SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1821 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MEDIA SCRAPBOOK PADA MATERI KEBUDAYAAN ZAMAN PRASEJARAH DI INDONESIA UNTUK SISWA KELAS X IPS 2 SMA NEGERI 1 TARIK KABUPATEN SIDOARJO
RINGKASAN Media pembelajaran sebagai alat bantu guru menyampaikan materi pada proses pembelajaran. Media dapat dikembangkan sesuai kebutuhan siswa, media juga dapat membuat siswa tertarik terhadap pembelajaran yang berlangsung. Pembelajaran sejarah pada siswa kelas X IPS 2 SMA Negeri Tarik hampir tidak pernah menggunakan media. Hal itu membuat siswa tidak tertarik dengan matapelajaran sejarah dan dianggap sangat membosankan. Media scrapbook memberikan alternatif bagi siswa agar lebih tertarik terhadap matapelajaran sejarah. Hasilnya saat dilakukan uji coba siswa sangat antusias dan lebih semangat dengan adanya media scrapbook ini. Hasil persentase yang diperoleh sebesar 93% yang berarti media scrapbook efektif digunakan untuk pembelajaran sejarah
REFORMASI BIDANG PERADILAN SIPIL DI PULAU JAWA PADA MASA PEMERINTAHAN GUBERNUR JENDERAL HERMAN WILLEM DAENDELS (1808-1811)
RINGKASAN Tulisan ini menyoroti tentang reformasi bidang peradilan sipil di Pulau Jawa yang dilaksanakan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Sebagai konsekuensi dari keterlibatan Belanda dalam konstelasi politik di Eropa, Pulau Jawa terseret ke dalam konflik global. Daendels ditugaskan untuk mereformasi kondisi di koloni tersebut demi kepentingan Prancis. Daendels menaruh perhatian besar pada masalah dalam bidang peradilan sipil. Daendels meningkatkan jumlah pengadilan yang ada dan menetapkan instruksi bagi kinerja lembaga tersebut. Daendels juga mengadopsi prinsip dualisme untuk menegaskan kedudukan hukum penduduk Bumiputera.Kata Kunci : sejarah politik, kebijakan peradilan, Herman Willem Daendels, kolonialisme Pranci
PENGEMBANGAN BUKU SUPLEMEN BANGUNAN PENINGGALAN KOLONIAL BELANDA DI BANYUWANGI PADA MATERI PENJAJAHAN PEMERINTAH BELANDA DI KELAS XI IPS MAN 2 BANYUWANGI
PENGEMBANGAN BUKU SUPLEMEN BANGUNAN PENINGGALAN KOLONIAL BELANDA DI BANYUWANGI PADA MATERI PENJAJAHAN PEMERINTAH BELANDA DI KELAS XI IPS MAN 2 BANYUWANGI Dinar Utami Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang [email protected] Abstrak: Penelitian yang dilakukan berdasarkan pengembangan materi sejarah lokal yang merujuk pada topik sejarah lokal kolonial. Pengambilan topik didasarkan pada banyaknya bangunan peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi yang perlu disampaikan kepada siswa. Dari potensi tersebut maka peneliti menyusun materi peninggalan kolonial di Banyuwangi yang dikemas dalam bentuk bahan ajar cetak yaitu buku suplemen. Penelitian dan pengembangan untuk produk mengadopsi langkah-langkah adaptasi dari Sugiyono yang disesuaikan dengan penelitian. Berdasarkan hasil penilaian dari validator memperoleh hasil dari validasi materi 77,5% dan validasi media 97,5%, dengan hasil tersebut buku suplemen dikategorikan sangat valid. Dalam uji coba lapangan kelompok kecil memperoleh hasil 88,25% dan kelompok besar 89,8% yang termasuk kategori efektif. Buku suplemen yang dikembangka dengan judul “Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi” setelah diuji cobakan valid adan efektif digunakan untuk bahan ajar kepada siswa. Kata Kunci: pengembangan, bahan ajar, buku suplemen, sejarah lokal kolonial, dan peninggalan kolonial Pembelajaran sejarah penting dilakukan sebagai identitas nasional yang perlu diketahui dan dipahami oleh siswa. Materi sejarah yang diajarkan kepada siswa termasuk sejarah nasional yang meliputi (a) pertumbuhan sifat kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia, (b) perjuangan bangsa kita untuk menjadi bangsa yang bersatu dan merdeka, (c) orang-orang besar serta aliran-aliran paham yang mempengaruhi perjuangan itu, gerakan massa yang menjadi dasar perjuangan, (d) perjangan untuk mewujudkan cita-cita kehidupan sebagai bangsa yang bebas, adil, makmur, dan bahagia (Ali, 2012:360). Dari itu semua dapat ditarik kesimpulan perjuangan meliputi hal kebudayaan, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Pemahaman sejarah selain dari perspektif nasional dapat dilakukan dengan pemahaman sejarah lokal. Dalam penyusunan sejarah lokal terdapat beberapa acuan yakni tujuan penulisan sejarah lokal, latar belakang pendidikan penyusunnya, sifat-sifat pendekatan metodologis yang digunakan, dan aspek kehidupan yang dijadikan penyususnan sejarah Lokal (Widja, 1989:39). Dengan penyusunan materi sejarah lokal di Banyuwangi dapat memperkaya kekayaan wawasan sejarah. Berdasarkan potensi peninggalan kolonial yang banyak di Banyuwangi maka dapat disusun materi untuk pengembangan materi bangunan peninggalan kolonial. Penyusunan materi peninggalan kolonial tersebut termasuk dalam ranah sejarah lokal kolonial. Sejarah lokal kolonial yang dimaksud adalah laporan kegiatan dari penjabat-penjabat kolonial di daerah-daerah (Widja, 1989:47-48). Laporan tersebut termasuk arsip kolonial yang valid digunakan karena memuat tanggal sesuai waktu disertai catatan sesuai kondisi dimana laporan tersebut dibuat. Banyaknya peninggalan kolonial di Banyuwangi belum banyak disampaikan kepada siswa. Selain itu guru juga tidak memiliki sumber materi lokal yang akan disampaikan kepada siswa. Maka atas permasalahan tersebut peneliti menyusun bahan ajar yang memuat peninggalan kolonial yang terdapat di Banyuwangi. Materi ini terimplementasi pada KD 3.7 mata pelajaran sejarah peminatan kelas XI. Bahan ajar yang disusun memuat materi sejarah lokal yang sesuai dengan pendidikan Indonesia berpihak pada ideologi bangsa dan negara, karena dengan sejarah lokal dapat mendukung kesadaran sejarah dilingkungan sekitar kita (Sa’dun, 2013:25). Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku suplemen dengan judul “Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi” sebagai pelengkap dan memperdalam bahasan materi Penjajahan Pemerintah Belanda. Produk diujicobakan di sekolah MAN 2 Banyuwangi yang terletak di Jl. KH. Wahid Hasyim No. 06 Maron Genteng Banyuwangi. Sedangkan kelas yang dipilih untuk uji coba adalah kelas XI IPS 1 dan XI IPS 3 sesuai kordinasi dengan guru mata pelajaran sejarah pengampu. Alasan pemilihan sekolah dikarenakan letak sekolah yang jauh dari tempat peninggalan kolonial yang banyak ditemui di pusat kota Banyuwangi. Dengan keterbatasan jarak tersebut setelah penggunaan buku suplemen diharapkan siswa mendapatkan wawasan baru tentang sejarah lokal kolonial yang terdapat di Banyuwangi Metode Penelitian Penelitian dan pengembangan yang dilakukan menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Sugiyono (2016:409). Langkah pengembangan yang dilakukan terdapat beberapa penyesuaian sesuai dengan kebutuhan dan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti. Langkah-langkah tersebut meliputi 9 langkah yaitu: (1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain, (5) Revisi Desain, (6) Ujicoba Produk, (7) Revisi Produk, (8) Ujicoba Pemakaian, dan (9) Produksi Akhir (Sugiyono, 2016:409). Berdasarkan langkah awal pengembangan maka potensi dan masalah penelitian ini adalah banyaknya bangunan peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi yang belum disusun dalam materi bahan ajar dan disampaikan kepada siswa. Materi yang disusun termasuk materi sejarah lokal kolonial mengenai peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi dimana termasuk dalam Kompetensi Dasar 3.7. Langkah selanjutnya yakni pengumpulan data, data yang dimaksudkan bahan untuk menyusun materi buku suplemen. Data diperoleh melalui studi pustaka seperti buku, koran, skripsi, foto dan sumber internet. Untuk mendukung data dari studi pustaka maka dilakukan studi lapangan dengan peneliti mendatangi tempat peninggalan Belanda seperti Asrama Inggrisan, Kantor Pos, dan Gedung Juang 45. Dengan ketersediaan data yang memadai maka desain produk dan penyusunan materi dapat dilakukan. Langkah selanjutnya dengan melakukan validasi produk menggunakan instrumen penilaian dengan ahli materi Bapak Dr. Reza Hudiyanto, M.Hum dan validasi media Bapak Wahyu Djoko S., S.Pd, M.Pd. Setelah validasi produk maka diperoleh data kualitatidf dan kuantitatif yang mana juga diperoleh dalam penilaian angket yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok besar dan kecil. Teknik analisis data kualitatif dari validator dan siswa berupa saran dan catatan untuk perbaikan produk. Perbaikan dilakukan agar produk efektif digunakan untuk siswa. Kemudian pengolahan data kuantitatif terdapat dua penghitungan yaitu data per-item dan data keseluruhan yang akan dijabarkan sebagai berikut: Pengolahan data per-item P = X/Xi x 100% Keterangan: P : Persentase X : Jumlah skor dalam 1 item Xi : Jumlah skor ideal dalam 1 item 100% : Konstanta Pengolahan data keseluruhan P = (∑X)/(∑Xi) x 100% Keterangan: P : Persentase ∑X : Jumlah skor jawaban responden ∑Xi : Jumlah skor jawaban ideal responden 100% : Konstanta Berdasarkan penghitungan yang dilakukan dengan sesuai pada rumus maka nilai yang diperoleh untuk mengukur kelayakan produk, berikut kriteria kelayakan produk: Tabel 1 Kriteria Kelayakan Produk Persentase Kualifikasi Kriteria 76%-100% Sangat Valid Tidak Revisi 51%-75,99% Cukup Valid Dapat Digunakan Dengan Revisi Kecil 26%-50,99% Tidak Valid Kurang Layak Digunakan 0%-25,99% Sangat Tidak Valid Revisi Sumber: Arikunto (2012:312) Hasil Produk yang dikembangkan merupakan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk buku suplemen cetak dengan materi bangunan peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi. Buku suplemen dicetak berwarna dengan dilengkapi peta, gambar serta foto untuk menambah pemahaman dan interpretasi siswa dalam mempelajari materi. Materi peninggalan kolonial ini termasuk dalam dalam ranah kompetensi dasar 3.7 untuk siswa kelas XI mata pelajaran sejarah peminatan. Kemudian ditambahkan pula glosarium yang memuat kata-kata sulit atau asing agar mudah dipahami siswa. Spesifikasi produk buku suplemen yakni pada materi sebelumnya disusun menggunakan software Microsoft Word 2013 dan menggunakan font Times New Roman dengan ukuran font 11 dan spasi 1,5. Untuk desain baik cover dan isi buku menggunakan Ms Publisher 2013. Ukuran kertas yang digunakan A5 ukuran 14,8 cm x 21 cm dengan berat 70 gram, untuk cover menggunakan kertas Art Paper dan terdiri dari 36 halaman. Buku suplemen dilengkapi dengan identitas penyusun buku, kemudian kata pengantar, serta daftar isi dan daftar gambar untuk memudahkan pembaca menemukan informasi yang diinginkan. Isis materi buku suplemen terbagi dalm dua bab, bab pertama membahas tentang bagaimana masuknya Belanda ke Banyuwangi. Bab kedua diawali peta tematik persebaran peninggalan kolonial dan dilanjutkan penjabaran materi bangunan peninggalan kolonial Belanda. pada bagian penutup berisikan rangkuman materi, glosarium, daftar pustaka, dan profil penyusun. Berikut tampilan produk: Gambar 1 Cover Produk Gambar 2 Back Cover Produk Sumber: Screnshot Buku Suplemen Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi Gambar 3 Bentuk Desain Materi Pada Buku Suplemen Sumber: Screnshot Buku Suplemen Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi Gambar 4 Glosarium Gambar 5 daftar Pustaka Sumber: Screnshot Buku Suplemen Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi PEMBAHASAN Produk yang dihasilkan merupakan bahan ajar buku suplemen dengan bentuk cetak. Bahan ajar yang disusun disesuaikan dengan prinsip-prinsip intruksional. Bahan ajar juga harus dilengkapi dengan berbagai macam ilustrasi sebagai pendukung penguatan materi (Panem&Purwanto, 2001:2). Ilustrasi dapat berupa foto, gambar, tabel, peta dan lain sebagainya yang sesuai dengan topik dan mendukung pembelajaran. Buku Suplemen disebut juga dengan buku pelengkap atau pengayaan. Buku suplemen diartikan sebagai buku yang memberikan informasi tentang pokok bahasan tertentu yang ada dalam kurikulum secara lebih luas atau lebih dalam (Sitepu, 2015: 8&16). Selain itu alam permendikbud nomor 2 tahun 2008 bahwa buku pengayaan atau buku suplemen adalah buku yang memuat materi yang dapat memperkaya buku teks pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Produk buku suplemen yang sudah dikembangkan ini selanjutnya divalidasi pada ahli materi dan ahli media kemudian dilakukan uji coba lapangan pada kelompok kecil dan besar. Validator materi produk adalah Bapak Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum proses validasi dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2018 di ruang LAB Historiografi. Berdasarkan penilaian memperoleh hasil 77,5% yang termasuk kualifikasi sangat valid dan tidak revisi. Proses selanjutnya validasi media dengan validator Bapak Wahyu Djok S., S.Pd, M.Pd. proses validasi dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2018 di kantor jurusan Sejarah. Berdasarkan hasil penilaian media produk memperoleh hasil 97,5% yang termasuk kualifikasi sangat valid dan tidak revisi. Meskipun termasuk dalam kategori valid revisi tetap dilakukan sesuai dengan saran dan catatan yang diberikan oleh validator. Setelah revisi produk tahapan selanjutnya uji coba lapangan yang dilakukan dua kali pada kelompok kecil dan kelompok besar dengan kelas yang berbeda. Uji coba kelompok kecil dilakukan di sekolah MAN 2 Banyuwang kelas XI IPS 3 pada tanggal 26 Juli 2018. Produk dinilai oleh 10 orang responden yang dipilih secara acak. Berdasarkan hasil penilaian kelompok kecil diperoleh hasil 88,25%. Berdasarkan penilaian tersebut produk sangat valid. Uji coba produk selanjutnya pada kelompok besar di kelas XI IPS 1 pada tanggal 1 Agustus 2018. Penilaian produk dilakukan oleh 38 orang responden dengan memperoleh hasil penilaian yakni 89,8%, jadi produk termasuk sangat valid. Berdasarkan hasil kedua uji coba lapangan terdapat selisih penilaian 1,65%, selisih tersebut berdasarkan situasi dan kondisi di dalam kelas sehingga mempengaruhi penilaian dari siswa. Setelah uji coba kelompok kecil dan besar hasil kuantitatif diperoleh sangat valid, tetapi perlu dilakukan beberapa revisi sesuai catatan dan saran yang yang diberikan oleh siswa. Produk yang dikembangkan berbentuk buku suplemen cetak menyuguhkan materi bangunan peninggalan kolonial untuk siswa. Dengan penggunaan produk maka siswa dapat mengetahui alternatif sejarah lainnya di Kabupaten Banyuwangi. Dengan diajarkan didalam kelas diharapkan setelah mempelajari buku suplemen siswa dapat ikut serta menjaga atau melestarikan peninggalan sejarah dilingkungan mereka. PENUTUP Pengembangan produk yang dilakukan setelah melalui proses validasi memperoleh hasill sangat valid begitu pula pada uji coba lapangan dalam kelompok kecil dan kelompok besar. Maka produk yang dikembangkan valid dan layak digunakan oleh siswa. Walaupun produk termasuk kategori valid masih terdapat beberapa kelemahan, yang dapat diperbaiki lagi kedepannya untuk perbaikan produk. Saran pemanfaatan bagi peserta didik setelah penggunaan buku suplemen diharapkan mampu memberikan wawasan kesadaran sejarah disekitar lingkungan siswa. Meski pengembangan yang dilakukan terbatas pada materi kolonial setidaknya meteri yang disajikan memberikan wawasan baru dalam pemahaman sejarah Banyuwangi. Kemudian untuk guru dengan adanya bahan ajar dimungkinkan dapat membantu proses belajar mengajar agar mencapai tujuan yang diinginkan dengan guru terlebih dahulu mempelajari buku suplemen yang akan disampaikan kepada siswa. Produk yang dikembangkan dapat disebarkan secara luas yang disebut dengan diseminasi. Setelah melalui langkah-langkah pengembangan dan dilakukan validasi dengan hasil layak untuk pembelajaran siswa maka keberadaan dan pengadaan produk layak dipertimbangkan. Penyebaran produk dilakukan secara terbatas oleh peneliti karena keterbatasan dana. Produk disebarkan pada guru mata pelajaran sejarah disekolah dimana dilakukan uji coba. Kemudian langkah yang lebih luas dengan menerbitkan buku suplemen secara masal untuk siswa kelas XI attau masyarakat umum yang tertarik dalam bahasan sejarah kolonial. Mengenai pengembangan produk lebih lanjut yang sudah termasuk dalam kategori valid digunakan, masih terdapat beberapa kekurangan yang membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan. DAFTAR RUJUKAN Akbar, Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Ali, M. R. 2012. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta. Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Panem, Paulina & Purwanto. 2001. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta PAU-PPAI-UT Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 2. 2008. Buku. Jakarta: Menteri Pendidikan Nasional. Prastowo, Andi. 2015. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press. Sitepu, B.P. 2015. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Widja, I Gede. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
Pengembangan Bahan Ajar Booklet Tentang Perlawanan Tentara PETA Untuk Pembelajaran Sejarah
PENGEMBANGANG BAHAN AJAR BOOKLET TENTANG PERLAWANAN TENTARA PETA UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAHEdna Sari Kusuma Dewi , Ari Sapto Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang 65145e-mail: [email protected] ABSTRAKPenelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk berupa bahan ajar booklet tentang Perlawanan Tentara PETA. Booklet digunakan untuk pembelajaran sejarah pada kelas XI MIPA 3 di SMAN 1 Talun. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan produk berupa booklet untuk pembelajaran sejarah. Booklet telah melalui validasi ahli materi, ahli media, uji coba produk pada kelompok kecil dan uji pemakaian produk pada kelompok besar. Berdasarkan validasi dan uji coba, booklet dinyatakan sangat valid sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Kata Kunci: Booklet, Perlawanan Tentara PETA, Kelas XI MIPA 3, SMAN 1 Talun.ABSTRACTThis research and development is produce Booklet as teaching material with Resistance Army PETA. This research aims to produce a booklet for learning history. Booklet was tried out to material expert validation, media expert validation, product testing in small groups and produc usage testing in large groups. Based on the results of validation and trials, booklet is very valid, so that it can be used in learning history. Keywords: Booklet, Resistance of the PETA army, Eleventh Grade of Matematic and Sains 3, Senior High School of 1 Talun.Pembelajaran sejarah dalam penerapannya, tidak terlepas dari suatu kendala. Pada dasarnya, masyarakat umumnya kurang menyadari bahwa sejarah memiliki sifat-sifat yang khas, yang memerlukan ketrampilan istimewa untuk mengajarkannya (Sanjaya, 2008:3). Lebih lanjut lagi, dijelaskan bahwa pengajaran sejarah nyatanya adalah suatu proses yang rumit dan memerlukan kemampuan profesional yang tinggi dalam mengajarkannya. Berdasarkan pernyataan tersebut sudah jelas bahwa guru sejarah harus mampu menjadi profesional dengan merencanakan kegiatan pembelajaran terlebih dahulu sebelum mengajar. Guru sejarah juga harus mampu menentukan bahan ajar yang akan digunakan dalam pembelajaran. Apabila guru sejarah tidak inovatif dalam menentukan bahan ajar, maka akan mengakibatkan pencapaian tujuan terganggu atau bahkan gagal.Pelaksanaan pembelajaran sejarah di SMAN 1 Talun telah menggunakan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM). Hal ini mengikuti Kurikulum 2013 yang telah direvisi. UKBM dapat diakses melalui website sekolah. Permasalahan muncul ketika internet terputus. Adanya kendala seperti listrik padam dan tidak ada paket data, membuat pembelajaran sejarah terhambat. Berdasarkan permasalahan tersebut, penggunaan bahan ajar cetak sangat penting untuk pembelajaran sejarah.Menurut Prastowo (2013:17) bahan ajar adalah segala bahan baik informasi, alat atau teks yang disusun secara sistematis, menampilkan kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran, misalnya: buku pelajaran, modul, hand out, LKS, model atau maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif. Secara umum, fungsi bahan ajar bagi guru adalah untuk mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran sekaligus merupakan inti kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa, sedangkan bagi peserta didik bahan ajar akan menjadi pedoman dalam proses kegiatan belajar dan merupakan inti kompetensi yang seharusnya dipelajari. Bahan ajar juga dapat difungsikan sebagai salah satu alat evaluasi pencapaian hasil dari proses kegiatan pembelajaran (Lestari, 2013:7). Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan menjadi suatu bahan ajar adalah booklet.Istilah booklet berasal dari buku dan leaflet artinya media booklet merupakan perpaduan antara leaflet dan buku dengan format (ukuran) yang kecil seperti leaflet. Isi booklet menyerupai buku (pendahuluan, isi, penutup), hanya saja cara penyajiannya lebih singkat dari buku (Gustaning, 2014:22). Booklet berukuran kertas A5. Materi yang digunakan dalam booklet adalah materi perlawanan Tentara PETA di Blitar. Peristiwa ini diambil oleh peneliti karena berdasarkan pengamatan di lapangan, materi ini masih belum dijadikan bahan ajar secara khusus. Padahal peristiwa Perlawanan Tentara PETA adalah suatu peristiwa penting yang dulu pernah terjadi di Blitar, sehingga sudah seharusnya guru dan siswa lebih mengenal sejarah di sekitar wilayahnya.Penelitian terdahulu yang dijadikan acuan oleh peneliti yaitu penelitian Masayu Permatahati (2017) dari Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang dengan judul “Pengembangan Booklet Sejarah Dengan Materi Penunjang Sejarah Lokal Stasiun Peninggalan Belanda di Ponorogo Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Slahung Kabupaten Ponorogo”. Berdasarkan penelitian tersebut dihasilkan validasi ahli materi sebesar 93.75% dan 90,3% dari ahli media, sedangkan hasil angket siswa pada uji coba kelompok kecil diperoleh 79,1% dan 86,9% pada uji coba kelompok besar. Masayu menyarankan agar ada penelitian lebih lanjut terkait perkembangan bahan ajar booklet. Penelitian selanjutnya, Alvida Septianingrum (2017) dari Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang dengan judul “Pengembangan Media Booklet Biografi K.H. Badris Salam sebagai Tokoh Lokal Penyebar Ajaran Islam Daerah Wates dalam Menunjang Pembelajaran Sejarah Islam di SMAN 1 Wates Kediri”. Pada penelitian tersebut memperoleh hasil validasi ahli materi sebesar 81,8% dan hasil validasi ahli media sebesar 83,3%. Hasil uji coba produk pada kelompok kecil sebesar 78,9% dan hasil pemakaian produk pada uji coba kelompok besar sebesar 86,1%. Kedua penelitian yang telah disebutkan, menyatakan bahwa booklet sebagai bahan ajar maupun media, sangat layak digunakan dalam pembelajaran sejarah. Perbedaan penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah terletak pada perbedaan materi. Tujuan dari penelitian dan pengembangan bahan ajar booklet adalah untuk menghasilkan bahan ajar berupa booklet dengan materi Perlawanan Tentara PETA di Blitar untuk memperkuat pembelajaran sejarah Indonesia. METODEPenelitian dan pengembangan pendidikan yang diarahkan pada pengembangan produk yang efektif bagi keperluan sekolah merupakan penelitian terapan. Penelitian semacam ini lebih mementingkan perubahan yang membawa perbaikan (what works better), daripada kemengapaannya (why) (Semiawan, 2007:186). Penelitian ini juga bersifat analisis kebutuhan. Maka untuk membuat sebuah produk harus disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Penelitian dan pengembangan bersifat longitudinal. Maksudnya adalah penelitian ini dapat dilakukan secara bertahap dan terus menerus mengalami perkembangan. Produk pengembangan yang akan dibuat sesuai kebutuhan adalah booklet dengan materi Perlawanan Tentara PETA di Blitar untuk kelas XI di SMAN 1 Talun. Model penelitian dan pengembangan diadaptasi dari Borg and Gall.Adapun langkah-langkah penelitian dan pengembangan menurut Borg and Gall (dalam Sugiyono 2016:298) adalah sebagai berikut:1) Potensi dan masalah,2) Pengumpulan data,3) Desain produk,4) Validasi desain,5) Revisi desain,6) Uji coba produk,7) Revisi produk,8) Uji pemakaian,9) Revisi produk,10) Produksi masal.Dalam melakukan penelitian dan pengembangan ini, peneliti memodifikasi model penelitian dan pengembangan Borg and Gall. Peneliti menghapus satu tahapan yaitu tahap produksi masal. Hal ini dilakukan peneliti karena menurut peneliti, langkah-langkah hasil modifikasi yang dilakukan peneliti sudah cukup memenuhi tujuan dari penelitian. Keterbatasan waktu dan biaya juga dijadikan pertimbangan oleh peneliti ketika mengambil keputusan untuk memodifikasi langkah-langkah penelitian dari Borg and Gall. Langkah-langkah hasil modifikasinya adalah sebagai berikut:1) Analisis kebutuhan,2) Penyusunan draft produk,3) Validasi ahli materi dan ahli media/produk,4) Revisi draft produk,5) Uji coba produk,6) Revisi Produk,7) Uji pemakaian produk,8) Penyempurnaan produk.Booklet divalidasi oleh ahli materi dan ahli media, selanjutnya diujicobakan pada kelompok kecil dan uji pemakaian pada kelompok besar. Materi pada Booklet divalidasi oleh ahli materi yaitu Bapak Arif Subekti, S.Pd., M.A selaku dosen Sejarah FIS UM dan Ibu Lutfiah Ayundasari, S.Pd., M.Pd., (dosen Sejarah FIS UM) sebagai validator ahli media/produk. Uji coba produk dilakukan pada 10 siswa di kelas XI MIPA 3, kemudian uji pemakaian produk dilakukan pada 35 siswa di kelas XI MIPA 3.Instrumen pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah berupa wawancara dan hasil angket. Wawancara dilakukan kepada Ibu Dra. Mugen Mangastuti, M.Pd., selaku Guru Mata Pelajaran Sejarah di SMAN 1 Talun. Wawancara digunakan peneliti sebagai instrumen penelitian karena dianggap dapat menggali informasi lebih mendalam kondisi di lapangan. Wawancara ini dilakukan pada observasi awal atau pada tahap analisis kebutuhan. Instrumen kedua adalah hasil angket dari validasi ahli materi dan ahli media/produk, serta hasil angket dari uji coba produk dan uji pemakaian produk.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk mengolah data berupa kritik dan saran dari lembar validasi ahli media dan ahli materi, sedangkan deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengolah data yang berupa skor penilaian yang didapatkan dari lembar validasi ahli dan angket bahan ajar booklet siswa. Berikut rumus yang digunakan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat validitas materi, media, uji coba produk dan uji pemakaian produk menurut (Arikunto, 1989:353), yaitu:X= Σx/Σxi x 100 %Keterangan :X : Presentase hasil kelayakanΣx : Jumlah skor jawaban RespondenΣxi : Jumlah Skor Maksimal100% : KonstantaSetelah melalui proses perhitungan sesuai dengan perhitungan rumus diatas, maka tingkat validitas dapat dilihat melalui tabel berikut.Tabel 1.1 Analisis Presentase Hasil Validasi, Uji Coba Produk, & Uji Pemakaian ProdukNo. Kriteria Validitas Tingkat Validitas1. 85,01 % - 100 % Sangat Valid, atau dapat digunakan tanpa revisi2. 70,01 % - 85,00 % Cukup Valid, atau dapat digunakan namun dengan revisi kecil3. 50,01 % - 70,00 % Kurang Valid, disarankan tidak dipergunakan karena perlu revisi besar4. 01,00 % - 50,00 % Tidak Valid, atau tidak boleh dipergunakan(Sumber: Akbar, 2013: 41)Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jika produk memperoleh hasil presentase sebesar lebih dari 85,01 % maka dinyatakan sangat valid dan tidak memerlukan revisi. Sedangkan jika mendapat hasil presentase kurang dari 85,01 % maka dinyatakan cukup valid dan masih memerlukan revisi sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. HASILHasil Uji Coba Bahan Ajar BookletValidasi bahan ajar booklet dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidang materi dan media/produk. Validasi bertujuan untuk memperoleh data berupa kualitas bahan ajar booklet. Setelah divalidasi, booklet diujicobakan pada kelompok kelompok kecil dan kelompok besar. Validasi oleh ahli materiValidasi ahli materi dilakukan oleh Bapak Arif Subekti, S.Pd., M.A. Validasi ini menggunakan instrumen angket dengan 15 butir penilaian dan kolom kritik serta saran. Hasil validasi ahli materi diperoleh presentase sebesar 90% dengan kriteria Sangat Valid sehingga booklet dapat digunakan tanpa revisi. Validasi oleh ahli media/produkValidasi ahli media/produk dilakukan oleh Ibu Lutfiah Ayundasari, S.Pd., M.Pd. Instrumen yang digunakan pada validasi ini adalah angket dengan 13 butir pertanyaan dilengkapi dengan kolom kritik dan saran. Hasil angket validasi media diperoleh presentase sebesar 98,07%, sehingga booklet yang dikembangkan oleh peneliti termasuk dalam kriteria “Sangat Valid, atau dapat digunakan tanpa revisi”. Uji coba produkUji coba produk dilakukan pada kelompok kecil di kelas XI MIPA 3. Sejumlah 10 orang siswa diberikan angket untuk menilai bahan ajar booklet. Pada uji coba produk, memperoleh hasil presentase sebesar 77,75% dengan kriteria cukup valid. Dengan demikian, booklet dapat digunakan dengan revisi kecil. Uji pemakaian produkUji pemakaian produk dilakukan pada tahap selanjutnya setelah produk direvisi. Uji ini melibatkan 35 siswa di kelas XI MIPA 3. hasil angket bahan ajar booklet yang tercantum dalam tabel 4.7, diperoleh presentase sebesar 85,5%. Hasil uji pemakaian produk tergolong pada kriteria sangat valid atau dapat digunakan tanpa revisi. Revisi ProdukBooklet direvisi untuk memperbaiki kualitas bahan ajar supaya layak digunakan. Pertama, kritik dan saran yang diberikan oleh ahli materi adalah sebagai berikut:1) Mengganti tulisan Osamu seirei pada halaman 3 dengan huruf kapital menjadi Osamu Seirei,2) Menambah kata (sic) pada kata “Syowa” (halaman 3) karena merupakan istilah yang tidak lazim digunakan namun ditulis oleh penulis dalam buku,3) Mengganti tulisan “Orang Indonesia” pada halaman 10 menjadi “orang Indonesia”,4) Mengubah penulisan kata “mempengaruhi” pada halaman 17 menjadi “memengaruhi”. Kemudian peneliti melakukan revisi yang disesuaikan dengan kritik dan saran yang disampaikan oleh ahli materi tersebut.Revisi yang kedua dilakukan berdasarkan kritik dan saran yang diberikan oleh ahli media. Adapun kritik dan saran yang diberikan oleh ahli media adalah sebagai berikut:1) Mengubah warna background menjadi lebih terang,2) Mengganti jenis kertas yang semula Art Paper menjadi HVS karena dianggap terlalu silau,3) Memperbaiki Kompetensi Dasar dan Tujuan Pembelajaran karena dianggap belum sesuai,4) Memperbesar font ukuran huruf pada halaman 14 karena terlalu kecil,5) Ilustrasi pada buku yang semula hitam putih, akan lebih bagus jika diganti dengan yang berwarna.Revisi ketiga dilakukan berdasarkan kritik dan saran yang diberikan oleh siswa pada uji coba produk (uji kelompok kecil). Pada uji coba ini, ada kritik dan saran yang digunakan peneliti untuk merevisi produknya. Peneliti melakukan revisi pada halaman yang tercetak terbalik. Selanjutnya, revisi keempat dilakukan peneliti berdasarkan kritik dan saran yang diperoleh pada uji pemakaian produk (uji kelompok besar). Peneliti merevisi dengan menambah satu halaman tambahan yaitu mengenai foto tokoh-tokoh perlawanana PETA. Booklet yang telah direvisi beberapa kali, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar ini telah sangat valid sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. PEMBAHASANPengembangan Bahan Ajar BookletHasil penilaian yang diberikan oleh ahli materi, mendapatkan presentase sebesar 90%. Presentase tersebut masuk dalam kriteria Sangat Valid sehingga booklet dapat digunakan tanpa revisi. Hasil validasi selanjutnya adalah validasi ahli produk/media. Hasil validasi ini mendapatkan perolehan presentase sebesar 98,07%. Presentase tersebut digolongkan dalam kriteria sangat valid, sehingga dapat digunakan tanpa revisi.Berdasarkan penilaian yang diberikan oleh ahli validasi materi dan ahli validasi produk/media, maka dapat dikatakan bahwa bahan ajar booklet dapat digunakan untuk proses selanjutnya tanpa revisi. Meskipun demikian, peneliti tetap melakukan revisi sesuai dengan kritik dan saran yang telah diberikan oleh ahli materi maupun ahli produk/media. Setelah melakukan revisi, bahan ajar booklet dicetak untuk kemudian dilakukan uji coba produk. Uji Coba ProdukHasil angket yang diberikan pada uji coba produk di 10 orang siswa memperoleh hasil presentase sebesar 77,75% dengan kriteria cukup valid. Berdasarkan hasil presentase tersebut, booklet memperoleh respon baik dari siswa dan dapat digunakan dengan melakukan revisi kecil. Uji Pemakaian ProdukUji pemakaian produk dilakukan pada 35 siswa di Kelas XI MIPA 3. Hasil uji pemakaian produk memperoleh presentase sebesar 85,5%. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa memberikan tanggapan yang baik. Jumlah presentase tersebut, dapat disimpulkan bahwa booklet dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah tanpa revisi. KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanProduk hasil pengembangan pada penelitian ini berupa bahan ajar dalam bentuk cetak, yaitu Booklet Perlawanan Tentara PETA di Blitar. Booklet yang dikembangkan oleh peneliti disesuaikan untuk menempuh dua kompetensi dasar oleh siswa kelas XI pada tingkat SMA/MA, yaitu 3.5 menganalisis sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia dan 4.5 menalar sifat pendudukan Jepang di Indonesia serta menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah. Penelitian ini didasarkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Peneliti melakukan tahap awal yaitu berupa analisis kebutuhan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan di lapangan. Peneliti mengambil data dengan melakukan wawancara terhadap guru mata pelajaran sejarah di SMAN 1 Talun. Wawancara adalah salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya (Sudaryono, 2018:212).Pembelajaran sejarah di SMAN 1 Talun, telah berbasis teknologi. Siswa belajar melalui Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) yang dapat diakses melalui website sekolah. Kondisi seperti ini, di satu sisi mempermudah siswa, akan tetapi juga dapat menghambat pembelajaran yang sedang berlangsung. Apabila terjadi gangguan pada koneksi internet, maka akan mengakibatkan siswa tidak dapat mengakses bahan ajar yang terdapat dalam website. Berdasarkan permasalahan tersebut, sangat perlu bahan ajar cetak sebagai penunjang pembelajaran. Peneliti memilih booklet sebagai bahan ajar cetak karena dianggap mampu mempermudah siswa dalam belajar sehingga dapat mengatasi permasalahan yang terjadi.Pada penilitian dan pengembangan ini, peneliti menggunakan model penelitian dan pengembangan Borg & Gall yang telah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Langkah awal yang dilakukan adalah analisis kebutuhan, selanjutnya menyusun draft produk. Draft yang telah disusun kemudian divalidasi oleh ahli materi dan ahli media/produk agar selanjutnya dilakukan revisi yang sesuai dengan kritik dan saran yang diberikan. Hasil validasi yang diberikan oleh ahli materi dan ahli media/produk mendapatkan kriteria sangat valid, sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah tanpa revisi. Meskipun hasil yang diperoleh dari para ahli mendapatkan kriteria sangat valid, namun peneliti tetap melakukan revisi sesuai dengan kritik dan saran yang diberikan. Selanjutnya, pada saat uji coba produk dan uji pemakaian produk, peneliti juga melakukan revisi agar produk yang dihasilkan lebih baik. SaranSaran pemakaian bahan ajar booklet berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan adalah sebagai berikut: Saran PemanfaatanPemanfaatan booklet ini adalah sebagai salah satu bahan ajar pembelajaran sejarah untuk belajar materi mengenai Perlawananan Tentara PETA di Blitar. Guru dan siswa diharapkan dapat lebih mudah belajar melalui bahan ajar booklet. Penjelasan di dalam booklet dibuat lebih ringkas serta dilengkapi dengan bagan, timeline, peta, ilustrasi, dan foto-foto tokoh diharapkan mampu membantu guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Saran DiseminasiProduk yang dikembangkan oleh peneliti, disebarluaskan kepada guru Mata Pelajaran Sejarah di SMAN 1 Talun dan diserahkan kepada pihak Perpustakaan SMAN 1 Talun. Kemudian, Booklet ini akan disebarluaskan melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Penyebarluasan tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih maksimal pada guru dan siswa dalam menggunakan booklet. Saran Pengembangan Produk Lebih LanjutBahan ajar booklet dapat dimanfaatkan untuk penunjang pembelajaran sejarah di kelas. Penelitian pengembangan bahan ajar ini perlu dikembangkan dengan materi yang lain. Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan booklet dengan desain yang lebih menarik. DAFTAR RUJUKANAkbar, S. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. 1989. Manajemen Penelitian. Jakarta: Depdikbud, Dirjen PT. Borg, W.R & Gall, M.D. 1989. Educational Research: An Introduction. New York: Longman. Gustaning, G. 2014. Pengembangan Media Booklet Menggambar Macam-macam Celana pada Kompetensi Dasar Menggambar Celana Siswa SMKN 1 Jember. Skripsi (Online). Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. (http://eprints.uny.ac.id/29300/1Guni%20Gustaning%2010513244017.pdf) diakses pada 28 November 2018.Lestari, I. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi (Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Padang: Akademia Permata. Prastowo, A. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Jogjakarta: Diva Press. Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media. Semiawan, C.R. 2007. Catatan Kecil Tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Kencana. Sudaryono. 2018. Metodologi Penelitian. Depok. Rajagrafindo Persada. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BUKU TEKS TENTANG PERLAWANAN RAKYAT BIMA TERHADAP KOLONIALISME BELANDA(1908-1910) SEBAGAI BAHAN AJAR PENUNJANG PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK KELAS XI IPA1 DI SMAN 1 WOHA
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BUKU TEKS TENTANG PERLAWANAN RAKYAT BIMA TERHADAP KOLONIALISME BELANDA(1908-1910) SEBAGAI BAHAN AJAR PENUNJANG PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK KELAS XI IPA1 DI SMAN 1 WOHA Muhammad Furqan Pembimbing (1) Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd Pembimbing (2) Dra. Yulianti, M.Hum Universitas Negeri Malang Email: [email protected] ABSTRAK: Bahan ajar merupakan media belajar yang selalu digunakan oleh peserta didik dan guru dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar. Salah satu bentuk dari bahan ajar adalah buku teks. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah buku teks yang berisi materi sejarah lokal Bima sebagai bahan ajar pada mata pelajaran sejarah di SMAN 1 Woha Kabupaten Bima. Fokus dari penelitian ini adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan peserta didik SMAN 1 Woha kelas XI IPA1 tentang sejarah lokal Bima. Berdasarkan masalah tersebut peneliti mengembangkan sebuah bahan ajar berupa buku teks dengan tujuan untuk memecahkan masalah yang terjadi di kelas XI IPA1 SMAN 1 Woha. Materi yang diambil adalah materi tentang sejarah lokal Bima lebih khususnya pada masa penjajahan Belanda. Penelitian dan pengembangan kemudian dilakukan peneliti untuk menghasilkan buku teks yang dapat digunakan sebagai media penunjang pembelajaran sejarah. Produk yang dikembangkan dinyatakan valid dan layak digunakan setelah melalui berbagai tahap validasi dan uji coba. Kata Kunci: buku teks, sejarah lokal, Bima ABSTRACT: Teaching materials are learning media that are always used by students and teachers in every learning and teaching activity. One form of teaching materials is textbooks. This study aims to develop a textbook that contains Bima's local history material as teaching material for historical subjects at SMAN 1 Woha, Bima Regency. The focus of this research is the lack of understanding and knowledge of students of SMA 1 Woha in class XI IPA1 about Bima's local history. Based on this problem the researcher developed a teaching material in the form of textbooks with the aim to solve problems that occurred in class XI IPA 1 of SMA 1 Woha. The material taken was material about Bima's local history, especially during the Dutch colonial period. Research and development is then carried out by researchers to produce textbooks that can be used as media to support history learning. The developed product is declared valid and feasible to use after going through various stages of validation and trial. Keywords: textbook, local history, Bima Dalam era globalisasi pendidikan adalah hal yang sangat diperlukan. Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa dan negara. Dari tahun ke tahun pendidikan selalu mengalami perubahan dan kemajuan, pendidikan tidak hanya difokuskan pada pendidikan formal, namun pendidikan itu sendiri memiliki cakupan yang sangat luas. Menurut Tirtarahardja dan La Sulo (2005:77) bahwa “pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun manusia, pada gilirannya manusia hasil pendidikan itu menjadi sumber daya pembangunan”. Salah satu masalah yang mendasar dalam dunia pendidikan adalah bagaimana usaha untuk meningkatkan proses belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang efektif dan efisien, tidak terkecuali pada mata pelajaran sejarah. Masalah yang ditemukan oleh peneliti dari hasil observasi dan wawancara adalah terdapat beberapa peserta didik yang menyatakan bahwa mata pelajaran sejarah itu tidak disukai karena membosankan dan akhirnya membuat mereka mempunyai pengetahuan sejarah yang minim, hal ini diketahui dari hasil wawancara dengan salah satu siswa di SMAN 1 Woha Kabupaten Bima dan hasil observasi di kelas (ketika guru mengajar) serta dilihat sarana dan prasanapun tidak terlalu mutakhir dan kurang, misalnya buku-buku yang dIPAkai masih menggunakan LKS yang bukan dari buatan gurunya sendiri. Adapun hasil wawancara dengan siswa kelas XI IPA1 SMAN 1 WOHA adalah sebagai berikut : “Pembelajaran sejarah itu membosankan, berbelit-belit, banyak teori, isinya(materi) juga banyak, cara mengajar yang monoton, buku yang digunakan juga kurang menarik dan akibatnya saya juga kurang motivasi dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Tapi, jujur saja saya pribadi menganggap bahwa sejarah sesuatu yang informatif, karena cuma sejarah mata pelajaran yang membuat kita tahu tentang masa lalu (wawancara dengan Nurfatun siswa kelas XI IPA1)”. Mata pelajaran sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang mengupas dan menjelaskan tentang segala sesuatu peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu. Hal-hal yang membuat mata pelajaran sejarah itu tidak disukai oleh para peserta didik karena menurut para peserta didik mata pelajaran sejarah itu berbelit-belit, teorinya banyak dan banyak materi yang harus dipelajari. Walaupun keadaan yang seperti itu para peserta didik tetap diwajibkan untuk berhasil menempuh mata pelajaran ini karena merupakan salah satu aspek penumbuh rasa nasionalisme serta sejarah yang merupakan salah satu unsur dari indentitas nasional dari sebuah negara atau bangsa. Bukan hanya sejarah di dunia ataupun sejarah nasional, sejarah yang di daerahpun (sejarah lokal) harus diketahui oleh para peserta didik sebagai penumbuh rasa cinta terhadap daerahnya dan juga sebagai penambah wawasan. Terdapat alasan-alasan mengapa perlu mengembangkan bahan ajar sebagai media belajar peserta didik adalah sebagai berikut. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Untuk mendukung kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi bahan ajar pokok atau bahan ajar suplementer (Warso, 2016:20). Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah atau kesulitan dalam belajar. Terdapat sejumlah materi pembelajaran yang sering kali sulit dimengerti oleh siswa dan sulit dijelaskan oleh guru. Kesulitan tersebut dapat saja terjadi karena materi tersebut abstrak, rumit, asing dan sebagainya. Demi mengatasi kesuliltan ini maka perlu dikembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus mampu membantu siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak tersebut, misalnya dengan menggunakan gambar, foto, bagan, skema, dan lain-lain. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat pikir siswa, sehingga lebih mudah dipahami(Warso, 2016:21). Dipilihnya buku teks sebagai produk, karena sampai saat ini buku teks masih menjadi media utama dan sangatlah penting dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Buku merupakan media yang dapat memuat dan menyajikan berbagai informasi dan berbagai keperluan.Walaupun merupakan media konvensional, buku masih dipergunakan di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini(Sitepu, 2012:23). Berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, para peserta didik masih menggunakan bahan ajar berupa LKS sebagai sumber belajarnya. LKS tersebut bukanlah bahan ajar yang dikembangkan oleh guru melainkan buatan orang lain. Menurut para peserta didik sendiri, bahan ajar ini tidaklah terlalu bagus dan terasa membosankan untuk dibaca karena beberapa hal; berwarna hitam putih, gambar yang tidak bagus, dan lain-lain. Salah satu sejarah lokal di Indonesia adalah sejarah lokal di Bima Nusa Tenggara Barat (NTB), sejarah Bima menjelaskan tentang masa-masa tumbuh dan berkembangnya Bima pada masa lampau, mulai dari ditemukan peninggalan awal sampai masa kontemporer. Sejarah lokal ini sangat menarik disimak oleh semua golongan yang ada di kota maupun di Kabupaten Bima umumnya dan para peserta didik yang ada di Bima khususnya. Hal ini menjadi alasan bagi peneliti untuk mengembangkan sebuah bahan ajar berupa buku teks tentang sejarah lokal Bima yang lebih khusus pada perang rakyat yang terjadi di Bima pada masa kolonialisasi Belanda di Nusantara. Meletusnya perang ini merupakan hasil dari ketidakpuasan rakyat Bima terhadap “Dou Kafi” (orang-orang Belanda) yang telah sewenang-wenang terhadap Kesultanan Bima pada waktu itu. Dipilihnya SMAN 1 Woha sebagai tempat penelitian karena peneliti menganggap bahwa sekolah tersebut memiliki masalah tentang pembelajaran sejarahnya. Hal ini dibuktikan dengan observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dikelas XI IPA1. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMAN 1 Woha Kabupaten Bima, diketahui bahwa pemahaman dan pengetahuan para peserta didik tentang sejarah naisonal dan sejarah lokal masih sangat kurang, hal ini juga ditambah dengan tidak lengkapnya sarana dan prasarana yang ada di kelas. Sebagai contoh para siswa belum memiliki buku paket sejarah sebagai media mereka belajar. Berdasarkan Kurikulum 2013, pembelajaran sejarah dimasukan dalam pengelompokan mata pelajaran wajib dan sekaligus peminatan. Sejarah sebagai mata pelajaran wajib kini berlabel sejarah Indonesia, sedangkan sejarah peminatandimasukan dalam peminatan sosial(Fajri, 2013:Online). Materi pembelajaran sejarah yang masuk dalam penelitian dan pengembangan buku teks tentang perang rakyat di Bima ini adalah perkembangan penjajahan Bangsa Barat di Indonesia dengan Kompetensi Dasar 4.2: Mengolah informasi tentang proses masuk dan perkembangan penjajahan Bangsa Barat di Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah. Penggunaan Kompetensi Dasar (KD) ini sesuai dengan K.D yang ada dalam Kurikulum 2013 (K13). Materi ini menjelaskan tentang masuk dan berkembangnya bangsa barat di Nusantara. Keberadaan Bangsa Barat di Nusantara, sangat mempengaruhi keadaan masyarakat Nusantara pada waktu itu. Hal ini terjadi karena Bangsa Barat tidak menjadi “tamu” di Nusantara tapi melainkan sebagai penjajah yang menjajah Nusantara atau Indonesia selama beratus-ratus tahun. Hal ini haruslah diketahui dan dIPAhami oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia khususnya terlebih lagi para peserta didik yang sedang menempuh pendidikan karena merupakan bagian dari sejarah Indonesia, tak terkecuali para peserta didik yang ada di SMAN 1 WOHA Kabupaten Bima. Berdasarkan latarbelakang diatas tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah Tujuan umum penelitian pengembangan ini yaitu mengembangkan sebuah bahan ajar sejarah dalam bentuk buku teks tentang perlawanan rakyat Bima melawan Belanda. Adapun tujuan khusus penelitian dan pengembangan ini yaitu menghasilkan bahan ajar sejarah buku teks tentang perlawanan rakyat Bima melawan penjajah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik kelas XI IPA 1 (sejarah wajib) SMAN 1 Woha tentang sejarah lokal Bima. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan. Metode penelitian dan pengembangan digunakan untuk mengembangkan produk yaitu buku teks sejarah. Metode penelitian dan pengembangan ini menggunakan model penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan Borg dan Gall dalam Sugiyono (2015:409) dibagi menjadi sepuluh tahap yang dimulai dari mencari potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian, revisi produk dan produksi masal. Langkah pertama untuk melakukan penelitian dan pengembangan adalah menemukan potensi masalah. Pada awalnya suatu penelitian berangkat dari suatu permasalahan. Masalah yang didapatkan setelah melakukan wawancara dan melakukan observasi pada peserta didik dikelas XI IPA1. Adapun masalah yang didapatkan adalah kurangnya pemahaman para peserta didik tentang sejarah local. Berdasarkan permasalahan yang didapatkan oleh peneliti, kemudian peneliti menemukan potensi untuk mengatasi masalah tersebut. Adapun potensi yang dapat dijadikan bahan penelitian adalah sejarah lokal Bima. Peneliti melihat bahwa pengembangan sebuah buku teks sejarah lokal Bima. Hal tersebut dapat dijadikan suatu referensi dalam materi pembelajaran terutama pada Kompetensi Dasar 4.2 yang berkaitan tentang proses masuk dan perkembangan penjajahan Bangsa Barat di Indonesia. Langkah kedua yaitu pengumpulan data, menurut Sugiyono (2010: 411) menyatakan “Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukkan secara faktual dan up to date, selanjutnya dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut”. Adapun data-data yang diperoleh berdasarkan potensi dan masalah di atas yaitu melakukan analisis terkait KD dari Kurikulum 2013 yang digunakan sekolah agar produk yang dikembangkan bisa digunakan sebagai media penunjang. Selain menggunakan wawancara untuk pemgambilan data kualitatif, peneliti juga menggunakan angket untuk mengambil data-data kuantitatif pada saat ujicoba kecil dan besar di SMAN 1 Woha.. Langkah ketiga adalah melakukan desain produk yang dikembangkan mulai dari menentukan materi yang sesuai dan kemudian melakukan penyusunan buku teks. Setelah melakukan pengumpulan materi dan data yang menunjang buku teks langkah selanjutnya(langkah keempat) adalah melakukan validasi produk terkait materi dan media yang dikembangkan dengan tujuan menilai kelayakan materi dan media tersebut. Validator desain ahli materi dalam mengembangkan produk tersebut adalah Drs. Marsudi M.Hum dan validator ahli media adalah Drs. Ismail Lutfi, M.A. Langkah kelima adalah melakukan revisi desain berdasarkan masukan, saran dan kritik dari para ahli agar produk memiliki tingkat kelayakan yang tinggi. Langkah keenam, ketujuh, dan kedelapan terkait dengan uji coba di lapangan yang melibatkan peserta didik kelas XI IPA SMAN 1 Woha. Pada tahap uji coba kelompok kecil peneliti mengumpulkan dari 6 pserta didik yang berasal dari kelas yang berbeda-beda(XI IPA 1,2,3,4,5,6), jika masih memiliki kekurangan maka akan diperbaiki lagi berdasarkan masukan dari responden, tetapi jika uji coba kelompok kecil sudah layak maka dilanjutkan dengan uji coba kelompok besar. Langkah terakhir yang kesembilan adalah revisi produk dari uji pemakaian guna menyempurnakan produk yang dikembangkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dIPAparkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Bagian ini menampilkan hasil dari ahli media, ahli materi dan responden uji coba kelompok kecil dan kelompok besar. Media yang dikembangkan dalam penelitian dan pengembangan ini merupakan buku teks pembelajaran sejarah dengan materi kolonialisme-imperialisme. Bagian ini diuraikan data hasil penelitian dan pengembangan produk yang terdiri dari data hasil validasi dan data hasil uji coba produk. Data hasil uji validasi yang disajikan adalah data hasil dari instrumen angket validasi yaitu hasil validasi ahli media dan validasi ahli materi. Validator ahli materi dalam penelitian dan pengembangan ini adalah Drs. Marsudi M.Hum selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Validator media adalah Drs. Ismail Lutfi, M.A selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Kemudian uji coba produk yang dilakukan pada siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Woha. Adapun hasil validasi dan uji coba produk diuraikan berikut ini. (a) Validasi yang dilakukan oleh ahli media menggunakan instrumen angket penilaian dengan jumlah 13 item pertanyaan. Validasi ahli materi dilakukan oleh Drs. Marsudi M.Hum, selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pada validasi ahli media tersebut diketahui hasil validasi media sebesar 76,92%, hasil ini termasuk dalam kategori valid. (b) Validasi yang dilakukan oleh ahli materi menggunakan angket penilaian dengan jumlah 14 item pertanyaan. Validasi media dilakukan Drs. Ismail Lutfi, M.A, selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.Berdasarkan angket penilaian yang diberikan kepada ahli materi, media pembelajaran ini direkomendasikan dengan kriteria valid dengan perolehan persentase sebesar 83,92%. (c) Uji coba kelompok kecil dilakukan pada 6 peserta didik kelas XI IPA 1,2,3,4,5,6 SMAN 1 Woha yang dipilih dengan menggunakan teknik random sampling. Uji coba kelompok kecil ini dilakukan pada tanggal 9 November 2017. Pada uji coba kelompok kecil ini responden disediakan angket dengan 10 item pertanyaan terkait buku teks yang dikembangkan. Berdasarkan angket yang telah diisi oleh responden, nilai persentase yang diperoleh sebesar 91,25%, hasil tersebut masuk dalam kategori valid. (d) Uji coba kelompok besar dilakukan pada 30 peserta didik kelas XI IPA 1 SMAN 1 Woha. Uji coba kelompok besar ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 10 November 2018. Berdasarkan angket yang telah diisi oleh responden, nilai persentase yang diperoleh sebesar 82,92%, hasil tersebut masuk dalam kategori valid. Berdasarkan hasil persentase dari ahli materi, ahli media, dan uji coba produk, maka analisis hasil tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: (a)Uji validasi media dilakukan pada tanggal 9 November 2017. Berdasarkan perhitungan rekapitulasi uji validasi media oleh ahli media, diketahui bahwa jumlah skor yang diperoleh (x) adalah sebanyak 40 dan jumlah keseluruhan nilai (xi) adalah 52. Persentase hasil dari perolehan skor sebanyak 52 adalah sebesar 76, 92%. Hasil tersebut telah menunjukkan bahwa buku teks yang dikembangkan sudah layak digunakan sebagai bahan ajar penunjang. Adapun penilaian angket dari ahli media dapat dijelaskan sebagai berikut: (1)Ketepatan susunan dalam cover buku teks (2)Tampilan gambar menarik. (3)Ketepatan dan kejelasan petunjuk penggunaan buku teks. (4)Tampilan buku teks menarik. (5)Kesesuaian tujuan dengan materi (6)Kemudahan memahami materi. (7)Ketepatan ruang lingkup materi (8)Cakupan isi/uraian materi. (9)Keruntutan isi/materi. (10)Faktualisasi isi/materi. (11)Aktualisasi isi/materi. (12)Kejelasan dan kecakupan contoh yang disertakan. (13)Kemenarikan isi materi untuk motivasi pengguna. (b) Uji validasi Media. Berdasarkan perhitungan data validasi materi, dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan skor yang diperoleh (x) adalah sebanyak 47 dan jumlah keseluruhan nilai ideal (xi) adalah 56. Persentase hasil yang diperoleh berdasarkan skor 49 adalah sebesar 83,92%. Hasill ini termasuk dalam kategori layak/valid digunakan dan dijadikan media pembelajaran sejarah yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Adapun penilaian angket dari ahli materi dapat dijabarkan sebagai berikut (1)Proporsional layout cover (2)Tampilan gambar (3)Kejelasan judul buku teks (4)Kemenarikan desain cover (5)Ukuran buku teks (6)Sinkronisasi antar ilustrasi grafis, visual dan verbal (7)Kejelasan petunjuk belajar (8)Kejelasan rumusan tujuan/ kompetensi (9)Kemudahan dalam mempelajari buku teks (10)Kemudahan dalam penggunaan buku teks (11)Kemudahan pencarian halaman dalam buku teks (12)Ketersediaan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas pemahaman materi (13)Materi up to date/konstektual (14)Memiliki daya tarik dengan warna, gambar/ ilustrasi, huruf. (c) Uji coba kelompok kecil dilakukan pada tanggal 9 November 2017 di kelas IPA1 SMAN 1 Woha. Uji coba kelompok kecil ini dilakukan dengan cara memberikan angket penilaian produk kepada 6 peserta didik dari setiap kelas XI IPA di SMAN 1 Woha yang dipilih secara random sampling. Pada uji coba kelompok kecil diperoleh hasil persentase sebesar 91,25% dan hasil tersebut termasuk dalam kategori valid Adapun item pertanyaan angket dari uji coba kelompok kecil dijabarkan sebagai berikut: (1)Ketepatan susunan dalam cover buku teks (2)Tampilan gambar menarik (3)Ketepatan dan kejelasan petunjuk penggunaan buku teks (4)Tampilan buku teks menarik (5)Kesesuaian tujuan dengan materi (6)Kemudahan memahami materi (7)Ketepatan ruang lingkup materi (8)Cakupan isi/uraian materi (9)Keruntutan isi/materi (10)Faktualisasi isi/materi (11)Aktualisasi isi/materi (12)Kejelasan dan kecakupan contoh yang disertakan (13)Kemenarikan isi materi untuk motivasi pengguna. (d) Uji coba produk pada kelompok besar dilakukan pada tanggal 10 November 2017. Uji coba kelompok besar dilakukan pada seluruh siswa kelas XIIPA 1 SMAN 1 Woha yang berjumlah 30. Pada uji coba kelompok besar diperoleh hasil persentase sebesar 82,92% dan termasuk dalam kategori valid. Adapun item pertanyaan angket dari uji coba kelompok besar dijabarkan sebagai berikut: (1)Ketepatan susunan dalam cover buku teks (2)Tampilan gambar menarik (3)Ketepatan dan kejelasan petunjuk penggunaan buku teks (4)Tampilan buku teks menarik (5)Kesesuaian tujuan dengan materi (6)Kemudahan memahami materi (7)Ketepatan ruang lingkup materi (8)Cakupan isi/uraian materi (9)Keruntutan isi/materi (10)Faktualisasi isi/materi (11)Aktualisasi isi/materi (12)Kejelasan dan kecakupan contoh yang disertakan (13)Kemenarikan isi materi untuk motivasi pengguna. KESIMPULAN Produk yang dihasilkan adalah buku teks dengan judul “Perlawanan Rakyat Bima Terhadap Kolonialisme” yang digunakan untuk kelas XI di SMAN 1 Woha. Menurut Prastowo (2014:17) bahan ajar adalah segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan akan digunakan dalam proses pembelajaran, misalnya modul, LKS, handout, modul atau maket, bahan ajar audio dan sebagainya. Berdasarkan penjelasan tersebut menegaskan bahwa modul merupakan salah satu bahan ajar yang dapat digunakan sebagai penunjang pembelajaran. Pengembangan buku teks tentang sejarah lokal Bima ini telah melalui tahapan penelitian dan pengembangan secara keseluruhan. Berdasarkan hasil validasi dari ahli materi pada buku teks penunjang pembelajaran sejarah ini menunjukkan nilai persentase sebesar 76,92%. Hasil yang diperoleh tersebut telah menunjukkan kriteria valid. Berdasarkan validasi ahli media pada produk modul pembelajaran sejarah ini 83,92%. Hasil yang diperoleh tersebut telah menunjukkan kriteria valid dan tidak perlu revisi. Berda
PENGEMBANGAN SPARKOL VIDEOSCRIBE SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH TENTANG PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA TAHUN 1945 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS X MM A SMKN 4 MALANG
AbstrakPermasalahan yang ada dalam pembelajaran sejarah adalah kurangnya penggunaan media pembelajaran.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran sejarah Sparkol VideoScribe. Model penelitian yang digunakan adalah model pengembangan ADDIE. Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi ahli media, ahli materi, guru sejarah SMKN 4 Malang, dan lembar angket kelayakan siswa. Produk yang dihasilkan adalah video animasi gambar berjalan yang dipadukan dengan iringan musik dan dubbing,berdurasi 14 menit. Hasil uji validasi ahli media menunjukkan rata-rata persentase sebesar 97%, hasil uji validasi ahli materi menunjukkan rata-rata persentase sebesar 91%, hasil uji coba angket dari guru sejarah sebesar 93%, dan uji angket kelayakan populasi kelas X MM A menunjukkan rata-rata persentase sebesar 85%. Dapat disimpulkan bahwa dengan hasil uji validasi oleh ahli media, ahli materi,angket guru sejarah, dan angket populasi siswa kelas X MM A menunjukkan produk yang dikembangkan berada dalam kategori sangat valid untuk diterapkan dalam pembelajaran sejarah tingkat SMK/SMA.Kata Kunci: Pengembangan, Media, Sparkol VideoScribeAbstractThe problem in history learning is the lack of use of learning media.The purpose of this research is to develop history learning media Sparkol VideoScribe. The research model being used is ADDIE development model. Data collection instruments are validation sheets for media experts, material experts, history teachers at SMK 4 Malang, and student eligibility questionnaires. The product produced is an animated video running image combined with music and dubbing accompaniment, which lasts for 14 minutes. The results of the media expert validation test showed an average percentage of 97%, the results of the material expert validation test showed an average percentage of 91%, the results of questionnaire trials from history teachers were 93%, and the population feasibility questionnaire tests for class X MM A showed an average percentage of 85%. It can be concluded that the results of validation tests by media expert, material expert, history teacher questionnaires, and population questionnaires for students of class X MM A show that the products developed are in a very valid category to be applied in the history learning at the vocational high school level.Keyword: Development, Media, Sparkol VideoScribe
PENGEMBANGAN BOOKLET FLIPBOOK MAKER PERAN K.H.R. AS’AD SYAMSUL ARIFIN DALAM PENERAPAN ASAS TUNGGAL PANCASILA UNTUK SISWA KELAS XII IPS 1 SMAN 1 SITUBONDO
SUMMARYPutri, Mely Oviani. 2019. The Development of FlipBook Maker Booklet in the Role of K.H.R As’ad Syamsul Arifin in Confirming the Pancasila as Single Guided for Students in Class XII IPS 1 SMAN 1 Situbondo. Thesis, History Department, Faculty of Social Sciences, Malang State University. Advisor: Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum. Keywords: media, flipbook maker booklet, K.H.R As’ad Syamsul ArifinThe focus of this research is the role of K.H.R As’ad Syamsul Arifin who is a local figure in Situbondo in Indonesia's national history. K.H.R As’ad Syamsul Arifin was awarded the title of National Hero because of his role in confirming Pancasila as Single Guided. But in reality, not many students in class XII IPS 1 of SMAN 1 Situbondo know the role of K.H.R As’ad Syamsul Arifin. This is known from the questionnaires distributed to students of class XII IPS 1 of SMAN 1 Situbondo at the preliminary research held on. One of the innovative learning media that can be used is the flipbook maker booklet. Booklet as learning media developed for local history’s learning in class XII IPS 1 at SMAN 1 Situbondo on the recommendation of teacher of historical subjects and principal based on Basic Competence 3.5.The purpose of this research is to produce learning media for students in the form of booklets and to find out the feasibility of learning media booklet "Role of K.H.R As’ad Syamsul Arifin in Confirming the Pancasila as Single Guided" in supporting political history material in the New Order era, especially local history. The research model used Sugiyono research and development with nine stages without conducting the mass production stage. The nine stages are potential and problems, data collection, product design and material, design validation and material, design and material revisions, product trials, product revisions, product usage trials, and product revisions.The booklet as learning media was developed with a preliminary structure, contents, and conclusions. The introduction contains instructions for use, table of contents, basic competencies, indicators, concept maps, and learning objectives. The contents section is packaged in several sub-material and a video on the inauguration of the single principle of Pancasila. The concluding section contains conclusions, evaluations, bibliography, and authors. The final product of the booklet is an application so that the display and size of the booklet can adjust the smartphone owned by the students. In the material validation process, the results was 95% and media validation was 88.8%. Based on this acquisition, the booklet media gets valid criteria but still needs to revised based on comments and suggestions from the validators. Then the small product trial scores results with a percentage of 96% and in the large group trials gets score of 93% is obtained. Based on these data, the booklet media gets effective criteria but revisions still need to be made based on comments and suggestions from students’ rating. The conclusion is that learning media booklets are very feasible and effective if used in learning history, especially local history. Researcher suggest that further researchers can innovate and enhance creativity in packaging material into an interesting historical learning media
UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SEJARAH MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KARIKATUR DAN METODE DISKUSI UNTUK SISWA KELAS XI IPS 5 SMAN 1 BAURENO KABUPATEN BOJONEGORO TAHUN AJARAN 2016/2017
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Jika materi yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan baik karena tidak ada daya tarik baginya. Bila seseorang siswa merasa tertantang dan memiliki minat yang besar untuk belajar sesuatu hal maka siswa akan terdorong agar berada pada kondisi yang memungkinkan dirinya untuk dapat menyalurkan minatnya dan berusaha menghilangkan atau mengabaikan faktor yang akan menghalanginya. Hal ini juga berlaku dalam pembelajaran sejarah.Penelitian ini bertujuan memberikan inovasi media pembelajaran sejarah guna meningkatkan minat siswa pada mata pelajaran sejarah yang memanfaatkan Karikatur dan Diskusi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa di SMAN 1 Baureno Kabupaten Bojonegoro. Untuk mengetahui dan menjelaskan minat siswa dengan pengunaan media Karikatur dan Metode diskusi dalam materi Membangun Jati diri Keindonesiaan. Mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XI IPS 5 Semester Ganjil SMAN 1 Baureno. Bertujuan untuk meningkatkan minat belajar pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Baureno. Penelitian ini menggunakan media Karikatur dan metode Diskusi, subyek penelitian yaitu siswa kelas XI IPS 5 SMAN 1 Baureno
PENGEMBANGAN MEDIA PAPAN PERMAINAN TREASURE HUNTER PADA MATERI SISTEM TANAM PAKSA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH INDONESIA DI SMAN 1 PURWOSARI
Media pembelajaran haruslah dapat menyesuaikan dengan karateristik peserta didik. Kurangnya pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran yang selaras dengan karakteristik peserta didik membuat ketidakfokusan peserta didik pada saat pembelajaran sejarah. Tujuan dari penelitian tersebut untuk menguji keefektifan media pembelajaran papan permainan Treasure Hunter dipadukan dengan materi sistem tanam paksa di Indonesia untuk peserta didik kelas XI SMAN 1 Purwosari. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan yang dikaji oleh Sugiyono. Hasil penelitian berdasarkan hasil validasi desain dan hasil uji coba menunjukan bahwa media pembelajaran papan permainan Treasure Hunter tergolong sangat valid atau sangat efektif untuk digunakan pada pembelajaran sejarah
Persepsi Guru Terhadap Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 dan 2 Kota Batu
ABSTRAK Aziz, Muhammad Rizky. 2019. Persepsi Guru Terhadap Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 dan 2 Kota Batu. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Ari Sapto, M.Hum Kata Kunci: Implementasi, Project Based Learning, Mata Pelajaran Sejarah, SMA Negeri 1 dan 2 Kota Batu Project Based Learning adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang mendorong inisiatif yang memfokuskan siswa pada dunia nyata, dan dapat meningkatkan motivasi mereka. Pelaksanaan pembelajaran model Project Based Learning dipengaruhi oleh persepsi guru terhadap pelaksanaan model pembelajaran Project Based Learning itus endiri. Dalam penelitian ini peneliti akan mendeskripsikan bagaimana persepsi guru sejarah tentang pelaksanaan Project Based Learning. Dengan melihat persepsi guru tentang pelaksanaan model pembelajaran tersebut,maka akan didapatkan bagaimana pelaksanaan Project Based Learning di kelas. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana implementasi model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 dan 2 Batu. (2) Bagaimana persepsi guru terhadap implementasi model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 dan 2 Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deksriptif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dengan informan, dan sumber data pendukung berupa dokumentasi. Pengolahan data menggunakan analisis reduksi data, sajian data dan verifikasi data. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Implementasi model Project Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Sejarah dimodifikasi dengan berbagai metode, teknik, dan sumber belajar yang tersedia di sekolah. Pelaksanaannya harus memperhatikan beberapa factor diantaranya karakteristik dan kemampuan pesertadidik, kompetensi dasar yang sesuai, ketersediaan waktu serta ketersediaan sumber belajar (2) Persepsi guru Sejarah di SMA Negeri 1 dan 2 Batu terhadap model pembelajaran Project Based Learning berpengaruh pada penggunaan model pembelajaran ini di dalam kelas. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru sebaiknya mampu mengatur waktu untuk mengalokasikan waktu pembelajaran dengan baik. Pengelolaan waktu yang baik dapat membantu pesertadidik dalam menyelesaikan setiap tahap-tahap proses pembelajaran, terutama dalam proses menyelesaikan tugas dengan model pembelajaran Project Based Learning. Selain itu, disarankan juga kepada pesertadidik agar dapat member dukungan penuh terhadap guru untuk mengembangkan berbagai variasi model pembelajaran yang diterapkan guru di dalam kelas. ABSTRACT Aziz, Muhammad Rizky. 2019. History’s Teacher Perception Toward Implementation of Project Based Learning Model on History Subject in Senior High School 1 and 2 of Batu City. Thesis, Department of History, Faculty of Social Sciences,State University of Malang. Advisor: Dr. Ari Sapto, M. Hum Keywords: Implementation, Project Based Learning, Historical Subjects, Batu City Public High School Project Based Learning is a student-centered learning model that encourages initiatives that focus students on the real world, and can increase their motivation. The implementation of the Project Based Learning model is influenced by teacher perceptions of the implementation of the Project Based Learning model itself. In this study the researcher will describe how the history teacher’s perception of the implementation of Project Based Learning. By looking at the teacher's perceptions of the implementation of the learning model, it will be obtained how to implement Project Based Learning in the classroom. The formulation of the problem in this study is (1) How is the implementation of the Project Based Learning model on historical subjects in Batu 1 and 2 SMA. (2) What is the teacher's perception of the implementation of the Project Based Learning model on history subjects in Batu City Senior High School. This study uses a qualitative approach with descriptive research design. The method of data collection in this study was carried out by techniques (1) observation, (2) interviews, and (3) documentation. Sources of data in this study were obtained from the results of interviews with informants, and supporting data sources in the form of documentation. Data processing uses analysis of data reduction, data presentation and data verification. The results of this study indicate that (1) Implementation of the Project Based Learning (PBL) model in History learning is modified by various methods, techniques, and learning resources available at school. The implementation must pay attention to several factors including the characteristics and abilities of students, appropriate basic competencies, time availability and availability of learning resources (2) Teachers' perceptions History in Batu City Senior High School on the Project Based Learning model influences the use of this learning model in class. Based on the results of this study, it is recommended that teachers should be able to set the time to allocate learning time well. Good time management can help students to complete each stage of the learning process, especially in the process of completing tasks with the Project Based Learning model. In addition, it is also recommended that students be able to give full support to the teacher to develop various variations of the learning model applied by the teacher in the classroom