SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1821 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA SEJARAH (MUSE) BERBASIS ANDROID MATERI SEJARAH LOKAL KAPTEN KASIHIN PADA POKOK BAHASAN AGRESI MILITER II UNTUK KELAS XI-MIPA 5 SMAN 1 PRAMBON KABUPATEN NGANJUK
RINGKASAN Pembelajaran sejarah sering kali dianggap pembelajaran yang membosankan dan terlalu banyak hafalan. Kurangnya inovasi dalam hal penyampaian pesan menjadi penyebabnya. Penyampaian pesan berkaitan dengan sebuah media pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji keefektifan media pembelajaran muse yang dipadukan dengan materi sejarah lokal perjuangan Kapten Kasihin di Nganjuk tahun 1948-1949 untuk peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Prambon. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pengembangan milik Sugiyono. Hasil penelitian saat dilakukan validasi dan uji coba tergolong sangat valid dan sangat efektif digunakan untuk pembelajaran sejarah
PERAN ORDO SANTA URSULA DALAM BIDANG PENDIDIKAN DI MALANG (1900-1942)
ABSTRACT Saint Ursula Order is one of the Catholic congregations that works in sector of education. Saint Ursula Order began their work in Indonesia from Batavia, then they spread to several regions, one of which was Malang. This congregation is the pioneer of Catholic education in Malang. This study aims to identify: (1) the historical background of Saint Ursula Order, (2) first arrival of the Saint Ursula Order in Malang, and (3) the role of Saint Ursula Order in education sector in Malang (1900-1942). The research method used is a historical method that includes title selection, heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of this study indicate that Saint Ursula Order has three several roles in education. These three roles have an influence on the development of the Saint Ursula Order in Malang, which can be seen in increasing number of students in 1900-1942, and relationship between the Saint Ursula Order and the community. Keywords: role, education, Saint Ursula Order. 
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAH MIND, ACQUIRE, SEARCH OUT, TRIGGER, EXHIBIT, REFLECT (MASTER) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS PESERTA DIDIK PADA MATAPELAJARAN SEJARAH INDONESIA
Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: pertama, kemampuan berpikir analitis peserta didik yang diajar menggunakan model pembelajaran MASTER. Kedua, mengetahui pengaruh model pembelajaran MASTER terhadap kemampuan berpikir analitis peserta didik di SMAN 1 Batu dalam pelajaran sejarah. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen kuantitatif, menggunakan pendekatan Pre-eksperimen dengan desain One Group Pretest-Posttest, dan dalam analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, kemampuan berpikir analitis kelas eksperimen meningkat sebesar 36%. Kedua, pengaruh penggunaan model pembelajran MASTER terhadap kemampuan berpikir analitis peserta didik sebesar 27%.Kata kunci: Pembelajaran sejarah, model pembelajaran MASTER, berpikir analitis Abstract The purpose of this study is to figured out: first, the analytical thinking ability of student in SMAN 1 Batu who are taught by MASTER learning model in history learning. Second, the influence of MASTER learning model towards the analytical thinking ability of student in SMAN 1 Batu on history learning. This research is a quantitative research experiment, using Pre-Experiment approach with One Group Pretest-Posttest Design and analysis of this research using simple liniear regression. The result of this research are: first analytical thinking ability of the experiment class increased significantly by 36%. Second the influence of MASTER learning model on students’ analytical thinking ability is 27%. Keywords: History learning, MASTER learning model, analytical thinkin
PERKEMBANGAN KOTA KANIGORO PASCA DITETAPKAN STATUS SEBAGAI PUSAT ADMINISTRASI PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR TAHUN 2004-2016
Abstrak Dalam perkembangan sejarah perkotaan di indonesia, terutama kota di daerah pedalaman keberadan suatu kota berawal dari kemunculan pusat pemerintahan yang berkembang menjadi kota. Adannya kebijakan pemerintah yang menetapkan Kanigoro sebagai pusat Administrasi Pemerintah Kabupaten Blitar membut Kanigoro berkembang menjadi sebuah kota. Dengan perubahan status Kanigoro sebagai pusat administrasi pemerintah Kabupaten Blitar menjadikan Kota Kanigoro berkembang dengan pesat. Kanigoro merupakan sebuah kota baru yang sedang berkembang karena adanya kebijakan politik pemerintah kabupaten Blitar dengan menetapkaan setatusnya sebagai Pusat Administrasi (Ibu Kota) Kabupaten Blitar. Pasca ditetapkan sebagai Pusat Administrasi Kabupan Blitar, segala aktivitas pelayanan publik terkait birokrasi Pemerintah daerah Kabupaten Blitar di pindahkan dari Kota Blitar ke Kota Kanigoro secara bertahap di karenakan sebagian sarana dan prasana masih dalam tahap pembangungan. Perpindahan Pusat Administrasi Kabupaten Blitar ke Kota Kanigoro bertampak terhadap perkembangan ekonomi dan perubahaan sosial masyakat Kota Kanigoro.Kata Kunci : Perkembangan, Kota, Kanigoro, Pusat Administrasi Pemerintah, Kabupaten Blitar ABSTRACT In the development of urban history in Indonesia, especially cities in rural areas and the existence of a city originated from the emergence of a central government that developed into a city. The existence of government policies that set Kanigoro as the administrative center of Blitar Regency made Kanigoro develop into a city. With the change in Kanigoro's status as the administrative center of Blitar Regency, Kanigoro City has developed rapidly. Kanigoro is a new city that is developing due to the political policies of the Blitar district government by establishing its status as the Central Administration (Capital) of Blitar Regency. After being established as the Blitar District Administration Center, all public service activities related to the bureaucracy of the Blitar Regency Government were moved from Blitar City to Kanigoro City in stages because some of the facilities and infrastructure were still in the development stage. The move of Blitar Regency Administration Center to Kanigoro City has an impact on the economic development and social changes of Kanigoro CityKey words : Development, City, Kanigoro, Central Government Administration, Blitar Regenc
PERUSAHAAN POS INDONESIA (KANTOR POS MALANG 2016-2018)
Abstrak PT Pos Indonesia merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki sejarah panjang, bahkan sudah dibentuk sebelum Negara Indonesia merdeka. Kantor Pos pertama didirikan di Batavia oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Setelah Pemerintah Kolonial memperluas wilayahnya, cabang Kantor Pos pertama ditempatkan di daerah sebagai sub divisi seperti Malang. Penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan pertumbuhan Kantor Pos di wilayah Malang. Sejak awal pendiriannya, Kantor Pos mengemban tugas untuk melayani publik, khususnya untuk menjamin keamanan dari surat-surat yang dikirim oleh penduduk. Dalam perjalanya, PT Pos Indonesia mengalami beberapa perubahan status, mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone), lalu diubah menjadi PN Postel (Peusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi), lalu diubah lagi menjadi PN Pos dan Giro dan PN Telekomunikasi akibat adanya pemecahan perusahaan, lalu disempurnakan menjadi Perum Pos dan Giro dan pada akhirnya menjadi PT Pos Indonesia.Kata kunci: Pos Indonesia, Kantor Pos, PTT, Telekomunikasi, Surat Abstract PT Pos Indonesia is one of the State Company that actually founded since the Dutch Colonial Period. The main post capitol office of this company was located in Batavia by the Governor General of Baron van Imhoff. After the Colonial state expand the territory beyond, the Post Office branch were set in regions as a sub division such as Malang. These research tried to describe the growth of Post Office in the region of Malang. From this inception, the Post Office assumed the task of serving the public, specifically to guarantee the security of letters sent by residents. PT Pos Indonesia underwent several status changes, starting from PTT (Post, Telegraph and Telephone), then changed to PN Postel (Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi), then it was changed again into PN Pos dan Giro and PN Telekomunikasi as a result of solving the company, and eventually it became PT Pos Indonesia.Keywords: Pos Indonesia, Post Office, PTT, Telecomunication, Lette
PENGGUNAAN BUKU CERITA BERGAMBAR PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IIS 2 SMAN 1 NGIMBANG LAMONGAN
ABSTRAKDaniswara, A. 2018. Penggunaan Buku Cerita Bergambar Peristiwa Sekitar Proklamasi untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IIS 2 SMAN 1 Ngimbang Lamongan. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Dewa agung gede agung, M.Hum., Kata Kunci: buku cerita bergambar, proklamasi, motivasi.Pada pendidikan di sekolah, guru berperan penting dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran di sekolah hendaknya didukung oleh kemampuan serta profesionalitas guru, seperti penyusunan RPP yang lebih tepat dan menarik. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran di kelas dirasa membutuhkan buku yang dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap matapelajaran sejarah karena buku yang selama ini digunakan oleh guru untuk mengajar hanya buku paket yang sebagian besar berisi teks saja, sehingga siswa merasa bosan terutama di jamjam menjelang siang. Guru cenderung hanya menggunakan sebuah buku yaitu buku paket. Solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah rendahnya motivasi siswa kelas XI IIS 2 di SMAN 1 Ngimbang Lamongan salah satunya dengan menggunakan sebuah buku cerita bergambar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui proses pembelajaran melalui penggunaan buku cerita bergambar peristiwa sekitar proklamasi dan dampaknya terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IIS 2 SMA Negeri 1 Ngimbang. Buku cerita bergambar ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas, data yang dikumpulkan adalah motivasi belajar siswa dengan menggunakan wawancara dan observasi. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan buku cerita bergambar peristiwa sekitar proklamasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa secara signifikan. Alasan gambar dapat meningkatan motivasi belajar karena gambar dapat menjelaskan pengertian-pengertian yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata, yaitu satu gambar sama nilainya dengan seribu kata. Untuk penggunaannya yaitu buku cerita bergambar dibagikan kepada siswa-siswi, selanjutnya siswa-siswi membaca materi sesuai dengan yang mereka pelajari pada pertemuan itu. Untuk hasil peningkatan motivasi belajar siswa dimana sebelum menggunakan buku cerita bergambar ini motivasi belajar siswa masih tergolong rendah yang dibuktikan dengan hasil observasi yang dilakukan oleh kedua observer yaitu perolehan skor rata-rata observasi/pengamatan sebesar 37.3%. hasil motivasi siswa sedikit demi sedikit meningkat pada siklus-siklus selanjutnya. Pada siklus satu pertemuan I perolehan skor rata-rata observasi/pengamatan sebesar 39.7%. pada siklus satu pertemuan II perolehan skor rata-rata observasi/pengamatan sebesar 52.25%. pada siklus dua pertemuan II perolehan skor rata-rata observasi/pengamatan sebesar 78,4%. Pada siklus dua pertemuan II perolehan skor rata-rata observasi/pengamatan sebesar 97.7%. ABSTRACTDaniswara, A. 2018. Use of A Picture Story Books on the theme of Indonesian Independence Proclamation to Increase the History Learning Motivation of Class XI IIS 2 Students of SMAN 1 Ngimbang Lamongan. Thesis, History Department, Faculty of Social Sciences, State University Malang. Advisor: Dr. Dewa Agung Gede Agung, M. Hum., Keywords: picture story book, proclamation, motivation. At schools, teachers played an important role in the learning process. The learning process in schools should be supported by the ability and professionality of teachers, such as the preparation of lesson plans more attractive and appropriate. The results of observations can be known that in the learning process in the classroom is considered need of books that can increase students' motivation towards historical subjects because the books which is used by teachers to teach only standard books which mostly contain only text,, so that students feel bored especially in after first break. Teachers tend to only use a book i.e. book package. solution that can be used to overcome the problem of low motivation grade XI IIS 2 students in SMAN 1 Ngimbang Lamongan is by using a picture storybook. This aim of this research is knowing the learning process through the use of picture storybooks on the theme Indonesian Independence proclamation and the impact on the learning motivation grade XI IIS 2 students of SMAN 1 Ngimbang. This picture storybook using a type of classroom action research, the data collected is student learning motivation using interviews and observation. The results of this study indicate that the use of picture storybooks on the theme Indonesian Independence Proclamation can significantly increase student motivation. The reason for the picture can be increased motivation to learn because picture can explain meanings that cannot be explained by words, that is, one image is worth a thousand words. To use it, picture storybook are shared with the students, then the students read the material according to they learned at the meeting. Results for the improvement of student learning motivation where before using this picture story book learning motivation of students still belongs to low as evidenced by the results of observations made by both the observer that is gaining an average score of observation /observation of 37.3%. the results of the motivation of student gradually increase on the next cycle-cycle. Cycle one meeting I gain an average score of observation / observation of 39.7%. At one meeting cycle II gaining an average score of observation / observation of 52.25%. On the cycle of the two meeting I obtaining an average score of observation of 78.4%. Cycle two meeting II gain an average score of observation / observation of 97.7%
Pengembangan Booklet Flipbook Maker Peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam Peneguhan Asas Tunggal Pancasila 1983-1984 untuk Siswa Kelas XII IPS 1 SMA Negeri 1 Situbondo
Pengembangan Booklet Flipbook Maker Peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam Penerapan Asas Tunggal Pancasila untuk Siswa Kelas XII IPS 1 SMA Negeri 1 Situbondo Mely Oviani Putri Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia Email: [email protected] RINGKASAN: Penelitian ini mengembangkan booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila untuk siswa kelas XII IPS 1 SMA Negeri 1 Situbondo. Menggunakan jenis penelitian dan pengembangan Research and Development (R&D). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sugiyono, dimulai dengan menemukan potensi dan masalah dan diakhiri dengan produksi akhir. Hasil dari uji coba produk menyatakan kelayakan produk 93%. Hasil itu menunjukkan bahwa media ini layak digunakan dalam pembelajaran sejarah. Keywords: K.H.R As’ad Syamsul Arifin, media, booklet Pendahuluan Sejarah adalah rekonstruksi masa lampau untuk membangun masa depan melalui masa lalu (Kuntowijoyo, 2013:13). Sejarah yang dipelajari masyarakat umum selama ini adalah sejarah nasional, belum banyak masyarakat yang mengetahui dari pentingnya sejarah dalam lingkup lebih sempit yaitu sejarah lokal. Peran sebenarnya merupakan bagian dari sejarah nasional, hanya saja ruang lingkup yang dibahas lebih sempit misalnya peristiwa sejarah perjuangan tokoh lokal yang ada di Kabupaten Situbondo. Perjuangan tokoh lokal yang ada di Kabupaten Situbondo ini dapat disebut sebagai peran dikarenakan hanya terjadi di satu tempat namun memiliki dampak yang besar dalam lingkup provinsi dan nasional. Ruang peran merupakan lingkup geografis yang dapat dibatasi sendiri oleh sejarawan dengan alasan yang dapat diterima oleh semua orang (Priyadi, 2012:7). Peran yang merupakan bagian dari sejarah nasional menjadi salah satu sumber penjelas dari keadaan di daerah tertentu pada saat terjadinya peristiwa yang bersifat nasional. Sebagai salah satu contohnya, peran K.H.R As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila dan kemudian Pemerintah mengeluarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan keikutsertaan secara aktif seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan masyarakat Pancasila berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dalam rangka menjamin pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa. Sayangnya, perjuangan yang dilakukan oleh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin belum banyak diketahui masyarakat secara umum terutama siswa sebagai generasi muda. Hal ini disebabkan karena tidak adanya media pembelajaran tentang peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila tahun 1983-1984, sehingga membuat siswa tidak mengetahui bahwa peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin pada masa Orde Baru. Berdasarkan dari permasalahan ini peneliti mengembangkan booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila untuk siswa kelas XII IPS 1 SMA Negeri 1 Situbondo. Pemilihan sekolah karena SMA Negeri 1 Situbondo adalah sekolah yang secara umum cukup baik di Situbondo selain itu siswa SMA Negeri 1 Situbondo boleh menggunakan smartphone android untuk keperluan belajar mengajar di dalam kelas. Metode Langkah-langkah dari model pengembangan Sugiyono yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan booklet flipbook maker adalah sebagai berikut: (1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk dan Materi, (4) Validasi Desain dan Materi, (5) Revisi Desain dan Materi (6) Uji Coba Produk (7) Revisi Produk (8) Uji Coba Pemakaian Produk, (9) Revisi Produk, (10) Produksi Akhir (Sugiyono, 2015:409). Oleh karena itu adanya penyesuaian dalam penelitian dan pengembangan maka peneliti memodifikasi dari langkah Sugiyono yang asli, peneliti memodifikasi sepuluh langkah yang telah dijabarkan oleh Sugiyono tersebut. Ketika penelitian dan pengembangan peneliti hanya berhenti pada produksi akhir tanpa produksi masal. Sebab dalam penelitian produk yang dibuat berbentuk softfile sehingga tidak perlu adanya produk masal. Dalam penggunaan masal cukup mengirim produk kepada peserta didik. Berikut ini langkah-langkah penelitian dan pengembangan dari Sugiyono yang telah dimodifikasi untuk acuan sebagai langkah penelitian dan pengembangan. Adapun bagannya sebagai berikut: Bagan 1 Langkah-langkah pengembangan model Sugiyono (2015:409) yang telah disesuaikan dengan kebutuhan. Hasil Analisa data berupa mengalisa data dalam uji coba produk yang telah digunakan. Data tersebut penting untuk mengetahui seberapa besar efektif dan berguna dalam proses pembelajaran sejarah dengan memanfaatkan produk berupa booklet flipbokk maker ini. Adapun rumus menurut Akhbar (2017:82) sebagai berikut: P= (∑x)/(∑x1) x 100% Adapun keterangan dari rumus tersebut adalah P= Persentase ∑x = Jumlah Jawaban validator dalam satu komponen ∑x1 = Jumlah Skor maksimum dalam satu komponen 100% = Konstanta Analisis data angket validasi digunakan untuk megetahui kelayakan dari media pembelajaran. Penentuan layak tidaknya media pembelajaran ini dapat dilihat dari tabel 1 berikut. Tabel 1 Kriteria Validalitas Menurut Ahli Tingkat Kriteria Keterangan 86%-100% Sangat Valid Sangat Baik digunakan 71%-85% Valid Boleh digunakan dengan revisi kecil 56%-70% Cukup Valid Boleh digunakan setelah direvisi besar 41%-55% Kurang Valid Tidak boleh digunakan 25%-40% Tidak Valid Tidak boleh digunakan (Sumber: Akbar, 2017: 78) Tabel 2 Kriteria Efektifitas Produk Menurut Siswa Tingkat Kriteria 81,00% - 100,00% Sangat Efektif 61,00% - 80,00% Cukup Efektif 41,00% - 60,00% Kurang Efektif 21,00% - 40,00% Tidak Efektif 00,00% - 20,00% Sangat Tidak Efektif (Sumber: Akbar, 2017: 78) Berdasarkan hasil validasi materi diatas mendapatkan nilai sebesar 72 dengan jumlah nilai ideal 76, selanjutnya data dihitung untuk mengetahui persentase nilai validasi materi. Berdasarkan rumus menghitung persentase data penilaian dan tanggapan dari ahli materi, menurut Akbar (2017:82), (∑x) menyatakan jumlah nilai dari ahli materi, (∑x1) menyatakan jumlah nilai ideal yang bisa dicapai. Perhitungan persentase yang diperoleh apabila jumlah nilai jawaban dibagi dengan jumlah nilai ideal, kemudian dibagi dengan konstanta sebesar 100%. Berikut perhitungan rata-rata persentasenya. P= (∑x)/(∑x1) x100% P= 72/76 x100% P= 0,95 x100% P= 95% Jadi, data kuantitatif prhitungan rata-rata persentase dari nilai validasi ahli materi adalah 95%. Hasil perhitungan tersebut yaitu pada aspek pnilaian pendahuluan mendapatkan nilai sebesar 12 dengan jumlah nilai ideal sebesar 12, pada aspek penilaian pebelajaran mendapatkan nilai sebesar 12 dengan jumlah nilai ideal sebesar 12, pada aspek penilaian isi mendapatkan nilai sebesar 41 dengan jumlah nilai ideal sebesar 44, pada aspek penilaian tugas/evaluasi mendapatkan nilai sebesar 7 dengan jumlah nilai ideal sebesar 8. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut digunakan untuk menghitung persentase materi pada media pembelajaran dilihat dari setiap aspek yang akan dipaparkan pada tabel 1 berikut ini. Tabel 3 Perhitungan Persentase Validasi Materi, Dilihat dari Berbagai Aspek Aspek Pendahuluan Aspek Pembelajaran P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 12/12 x 100% P= 1 x 100% P= 100% P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 12/12 x 100% P= 1 x 100% P= 100% Aspek Isi Aspek Tugas atau Evaluasi P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 41/44 x 100% P= 0,93 x 100% P= 93% P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 7/8 x 100% P= 0,87 x 100% P= 87% (Sumber: Analisis persentase dari hasil validasi materi, 2019) Hasil perhitungan persentase validasi materi menghasilkan persentase sebesar 95%. Dengan persentase sebesar 95% menunjukkan produk media pembelajaran sangat valid sesuai dengan kriteria validalitas (lihat tabel 1). Selain dari hasil penilaian yang diberikan dari validator materi dalam bentuk data kuantitatif, juga terdapat komentar dan saran yang diberikan oleh Lutfiah Ayundasari S.Pd., M.Pd selaku validator materi terkait dengan revisi materi. Selain melakukan validasi materi, peneliti juga melakukan proses validasi media kepada dosen Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, dari data validasi validasi media diatas mendapatkan nilai sebesar 64 dengan jumlah nilai ideal 72, selanjutnya data dihitung untuk mengetahui persentase nilai validasi media. Berdasarkan rumus menghitung persentase data penilaian dan tanggapan dari ahli media, menurut Akbar (2017:82), (∑x) menyatakan jumlah nilai dari ahli materi, (∑x1) menyatakan jumlah nilai ideal yang bisa dicapai. Perhitungan persentase yang diperoleh apabila jumlah nilai jawaban dibagi dengan jumlah nilai ideal, kemudian dibagi dengan konstanta sebesar 100%. Berikut perhitungan rata-rata persentasenya. P= (∑x)/(∑x1) x100% P= 64/72 x100% P= 0,88 x100% P= 88,8% Jadi, data kuantitatif prhitungan rata-rata persentase dari nilai validasi ahli materi adalah 88,8%. Selain data persentase dari hasil validasi juga dihitung nilai rata-rata persentase dari setiap aspek penilaian produk media pembelajaran oleh ahli media. Hasil perhitungan tersebut yaitu pada aspek penilaian fisik atau tampilan mendapatkan nilai sebesar 25 dengan jumlah nilai ideal sebesar 28, pada aspek penilaian pendahuluan mendapatkan nilai sebesar 12 dengan jumlah nilai ideal sebesar 12, pada aspek penilaian pemanfaatan mendapatkan nilai sebesar 11 dengan jumlah nilai ideal sebesar 12, pada aspek penilaian kualitas teknis aplikasi mendapatkan nilai sebesar 20 dengan jumlah nilai ideal sebesar 24. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut digunakan untuk menghitung persentase materi pada media pembelajaran dilihat dari setiap aspek yang akan dipaparkan pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2 Perhitungan Persentase Validasi Media, Dilihat dari Berbagai Aspek Aspek Fisik atau Tampilan Aspek Pendahuluan P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 25/28 x 100% P= 0,89 x 100% P= 89% P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 12/12 x 100% P= 1 x 100% P= 100% Aspek Pemanfaatan Aspek Kualitas Teknis Aplikasi P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 11/12 x 100% P= 0,91 x 100% P= 91% P= (∑x)/(∑x1) x 100% P= 20/24 x 100% P= 0,83 x 100% P= 83% (Sumber: Analisis persentase dari hasil validasi media , 2019) Hasil perhitungan persentase validasi media menghasilkan persentase sebesar 88,8%. Dengan persentase sebesar 88,8% menunjukkan produk media pembelajaran sangat valid sesuai dengan kriteria validalitas (lihat tabel 1) dan dapat diuji cobakan setelah revisi produk. Respon siswa pada uji coba awal kelompok kecil menunjukkan nilai yang cukup merata persentasenya. Hasil perhitungan memperlihatkan bahwa penilaian pada aspek fisik atau tampilan mendapatkan nilai 174 dengan persentase 96%, pada penilaian aspek pendahuluan mendapatkan nilai 71 dengan persentase 95%, pada penilaian pemanfaatan mendapatkan nilai 70 dengan persentase 97%, pada penilaian aspek kualitas teknis aplikasi mendapatkan nilai 172 dengan persentase 95%, pada penilaian aspek isi mendapatkan nilai 173 dengan persentase 96%, pada penilaian aspek tugas atau evaluasi mendapatkan nilai 67 dengan persentase 93%. Berdasarkan rumus menghitung persentase uji efektifitas dengan subjek uji coba awal kelompok kecil diperoleh persentase sebesar 96%. Sehingga secara mayoritas pada subjek uji coba kelompok kecil ini kriteria efektifitas produk media pembelajaran tergolong sangat efektif sesuai dengan kriteria efektifitas (lihat tabel 2). Data kualitatif didapatkan berdasarkan komentar dari subjek ujicoba produk (kelompok kecil) yang berjumlah 9 orang. Ada salah satu responden peserta didik atas nama Al Humam memberikan penilaian 75, penilaian tersebut menjadi penilaian terendah jika dibandingkan dengan kedelapan responden siswa lainnya yang memberikan diatas 80. Salah satu alasan dari rendahnya penilaian Al Humam adalah gambar dan foto kurang banyak dan terdapat kesalahan dalam penulisan di media pembelajaran, hal demikian diketahui dari pesan yang disampaikan pada bagian kritik dan saran yang disediakan di dalam instrumen angket uji coba efektifitas produk pada uji coba kelompok kecil. Setelah melakukan revisi uji coba kelompok kecil selanjutnya peneliti melakukan uji coba kelompok besar, respon siswa pada uji coba pemakaian kelompok besar menunjukkan jumlah nilai yang cukup merata persentasenya. Hasil perhitungan memperlihatkan bahwa pada penilaian aspek fisik atau tampilan mendapatkan nilai 578 dengan persentase 93%, pada penilaian aspek pendahuluan mendapatkan nilai 226 dengan persentase 91%, pada penilaian aspek pemanfaatan mendapatkan nilai 236 dengan persentase 95%, pada penilaian aspek kualitas teknis mendapatkan nilai 577 dengan persentase 93%, pada penilaian aspek isi mendapatkan nilai 587 dengan persentase 94%, sedangkan pada penilaian aspek tugas atau evaluasi mendapatkan nilai 229 dengan persentase 92%. Berdasarkan rumus menghitung persentase uji efektifitas dengan subjek uji coba pemakaian kelompok besar diperoleh persentase sebesar 93%. Dengan persentase sebesar 93% menunjukkan bahwa produk media pembelajaran tergolong sangat efektif sesuai dengan kriteria efektifitas (lihat tabel 2) sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Selain berdasarkan data yang berbentuk kuantitatif, terdapat data dalam bentuk kualitatif. Data kualitatif didapatkan berdasarkan komentar dari subjek ujicoba pemakaian (kelompok besar) yang berjumlah 31 orang. Selain data kuantitatif seperti diatas, dalam penelitian ini juga diperoleh data kualitatif dari catatan-catatan yang diberikan oleh siswa ketika mengisi angket masing-masing. Mayoritas siswa mengisi kritik dan saran yang hampir sama, ada juga yang memberikan dukungan kepada peneliti untuk mengembangkan produknya, memberikan pujian, memberikan saran mengenai materi dan aplikasi, dan ada juga yang memberi saran mengenai kekurangan produk peneliti. Pembahasan Pengembangan booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila memiliki tujuan untuk dapat digunakan siswa dan guru pada proses pembelajaran, karena selama ini belum ada media pembelajaran peran khususnya K.H.R. As’ad Syamsul Arifin. Menurut Angkowo & Kosasih (2007:34) media pembelajaran memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Media dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. Hasil dari uji coba produk (kelompok kecil) dan uji coba pemakaian (kelompok besar) di kelas XII IPS 1 SMAN 1 Situbondo menunjukkan hasil penilaian booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila yang baik. Hasil uji coba pemakaian kelompok kecil diperoleh persentase sebesar 96% sedangkan uji coba pemakaian kelompok besar diperoleh persentase sebesar 93% sehingga dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kualitas booklet flipbook maker sangat layak digunakan sebagai media pembelajaran sejarah. Materi yang dikembangkan dalam booklet flipbook maker juga dekat dengan lokasi belajar siswa. Menurut Widja (1989: 62) menyatakan, Dalam pengajaran sejarah, untuk membantu murid lebih memahami suatu peristiwa dengan lebih baik dan lebih menarik, tentu saja peninggalan sejarah itu akan sangat membantu guru sejarah dalam tugasnya, yang mana ini bisa dimengerti karena melalui jejak-jejak itu murid akan lebih mudah memvisualisasikan peristiwanya. Peneliti memilih booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila sebagai bentuk dari media pembelajaran yang dapat digunakan siswa dan guru pada saat pembelajaran berlangsung. Booklet flipbook maker dipilih sesuai dengan kondisi siswa yang belum mengetahui peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin sehingga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Selain itu diperbolehkannya penggunaan smartphone android untuk kegiatan pembelajaran mendukung penggunaan media booklet flipbook maker. Penggunaan media booklet flipbook maker sangat inovatif mengikuti perkembangan teknologi dan mudah dibawa kemana saja sehingga memudahkan siswa memahami sejarah lokalnya. Booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila sebagai media pembelajaran sejarah telah diuji dalam 4 tahap yaitu validasi materi (ahli materi), validasi media (ahli media), ujicoba produk (kelompok kecil), dan ujicoba pemakaian (kelompok besar). Hasil dari 4 tahap ujicoba tersebut menyatakan bahwa peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila layak digunakan sebagai media pembelajaran sejarah. Peneliti melakukan identifiksi Kurikulum 2013 untuk memenuhi tingkat kelayakan pada produk booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila 1983-1984. Menurut K13 materi peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila masuk pada kompetensi dasar 3.5 untuk kelas XII yang membahas tentang perkembangan kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa Orde Baru dengan sub materi pokok peran tokoh lokal K.H.R As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila 1983-1984. Peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila merupakan materi baru dan termasuk dalam materi peran di Kabupaten Situbondo. Dalam proses penulisan materi ini peneliti menggunakan prosedur penelitian sejarah dan menggunakan sumber-sumber yang relevan terkait materi tersebut, penyusunan materi dilakukan secara hati-hati supaya ketika pembaca terutama siswa tidak bingung dan menimbulkan maka ganda. Peneliti menyusun materi disesuaikan dengan kondisi dan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa terutama kelas XII. Berdasarkan dari hasil uji validasi materi didapatkan hasil bahwa booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila sangat layak digunakan sebagai materi pada media pembelajaran sejarah siswa tingkat SMA. Sedangkan untuk uji validasi media didapatkan hasil bahwa booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila sangat layak digunakan sebagai media pembelajaran sejarah belajar siswa tingkat SMA. Selain dari hasil validasi materi dan media, peneliti melakukan ujicoba produk (kelompok kecil) dan ujicoba pemakaian (kelompok besar) dari media pembelajaran sejarah. Ujicoba produk (kelompok kecil) dan ujicoba pemakaian (kelompok besar) didapatkan hasil bahwa tujuan dari pengembangan produk telah tercapai. Banyaknya siswa yang memberikan komentar positif dan menunjukkan ketertarikan terhadap booklet flipbook maker maka, siswa yang awalnya belum mengetahui peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila sudah mengetahui peran Pahlawan Nasional yang ebrasal dari Situbondo tersebut. Kesimpulan Gelar pahlawan diberikan untuk menghargai dan memberikan kehormatan yang tinggi atas jasa-jasa yang luar biasa yang semasa hidupnya ketika masa Orde Baru K.H.R As’ad Syamsul Arifin sebagai peneguh asas tunggal Pancasila. Tidak tersedianya media pembelajaran tentang tokoh lokal K.H.R As’ad Syamsul Arifin membuat siswa tidak mengetahui peran K.H.R As’ad Syamsul Arifin, umumnya pengetahuan siswa sebatas K.H.R As’ad Syamsul Arifin sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Oleh karena itu peneliti mengembangkan booklet flipbook maker peran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan asas tunggal Pancasila untuk siswa kelas XII IPS 1 SMA Negeri 1 Situbondo. Pada proses validasi, diperoleh hasil validasi materi sebesar 95% dan hasil validasi media sebesar 88,8%. Berdasarkan data kualitatif mendapatkan kriteria valid namun masih perlu melakukan revisi berdasarkan komentar dan saran dari validator. Kemudian pada uji coba produk kecil memperoleh 96% dan memperoleh 93% pada kelompok besar. Berdasarkan data kualitatif mendapatkan kriteria efektif namun masih perlu dilakukan revisi berdasarkan komentar dan saran dari penilaian siswa. Kesimpulannya yaitu tujuan penelitian ini telah terbukti dengan dihasilkannya media pembelajaran booklet dan media pembelajaran booklet telah valid dan efektif digunakan dalam pemebelajaran sejarah. Saran bagi pengembang lainnya serta melakukan inovasi dan meningkatkan kreativitas dalam mengemas materi menjadi bahan ajar yang menarik. Saran Saran Pemanfaatan Produk Pemanfaatan dikelas secara individu sangat efektif sehingga siswa lebih fokus dan tidak bersenda gurau dengan siswa yang lainnya, sehingga waktu pembelajaran sejarah lebih efisien. Selain itu media pembelajaran ini diharapkan mampu menjadi perantara antara guru dengan siswa dalam kegiatan pembelajaran, sehingga dengan begitu tujuan pembelajaran dapat tercapai. Saran Deseminasi Produk Dalam pengembangan produk media pembelajaran ini agar dapat digunakan dengan skala besar baik secara kelompok maupun individu agar mengetahui informasi terkait produk media pembelajaran ini beberapa hal yang perlu dilakukan misalnya: Penyebaran informasi dapat dilakukan dengan adanya guru matapelajaran sejarah dengan siswa. Dalam tahap pengenalan terhadap media pembelajaran perlu dilakukan memberitahukan ataupun menginformasikan bahwa media pembelajaran booklet flipbook maker hanya dapat digunakan oleh siswa kelas XII IPS 1 SMAN 1 Situbondo pada matapelajaran sejarah Indonesia materi perkembangan kehidupan politik dan ekonomi pada masa Orde Baru dengan sub tema peran tokoh lokal K.H.R As’ad Syamsul Arifin dalam peneguhan Asas Tunggal Pancasila 1983-1984. Saran Pengembangan Produk Lebih Lanjut Meskipun presntase dan keefektifan produk media pembelajaran booklet flipbook maker tergolong sebagai produk media pembelajaran yang sangat efektif dan sangat vilid, bukan berarti produk ini dikatakan sempurna tanpa perbaikan, namun tidak menutup kemungkinan memiliki kekurangan. Hal demikian dikarenakan terus berkemban
Pemanfaatan Museum Kambang Putih untuk Sarana Belajar Sejarah bagi Siswa di Kota Tuban
Pemanfaatan Museum Kambang Putih untuk Sarana Belajar Sejarah bagi Siswa di Kota TubanWhan Maria Ulfa Universitas Negeri MalangE-mail: [email protected] ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi serta faktor-faktor pedukung dan penghambat pemanfaatan Museum Kambang Putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi dan suasana lingkungan museum yang terbilang cukup nyaman dan dapat membantu siswa memenuhi tugas ataupun tujuan mereka dalam belajar sejarah. Kata kunci: Museum, Sarana, Belajar Sejarah, SiswaKota Tuban adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang terletak di pantai utara Jawa Timur. Kabupaten dengan jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa ini terdiri dari 20 kecamatan dan beribukota di kecamatan Tuban. Tuban mempunyai letak yang strategis, yakni di perbatasan provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan dilintasi oleh Jalan Nasional Daendels di pantai utara. Pusat pemerintahan Kota Tuban terletak 101 km sebelah barat laut Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur dan 215 km sebelah timur Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, pada jaman dahulu Tuban dijadikan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit dan menjadi salah satu pusat perdagangan. Dalam perkembanganya, Tuban menjadi sebuah kota yang sangat maju baik dibidang industri maupun kelautan, disini pengertian dari sebuah kota menurut Zahund (2006:1) “Kota adalah salah satu ungkapan kehidupan manusia yang mungkin paling kompleks”.Kota Tuban juga terkenal sebagai salah satu pelabuhan penting pada zaman kerajaan Majapahit di mana banyak sekali kapal-kapal dagang dari Monggol bersandar untuk menaik turunkan barang dan menjadi komoditas perdagangan pada masa itu, dengan ini kota Tuban juga banyak sekali ditemukan keramik-keramik dan benda-benda peninggalan kapal Monggol yang ditemukan di sekitar pelabuhan kota Tuban. Karena begitu banyaknya benda bersejarah yang ditemukan, pemerintah kota Tuban sepakat membuat sebuah museum daerah yang nantinya dapat menampung benda-benda tersebut dan dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat kota Tuban.Tak banyak daerah yang memiliki museum sebagai kepedulian untuk menjaga dan menyimpan benda-benda sejarah dan purbakala yang ditemukan di daerahnya. Walau tampak sederhana, kepedulian untuk membangun museum itu patut diapresiasi karena dari museum itu kita bisa menyimak jejak peradaban pada masa lampau. Salah satunya adalah Museum Kambang Putih yang berada di Kota Tuban, Jawa Timur. Museum Kambang Putih awalnya berada di dalam kompleks Pendopo Krido Manunggal yang diresmikan Gubernur Jawa Timur Wahono pada tanggal 25 Agustus 1984. Benda-benda koleksi Museum Kambang Putih tersebut ditempatkan dalam ruangan-ruangan yang berbeda sesuai dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti ruangan Ethnografi, Kesenian, Numismatik dan sebagainya. Diantara benda-benda koleksi museum itu terdapat beraneka macam Fosil, Kapak Batu dan Kapak Perunggu, Nekara, dan sebagainya. Dalam hal ini museum akan dilihat pemanfaatannya sebagai sarana belajar bagi siswa yang ingin lebih mengenal dan belajar sejarah, dengan ini bisa sedikit memberi solusi model pembelajaran yang lebih inovatif terhadap siswa supaya siswa tidak cenderung merasa bosan dengan model dan cara guru mengajar. Sedangkan dalam pendidikan sering kita mengenal beberapa pendapat yang menyangkut tentang kegiatan belajar mengajar di kelas.Belajar adalah suatu proses usaha yang ditandai dengan adanya perubahan sebagai hasil proses belajar mengajar ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kemampuan, serta perubahan aspek lainnya (Slameto 1988:2). Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan kondisional dalam belajar supaya tercapai pembelajaran yang kondusif. Hal ini berkaitan dengan proses mengajar yang dilakukan oleh guru. Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks karena kegiatan mengajar menyangkut proses penciptaan lingkungan belajar, baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa agar dapat terjadinya proses belajar yang baik dan berkualitas. Sarana belajar menurut Sanjaya (2010 : 18) “Sarana belajar adalah segala sesuatu yang mendukung terhadap kelancaran proses pembelajaran”. Dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana belajar sekolah sangat penting dalam proses pembelajaran untuk mendukung jalannya proses pembelajaran. Dengan berbagai macam sarana dan prasarana belajar sekolah yang tersedia dan pemanfaatan yang dapat menunjang kegiatan belajar tentunya akan membantu siswa dalam belajar baik di rumah maupun di sekolah.Peneliti memilih Museum Kambang Putih untuk dijadikan tempat penelitian karena museum ini merupakan museum daerah yang cukup besar dan lengkap koleksinya. Selain itu, peneliti juga ingin mengungkap apa alasan museum sebesar ini kurang begitu terkenal di kalangan siswa SMA di daerah perbatasan kota Tuban.Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan Museum Kambang Putih, kegiatan yang dikaukan museum hingga bagaimana pihak museum membantu proses pembelajaran sejarah. Ketika telah diketahui permasalahannya, faktor apa penyebabnya dan upaya penanganannya dan dari penelitian ini diharapkan museum menjadi lebih baik lagi karena pada dasarnya museum tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang mengumpulkan dan memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah perkembangan kehidupan manusia dan lingkungan, tetapi merupakan suatu lembaga yang mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan dan pengembangan nilai budaya bangsa guna memperkuat kepribadian dan jati diri bangsa, mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, serta meningkatkan rasa harga diri dan kebanggaan nasional. Oleh karena itu, museum dapat berguna sebagai sumber sejarah yang digunakan dalam dunia pendidikan, baik pada pendidikan dasar, menengah, ataupun pendidikan tinggi, dan sejarah memiliki fungsi-fungsi tertentu.Banyak sekali dari kalangan siswa dan guru yang tertarik datang ke museum tapi kendalanya adalah datang dari pihak sekolah yang memang kesulitan dari bebagai faktor terutama kendaraan dan perizinan dari sekolah. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat penelitian yang berjudul “Pemanfaatan Museum Kambang Putih untuk Sarana Belajar Sejarah bagi Siswa di Kota Tuban”. METODEPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena berusaha memperoleh data variabel dan non variabel yang secara potensial dapat dianalisis untuk mendapatkan makna dan informasi. Menurut Milles dan Huberman (1992:1-2) “penelitian kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandaskan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat”. Dengan data kualitatif kita dapat mengikuti dan memahami alur peristiwa secara kronologis, menilai sebab-akibat dalam lingkup pikiran orang-orang setempat, dan memperoleh penjelasan yang banyak dan bermanfaat. Sedangkan pengertian penelitian kualitatif menurut Moleong (2005:6) menyebutkan “penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks kusuwers yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah”.Kehadiran penelitian di sini adalah sebagai pengamat. Dalam hal ini yang diamati adalah Museum Kambang Putih, kemudian sebagai agenda yang akan dilakukan peneliti datang secara langsung ke lokasi penelitian yakni Museum Kambang Putih dengan menggunakan instrumen pembantu yang nantinya dapat melengkapi sumber data, dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai observer dan pengumpul data yang dilakukan dalam situasi yang sesungguhnya. Dalam tahap ini peneliti melakukan kegiatan pelaksanaan penelitian yang meliputi tahap pelaksanaan, observasi, dan wawancara.Tahap pelaksanaan kegiatan penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing dan pihak museum yang dimulai tanggal 21 Desember 2017. Pada tanggal ini peneliti melakukan survey lokasi dan meminta permohonan izin pada pihak museum untuk melakukan penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan wawancara pertama dengan pihak museum, setelahnya penelitian berlanjut tanggal 9 Januari hingga tanggal 20 Januari. Penulis mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil penelitian kemudian melakukan analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan, mulai dari memahami situasi dan peristiwa di lapangan kemudian pernyataan dari informan-informan terkait data yang menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan. TEMUAN HASIL PENELITIANBerdasarkan paparan data dari hasil penelitian tersebut, dapat diketahui kondisi Museum Kambang Putih, faktor pendukung dan faktor penghambat pemanfaatan Museum Kambang Putih sebagai sarana belajar sejarah siswa di kota Tuban sebagai berikut. 1. Kondisi Museum Kambang Putih Hasil dari kegiatan penelitian yang terdiri dari observasi dan wawancara, peneliti mendapatkan hasil yang cukup bagus. Dari beberapa pandangan pengunjung dan kebanyakan orang menganggap museum ini sangat bagus untuk dijadikan tempat atau sarana pembelajaran non formal bagi siswa dan dengan adanya museum ini sendiri sesungguhnya membantu para guru untuk lebih menjadi inovatif lagi dalam mencari model dan metode pembelajaran. Karena dengan adanya museum ini siswa jadi merasa lebih santai dan tidak terlalu tegang saat menerima pelajaran terutama pelajaran sejarah yang kebanyakan dari para siswa justru membencinya karena membosankan dan tidak jauh-jauh dari membaca buku dan mengerjakan LKS semata. Dengan adanya museum anak-anak diharapkan dapat lebih mengerti dan mudah dalam belajar dengan mereka melihat bukti dan contoh bendanya secara langsung jadi mereka dapat memahami apa yang dijelaskan dan dimaksud gurunya selama ini. Selain itu museum banyak juga menerima kunjungan dari luar kota dan bahkan mereka lebih antusias dibandingkan masyarakat yang ada di daerahnya sendiri. Hal ini lah yang mengakibatkan keberadaan museum ini sempat dipertanyakan oleh masyarakat di daerah perbatasan kota Tuban. 2. Faktor–faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pemanfaatan Museum Kambang Putih sebagai Sarana Belajar Sejarah Siswa di Kota Tuban a. Faktor PendukungBerdasarkan hasil Observasi yang dilakukan peneliti pada saat kegiatan proses pemanduan terhadap pengunjung Museum Kambang Putih diperoleh informasi yang berkaitan dengan faktor pendukung pemanfaatan museum yang menjadikan museum menjadi lebih baik lagi yaitu diadakannya pameran dan diskusi bersama yang dilakukan pihak museum guna membekali para petugas yang memang tidak dari bidang sejarah. Di sini terdapat dua indikator yang dapat diamati secara langsung oleh peneliti dalam kegiatan observasi dan wawancara di museum selama kegiatan berlangsung. 1) PameranPameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara peneliti dapat diketahui faktor pendukung perubahan museum ini adalah adanya kegiatan pameran dan diskusi bersama. Museum selalu melakukan pameran guna mengenalkan koleksinya kepada masyarakat luas bahwa museum memiliki beragam koleksi yang bagus dan juga dapat menunjukan kualitas museum. 2) Diskusi Bersama Untuk refleksi, Museum Kambang Putih memiliki cara tersendiri yang berbeda dari museum manapun karena pada dasarnya beberapa petugas museum memang bukan murni dari kalangan atau lulusan sejarah, jadi ketika ada mahasiswa yang melakukan magang atau penelitian yang sekiranya memakan waku lama, pihak museum sepakat untuk mengadakan diskusi bersama yang diadakan setiap ada waktu luang dengan tema sesuai mata perkuliahan yang telah ditempuh mahasiswa/mahasiwi yang tengah menjalani magang di museum. Disini ada dua perbedaan ketika mahasiswa magang dengan program studi yang berbeda yang satu memang dari golongan ilmu murni dan satunya dari pendidikan. Untuk yang ilmu murni mereka cenderung menjelaskan tentang materi-materi yang memang berkaitan dengan museum bagaimana cara membedakan benda dan beberapa hal yang memang lebih rinci membahas museum, tetapi untuk yang pendidikan mereka lebih memfokuskan bagaimana cara menangani pengunjung. b. Faktor Penghambat Peneliti menemukan permasalahan bahwasanya memang lokasi museum saat ini sangatlah strategis dan mudah untuk dikunjungi, tetapi memang permasalahan dasarnya adalah museum yang berdekatan dengan Makam Sunan Bonang yang megakibatkan banyaknya pedagang asongan dan becak yang ada di sekitar museum, sesungguhnya becak ini sudah sangat mengganggu sebab mereka berjajar hingga menutupi depan pintu gerbang museum yang akhirnya ketika ada yang ingin melakukan kunjungan menjadi kesulitan karena tidak tahu harus masuk dari arah mana. Pihak museum sendiri sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan dan kedisiplinan kota Tuban tapi sampai sekarang tidak ada perubahan dan masih saja becak selalu berjajar di depan pintu museum. Museum sudah berupaya untuk merubah lokasi supaya dapat dikenali dan mempermudah akses tetapi dari sini permasalahan semakin timbul dengan banyaknya peziarah dan becak yang semakin padat parkir di depan museum. Terkadang pihak keamanan dalam hal ini bukan polisi melainkan tentara yang dengan suka rela menertibkan becak-becak tersebut supaya memberikan akses masuk kepada pengunjung. Tapi itupun tidak bertahan lama hanya mungkin satu hari saja dan hari berikutnya tetap sama mereka masih saja menutupi pintu masuk dari museum dan akibatnya ketika pihak museum ingin keluar masuk untuk pengiriman surat dan lain-lain agak kesusahan karena terlebih dahulu harus membunyikan klakson dan menunggu beberapa saat sampai becak memberikan sedikit celah untuk keluar. Sesungguhnya permasalahan becak ini sendiri bukan terjadi di museum saja tetapi di depan hotel dan rumah warga pun sama, banyak sekali antrian becak yang memenuhi hampir separuh jalan raya dan memblokir pintu masuk karena mereka memang berlomba-lomba mendapatkan penumpang yang rata-rata adalah peziarah dari makam Sunan Bonang yang letaknya persis di sebelah Museum Kambang Putih. PEMBAHASAN1.Kondisi Museum Kambang Putih sebagai Sarana Belajar Sejarah Siswa di Kota Tuban.Museum memang dikenal sebagai tempat pembelajaran kedua setelah sekolahan dan merupakan tempat pembelajaran non formal, dengan adanya museum model pembelajaran sejarah menjadi lebih inovatif karena pada dasarnya pembelajaran sejarah yang dilakukan di sekolah cenderung kurang diminati dan terkadang banyak siswa yang menyepelekan pelajaran tersebut karena dianggap tidak penting dan membosankan. Karena pada dasarnya siswa menginginkan model pembelajaran yang inovatif dan beragam. Mereka membutuhkan perhatian lebih akan pembelajaran terutama sejarah yang memang susah dibuktikan secara langsung dan hanya berbekal buku dan materi seadanya tidaklah cukup memenuhi kebutuhan belajar siswa, hal ini sesuai dengan pendapat Desmita (2014:59) “seorang guru perlu memahami jenis dan tingkat kebutuhan peserta didiknya sehingga dapat membantu dan memenuhi kebutuhan mereka melalui aktivitas kependidikan termasuk proses pembelajran”.Banyak sekali kasus siswa yang memang disetiap pembelajaran sejarah berlangsung mereka akan cenderung malas dan tidak mau mendengarkan. Ditambah dengan cara mengajar guru yang monoton hanya menghafal dan mengerjakan tugas saja. Ada banyak sekali permasalahan tentang pembelajaran sejarah serta cara pengajaran sejarah pun perlu diperhatikan, hal ini sesuai dengan pendapat Hariyono (1995:143) yang menyatakan bahwa “pengajaran di sekolah selama ini sering dilakukan kurang optimal. Pelajaran sejarah seolah sangat mudah dan digampangkan. Banyak pendidik yang tidak berlatar belakang pendidikan sejarah terpaksa mengajar di sekolah”.Di daerah Tuban sendiri ada sebuah museum yang terkenal di kalangan siswa dan masyarakat kota Tuban yaitu Museum Kambang Putih dimana museum ini banyak menyuguhkan koleksi benda-benda kuno yang dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran. Benda-benda itu ditempatkan dalam tempat pajangan yang berbeda sesuai dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti Numismatik, Etnografi, Arkeologi, dan lain-lain. Dengan kondisi dan suasana lingkungan yang terbilang nyaman diharapkan dapat membantu siswa memenuhi tugas ataupun tujuan mereka dalam belajar sejarah dan dalam hal ini pihak museum selalu terbuka menerima siapapun terutama dari pihak sekolah yang ingin melakukan kegiatan pembelajaran di museum dengan model pembelajaran apapun, museum siap menyediakan yang dibutuhkan siswa maupun guru guna membantu jalannya peroses belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne dalam Dimyanti (2013:10) ”belajar adalah kegiatan yang kompleks dimana hasil belajar berupa kapabilitas sehingga setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (1) stimulus yang berasal dari lingkungan, dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajaran.” Oleh sebab itu bisa kita simpulkan bahwa dengan adanya Museum Kambang Putih ini dapat membantu meningkatkan pengetahuan belajar. 2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pemanfaatan Museum Kambang Putih sebagai Sarana Belajar Sejarah Siswa di Kota Tuban.Ada beberapa permasalahan yang memang dialami Museum Kambang Putih bukan hanya permasalahan dari luar saja permasalahan dari dalam pun juga membuat museum sedikit kerepotan. Ada beberapa faktor pendukung dan faktor penghambat kinerja Museum Kambang Putih diantaranya: a. Faktor-faktor pendukung 1) PameranMuseum selalu melakukan pameran guna mengenalkan koleksinya kepada masyarakat luas bahwa museum memiliki beragam koleksi yang bagus dan juga dapat menunjukan kualitas museum. Pameran yang setiap tahun diikuti museum adalah di Taman Mini Jakarta dan hanya Museum Kambang Putih satu-satunya museum dari daerah Jawa Timur yang berani berangkat ke Taman Mini terhitung sudah empat kali museum mengikuti pmeran di sana. Untuk biaya museum menggunakan dana pribadi karena pihak penyelenggara tidak mau menanggungnya. Tidak hanya itu saja, Museum Kambang Putih juga pernah mengikuti beberapa pameran yang dimulai dari Jawa Timur yaitu di Royal Plaza Surabaya, IMM “Internasional Museum Mart” di Semarang Jawa Tengah, Universitas Sebelas Maret di Solo, dan yang terakhir di Kudus yang mengadakan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Ketika museum ingin mengikuti pameran, pihak museum melihat ruang lingkup tema dari acara tersebut dan tidak asal-asalan ingin memamerkan koleksinya. Dengan kegiatan pameran rutin ke Jakarta, museum dapat mengenalkan dan menjaring minat masyarakat bahwa di Jawa Timur tepatnya di Tuban terdapat museum yang layak untuk dikunjungi. Hal ini sesuai dengan pendapat Fred E. Hahn dan Kenneth G. Mangun, (1999: 16) yang mengatakan bahwa “pameran adalah sarana pemasaran yang paling efektif untuk melakukan kampanye, baik kampanye pengenalan produk atau sosialisasi program suatu perusahaan. Secara terperinci, pameran dapat berfungsi untuk memamerkan, menyampaikan informasi dan keunggulan suatu produk ke masyarakat sebagai target audiensnya, sekaligus sebagai upaya meningkatkan penetrasi pasar”. 2) Diskusi BersamaDalam menjalankan diskusi bersama ini, museum dapat belajar dari dua pandangan ketika mendapat mahasiswa penelitian dari dua program studi yang berbeda. Satu dari ilmu sejarah murni dan satu lagi pendidikan sejarah. Dalam hal ini ketika yang menjadi pemateri adalah mahasiswa ilmu, pihak museum dapat belajar lebih dalam mengenai benda dan koleksi-koleksi bersejarah yang mungkin mereka belum ketahui dan untuk pemateri dari mahasiswa pendidikan museum juga dapat belajar bagaimana cara menangani pengunjung dan mengetahui nilai dan karakter belajar seseorang karena memang sebagian besar pengunjung dari kalangan pelajar jadi bukan hanya ilmu sejarah saja yang diperlukan tapi pengetahuan akan pendidikan juga penting. 2. Faktor-faktor penghambatBanyaknya barisan becak di depan museum mengakibatkan para pengunjung kesulitan menemukan di mana letak museum, itu karena fokus mereka beralih ke barisan becak yang parkir di depan museum. Untuk menangani masalah itu, pihak museum pun juga sudah menghubungi pihak terkait sebagai pemangku jalan Departemen Perhubungan, dan pemagku jalan untuk menangani penertiban tapi tindakan kelanjutanya mungkin belum dilaksanakan. Dan dengan adanya becak ini banyak masyarakat yang justru tidak tahu akan adanya museum. PENUTUPKesimpulanKondisi Museum Kambang Putih ini banyak menyuguhkan koleksi benda-benda kuno yang memang dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran. Benda-benda itu ditempatkan dalam deretan lemari kaca yang berbeda sesuai dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti Numismatik, Etnografi, Arkeologi, dan lain-lain. Dengan kondisi dan suasana lingkungan yang terbilang nyaman diharapkan dapat membantu siswa memenuhi tugas ataupun tujuan mereka dalam belajar sejarah dan dalam hal ini pihak museum selalu terbuka menerima siapapun terutama dari pihak sekolah yang ingin melakukan kegiatan pembelajaran di museum dengan model pembelajaran apapun, museum siap menyediakan yang dibutuhkan siswa maupun guru guna membantu jalanya peroses belajar. Fasilitas yang disuguhkan museum seperti halnya biaya masuk yang gratis, petugas dan pemandu museum yang ramah dan banyaknya jenis koleksi yang disuguhkan dan diatur sesuai urutan masa yang paling tua hingga masa kini, hal itu cukup menjadikan museum sebagai tempat atau sarana pembelajaran sejarah di kota Tuban.Faktor pendukung yang pertama adalah pameran, museum selalu melakukan pameran guna mengenalkan koleksinya kepada masyarakat luas bahwa museum memiliki beragam koleksi yang bagus dan museum juga dapat menunjukkan kualitasnyaFaktor Pendukung yang ke dua adalah di
UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SEJARAH MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KARIKATUR DAN METODE DISKUSI UNTUK SISWA KELAS XI IPS 5 SMAN 1 BAURENO KABUPATEN BOJONEGORO TAHUN AJARAN 2016/2017
UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SEJARAH MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KARIKATUR DAN METODE DISKUSI UNTUK SISWA KELAS XI IPS 5 SMAN 1 BAURENO KABUPATEN BOJONEGORO TAHUN AJARAN 2016/2017Eric Syahrul AkbarProdi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri MalangAkbar, Eric Syahrul. 2017. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Sejarah Melalui Penggunaan Media Karikatur dan Metode Diskusi Untuk Siswa Kelas XI IPS 1 SMAN 1 Baureno Kabupaten Bojonegoro Tahun Ajaran 2016/2017. Progam Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Ari Sapto, M.Hum dan Indah Wahyu Puji Utami, S.Hum, S.Pd, M.Pd.Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Jika materi yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan baik karena tidak ada daya tarik baginya. Bila seseorang siswa merasa tertantang dan memiliki minat yang besar untuk belajar sesuatu hal maka siswa akan terdorong agar berada pada kondisi yang memungkinkan dirinya untuk dapat menyalurkan minatnya dan berusaha menghilangkan atau mengabaikan faktor yang akan menghalanginya. Hal ini juga berlaku dalam pembelajaran sejarah.Penelitian ini bertujuan memberikan inovasi media pembelajaran sejarah guna meningkatkan minat siswa pada mata pelajaran sejarah yang memanfaatkan Karikatur dan Diskusi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa di SMAN 1 Baureno Kabupaten Bojonegoro. Untuk mengetahui dan menjelaskan minat siswa dengan pengunaan media Karikatur dan Metode diskusi dalam materi Membangun Jati diri Keindonesiaan. Mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XI IPS 5 Semester Ganjil SMAN 1 Baureno. Bertujuan untuk meningkatkan minat belajar pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Baureno. Penelitian ini menggunakan media Karikatur dan metode Diskusi, subyek penelitian yaitu siswa kelas XI IPS 5 SMAN 1 Baureno. Kata kunci: Meningkatkan Minat, Media Karikatur, Metode Diskusi.Akbar, Eric Syahrul. 2017. Efforts to Increase Interest in Learning History Through the use of Media Caricature and Methods Discussion For Student Class XI IPS 1 SMAN 1 Baureno Bojonegoro Academic Year 2016/2017. Study Programme of History Education. History Department. Faculty of Social Science. University of Malang. Advisor: Dr. Ari Sapto, M.Hum dan Indah Wahyu Puji Utami, S.Hum, S.Pd, M.Pd.Keywords: Increases Interests, Media Caricature, Method Discussion.Interest is the tendency remains to notice and remember some of the activities. Activities that interest students, attention is constantly accompanied by a sense of fun and gained a sense of satisfaction. If the material being studied is not in accordance with the interests of students, then students will not learn well because there is no appeal for him. When someone students feel challenged and have a great interest in learning something that the students will be encouraged to be in a condition that allows him to be able to channel their interests and try to eliminate or ignore factors that will hinder. This is also true in the teaching of history.This study aims to provide innovative instructional media history in order to increase student interest in history courses that utilize Caricature and discussion that can be used by teachers and students at SMAN 1 Baureno Bojonegoro. To identify and explain the interests of students with the use of media caricature and discussion Method in Building materials Indonesianness identity. History Indonesia subjects XI IPS 5 SMAN 1 Baureno Odd Semester. Aims to increase interest in learning on the subjects of history class XI IPS SMAN 1 Baureno. This study uses a caricature of media and methods of discussion, research subjects are students of class XI IPS 5 SMAN 1 Baureno.Keywords: Increases Interests, Media Caricature, Method DiscussionMinat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2010:57). Jika materi yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan baik karena tidak ada daya tarik baginya. Hal ini didukung oleh pendapat Walgito (2004:38) minat adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang memiliki perhatian yang besar terhadap sesuatu objek yang disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari hingga akhirnya membuktikan lebih lanjut tentang objek tersebut. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan berminat, jika memiliki beberapa unsur, antara lain sikap, ketertarikan, kemauan, dorongan dan ketekunan.Rendahnya minat belajar akan menyebabkan siswa kesulitan dalam belajar. Menurut Syah (2013:163) salah satu jenis kesulitan belajar yang sering dialami oleh siswa yaitu kejenuhan belajar, jenuh dapat diartikan sebagai sikap yang menjemukan atau membosankan. Sardiman (2006: 94) juga mengungkapkan bahwa minat merupakan alat motivasi pokok bagi seseorang untuk berusaha termasuk belajar. Jadi bila seseorang siswa merasa tertantang dan memiliki minat yang besar untuk belajar sesuatu hal maka siswa akan terdorong agar berada pada kondisi yang memungkinkan dirinya untuk dapat menyalurkan minatnya dan berusaha menghilangkan atau mengabaikan faktor yang akan menghalanginya. Hal ini juga berlaku dalam pembelajaran sejarah.Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini. Pertama, karya Risdiana Andriani (2010) “Minat Belajar Siswa RSBI Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Bidang Sejarah di SMPN 1 Jetis Ponorogo Tahun Ajaran 2009/2010”. Penelitian tersebut menggunakan metode kuantitatif deskriptif untuk menggambarkan tentang kondisi minat belajar sejarah siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian tersebut menunjukan minat belajar IPS Terpadu bidang sejarah siswa kelas VII RSBI SMPN 1 Jetis Ponorogo sudah baik, dengan faktor internal yang berpengaruh baik terhadap minat belajar sejarah. Namun dari faktor eksternal yang berpengaruh kurang baik terhadap minat belajar sejarah. Metode PenelitianSuryosubroto (2002:129) diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa yang bergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan untuk mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode diskusi merupakan metode dimana semua siswa berperan aktif dalam memecahkan masalah dari proses pembelajaran dengan saling bertukar pikiran dan mengutarakan pendapat.Pendekatan penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan di dalam kelas dengan tujuan memecahan masalah yang terjadi didalam kelas guna untuk meningkatkan proses belajar mengajar. Pada intinya PTK merupakan suatu penelitian yang akar permasalahannya muncul di kelas, dan dirasakan langsung oleh guru yang bersangkutan sehingga sulit dibenarkan jika ada anggapan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas diperoleh dari persepsi atau lamunan seorang peneliti (Arikunto dkk, 2010:104) Hasil Penelitian dan PembahasanA.Meningkatkan Minat Belajar Menggunakan Metode Diskusi dan Media KarikaturB.Minat dalam arti luas adalah sesuatu yang mampu menarik perhatian seseorang pada hal tertentu, seperti halnya minat dalam belajar yang mampu menarik perhatian siswa pada mata pelajaran yang diminati. Sedangkan arti minat sendiri menurut beberapa pandangan adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri (Slameto, 2010:180).C.Minat dalam setiap diri seseorang berbeda karena minat erat kaitannya dengan hati atau kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut Kartono (1996:112) minat merupakan momen dari kecenderungan yang terarah yang intensif kepada satu obyek yang dianggap penting. Minat erat hubungannya dengan kepribadian dan selalu mengandung unsur afektif/perasaan, kognitif dan kemauan. Ada beberapa indikator siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dilihat melalui proses belajar di kelas tentang minat belajar.D.Sedangkan media dalam kegiatan pembelajaran sangat penting. Kehadiran media, didalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pengajaran sangat diperlukan. Hal tersebut juga diperjelas oleh Djamarah & Zain (2013:121) yang mengatakan bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.Kondisi awal subjek penelitian diperoleh melalui wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah dan observasi langsung ke sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lagsung tersebut diketahui bahwa siswa kelas XI IPS khususnya XI IPS 5 mempunyai rendahnya minat belajar sejarah dan juga hasil belajar yang rendah. Cara mengajar guru dikelas juga masih cenderung menggunakan metode yang bisa dikatan metode lama yaitu dengan ceramah. Akibatnya pembelajaran di kelas kurang efektif dan belum adanya keaktifan siswa dalam pembelajaran. Disamping itu dari hasil wawancara juga didapat bahwa metode pembelajaran yang di gunakan peneliti yaitu diskusi yang menggunakan media karikatur belum pernah diterapkan pada pembelajaran sebelumnya. Oleh karena itu dengan disampaikannya penerapan model belajar tersebut oleh peneliti kepada kepala sekolah dan guru kelas maka peneliti mendapat persetujuan untuk menggunakan model tersebut dalam peningkatan minat belajar sejarah. Setelah penelitian berlangsung, pembelajarana dan hasil belajar serta minat siswa meningkat, sebagaimana hasil pengamatan dari siklus I sampai siklus II. Peningkatan ini juga diikuti oleh meningkatnya aktivitas siswa dalam pembelajaran cooperative. Peningkatan pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi serta menggunkan media karikatur dari siklus I sampai siklus II dibahas oleh peneliti PenutupKesimpulanSesuai dengan permasalahan dan hasil penelitian serta pembahasan dalam penelitian tindakan kelas ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media karikatur dapat meningkatkan minat belajar sejarah siswa kelas XI IPS 5. Hal ini dibuktikan dengan hasil rata-rata nilai observasi awal yang meningkat pada nilai siklus I, dan siklus II. Peningkatan minat siswa dapat dilihat dari antusias siswa dan rasa ingin tahu akan materi yang di jelaskan selama proses penelitian.Pelaksanaan penggunaan media karikatur dan metode diskusi yaitu 1) . Langkah pertama guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar, 2) . Selanjutnya guru menggunakan media karikatur. Siswa memberikan ide dan gagasan tentang gambar-gambar tersebut. 3) . Kemudian berikutnya guru memberi tugas, yaitu guru memberikan tugas pada siswa secara kelompok untuk memahami dan menganalisis gambar karikatur tersebut. Dan hasil yang diperoleh dapat sesuai dengan yang di inginkan. 4) . Berikutnya pelaksanaan tugas. Dalam pelaksanaan tugas ini. Guru selalu memberikan bimbingan atau pengawasan, memberikan dorongan sehingga anak mau bekerja. Diusahakan dikerjakan oleh masing-masing kelompok sendiri, tidak menyuruh orang lain dan siswa mencatat hasil-hasil yang mereka peroleh dengan sistematis. 5) . Siswa mempertanggung jawabkan Tugas. Dalam hal ini siswa memberikan laporan tugas siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakannya, Ada tanya jawab atau diskusi kelompok. 6). Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi dan memberikan penghargaan baik kepada individu maupun kelompok.Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian yang telah dikemukakan, implikasi pada pelaksanaan pembelajaran sejarah guna meningkatkan minat belajar siswa diharapkan menggunakan media karikatur sehingga pembelajaran tidak membosankan, melainkan merupakan pelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa, siswa dapat aktif dalam proses pembelajaran.Proses Pembelajaran sejarah melaui penggunaan media karikatur dan metode diskusi dilakukan melalui 4 tahap, meliputi: (1) tahap perencanaan yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan akan dilakukan tindakan kepada siswa; (2) tahap implementasi tindakan, yaitu jabaran tindakan yang akan dilakukan, tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. (3) tahap observasi, yaitu kegiatan pengumpulan data pada saat proses pembelajaran berlangsung, yang meliputi: aktivitas siswa, interaksi siswa dengan siswa, interaksi siswa dengan guru, interaksi siswa dengan bahan ajar dan sumber belajar lainnya, atau semua fakta yang ada selama proses pembelajaran berlangsung; (4) tahap refleksi, yaitu kegiatan yang difokuskan pada upaya untuk menganalis, mensintesis, memaknai, menjelaskan dan menyimpulkan. Dan dalam pembelajaran ini nampak siswa siswa lebih antusias dan bersemangat untuk berpartisi dalam mengikuti proses pembelajaran, dan siswa tidak merasa jenuh selama proses pembelajaran berlangsung karena menggunakan metode yang baru bagi mereka. SaranPenggunaan media karikatur dan metode diskusi dalam pembelajaran sejarah diperoleh banyak hal yang dapat dijadikan masukan bagi penyempurnaan pelaksanaan pembelajaran. Saran-saran berikut mungkin akan sangat berguna terutama bagi pembaca yang tertarik untuk menerapkan penggunaan media karikatur dalam pembelajaran.1.Guru disarankan untuk menerapkan dan mengembangkan media karikatur dalam pengajaran sejarah lebih variatif dan kreatif.2.Pada media berikutnya diusahakan menggunakan fasilitas ruangan kelas yang tersedia sebagai contoh papan tulis, sehingga siswa tidak hanya mendengar dan membaca.3.Pada media berikutnya seharusnya Instrumen harus dikembangkan dan divalidasi DAFTAR RUJUKANAndriani, R. 2010. Minat Belajar Siswa RSBI Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Bidang Sejarah di SMPN 1 Jetis Ponorogo Tahun Ajaran 2009/2010. Malang: Universitas Negeri Malang.Arikunto, S. Dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. BumiAksara.Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta:PT. Bumi Aksara.Djamarah, S.B & Zain, A. 2013. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.Faizal, F. 2010. Pengembangan Strategi Pembelajaran IPS Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di kelas 7 SMPN 1 Pangarengan Kabupaten Sampang. Malang: Universitas Negeri Malang. Huda, M. L. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Karikatur Berbasis Sparkol Videoscribe untuk Meningkatkan Minat Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IPS 2 MAN Malang 1. Malang: Universitas Negeri Malang.Iskandar. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gaung Persada.Kartono, K. 1996. Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju.Nasution, S. 1998. Didaktik Azas-Azas Mengajar. Bandung: Jemmars.Rivai, A & Sudjana, N. 1991. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru.Rohani, A. 1997. Media Pengajaran. Bandung: Bina Baru.Sabri, M. A. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.Sadiman, A.S. Dkk. 2009. Media Pendidikan, Pengertian, Hakikat, Pengembangan,Pemanfaatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Salim, A. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiarawacana.Sanjaya,W. 2007. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:Kencana.Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Shalahuddin, M. 1990.Pengantar Psikologi Pendidikan. Surabaya: Bina Ilmu.Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Dan R & D. Bandung: Alfabeta
Muatan Nilai Nasionalisme Etnis Dalam Tembang Dolanan Anak Jawa (1861-1939)
Tembang dolanan lebih dikenal sebagai lagu yang biasa digunakan sebagai media bermain, khususnya bagi anak-anak di Pulau Jawa. Tembang dolanan bagi anak Jawa tak serta merta hanya difungsikan sebagai media bermain, tetapi lebih dari itu tembang dolanan memiliki muatan edukatif yang juga berfungsi sebagai identitas dan penanda bagi kebangkitan dan eksistensi budaya Jawa. Tembang dolanan sebagai salah satu bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa, semakin menguat fungsi dan perannya pada awal abad ke XX sebagai media pendidikan sekaligus sebagai media kritik terhadap realitas sosial yang terjadi. Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisis muatan pendidikan nasionalisme yang terdapat dalam tembang dolanan anak Jawa, khususnya yang memuat realitas historis pada kisaran awal abad ke XX. Penelitian ini terfokus ke dalam dua rumusan masalah, yaitu: 1) Bagaimana kondisi sosial budaya masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X, dan 2) Bagaimana muatan nilai nasionalisme dalam tembang dolanan anak Jawa yang berkembang pada awal abad ke-20. Sistematika dalam penulisan penelitian ini mengacu pada suplemen penulisan skripsi bidang Ilmu Sejarah yang terdiri dari empat tahapan yaitu heuristik, kritik (intern dan ekstern), interpretasi dan historiografi. Adapun pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi serta melalui kajian kepustakaan beberapa serat. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kritik dan perbandingan data dengan sumber data lain yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan; (1) Analisis mengenai kehidupan sosial masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X yang tengah mendapat penetrasi politik pemerintah kolonial. Di kelas atas, penetrasi politik pemerintah Belanda berpengaruh terhadap gaya hidup para priyayi Jawa dan di kelas wong cilik, hilangnya pengaruh kekuasaan raja dan penguasa lokal di bidang politik menjadikan rakyat mencari alternatif patron lain. Pengayoman raja tidak dapat diharapkan lagi, sehingga rakyat lari kepada mitologi. (2) Analisis terhadap bentuk dan fungsi dari tembang dolanan anak Jawa beserta nilai nasionalisme etnis yang terkandung di dalamnya. Pada akhirnya didapat suatu kesimpulan bahwa muatan pendidikan nasionalisme yang terdapat dalam tembang dolanan anak Jawa lebih berorientasi pada konsep nasionalisme etnis dengan tujuan utama mengembalikan eksistensi nilai dan budaya Jawa yang kian luntur akibat interaksi dan penetrasi Belanda terhadap kraton dan turut berpengaruh kepada masyarakat yang menjadi naungannya