Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
Not a member yet
418 research outputs found
Sort by
EDUKASI DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PADA KELUARGA PASIEN RAWAT INAP
Penyakit infeksi merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial adalah dengan menjalankan universal precautian yang salah satunya dengan mencuci tangan pada setiap penanganan pasien di rumah sakit. Edukasi dengan media audio visual lebih menarik dan lebih mudah dipahami dan diharapkan keluarga pasien mempunyai perilaku cuci tangan yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media audiovisual terhadap perilaku cuci tangan pada keluarga pasien. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, menggunakan rancangan penelitian quasi eksperiment dengan Non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pasien sebanyak 98 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan stratified proportionate random sampling. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh edukasi media audiovisual terhadap perilaku cuci tangan pada keluarga pasien rawat inap dengan p value 0,011. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam meningkatkan perilaku kesehatan melalui media audiovisual.
Infectious diseases are the main cause of high morbidity and mortality rates in the world. Efforts to prevent the occurrence of nosocomial infections is to carry out universal precautian, one of which is by washing hands in every handling of patients in the hospital. Education with audio visual media is more interesting and easier to understand and it is expected that the patient\u27s family has the correct hand washing behavior. This study aims to determine the effect of education with with audio visual media on hand washing behavior in patients\u27 families.This type of research is quantitative research, using a quasi-experimental research design with Non-equivalent control group design. The population in this study were all patients\u27 families as many as 98 people. Sampling in this study used a stratified proportionate random sampling. Analysis of the data in this study using the Mann-Whitney test. The results showed there was an influence of audio visual media on hand washing behavior in the families of inpatients with a p value of 0.011. The results of this study can be a reference in improving health behavior through audiovisual media
PENGARUH COACHING: SELF HEALING TERHADAP TINGKAT STRES DAN KADAR KORTISOL PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DENGAN HEMODIALISIS
Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible yang memerlukan tindakan hemodialisis dan memiliki keterbatasan dalam kehidupannya. Keterbatasan ini mengakibatkan pasien rentan terhadap stres. Salah satu terapi self healing: mind body and spirit menggunakan do’a dan zikir mampu meningkatkan spiritual value dan mempengaruhi peningkatan kepribadian. Terapi ini mampu merubah stres negatif (distres) menjadi stres positif (eustres) dan perubahan respon biologis oleh potensi penurunan kortisol. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh self healing terhadap tingkar stres dan kadar kortisol pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Desain penelitian ini adalah quasy eksperimental (pre post test with control group design). Populasi penelitian adalah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di dua Rumah Sakit yang berbeda di Kalimantan Barat namun memiliki tipe yang sama, yaitu tipe B. Jumlah sampel 40 responden yang terbagi menjadi 2 kelompok (intervensi dan kontrol) masing – masing kelompok penelitian terdapat 20 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen DASS 42 dan pengukuran kadar kortisol dengan Elisa Kit. Hasil uji Independent T-test kedua kelompok pada variabel tingkat stres memiliki hubungan bermakna (p=0,004) sedangkan pada kadar kortisol memiliki hubungan tidak bermakna (p=0,148). Terdapat pengaruh self healing pada tingkat stres pasien hemodialisis. Sebagai seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan juga harus memperhatikan kebutuhan spiritual klien yang mampu menurunkan tingkat stres klien selama perawatan di rumah sakit.
Chronic Renal Failure (CRF) is a progressive and irreversible renal function disorder that requires hemodialysis and CRF patients have several life limitation which make them vulnerable to stres. The self healing treatment:mind body and spirit therapy using prayers can increase spiritual value and influence personality improvement so that it changes negative stress (distress) to positive stress (eustress) and changes in biological responses by the effect for decreased cortisol. The purpose of the study was to analyze the effect of self healing on stress level and hemodialysis patient levels of cortisol in chronic renal failure patients. The design of this study is quasy experimental pretest-posttest with control group design. The population was hemodialysis patients in Hospitals Type B in West Kalimantan. The number of sample was 40 respondents who were divided into 2 groups (intervention and control). Purposive sampling technique was used to select the respondents. Data collection used DASS 42 instrument and measurement of cortisol levels. The results of the independent t-test of two groups on the stress level variable had a significant relationship (p = 0.004) whereas on cortisol levels the relationship was not significant (p = 0.148). There is a significant effect of self healing therapy on the stress level of hemodialysis patients. As a nurse in carrying out nursing care must also consider the spiritual needs of clients who are able to reduce the level of client stress during treatment in the hospital
ANALISIS PENGARUH UMUR, PENDIDIKAN, PEKERJAAN, PENGHASILAN, DAN JENIS KELAMIN TERHADAP KUALITAS SARANA SANITASI DASAR RUMAH TINGGAL
Kriteria sarana sanitasi dasar rumah tinggal sesuai dengan Surat Keputusan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran, saluran pembuangan air limbah, dan sarana tempat pembuangan sampah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan bagaimana pengaruh variabel umur, pendidikan, pekerjaan, dan jenis kelamin seseorang terhadap kualitas sarana sanitasi dasar rumah tinggal yang dimiliki warga di kelurahan Sewu, kecamatan Jebres, kota Surakarta . Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Populasi 2.277 Kepala Keluarga (KK), dan sampel diambil secara random probability sampling dengan menggunakan rumus Slovin, diperoleh sampel sebanyak 341 Kepala Keluarga (KK). Analisis data dengan chi-square, dan uji regresi linier berganda. Kesimpulan penelitian ini adalah variabel pendidikan (p 0,014 < 0,05), pekerjaan (p 0,000 < 0,05), penghasilan (p 0,000 < 0,05), dan jenis kelamin (p 0,013 < 0,05) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas sarana sanitasi dasar rumah tinggal yang dimiliki responden, sedangkan variabel umur tidak berpengaruh secara signifikan (p 0,105 > 0,05). Berdasarkan pengujian variabel-variabel penelitian dengan model regresi linier berganda diketahui bahwa umur, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan jenis kelamin responden memberikan pengaruh secara serentak atau simultan terhadap kualitas sarana sanitasi rumah tinggal yang dimiliki responden (p 0,000 < 0,05).
The criteria for basic residential sanitation facilities are in accordance with the Decree of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia Number 829 / Menkes / SK / VII / 1999 concerning housing health requirements including clean water facilities, sewage disposal facilities, sewage drains, and garbage disposal facilities. The purpose of this study was to determine the relationship between age, education, occupation and gender variables on the quality of basic residential sanitation facilities owned by residents in Sewu Village, Jebres District, Surakarta City. This research was a descriptive quantitative study with a cross-sectional approach. Sources of data in this study were primary and secondary data. Population of 2,277 heads of household (KK), and samples taken by random probability sampling using the Slovin formula, obtained a sample of 341 heads of households (KK). Data analysis using chi-square, and multiple linear regression test. The conclusion of this study is that the variables of education (p 0,014<0.05), occupation (p 0,000<0.05), income (p 0,000<0.05), and gender (p 0,013<0.05) have a significant effect on the quality of basic residential sanitation facilities owned by the respondent, while the variable age does not have a significant effect (p 0,105>0.05). . Based on the testing of research variables with multiple linear regression models, it is known that the age, education, occupation, income and gender of the respondent have a simultaneous or simultaneous influence on the quality of residential sanitation facilities owned by the respondent (p 0,000<0.05)
PENGARUH STABILITAS FISIK KRIM EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera, Lamk.) TERHADAP VARIASI VASELIN ALBUM SEBAGAI OABAT JERAWAT
Daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) mengandung flavonoid dan tannin berfungsi sebagai tanaman obat yang berkhasiat untuk mengobati jerawat. Sekarang ini daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) digunakan oleh masyarakat dengan cara dibuat serbuk untuk masker wajah sebagai obat jerawat, dengan cara ini masih menggunakkan cara konvensional dan cara pembuatannya sangat tidak praktis. Tujuan : Mengetahui pengaruh variasi basis vaselin album terhadap uji stabilitas fisik krim ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lamk.). Metode : penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakkan variabel independent dna variabel dependent. Penelitian ini meliputi ekstraksi maserasi . krim dibuat dalam 3 formula. Formula I dengan konsentrasi vaselin album 4 g dan formulasi II dengan konsentrasi 8 g dan formulasi III vaselin album 16 g. Krim yang telah dibuat kemudian dilakukan uji kontrol kualitas yang meliputi uji organoleptis, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji pH. Hasil : Menunjukkan bahwa bahwa formulasi krim ekstrak daun kelor yang paling memenuhi standar sifat fisik krim setelah dilakukan adalah Formula II dengan basis vaselin album 8 gram ditunjukkan dengan hasil organoleptis konsistensi lunak ,ditunjukkan dengan pH 6,5, daya sebar 6 cm, daya lekat 4â€64 dibandingkan dengan Formula I dan III. Kesimpulan : Ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dengan konsentrasi basis vaselin album 8 gram yang stabil secara fisik.
Moringa leaves (Moringa oleifera Lamk.) contain flavonoids and tannins that function as medicinal plants that are efficacious for treating acne. Currently, Moringa leaves (Moringa oleifera Lamk.) are used by the community by making powder for face masks as acne medicine, in this way still using conventional methods and the method of making it is very impractical. Objective : To determine the effect of variations in Vaseline album base on the physical stability test of Moringa leaf extract cream (Moringa oleifera Lamk.). Methods: this research is an experimental study using independent variables and dependent variables. This research includes maceration extraction. The cream is made in 3 formulas. Formula I with a concentration of 4 g vaseline album and formulation II with a concentration of 8 g and formulation III with 16 g of vaseline albumin. The cream that has been made is then subjected to quality control tests which include organoleptic tests, dispersibility tests, adhesion tests, and pH tests. Results: Indicates that the formulation of Moringa leaf extract cream that best meets the standards of the physical properties of the cream after it has been done is Formula II with a base of 8 gram vaseline album indicated by soft consistency organoleptic results, indicated by pH 6.5, spreadability 6 cm, adhesion 4 â€64 compared to Formula I and III. Conclusion : Moringa leaf extract (Moringa oleifera Lamk.) can be formulated into a cream preparation with a physically stable concentration of 8 gram Vaseline album base
GAMBARAN POLA MAKAN SEBAGAI PENYEBAB KEJADIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (DIABETES MELLITUS, OBESITAS, DAN HIPERTENSI) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CEBONGAN, KOTA SALATIGA
Gaya hidup manusia akibat adanya urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi menjadi salah satu penyebab terjadinya peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM). Secara umum PTM seperti obesitas, Diabetes Mellitus (DM) dan hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian secara global. Berdasarkan data kegiatan Posyandu di Puskesmas Cebongan, Kota Salatiga pada bulan Maret-April 2018, terdapat sebanyak 75 responden lansia dengan kasus non komplikasi (hipertensi dan DM), serta kasus komplikasi (hipertensi dan DM, hipertensi dan obesitas, DM dan obesitas, serta hipertensi, DM, dan obesitas). Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran penyebab kejadian PTM dari sudut pandang gaya hidup, terutama pola makan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan instrumen pengambilan data berupa Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan Food Recall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kecenderungan konsumsi karbohidrat yang tinggi mencapai 13,81 kali per minggu berpeluang menimbulkan penyakit hipertensi. Serta tingkat asupan gizi defisit berat pada asupan energi dan karbohidrat ada kaitannya dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol. Kejadian hipertensi dan DM dipengaruhi oleh pola makan, sedangkan obesitas dikarenakan proses fisiologis lansia yaitu kehilangan massa otot sehingga menyebabkan berkurangnya pemakaian energi dan menumpuknya jaringan lemak.
Human lifestyle due to urbanization, modernization, and globalization to be one cause of the increase of Non-communicable diseases (PTM). In general, PTM such as obesity, Diabetes Mellitus (DM) and hypertension become one of the main causes of death globally. Based on data of Posyandu activity at Puskesmas Cebongan, Salatiga City, March-April 2018, there were 75 elderly respondents with non complicated cases (hypertension and DM), and complication cases (hypertension and DM, hypertension and obesity, DM and obesity, and hypertension , DM, and obesity). This study aims to determine the description of the causes of the incidence of PTM from the point of view of lifestyle, especially diet. The method used is descriptive quantitative, with data collection instrument in the form of Food Frequency Questionnaire (FFQ) and Food Recall. The results showed that, the tendency of high carbohydrate consumption reached 13.81 times per week potentially cause hypertension disease. As well as the level 16 Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2019 of intake of heavy nutritional deÞ cit in energy and carbohydrate intake is related to uncontrolled bloodsugar levels. The incidence of hypertension and DM is inß uenced by diet, while obesity is due to the elderly physiological process of losing muscle mass resulting in reduced energy consumption and fat tissue accumulation
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI PADA KADER KESEHATAN
Kanker payudara merupakan penyakit kanker pada perempuan yang sering menyebabkan kematian dikarenakan keterlambatan deteksi. Keterlambatan deteksi dini salah satunya disebabkan oleh tingkat pengetahuan yang buruk tentang deteksi dini kanker payudara. Deteksi dini yang paling mudah dilakukan di rumah adalah pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan. Penelitian ini menggunakan metode Quasy Experiment dengan pendekatan One Group Pretest posttest. Populasi penelitian ini adalah kader kesehatan di puskesmas wonogiri II sebanyak 100 orang. Sampel penelitian diambil menggunakan metode pusposive sampling sehingga sampel berjumlah 68 responden. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat pengetahuan responden sebelum pendidikan kesehatan adalah sebesar 26.40 ± 2.819 dan rata-rata pengetahuan responden setelah pendidikan kesehatan adalah sebesar 28.21 ± 2.794 dengan nilai p sebesar 0.000 (p<0.001). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan kader kesehatan. Hasil ini menunjukkan pentingnya pendidikan kesehatan tentang SADARI terhadap peningkatan pengetahuan sehingga dapat mencegah angka kejadian kanker payudara sedini mungkin.
Breast cancer was a cancer in women that often causes death due to late detection. One of the delays in early detection is caused by a poor level of knowledge about early detection of breast cancer. Early detection was the easiest to do at home was self breast examination (BSE). This study aimed to determine the effect of health education on the level of knowledge.This study used the Quasy Experiment method with the One Group Pretest posttest approach. The population of this study was 100 health cadres in the Wonogiri II health center. The research sample was taken using pusposive sampling method so that the sample amounted to 68 respondents. The level of knowledge is measured using a questionnaire that has been tested for validity dan reliability. Data analysis using t-test.The results showed that the average level of knowledge of respondents before health education was 26.40 ± 2.819 dan the average knowledge of respondents after health education was 28.21 ± 2.794 with a p value of 0.000 (p <0.001). The conclusion of this study shows that there is a significant effect of health education on the level of knowledge of health cadres. These results indicate the importance of health education about BSE on increasing knowledge so as to prevent the incidence of breast cancer as early as possible
PENETAPAN MUTU RUMAH SAKIT BERDASARKAN INDIKATOR RAWAT INAP
Indikator rawat inap merupakan salah satu penentu mutu rumah sakit baik secara aspek medis, ekonomi, dan manajemen. Salah satu pelayanan yang diberikan oleh Rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta adalah rawat inap. Dalam memberikan informasi tentang produktivitas pelayanan rawat inap dapat dianalisis dari indikator nilai BOR, aLOS, TOI, BTO, GDR dan NDR. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu pelayanan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta berdasarkan indikator rawat inap perbulan tahun 2018. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan metode observasi dan wawancara, melalui pendekatan retrospektif. Sampel dalam penelitian ini sama halnya dengan populasi yaitu berupa rekapitulasi sensus harian rawat inap tahun 2018. Hasil Penelitian ini menunjukan pada tahun 2018 nilai BOR tertinggi pada bulan Maret (80,70%) dan terendah pada bulan Juni (64,61%). Nilai aLOS tertinggi pada bulan April (3,88 hari) dan terendah pada bulan Desember (3,43 hari). Nilai TOI per tertinggi pada bulan Juni (1,56 hari) dan TOI terendah pada bulan Maret (0,70 hari). Nilai BTO tertinggi pada Maret (8,61 kali) dan BTO terendah terjadi pada bulan Juni (6,80 kali). Nilai GDR tertinggi pada bulan Juni (29,21‰) dan terendah terjadi pada bulan September (16,44‰). Nilai NDR tertinggi pada bulan Agustus 20,38‰, dan terendah pada bulan Desember (12,29‰). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu masih terdapat nilai indikator aLOS dan TOI yang belum ideal. Maka penulis menyarankan supaya rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta perlu adanya peningkatan fasilitas kesehatan, serta menerapkan perhitungan indikator rawat inap menggunakan standar Depkes RI sebagai bahan evaluasi dan perencanaan mutu pelayanan kesehatan.
Inpatient indicator is one of the determinants of hospital quality both in medical, economic and management aspects. In providing information about the productivity of inpatient services, it can be known from the value of BOR, AOS, TOI, BTO, GDR and NDR. The purpose of this study was to determine service quality at PKU Muhammadiyah Surakarta Hospital based on monthly inpatient indicators in 2018. The type of research used in this study is descriptive, with methods of observation and interviews, through a retrospective approach. The sample in this study is the same as the population, in the form of inpatient census daily recapitulation in 2018. The results of this study showed the highest BOR value in March (80.70%) and the lowest in June (64.61%). The highest ALOS value in April (3.88 days) and the lowest in December (3.43 days). The highest TOI value was in June (1.56 days) and the lowest TOI was in March (0.70 days). The highest BTO value in March (8.61times) and the lowest BTO in June (6.80 times). The highest GDR value was in June (29.21 ‰) and the lowest was in September (16.44 ‰). The highest NDR value in August was 20.38 ‰, and the lowest was in December (12.29 ‰). Conclusion of this study is that there are still value of aLOS and TOI ??that are not yet ideal. So the authors suggest that PKU Muhammadiyah Surakarta Hospital need to improve health facilities, and apply the calculation of inpatient indicators using the DEPKES RI standard as an evaluation and quality planning for health services
PEMANFAATAN MINYAK KELAPA FERMENTASI YANG DIPERKAYA EKSTRAK BAWANG MERAH (Allium cepa) UNTUK MENGATASI GANGGUAN KESEHATAN KULIT TANGAN PENGRAJIN TAHU AKIBAT LIMBAH CAIR TAHU
Meningkatnya permintaan tahu di pasaran menyebabkan para pengrajin tahu lebih giat memprodusi tahu, sehingga meningkatkan jam kerja mereka. Hal ini menimbulkan permasalahan baru yaitu munculnya berbagai gangguan kesehatan pada kulit. Salah satu penyebab gangguan kesehatan kulit adalah limbah cair tahu yang bersifat asam. Selama ini pengrajin tahu menangani masalah tersebut dengan mengolesi lotion anti nyamuk, sebelum mereka bekerja. Sebenarnya ada cara mengatasi gangguan kesehatan kulit dengan aman menggunakan bahan alami yaitu minyak kelapa yang ditambah ekstrak bawang merah. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu dilakukan penelitian dengan fokus pada pemanfaatan minyak kelapa fermentasi yang diperkaya ekstrak bawang merah untuk membantu menyelesaikan permasalahan gangguan kesehatan kulit pada pengrajin tahu. Tujuan penelitian yaitu mengidentiÞ kasi berbagai jenis gangguan kesehatan kulit yang dialami oleh pengrajin tahu akibat limbah cair tahu; mengetahui potensi minyak kelapa fermentasi yang diperkaya bawang merah (Allium cepa) mampu mengatasi masalah gangguan kesehatan kulit pengrajin tahu dan mengetahui potensi minyak kelapa fermentasi yang diperkaya bawang merah (Allium cepa) untuk dapat diterima oleh pengrajin tahu. Metode penelitian adalah eksperimen semu, dengan rancangan One Group Pre-Test and Post-Test, dengan satu kelompok yang diamati, namun pengamatan dilakukan sebelum dan setelah perlakuan. Kesimpulan penelitian yaitu jenis gangguan kesehatan kulit akibat limbah cair tahu di Kampung Krajan Mojosongo Surakarta adalah dermatitis iritan, gatal-gatal, dan panu. Minyak kelapa fermentasi yang diperkaya ekstrak bawang merah (Allium cepa) mampu mengatasi masalah dermatitis iritan, dan gatalgatal ringan pada kulit tangan pengrajin tahu. Minyak kelapa fermentasi yang diperkaya bawang merah (Allium cepa) dapat diterima oleh masyarakat
Demand increase of tofu in market lead to increasement of tofu production thus multiply the work hours. This give rise to health skin problem as the liquid waste of tofu is acidic material. As this condition appear, the worker apply mosquito repellent lotion over the wounds. Fermented virgin coconut oil and extract of Allium cepa are used as natural treatment in health skin problem and help to cure the wounds. This research aims to know the effect of Fermented virgin coconut oil and extract of Allium cepa towards health skin problem. This research aim to identiÞ es the heatlh skin problem had by worker of tofu production; indentiÞ es the potential of fermented virgin oil and extract of Allium cepa to solve the skin health problem of the tofu factory worker, and indentiÞ es the acceptance of society towards the potential of fermented virgin oil and extract of Allium cepa. The methode of this research:squasi-experiment were apply in this research, continued by One Group Pre-Test and Post-Test, within one group was observed on previous and after the experiment. Conclusions of this research are irritant dermatitis was the main skin problem in Kampung Krajan Mojosongo Surakarta; fermented virgin coconut oil and extract of Allium cepa were potentially help to solve the irritant dermatitis; and fermented virgin coconut oil and extract of Allium cepa were able to be accepted in society
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MENGGUNAKAN MEDIA LEAFLET TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA BALITA DENGAN PNEUMONIA DI PUSKESMAS PANCORAN TAHUN 2017
Jumlah penyakit pneumonia pada balita terus meningkat setiap tahunnya termasuk di Puskesmas Pancoran Jakarta. Peran orang tua balita sangat penting untuk menekan jumlah pneumonia pada balita dan penatalaksanaan yang tepat. Pendidikan kesehatan tentang pneumonia pada orang tua dengan balita pneumonia sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan orang tua sehingga penatalaksanaan pneumonia pada balita tepat. Metode penelitian adalah quasi-experiment, pre-test and post-test design with control group. Terdapat 50 responden terbagi 2 kelompok. Kelompok eksperimen diberikan intervensi pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet, sedangkan kelompok kontrol hanya mendapatkan pelayanan normal mengikuti program Puskesmas tanpa diberikan pendidikan kesehatan tentang pneumonia dengan menggunakan leaß et. Instrumen untuk mengukur tingkat pengetahuan responden adalah dengan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang pneumonia yang diambil dan dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat pengetahuan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang pneumonia dengan menggunakan leaflet (p<,05). Pendidikan kesehatan merupakan salah satu bentuk intervensi keperawatan yang dapat diaplikasikan di Puskesmas tidak hanya untuk pneumonia juga penyakit yang lainnya agar pasien dan keluarganya memahami dengan baik tentang penyakit ISPA / Pneumonia.
The prevalence of pneumonia in babies was increase each year including in Pancoran Publich Health Centre, Jakarta. The role of parents is necessary to decrease it prevalence particularly in babies. Health education regarding pneumonia for parents who have babies with pneumonia was important to increase their knowledge regarding pneumonia so that the management of pneumonia in babies could be solved. The research method is a quasi-experimental study, pre-test and post-test design with control group. There were 50 respondents which assigned to the experimental group and the control group. The experimental group received a health education regarding pneumonia by using leaflet, whereas the control group only received the usual care from the Pancoran Public Health Centre. The instrument to measure the level of knowledge about pneumonia used pneumonia knowledge questionnaire which modified from a previous study. The Þ ndings of this study showed that there was a signiÞ cance different regarding pneumonia knowledge between the experimental group and the control group before and after receiving the health education about pneumonia (p<,05). The health education is one of the nursing intervention which can be applied in Public Health Centre not only for pneumonia but also for other diseases in order to patients and their family are understand well regarding diseases
GAMBARAN TINGKAT ASUPAN GIZI ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI 06 SALATIGA
Anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang mengalami proses tumbuh kembang secara pesat, sehingga diperlukan asupan gizi yang adekuat dan sesuai untuk mendukung proses tersebut. Apabila anak tidak mendapatkan asupan gizi yang adekuat dan sesuai kebutuhan, maka dapat memicu masalah gangguan gizi dan risiko penyakit lainnya yang dapat berpengaruh buruk secara berkelanjutan pada pertumbuhan dan perkembangan anak hingga dewasa kelak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan asupan gizi anak usia sekolah di SD Negeri 06 Salatiga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data observasional, pengukuran IMT, dan food record. Subjek penelitian adalah siswa sekolah dasar kelas 4 – 5 yang dipilih secara acak (random sampling) dan mengisi kuesioner food record 3 hari berurutan secara lengkap. Aplikasi nutrisurvey dan WHO Anthro Plus digunakan untuk menganalisis data asupan gizi dan IMT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan gizi responden tergolong kurang dari AKG (Angka Kecukupan Gizi), yakni <80% , meskipun sebagian besar responden berstatus gizi normal. Makanan yang kerap dikonsumsi oleh responden adalah makanan dengan tinggi kalori dan tinggi gula.
School-age children are an age group that is experiencing a rapid growth and development, so the adequate and appropriate nutritional intake is needed to support that process. If the child does not get the nutritional intake as they needed, it can trigger nutritional problems and the risk of the other diseases that can adversely affect the growth and development of children to adulthood later. The purpose of this study is to describe school-age children’s nutritional intake in 06 States Elementary School Salatiga. The method that used in this research was decriptive quantitative research method with observational data collection, BMI measurements and food record questionnaire. The subjects studied were elementary school students in grades 4-5 who were randomly selected and have Þ lled in a complete 3-day food record questionnaire. Nutrisurvey and WHO Anthro Plus software are used to analyzed nutritional intake data and BMI. This study shows that respondents’ nutritional intake was less than the supposed Recommended Dietary Allowances (RDA), which is <80%, even though their nutritional status were normal. Food that is frequently consumed by respondents is high-calorie and high-sugar food