SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1821 research outputs found

    Kinerja Guru Sejarah SMK Negeri Dalam Pembelajaran Sejarah di Kabupaten Pasuruan

    No full text
    RINGKASANYoga, Aji Kusuma Dwi. 2019. Kinerja Guru Sejarah SMK Negeri Dalam Pembelajaran di Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Joko Sayono, M.Pd., M.Hum.Kata Kunci: kinerja guru, sejarah, pembelajaran sejarahKinerja guru merupakan faktor yang menentukan kualitas di dalam pembelajaran. Guru dapat dikatakan baik jika kinerja yang ditunjukkan selama pembelajaran di kelas berjalan dengan baik. Salah satu kompetensi yang dimiliki oleh guru yakni memiliki aspek kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik ini terkait dengan proses pembelajaran di kelas. Tentu saja guru harus memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan, seperti menyusun perangkat pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kinerja guru SMK Negeri dalam pembelajaran sejarah, yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran sejarah di Kabupaten Pasuruan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di tiga sekolah, yakni SMKN 1 Purwosari, SMKN 1 Bangil dan SMKN 2 Sukorejo. Informan dalam penelitian ini yakni guru sejarah yang menjadi anggota MGMP Sejarah Kabupaten Pasuruan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Kegiatan analisis yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.  Dalam mereduksi data, peneliti berfokus pada perencanaan, pelaksanaaan, dan evaluasi pembelajaran oleh guru. Penyajian data dalam bentuk narasi yang bersifat deskriptif.Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, kinerja guru dalam melakukan perencanaan pembelajaran dalam membuat perangkat seperti RPP sudah sesuai dengan kurikulum terbaru, guru menyusun perangkat secara bersama-sama dengan tim guru sejarah sekolah masing-masing. Kedua, kinerja guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran terlaksana dengan cukup baik. Kegiatan pembelajaran seringkali kurang sesuai dengan yang ada di RPP namun sudah dimaksimalkan. Guru dalam memanfaatkan sumber belajar yang bervariasi sekaligus pemanfaatan media pembelajaran di kelas secara inovatif dirasa masih kurang. Ketiga, kinerja guru dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran dengan menyusun sendiri soal-soal ulangan harian dan melaksanakan program perbaikan yakni remidial, namun untuk program pengayaan tidak dilaksanakan karena terbatasnya alokasi waktu. Kinerja guru yang baik dapat memberi dampak positif terhadap minat belajar sejarah kepada peserta didik.Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberi saran kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian tentang kinerja guru ini dengan subyek penelitian yang lebih banyak dan beragam. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat melihat kinerja guru dari aspek kompetensi yang lebih luas seperti aspek kompetensi sosial, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi pedagogik.

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TAKE AND GIVE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XII SMAK CHANDRA WIDYA PANDAAN KABUPATEN PASURUAN

    No full text
    ABSTRAK Banyak siswa menganggap bahwa belajar sejarah sangat membosankan sehingga motivasi siswa untuk belajar sejarah sangat kurang. Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk belajar sejarah. Model pembelajaran Take and Give dapat menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar sejarah. Pilihan model pembelajaran Take and Give adalah sebagian karena model ini adalah salah satu dari berbagai model kooperatif. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dirancang menggunakan model siklus (dilakukan dalam dua siklus). Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rata-rata angket pertemuan pertama I menghasilkan 63,23% sedangkan pada pertemuan kedua hanya berkembang sejauh 3% hanya menghasilkan 66,49%. Sedangkan pada siklus kedua, hasilnya menunjukkan rata-rata 68,9% pada pertemuan pertama dan 71,8% pada pertemuan kedua yang mampu mencapai nilai yang dicari oleh peneliti.Key words: model pembelajaran, take and give, motivasi belajar&nbsp

    PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN KARTU KARUTA SEJARAH DALAM PROSES PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK SISWA KELAS XI IPS MADRASAH ALIYAH MAMBAUL ULUM TUMPANG

    No full text
    ABSTRAK Pendidikan adalah sebuah komponen yang bersifat mendasar, sekedar memberi wawasan arti, ruang lingkup, fungsi, tujuan, dan sistematika yang menyangkut komponen komponen pendidikan (Syam, 1987:1) sementara Sejarah sendiri menurut Kartodirdjo (1993:14) pendidikan adalah sebuah konstruk yang bisa diumpamakan sebuah bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita.Karena itu pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat memberikan perubahan dan sumbangan bagi bangsa dimasa yang akan datang adalah pendidikan yang dapat merubah dan mengembangkan potensi siswa, sehingga para siswa nantinya mampu memiliki dan memecahkan permasalahan pendidikan yang akan dihadapinya. Sementara menurut Nana Syaodih (2013:24) pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan kegiatan karateristik pribadi siswa yang nantinya kegiatan pendidikan tersebut diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Nantinya pendidikan tersebut semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari- hari saat ini maupun yang akan datang.Kata Kunci: Model Cooperative Learning, Kartu Karuta Sejarah, Motivasi Belajar  Siswa &nbsp

    PENGARUH KRISIS EKONOMI TERHADAP DEMOGRAFI DI KOTAMADYA MALANG 1997-1998

    No full text
    Abstrak Indonesia memiliki sejarah panjang yang patut dikaji setiap periodenya salah satunya adalah krisis ekonomi 1997-1998. Krisis ekonomi sebenarnya berasal dari Thailand yang kemudian menyebar ke negara tetangga termasuk Indonesia. Untuk mengatasi krisis ekonomi, Indonesia melakukan peminjaman uang kepada IMF namun tidak berhasil memulihkan ekonomi Indonesia. Malang sendiri terkena imbas krisis ekonomi karena Malang merupakan kota besar dimana untuk pemenuhan kebutuhan juga tergantung pada kondisi nasional dan internasional. Bentuk krisis ekonomi di Kotamadya Malang berupa terjadinya PHK karyawan seperti di PT Jo Eun, PT RDC I & II, PT Pagina Cita, PR Kompas, CV Merpati serta CV Sejahtera yang gulung tikar. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang mengadakan berbagai aksi merespon krisis untuk segera diadakan reformasi. Pengaruh krisis ekonomi terhadap bidang demografi berupa penurunan penduduk di Kotamadya Malang yaitu .117 penduduk pada 1997 dan 3.900 penduduk pada 1998. Hal tersebut disebabkan banyaknya migrasi yang keluar Kotamadya Malang yang menurut Teori Kependudukan Malthus merupakan imbas daripada krisis ekonomi. Kata Kunci: Krisis Ekonomi, Demografi, Kotamadya Malang.&nbsp

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN HISTORY CARD BERBASIS QR CODE DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH MATERI PROSES MASUK BANGSA EROPA KE INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X KPR 1 SMK NEGERI 11 MALANG

    No full text
    RINGKASANNi’mah, Mazidatun. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran History Card Berbasis Qr Code dalam Pembelajaran Sejarah Materi Proses Masuk Bangsa Eropa ke Indonesia untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X KPR I SMK Negeri 11 Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum. Kata Kunci: media pembelajaran, history card, qr code, motivasi belajarPenelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya penggunaan media pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran sejarah sehingga membuat siswa kurang tertarik untuk mengikuti pembelajaran sejarah dengan baik. Selain itu, motivasi belajar siswa juga cukup rendah terhadap matapelajaran sejarah karena siswa hanya terfokus pada pelajaran inti sesuai jurusannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran diperlukan untuk membuat siswa lebih tertarik dan termotivasi sehingga dapat mengikuti pembelajaran sejarah dengan baik. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah history card berbasis qr code. Media pembelajaran ini dikemas dalam bentuk kartu yang berjumlah 40 pcs dengan materi proses masuk bangsa Eropa ke Indonesia. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran history card berbasis qr code dan menguji kelayakan media, serta untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan media history card berbasis qr code. Pada penelitian ini produk yang dihasilkan diterapkan pada kelas X KPR 1 karena kelas tersebut memiliki motivasi belajar yang lebih rendah dibandingkan dengan kelas X lainnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan menurut Borg dan Gall (1989)(1) penelitian dan pengumpulan informasi,(2)perencanaan,(3) pengembangan bentuk produk awal,(4) uji coba lapangan persiapan,(5) revisi produk utama,(6) uji lapangan utama,(7) pelaksaan revisi produk,(8) uji lapangan operasional,(9) revisi produk akhir,(10) diseminasi dan implementasi.Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar validasi ahli materi dan ahli media, serta angket penilaian siswa terhadap media dan motivasi belajar siswa. Hasil uji perorangan mendapat presentase sebesar 71%, pada uji kelompok kecil sebesar 74%, dan uji kelompok besar atau lapangan sebesar 81%. Terdapat kenaikan presentase motivasi belajar siswa terhadap matapelajaran sejarah dilihat dari data angket yaitu sebelum menggunakan media sebesar 55% (kategori motivasi rendah), dan hasil sesudah menggunakan media sebesar 82% (kategori motivasi tinggi). Berdasarkan hasil presentase yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa media history card berbasis qr code layak digunakan sebagai media pembelajaran dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Penulis berharap agar media pembelajaran history card berbasis qr code bisa dipergunakan dalam pembelajaran sejarah dan disempurnakan lagi sehingga dapat membuat pembelajaran lebih menyenangkan. SUMMARYNi'mah, Mazidatun. 2018. The Development of History Card Learning Media Based on Qr Code in Learning History of the Arrival of the Europeans to Indonesia to Improve the Learning Motivation of Tenth Graders of SMKN 11 Malang. Thesis, Department of History, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Malang. Advisors: Dr. Dewa Agung Gede Agung, M. Hum. Keywords: learning media, history card, Qr code, learning motivationThis research was conducted due to lack of instructional media used during the historical learning process so as it made the students were less interested to engange in historical learning. Besides, the students also have low learning motivation on historical subject because they only focus on core subjects according to their major. Hence, learning media is needed to make students more interested and motivated in order to increase the students’ engagement in historical teaching. One of the learning media that can be used is a history card based on Qr code. This learning media is packaged in the form of cards totaling 40 pcs with the Arrival of the Europeans to Indonesia as the topic. The objective of this research was to develop history card based on QR codes learning media and media feasibility, as well as to increase students' interest in learning history by using History Card based on qr code. In this study, the media was applied in grade X of KPR 1 due to having lower learning achievement compared to other class. This study used research and development methods according to Borg and Gall (1989), namely:(1) research and information collecting;(2) planning;(3)develop preliminary form of product;(4)preliminary field testing;(5) operational field testing;(6)operational product revision;(7) main field testing;(8) main product revision;(9) final product revisions;(10) dissemination and implementation.The data instruments used were data and media validation sheets, as well as student questionnaires about the media implemented and students’ learning motivation. The individual test gets a percentage of 71%, in the small group of 74%, and the large group or field test is 81%. An enhancement of the percentage of students’ learning motivation could be seen before the media was implemented was 55% (low motivation category), and after the media was implemented was 82% (high category). Based on the percentage obtained, it can be concluded that history card based on Qr code media is suitable to be used as a learning media and can increase students learning motivation. The researcher hopes that history card based on Qr Code learning media can be used in historical learning and improved, so that it can make the learning is more enjoyable

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KALENDER SEJARAH MATERI UPAYA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (1945-1949)

    No full text
    Kebutuhan dunia pendidikan akan adanya media pembelajaran semakin lama semakin tinggi dan semakin beragam. Hal apapun apabila memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai media pembelajaran maka dapat digunakan dengan ataupun tanpa modifikasi. Media pembelajaran kalender sejarah merupakan salah satu hasil pengembangan potensi suatu benda untuk menjadi media pembelajaran. Fungsi dari media pembelajaran kalender sejarah ini adalah untuk membantu peserta didik mengetahui tanggal-tanggal peristiwa penting yang terjadi pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, tepatnya yaitu untuk menunjang materi strategi dan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman pasukan Sekutu dan Belanda. Penelitian pengembangan ini sudah melalui tahap validasi dan uji coba untuk menguji keefektifitasan produk

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL ELEKTRONIK BERBASIS 3D PAGEFLIPTENTANG PERANANMR.ASSAAT DATUK MUNDO DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (1946-1950) UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAH SISWA KELAS XI IPS 3 SMAN 1 SITUBONDO

    No full text
    PENGEMBANGAN E-MODUL BERBASIS 3D PAGEFLIP TENTANG PERAN MR. ASSAAT DATUK MUNDO DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (1946-1951) Ilham Yudha Pradana, Dr. Ari Sapto, M.Hum Universitas Negeri MalangE-mail: [email protected], [email protected] ABSTRAK:Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk e-modul berbasis 3D Pageflip sebagai bahan ajar untuk siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Situbondo. Peneltian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Sugiyono. Produk e-modul berbasis 3D Pageflip telah melalui tahap validasi yang menunjukkan hasil sebesar 91,66% dan masuk kategori valid. Tahap selanjutnya yaitu validasi media dengan persentase sebesar 89,58% dan masuk kategori valid. Tahap terakhir uji coba kelompok kecil dengan persentase 82% dan meningkat pada uji coba lapangan (kelompok besar) dengan persentase sebesar 86% yang dinyatakan valid. Berdasarkan hasil yang diperoleh, disimpulkan bahwa pengembangan e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) telah valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran sejarah. Kata Kunci: Pengembangan, e-modul, Mr. AssaatABSTRACT:This research aimed to produce pageflip-based 3D e-module as teaching material for XI grade students of social science in SMA Negeri 1 Situbondo. The research and development methods that was proposed by Sugiyono was used for the methodology of this reseacrh. Pageflip-based 3D e-module products have gone through a validation step that shows results of 91.66% which is in the valid category. The next step was media validation with a percentage of 89.58% which is valid. The last step was a small group trial with a percentage of 82% and it increases on the field trials (large groups) with a percentage of 86% which is declared valid. Based on the results, it was concluded that the development of e-modules about the role of Mr. Assaat in maintaining Indonesia's independence (1946-1951) was valid and appropriate to use on the learning process in history class. Keyword: Development, e-module, Mr. AssaatMata pelajaran sejarah di sekolah cenderung kurang menarik dan membosankan bagi siswa. Menurut Hariyono (1995:143) pengajaran sejarah di sekolah sering dilakukan kurang optimal sehingga menyebabkan pelajaran sejarah dianggap sangat mudah dan digampangkan. Masalah-masalah dalam pembelajaran dapat menghambat tujuan pembelajaran. Banyak masalah yang bisa terjadi seperti model pembelajaran yang menjadikan guru sebagai sumber pengetahuan utama dalam kegiatan pembelajaran.Pembelajaran bukan hanya kegiatan guru dalam menyampaikan materi dan tugas-tugas di dalam kelas saja, melainkan proses terjadinya interaksi antara guru, siswa dan sumber belajar. Interaksi dalam pembelajaran menjadi salah satu ciri utama kegiatan belajar. Guru sebagai fasilitator memiliki peran sangat penting dalam pengembangan potensi siswa dalam pembelajaran. Penggunaan media serta bahan ajar yang tepat dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang komprehensif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Menurut National Center for Competency Based Training dalam (Prastowo, 2015:16) bahan ajar adalah segala bentuk bahan baik tertulis maupun tidak tertulis yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.Seiring dengan kemajuan teknologi, dunia pendidikan mengalami kemajuan yang pesat dan berdampak positif, khususnya dalam pembelajaran. Perkembangan teknologi ini menciptakan banyak inovasi bahan ajar yang canggih dan menarik. Sehingga dengan perkembangan tersebut, siswa dapat belajar di manapun, kapanpun dan dengan siapapun sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Saat ini teknologi dapat menjadi alat pendorong kearah kemajuan bangsa. Pada era milenium ini gadget telah menjadi gaya hidup di setiap lini kehidupan masyarakat. Gadget yang kini sudah menjadi kebutuhan masyarakat memiliki nilai manfaat yang lebih dan memiliki banyak manfaat yang bisa digunakan dalam dunia pendidikan. Menurut Abdillah dalam (Yohannes, 2018:49) mengungkapkan bahwa guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.Pada proses pengukuran kebutuhan awal, peneliti melakukan observasi ke SMA Negeri 1 Situbondo pada tanggal 28 September 2018. Data yang diperoleh berupa data angket pengisian untuk 10 orang siswa, dan data wawancara dengan beberapa orang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Situbondo, serta data wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah kelas XI SMA Negeri 1 Situbondo. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sejarah SMA Negeri 1 Situbondo pada tanggal 28 September 2018 diperoleh data bahwa rata-rata siswa di SMA Negeri 1 Situbondo telah memiliki gadget/smartphone, pc,dan laptop. Akan tetapi, alat-alat tersebut hanya digunakan siswa untuk sosial media dan bermain game. Alat-alat tersebut jarang dioptimalkan untuk pelajaran khususnya pelajaran sejarah. Siswa hanya menggunakan gadget dalam pembelajaran apabila disuruh guru untuk browsing dan tidak ada kemauan sendiri untuk menggunakan gadget secara efektif. Untuk itu, perlu dikembangkan pengembangan yang dapat diakses siswa menggunakan gadget sehingga pembelajaran sejarah dapat berlangsung dengan menarik dan efisien. Peneliti menawarkan pengembangan e-modul hal ini dikarenakan cocok dengan keadaan dimana kurang adanya bahan ajar yang dapat memanfaatkan teknologi yang digunakan oleh siswa. E-modul merupakan modul yang ditransformasikan penyajiannya ke dalam bentuk elektronik (Ghalifah, 2015:149).Selain wawancara, peneliti juga menggunakan data angket untuk siswa. Data angket ini bertujuan untuk mengetahui pendapat siswa mengenai proses pembelajaran sejarah di kelas. Selain itu, data angket bertujuan untuk mengetahui seberapa paham siswa tentang materi yang akan terdapat dalam e-modul yang dikembangkan. Berdasarkan angket yang telah diisi siswa menyatakan bahwa pembelajaran sejarah di kelas jarang menggunakan bahan ajar selain buku induk. Guru hanya mengandalkan buku induk dan tidak pernah memakai sumber belajar yang lain. Selain iu, Pemahaman siswa tentang materi yang akan dibahas dalam pengembangan e-modul juga turut diisi. Hasil yang didapatkan yakni rata-rata siswa belum tahu atau mengenal siapa tokoh Mr. Assaat tersebut.Dari kegiatan wawancara dengan Ibu Raoda sebagai guru sejarah SMA Negeri 1 Situbondo, peneliti juga memperoleh informasi seperti kurangnya bahan ajar dan sumber belajar inovatif yang dimiliki sekolah, perbendeharaan yang dimiliki pihak sekolah sangat rendah, serta buku induk siswa menjadi buku utama. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan sumber belajar selain buku induk sangatlah terbatas. Dalam sesi wawancara, guru menyampaikan pula kendala yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran seperti siswa kurang memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru, dan tingginya ketergantungan siswa terhadap gadget.Dari hasil wawancara dengan guru diperoleh informasi bahwa siswa kelas XI SMA Negeri 1 Situbondo rata-rata sudah memiliki gadget, pc, laptop, smartphone namun penggunaan alat-alat tersebut hanya sebatas fasilitas pribadi siswa yang berfungsi sebagai alat bersosialisasi dengan teman di dunia maya, browsing apabila mendapat instruksi dari guru, sedangkan penggunan teknologi tersebut sebagai bahan ajar masih sangat minim di kelas. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan teknologi sebagai bahan ajar untuk siswa masih sangat minim. Materi dari e-modul yang akan dikembangkan yakni materi tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam Kurikulum 2013 revisi 2016, materi yang dipilih berkaitan dengan KD 3.10 dan 4.10 mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XI. Adapun KD 3.10 dan 4.10 menuntut siswa dapat menganalisis strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda. Alasan dipilihnya materi tersebut berdasarkan dari data hasil penyebaran angket yang dilakukan pada tanggal 28 September 2018.Berdasarkan hasil pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan e-modul sejarah dengan materi peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) di SMA Negeri 1 Situbondo perlu dikembangkan dengan harapan produk yang dikembangkan mampu menjadi bahan ajar atau sumber belajar alternatif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran sejarah baik di luar maupun di dalam kelas, serta dapat mengarahkan siswa untuk memanfaatkan teknologi secara efektif, dan menambah perbendaharaan ilmu di luar buku induk, dan buku-buku yang lainnya. E-modul yang akan dikembangkan oleh peneliti akan dibuat dengan menggunakan aplikasi berbasis 3D Pageflip. 3D PageFlip adalah suatu software yang dapat dimanfaatkan untuk membuat bahan ajar berbentuk digital. Software ini mampu mengubah bahan ajar berbentuk PDF menjadi exe, zip, html, 3DP, screensaver, apk, dan lain-lain (Amalia, 2011:28). E-modul berbasis 3D Pageflip  dipilih karena cara pembuatannya yang mudah. Di dalam e-modul ini dapat menyisipkan gambar, audio, dan video sebagai fitur pendukungnya.Tujuan dari penelitian dan pengembangan e-modul ialah mengembangkan dan menghasilkan produk berupa e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951). METODEPenelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Sugiyono, hal ini dikarenakan model pengembangannya dilakukan revisi hingga tiga kali sehingga produk yang dihasilkan akan lebih maksimal. Berikut metode penelitiam dari Sugiyono. 1. Potensi dan MasalahPenelitian selalu berangkat dari adanya potensi dan masalah (Sugiyono, 2010:409). Potensi merupakan segala sesuatu yang apabila didayagunakan akan memilki nilai tambah, sedangkan maslaah adalah adanya kepentingan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Dalam hal ini peneliti mencari suatu permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran sejarah di SMAN 1 Situbondo.Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada 22 September 2018, peneliti melihat adanya potensi dari beberapa hal yaitu, pertama perkembangan teknologi yang semakin pesat. Pada masa sekarang rata-rata hampir setiap orang memiliki apa yang disebut gadget/smartphone. Kedua, masih berkaitan denagn perkembangan IPTEK. Siswa menggunakan gadget untuk bermain game ataupun sosial media. Siswa baru mencari sumber-sumber materi pelajaran apabila ada arahan dari guru. Berdasarkan masalah-masalah tersebut mengenai potensi dan masalah yang ada dikalangan peserta didik, peneliti mengkolaborasikan kedua hal tersebut dengan membuat sebuah produk. Peneliti memiliki pemikiran untuk memasukkan materi mata pelajarann sejarah ke dalam sebuah aplikasi elektronik modul berbasis 3D Pageflip. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan daya tarik siswa terhadap mata pelajaran sejarah. 2. Pengumpulan DataSetelah potensi dan masalah ditunjukkan secara faktual, selanjutnya dikumpulkan berbagai sumber informasi yang dapat digunakan sebagai bahan perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Hal ini diperlukan metode penelitian tersendiri yang akan digunakan dalam penelitian sesuai permasalahan dan ketelitian tujuan yang ingin dicapai (Sugiyono, 2010:441).Data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari laporan penelitian terdahulu, observasi dan wawancara ke sekolah untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pemelajaran di sekolah. Rata-rata masalah yang dihadapi siswa hampir sama, yaitu rendahnya motivasi belajar siswa tehadap mata pelajaran sejarah. Selain itu, kurangnya penggunaan bahan ajar selain buku induk dalam mendukung proses pembelajaran sejarah di kelas. 3. Desain ProdukPenelitian dan pengembangan yang dibuat oleh peneliti termasuk penelitian dan pengembangan yang menghasilkan suatu produk berupa bahan ajar untuk pembelajaran sejarah. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar pembelajaran sejarah yang bernama e-modul atau elektronik modul. Dalam pembuatan bahan ajar ini, peneliti menggunakan aplikasi 3D Pageflip. Langkah-langkah dalam pembuatan produk e-modul ini ialah:1) Pembuatan modul berdasarkan materi tentang peranan Mr. Assaat Datuk Mundo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam rancangan pertama yang dilakukan adalah pembuatan desain sampul, materi dalam bentuk world dan selanjutnya diubah dalam bentuk PDF.2) Pada tahap kedua pembuatan modul yakni materi yang sudah dalam bentuk PDF dimasukkan dalam aplikasi 3D Pageflip. Dalam aplikasi 3D Pageflip dilakukan proses editing dengan menambahkan video, animasi, ataupun musik. 4. Uji Coba ProdukValidasi desain merupakan proses atau kegiatan untuk menilai rancangan produk. Validasi produk dapat dilakukan dengan menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman dalam bidangnya untuk menilai rancangan tersebut. Validasi ini dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari produk yang dihasilkan nantinya (Sugiyono, 2010:414).  Dalam penelitian dan pengembangan produk bahan ajar e-modul ini, peneliti menghadirkan ahli-ahli yang berkompeten dalam bidangnya untuk melakukan validasi terhadap produk yang dikembangkan. Untuk ahli validasi  materi adalah Bapak Najib Jauhari, S.Pd, M.Hum dan untuk ahli validasi media adalah Bapak Wahyu Djoko Sulistyo, S.Pd, M.Pd. Ahli validasi materi dan media merupakan dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. 5. Revisi DesainSetelah desain produk divalidasi melalui diskusi pakar dan tenaga ahli, maka akan diketahui kekurangan dan kelebihan dari desain tersebut. Kelemahan dan kekurangan dasain selanjutnya diperbaiki oleh peneliti. 6.Validasi DesainUji coba produk dlam bidang pendidikan dapat langsung diujicobakan setelah melalui tahap revisi dan validasi. Uji coba tahap awal dilakukan dengan simulasi penggunaan produk tersebut, keudian diujicobakan ke kelompok terbatas. Tujuan dilakukannya pengujian ini yaitu untuk mendapatkan apakah pembelajaran dengan produk tersebut lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran yang tidak menggunakan produk tersebut. Pengujian ini dapat dilakukan dengan eksperimen, yaitu membandingkan pembelajaran yang lama tanpa menggunkan produk dengan pembelajaran yang baru, yaitu dengan menggunakan produk. Indikator efektivitas produk baru tersebut adalah pekecepatan pemahaman peserta didik pada mata pelajaran sejarah meningkat, peserta didik semakin kreatif, aktif dan motivasi belajar siswa meningkat (Sugiyono, 2010:415). 7. Revisi ProdukPengujian keefektivitasan produk pada uji coba kelompok terbatas untuk mengetahui efektif tidaknya penggunaan produk. Sehingga apabila produk telah memenuhi indikator keefektivitasan produk, produk tersebut dapat diberlakukan di kelompok yang lebih luas. Akan tetapi bila keefektivitasan produk belum terpenuhi maka perlu dilakukan revisi ulang. 8.Uji Coba PemakaianSetelah pengujian terhadap produk berhasil dan setelah dilakukannya revisinmaka selanjutnya produk yang berupa e-modul dapat diterapkan dalam lembaga pendidikan. Produk tersebut masih harus dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul guna perbaikan lebih lanjut (Sugiyono, 2010:426).  9. Revisi ProdukRevisi produk ini dilakukan apabila dalam uji coba pemajaian dalam lembaga pendidikan terdapat kelemahan dan kekurangan. Dalam uji pemakaian, alangkahbaiknya pembuat produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja produk dalam pembelajaran. Hal itu dilakukan untuk menyempurnakan produk. HASIL DAN PEMBAHASANProduk yang dikembangkan pada penelitian ini berupa produk e-modul dengan materi peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951), yang disesuaikan dengan Kompetensi Dasar 3.10 yang terdapat pada kurikulum 2013 revisi, yaitu  Menganalisis strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda. Kompetensi dasar tersebut kemudian dikembangkan menjadi 2 indikator yang telah disesuaikan dengan keperluan belajar.Penyajian data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan produk e-modul ini yakni terdiri dari produk yang dihasilkan, data hasil validasi ahli materi, data hasil validasi ahli media, angket siswa pada uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan (kelompok besar). Berikut adalah sajian data mengenai penelitian dan pengembangan e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951). 1.Produk yang DihasilkanE-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) yang dikembangkan berdasarkan Kompetensi Dasar 3.10 yang terdapat pada kurikulum 2013 revisi, yaitu  Menganalisis strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda. Kompetensi dasar tersebut kemudian dikembangkan menjadi 2 indikator yang telah disesuaikan dengan keperluan belajar. Berdasarkan hal tersebut, isi dari e-modul ini lebih khusus membahas mengenai peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 2.Data Hasil Uji Validasi MateriUji validasi materi dilakukan pada tanggal 11 Desember 2018. Uji validasi materi dilakukan dengan bapak Najib Jauhari, S.Pd, M.Hum sebagai validator materi. Beliau merupakan dosen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Materi pokok yang dikembangkan dalam produk ini adalah tentang “Peran Mr. Assaat Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia (1946-1951)”.Berdasarkan perhitungan rekapitulasi uji validasi materi oleh ahli materi, dapat diketahui bahwa jumlah skor yang diperoleh adalah 44 dan jumlah skor maksimal adalah 48, sehingga persentase hasil uji coba validasi ahli materi yaitu 91,66%. Berdasarkan jumlah persentase hasil validasi materi, dapat disimpulkan bahwa materi dalam e-modul ini telah valid untuk digunakan. 3. Data Hasil Uji Validasi MediaUji validasi media dilakukan pada tanggal 25 Januari 2019. Uji validasi media dilakukan dengan bapak Wahyu Djoko Sulistyo, S.Pd, M.Hum sebagai validator media. Beliau merupakan dosen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Validasi media pada penelitian dan pengembangan e-modul tentang Peran Mr. Assaat Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia (1946-1951).Berdasarkan perhitungan rekapitulasi uji validasi media oleh ahli media, dapat diketahui bahwa jumlah skor yang diperoleh adalah 43 dan jumlah skor maksimal adalah 48, sehingga persentase hasil uji coba validasi ahli media yaitu 89, 58%. Berdasarkan jumlah persentase hasil validasi media, dapat disimpulkan bahwa e-modul ini telah valid untuk digunakan dalam proses pembelajaran sejarah. 4. Data Hasil Uji Coba Kelompok KecilUji coba kelompok kecil pada produk berupa e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) dilakukan pada siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Situbondo pada hari rabu 30 Januari 2019 di ruang kelas dengan melibatkan 10 orang siswa yang dipilih secara acak. Berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil, diperoleh skor yaitu 41, sedangkan jumlah skor maksimal adalah 50, sehingga menunjukkan persentase sebesar 82%. Dengan perolehan tersebut, maka dapat dikategorikan bahwa produk e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran. 5. Data Hasil Uji Coba Lapangan (kelompok besar)Uji coba kelompok besar pada produk berupa e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) dilakukan pada siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Situbondo pada hari rabu 6 Februari 2019 di ruang kelas dengan melibatkan 33 orang siswa. Berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil, diperoleh skor yaitu 43, sedangkan jumlah skor maksimal adalah 50, sehingga menunjukkan persentase sebesar 86%. Dengan perolehan tersebut, maka dapat dikategorikan bahwa produk e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran. PENUTUPKesimpulanPenelitian dan Pengembangan ini menghasilkan produk berupa bahan ajar e-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951). Tujuan dibuatnya e-modul ini adalah untuk melengkapi dan memperkaya materi yang ada pada buku induk. selain itu, maraknya penggunaan gadget di sekolah membuat peneliti memberikan solusi dengan menawarkan produk berupa e-modul yang dapat memaksimalkan penggunaan gadget secara efektif.E-modul yang dibuat tersaji dalam berbagai bentuk seperti apk, exe, ataupun html. Pembagian e-modul ini dengan menggunakan bluetooth, shareit, dan google drive. E-modul yang sudah terkirim di masing-masing gadget bisa dipasang dan di instal serta dibuka kemudian digunakan sebagai bahan ajar. Untuk membuat e-modul lebih menarik, peneliti melengkapinya dengan gambar yang terkait dengan materi. Selain itu, peneliti juga memberikan video untuk memudahkan siswa dalam mempelajari materi. E-modul ini sangat mudah digunakan dimanapun dan kapanpun untuk belajar. Manfaat e-modul bagi siswa diantara lain mudah dibawa kemana-mana karena tersimpan dalam gadget masing-masing siswa. Dengan menggunakan e-modul ini siswa dapat belajar dimana saja, tidak harus di dalam kelas.E-modul tentang peran Mr. Assaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1946-1951) telah melalui uji validasi. Uji validasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu uji validasi materi oleh bapak Najib Jauhari S.Pd, M.Hum dan validasi media oleh bapak Wahyu Djoko Sulistyo S.Pd, M.Pd. Hasil uji validasi ahli materi menunjukkan rata-rata persentase 91,66% sedangkan untuk hasil uji validasi ahli media rata-rata persentase yang diperoleh yaitu 89,58%.Tahapan yang dilakukan setelah validasi materi dan media ialah uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan (kelompok besar). Uji coba kelompok kecil dilakukan pada kelas XI IIS 3 SMA Negeri 1 Situbondo dengan responden berjumlah 10 siswa yang dipil

    Pergeseran Kepemilikan Perkebunan Belanda Ke Angkatan Laut: Kecamatan Bantur Kab. Malang 1930-1970

    No full text
    RINGKASANWicaksono, Mujiburrohman. 2018. Pergeseran Kepemilikan Perkebunan Belanda Ke Angkatan Laut: Kecamatan Bantur Kab. Malang 1930-1970. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Ari Sapto, M.Hum Kata Kunci :Perkebunan, Nasionalisasi.Penelitian ini dilatar belakangi oleh status kepemilikan tanah Bantur yang berubah-ubah setiap masanya. Tanah yang asal mulanya adalah hutan belantara yang kemudian dibuka lahan oleh Kyai Radiman pada tahun 1830. Pada tahun 1930 pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan pembukaan lahan terhadap hutan belantara termasuk daerah Bantur. Saat Belanda Menguasai daerah tersebut mengalami kemajuan di sektor perkebunannya walaupun mengalami naik turun terhadap nilai produksi. Setelah tahun 1942 Jepang mengalahkan belanda dan menguasai Indonesia, melakukan hal yang sama akan tetapi mereka mempunyai kebijakan sendiri yang hanya bertahan 3,5 tahun. Akhirnya pada 1945 Indonesia Merdeka dan status perkebunan menjadi rawan konflik, hal tersebut membuat pemerintah melakukan nasionalisasi dan memasukkan beberapa kebijakan yang dianggap menjadi jalan tengah antara pemerintah dan masyarakat petani.Berdasarkan peristiwa yang muncul di daerah Bantur memunculkan permaslahan yang diteliti adalah(1) bagaimana sejarah dan latar belakang perkebunan yang ada di Bantur,(2) bagaimana proses berubahnya status kepemilikan tanah dari masa ke-masa,(3) apa dampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi.Penelitian ini menggunakan metode sejarah Kuntowijoyo. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Obsevasi danlibrary research. Sumber dari penelitian berupa :a) arsip,b) oral history terhadap pelaku sejarah,c) data pustaka,d) suratkabar (koran, majalah, surat kabar), sedangkan sumber sekunder berasalkan dari data pustaka seperti buku, danpenelitian terdahulu yang setema dengan topik penulis.Berdasarkan hasil analisis yang didapatkan berupa kesimpulan yakni :(1) Sejarah perkebunan yang ada di Bantur sudahlah dimulai sejak tahun 1830 oleh Kyai Radiman yang selanjutnya diteruskan oleh berbagai pihak sehingga mampu menjadi kawasan pemukiman dengan lahan perkebunannya yang luas,(2) dari masa ke-masa perkebunan paling maju saat jaman pemerintah Hindia Belanda, semakin lama perkebunan semakin mengalami penurunan dan baru jaya kembali setelah orde baru,(3) seharusnya masyarakat Bantur bisa memanfaatkan kebijakan setelah pemerintah melakukan nasionalisasi, akan tetapi banyak faktor yang kurang mendukung hal tersebut yang menjadikan perkebunan butuh waktu lama untuk Berjaya kembali. Pemerintah melakukan nasionalisasi dan memutuskan agar tanah seluas 4800 Ha bisa dikelola masyarakat tanpa sertifikat. Saran dari penulis adalah harapan terkait bertambahnya penelitian terhadap sejarah lokal, karena tak banyak orang yang mengetahui sejarah daerah tidak seperti sejarah nasional. Semoga penulisan terhadap sejarah local semakin bertambah, agar sejarah nasional semakin kaya akan pengetahuan

    PENGEMBANGAN ANHISTOMAPS MEDIUM (ANDROID HISTORY MAPS) SEJARAH LOKAL HINDU-BUDDHA SEBAGAI PENUNJANG PEMBELAJARAN KELAS X SMK NEGERI 2 BOYOLANGU TULUNGAGUNG

    No full text
    Anggraeni, Mahadewi Dinar.2019. Pengembangan Anhistomaps Medium (Android History Maps) Sejarah Lokal Hindu-Buddha Sebagai Penunjang Pembelajaran Kelas X  Smk Negeri 2 Boyolangu Tulungagung.Skripsi,Jurusan Sejarah,Fakultas Ilmu Sosial,Universitas Negeri Malang.Pembimbing: Dr. Ari Sapto, M.Hum. Kata Kunci: Media Pembelajaran, Anhistomaps Medium, Sejarah  Lokal, Hindu-Buddha, Kabupaten Tulungagung.Inovasi dalam pembelajaran perlu dilakukan dengan menerapkan beberapa metode dan model dalam  pembelajaran. Seperti  penerapan metode pembelajaran outdoor  pada mata pelajaran sejarah khususnya kelas X SMK Negeri 2 Boyolangu Tulungagung. Pengembangan media peta berbasis android dibuat sebagai penunjang pembelajaran bagi siswa agar dapat belajar secara mandiri, dengan materi sejarah lokal Hindu-Buddha diwilayah Kabupaten Tulungagung. Pengembangan media dapat digunakan didalam kelas maupun pada saat pembelajaran diluar kelas (outdoor). Dimana minimnya materi pembelajaran mengenai situs-situs peninggalan Hindu-Buddha disekitar sekolah siswa, membuat peneliti termotivasi untuk menghasilkan produk Anhistomaps Medium.Tujuan penelitian:(1) menghasilkan produk “Pengembangan Anhistomaps Medium (Android History Maps) sejarah lokal Hindu-Buddha sebagai penunjang pembelajaran kelas X SMK Negeri 2 Boyolangu Tulungagung”,(2) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan produk “Pengembangan Anhistomaps Medium (Android History Maps) sejarah lokal Hindu-Buddha sebagai penunjang pembelajaran kelas X SMK Negeri 2 Boyolangu Tulungagung”.Pengembangan media pembelajaran mengikuti tahapan prosedur penelitian yang dikutip dari model pengembangan milik Sugiyono yang meliputi:(1) potensi dan masalah,(2) pengumpulan data,(3) Desain produk,(4) Validasi desain,(5) Uji coba pemakaian,(6) Revisi Produk,(7) Uji coba produk,(8) Revisi desain,(9) Revisi produk,(10) Produksi massal. Sebelum melakukan uji coba media, media dibagikan melalui Whatsapp berupa link, agar siswa dapat mendownload media peta tersebut untuk digunakan pada waktu pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Produk diujicobakan pada kelompok kecil yang berjumlah 12 orang kelas X APH 1dan kelompok besar yang berjumlah 29 orang kelas X APH 2. Uji coba produk meliputi uji validasi materi, uji validasi media, melakukan pre test dan post test untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa, serta penilaian produk berupa instrumen pada kelompok kecil dan kelompok besar. Presentase data yang diperoleh dari validasi ahli materi yaitu 84%, sedangkan presentase yang didapat dari validasi ahli media yaitu 90%, disamping itu pre test dan post test untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa, hasil post test kelompok kecil  memperoleh presentase 83% pada kelompok besar memperoleh presentase87% , dan hasil uji coba penilaian produk pada kelompok kecil memperoleh presentase 87% serta hasil uji penilaian produk pada kelompok besar memperoleh presentase 86%. Berdasarkan perolehan presentase dari data uji coba produk, produk tergolong dalam kriteria sangat baik. Sehingga produk layak digunakan sebagai media pembelajaran sejarah

    PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

    No full text
    PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA Zumrotul Kusnia , Ari Sapto Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang 65145 E-mail: [email protected]   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan metode card sort dalam pembelajaran sejarah. Adapun objek penelitian ini yaitu siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang. Keterlaksanaan pembelajaran dikelas X GB 4 dengan menggunakan metode pembelajaran card sort sudah mencapai keberhasilan yang baik dengan berjalan dengan lancar. Metode pembelajaran card sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang pada aspek kognitif.   Kata Kunci: Metode Card Sort, Hasil Belajar Siswa, Siswa Kelas X GB SMK N 6 Malang   Abstract This study aims to improve student learning outcomes through the use of card sort methods in learning history. The object of this research is class X GB 4 Vocational High School 6 Malang. The implementation of learning in class X GB 4 by using the card sort learning method has achieved good success by running smoothly. Card sort learning methods can improve student learning outcomes of class X GB 4 Malang State Vocational High School 6 on cognitive aspects.   Keywords: Card Sort Method, Student Learning Outcomes, Class X GB Students of SMK N 6 Malang   PENDAHULUAN Sejarah merupakan salah satu wahana untuk mencerdaskan bangsa dalam arti luas. Dengan sifatnya yang unik, sejarah berpijak pada fakta masa lampau yang dianalisis untuk memahami masa kini dan diproyeksikan untuk merencanakan masa depan. Pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran tentang masa lampau, sehingga perlu  untuk diperhatikan bagaimana seorang guru memandang masa lampau tersebut dan bagaimana materi tentang masa lampau tersebut (Widja, 1989:20). Secara umum, penilaian merupakan proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar siswa. Dengan demikian penilaian siswa serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, menafsirkan data tentang proses hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Sudjana (2014:3) mendefinisikan bahwa hasil belajar siswa adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif merupakan kemampuan yang terkait dengan penalaran, meliputi kemampuan pengetahuan (C1), pemahaman (C2), analisis (C3), analisis dan sistensis (C4), evaluasi (C5), dan mencipta (C6). Aman (2011:75) juga menyebutkan hasil belajar adalah terjadinya perubahan dan perbedaan dalam cara berpikir, merasakan, dan kemampuan untuk bertindak serta mendapat pengalaman dalam proses belajar mengajar. Sistem penilaian mempengaruhi pola dan cara belajar siswa. Oleh karena itu, sistem penilaian harus direncanakan dengan matang oleh guru. Penilaian seperti halnya tes akhir sekolah sengat penting keberadaannya karena pada akhirnya dapat digunakan sebagia alat ukur utama keberhasilan sebuah kebijakan di sektor pendidikan. Menurut Gintings (2008:42) metode pembelajaran diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta sebagai teknik dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajar. Penggunaan metode dalam proses pembelajaran adalah untuk mengoptimalisasi daya serap para peserta didik dapat memahami materi yang diberikan dan untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode card sort. Adapun komponen-komponen belajar metode card sort meliputi: (1) pengalaman, (2) interaksi, (3) komunikasi, (4) Refleksi. Adapun langkah-langkah Metode PembelajaranCard Sort menurut Silberman (2002:157-158): Penerapan metode card sort tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran. Dengan cara menggunakan kartu-kartu yang dibuat oleh seorang guru. Di dalamnya terdapat poin-poin yang berkaitan tentang suatu materi. Langkah-langkah yang digunakan ketika menerapkan metode card sort dalam pembelajaran adalah: (1) Setiap siswa diberi potongan kertas yang berisi informasi atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori, (2) Mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama. Anda dapat mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau membiarkan siswa menemukan sendiri. (3) Siswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas. (4) Seiring dengan presentasi dari tiap-tiap kategori tersebut, berikan poin-poin terkait materi. Penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti yaitu Skripsi yang disusun oleh dari Dwi Widianto (2015) berjudulPengembangan Permainan Ular Tangga dalam Bentuk Koleksi Kartu Pembelajaran untuk Memahami Konsep-konsep Materi Pelajaran Sejarah Kelas X di SMA Negeri 1 Sidoarjo berisikan pengembangan permainan ular tangga berbentu koleksi kartu pembelajaran mengenai konsep-konsep sejarah.Fakhtur Roji (2018) berjudul Pengembangan Media Kartu Uno Sejarah dalam Pembelajaran Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia berisikan tentang penelitian R & D melalui pengembangan media kartu uno dalam menjelaskan materi pembelajaran proklamasi kemerdekaan Indonesia. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang melalui penggunaan metode card sort dalam pembelajaran sejarah.   METODE Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang digunakan untuk mengatasi permasalahan terkait hasil belajar sejarah di kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang. Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penaralaran praktik sosial mereka. PTK sebagai penelitian tindakan berbeda dengan penelitian kelas. Fakor pendorong pada penelitian kelas biasanya keinginan untuk mengetahui atau keinginan untuk mengembangkan sesuatu. Sehingga dalam penelitian kelas guru berperan hanya sebagai objek penelitian, yang kadang-kadang hasilnya pun tidak dapat di manfaatkan oleh guru itu sendiri. Berbeda dengan penelitian tindakan kelas (PTK). Faktor pendorong pada PTK adalah keinginan untuk memperbaiki kinerja guru (Sanjaya,2009:27). Arikunto (2006:74) menyatakan bahwa proses penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalham bentuk yang berulang yang didalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan yaitu 1)  perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah terlebih dahulu melakukan observasi awal untuk menyusun rencana pembelajaran atau untuk memasuki tahap perencanaan. Penelitian tindakan kelas ini sendiri dilakukan dalam 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Setiap siklus harus melalui empat tahapan tersebut. Penerapan metode pembelajaran card sort ini dapat dikatakan berhasil apabila adanya perubahan yang mendasar terhadap konstribusi siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Subjek uji coba dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X Gambar Bangunan 4 SMKN 6 Malang dan guru mata pelajaran Sejarah Indonesia yang bernama Ibu Trimin Hastuti. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terbagi menjadi dua yaitu instrumen tahap pra pelaksanaan dan tahap pelaksanaan. Adapun jenis instrumen pada tahap prapelaksanaan yang terdiri dari wawancara dan observasi tahap awal serta pada saat tahap pelaksanaan yaitu dengan menyebarkan tes awal berupa: (1) Lembar observasi kegiatan guru, (2) Lembar observasi kegiatan siswa, (3) Lembar observasi lapangan, (4) Pedoman wawancara, (5) Tes akhir siklus 1 dan siklus 2.   HASIL Deskripsi Metode Pembelajaran Card Sort Card sort merupakan model pembelajaran yang memberikan penekanan pada siswa dengan suasana yang aktif dan menyenangkan, sehingga terjadi interaksi antara siswa satu dengan siswa yang lainnya secara aktif yang juga berpengaruh pada peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu, metode ini juga mengajarkan kepada siswa untuk bekerjasama (berelaborasi) antarindividu untuk memecahkan permasalahan yang disajikan oleh guru menggunakan card sort. Pada pelaksaan test dan ulangan, siswa dituntut menghafal materi yang telah dipelajari agar mendapat nilai yang maksimal, sedangkan saat pelaksanaan pembelajaran sebagian siswa cenderung tidak banyak memahami materi yang disampaikan. Upaya untuk mengatasi rendahnya hasil belajar siswa kelas X GB 4 dapat diatasi dengan adanya pemilihan strategi yang inovatif, salallh satunya yaitu dengan menggunakan metode card sort. Metode pembelajaran yang dibuat agar seluruh siswa aktif dan tidak ada dominasi, sehingga dalam hal ini metode pembelajaran card sort (memililah dan memilih kartu). Metode ini bertujuan agar siswa dapat belajar santai tanpa harus mencatat atau membaca banyak materi. Penggunaan metode card sort tidak terlalu sulit, pelalatan dibuat sendiri oleh peneliti, sedangkan soal-soal yang digunakan telah disesuaikan dengan materi yang akan dipelajari. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan metode card sort di kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Metode yng digunakan dalam pembelajaran adalah power point dan video interaktif, sedangkan sumber belajar berasal dari berbagai hal, seperti buku paket, LKS dan internet. Peneliti dalam hal ini bertindak sebagai pelaksana tindakan. Pada awl pembelajaran siklus 1 nampak kurang serius dalam mengikuti pelajaran, hanya siswa yang duduk dibagian depan saja nampak fokus belajar, sedangkan yang bagian belakang masih ada yang berbicara diluar konteks pembelajaran. Peneliti langsung mengingatkan agar dalam pembelajaran sejarah sekarang dan kedepannya, siswa harus lebih fokus dan konsentrasi agar hasil belajar yang diperoleh menjadi maksimal. Pada pertemuan pertama siklus 1 siswa nampak sangat tertarik dengan penggunaan metode card sort, namun pada pelaksanaannya terkadang siswa masih menyimpang dari strategi pembelajaran yang telah dijelaskan. Pada pertemuan pertama dan kedua, instruksi diberikan karena anggota seringkali langsung semua kelompok mencari kartu rinciannya. Kelas menjadi gaduh karena setiap kelompok saling berebut agar ditunjuk untuk mencari kartu rincian yang ada di kelompok lain. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode card sort membuat siswa berminat untuk belajar, pada pertemuan pertama siklus 1 setiap anggota kelompok nampak antusias mencari jawaban yang diajukan. Kondisi tersebut berbanding terbalik pada pertemuan kedua, dalam pelaksanaan pembelajaran hanya terdapat beberapa siswa dalam kelompok yang aktif mencari kartu rincian (jawaban). Siswa hanya senang ketika kegiatan menempel kartu rincian saja, tetapi hanya beberapa kelompok tertentu yang aktif mencari sungguh-sungguh kartu rincian. Dan dilakukannya post-test pada materi siklus 1 untuk melihat ketercapai siswa dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru. Pada pertemuan ketiga siswa terlihat senang dan antusias, terlebih lagi ketika peneliti menanyangkan video interaktif tentang kejayaan masa kerajaan Sriwijaya. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode card sort dapat berjalan dengan lancar karena siswa mulai terbiasa. Setiap kelompok antusias mencari jawaban bersama anggotanya kekelompok lain, namun hanya kelompok 2 yang nampak terdiam dan tidak mengerjakan, sehingga peneliti memberi teguran. Siswa dikatakan aktif dengan didasarkan beberapa bukti, pertama setiap kelompok tidak langsung semua mencari kartu rincian melainkan harus perkelompok yang mencari sekitar 5 siswa yang mencari disetiap kelompok dan sisanya mencocokan benar apa tidak jawaban yang dibawah oleh anggotanya. Pada saat pembelajaran siklus kedua siswa sudah tertarik untuk belajar sejak awal, terlebih dengan adanya media berupa video intraktif tentang masa awal berdirinya kerajaan Sriwijaya, kejayaanya dan masa keruntuhan kerajaan Sriwijaya. Perbaikan yang dilaksanakan pada siklus 2 yaitu pemberian materi secara singkat dan jelas berdasarkan vidoe yang ditanyangkan. Penguatan kemudian diberikan setelah siswa melaksanakan pembelajaran dengan metode pembelajaran card sort  dengan memberikan siswa kartu inti dan kartu rincian. Berdasarkan kartu yang disusun siswa jika yang salah satu yang salah meletakkan maka guru bisa membahasnya lebih mendalam. Keterlaksanaan pembelajaran menggunakan metode card sort telah dilksankan dengan sangat baik oleh peneliti sebagai observer. Pernyataan tersebut terbukti dari hasil observasi yang dilakukan  oleh peneliti banyak siswa yang awalnya tidak mengerti dan binggung mengunakan metode card sort  setelah dilakukan beberapa pertemuan siswa  menjadi lebih tahu dan antusias dalam pembelajaran. Pada siklus 2 siswa sangat antusias dan memahami apa yang diminta oleh guru banyak siswa yang mengajukan pertanyaan pada siswa yang maju didepan kelas. Berdasarkan hasil akhir pelaksanaan siklus 2 dapat dikatakan bahwa keterlaksanaan tindakan yang dilakukan di X GB 4 masuk katagori baik.   Hasil Uji Coba Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan metode pembelajaran card sort (memilah dan memilih kartu) ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar yang diukur pada penelitian ini yaitu aspek kognitif dengan ujian. Hasil belajar kognitif siswa diukut melalui pelaksanaan pre-test atau ujian awal yang dilakukan sebelum pelaksanaan metode pembelajaran card sort sebagai awal kemapuan siswa. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa, peneliti bersama guru memberikan ujian yang dilakukan diakhir pembelajaran siklus I dan siklus II (pos-test). Penelitian ini difokuskan pada hasil belajar kognitif, akan tetapi peneliti dan guru juga melakukan penilian sikap dan keterampilan dalam jalannya diskusi lampiran(). Menurut Bloom (dalam Sudjana, 2014:22) hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif berkenaan dengan intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu penegetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yaitu gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Pre-test dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal dari siswa. Pre-test dilakukan pada hari senin tanggal 29 Oktober 2018 di kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang dan diikuti oleh 35 siswa. Hasil yang didapat kurang memuaskan dan masih banyak siswa yang nilainya dibawah Kriteria Ketuntasan Kelulusan Minimum (KKM) atau dibawah 71. Siswa yang tuntas atau diatas KKM dalam pre-test ini hanya siswa atau presntase belajar hanya 7 siswa sedangkan siswa yang belum tuntas atau berada dibawah KKM sejumlah 23 siswa jika dipresentasekan hanya 20%. Kemudian pelaksanaan post-test siklus I dilakukan pada hari senin tanggal 5 November 2018. Kegiatan post-test ini diikuti oleh semua siswa. Hasil belajar yang diperoleh dari ujian post-test siklus I ini mengalami peningkatan dibandingakan dengan nilai pada pre-test sebelumnya. Siswa yang nilainya diatas KKM atau tuntas sebanyak 26 siswa, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 9 siswa atau jika dipresentasekan keseluruhannya sebesar 74,9 %. Pada post-test siklus Iini nilai atau hasil belajar siswa meningkat, pada nilai ujian awak (pre-test) siswa yang tuntas atau diatas KKM hanya sebnayak 7 siswa dan yang berada di bawah KKM atau belum tuntas sebanyak 23 siswa atau jika dipresentasekan sebanyak 20% dibandingkan dengan nilai ujian awal (pre-test). Penilaian sikap dalam diskusi meliputi keselamatan, keamanan, dan kebersihan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru melalui kartu. Setiap kelompok sudah menerapkan tiga aspek ini dengan baik dan tertata. Selain penilaian sikap, keterampilan dari masing-masing kelompok juga dinilai mulai dari penyusunan kartunya. Teknik pengolahan, bentuk fisik, inovasi kesesuaian dengan materi, kelengkapan kartu dengan materi hingga presentasi dalam penguasaan materi. Pelaksanaan post-test siklus II dilakukan pada hari senin, tanggal 19 November 2018. Kegiatan post-test ini diikuti oleh seluruh siswa. Hasil belajar yang diperoleh dari ujian post-test siklus II ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai pada pre-testdan post-test sebelumnya. Siswa yang nilainya diatas KKM atau tuntas sebanyak 31 siswa, sedangkan siswa yang memperoleh dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 4 siswa jika dipresentasekan sebanyak 88,5%. Pada post-test siklus II ini nilai atau hasil belajar siswa meningkat, paada nilai awal (pre-test) siswa yang tuntas atau diatas KKM sebanyak 7 siswa dan siswa yang berasa dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 23 siswa atau jika dipresentasekan rata-rata sebanyak 20%. Sedangkan nilai post-test siklus I siswa yang tuntas atau diatas KKM sebanyak 26 siswa, sedangkan yang berada dibawah KKM sebanyak 9 siswa jika dipresentasekan rata-rata 74,2%. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada post-test siklus II ini meningkat sebanyak 5  siswa dibandingkan dengan nilai pre-test meningkat sebanyak 24 siswa dibandingkan dengan post-test siklus I. Hal ini membuktikan perbaikan-perbaikan dalam siklus II berjalan dengan baik dan lancar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rata-rata hasil belajar siswa pada pre-test yaitu 57,7, pada post-test siklus I meningakat menjadi 72,9, dan pada post-test siklus II mengalami peningkatan menjadi 88,5. Hasil belajar tersebut membuktikan bahwa hasil belajar sisswa pada mata pelajaran sejarah dapat meningkat setelah diterapakan metode pembelajaran card sort. Metode pembelajaran card sort membuat siswa lebih aktif dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah. Sehingga siswa mampu memahami materi sejarah yang dibahas dalam kelompoknya secara detail dan menyeluruh. Sehingga dengan teori yang diungkapkan oleh Sudjana (2014:22), bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah, maka penerapan metode card sort (memililah dan memilih kartu) terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang.   KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan hasil data yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Keterlaksanaan pembelajaran dikelas X GB 4 dengan menggunakan metode pembelajaran card sort sudah mencapai keberhasilan yang baik dengan berjalan dengan lancar. Siswa terlihat antusias dan paham dengan apa yang sedang dikerjakan untuk memecahkan masalah dalam bentuk kartu yang telah diberikan oleh guru. Siswa dapat mengkondisikan dan aktif mulai dari pemecahan masalah hingga presentasi. Langkah-langkah dari metode pembelajaran card sort juga terlaksana dengan baik dan sistematis antara siswa, yaitu setiap siswa diberikan potongan kertas yang berisi informasi atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori, mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama. Guru mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau membiarkan siswa menemukan sendiri, siswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas, seiring dengan presentasi dari setiap-tiap kategori tersebut, berikan poin-poin terkait materi. (2) Metode pembelajaran card sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang. Hasil belajar siswa diambil hanya pada aspek kognitif. Hasil belajar siswa belajar siswa diambil pada aspek kognitif. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan selama diadakan pre-test (ujian awal) untuk mengukur kemampuan awal siswa dan dua kali post-test pada setiap siklus. Hasil belajar siswa pada pelaksanaan pre-test yang tuntas atau diatas KKM dalam hanya 7 siswa, sedangkan siswa yang belum atau tidak tuntas berada sibawah KKM sejumlah 23 siswa jika dipresentasekan rata-ratanya sebanyak 20% dengan rata-rata 57,7%. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada pelaksanaan post-test siklus I yang nilainya diatas KKM sebanyak 26 siswa, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 9 siswa jika dipresentasekan sebanyak 74,2%. Nilai hasil belajar siswa pada siklus I meningkat dengan rata-rata 72,91 dan meninkat menjadi 80,25 pada siklus II. Jumlah siswa yang nilainya diatas KKM atau tuntas ini meningkat pada post-test siklus II menjadi 31 siswa, sedangkan yang memperoleh nilai dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 4 siswa jika dipresentasekan sebanyak 88,5%. Target ketuntasan kelas pada penelitian ini telah tercapai karena siswa yang memperoleh skor minimal 71 atau siswa yang mencapai kriteria kentuntasan minimal (KKM) pada kelas X GB 4 mencapai lebih dari 70%, yaitu sebesar 88,5%.   Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilkukan, maka dapat diberikan saran sebagai berikut: 1. Kepada guru, dapat menerapkan metode pembelajaran card sort dalam kegiatan pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah. Guru juga dapat menerapkan metode-metode pembelajaran yang baru, yang dapat membantu siswa lebih aktif dan memahami materi pembelajara dengan maksimal. 2. Kepada siswa, hendaknya lebih aktif berpartisipasi dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Siswa juga hendaknya antusias dalam setiap proses belajar dan mengajar ketika guru menerapkan metode-metode pembelajar

    0

    full texts

    1,821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇