC > 0,5 sebesar 12,084 (sig) p= 0,000 lebih kecil pada taraf signifikan a = 5%. Kesimpulan penelitian ini adalah Rumus Jung baik digunakan pada pengukuran berat badan pasien stroke.
Acute stroke patients often do not have sufficient time and facilities for actual patient weight balancing (actual). For bed rest stroke patients, forced to be measured using a bed (hospital bed) special equipped with electronic weighing scales. However, the price is very expensive and is not owned by all hospitals. Therefore, an instrument that can measure accurately and widely available in the hospital is required. Objective of this study is to determine the validity and reliability of the results of weight measurements using Jung\u27s formula with electronic scales in elderly stroke patients. The type of this study was observational with cross sectional design. This studi was conducted During May 2017 as many as 94 outpatient stroke patients in polyclinic Neuro RSUD dr. Moewardi Surakarta conducted actual weight measurement using electronic scales that had previously been calibrated to the nearest 0.1 kg. Furthermore, the measurement of the upper arm circumference and knee height is then incorporated into the formula of Jung\u27s elderly weight estimate. Result this study the jung formula has good validity to the electronic scales in aging body weight of elderly stroke patients which can be seen in AUC value of 88,91% at significance level (a = 0,05) that is p-value = 0,000 <0,05. The proven realible / reliable junior formula is used for weight gain in elderly stroke patients. This is indicated by the value of AUC> 0.5 for 12.084 (sig) p = 0.000 smaller at significant level a = 5%. Conclusionthis study is Jung\u27s formula is good for measuring the weight of stroke patients