Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
Not a member yet
418 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN PERNIKAHAN USIA DINI DAN POLA ASUH BADUTA (0- 23 BULAN) TERHADAP KEJADIAN STUNTING
Pernikahan usia dini < 20 tahun dapat mempengaruhi status gizi anak yang dilahirkan. Ibu yang menikah di usia dini, status gizi anak berisiko mengalami kekurangan gizi, kurus dan gizi buruk. Tujuan untuk mengetahui hubungan pernikahan dini dan pola asuh bayi usia dua tahun (0-23 bulan) dengan kejadian stunting.Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang terhadap 82 orang bayi usia dua tahun usia 0-23 bulan dari ibu belum menikah usia dini. Ibu mengatakan menikah usia dini bila usia ibu saat menikah <20 tahun. Status gizi bayi usia dua tahun diperoleh dari z-score PB/U, analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 73,2% wanita usia 18-20 tahun sudah menikah, sedangkan usia 15-17 tahun sebanyak 26,8%. Persentase stunting bayi usia dua tahun dari ibu yang belum menikah usia 15-17 tahun sebanyak 36,4%, sedangkan pada kelompok usia 18-20 tahun yang menikah sebanyak 41,7% bayi usia dua tahun yang stunting. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara ibu menikah usia dini dengan kejadian stunting pada bayi usia 2 tahun usia 0-23 bulan (p = 0,664). Persentase hasil pola asuh ibu yang baik sebanyak 30,4%, dengan kejadian stunting dan pola asuh ibu yang tidak baik sebanyak 61,5% dengan kejadian stunting. Dengan demikian hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan p=(P<0,05) antara pola asuh ibu dengan kejadian stunting. Tidak ada hubungan yang bermakna antara pernikahan dini dengan kejadian stunting (P=0.664).
Marriage early age <20 years can affect the nutritional status of children born. Mothers who get married at an early age, nutritional status of children at risk of having a short, skinny nutrition and malnutrition. The aim to determine the relationship of early marriage and parenting two year old baby (0- 23 months) and the incidence ofstunting. This study was an observational study using cross-sectional design of the 82 people two year old baby aged 0-23 months of unmarried mothers early age. Mom said to get married early age when maternal age at married <20 years. Two year old baby nutritional status obtained from the z-score PB / U, data analysis using Chi-square test. These results indicate that as many as 73.2% of women aged 18-20 years were married, while the 15-17 age as much as 26.8%. Two year old baby stunting percentage of unmarried mothers early age 15-17 as much as 36.4%, while in the age group 18-20 years were married as much as 41.7% two year old baby that stunting. This shows there is no relationship between mother married an early age on the incidence of stunting in two year old baby aged 0-23 months (p = 0.664). Percentage yield good mother parenting as much as 30.4%, with the incidence of stunting and parenting are not good mothers as much as 61.5% in the incidence ofstunting. Thust he results oft his study showed asignificant relationship = (P<0.05) between maternal parenting style with the incidence of stunting. There is no significant relationship between early marriage with the incidence of stunting (P =0.664)
KEJADIAN PREMENSTRUAL SYNDROME (PMS) BERDASARKAN KARAKTERISTIK SISWI KELAS XII DI PONDOK PESANTREN SUKOHARJO
Premenstrual Syndrome (PMS) adalah gejala fisik, psikologis dan emosi yang terjadi sebelum menstruasi. Dampak yang timbul adalah dapat menganggu aktivitas seorang wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian premenstrual syndrome (PMS) berdasarkan karakteristik siswi kelas XII di Pondok Pesantren Sukoharjo. Metode penelitian diskriptif dengan analisa kuantitatif, rancangan cross sectional. Subyek penelitian adalah siswi kelas XII dengan PMS di Pondok Pesantren Sukoharjo yang diambil secara total sampling. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah bahwa di Pondok Pesantren Sukoharjo dengan responden sebanyak 34 siswi kelas XII dengan PMS, didapatkan hasil yaitu mayoritas umur responden yaitu 17 tahun (70,6%), usia menarche 13-15 tahun (52,9%), lama menstruasi ≥ 7 hari (76,5%), siklus menstruasi 28 hari (76,5%), ganti pembalut ≥ 3 kali perhari (85,3%) dan IMT dengan berat badan ideal (82,4%).
Premenstrual Syndrome (PMS) is a physical, psychological and emotional symptom that occurs before menstruation. The impact that arises is that it can disrupt a woman\u27s activities. This study aims to determine the incidence of premenstrual syndrome (PMS) based on the characteristics of class XII students at the Boarding School Sukoharjo. Descriptive research method with quantitative analysis, cross sectional design. The subjects of the study were students of class XII with PMS at Boarding School Sukoharjo taken in total sampling. The results of the research that has been done is that at the Boarding School Sukoharjo with 34 respondents in class XII with PMS, the results obtained are the majority of respondents\u27 age is 17 years (70.6%), menarche age 13-15 years (52, 9%), menstruation duration ≥ 7 days (76.5%), menstrual cycle 28 days (76.5%), dressing pads ≥ 3 times per day (85.3%) and BMI with ideal body weight (82.4% )
MEDIA BUKU SAKU (PAMIL) UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA KEHAMILAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN IBU
Kehamilan sangat rentan mengalami terjadinya anemia defisiensi besi, penyebab anemia defisiensi besi pada kehamilan yaitu hemodilusi shingga pengenceran darah, pertambahan darah tidak sebanding pertambahan plasma, kurangnya zat besi dalam makanan, kebutuhan zat besi meningkat dan gangguan pencernaan, absorbs, perdarahan post partum. Salah satu penyebab Angka kematian Ibu secara tidak langsung. Tujuan penelitian Efektifitas Media Buku Saku Upaya Pencegahan Anemia Terhadap pengetahuan ibu hamil. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian eksperimen dengan rancangan pre experimental designs, teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 responden. Hasil penelitian berdasarkan analisis menggunakan uji wilcoxon test dapat disimpulkan terdapat pengaruh tingkat pengetahuan kelompok perlakukan sebelum dan setelah perlakuan (p-Value 0,000). Sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh Media Buku Saku Upaya Pencegahan Anemia terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil.
Pregnancy is very susceptible to iron deficiency anemia, the cause of iron deficiency anemia in pregnancy is hemodilution so that blood thins, blood increase is not proportional to plasma increase, lack of iron in food, increased iron needs and digestive disorders, absorption, post partum bleeding. One of the causes of maternal mortality is indirectly. The purpose of this research is the effectiveness of the Pocket Book Media on Anemia Prevention Efforts on the knowledge of pregnant women. This research is a quantitative research with experimental research design with pre experimental designs, the sampling technique is total sampling. The sample in this study were 30 respondents. The results of the study based on the analysis using the Wilcoxon test, it can be concluded that there is an influence on the level of knowledge of the treatment group before and after treatment (p-Value 0.000). So it can be concluded that there is an effect of Pocket Book Media on Anemia Prevention Efforts on the level of knowledge of pregnant women
PENGARUH PERBEDAAN SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN SPUTUM TERHADAP JUMLAH BAKTERI TAHAN ASAM
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri TB yaitu Myobacterium Tuberculosis. Sampai saat ini, Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan besar untuk pemerintah Indonesia. Untuk kepentingan diagnosis dengan cara pemeriksaan sputum mikroskopis langsung, terduga pasien TB diperiksa contoh uji sputum dengan pewarnaan Ziehl Neelsen. Namun, di beberapa daerah di Indonesia, jauhnya fasilitas kesehatan terkadang mengharuskan sampel BTA mengalami penundaan pemeriksaan karena melalui proses pengiriman terlebih dahulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh perbedaan suhu dan lama penyimpanan sputum terhadap jumlah Bakteri Tahan Asam. Desain penelitian ini adalah desain penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian dilakukan dengan 5 perlakuan yaitu penyimpanan selama 0 jam, 24 jam pada suhu 2-8oC, 24 jam pada suhu 25oC, 48 jam pada suhu 2-8oC dan 48 jam pada suhu 25oC. Berdasarkan pengamatan mikroskopis dan pengolahan data, diperoleh hasil p value > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh dari perbedaan suhu dan lama penyimpanan terhadap jumlah BTA +.
Tuberculosis is a direct infectious disease caused by the TB bacteria, named Myobacterium tuberculosis. Until now, Tuberculosis (TBC) is still a big challenge for the Indonesian government. For the purpose of diagnosis by direct microscopic examination of sputum, suspected TB patients are examined for sputum samples with Ziehl Neelsen staining. However, in some areas in Indonesia, the distance from health facilities sometimes requires that Acid-Fast Bacilli samples undergo a delay in examination because they go through the delivery process first. Therefore, the purpose of this study was to determine the effect of differences in temperature and storage time on the amount of Acid-Fast Bacilli +. The design of this study is a laboratory experimental research design with a completely randomized design. The study was conducted with 5 treatments, that stored for 0 hours, 24 hours at a temperature of 2-8oC, 24 hours at a temperature of 25oC, 48 hours at a temperature of 2-8oC and 48 hours at a temperature of 25oC. After microscopic observation and data processing, the results obtained p value > 0.05, then Ho is accepted and Ha is rejected. From these results it can be concluded that there is no effect of differences in temperature and storage time on the amount of acid-fast bacilli +
KONGRUENSI PEMBELAJARAN SKILL LAB KEPERAWATAN DENGAN FACULTY LEARNING OUTCOME TENTANG PROSES ASUHAN KEPERAWATAN
Proses asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian data, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi tindakan keperawatan. Asuhan keperawatan diajarkan mahasiswa untuk mempersiapkan sebelum praktek dirumahsakit, sehingga perlu diberikan pada skill lab keperawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian pembelajaran skill lab keperawatan dengan faculty learning outcome tentang asuhan keperawatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan content analisys. Penelitian ini menganalisis konten checklist penilaian resume keperawatan dan faculty learning outcome tentang proses asuhan keperawatan. Jumlah checklist penilaian resume askep keperawatan adalah 20. Penelitian ini menggunakan 2 koder yang nantinya akan menganalisis dari keseluruhan dokumen penelitian Hasil penelitian didapatkan prosentase konten asuhan keperawatan yang sesuai dengan faculty learning outcome adalah 62% dan terdapat extended learning outcome sebesar 38% pada pembelajaran skill lab keperawatan. Kesimpulan model kongruensi antara pembelajaran skill lab keperawatan dengan faculty learning outcome yaitu sebagian besar faculty learning outcome sudah dirumuskan pada pembelajaran skill lab keperawatan sebesar 62 % tentang proses asuhan keperawatan. Saran perlu adanya penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan extended learning outcome pada pembelajaran teori keperawatan.
The nursing care process consists of data assessment, nursing diagnoses, nursing interventions, nursing implementation and evaluation of nursing actions. Nursing care is taught by students to prepare before practicing in the hospital, so it needs to be given to nursing lab skills. The purpose of this study was to determine the suitability of nursing lab skills learning with faculty learning outcomes about nursing care. This study uses a qualitative method with content analysis. This study analyzes the content of the nursing resume assessment checklist and faculty learning outcomes about the nursing care process. The number of checklists for assessing the nursing ascetics resume is 20. This study uses 2 coders which will later analyze the entire research documentThe results showed that the percentage of nursing care content that was in accordance with faculty learning outcomes was 76% ​​and there were extended learning outcomes in nursing lab skills learning. The conclusion of the congruence model between nursing lab skills learning and faculty learning outcomes is that most of the faculty learning outcomes have been formulated in nursing skills learning about 62% the nursing care process. Suggestions need for further research related to extended learning outcomes in nursing theory learning
GAMBARAN SEDENTARY LIFESTYLE, AKTIFITAS FISIK, DAN KELUHAN PADA TUBUH KARYAWAN USIA PRODUKTIF DI KANTOR BALAI KOTA PADANG 2021
Karyawan memiliki risiko kesehatan saat mereka bekerja. Salah satu yang mempengaruhinya ialah perilaku dan gaya hidup. Hasil penelitian tentang Sedentary Lifestyle sebagai faktor permasalah kesehatan usia produktif didapatkan 86% berperilaku kurang gerak. Perilaku karyawan kantor biasanya menghabiskan waktu 6 jam perhari dibalik meja kerja, serta menghabiskan waktu istirahat mereka untuk mengobrol, main game, menonton dan bermain sosial media, sehingga karyawan kurang aktivitas gerak dan cendrung berdiam diri di tempat. Kesehatan karyawan merupakan unsur terpenting dalam mencapai produktifitas kerja, namun rendahnya kesadaran dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dapat menyebabkan masalah kesehatan terutama penyakit tidak menular. Perawat mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kesehatan kerja melalui edukasi, promosi serta pencegahan terjadinya masalah kesehatan pada karyawan, akan tetapi peranan perawat pada saat ini masih belum mempunyai ruang untuk melakukan intervensi langsung di perkantoran. Tujuan penelitian ini melihat gambaran Sedentary Lifestyle, aktifitas fisik, dan keluhan tubuh pada karyawan usia produktif. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan sampel sebanyak 71 karyawan. Pengolahan data menggunakan metode analitik dengan Global Physical Activity Quesioner hasil, hasil yang didapatkan 56,5 karyawan memiliki aktifitas fisik ringan. Pengukuran sedentary lifestyle didapatkan hasil 93% karyawan memiliki perilaku sedentary lifestyle yang tinggi, dan pengukuran keluhan tubuh dengan Nordic Body Map didapatkan hasil 91,5% karyawan mengalami kesakitan tubuh yang rendah. Perawat dan pemangku kebijakan perlu melakukan kegiatan Total Body Stretch secara teratur untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan produktifitas karyawan kantor. Kegiatan ini diharapkan mengurangi dampak dari Sedentary Lifestyle yang cukup tinggi pada karyawan.
Employees have health risks while they work. One of the factors that influence it is behavior and lifestyle. The results of research on Sedentary Lifestyle as a factor in health problems of productive age found 86% of behaving sedentary. The behavior of office employees usually spends 6 hours per day behind their desks, and spends their rest time chatting, playing games, watching and playing social media, so that employees are less active and tend to stay in place. Employee health is the most important element in achieving work productivity, but low awareness in maintaining health and body fitness can cause health problems, especially non-communicable diseases. Nurses have an important role in improving occupational health through education, promotion and prevention of health problems in employees, but the role of nurses at this time still does not have the space to intervene directly in the office. The purpose of this study is to look at the description of the Sedentary Lifestyle, physical activity, and body complaints in employees of productive age. This type of research is descriptive analytic with a sample of 71 employees. Data processing using analytical methods with Global Physical Activity Questionnaire results, the results obtained are 56.5 employees have light physical activity. Measurement of sedentary lifestyle showed that 93% of employees had high sedentary lifestyle behavior, and measurement of body complaints with the Nordic Body Map showed that 91.5% of employees experienced low body pain. Nurses and policy makers need to carry out Total Body Stretch activities regularly to improve the health quality and productivity of office employees. This activity is expected to reduce the impact of the Sedentary Lifestyle which is quite high on employees
IDENTIFIKASI PROFIL FITOKIMIA DAUN TORBANGUN (Coleus amboinicus) UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI ASI
Coleus amboinicus merupakan tumbuhan yang memiliki metabolit sekunder yaitu saponin, alkaloid, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Senyawa yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan produksi ASI termasuk dalam polifenol. Beberapa bentuk pemanfaatan daun torbangun banyak digunakan untuk meningkatkan produksi ASI dalam bentuk tablet dan teh. Perlunya inovasi baru untuk lebih meningkatkan daya konsumsi adalah dengan membuat simplisia daun torbangun dalam bentuk effervescent. Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder daun torbangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder daun torbangun melalui uji fitokimia. Penelitian eksperimental dengan metode kualitatif untuk mengetahui kandungan fitokimia pada daun torbangun dilakukan di laboratorium farmasi. Dimulai dengan ekstraksi dan dilanjutkan dengan pengujian. Identifikasi profil fitokimia dapat dilihat dari perubahan warna dan karakteristik ekstraksi daun torbangun dengan menambahkan beberapa bahan kimia yang berfungsi untuk mengikat fitokimia. Karakteristik organoleptic bentuk serbuk kering, warna hijau kehitaman, bau langu, rasa pahit. Fitokimia yg teridentifikasi antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, terpenoid dan steroid, serta tannin. Hasil pengembangan KLT akan dideteksi di bawah sinar tampak, UV 254, dan UV 366 untuk melihat pola kandungan senyawanya.
Coleus amboinicus is a plant that has secondary metabolites, namely saponins, alkaloids, flavonoids, polyphenols and essential oils. Compounds that are very influential on increasing breast milk production include polyphenols. Several forms of utilization of torbangun leaves are widely used to increase breast milk production in the form of tablets and tea. The need for new innovations to further increase consumption power is to make torbangun leaf simplicia in the form of effervescent. Research needs to be done to determine the content of secondary metabolites of torbangun leaves. This study aims to determine the content of secondary metabolites of torbangun leaves through phytochemical tests. Experimental research using qualitative methods to determine the phytochemical content of torbangun leaves was carried out in a pharmaceutical laboratory. Starting with extraction and continued with testing. Identification of the phytochemical profile can be seen from the color changes and the extraction characteristics of torbangun leaves by adding several chemicals that function to bind phytochemicals. Organoleptic characteristics of dry powder form, blackish green color, unpleasant odor, bitter taste. The identified phytochemicals include alkaloids, flavonoids, saponins, terpenoids and steroids, and tannins. The results of the TLC development will be detected under visible light, UV 254, and UV 366 to see the pattern of the compound content
Pengaruh Peer Education Terhadap Efikasi diri Pada Remaja dalam Penanganan Pre Menstrual Syndrome
Siklus menstruasi merupakan siklus yang dialami oleh dimulai dari usia remaja putri hingga dewasa. Sebelum mengalami menstruasi, sejumlah remaja putrid biasanya mengalami rasa tidak nyaman atau istilah populernya premenstrual syndrome (PMS) sehingga seringkali menganggu aktivitas sehari - hari. Penanganan PMS dapat dilakukan oleh remaja secara mandiri dengan meningkatkan efikasi diri, salah satunya dengan metode peer education. Tujuan mengetahui pengaruh peer education terhadap self efficacy dalam penanganan PMS Pada Remaja. Desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan rancangan pre-post test without control menggunakan e booklet PMS. Sampel pada penelitian ini sejumlah 60 remaja putri. Instrumen dalam penelitian iniadalahkuesioner dan standard operasianal prosedur (SOP) Peer education dan Self Eficacy. Analisis data menggunakan uji Wilxocon. Hasil penelitian menghasilkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap remaja dalam menangani PMS setelah dilaksanakan pendidikan kesehatan. Selain itu, terdapat perbedaan rerata efikasi responden sebelum dan sesudah dilaksanakan pendidikan kesehatan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan menjadi sumber informasi mengenai penanganan PMS dengan metode peer education.
The menstrual cycle is a cycle experienced by a woman from adolescence to adulthood. Before menstruation, a number of women usually experience discomfort or the popular term premenstrual syndrome (PMS) so that it often interferes with daily activities. The handling of PMS can be done by adolescents independently by increasing self-efficacy, one of which is the peer education method. The purpose of knowing the effect of peer education on self-efficacy in handling PMS in Adolescents. The research design used a quasi-experimental design with a pre-post test without control design using the PMS e booklet. The sample in this study were 60 young women. The instruments in this study were questionnaires and standard operating procedures (SOPs) for peer education and self-efficacy. Data analysis using Wilxocon test. The results showed that there were differences in the knowledge and attitudes of adolescents in dealing with PMS after health education was carried out. In addition, there is a difference in the average efficacy of respondents before and after being given health education. The results of this study can be used as a reference and a source of information regarding the handling of PMS with the peer education method
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN BERBASIS KELUARGA TERHADAP SELF CARE MANAJAMEN DIABETES MELLITUS DI POSBINDU LANSIA SAKURA KELURAHAN PLESUNGAN KABUPATEN KARANGANYAR
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memerlukan edukasi perawatan secara mandiri karena prevalensinya mengalami peningkatan terutama di negara berkembang seperti di Indonesia. Self care adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu, keluarga, dan masyarakat dalam upaya menjaga kesehatan, meningkatkan status kesehatan, mencegah timbulnya komplikasi pada penyakit serta mengatasi kecacatan dengan atau tanpa dukungan penyedia layanan kesehatan. Mengingat keluarga merupakan dasar dalam pendekatan dalam manajemen Diabetes Mellitus yang akan memastikan bahwa pasien DM dapat melangsungkan kehidupan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik. Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan berbasis keluarga terhadap self care management Diabetes Mellitus pada penderita DM di Posbindu Lansia Sakura di wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy-eksperiment pretest-posttest without control group. Responden penelitian ini adalah lansia berjumlah 25 orang. Uji statistic dengan menggunakan Wilcoxon diperoleh nilai p value = 0,01. Nilai p value = 0,01 lebih kecil dari alpha 0,05 berarti ada pengaruh pendidikan kesehatan berbasis keluarga terhadap self care management Diabetes Mellitus pada penderita DM di Posbindu Lansia Sakura di wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo. Hasil penelitian ini dapat menambah informasi bagi perawat dalam penatalaksanaan self care management Diabetes Mellitus melalui pendidikan kesehatan yang melibatkan keluarga.
Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that requires independent care education because its prevalence has increased, especially in developing countries such as Indonesia. Self care is the ability of individuals, families, and communities to maintain health, improve health status, prevent complications, overcome disability with or without the support of health care providers. Given that the family is the basis for the approach to Diabetes Mellitus management, it will ensure that DM patients can lead a life with better health conditions. The purpose of the study was to analyze the effect of family-based health education on self-care management of Diabetes Mellitus in DM patients at the Sakura Elderly Posbindu in the Gondangrejo Public Health Center Work area. This study uses a quasi-experimental pretest-posttest research design without control group. Elderly respondents amounted to 25 people. Statistical test using Wilcoxon obtained p value = 0.01. The value of p value = 0.01, smaller than alpha 0.05, means that there is an effect of family-based health education on self-care management of Diabetes Mellitus in DM patients at the Sakura Elderly Posbindu in the Gondangrejo Health Center Work area. Health education is very important for Diabetes Mellitus patients because it is related to lifestyle and with health education it is hoped that changes in behavior and lifestyle will occur. The health education carried out includes diet, physical activity, blood glucose regulation and foot care. The results of this study can add additional information for nurses in the management of Diabetes Mellitus self care management through health education involving families.
 
PENGGUNAAN METODE BLENDED LEARNING PADA PEMBELAJARAN SKILL LAB KEPERAWATAN DALAM MENINGKATKAN KOGNITIF DAN PSIKOMOTOR
Pemerintah saat ini telah menetapkan peraturan social distancing seiring dengan adanya pandemi Covid-19. Peraturan tersebut termasuk untuk seluruh Perguruan Tinggi agar menerapkan pembelajaran jarak jauh. Hal ini menjadi tantangan bagi Perguruan tinggi Kesehatan dengan pembelajaran yang mengharuskan adanya interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa. Sehingga diperlukan metode pembelajaran yang sesuai dengan tetap menerapkan peraturan social distancing, salah satunya yaitu metode blended learning. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penggunaan metode blanded learning pada pembelajaran skill lab keperawatan, dalam meningkatkan kognitif dan psikomotor mahasiswa. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan purpsive sampling dengan jumlah sampel adalah 50 mahasiswa. Metode yang digunakan adalah pre eksperimen dengan pendekatan one grouppretest-posttest witout control. Hasil uji analisa data pada kognitif dan psikomotor menunjukan nilai p value 0.000 (<0.05) yang bermakna ada peningkatan kognitif dan psikomotor mahasiswa dengan penggunaan metode blanded learning. Kesimpulan, terdapat peningkatan kognitif dan psikomotor mahasiswa dengan penggunaan metode blanded learning pada pembelajaran skill lab keperawatan. Saran perlu adanya penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penerapan metode blended learning terhadap aspek yang lebih luas dalam pembelajaran seperti tujuan pembelajaran atau motivasi belajar mahasiswa.
Government has set social distancing regulations in line with the COVID-19 pandemic. These regulations include all universities to implement distance learning. This is a challenge for Health Colleges with learning that requires direct interaction between lecturers and students. So we need an appropriate learning method while still applying social distancing rules, one of which is the blended learning method. The purpose of this study was to determine the use of blended learning methods in nursing lab skills learning, in improving students\u27 cognitive and psychomotor skills. The sampling technique used purpsive sampling with a sample size of 50 students. The method used in this study was pre-experimental with a one-group pretest-posttest approach with control. The results of the data analysis test on cognitive and psychomotor showed a p value of 0.000 (<0.05) which means there was an increase in cognitive and psychomotor students. In conclusion, there is an increase in students\u27 cognitive and psychomotor by using blended learning methods in nursing lab skills learning. Suggestions need for further research related to the application of the blended learning method to broader aspects of learning such as learning objectives or student learning motivation