SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1821 research outputs found

    Analisis Semiotik Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca sebagai Media Pembelajaran Matapelajaran Sejarah Indonesia SMA Kelas XII K.D 3.7

    No full text
    ANALISIS SEMIOTIK LAGU JINGGA KARYA BAND EFEK RUMAH KACA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATAPELAJARAN SEJARAH INDONESIA KELAS XII K.D 3.7 Jemy Patriya1 Drs. Kasimanuddin Ismain, M. Pd 2 Indah W. P. Utami, S.Pd., S. Hum., M. Pd 3 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia Email: [email protected]   ABSTRACT: One of the classic problems of history lesson is that it is boring and makes people sleepy when studying it. Based on preliminary observations conducted by the researcher found several results of the research suggested that in history lesson is still less attractive to students and seemed monotonous so it feels boring. In addition, the researcher also found the song entitled Jingga by Efek Rumah Kaca Band which included the lyrics of figures who has historical story but not many people know what the background of it. From the problems above, the researcher tries to make the song lyrics of Jingga by Efek Rumah Kaca Band as an learning media for Indonesian History lesson. The aim of this research is to describe the semiotic meaning of the song lyrics of Jingga by Efek Rumah Kaca Band as learning media on subjects in Indonesian History class XII. This research uses a qualitative approach. This research is conducted with a type of semiotic research. The data collection in this research uses documentation techniques. Documentation techniques were chosen because in this research, the data sources used were written sources, namely song lyrics. The unit of analysis in this research uses words as the main focus. This is because the researcher wants to examine the meaning contained in each word in the song lyrics of the Jingga. The collection techniques itself using interpreting the text contained in the Jingga song, so that the meaning contained in the lyrics can be drawn. The result showed that the song lyrics of the Jingga by Efek Rumah Kaca Band has a meaning within it that contained historical events. The event was about disappearance of 13 people from pro-democracy activists in 1997-1998, which was not found until this research was conducted. This song also can be used as an learning media for Indonesian History subject. It is due to the background of the Jingga song by Efek Rumah Kaca Band contained in the K.D (basic competency) 3.7 in the class XII Indonesian History subject on the learning material about the impact of economic and political policies during the New Order period. From this research, the researcher recommends that the Jingga song by Efek Rumah Kaca Band be used as an learning media for Indonesian History lesson.   Keywords : Semiotic, Learning Media, Indonesian History Sejarah pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang kehidupan manusia pada masa lampau. Materi sejarah yang menceritakan peristiwa masa lampau menuntut perlu adanya unsur keindahan dalam penulisannya ataupun penyampaiannya agar terlihat menarik dan memunculkan ketertarikan dalam mempelajari sejarah itu sendiri. Kuntowijoyo (2013: 52) menyebutkan bahwa sejarah memerlukan intuisi, sejarah memerlukan imajinasi, juga sejarah memerlukan emosi, dan bagaimana sumbangan seni bagi sejarawan. Seni juga sangat diperlukan dalam penulisan sejarah untuk menciptakan suatu keindahan dalam penulisan sejarah sehingga akan lebih meningkatkan minat pembaca. Dari berbagai macam seni yang ada, musik adalah salah satu seni yang menarik untuk dikaji dalam sejarah. Musik dalam dunia sejarah bukanlah istilah yang asing lagi. Musik digunakan sebagai alat propaganda oleh beberapa negara. Salah satunya adalah Bangsa Indonesia. Penyebarluasan lagu di masa kolonial Hindia Belanda, bukan saja dilakukan oleh organisasi politik, tetapi juga pers dan dunia dagang. Sama halnya dengan masa lalu, musik di Indonesia pada masa sekarang pun banyak yang memiliki fungsi lain salah satunya digunakan sebagai alat untuk mengkritik. Salah satu pemusik yang aktif menyuarakan tentang hal itu adalah Band Efek Rumah Kaca. Efek Rumah Kaca atau biasa dipanggil ERK ini merupakan Band Indie yang beraliran musik popular atau pop. Adrian Yunan Faisal (dalam Mubarok, 2013: 27) mengemukakan bahwa komposisi dari lagu yang di ciptakan oleh ERK sebangun dengan tema agar musik yang dihasilkan tidak hanya sekedar hiburan saja. Lirik harus mengandung unsur refleksi dan pesan dari realitas yang ingin disampaikan. Lirik yang terkandung dalam lagu-lagu milik ERK memiliki makna yang tersirat dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, tidak terkecuali pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah menekankan pada tujuan pembelajarannya, namun dalam pelaksanaannya masih terdapat banyak permasalahan Sejarah terkenal sebagai mata pelajaran yang membosankan dan membuat orang cepat mengantuk, hal ini tentu saja membuat sebagian orang tidak tertarik. Permasalahan dalam pembelajaran sejarah perlu adanya tindakan yang nyata untuk mencari solusi pemecahannya Salah satunya adalah dengan mencari media pembelajaran sejarah yang di arahkan untuk menumbuhkan motivasi, minat, dan kreatifitas siswa. Dari permasalahan di atas peneliti mencoba mencari salah satu pemecahan masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu dengan menggunakan media lagu. Lagu Jingga dari ERK merupakan media yang solutif untuk memecahkan permasalahan pembelajaran sejarah. Lagu Jingga juga sangat relevan dengan materi pembelajaran sejarah khususnya pada materi dampak kebijakan politik Orde Baru yang terdapat pada kurikulum pembelajaran KD 3.7 matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII. Lagu Jingga dipilih karena di dalam liriknya ada beberapa kata-kata yang memiliki relevansi dengan peristiwa yang terjadi pada masa pergantian rezim. Namun yang menjadi permasalahan adalah penikmat musik tidak mengetahui makna yang terkandung dalam lirik dan peristiwa yang melatarbelakangi terciptanya lagu Jingga ini. Para penikmat musik tidak mengetahui bahwa dibalik lagu tersebut ada peristiwa sejarah. Untuk itu peneliti mencoba mencari makna dari lirik lagu Jingga karya ERK agar dapat digunakan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Berangkat dari permasalahan ini peneliti ingin mengkaji lirik lagu Jingga karya Efek Rumah Kaca sebagai media pembelajaran matapelajaran Sejarah Indonesia. Media pembelajaran memang perlu selalu diteliti dan di kritisi agar permasalahan pembelajaran sejarah khususnya dapat diselesaikan dengan baik. Peneliti mengambil lirik lagu Jingga karya Efek Rumah Kaca dikarenakan terdapat lirik-lirik yang mengandung tokoh dan peristiwa sejarah yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran sejarah, elain itu agar pembelajaran sejarah tidak monoton dan menjadikan pembelajaran sejarah lebih bervariatif. Penelitian ini dilakukan menggunakan analisis semiotik model Roland Barthes, penggunaan analisis semiotik ini karena objek kajiannya merupakan makna yang terkandung di dalam teks lirik lagu. Melalui analisis semiotik Roland Barthes ini diharapkan akan diperoleh informasi baik yang tertulis di dalam lirik lagu maupun yang tersirat secara lebih mendalam. Informasi yang tersirat ini akan diolah oleh peneliti agar dapat difungsikan menjadi media pembelajaran sejarah pada materi yang terdapat pada kurikulum 2013 Kompetensi Dasar 3.7 matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII. Adapun rumusan masalah yang dapat diajukan dan bisa membawa pemahaman pada topik yang dibahas, yaitu mengenai bagaimana makna semiotik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang dibahas yakni mendeskripsikan makna semiotik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7.   Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian semiotik. Metode semiotik bersifat kualitatif interpretatif, atau dapat dijelaskan bahwa metode tersebut memfokuskan pada tanda dalam teks sebagai objek kajian, serta bagaimana peneliti menafsirkan dan memahami kode dibalik tanda dan teks tersebut dan memberikan kesimpulan yang komprehensif mengenai hasil penafsiran dan pemahaman yang telah dilakukan. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer pada penelitian ini adalah Transkrip lirik Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dari CD original album Sinestesia. Data sekunder dari penelitian ini adalah sumber-sumber tertulis seperti artikel ilmiah yang membahas mengenai analisis Lirik lagu Band Efek Rumah Kaca, media online resmi efekrumahkaca.net, selain itu ada banyak dokumen-dokumen, dan sumber pendukung lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi dipilih karena dalam penelitian ini sumber data yang digunakan merupakan sumber tertulis yaitu lirik lagu. Unit analisis dalam penelitian menggunakan kata sebagai fokus utama. Teknik pengumpulan sendiri dengan menggunakan cara interpretasi teks yang terdapat pada lagu Jingga sehingga dapat ditarik makna yang terkandung dalam liriknya. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan cara sebagai berikut: 1. Pada tahap yang pertama peneliti akan mengelompokan dan memilah kata-perkata pada lirik lagu Jingga per kata agar mempermudah analisis. 2. Setelah dikelompokan peneliti akan mencari makna denotatif dari liri-lirik tersebut. 3. Setelah dikelompokan dan diketahui makna denotatifnya maka peneliti akan mencari makna konotatifnya. 4. Setelah diketahui denotatif dan konotatifnya maka peneliti akan menetukan simbol. 5. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi Berdasarkan jenis penelitian yang digunakan, peneliti melakukan pengecekan keabsahan temuan dengan metode ketekunan pengamat. Ketekunan pengamatan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Sugiyono (2016: 370) mengemukakan bahwa dengan meningkatkan ketekunan maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti melakukan pengecekan awal tentang bentuk media pembelajaran Sejarah Indonesia yang terdapat pada lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca yang kemudian akan diuraikan dalam bentuk analisis secara deskrptif. Setelah peneliti selesai melakukan analisis, maka akan dilakukan kembali pengecekan data mulai dari awal yang terkandung di dalam lirik, data-data yang terkumpul, hingga data yang telah dianalisis oleh peneliti untuk meminimalisir kesalahan yang ada. Pengecekan data ini akan dilakukan terus menerus hingga peneliti yakin bahwa hasil yang telah diperoleh tidak ada kesalahan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis yang relevan dengan analisis semiotik. Peneliti menggunakan analisis data yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Analisis ini menekankan pada makna denotatif dan makna konotatif yang terkandung di dalam sebuah tanda. Makna konotatif sendiri dalam hal ini adalah makna denotatif (makna yang sebenarnya) ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan, perasaan yang ditimbulkan oleh kata tersebut. Makna konotatif ini mengarah kepada makna-makna kultural yang berbeda dengan kata (Sobur, 2006: 262). Peneliti memilih model ini karena sesuai dengan fokus penelitian yakni analisis lirik lagu yang digunakan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Adapun kerangka analisisnya dapat digambarkan dengan peta tanda dari Roland Barthes sebagai berikut. 1. Signifer (Penanda) 2. Signified (Petanda) 3. Denotative Sign (Tanda Denotatif) 4. Conotative Signifer (Penanda Konotatif) 5. Conotative Signified (Petanda Konotatif) 6. Conotative Sign (Tanda Konotatif) Disadur dari Sobur (2006: 69) Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4) (Sobur, 2006: 69).   Hasil Efek Rumah Kaca adalah Band indie yang dibentuk di Jakarta pada tahun 2001. Band ini beranggotakan Cholil Mahmud sebagai vokalis, Adrian Yunan Faisal sebagai pemain bass, dan Akbar Bagus Sudibyo sebagai pemain drum. Dari tahun 2001 hingga tahun 2019, Band Efek Rumah Kaca telah meluncurkan 3 album. Lagu Jingga merupakan salah satu lagu dalam album ketiga Band Efek Rumah Kaca yang berjudul Sinestesia. Album tersebut dilucurkan pada 22 Desember 2015. Pada album ini Efek Rumah Kaca Menggunakan Label Demajors Independent Music Industry sebagai distributor pemasaran album mereka. Dalam lagu Jingga terdapat 3 judul lagu. Judul yang pertama adalah Hilang, kemudian judul yang kedua adalah Nyala Tak Terperi, dan judul lagu yang ketiga adalah Cahaya, Ayo Berdansa. Dari ketiga lagu itu, penelitian lebih fokus terhadap lirik lagu hilang. Lagu kedua yang berjudul Nyala Tak Terperi tidak terdapat lirik mengenai peristiwa sejarah dan menurut Cholil sendiri lagu ini adalah lagu yang diciptakan oleh Adrian Yunan dan menceritakan tentang sakit yang dialaminya. Sedangkan pada lagu ketiga yang berjudul Cahaya, Ayo Berdansa merupakan lagu instrumentasi atau hanya alunan musik tanpa disertai lirik jadi lagu ini tidak dapat dianalisis. Pada penelitian kali ini yang akan dianalisis adalah fragmen Hilang. Lirik lagu Hilang ini diciptakan oleh Cholil Mahmud yang merupakan vokalis Band Efek Rumah Kaca. Cholil (2018: 120) mengatakan bahwa Lagu Hilang ini tercipta pada tahun 2010 ketika ERK beberapa kali mengikuti Aksi Kamisan untuk mempelajari bagaimana para peserta aksi rata-rata adalah keluarga korban penghilangan aktivis 1997-1998 yang memiliki semangat yang tak pernah putus untuk menuntut keadilan. Lagu Hilang tercipta  sebagai upaya untuk memetik pelajaran dan menyebarluaskan semangat aktivisme Aksi Kamisan. Lagu Hilang ini masuk dalam album kompilasi PEACE yang digagas oleh Buffetlibre dan Amnesty Internasional. Amnesty Internasional sendiri merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang HAM. Album ini berisikan 50 lagu baru dari berbagai negara di dunia. Indonesia diwakili oleh 3 Band indie yakni Efek Rumah Kaca, White Shoes and The Couple Company, dan Mocca. Tujuan diadakannya album ini adalah untuk mengkampanyekan mengenai pencegahan dan penyelesaian pelanggaran HAM yang terjadi di seluruh dunia. Berdasarkan analisis yang dilakuakan, terdapat beberapa temuan penelitian yaitu sebagai berikut:   a. Korelasi lirik lagu Jingga dengan materi Sejarah Indonesia Korelasi yang dimaksud adalah keterkaitan antara lirik lagu dengan media pembelajaran sejarah. Lirik lagu yang di gunakan adalah lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca, sedangkan materi yang dipilih adalah tentang peran pelajar, mahasiswa dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia yang terjadi pada tahun 1997-1998. Materi ini dipilih karena ada kaitannya dengan peristiwa dan tokoh-tokoh yang ada di lirik lagu Jingga. Selain itu materi ini juga ada dalam kurikulum 2013 matapelajaran Sejarah Indonesia. Beberapa hal yang dapat dijadikan landasan Lirik Lagu Jingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah matapelajaran Sejarah Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Permendikbud No. 24 Tahun 2016 pada lampiran matapelajaran Sejarah Indonesia. Tabel 4.1 KI dan KD Materi yang memiliki hubungan dengan lagu Jingga   KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 3. memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan 3.7. Mengevaluasi peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia 4. 7. Menulis sejarah tentang peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam  peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian  yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia Disadur : Permendikbud No. 24 Tahun 2016 2. lirik lagu Jingga juga memiliki keterkaitan pada materi pembelajaran sejarah pada materi masa akhir Orde Baru dan masa awal Reformasi bahkan masih relevan untuk dibicarakan pada masa sekarang karena menurut UU internasional kasus penghilangan paksa itu tidak memiliki batas kedaluarsa (Statute of Limitations). Sebagaimana diatur dalam prinsip untuk perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia melalui tindakan untuk memberantas impunitas Pasal 23, guna menjamin hak atas upaya hukum yang efektif, tidak ada waktu kadaluwarsa yang bisa diterapkan untuk tindakan pidana, perdata atau administratif yang diajukan korban yang berusaha mendapatkan reparasi untuk cedera mereka. (Amnesty International, 2011: 23) 3. Pada lirik lagu Jingga terdapat nama-nama korban penghilangan secara paksa yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM. Materi mengenai pelanggaran HAM juga di temukan pada buku siswa mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XII pada halaman 140. 4. Selain itu korban-korban yang dihilangkan secara paksa atau diculik memiliki latar peristiwa yang sama yaitu terjadi pada kurun waktu 1997-1998 saat masa-masa akhir  Orde Baru berkuasa. Materi ini tercantum pada Buku Siswa Sejarah Indonesia kelas XII halaman 147-151. 5. Materi tentang penghilangan secara paksa atau penculikan aktivis 1997-1998 tidak disebutkan secara tertulis pada buku sejarah Indonesia kelas XII namun kejadian ini termasuk dampak dari kebijakan politik orde baru yang merupakan kejahatan pelanggaran HAM yang tertulis pada buku Sejarah Indonesia kelas XII. Orang-orang yang dihilangkan secara paksa atau diculik yang tercantum pada lirik lagu Jingga ini merupkan korban-korban dari dampak terjadinya krisis politik dan krisis ekonomi pada masa Orde Baru. Namun orang-orang itu tidak tercantum pada buku pelajaran. Meskipun demikian peristiwa penghilangan para aktivis pada tahun 1997-1998 juga merupakan dampak dari kebijakan politik pada masa akhir Orde Baru. Sepintas lagu ini terdengar seperti lagu pada umumnya, namun pada lirik yang menyebutkan tentang nama-nama korban yang dihilangkan secara paksa atau diculik ini belum banyak siswa mengetahui peristiwa apa yang ada dibalik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca tersebut. Untuk itulah peneliti mencoba melakukan analisis semiotik tentang lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini agar dapat digunakan sebagai media pembelajaran Sejarah Indonesia pada materi kelas XII tentang dampak kebijakan politik yang terjadi pada menjelang masa akhir Orde Baru. Setelah diketahui makna dan diketahui memiliki korelasi dengan materi pembelajaran sejarah maka selanjutnya adalah cara pemanfaatan dan penerapannya dilapangan. Pemanfaatan Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca pada pembelajaran sejarah dapat dilakukan dengan menggunakan saran dari Turner-Bisset (2005: 137) yang memberikan saran-saran berikut ketika menggunakan lagu di kelas sejarah: a). Pilih lagu di sekitar tema yang terkait dengan konten historis sehingga lagu tersebut menjadi sumber bukti lain untuk digunakan bersama orang lain. Setelah melakukan analisis diketahui bahwa lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca memiliki korelasi dengan materi pembelajaran sejarah jadi dapat digunakan sebagai media pembelajaran b). Mengekstrak informasi dari lagu sebagai teks. Dalam tahap ini siswa dapat mencari tahu makna pada lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca c). Biarkan para siswa membandingkan sumber-sumber yang berbeda secara berdampingan untuk membantu membandingkan apa yang dikatakan oleh berbagai jenis sumber. Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan yang luas untuk  riset dari manapun yang dapat mereka akses baik dari buku, internet, maupun sumber lainnya yang terkait dengan materi sejarah dan lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca. d). Nyanyikan dan mainkan lagu asli untuk kesenangan. Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dapat diputar di kelas agar siswa mengetahui seperti apa lagunya dan siswa juga dapat menikmati pembelajarannya karena tidak monoton pada teks saja. e). Ajukan pertanyaan tentang lagu-lagu seperti mengapa lagu-lagu ditulis dan siapa yang menulis lagu. Guru dapat menanyakan dan memberi tugas kepada siswa mengenai mengapa lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini di tulis. Penugasan ini dilakukan agar siswa memahami peristiwa sejarah yang melatarbelakangi terciptanya lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini.   b. Analisis Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca a. Analisis Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca 1. Analisi Denotatif pada lirik Jingga Tabel 4.2 Analisis denotatif lirik lagu Jingga No Objek Penelitian Denotatif 1 Rindu kami seteguh besi Rindu adalah perasaan ingin bertemu seseorang. Kami menggambarkan objek melebihi satu atau jamak. Seteguh besi adalah gambaran untuk sesuatu yang sangat keras atau kuat sekeras besi. Bisa dikatakan bahwa kalimat ini menggambarkan   sekelompok orang yang sedang rindu yang teramat sangat. 2 Hari demi hari menanti Menunggu dengan waktu yang lama 3 Tekad kami segunung tinggi tekad adalah perasaan atau niatan. Kami menunjukan  jamak. Segunung tinggi menggambarkan bahwa keinginan yang sangat kuat 4 Takut siapa? Semua hadapi Tidak ada perasaan takut dan yang ditakuti sama sekali 5 Yang hilang menjadi katalis Kata Yang hilang maksudnya adalah orang yang diculik. Katalis adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru

    Pengembangan Media Adobe Dreamweaver Berbasis Web Interaktif Tentang Materi Kebudayaan Indis (Rijsttafel) Untuk Pembelajaran Sejarah Kelas XI Di SMA Negeri 1 Singosari

    No full text
    Penelitian ini mengembangkan media pembelajaran web tentang materi kebudayaan indis (rijsttafel) untuk pembelajaran sejarah kelas XI di SMA Negeri 1 Singosari. Menggunakan jenis penelitian dan pengembangan Research and Development (R&D). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sugiono, dimulai dengan menemukan potensi dan masalah dan diakhiri dengan produksi akhir. Hasil uji coba kelayakan mendapat perolehan presentase sebesar 93%. Dalam proses pembuatan media peneliti melakukan 4 kali uji coba kelayakan terhadap media. Tahap pertama adalah validasi ahli media, validasi ahli materi, uji coba awal/kelompokl kecil, dan tahap terakhir adalah uji coba kelompok besar. Hasil presentase tersebut menunjukan media web tentang kebudayaan rijsttafel  sangat layak digunakan dalam pembelajaran sejarah

    Penerapan Model Pembelajaran Example non-example berbasis Nilai Pancasila untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM

    No full text
    Penerapan Model Pembelajaran Example non-example berbasis Nilai Pancasila untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM Iemha Rohana PPKn, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Email Koresponden: [email protected]   Abstrak Berdasarkan Observasi yang dilaksanakan pada Hari Jum’at, tanggal 11 Januari 2019 di kelas X MIPA 1 SMA Laboratorium UM dengan materi Ancaman terhadap negara dan upaya penyelesaiannya di bidang  ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika Penerapan model pembelajaran example non-example berbasis nilai Pancasila untuk meningkatan hasil belajar siswa kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM  untuk mengetahui : (1) deskripsikan penerapan model pembelajaran example non-example kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM; (2) Untuk menganalisis penerapan model example non-example dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM; (3) Untuk menganalisisi penerapan model example non-example dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM. Hasil yang menunjukkan tingkat  keaktifan siswa di kelas tersebut masih tergolong rendah. Hal itu ditunjukkan dengan respon siswa ketika diberi pertanyaan oleh guru. Respon jawaban yang diberikan siswa cenderung lambat dan tidak menyeluruh. Sedangkan secara matematis dapat dihitung jumlah siswa yang menjawab pertanyaan dengan berani mengacungkan tangan selama 2 jam pelajaran hanya satu orang saja. Siswa harus ditunjuk terlebih dahulu agar mau menjawab. Siswa cenderung menanyakan materi yang belum paham kepada teman satu bangkunya bukan kepada guru. Selama pelajaran di hari tersebut tidak ada satupun siswa yang mengajukan pertanyaan. Kesimpulannya, pembelajaran PPKn Kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM masih berlangsung secara pasif. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus tindakan, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan selama 22x40 menit dan dilakukan evaluasi disetiap akhir siklus. Subjek penelitian ini siswa kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM semester genap tahun ajaran 2018/2019. Data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu keaktifan dan hasil belajar siswa yang disapat dari hasil observasi selama pembelajaran dan pada saat evaluasi. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan siswa di kelas X MIPA 1 mengalami banyak peningkatan. Hasil observasi dalam hal keaktifan siswa aspek disiplin mencapai 63% termasuk kriteria baik, spek toleransi mencapai 40% termasuk kriteria cukup, aspek tanggungjawab 48% termasuk kriteria kurang dan aspek kerjasama 65% termasuk kriteria baik. Sedangkan hasil belajar siswa 13,8% atau 5 siswa termasuk dalam kriteria sangat baik, 22,2% atau 8 siswa termasuk ke dalam kriteria baik, 36,1% atau 13 siswa termasuk ke dalam kriteria cukup dan 27,7% atau 10 siswa termasuk ke dalam kriteria kurang. Ketuntasan belajar siswa 10 siswa tuntas dan 26 tidak tuntas. Hasil tindakan siklus I diketahui sebagai berikut: dalam hal keaktifan siswa aspek disiplin dengan presentase 71% termasuk kriteria baik, aspek toleransi 48% termasuk kriteria kurang, aspek tanggungjawab 56,25% termasuk kriteria cukup dan aspek kerjasama 71,52% termasuk kriteria baik. Sedangkan hasil belajar siswanya mencapai 36,1% atau 13 siswa termasuk sangat baik, 22,2% atau 8 siswa termasuk baik, 33,1% atau 12 siswa termasuk cukup dan 8,3% atau 3 siswa termasuk kurang. Ketuntasan hasil belajar siswa 25 siswa tuntas dan 11 siswa tidak tuntas. Hasil tindakan siklus II diketahui sebagai berikut: dalam hal keaktifan siswa aspek disiplin 92,3% termasuk kriteria sangat baik, aspek toleransi 95,1% termasuk kriteria sangat baik, aspek tanggungjawab termasuk kriteria 88,8% dan aspek kerjasama 100% termasuk kriteria sangat baik. Sedangkan hasil belajar siswa mencapai 72,2% atau 26 siswa termasuk sangat baik, 27,7% atau 10 siswa termasuk baik untuk kriteria cukup dan kurang tidak ada.  Berdasarkan hasil penelitian, adapun kesimpulan yang diperoleh adalah (1) Penerapan model pembelajaran example non-example di Kelas X MIPA 1 dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yaitu: Pembukaan, Kegiatan Inti Pembelajaran, Refleksi dan Evaluasi; (2) Penelitian yang dilakukan di kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM dengan menggunakan model pembelajaran example non-example dapat meningkatkan keaktifan siswa pada Standart Kompetensi ancaman terhadap negara dan upanya penyelesaiannya di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan; (3) Penelitian yang dilakukan di kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM dengan menggunakan model pembelajaran example non-example dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Standart Kompetensi ancaman terhadap negara dan upanya penyelesaiannya di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. (1) Untuk Guru, dapat menggunakan model pembelajaran example non-example agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan; dan harus melakukan dialog dalam pembelajaran agar siswa aktif terutama saat menggunakan model pembelajaran example non-example; (2) Untuk Siswa, sebaiknya datang ke sekolah dengan persiapan materi yang akan dipelajari di sekolah  dari rumah sehingga akan mempermudah proses pembelajaran dan harus jujur dan saling memberi yang terbaik yaitu bertanya apabila tidak mengerti dengan materi yang dijelaskan oleh guru.; (3) Untuk peneliti selanjutnya, pembelajaran model example non-example dapat menjadi pilihan yang baik untuk mengatasi masalah rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan penggunaan model pembelajaran example non-example hendaknya diterapkan untuk materi yang menuntut siswa aktif, tidak hanya sekedar teori tetapi implementasinya sehingga akan mendorong siswa untuk berpikir lebih aktif; (4) Untuk Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, agar menindaklanjuti penelitian ini sehingga model pembelajaran example non-example ini bisa terus berkembang dan diterapkan untuk siswa. Penelitian ini dapat dikembangkan dengan bentuk yang berbeda,misalnya: penelitian pengembangan ataupun eksperimen agar rujukan untuk model pembelajaran yang serupa bisa lebih banyak.   Kata Kunci: keaktifan, hasil belajar, example non-example   PENDAHULUAN Latar Belakang Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang termasuk Sekolah Menengah Atas (SMA) harus diselenggarakan secara sistematis untuk mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan watak peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, berbudi pekerti, sopan santun dalam berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan sangat penting karena melalui pendidikan dapat menentukan kualitas sumber daya manusia suatu negara. Pendidikan dapat diperoleh dari proses belajar yang terencana, hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Menurut PP RI No.32 / 2013 tentang Perubahan atau Peraturan Pemerintah No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 1 ayat 2, pendidikan formal adalah jlur pendidikan yang terstruktur dan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan yang berada di dalam lingkungan sekolah itu ada pendidik atau guru dan ada peserta didik atau murid. Peran pendidik atau guru di dalam mengajar sangat penting dan utama jadi pendidik atau guru diharuskan menjadi guru profesional. Salah satu keterampilan tersebut adalah keterampilan pedagogik, dimana guru dituntut untuk aktif, inovatif dan kreatif dalam mengembangkan pembelajaran yang berlangsung dalam kelas. Tidak hanya pembelajaran monoton yang membuat peserta didik bosan dan pada akhirnya tidak memperhatikan pembelajaran, akibatnya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan di awal dalam inddikator tidak bisa tercapai dan pembelajaran hanya sebatas ritual formalitas belaka. Hal ini sejalan dengan pendapat belajar menurut Gagne dalam teori belajar dan pembelajaran (2010) “Learning is relatively permanent change in behavior that result from past experience or purposeful instruction”. Belajar adalah suatu perubahan perilaku yang relatif menetap yang dihasilkan dari hasil pengalaman masalalu ataupun dari pembelajaran yang bertujuan atau direncanakan. Pengalaman diperoleh individu dalam interaksinya dengan lingkungan, baik yang tidak direncanakan maupun yang direncanakan, sehingga menghasilkan perubahan yang bersifat relatif menetap. Menurut thorndike dalam (Omar Hamalik) belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. Menurut Edwin Guthrie dalam (Nana Sudjana) mengemukaan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis, dia menjelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Pengertian belajar menurut kamus besar bahasa Indonesia (2014) adalah usaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar adalah memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman  (Hamalik, 2006). Menurut pengertian ini belajar adalah merupakan suatu proses kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu. Belajar dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Sedangkan menurut Winkel “Belajar adalah proses mental yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, kecakapan skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilakukan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif”. Jadi belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sengaja untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dari belum dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukan sesuatu dan lain sebagainya (Khairani, 2013). Belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2012). Belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar itu merupakan rangkaian kegiatan jiwa-raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan manusia yang seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Pembelajaran yang efektif mutlak diperlukan dalam kelas untuk menopang terwujudnya tujuan pendidikan. Pembelajaran yang efektif akan dapat berlangsung dengan pembaharuan struktur kurikulum, sistem pendidikan, dan model pembelajaran yang efektif dan efisien. Pada kenyataannya, sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan perangkat fakta-fakta yang harus dihafal bukan diahami, pembelajaran di kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, dan pada umumnya ceramah sebagai pilihan utama dalam proses pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah bukan hanya ditentukan dari lingkungan belajar, salah satu keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah guru. Guru berperan sebagai pengorganisasi lingkungan belajar dan sekaligus sebagai fasilitator belajar. Guru sebagai fasilitator, diantaranya guru sebagai perencana, guru sebagai peramal, guru sebagai pemimpin dan guru sebagai penunjuk jalan atau pembimbing ke arah pusat belajar.  Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di kelas guru tidak hanya harus berhasil menumbuhkan hubungan yang intensif dengan siswa dan tidak hanya berbekal pengetahuan akan berkenaan dengan bidang studi yang diajarkan, melainkan guru perlu memperhatikan aspek-aspek pembelajaran yang mendukung terwujudnya pengembangan potensi peserta didik. Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran, dimana sejak zaman dahulu masih menggunakan pendekatan teacher centered, kemudian dirombak menjadi model pembelajaran yang ruang lingkupnya masih umum untuk membuat siswa aktif namun apabila menggunakan model pembelajaran yang efektif di kelas akan lebih mendekati keberhasilan tujuan dari pembelajaran yang bisa dilihat dari hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang diterapkan harus sesuai dengan materi yang akan dipelajari, sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung efektif dan mencapai hasil yang maksimal.  Selain itu, untuk mencapai keberhasilan pembelajaran, maka diperlukan suatu kondisi belajar yang kondusif dengan didukung model pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Model pembelajaran sangat penting diterapkan di kelas karena sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran pendidikan. Banyak sekali model pembelajaran yang bisa diterapkan, salah satunya adalah model pembelajaran example non-example. Berdasarkan Observasi yang dilaksanakan pada Hari Jum’at, tanggal 11 Januari 2019 di kelas X MIPA 1 SMA Laboratorium UM dengan materi Ancaman terhadap negara dan upaya penyelesaiannya di bidang  ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika . Hasil yang menunjukkan tingkat  keaktifan siswa di kelas tersebut masih tergolong rendah. Hal itu ditunjukkan dengan respon siswa ketika diberi pertanyaan oleh guru. Respon jawaban yang diberikan siswa cenderung lambat dan tidak menyeluruh. Sedangkan secara matematis dapat dihitung jumlah siswa yang menjawab pertanyaan dengan berani mengacungkan tangan selama 2 jam pelajaran hanya satu orang saja. Siswa harus ditunjuk terlebih dahulu agar mau menjawab. Siswa cenderung menanyakan materi yang belum paham kepada teman satu bangkunya bukan kepada guru. Selama pelajaran di hari tersebut tidak ada satupun siswa yang mengajukan pertanyaan. Hal ini ditunjukkan pada tabel berikut:   Tabel 1.1 Perolehan Skor Hasil Keaktifan Siswa Pada Observasi Aspek yang dinilai Observasi Presentase Kriteria Disiplin 63% Baik Toleransi 40% Cukup Tanggungawab 48% Kurang Kerjasama 65% Baik   Perolehan skor hasil keaktifan siswa pada Observasi menunjukkan bahwa aspek disiplin mencapai 63% termasuk ke dalam kriteria baik, aspek toleransi 40% termasuk  ke dalam  kriteria cukup, aspek tanggungjawab 48% termasuk ke dalam kriteria kurang dan aspek kerjasama 65% termasuk ke dalam kriteria baik. Apabila dilihat dari perolehan skor hasil belajar siswa sebagai berikut: Interval Nilai Kriteria Observasi Frekuensi Presentase 81-100 SB (Sangat Baik) 5 siswa 13,8% 66-80 B (Baik) 8 siswa 22,2% 51-65 C (Cukup) 13 siswa 36,1% 0-50 K (Kurang) 10 siswa 27,7% Tabel 1.2 Perolehan Hasil Belajar Siswa Pada Observasi Berdasarkan tabel perolehan hasil belajar pada observasi dapat dilihat bahwa 13,8% atau 5 siswa termasuk kriteria sangat baik, 8 siswa atau 22,2% termasuk kriteria baik, 36,1% atau 13 siswa termasuk kriteria cukup dan 27,7% atau 10 siswa termasuk kriteria kurang. Apabila dilihat dari ketuntasan hasil belajar siswa sebagai berikut: Tabel 1.3 Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Kelas X MIPA-1 Observasi Perbandingan Ketuntasan Observasi Tuntas 10 Tidak Tuntas 26 Apabila dilihat pada tabel diatas maka ada 10 siswa tuntas dan 26 siswa tidak tuntas dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sebelum diberikan tindakan dengan nilai rata-rata 65. Berdasarkan realita diatas, maka diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga menekankan keaktifan siswa sehingga mencapai hasil belajar yang maksimal. Peneliti menemukan antara lain : Pembelajaran terpusat pada guru (teacher centered),  kelemahan dalam pelaksanaannya yakni pembelajaran berjalan membosankan dan siswa-siswa menjadi pasif karena mereka tidak minat. Siswa hanya aktif membuat mencatat saja, kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan, dan pengetahuan yang diperoleh lebih cepat terlupakan. Model pembelajaran example non-example adalah model pembelajaran yang menekankan pada komunikasi dua arah dengan prinsip saling memberi sehingga model ini dapat dipergunakan sebagai salah satu alternatif dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM. Sehingga peneliti bermaksud melakukan penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas X dengan judul “ Penerapan Model Pembelajaran Example non-example berbasis Nilai Pancasila untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas X MIPA 1 di SMA Laboratorium UM”. Ada karya ilmiah yang sudah pernah membahas tentang penggunaan model example non-example dalam pembelajaran diantaranya Penerapan Model Pembelajaran Example Non-Example Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pkn Kelas VIII B Di SMP Negeri 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan dalam bentuk skripsi dan fokus kajiannya penerapan model example non-example di SMP Negeri 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan.   KAJIAN PUSTAKA Tinjauan Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMA Mulai tahun pelajaran 2013/2014 Kementerian Pendidikan dan kebudayaan akan memberlakukan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 adalah pengembangan 2006. Menurut Pasal 1 ayat (19) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran erta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Selanjutnya tujuan pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Kurikulum 2013 dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan dan peradaban dunia. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang prosuktif, kratif, inovatif, dan afektif. Penataan ulang PKn menjadi PPKn salah satu langkah dalam penyusunan kurikulum 2013 dengan rincian sebagai berikut: Mengubah nama mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Menempatkan mata pelajaran PPKn sebagai bagian utuh dari kelompok mata pelajaran yang memiliki misi pengokohan kebangsaan. Mengorganisasikan Kompetensi Dasar dan idikator PPKn secara nasional dengan memperkuat nilai dan moral Pancasila, nilai dan norma UUD Tahun 1945, nilai dan semangat Bhinneka tunggal ika serta wawasan dan komitmen Komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memantapkan pengembangan peserta didik dalam dimensi: (1) Pengetahuan Kewarganegaraan, (2) Sikap Kewarganegaraan, (3) Keterampilan Kewarganegaraan, (4) Keteguhan Kewarganegaraan, (5) Komitmen Kewarganegaraan, dan (6) Kompetensi Kewarganegaraan. Mengembangkan dan menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PPKn yang berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik sebagai warga negara yang cerdas dan baik secara utuh. Mengembangkan dan menerapkan berbagai model penilaian roses pembelajaran dan hasil belajar PPKn.   Pengertian Pembelajaran Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Belajar dan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Ketika belajar manusia bisa mengembangkan potensi-potensi yang dibawa sejak lahir. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya tersebut. kebutuhan belajar dan pembelajaran dapat terjadi dimana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kebutuhan manusia akan belajar tidak akan pernah berhenti selama manusia ada di muka bumi. Hal itu disebabkan karena dunia dan isinya termasuk manusia selalu beruba

    Pemanfaatan Blogspot sebagai Sumber Belajar untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa dalam Pembelajaran Sejaran di Kelas X TKJ C SMK Negeri 8 Malang Tahun Ajaran 2018/2019

    No full text
    ABSTRAK Kartika, M.D. 2018. Pemanfaatan Blogspot sebagai Sumber Belajar untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa dalam Pembelajaran Sejaran di Kelas X TKJ C SMK Negeri 8 Malang Tahun Ajaran 2018/2019. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial,  Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum.,   Kata Kunci: blogspot, sumber belajar, minat baca. Membaca merupakan salah satu tujuan dalam belajar. Siswa akan mampu mengetahui suatu peristiwa sejarah dengan cara membaca buku, namun berdasarkan observasi awal kegiatan membaca ini belum terlihat secara maksimal di kelas X TKJ C SMK Negeri 8 Malang. Berdasarkan17 siswa yang diwawancara, hanya tiga diantaranya yang memiliki buku sejarah sendiri. Dari angket yang diberikan, minat baca siswa di kelas X TKJ C yaitu sebesar 51% namun buku yang sering dibaca siswa adalah jenis novel dan komik. Siswa di kelas X TKJ C SMK Negeri 8 Malang mengandalkan internet dalam mencari materi sebagai sumber belajar. Guru memanfaatkan buku paket dan powerpoint dalam menyampaikan materi dan sebagai sumber belajar siswa. Games juga diterapkan oleh guru dalam melaksanakan pembelajatan sejarah. Melihat kecenderungan siswa dalam menggunakan internet dalam mencari sumber belajar, blogspot dipilih sebagai alternatif lain dalam penyediaan sumber belajar siswa. Blogspot dipilih karena kemudahan dalam pengelolaannya serta kemudahannya ketika terhubung dengan layanan Google yang lain. Metode penelitian yang diterapkan adalah Model Spiral dari Kemmis dan Tagart. Penelitian diawali dari mencari permasalahan yang terdapat didalam kelas. Permasalahan tersebut dapat diketahui dengan cara observasi secara langsung, wawancara dengan guru serta siswa, dan angket yang diberikan kepada siswa. Data yang diperoleh mengenai minat baca siswa dan peningkatannya dengan menggunakan blogspot. Kemudian berdasarkan Model Kemmis dan Tagart, penilitian tindakan kelas diawali dari (1) Membuat plan (perencanaan) yang akan diterapkan di kelas, terdiri dari RPP dan blogspot yang akan digunakan. (2) Act (tindakan) yang berupa penerapan blogspot untuk meningkatkan minat baca. (3) Observe (pengamatan) dilakukan selama pencarian masalah hingga penerapan siklus tindakan kelas, hal ini dilakukan agar diketahui apakah penerapan blogspot dapat memberikan hasil yang memuaskan. (4) Reflect (refleksi) dilakukan untuk mengetahui kendala dan kekurangan pada saat tindakan, sehingga pada tindakan atau siklus selanjutnya dapat dicapai hasil yang diinginkan. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan blogspot untuk meningkatkan minat baca siswa menunjukan hasil yang baik. Untuk penggunaannya sendiri yaitu blogspot yang telah disediakan oleh guru selanjutnya dibaca oleh siswa dengan intruksi guru pada awalnya. Kemudian siswa diminta untuk mengerjakan tugas dan evaluasi berdasarkan materi yang terdapat di blogspot. Untuk Hasil peningkatan minat baca siswa dimana sebelum menggunakan blogspot, minat baca siswa masih tergolong rendah yang dibuktikan dengan hasil angket yaitu perolehan skor sebesar 27%. Hasil minat baca siswa sedikit demi sedikit meningkat pada siklus-siklus selanjutnya. Pada siklus satu pertemuan I perolehan skor rata-rata observasi dan angket sebesar 47%. Pada siklus satu pertemuan II perolehan skor rata-rata observasi dan angket sebesar 49%. Pada siklus dua pertemuan I perolehan skor rata-rata observasi dan angket sebesar 67,3%. Pada siklus dua pertemuan II perolehan skor rata-rata observasi dan angket sebesar 80,3%

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Android Tentang Nasionalisme Indonesia Untuk Pembelajaran Sejarah Kelas XI IPS 4 di SMA Negeri 1 Papar Kediri

    No full text
    Tujuan penelitian untuk menghasilkan produk berupa bahan ajar berbasis android tentang Nasionalisme Indonesia untuk pmbelajaran sejarah kelas XI IPS 4 di SMA Negeri 1 Papar Kediri. Penelitian ini menggunakan model pengembangan dari Borg & Gall yang tediri dari tahap (1) Reseacrh and Informating Collecting, (2) Planning, (3) Develope preliminary from of product, (4) Preliminary field testing, (5) Main product revision, (6) Main field testing, (7) Operation product revision, (8) Operational field testing, (9) Final product revision, (10) Dissemination and implementation. Namun peneliti hanya membatasi hingga sampai tahap tujuh saja. Produk yang kembangkan telah melalui tiga tahapan. Tahap pertama yaitu kegiatan validasi dari ahli materi dengan perolehan persentase sebesar 93,34% dalam kategori sangat layak. Tahap kedua yaitu kegiatan validasi dari ahli desain bahan ajar dengan perolehan persentase 68,33% dalam kategori layak. Tahap ketiga yaitu uji coba kelompok kecil dengan persentase 95,45%, dan uji coba kelompok besar 97,57% kategori sangat layak

    Persepsi Siswa SMAN 1 Singosari terhadap Peristiwa Rengasdengklok Tahun 1945

    No full text
    Abstrak Persepsi siswa kelas XI di SMAN 1 Singosari terhadap peristiwa Rengasdengklok masih menyisakan banyak salah pemahaman terhadap kejadian sebenarnya pada peristiwa Rengasdengklok. Penelitian ini bertujuan untuk megetahaui kondisi umum pembelajaran sejarah di SMAN 1 Singosari, dan untuk mengetahui persepsi siswa kelas XI SMAN 1 Singosari terhadap peristiwa Rengasdengklok. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMAN 1 Singosari telah menerapkan K 13 dan para siswa juga telah bisa menjelaskan dengan baik tentang peristiwa Rengasdengklok walaupun tak semua siswa bisa menjelaskan dengan benar sesuai fakta yang ada. kata kunci:persepsi siswa, peristiwa Rengasdengklo

    Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah di SMK Berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017: Studi Kasus SMKN 4 Malang

    No full text
    Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah di SMK Berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017: Studi Kasus SMKN 4 MalangAmey Karimatul Fadhilah, Joko Sayono, [email protected] AbstrakKurikulum merupakan unsur penting dalam setiap bentuk dan model pendidikan. Sejalan dengan perkembangan pendidikan yang terus meningkat pada semua jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia. Indonesia sekarang menggunakan Kurikulum 2013 Revisi 2017. Fokus pembahasan dalam artikel ini pertama adalah pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia yang meliputi perencanaan, proses pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.  Kedua faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Proses penelitian dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran dan melakukan wawancara dengan subyek penelitian yaitu peserta didik dan guru di SMK N 4 Malang. Data yang diperoleh akan dipaparkan kemudian dilakukan analisis untuk menjawab fokus penelitian. Berdasarkan hasil analisis data, kesimpulan yang diperoleh adalah pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK N 4 Malang berlangsung baik dan sudah mengacu terhadap peraturan mengenai Kurikulum 2013 Revisi 2017. Faktor pendukung banyak diperoleh dari fasilitas dan media pembelajaran yang tersedia, dan faktor penghambat mengenai alokasi waktu dan banyaknya penilaian autentik yang harus dilakukan guru subyek. AbstrackThe curriculum is an important element in every form and model of education. In line with the development of education which continues to increase in all types and levels of education in Indonesia. Indonesia now uses the 2013 Revised Curriculum 2017. The focus of the discussion in this article first is the implementation of learning Indonesian History which includes planning, implementation processes, and assessment of learning. Both supporting factors and obstacles to the implementation of learning Indonesian History. This study uses descriptive qualitative methods. The research process is carried out by observing the learning process and conducting interviews with the research subjects, namely students and teachers in Malang N 4 Vocational School. The data obtained will be presented and then analyzed to answer the research focus. Based on the results of data analysis, the conclusions obtained are that through the research instrument, it can be seen that the implementation of Indonesian History learning in Malang Vocational High School 4 is good and has referred to the revised 2017 Curriculum 2013. inhibitors regarding the allocation of time and the number of authentic evaluations that the subject teacher must do.Kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang berarti berlari dan currere yang artinya tempat berpacu (Idi, 2017:183). Dalam bahasa Latin ”curriculum” semula berarti a running course, or race course, especially a chariot race course dan terdapat pula dalam bahasa Prancis ”courier” artinya “to run, berlari”. Kemudian istilah itu digunakan untuk sejumlah “courses” atau matapelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah (Nasution, 2003:9). Dalam bahasa Arab, kurikulum diartikan dengan manhaj, yakni jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupan dan kemudian diterapkan dalam bidang pendidikan (Raharjo, 2012: 16). UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 menjelaskan kurikulum sebagai sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan.Sejak Indonesia merdeka, pendidikan telah mengalami berbagai perubahan dan perbaikan kebijakan kurikulum. Dalam sejarah kurikulum di Indonesia paling tidak telah mengalami sebelas kali dinamika perubahan. Dimulai dari masa prakemerdekaan dengan bentuk yang sangat sederhana, dan masa kemerdekaan yang terus menerus disempurnakan yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan tahun 2017. Berbagai kebijakan perubahan kurikulum tersebut didasarkan pada hasil analisis, evaluasi, prediksi dan berbagai tantangan yang dihadapi baik internal maupun eksternal yang terus berubah. Dalam konteks ini kurikulum sebagai produk kebijakan bersifat dinamis, kontekstual, dan relatif. Oleh karenanya prinsip dasar dalam kebijakan kurikulum adalah change and continuity yaitu perubahan yang dilakukan secara terus menerus.Kebijakan perubahan Kurikulum 2013 Revisi 2017 merupakan sebuah ikhtiar dan wujud dari prinsip dasar kurikulum change and continuity tersebut, yaitu hasil dari kajian, evaluasi, kritik, respon, prediksi, dan berbagai tantangan yang dihadapi. Kurikulum 2013 Revisi 2017 diyakini sebagai kebijakan strategis dalam menyiapkan dan menghadapi tantangan dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Kebijakan kurikulum 2013 Revisi 2017 akan mampu memerankan fungsi penyesuaian  (the adjusted or adaptive function), yaitu kurikulum yang mampu mengarahkan peserta didiknya mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang terus berubah. Kurikulum 2013 mengintegrasikan tiga ranah kompetensi yaitu sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang dalam implementasinya terangkum dalam Kompetensi Inti.Revisi Kurikulum 2013 tahun 2017 tidak terlalu signifikan, namun perubahan difokuskan untuk meningkatkan hubungan atau keterkaitan antara kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurikulum 2013 Revisi 2017, yang dibuat harus muncul empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS sehingga perlu kreatifitas guru dalam meramunya (Kurniasih & Sani, 2014:42). Pada Kurikulum 2013 Revisi 2017 alokasi waktu matapelajaran Sejarah Indonesia menjadi 108 jam, yang hanya diperoleh di kelas X dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran dalam satu minggu. SMK Negeri 4 Malang adalah salah satu sekolah menengah kejuruan negeri yang melaksanakan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dan merupakan salah satu sekolah percontohan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 di kota Malang. Selain itu, SMKN 4 Malang memenuhi amanat Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan yang berfungsi mencapai tujuan pendidikan nasional pada umumnya, dan tujuan pendidikan sekolah pada khususnya.Diterapkannya Kurikulum 2013 Revisi 2017 berdampak terhadap matapelajaran Sejarah Indonesia di SMK. Terdapat perubahan alokasi waktu matapelajaran Sejarah Indonesia menjadi 108 jam pelajaran, yang hanya diperoleh di kelas X dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran dalam satu minggu. Sekolah kejuruan mempersiapkan peserta didik untuk bisa bersaing di dunia kerja dan industri. Hal ini berimbas kepada minimnya pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK, terbukti dari alokasi waktu yang disediakan.Permasalahan muncul ketika pembelajaran normatif dan adaftif, seperti Sejarah Indonesia juga harus disampaikan ketika peserta didik sedang Praktek Kerja Industri. Selama ini peserta didik hanya diberi tugas untuk dikerjakan ditempat industri, dan mengumpulkan hasilnya ketika ada waktu luang atau kosong dari industri. Hal ini tidak bisa berlangsung dengan efektif karena keterbatasan waktu dan jarak antara sekolah dengan dunia industri. Menurut Grafura & Wijayanti (2014:101) orientasi pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK selama ini hanya untuk kepentingan mendapatkan nilai tinggi bukan untuk menanamkan nasionalisme. Terlebih di sekolah kejuruan yang sebagian besar substansi materinya difokuskan kepada matapelajaran produktif. METODE PENELITIANPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih menekankan kepada usaha menelaah fenomena sosial secara wajar dan alami melalui wawancara, observasi, maupun dokumentasi (Wiyono, 2007:7). Penelitian kualitatif memiliki kedalaman bahasan yang tidak terbatas. Penelitian ini menggunakan pendeketan kualitatif dengan format deskriptif. Penelitian deskriptif pada umumnya bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat dan tidak memerlukan hipotesis karena hanya bertujuan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif pada penelitian ini dipilih dengan pertimbangan agar mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata dalam pengumpulan fakta mengenai pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia, faktor pendukung dan faktor penghambatan dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK N 4 Malang. Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Indonesia Berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMK N 4 MalangPelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia terbagi menjadi tiga ranah, yaitu perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian proses pembelajaran. Perencanaan Proses pembelajaranGuru melakukan perencanaan pembelajaran yang mengacu kepada silabus yang dikembangkan oleh SMKN 4 Malang. RPP dikembangkan dari silabus dan bertujuan untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi. RPP yang dibuat oleh guru subyek sejumlah 13 RPP untuk satu tahun dengan rincian satu KD dalam satu RPP. Hal tersebut sudah sesuai dengan silabus, karena di silabus terdapat 13 KD untuk Sejarah Indonesia. Peneliti dalam penelitian mengambil semester genap saja. Semester genap terdapat tujuh RPP dan tujuh KD. Ada ketidaksamaan antara alokasi waktu yang tertera di RPP dengan silabus. Dalam silabus dijelaskan untuk KD 3.11 memiliki alokasi waktu 6 JP, sedangkan di RPP guru subyek menggunakan 12 JP.  Hal tersebut dikarenakan dalam RPP KD 3.11 guru melakukan empat kali pertemuan, satu kali pertemuan terdapat 3 JP, 3 JP x 4= 12 JP. Pada KD 3.11 dilakukan sebanyak empat kali pertemuan dikarenakan materi yang disajikan luas dan butuh pemahaman yang lebih, selain itu guru menggunakan model pembelajaran diskusi yang membutuhkan banyak alokasi waktu untuk peserta didik dapat memecahkan masalah hingga mempresentasikam hasil diskusi tersebut. Hal tersebut juga mempengaruhi pekan efektif yang terdapat di pembelajaran. Terdapat 19 pekan efektif yang harus ditempuh oleh peserta didik degan 13 KD, banyaknya pekan efektif berpengaruh kepada pertemuan setiap KD yang akan di sampaikan kepada peserta didik.Pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 harus mengacu pada pedoman proses pembelajaran sesuai dengan Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 Tentang Standart Nasional Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan. Proses pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMKN 4 Malang sudah terlaksana dengan baik. Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara mandiri bersama ketiga guru subyek lainnya. RPP guru sudah mengacu pada ketentuan dalam Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 tentang Pedoman Umum Pembelajaran. Peneliti menggunakan rubrik penilaian penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dalam mengaji dokumen RPP narasumber. Peneliti dalam mengaji salah satu narasumber menggunakan 21 deskriptor, dan 20 deskriptor mendapatkan skor maksimal, sedangkan satu deskriptor belum mendapat skor maksimal. Deskriptor yang belum memperoleh skor maksimal adalah kunci jawaban dan pedoman penskoran dinyatakan dengan jelas. Dalam deskriptor tersebut yang dinyatakan dengan jelas hanya pedoman penskoran, sedangkan kunci jawaban tidak tersedia.Tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru subyek dalam RPP KD 3.11 sudah mencakup rumus ABCD yaitu audience, behaviour, conditions, dan degree. Dalam perumusan IPK harus sesuai dengan rumus SMART yaitu specific, measurable, achievable, reliable, dan timely. IPK yang disajikan guru belum memenuhi salah satu aspek yaitu timely, tidak ada penjelasan perhitungan waktu yang mencukupi dan jelas batasannya dalam kalimat indikator pencapaian kompetensi. IPK tersebut dibuat oleh guru subyek sama dengan yang tertera di silabus. Guna menunjang proses pembelajaran Sejarah Indonesia guru subyek menggunakan buku pegangan, media pembelajaran/alat peraga, dan sumber belajar. Dalam penerapannya dari ketiga hal tersebut media pembelajaran/alat peraga adalah hal yang jarang di gunakan saat proses pembelajaran. Dikarenakan guru subyek tidak mempersiapkan media pembelajaran dengan baik, mereka hanya menggunakan powerpoint untuk menyampaikan materi. Keterbatasan waktu memungkinkan guru untuk tidak bisa membuat media pembelajaran yang rumit, contohnya seperti video dan maket.Evaluasi atau penilaian di Kurikulum 2013 Revisi 2017 menggunakan standart Higher Order Thinking Skills (HOTS). High order thinking skills akan terjadi ketika seseorang mengaitkan informasi baru dengan infromasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan mengaitkannya dan/atau menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan.Kegiatan inti guru sudah melakukan kegiatan dengan HOTS, guru melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik yaitu 5M. Metode ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan observasi dan melaksanakan percobaan.  Soal-soal yang disajikan guru subyek belum memenuhi syarat HOTS karena belum menggunakan taksonomi bloom hingga ke C4. Hal tersebut dikarenakan guru subyek memiliki banyak pilihan soal ketika disajikan di kelas, dan melihat pemahaman peserta didik sebelum memberikan penilaian. guru subyek hanya melakukan penilaian dengan cara tes tulis, tes lisan, dan unjuk kerja atau proyek.  Pelaksanaan Proses Pembelajaran Sejarah IndonesiaPeneliti membagi tiga kegiatan dalam proses pembelajaran Sejarah Indonesia yaitu apersepsi atau pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup atau evaluasi. Pada setiap kegiatan apersepsi, guru membangun minat belajar peserta didik dan membuka kembali wawasan peserta didik tentang pembelajaran sebelumnya. Pada kegiatan apersepsi lebih ditekankan pada eksplorasi peserta didik untuk mengetahui materi yang akan disampaikan dengan mengaikatkan di kehidupan sehari-hari dan mengingat sedikit materi sebelumnya agar peserta didik tidak lupa. Guru dalam kegiatan ini menyampaikan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik, metode pembelajaran yang akan digunakan, bahkan guru bisa menjelaskan proses penilaian yang akan dilakukan terhadap peserta didik.Pada penelitian ini ditemukan kegiatan awal pembelajaran atau apersepsi yaitu, pertama guru subyek memberikan ucapan salam dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing dan guru melakukan presensi peserta didik. Kedua, guru berbincang-bincang dengan peserta didik untuk menciptakan suasana yang nyaman dan untuk menarik perhatian peserta didik sebelum penyampaian materi. Ketiga, guru memberikan pertanyaan tingkat dasar untuk memancing daya ingat peserta didik atas materi sebelumnya, dan keempat guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang akan dipelajari. Kegiatan apersepsi yang dilakukan oleh tiga guru subyek sudah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tertulis dalam RPP. Pada kegiatan apersepsi lebih ditekankan pada eksplorasi peserta didik untuk mengetahui materi yang akan disampaikan dengan mengaikatkan di kehidupan sehari-hari dan mengingat sedikit materi sebelumnya agar peserta didik tidak lupa. Guru dalam kegiatan ini menyampaikan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik, metode pembelajaran yang akan digunakan, bahkan guru bisa menjelaskan proses penilaian yang akan dilakukan terhadap peserta didik. Menurut Marno & Idris (2014:76) membuka pelajaran dilakukan tidak hanya pada setiap awal pelajaran, tetapi pada setiap penggal awal dan akhir pelajaran setiap kali beralih ke hal baru atau topik baru.Pada kegiatan inti yang dilakukan oleh guru subyek penelitian menunjukkan cara yang berbeda sesuai dengan karakteristik guru. Peneliti melakukan observasi sebanyak tiga kali di setiap kelas. Tiga guru subyek menggunakan model diskusi dan kerja kelompok, serta hasil dari diskusi tersebut dipresentasikan antar kelompok supaya kelompok lain saling memahami materi dan memberi respon balik serta membuat pertanyaan yang harus di jawab oleh seluruh peserta didik. Kegiatan lain guru subyek lebih menekankan pada penyampaian materi menggunakan media film kemudian diskusi dan kerja kelompok untuk peserta didik, proses diskusi dan kerja kelompok dilakukan di lobby sekolah. Hasil dari observasi selama februari hingga maret dalam disimpulkan guru subyek melakukan pembelajaran menggunakan 5M, dengan rincian sebagai berikut, Mengamati, guru menjelaskan materi dan menampilkan sebuah gambar. Menanya, Guru mendorong agar para peserta didik bertanya tentang gambar atau foto-foto tersebut guru memberi komentar tentang beberapa pertanyaan yang muncul, untuk kemudian mengaitkan dengan pembahasan topik pembelajaran, kemudian Menalar, guru membagi kelas menjadi dua sampai empat kelompok besar dan memberikan permasalahan yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Mencoba Guru memberikan pengantar untuk memperjelas dari tayangan gambar  Setiap kelompok mendapatkan tugas melakukan eksplorasi dan mengasosiasi melalui diskusi kelompok untuk menemukan jawaban sesuai dengan topik yang sudah dibagikan disetiap kelompok, yang terakhir adalah Mengkomunikasikan, dalam mengkomunikasikan Tiap-tiap peserta didik yang mendapat tugas yang sama kemudian berkumpul untuk saling membantu mengkaji dan merumuskan materi yang menjadi tanggung jawabnya, lantas peserta didik melakukan presentasi hasil temuan masing-masing kelompok. Pada saat kelompok tertentu presentasi kelompok yang lain dapat bertanya, masing-masing mendapat giliran.Kegiatan penutup merupakan kegiatan akhir pembelajaran, biasanya dilakukan guru dengan cara membuat kesimpulan dari pembelajaran yang sudah berlangsung. Pada kegiatan penutup, guru subyek memberikan umpan balik berupa pertanyaan kepada peserta didik terkait materi yang sudah dipelajari. Kemudian guru dengan peserta didik membacakan kesimpulan dari proses pembelajaran. Selain itu guru juga memberikan penjelasan terhadap materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya dan memberikan tugas rumah kepada siswa. Pada kegiatan penutup, guru menjadi penengah memberikan ulasan singkat tentang materi yang baru saja didiskusikan, guru dapat menanyakan apakah peserta didik sudah memahami materi tersebut. Peserta didik melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran dan pelajaran apa yang diperoleh. Guru memberikan kesimpulan dan memberikan tugas untuk pertemuan minggu berikutnya selain itu guru juga memberikan penjelasan terhadap materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya dan memberikan tugas rumah kepada siswa. Tugas yang diberikan oleh guru merupakan tindak lanjut dari pembelajaran inti atau pembentukan kompetensi, yang berkenaan dengan materi standar yang telah dipelajari maupun yang akan dipelajari berikutnya (Mulyasa, 2013:129). Melakukan penutup guru kurang memberi dorongan psikologi atau sosial, hal tersebut dapat dilakukan dengan memuji hasil yang dicapai oleh peserta didik dengan memberikan pujian maupun hadiah, dan mendorong untuk lebih semangat belajar mencapai kompetensi yang lebih tinggi dengan menunjukkan pentingnya materi yang dipelajari.Kegiatan penutup yang dilakukan oleh ketiga guru sudah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan, guru melakukan sebagai  berikut. 1.melakukan refleksi seluruh rangkaian aktivitaspembelajaran, hasil dan manfaat yang diperoleh;2.memberikan umpan balik terhadap proses dan hasilpembelajaran;3.merencanakan kegiatan tindak lanjut; dan4.menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untukpertemuan berikutnya. (Permendikbud 34 tahun 2018:7) Penilaian Proses PembelajaranPenilaian pengetahuan dilakukan dalam dua bentuk, yakni tes tulis dan tes lisan. Tes tulis dilakukan dalam model essai. Penilaian pengetahuan yang dilakukan oleh ketiga guru subyek sudah disertakan pedoman penskoran. Penilaian sikap, beliau menggunakan teknik observasi perilaku, dan pedoman penskoran tidak disertakan. Dalam penilaian menggunakan lembar pengamatan, pada saat dilakukan diskusi guna menilai siswa. Pedoman penskoran tidak disertakan dalam lembar pengamatan. Penilaian keterampilan, dilakukan dalam bentuk penilaian proyek, dimana siswa diberikan tugas membuat keterampilan dan akan dipasang di majalah dinding sekolah. Pedoman penskoran tidak disertakan dalam penilaian proyek tersebut, beliau juga melakukan penilaian menggunakan remedial dan pengayaan tetapi tidak disertakan pedoman penskoran. Guru subyek sudah melakukan penilaian berdasarkan KD yang tersaji, berdasarkan KD guru akan menentukan melakukan penilaian menggunakan tes lisan, tes tulis, ataupun unjuk kerja/proyek. Tes tulis harus berupa beberapa soal yang harus merunjuk kepada KD ataupun IPK. Guru subyek melakukan penilaian berupa perbaikan dan pengayaan jika terdapat peserta didik yang mendapat nilai kurang, dalam poin-poin diatas guru telah melakukan penilaian dengan cara kuis dan pengamatan, tetapi tidak melakukan penilaian diri dan penilaian antar teman.Dari pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh guru subyek, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam melakukan penilaian terhadap siswa, guru membagi dalam tiga ranah penilaian yakni, penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses penilaian, setiap guru memiliki cara dan strategi sendiri dalam melakukan penilaian. Proses penilaian yang dilakukan oleh guru sudah terintegrasi dengan RPP, namun dalam beberapa kegiatan seperti diskusi dan presentasi dalam RPP semua guru subyek tidak disertakan lembar pedoman penskoran meskipun di dalam kelas guru menggunakannya.  Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran S

    IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS ANDROID “EDS” DI SMK NEGERI 1 SINGOSARI MALANG TAHUN AJARAN 2018/2019

    No full text
    IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS ANDROID “EDS” DI SMK NEGERI 1 SINGOSARI MALANG TAHUN AJARAN 2018/2019 Nur Lia Syafitri1, Ari Sapto2, Indah Wahyu Puji Utami3  Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang  Jl. Semarang 5 Malang 65145 Email: [email protected]   Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi media pembelajaran sejarah berbasis android “EDS” yang diterapkan oleh guru pengampu matapelajaran sejarah terhadap peserta didik kelas X Teknik Otomasi Industri 2 di SMK  Negeri 1 Singosari, khususnya pada saat proses pembelajaran sejarah dengan menggunakan media pembelajaran berbasis android “EDS”. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Untuk prosedur pengumpulan data dilakukan dengan studi wawancara, observasi dan dokumentasi dengan menggunakan analisis penelitian data model Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan selama kegiatan pembelajaran di kelas X Teknik Otomasi Industri 2 menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran sejarah dengan menggunakan media pembelajaran berbasis android “EDS” dapat membangkitkan minat dan motivasi peserta didik untuk belajar sejarah juga meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai matapelajaran sejarah peserta didik kelas X TOI 2 saat kegiatan evaluasi dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 80. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran sejarah berbasis android “EDS” dapat digunakan oleh guru sebagai sarana perbaikan pembelajaran sejarah di kelas.   Kata kunci: media pembelajaran, aplikasi android “EDS” Abstract : The objective of this research is explore the implementation of android-based "EDS" learning media in history subject applied by teachers teaching history subjects to class X students of Industrial Automation Engineering 2 at Singosari 1 State Vocational School, especially during the history learning process using android-based "EDS" learning media. The method used in this research is descriptive qualitative research. The data collection carried out by interviews, observation and documentation using analysis of data research models Miles and Huberman. Based on the results of the observations during the learning activities in class X Industrial Automation Engineering 2 shows that in the process of history learning by using android-based "EDS" learning media can arouse interest and motivation of students to learn history also improve student learning outcomes, it can be proven by the increasing of the history score of students of 2nd TOI X grade during the evaluation activities with the highest score of 95 and the lowest score of 80. It can be concluded that EDS-based historical learning media can be used by teachers as a means of improving history learning in the classroom.   Keywords: learning media, android application of "EDS" Dunia pendidikan pada dasawarsa pertama abad  ke-21 secara nyata telah berkembang pesat dan mengalami kemajuan. Perkembangan teknologi telah membuka kemungkinan yang luas untuk dapat dimanfaatkan karena pesatnya teknologi sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dengan hadirnya teknologi yang mulai memasuki ranah pendidikan guna  mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih berkompeten. Tentu saja hal tersebut harus diawali dari dasar yaitu proses belajar mengajar (Daryanto, 2010: 169). Proses belajar mengajar merupakan sebuah sistem, yang di dalamnya memiliki berbagai komponen yang saling bekerja sama dan terpadu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan pengajaran, guru, peserta didik, bahan pembelajaran, metode, strategi belajar mengajar, alat atau media, sumber pelajaran dan evaluasi (Sadiman, 2010: 11). Dengan demikian proses belajar mengajar merupakan suatu perpaduan yang tersusun rapi meliputi beberapa unsur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Daryanto (2006:6) komponen pembelajaran yang berperan penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran salah satunya adalah media pembelajaran, yang merupakan wahana dan penyampaian informasi atau pesan pembelajaran pada peserta didik. Adanya media dalam proses pembelajaran diharapkan dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran pada peserta didik. Selain itu, jika media pembelajaran dapat diterapkan dalam setiap proses pembelajaran akan memberikan dampak positif salah satunya dapat meningkatkan antusiasme belajar peserta didik. Oleh karena itu, guru hendaknya selalu menghadirkan media dalam setiap proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran dan peserta didik semakin aktif dalam proses belajar mengajar.  Menurut Wati (2016: 03) media merupakan sesuatu yang bersifat meyakinkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik. Media merupakan bagian yang melekat atau tidak terpisahkan dari proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran. Media berfungsi dan berperan mengatur hubungan efektif antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat atau teknik yang dapat digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan peserta didik. Dengan demikian media pembelajaran memiliki sebuah peran penting dalam kegiatan pembelajaran yakni untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 05 November 2018, dapat diketahui bahwa guru pengampu matapelajaran sejarah di SMK Negeri 1 Singosari yaitu Bapak Nur Cahyo Arief Amien, S.Pd telah menggunakan media saat proses pembelajaran di kelas X TOI 2. Berdasarkan observasi dapat diketahui bahwa pada saat proses pembelajaran sejarah berlangsung, guru pengampu matapelajaran telah menggunakan media dalam proses pembelajaran sejarah berbasis android “EDS”. Penggunaan EDS sebagai media pembelajaran memiliki dampak yang positif bagi peserta didik. Diantaranya dapat membangkitkan minat belajar peserta didik terhadap matapelajaran sejarah. Serta dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai matapelajaran sejarah peserta didik kelas X TOI 2 saat kegiatan evaluasi dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 80. Pada saat proses pembelajaran sejarah yang berlangsung di kelas X TOI 2 dapat diketahui bahwa proses pembelajaran yang dilakukan berjalan secara tertib dan kondusif yang mana hampir seluruhnya peserta didik tidak ada yang mengantuk, bermain handphone bahkan bermain dengan temanya. Dari uraian yang disampaikan di awal dapat diketahui bahwa proses pembelajaran sejarah yang dilaksanakan di kelas X TOI 2, menunjukkan kegiatan pembelajaran dilakukan sangat menarik dan tidak membosankan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam setiap proses pembelajaran, hendaknya guru selalu menghadirkan media karena dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar peserta didik juga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi di kelas. Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:   1. Untuk mengetahui penerapan media pembelajaran sejarah berbasis android “EDS“ yang diterapkan oleh guru sejarah untuk kelas X Teknik Otomasi Industri 2. 2. Untuk mengetahui dampak penerapan media pembelajaran sejarah berbasis android “EDS” terhadap hasil belajar peserta didik yang diterapkan oleh guru sejarah untuk kelas X Teknik Otomasi Industri 2 di SMK Negeri 1 Singosari.   METODE Metode  penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Menurut Sukmadinata (2015: 60) penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok, beberapa dekripsi tersebut digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan yang mengarah pada penyimpulan. Sedangkan jenis penelitian deskriptif adalah data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar dengan tujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat (Sugiyono, 2014: 9).  Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan data penelitian dengan menggunakan studi wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan di sekolah.Wawancara dilakukan kepada guru pengampu matapelajaran sejarah, Waka Kurikulum dan peserta didik X TOI 2. Wawancara digunakan untuk mengetahui sudut pandang guru sebagai subjek penelitian terkait sebagai guru pengampu matapelajaran sejarah di kelas, sudut pandang peserta didik X TOI 2 sebagai subjek penelitian terkait pelaksana pembelajaran dan sudut pandang Waka Kurikulum mengenai sistem kurikulum yang diterapkan di sekolah. Untuk instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan wawancara dan lembar observasi berkaitan mengenai kegiatan pembelajaran di kelas. Untuk kegiatan observasi dilakukan dengan mengacu pada lembar observasi yang berkaitan dengan kondisi di lingkungan sekolah. Selanjutnya dokumentasi berisi data-data pendukung yang dapat digunakan oleh peneliti untuk melengkapi data yang dibutuhkan.  Terkait dengan objektifitas dan keabsahan data, peneliti melakukan pemeriksaan data dengan menggunakan triangulasi. Triangulasi merupakan pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti sekaligus untuk menguji data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data (Sugiyono, 2015: 330). Dalam hal ini peneliti menggunakan dua macam triangulasi yaitu triangulasi sumber, yang dilakukan dengan cara mengecek baik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda, yaitu lisan dan perbuatan antara guru dan peserta didik. Untuk triangulasi metode dilakukan dengan cara pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi melalui pengecakan derajat kepercayaan dari sumber data dengan cara yang sama. Selain itu untuk memperoleh keabsahan data, peneliti juga melakukan pengamatan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung di kelas dengan tujuan untuk mendapatkan data yang akurat dan sesuai dengan yang dilakukan oleh guru dan peserta didik pada saat proses pembelajaran. Peneliti juga melakukan member check kepada subjek yang dianggap mengetahui terkait penggunaan media pembelajaran sejarah yang diterapkan di kelas X Teknik Otomasi Industri 2. Selanjutnya terkait analisis data yang digunakan oleh peneliti yaitu menggunakan model Miles dan Huberman yang merupakan model interaktif. Analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses sistematis sebagai upaya yang dilakukan oleh peneliti untuk mengorganisasikan data, mengelompokan menjadi satuan-satuan, mensintesis, mencari, menemukan pola, menemukan apa yang penting, dan memutuskan apa yang dapat dilaporkan kepada orang lain. Analisis data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif. Analisis data deksriptif digunakan  untuk memberikan gambaran mengenai subjek penelitian berdasarkan data yang diperoleh dari subjek yang diteliti. Menurut Sugiyono (2013: 246-252) terdapat beberapa tahapan dalam analisis data penelitian kualitatif yaitu, data reduction, data display, conclusion drawing/ verification.    HASIL Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam 2 kali pertemuan dengan total alokasi waktu 4 jam atau 2 X 90 menit. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru matapelajaran sejarah yaitu, Bapak Nurcahyo Arief Amien, S.Pd. Sedangkan peneliti bertindak sebagai pengamat atau observer. Berdasarkan temuan data dilapangan sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan terlebih dahulu guru melakukan perencanaan pembelajaran yakni guru menyusun RPP sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Selain itu persiapan-persiapan lain yang dilakukan oleh guru adalah menyiapkan materi dan menyiapkan alat dan media pembelajaran yang akan digunakan saat mengajar. Kegiatan selanjutnya terkait dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas, untuk pelaksanaan pembelajaran sejarah yang pertama dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019 di ruang 15 kelas X Teknik Otomasi Industri 2 pada jam ke 5- 6. Pelaksanaan pembelajaran kali ini membahas materi mengenai “Orde Baru”. Sebelum penyampaian materi terlebih dahulu guru melakukan apersepsi berkaitan dengan materi yang akan dibahas. Seperti biasa guru  menggunakan media pembelajaran aplikasi android “EDS”. Pada kegiatan pembelajaran kali ini guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjelaskan makna Supersemar. Kegiatan ini dilakukan dengan sistem penunjukkan langsung dari guru pengampu mata pelajaran sejarah. Diantaranya terdapat beberapa peserta didik yang diminta oleh guru untuk menjelaskan dengan menuliskan jawabanya menggunkaan keyboard wireless dan ditampilkan di proyektor. Berikut nama-nama peserta didik yang mendapatkan pertanyaan dari guru pengampu matapelajaran diantaranya Kurniawan Wahyu Pratama, Oren Satir Azzuuarte, Salma Sana dan Rifky Akbar Putra. Kegiatan selanjutnya yaitu penyampaian materi oleh guru, materi yang disampaikan yakni mengenai Supersemar serta memberikan penjelasan yang belum disampaikan oleh peserta didik pada saat kegiatan presentasi. Setelah itu guru memberikan konfirmasi terhadap jawaban-jawaban dari peserta didik. Dari beberapa jawaban dari peserta didik pendapatnya mengenai Supersemar, hampir seluruhnya jawaban benar karena memang subjektif. Selain itu guru selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada peserta didik agar peserta didik memiliki sikap berani dan terampil dalam menjelaskan. Dapat disimpulkan pembelajaran pada pertemuan pertama, guru lebih mengarahkan pada keaktifan dan partisipasi peserta didik, sedangkan guru hanya sebagai pelaksana dan fasilitator. Kegiatan inti selanjutnya guru membagi peserta didik menjadi 6  kelompok masing-masing terdiri dari 5-6 peserta didik, dan memberikan tugas agar peserta didik melakukan kegiatan diskusi dan presentasi dengan materi yang dipilih oleh guru kaitanya dengan Orde Baru. Diantaranya materi tersebut yakni mengenai Supersemar, Aksi tritura, Repelita pembangunan dan Dwifungsi ABRI. Dikarenakan pada pertemuan pertama waktu sudah habis maka kegiatan diskusi dan presentasi dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Sebelum kegiatan pembelajaran diakhiri terlebih dahulu guru mempersilahkan kepada peserta didik untuk melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan pada kali ini, terdapat salah satu siswa yang memberikan refleksi dalam pembelajaran pertemuan awal yaitu Rifky Akbar Putra, dan memberikan kesimpulan bahwa banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia pada tahun 1966 yang sangat memperhatinkan dan banyak peristiwa yang telah terjadi salah satunya yaitu Supersemar. Berdasarkan hasil observasi/ temuan lapangan pada kegiatan pembelajaran pertemuan 1:  1. Pada saat menyampaikan materi guru memiliki gaya dan metode penyampaian yang menarik dan variatif. Sehingga hampir seluruhnya tidak ada peserta didik yang mengantuk, bermain handphone bahkan bermain sendiri pada saat pelajaran berlangsung. 2. Penggunakan media pembelajaran berbasis android “EDS” dalam pembelajaran dapat memudahkan guru dalam menyampaikan materi. Dan memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. 3. Metode pengajaran yang digunakan oleh guru sangat varitaif sehingga pembelajaran sejarah tidak monoton. Pada saat guru meminta kepada peserta didik untuk menjelaskan terdapat beberapa peserta didik yang aktif dan responsif. 4. Media pembelajaran yang digunakan oleh guru sangat aplikatif sehingga guru dapat melibatkan peserta didik dalam penggunaan media. 5. Kegiatan akhir pembelajaran dilakukan dengan refleksi dari peserta didik dan guru.  Berdasarkan hasil observasi pertemuan pertama yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah yang dilaksanakan di kelas X TOI 2 dengan menggunakan media  pembelajaran berbasis android “EDS” dapat membangkitan antusiasme peserta didik dalam belajar sejarah, hal ini dapat dibuktikan pada saat proses pembelajaran berlangsung hampir seluruhnya peserta didik dengan seksama mendengarkan dan memperhatikan guru pada saat menyampaikan materi. Dan juga pada saat guru meminta tolong kepada peserta didik untuk menjelaskan materi Supersemar terdapat respon positif dari peserta didik untuk melaksanakan perintah dari guru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama dapat dilakukan sesuai dengan RPP dan kegiatan pembelajaran berjalan dengan tertib dan lancar.  Selanjutnya pada pertemuan kedua dilaksanakan pada 04 Maret 2019 seperti biasa dalam proses pembelajaran sejarah, guru menggunakan media pembelajaran yang sama yaitu “EDS”. Pada pertemuan kali ini guru mempersilahkan peserta didik untuk berdoa dan dilanjutkan dengan kegiatan apersepsi berkaitan mengenai materi yang akan dibahas. Setelah itu kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan diskusi dan presentasi. Kemudian guru meminta kepada peserta didik untuk berkumpul dengan anggota kelompok yang kemarin telah dibagi untuk mendiskusikan materi mengenai Supersemar, Aksi tritura, Repelita pembangunan dan Dwifungsi ABRI. Masing-masing kelompok akan mendiskusikan materi tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi dari masing-masing kelompok. Guru menginstruksikan kepada peserta didik bahwa kegiatan diskusi telah berakhir dan dilanjutkan dengan presentasi. Kegiatan presentasi dilakukan dengan sistem setiap kelompok hanya ada 4 orang yang akan mewakili kelompoknya dengan menjelaskan materi yang berbeda-beda. Di samping itu guru akan melakukan penilaian terhadap presentasi yang dilakukan oleh masing-masing anggota kelompok dengan acuan kelengkapan materi yang disampaikan dan keterampilan masing-masing anggota kelompok dalam menyajikan materi. Terdapat 2 kelompok yang maju presentasi pada hari ini diantaranya kelompok B dan kelompok C. Presentasi pertama dilakukan oleh kelompok B kemudian guru mempersilahkan kepada peserta didik yang bernama, Nabila Putri Erlis Abadi, Krisna Ari Iman Navithori, Shinta Aurelia, dan Oren Satir Azzuarte. Masing-masing mereka mendapatkan materi yang berbeda. Presentasi dilakukan oleh peserta didik di depan kelas dengan sistem bergantian. Selanjutnya guru memberikan sedikit komentar dan dilanjutkan pemberian nilai masing-masing anggota kelompok dengan mendapatkan nilai berbeda-beda tergantung pada saat mereka menyajikan materi diantaranya : Krisna Ari Iman Navithori mendapatkan nilai 91, Nabila Putri Erlis Abadi memperoleh nilai 90, Shinta Aurelia memperoleh nilai 90 dan yang terakhir Oren Satir memperoleh nilai 90. Presentasi berikutnya dilakukan oleh kelompok C yang terdiri dari peserta didik yang bernama Junanti Noer Arimbi, Rio Oktaviani, Dewi Herwindya Nisa dan Aldino Ferdiansyah. Pada presentasi kedua ini guru memberikan pujian karena presentasi yang dilakukan cukup baik, sehingga guru memberikan nilai yang baik juga karena memenuhi acuan yang dijadikan standar penilaian. Kemudian guru memberikan penilaian untuk anggota kelompok B yang bernama Juninta Noer Arimbi mendapatkan nilai 94,  Rio Oktaviani memperoleh nilai 95, Dewi Herwndya Nisa memperoleh nilai 91 dan yang terakhir Aldino Ferdiansyah memperoleh nilai 92. Selanjutnya guru memberikan tepuk tangan kepada semua masing-masing kelompok yang sudah berpartisipasi dan melakukan kegiatan diskusi dan presentasi dengan baik. Sebelum kegiatan pembelajaran diakhiri guru menambahkan materi sedikit untuk melengkapi hasil presentasi dari masing-masing kelompok dan dilanjutkan dengan kegiatan refleksi yang dilakukan oleh peserta didik yang bernama Hanina Az-zahra. Kemudian guru menginstruksikan kepada ketua kelas untuk memimpin doa. Selanjutnya guru menyampaikan informasi bahwa pembelajaran minggu yang akan datang masih membahas tema yang sama dan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi. Berdasarkan hasil observasi/ temuan lapangan pada kegiatan pembelajaran pertemuan 2:  1. Kegiatan pembelajaran dilakukan sesuai dengan RPP, diantaranya dilakukan diskusi dan presentasi 2. Saat kegiatan diskusi berlangsung, guru mendampingi peserta didik dan mendatangi masing-masing anggota kelompok 3. Kegiatan diskusi dapat dilakukan dengan lancar dikarenakan terdapat pembagian tugas masing-masing peserta didik 4. Pada saat kegiatan presentasi hampir setiap kelompok melakukan kegiatan presentasi dengan baik, diantaranya materi yang disampaikan sesuai dan juga lengkap 5. Saat kegiatan presentasi berlangsung hampir seluruhnya peserta audien menyimak dengan baik 6. Kegiatan akhir pembelajaran dilakukan dengan refleksi dari peserta didik dan guru. Berdasarkan hasil observasi pada pertemuan kedua yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah yang dilaksanakan di kelas X TOI 2 dapat berjalan dengan tertib dan lancar. Pada pertemuan kedua, banyak aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik saat pembelajaran sejarah di kelas. yaitu kegiatan diskusi dan presentasi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat diketahui bahwa saat kegiatan diskusi hampir seluruhnya berjalan dengan lancar, dan juga masng-masing anggota kelompok melakukan diskusi dengan baik karena terdapat pembagian tugas. Masing-masing anggota kelompok yang dipilih oleh guru pengampu mata pelajaran saat mempresentasikan materi sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui hampir seluruhnya peserta didik yang menjadi peserta audien dapat tertib walaupun masih ada yang ramai, namun masih bisa dikondisikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua dapat dilakukan sesuai dengan RPP dan kegiatan pembelajaran berjalan dengan tertib dan lancar.   PEMBAHASAN A. Penerapan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Andr

    DAYA KREATIVITAS GURU DALAM MENGAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 1 SUMBERPUCUNG KABUPATEN MALANG TAHUN 2018/2019

    No full text
    DAYA KREATIVITAS GURU DALAM MENGAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 1 SUMBERPUCUNG KABUPATEN MALANG TAHUN 2018/2019Tryanda Saputro Miftahul HudaProdi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang ABSTRAKDalam proses belajar mengajar diharapkan tidak terjadi adanya komunikasi satu arah saja, namun antara siswa dan guru sebaiknya melaksanakan komunikasi dua arah sehingga ada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini dibutuhkan juga kreativitas dari guru sendiri untuk membuat siswanya menjadi aktif dalam proses belajar mengajar di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskribtif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan guru Sejarah, Observasi dan angket terbuka yang diberikan kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung yaitu (1) guru sudah cukup memahami materi Sejarah dengan baik baik. Guru menggunakan literatur-literatur berupa buku teks yang diberi oleh Kemendikbud dan didukung buku teks dari penulisannya sendiri. Materi yang dianggap sulit bagi guru yaitu materi yang mengandung kontroversial dan mengenai tokoh-tokoh di Indonesia, (2) guru Sejarah SMA Negeri 1 Sumberpucung memiliki daya kreativitas mengajar yang baik. Hal tersebut ditunjukkan melalui model pembelajaran yang bervariasi, tugas yang beraneka ragam dan teknik penilaian yang menunjukkan bahwa guru bertanggung jawab terhadap profesinya. Kata kunci: Kreativitas, Guru dan Sejarah.Dalam pendidikan di sekolah terdapat proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa dimana terjadi interaksi pendidik kepada peserta didik. Dalam proses belajar mengajar diharapkan tidak terjadi adanya komunikasi satu arah saja, namun antara siswa dan guru sebaiknya melaksanakan komunikasi dua arah sehingga ada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini dibutuhkan juga kreativitas dari guru sendiri untuk membuat siswanya menjadi aktif dalam proses belajar mengajar di sekolah. Uno (2007: 54) menyatakan bahwa pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses interaksi antara peserta belajar dengan pengajar atau instruktur dan atau sumber belajar pada suatu ingkungan belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa  pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa yang dipengaruhi oleh berbagai komponen belajar dengan penuh kesadaran dan terencana. Dalam pelaksanaannya dibutuhkan suatu proses yang aktif untuk memperoleh pengalaman atau pengetahuan yang baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku. Mata pelajaran Sejarah merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menengah (SMA). Sejarah membicarakan kejadian-kejadian pada manusia di masa lalu. Sejarah merupakan kenangan pengalaman umat manusia. Sejarah dapat membantu siswa untuk memahami perilaku manusia pada masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan demikian sejarah merupakan suatu pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi dalam masyarakat pada masa lampau sesuai dengan rangkaian kausalitasnya serta proses perkembangannya dalam aspek yang berguna bagi pengalaman untuk dijadikan pedoman kehidupan manusia masa sekarang serta arah cita-cita pada masa yang akan datang (Murti & Krisdianto, 2010: 10). Pengajaran sejarah berfungsi untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan bangga terhadap perkembangan masyarakat Indonesia. Dalam proses belajar mengajar, khususnya mata pelajaran sejarah seorang guru harus dapat menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa sejarah di masa lalu. Sebab menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah, sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Dengan demikian sejarah sangat berhubungan erat dengan peristiwa dan kehidupan umat manusia di masa lalu. Peristiwa-peristiwa masa lalu inilah yang dapat menumbuhkan rasa kebangsaan dan banggga terhadap tanah air (Kuntowijoyo, 1995:18).Salah satu sekolah di SMA kebupaten Malang adalah SMA Negeri 1 Sumberpucung. Sekolah ini merupakan sekolah negeri yang menjadi sekolah sekolah favorite di kalangan masyarakat Sumberpucung. Berdasarkan hasil observasi awal diperoleh informasi bahwa SMA Negeri 1 Sumberpucung merupakan sekolah yang memiliki banyak prestasi baik akademik maupun non akademik. Hal itu menjadi keunikan tersendiri karena siswanya belajar dengan cara yang bervariatif sesuai dengan karakter guru. Guru sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung berjumlah empat guru yaitu Bapak Susanto Yunus Alfian, Ibu Melaningrum Andarwati, Bapak Syamud, dan Ibu Eka Dian Susanti. Berdasarkan latar belakang pendidikan terdapat satu guru yang bukan lulusan sejarah yaitu Bapak Syamud. Bapak syamud merupakan lulusan Pendidikan Kewarganegaraan yang mengajar mata pelajaran Sejarah dan Sosiologi di SMA Negeri 1 Sumberpucung. Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan, selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini menunjukkan bahwa betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan. Guru menjadi faktor yang menentukan mutu pendidikan karena guru berhadapan langsung dengan para peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas. Di tangan guru, mutu dan kepribadian peserta didik dibentuk. Karena itu, perlu sosok guru kompeten, bertanggung jawab, terampil, dan berdedikasi tinggi. Guru juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi  (Uno, 2009:16-17).Menurut Kuntowijoyo (1995:4), pendekatan yang digunakan seorang guru sejarah berbeda-beda pada setiap jenjang pendidikannya. Di bangku SD, sejarah dibicarakan dengan pendekatan estetis. Artinya, sejarah diberikan semata-mata untuk menawarkan rasa cinta kepada perjuangan pahlawan, tanah air dan bangsa. Di bangku SLTP, sejarah diberikan dengan pendekatan etis. Kepada siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat dan kebudayaaan lain, baik yang dulu maupun sekarang. Di bangku SMA, pengajaran sejarah harus diberikan secara kritis karena mereka sudah bisa berpikir mengapa sesuatu terjadi, apa sebenarnya yang terjadi, dan arah kejadian-kejadian itu. Hal ini mengharuskan perlu adanya guru yang berwawasan kesejarahan yang luas agar dapat membentuk siswa yang berwawasan luas pula.Kreativitas setiap guru dalam pembelajaran berbeda-beda. Guru memiliki cara mengajar yang berbeda-beda baik dalam mengajar di kelas ataupun dalam tingkat ilmu pengetahuannya. Kreativitas sangat diperlukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Kreatiftas dalam hal ini bukan hanya dalam hal pengembangan materi dengan menambah sumber materi  maupun referensi lain yang berhubungan dengan materi yang dipelajari, tetapi juga mencakup media pembelajaran yang digunakan, metode dalam pembelajaran, serta strategi pembelajaran yang digunakan. Metode PenelitianPada penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Pada proses pembelajaran peneliti sebagai observer (pengamat) dalam proses belajar mengajar. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu hasil observasi dan wawancara. Peneliti melakukan observasi awal pada tanggal 27 April 2019 di SMA Negeri 1 Sumberpucung, kemudian melakukan wawancara kepada guru Sejarah serta menyebarkan angket terbuka kepada siswa secara acak pada 29 April 2019 sampai 10 Mei 2019. Subjek penelitian ini adalah guru-guru Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung. Terdapat 4 guru sejarah di SMA negeri 1 Sumberpucung yaitu Bapak Susanto Yunus Alfian, Ibu Melaningrum Andarwati, Bapak Syamud dan Ibu Eka Dian Susanti. Selain itu peneliti juga mengambil data dari beberapa siswa dari kelas X dan XI baik pada mata pelajaran Sejarah Indonesia maupun Sejarah Peminatan melalui angket terbuka. Hasil Penelitian dan PembahasanA.Pengetahuan Guru Sejarah Tentang Materi Pembelajaran Sejarah Di SMA Negeri 1 Sumberpucung Tahun 2018/2019Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Susanto Yunus Alfian pada 10 Mei 2019, beliau menjelaskan bahwa materi Sejarah merupakan materi yang mengandung tentang kejadian-kejadian di masa lalu. Ibu Melaningrum Andarwati juga menyatakan bahwa materi Sejarah merupakan materi yang mengandung unsur-unsur masa lalu yang berkitan dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Bapak Syamud juga menjelaskan bahwa mata pelajaran Sejarah merupakan mata pelajaran yang memuat nilai-nilai kehidupan di masa lalu. Ibu Eka Dian Susanti juga menyatakan bahwa Sejarah merupakan mata pelajaran yang penting untuk diajarkan di Sekolah karena mengandung kejadian dimasa lalu yang bersifat penting karena di dalamnya memuat unsur perubahan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wasino (2007: 2) yang menyatakan bahwa Pembelajaran sejarah yaitu ilmu yang mempelajari kehidupan umat manusia pada masa lampau di berbagai tempat atau jenis lingkungan dengan berbagai corak politik, sosial, budaya, dan perekonomian juga mempelajari mata rantai kehidupan yang satu dengan yang lain serta hubungan masa silam dengan masa sekarang serta masa yang akan datang. Sejarah mengandung arti kejadian-kejadian yang dibuat manusia atau yang mempengaruhi manusia, perubahan atau kejadian yang berubah dari satu keadaan kekeadaan yang lainnya. Menurut Ibu Melaningrum Andarwati, mata pelajaran Sejarah tidak hanya mata pelajaran yang menghafal konsep, mempelajari fakta akan tetapi siswa dididik untuk membentuk karakter yang baik karena Sejarah mengandung unsur-unsur nilai suatu Bangsa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Susanto (2014: 35) menyatakan bahwa dalam rangka pembangunan bangsa, pengajaran Sejarah tidak semata-mata berfungsi untuk memberikan pengetahuan Sejarah sebagai kumpulan informasi fakta Sejarah tetapi juga bertujuan menyadarkan anak didik atau membangkitkan kesadaran Sejarahnya untuk mencapai tujuan tersebut maka Sejarah yang diajarkan haruslah Sejarah yang mengedepankan nilai-nilai kehidupan, bukan Sejarah hapalan yang semata.Menurut Bapak Susanto Yunus Alfian, materi Sejarah sangat penting untuk diajarkan di SMA karena dalam materi mengandung Sejarah Bangsa yang seharusnya siswa memahami untuk kehidupan yang lebih baik. Menurut Ibu Eka Dian Susanti, Sejarah tidak hanya dikenang akan tetapi pada materi Sejarah penting diajarkan agar siswa dapat memahami sejarah Bangsanya sehinga kedepannya siswa akan menjadikan Bangsanya lebih baik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hasan (2008: 1) Materi pendidikan sejarah adalah materi yang lengkap menggambarkan perjalanan kehidupan kebangsaan dari mulai kehidupan awal sebelum kehidupan bangsa terbentuk. Keberhasilan dan kegagalan adalah suatu dinamika yang harus dipelajari generasi baru untuk dijadikan pelajaran dan dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih baik dalam memberikan warna jatidiri bangsa. Materi sejarah perlu diberikan pada dunia pendidikan. Hal tersebut dikarenakan sejarah adalah wahana penting untuk pendidikan kebangsaan. Bapak Syamud mengatakan bahwa materi yang mengandung perbedaan pendapat seringkali menjadi kebingungan siswa sehingga guru harus belajar terlebih dahulu. Materi seperti teori- teori masuknya Hindu- Budha, masuknya Islam di Indonesia itu merupakan materi yang mengandung unsur kebingungan pada siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapatnya Djunaidi (2015:25-26) bahwa Ada dua jenis sejarah kontroversial, yang pertama berkaitan dengan fakta-fakta dan yang kedua berkaitan dengan signifikansi, relevansi dan interpretasi sekumpulan fakta. Sejarah kontroversial tidak hanya karena terjadinya multi tafsir dalam interpretasi, tetapi juga karena keterbatasan data sejarah sehingga menimbulkan polemik. Jadi bukan sesuatu yang asing kalau dalam tulisan sejarah akan muncul hal-hal yang cenderung bersifat kontroversial.Bagi Ibu Eka Dian Susanti materi kontroversial di dalam mata pelajaran Sejarah menjadi materi yang sulit akan tetapi ada hal positifnya yakni melalui materi kontroversial dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan daya berfikir kritis pada siswa karena berkaintan dengan daya berfikit siswa. Su’ud (2007:109) menyatakan bahwa pengembangan pola isu kontroversi dalam kelas sejarah bertujuan untuk mencapai (1) peningkatan daya penalaran; (2) peningkatan daya kritik sosial; (3) peningkatan kepekaan sosial; (4) peningkatan toleransi dalam perbedaan pendapat; (5) peningkatan keberanian pengungkapan pendapat secara demokratis; serta (6) peningkatan kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.B.Daya Kreativitas Guru Dalam Mengajar Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung Tahun 2018/2019Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Syamud pada 10 Mei 2019, menyatakan bahwa sebelum pembelajaran beliau menyiapkan Rancangan Rencana Pembelajaran (RPP) agar langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan jelas. Hal tersbut sesuai dengan Komalasari (2013: 3) menyatakan bahwa pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses pembelajaran subjek didik atau pembelajaran yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik atau pembelajar dapat mencapai tujuan- tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien.Wawancara pada tanggal 8 Mei 2019 dengan Ibu Eka Dian Susanti, didapatkan hasil bahwa sebelum mengajar beliau harus melihat silabus kemudian melihat tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam materi yang terdapat pada RPP. Rancangan dalam pembelajaran diperlukan agar kegiatan KBM dapat maksimal. Dalam penyusunannya perlu mempersiapkan sintak.Hal tersebut sesuai dengan pengertian pembelajaran yang dijelasakn oleh Sukirman (2009: 1) belajar dan pembelajaran berlangsung dalam suatu proses yang dimulai dengan perencanaan berbagai komponen dan perangkat pembelajaran agar dapat diimplementasikan dalam bentuk interaksi yang bersifat edukatif, dan diakhiri dengan evaluasi untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Belajar dan pembelajaran merupakan suatu proses yang komplek dengan menyatukan komponen-komponen yang memiliki karakteristik tersendiri yang secara terintegrasi, saling terkait dan mempengaruhi untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan.Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Susanto Yunus Alfian pada 10 Mei 2019, menurut beliau cara mengajar yang sering dilakukan pada saat KBM ialah siswa biasanya disuruh mengerjakan soal-soal, diskusi kelompok dan juga membuat karya tulis. Tujuannya ialah agar siswa dapat berfikir kritis dengan belajar mandiri. Hal tersebut bukan berarti guru membiarkan siswa akan tetapi guru tetap memantau kegiatan siswa. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Bobae kelas XI IPA 1, ia menyatakan bahwa Bapak Susanto Yunus Alfian memberikan tugas seperti mencatat (merangkum) poin-poin dalam buku paket, membuat karya ilmiah, membuat kliping tentang pahlawan dari peristiwa-peristiwa pada saat kemerdekaan. Menurut Ibu Eka Dian Susanti pada saat wawancara pada tanggal 8 Mei 2019, beliau menyatakan bahwa media pembelajaran itu penting. Pemilihan media harus didasarkan pada kebutuhan siswa. Media yang biasa digunakan adalah power point, multimedia dan film yang didukung dengan pemanfaatan laptop serta LCD. Hal ini sesuai dengan pendapat Menurut Sudjana (2009: 35-37) menyatakan kriteria keberhasilan pembelajaran dari sudut prosesnya (by process) adalah siswa menempuh beberapa kegiatan belajar sebagai akibat penggunaan multi metode dan multimedia yang dipakai guru ataukah terbatas kepada satu kegiatan belajar saja. Menurut VX kelas XI IPA 1 yang dituliskan dalam angket menyatakan  bahwa sebenarnya ia tidak menyukai mata pelajaran Sejarah Indonesia akan tetapi karena gurunya Bapak Santo Yunus Alfian jadi pembelajarannya menyenangkan sehingga ia tidak merasa bosan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria keberhasilan pembelajaran dari sudut prosesnya (by process) menurut Sudjana (2009: 35-37) yaitu Kegiatan siswa belajar dimotivasi guru sehingga ia melakukan kegiatan belajar dengan penuh kesadaran, kesungguhan, dan tanpa paksaan untuk memperoleh tingkat penguasaan pengetahuan, kemampuan serta sikap yang dikehendaki dari pembelajaran itu sendiri.Menurut Bobae kelas XI IPA 1 dalam angket terbuka, ia menyatakan bahwa Bapak Susanto Yunus Alfian memberikan tugas seperti mencatat (merangkum) poin-poin dalam buku paket, membuat karya ilmiah, membuat kliping tentang pahlawan dari peristiwa-peristiwa pada saat kemerdekaan. Adanya variasi pembelajaran yang dilakukkan bapak Susanto Yunus Alfian menunjukkan bahwa beliau merupakan guru yang kreatif. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Alfiyani (2010:15) berpendapat bahwa pendekatan pengajaran guru kreatif dapat dilakukan dengan memprakarsai belajar sendiri (self-initiared learning) pada sebagian siswa. Prinsip yang dipandang baik dalam proses belajar mengajar dilaksanakan, tetapi semua itu dilakukan dalam rangka menginduksi respon yang kreatif dari siswa, seperti melakukan aktivitas untuk mendorong siswa menyelidiki sendiri, melaksanakan eksperimen dan mengambil kesimpulan sementara terhadap eksperimen yang dilakukan tersebut.Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Eka Dian Susanti pada tanggal 8 Mei 2019, tugas-tugas yang diberikan kepada siswa beraneka ragam. Ada yang harus merubah materi sejarah menjadi lirik lagu, ada juga yang siswa harus membuat teka teki silang kemudian ditukar dengan kelompok lain. Hal itu justru menarik karena siswa akan berkreasi. Menurut beliau tugas-tugas seperti itu akan melatih kesabaran, kreatifitas siswa dan daya berfikir siswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru kreatif dalam memberikan tugas kepada siswa. Sesuai dengan pendapat Halman dalam Alfiyani (2010:15) bahwa Guru yang kreatif mendorong proses berfikir kreatif siswa. Dia memberikan rangsangan kepada siswa untuk mencari hubungan-hubungan yang baru antar data, mengimajinasikannya, mencari pemecahan-pemecahan masalah yang sedang dihadapi, membuat perkiraan secara cepat, menemukan ide-ide sampingan untuk membentuk ide-ide baru. Dia mendorong siswa untuk mengungkapkan hubungan-hubungan yang tidak mungkin antar elemen-elemen, dalam rangka menemukan suatu teori yang tidak masuk akal atau menyimpang dari yang biasa. Tidak hanya hal itu akan tetapi Guru yang kreatif mendorong individu untuk mengevaluasi sendiri kemajuan hasil belajarnya (encourages self-evaluation).Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Melanirngrum pada tanggal 10 Mei 2019 dapat disimpulkan bahwa tugas yang diberikan kepada siswa bervariasi. Menurut Pangeran Catur, Fitri S, Rochmatul Hidayah, Elisa Fitri, dan Erilla Windayari kelas XI IPS 3 yang dituliskan pada angket menyatakan bahwa  tugas-tugas yang diberikan kepada siswa seperti membuat video visual dengan menggunakan aplikasi power director yang bertujuan menambah kreativitas murid. Tugas individu dan kelompok, membuat essay yang bertujuan untuk melatih para siswa agar para siswa berfikir kritis. Pada penilaiannya siswa diberikan kebebasan untuk mengevaluasi hasil kerja kelompok baik milik kelompoknya sendiri atau kelompok lain.Hal diatas menunjukkan bahwa Ibu Melaningrum merupakan guru yang kreatif. Sesuai dengan pendapat Halman dalam Alfiyani (2010:15) guru yang kreatif menciptakan lingkungan belajar yang tidak otoriter, kondisi yang bebas memberikan fasilitas kepada siswa untuk berkreatif, jenis kebebasan yang diperlukan agar siswa menjadi kreatif adalah kebebasan yang berkenaan dengan psikologi, simbolik dan kebebasan untuk mengungkapkan pengalaman secara spontan.Menurut Erlinda Nur Cahyani pembelajaran Sejarah Indonesia yang diajarkan Ibu Eka Dian Susanti bervariasi dan mudah dipahami. Tugas yang diberikan seperti membuat peta (jalur kedatangan Jepang), mengubah lirik lagu dengan materi pelajaran, membuat mading dan membuat teka-teki silang. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru tegolong kreatif. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Halman dalam Alfiyani (2010:15) Guru yang kreatif memberikan kesempatan kepada siswa untuk memanipulasi materi, ide-ide, konsep-konsep, alat-alat dan struktur-struktur. Keahlian adalah suatu unsur yang diperlukan dalam kreativitas yang bersifat pribadi, bilamana hal itu berhubungan dengan keahlian menggunakan kata-kata seperti bersajak atau mengarang, menggunakan warna seperti menggambar, menggunakan nada seperti dalam bernyanyi dan menggunakan kayu seperti pertukangan. Ibu Eka Dian Susanti pada tanggal 8 Mei 2019 juga mengatakan bahwa saat pembelajaran Sejarah Peminatan siswa diberikan tugas untuk melakukan penelitian Sejarah di daerahnya secara berkelompok. Tugas tersebut menunjukkan bahwa guru memberikan tugas yang membuat siswa melakukan penelitian untuk memberikan pengalaman kepada siswa. Berikut didukung dengan pernyataan siswa yaitu Halman dalam Alfiyani (2010:15) Guru yang kreatif mempromosikan fleksibilitas intelektual (promote intellectual flexibility) diantara siswa. Dia mendorong siswa untuk mengangkat posisi observasi yang mereka lakukan untuk memvariasikan pendekatan menuju masalah-masalah yang akan dipecahkan. PenutupKesimpulanBerdasarkan pada Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Paparan Data dan Pembahasan dapat disimpulkan sebagaiberikut:1. Pengetahuan Guru Sejarah Tentang Materi Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung Tahun 2018/2019 sudah baik. Guru sudah memahami materi Sejarah melalui masa pendidikannya dan melalui literature-literature yang didapatkan dari pemerintan maupun dari pencarian pribadi. Materi yang dianggap sulit bagi guru adalah materi yang bersifat kontroversial. Akan tetapi guru mampu mengatasi hal tersebut dengan memperbanyak bacaan atau literature. Hal positif yang didapatkan guru dalam materi kontroversial ialah guru di SMA Negeri 1 Sumberpucung dapat mema

    Pengembangan Mobile Learning Tentang Pemerintahan K.R.T Sosrokusumo Untuk Pembelajaran Sejarah Siswa Kelas X TKJ 1 SMK PGRI 1 Nganjuk

    No full text
    PENGEMBANGAN MOBILE LEARNING TENTANG PEMERINTAHAN K.R.T SOSROKUSUMO UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAH SISWA KELAS X TKJ 1 SMK PGRI 1 NGANJUKMuhammad Wildan Al Faruq, YuliatiPendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jln. Semarang 5 Malang 65145e-mail: [email protected] development research will minimize the use of learning resources used in historical subjects. Mobile learning is a result of development based on potential problems that exist in the field so that mobile learning media is developed. The purpose of this study is the result of the development of mobile learning learning media about the Government of K..R.T Sosrokusumo for class X TKJ 1 SMK PGRI 1 Nganjuk. This product has gone through the validation stage of material experts, media experts, and small group product trials, as well as large group usage trials. Based on the results of validation, mobile learning media is stated to be very valid or very well used in historical learning.Keywords: mobile learning, the government of K.R.T Sosrokusumo, historical learning ABSTRAKPenelitian pengembangan ini berdasarkan akan minimnya penggunaan sumber belajar yang digunakan pada mata pelajaran sejarah. Media pembelajaran sejarah mobile learning ini merupakan suatu hasil dari pengembangan yang berdasarkan dari potensi masalah yang ada di lapangan sehingga dikembangkanlah media pembelajaran mobile learning. Tujuan dari penelitian ini ialah menghasilkan produk pengembangan media pembelajaran mobile learning tentang Pemerintahan K.R.T Sosrokusumo untuk siswa kelas X TKJ 1 SMK PGRI 1 Nganjuk. Produk ini telah melalui tahap validasi ahli materi, ahli media, dan uji coba produk kelompok kecil, serta uji coba pemakaian kelompok besar. Berdasarkan hasil validasi, media pembelajaran mobile learning ini dinyatakan sangat valid atau sangat layak digunakan dalam pembelajaran sejarah.Kata Kunci: mobile learning, pemerintahan K.R.T Sosrokusumo, pembelajaran sejarahPembelajaran Menurut Mulyasa (2005: 110) adalah proses interaksi antara peserta didik dan lingkunganya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, dimana dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang berasal dari individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan. Perubahan pola pembelajaran pada era disrupsi 4.0 sangat berbeda bila disamakan dengan 15-20 tahun lalu dalam dunia pendidikan. Kegiatan pembelajaran pada era disrupsi 4.0 harus selalu melibatkan media dalam proses pembelajaran, tidak terkecuali pembelajaran sejarah.  Menurut Kuntowijoyo (1995: 18) Sejarah adalah cabang ilmu yang mengaji secara sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupanya yang terjadi dimasa lampau. Salah satu media pembelajaran yang dapat menarik minat peserta didik dalam pembelajaran sejarah adalah mobile learning atau biasa disebut mobile learning.Mobile learning adalah pembelajaran yang unik karena pebelajar dapat mengakses materi pembelajaran, arahan, dan aplikasi yang berkaitan dengan pembelajaran kapan pun dan dimanapun melalui perangkat telekomunikasi seperti handphone, smartphone dan tablet (Rusman 2013:346-347). Penggunaan media pembelajaran harus sesuai dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah, sehingga proses pembelajaran tidak akan terhambat dan memudahkan siswa dalam belajar. Untuk itu perlu adanya suatu alternatif baru dalam pembelajaran agar dapat menarik minat dan memotivasi siswa dalam menarima pembelajaran sejarah. Alternatif yang ditawarkan adalah berupa produk mobile learning. Mobile learning didefinisasikan sebagai pembelajaran dimana siswa tidak terpaku pada tempat, lokasi yang ditentukan sebelumnya dan siswa memanfaatkan kesempatan belajar yang ditawarkan pada teknologi mobile (O’Malley 2003: 7).  Media pembelajaran berupa mobile learning ini berbasis pada android. Jadi hanya handphone yang menggunakan sistem android yang dapat mendownload aplikasi yang telah disediakan. Selain hanya berbasis android, mobile learning ini menggunakan sistem online untuk memudahkan peneliti memperbahurui materi setiap saat dan sistem online ini tidak memerlukan paket data yang banyak sehingga siswa tidak perlu khawatir kehabisan paket data. Alasan peneliti menggunakan media pembelajaran mobile learning hanya terbatas hanya di sistem android ialah, sesuai observasi awal yang dilakukan oleh peneliti yakni siswa SMK PGRI 1 Nganjuk banyak menggunakan handphone yang berbasis android. Alasan lainnya mengapa mobile learning ini tidak menggunakan sistem offline adalah karena di SMK PGRI 1 Nganjuk khususnya di dalam kelas signal masih sangat kuat dan ditunjang oleh subjek penelitian yaitu kelas X TKJ 1 yang mahir dalam hal komunikasi dan selalu mempunyai paket data karena ketentuan jurusan, sehingga produk mobile learning ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran sejarah.Penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti yaitu adalah penelitian milik Mochamad Iqbal Muhlasin (2016) Mahasiswa jurusan Sejarah yang membahas tentang “Histo-App” penelitian Mochamad Iqbal Muhlasin ini gunanya untuk mengetahui efektif tidaknya produk “Histo-App” dalam pembelajaran sejarah. Selanjutnya penelitian terdahulu milik Hermin Mariane (2017) Mahasiswa jurusan Sejarah yang membahas tentang Aplikasi Sejarah (APRAH) produk “Histo-App” ini membahas tentang nilai-nilai sumpah pemuda dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan Indonesia pada masa kini.Penelitian terdahulu yang terakhir adalah milik Ari Andriansyah (2018) Mahasiswa jurusan Sejarah yang membahas tentang “History Modul & Quiz (Himoquiz)”. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan diatas yaitu terletak pada teknik penyusunan mobile learning, materi yang dilampirkan serta aplikasi yang digunakan untuk pengembangan mobile learning tersebut. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk pengembangan berupa media pembelajaran mobile learning tentang materi sejarah Pemerintahan K.R.T Sosrokusumo. METODEModel yang digunakan dalam pengembangan mobile learning sejarah Pemerintahan K.R.T Sosrokusumo adalah Research and Development (R&D). Sugiyono (2016: 9) menyatakan bahwa penelitian dan pengembangan R&D merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran. Dengan adanya penelitian ini dapat, dikatakan bahwa tujuan penyusunan produk untuk memberi kemudahan pada siswa khususnya dalam pembelajaran sejarah. Model pengembangan ini secara khsusus membahas tentang pengembangan media pembelajaran khusunya mobile learning yang masih sangat minim pada kelas X TKJ 1 SMK PGRI 1 Nganjuk .Adapun langkah-langkah penelitian dan pengembangan seperti dijelaskan Sugiyono (2016: 409) adalah sebagai berikut: 1) Potensi dan masalah, 2) Pengumpulan data, 3) Desain produk, 4) Validasi desain, 5) Revisi Desain, 6) Uji coba produk, 7) Revisi produk, 8) Uji coba pemakaian, 9) Revisi produk, dan 10) Produksi missal. Media pembelajaran mobile learning ini terdapat dua tahapan validasi. Yang pertama yakni validasi materi yang dilakukan oleh Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A, sedangkan validasi media dilakukan oleh Bapak Wahyu  Djoko Sulistyo S.Pd., M.Pd. Setelah melalui tahap validasi, selanjutnya dilaksanakan uji coba produk kelompok kecil yang dilakukan pada 9 siswa atau responden di kelas X TKJ 1. Setelah melakukan uji coba produk kelompok kecil, berikutnya uji coba pemakaian kelompok besar, dengan jumlah 35 siswa atau responden dalam kelas yang sama. Instrumen pada pengumpulan data dalam penelitian dan pengembangan ini ialah dengan menggunakan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan pada saat validasi ahli materi dan media dan juga saat uji coba lapangan, dimana peneliti mendapat masukan dari validator, guru pengajar serta siswa yang di uji coba, sedangkan observasi dilakukan pada saat uji coba lapangan dengan melihat penggunaan produk media pembelajaran oleh siswa. Angket tersebut berisi tentang seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada para siswa untuk dijawab. Hasil dari angket yang telah diberikan nantinya digunakan untuk mengetahui kevalidan dari media pembelajaran mobile learning.Analisis data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Setelah pembuatan bahan ajar berupa mobile learning selesai, maka selanjutnya akan dilakukan proses validasi kepada ahli materi dan ahli media. Tujuan untuk dilakukannya validasi ialah untuk mengukur kesesuaian materi atau kelayakan media yang digunakan serta mengetahui tingkat validitas media pembelajaran sebelum diujicobakan di lapangan dengan menggunakan instrumen berupa angket. Berikut rumus untuk mengolah data kuantitatif subjek uji coba yakni, (Arikunto, 2006: 246):Keterangan:P = Presentase rata-rata ∑ = Jumlah jawaban skor oleh responden∑x1 = Jumlah jawaban ideal suatu item 100% = KonstantaUntuk menentukan ketercapaian dalam penelitian dan pengembangan ini maka digunakan ketentuan sebagai berikut:Tabel 1.1 Kriteria Validitas Ahli Materi, Media, Uji Coba Produk, dan Uji Coba PemakaianTingkat Kriteria85% - 100% Sangat valid (tanpa revisi)70% - 84% Valid (tanpa revisi)55% - 69% Cukup valid (revisi)50% - 54% Kurang valid (revisi)0% - 49% Tidak valid (revisi)Sumber: Arikunto (2009: 245)Pengembangan bahan ajar berupa mobile learning sejarah Pemerintahan K.R.T Sosrokusumo ini akan dinyatakan berhasil atau sesuai jika tingkat ketercapaian tersebut minimal 70%. Apabila sudah mencapai 70%, maka mobile learning dapat dikatakan layak dan siap untuk diterapkan atau dimanfaatkan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah. HASILHasil Uji Coba Media Pembelajaran Mobile LearningPada tahapan validasi media pembelajaran ini dilakukan oleh orang yang ahli pada bidangnya berdasarkan saran dari dosen pembimbing. Validasi bertujuan untuk mengetahui data berupa kevalidan dari media pembelajaran mobile learning. Setelah divalidasi, maka mobile learning dapat diujicobakan pada kelompok kecil dan uji coba pemakaian kelompok besar.1. Validasi Ahli MateriValidasi ahli materi dilakukan oleh Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A. pada lembar validasi materi, terdapat 12 item penilaian serta dilengkapi kolom kritik dan saran. Hasil yang di dapat dari validator materi yakni diperoleh prsentase sebesar 96% dengan kriteria sangat valid atau sangat baik digunakan2. Validasi Ahli MediaValidasi ahli media dilakukan oleh Bapak Wahyu Djoko Sulistyo S.Pd., M.Pd. pada lembar validasi media, terdapat 15 item penilaian serta dilengkapi dengan kolom kritik dan saran. Hasil yang di dapat dari validator media yakni diperoleh presentase sebesar 78% dan masuk ke dalam kriteria valid dan siap untuk digunakan.3.Uji Coba Produk Kelompok KecilUji coba produk kelompok kecil dilakukan dengan mengambil siswa kelas X TKJ 1 sebanyak 9 orang untuk diberikan angket yang telah berisi item penilaian serta juga dilengapi dengan komentar dan saran terhadap media pembelajaran mobile learning. Hasil yang di dapat dari uji coba produk kelompok kecil yakni diperoleh presentasi sebesar 85,1%, sehingga dapat dikategorikan atau masuk kriteria sangat valid atau sangat layak digunakan.4. Uji Coba Pemakaian Kelompok BesarUji coba pemakaian kelompok besar dilakukan di dalam kelas X Boga SMK Muhammadiyah 3 Singosari dengan melibatkan siswa sebanyak 30 siswa. Seluruh siswa diberikan angket penilaian yang berisi item penilaian serta terdapat komentar dan saran guna memberi masukan terhadap media E-modul. Hasil yang di dapat dari uji coba pemakaian kelompok besar yakni diperoleh presentase sebesar 88,6%, sehingga media pembelajaran mobile learning masuk dalam kriteria sangat valid atau sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran sejarah.Revisi ProdukPada tahap revisi produk, bertujuan untuk memperbaiki kualitas media pembelajaran E-modul agar layak untuk digunakan sebagai sumber belajar siswa. Kritik dan saran yang pertama diberikan oleh ahli materi, sebagai berikut: 1) Menambahkan foto K.R.T Sosrokusumo serta disarankan untuk menambahkan materi  “Biografi K.R.T Sosrokusumo” pada awal sub judul, 2) Memperbaiki beberapa kesalahan pengetikan dalam materi, serta menambahkan rujukan dalam setiap paragraf, 3) Penambahan daftar rujukan dalam materi, disarankan untuk menambah daftar rujukan dari yang awalnya 2 sumber menjadi 3 sumber. Revisi produk yang berikutnya yakni mendapat kritik dan saran dari ahli media, yaitu:1). Penggunaan font dan ukuran judul mobile learning yang masih kurang jelas sebaiknya ukuran huruf diperbesar dan diganti dengan font yang jelas dan menarik. Diharapkan juga untuk mengganti warna judul karena terlalu menyatu dengan background, dan di dalam background diharapkan untuk memberikan nama peneliti. 2). Penggunaan tampilan ikon yang kurang sesuai dengan judul sub materi sebaiknya diganti dengan yang lebih sesuai dan menarik. PEMBAHASANValidasi MateriHasil yang telah diberikan oleh validator materi, berdasarkan data kuantitatif mendapatkan skor keseluruhan 46 dari total skor ideal 48. Jadi hasil dari validasi materi menunjukkan presentase sebesar 96%. Hasil tersebut dapat dikategorikan masuk dalam kriteria sangat valid (tanpa revisi) untuk digunakan. Akan tetapi, walaupun sudah mendapat hasil sangat valid, proses revisi masih tetap dilakukan sesuai dengan kritik dan saran yang diberikan oleh validator materi.Validasi MediaHasil yang telah diberikan oleh validator media, berdasarkan data kuantitatif mendapatkan skor keseluruhan 47 total skor ideal 68. Jadi hasil dari validasi media menunjukkan presentase sebesar 78%. Hasil tersebut dapat dikategorikan masuk dalam kriteria valid (tanpa revisi) untuk digunakan pada tahap selanjutnya. Meskipun demikian, proses revisi masih tetap dilakukan sesuai dengan kritik dan saran yang telah diberikan.Uji Coba Produk Kelompok KecilPada tahap uji coba produk kelompok kecil yang dilakukan pada 9 siswa kelas X TKJ 1, berdasarkan data kuantitatif mendapatkan skor keseluruhan 460 dari total skor ideal 540. Jadi hasil dari uji coba produk kelompok kecil menunjukkan presentase sebesar 85,1%. Hasil tersebut termasuk ke dalam kategori sangat valid (tanpa revisi) untuk digunakan pada tahap uji coba pemakaian kelompok besar.Uji Coba Pemakaian Kelompok BesarUji coba pemakaian kelompok besar dilakukan pada 35 siswa kelas X Boga. Berdasarkan dari data kuantitatif produk yang diujicobakan mendapatkan skor keseluruhan 1862 dari total skor ideal 2100. Dengan demikian, hasil dari uji coba pemakaian kelompok besar menunjukkan presentase sebesar 88,6%. Hasil tersebut menempatkan pada kriteria sangat valid (tanpa revisi) untuk digunakan sebagai sumber belajar alternatif bagi pembelajaran sejarah.  KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanProduk yang telah dikembanngkan oleh peneliti pada penelitian dan pengembangan ini berupa produk media pembelajaran dengan konsep aplikasi m-modul yang hanya dapat diakses oleh handphone android yang berisi tentang materi Pemerintahan K.R.T Sosrokusumo. Materi yang diambil berdasarkan pada KD 3.5 yakni, Menganalisis Proses Masuk dan Perkembangan Penjajahan Bangsa Barat (Portugis, Belanda, Inggris) di Indonesia. Produk ini ditujukan pada siswa kelas X TKJ 1 SMK PGRI 1 Nganjuk. Media pembelajaran ini dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi handphone ialah untuk memudahkan siswa dalam belajar secara mandiri. Selain materi, pada media mobile learning juga dilengkapi dengan foto-foto atau gambar yang dapat menunjang proses pembelajaran.Alasan yang menjadi dasar dari penelitian dan pengembangan ini ialah minimnya penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah. Hal tersebut diperkuat dengan observasi awal serta wawancara yang dilakukan peneliti di SMK PGRI 1 Nganjuk, pada proses pembelajaran sejarah kebanyakan pembelajaran sering menggunakan proses ceramah, selain itu siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Menurut beberapa siswa, pembelajaran sejarah sudah cukup baik, akan tetapi lama kelamaan bosan karena guru sering menggunakan proses ceramah dan jarang menggunakan media pembelajaran yang menarik. Selain itu yang menjadi permasalahan ialah minimnya sumber belajar yang digunakan di dalam kelas, sehingga siswa yang ingin belajar mengenai sejarah menjadi terhambat akan permasalahan tersebut. Pada penelitian dan pengembangan ini, peneliti menggunakan 10 langkah-langkah penelitian milik. Media pembelajaran mobile learning ini telah melalui tahapan uji validasi yang dilakukan oleh ahli materi, yaitu Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A serta ahli media yaitu, Bapak Wahyu Djoko Sulistyo S.Pd., M.Pd. Adapun hasil dari validasi materi yang dilakukan oleh Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A, menunjukkan hasil presentase sebesar 96%. Sedangkan hasil validasi media yang dilakukan oleh Bapak Wahyu Djoko Sulistyo S.Pd., M.Pd, menunjukkan hasil presentase sebesar 78%. Hasil yang didapatkan dari uji coba produk kelompok kecil dengan 9 siswa menunjukkan hasil presentase sebesar 85,1%. Sedangkan pada tahap uji coba pemakaian kelompok besar dengan 35 siswa, menunjukkan hasil presentase sebesar 88,6% yang masuk ke dalam kriteria sangat valid atau sangat baik digunakan sebagai sumber belajar pada proses pembelajaran sejarah. SaranSaran PemanfaatanPada penerapannya, media pembelajaran mobile learning sebaiknya tetap pada pengawasan guru karena peserta didik terlibat langsung dalam penggunaan handphone. Guru juga sebagai fasilitator yang dapat membantu siswa dalam memahami materi yang terdapat pada mobile learning. Tempat penelitian juga harus diperhatikan, karena setiap sekolah memiliki aturan sendiri-sendiri dalam penggunaan handphone, selain itu sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah juga harus diperhatikan dalam melakukan penelitian, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.Saran PenyebaranLangkah penyebaran yang dapat dilakukan ialah dengan cara disebarluaskan dengan cara mengunggah link yang berkaitan dengan aplikasi mobile learning pada sosial media seperti Instagram, twitter, facebook dan sebagainya sehingga masyarakat juga dapat mengunduh dan selanjutnya dapat memanfaatkannya.Saran Pengembangan Produk Lebih LanjutMedia pembelajaran mobile learning sebaiknya tidak hanya terbatas pada sistem online saya, sebaiknya terlebih dahulu melihat sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah, apabila sekolah tidak memiliki sarana dan prasarana yang mendukung sebaiknya produk mobile learning diproduksi secara offline sehingga tidak menyulitkan siswa dalam mengakses. DAFTAR RUJUKANArikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya.Mulyasa. 2011. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.O’Malley,C, dkk. 2003. Guidelines For Learning/Teaching/Tutoring in a Mobile Environtment (Online), (http://www.mobilearn.org/download/results/guidelines.pdf , diakses pada 4 Februari 2019)Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

    0

    full texts

    1,821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇