SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1821 research outputs found

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE DEBATE PADA MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS X TATA NIAGA SMK PGRI TUREN

    No full text
    Abstrak Penerapan model pembelajaran Active Debate dilatarbelakangi kurangnya keaktifan belajar siswa kelas X Tata Niaga SMK PGRI Turen dalam mata pelajaran sejarah. Penggunaan model pembelajaran yang digunakan oleh guru bersifat konvensional dan kurang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Active Debate pada mata pelajaran sejarah. Hasil penelitian menunjukkan model pembelajaran Active Debate dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas X Tata Niaga SMK PGRI Turen pada mata pelajaran sejarah. Dari hasil keaktifan belajar siswa kelas X Tata Niaga menunjukkan peningkatan siklus 1 sebesar 54% dan siklus 2 sebesar 80,8%. Kata Kunci: model pembelajaran active debate, keaktifan belajar siswa, mata pelajaran sejarah. Abstract The implementation of the Active Debate learning model is motivated by the lack of students learning activeness of X Tata Niaga students of SMK PGRI Turen in history subjects. The use of learning models used by teachers is conventional and does not involve students actively in learning history. This study aims to improve student learning activeness by implementation Active Debate learning models on historical subjects. The results show that the Active Debate learning model can improve the learning activeness of X Tata Niaga students in SMK PGRI Turen on historical subjects. From the results of students learning activeness of X Tata Niaga showed an increase in cycle 1 by 54% and cycle 2 by 80.8%. Keywords: active debate learning model, students learning activity, history subject

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) PADA MATAPELAJARAN SEJARAH INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-IPS 1 MAN KOTA BATU

    No full text
    ABSTRAK Permasalahan yang muncul di kelas X-IPS 1 MAN Kota Batu adalah kurang maksimalnya hasi belajar siswa jika dilihat dari nilai UAS Ganjil Tahun Ajaran 2018-2019. Data tersebut diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan peneliti pada kelas tersebut. Maka untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut peneliti menerapkan model pembelajaran Group Investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-IPS 1 MAN Kota Batu. Untuk menerapkan model pembelajaran tersebut, pendekatan penelitian yang sesuai adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus, yang bertujuan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran tersebut. Kata Kunci: Model Pembelajaran, Group Investigation, hasil belajar.  

    PENGARUH METODE PEMBELAJARAN MIND MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS-2 MADRASAH ALIYAH ARRIYADLAH PANDEAN PROBOLINGGO TAHUN PELAJARAN 2018/2019

    No full text
    Abstrak : Penelitian ini menerapkan rancangan penelitian pre-experimental dengan menggunakan jenis One Group Pretest and Posttest design. Sampel yang diambil sebagai kelas eksperimen berjumlah 46 siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah paired sample t test. Adapun Hasil perhitungan statistika diperoleh nilai t hitung 7,772  Nilai t tabel dilihat dari tabel distribusi t diperoleh nilai t sebesar 1.67866. nilai probabilitas sebesar 0.00

    Pengembangan Buku Suplemen Bermateri Pengatuh Budaya Indis terhadap Bangunan SDN Ditotrunan 1 Lumajang untuk Pembelajaran Sejarah

    No full text
    ABSTRAK Peninggalan pada masa kolonial di Lumajang tidak banyak dibahas dalam pembelajaran sejarah sehingga pengetahuan mengenai peninggalan pada masa ini kurang. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan bahan ajar yang berguna untuk mengenalkan peninggalan pada masa kolonial khususnya bangunan yang mendapatkan pengaruh kolonial di Lumajang. Salah satu dari bangunan tersebut adalah SDN Ditotrunan 1 Lumajang.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa buku suplemen layak untuk dijadikan sebagai bahan ajar di sekolah. Kata Kunci: Buku Suplemen, Budaya Indis, Bangunan SDN Ditotrunan 1 Abstract The legacy of the colonial period in Lumajang was not much discussed in historical studies so that knowledge of relics at this time was lacking. The purpose of this study is to produce teaching materials that are useful for introducing relics in the colonial period, especially buildings that gained colonial influence in Lumajang. One of these building is SDN Ditotrunan 1 Lumajang. The results of this study indicate that supplementary book is appropriate to be used as teaching materials in schools. Keywords: Supplementary Book, Indis Culture, SDN Ditotrunan 1Buildin

    PENGEMBANGAN MEDIA VIDEO BERBASIS SPARKOL VIDEOSCRIBE SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH TENTANG PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA TAHUN 1945 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS X MM A SMKN 4 MALANG

    No full text
    RINGKASAN Azhar, Faiq Hananthomi. 2019. Pengembangan Media Video Berbasis Sparkol VideoScribe Sebagai Media Pembelajaran Sejarah Tentang Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Tahun 1945 Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas X MM A SMKN 4 Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Joko Sayono, M.Pd., M.Hum. Kata kunci: Pengembangan, Media, Sparkol VideoScribe, Peristiwa ProklamasiKemerdekaan Materi tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam buku siswa tidak tertulis secara lengkap dan rinci,serta penggunaan media yang masih jarang, karena guru lebih banyak mengajarkan materi melalui ceramah dari buku. Oleh karena itu diperlukan adanya inovasi pembelajaran guna menarik perhatian siswa sehingga dalam proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Salah satu media yang inovatif dan dapat digunakan guru pada proses pembelajaran sejarah ialah media video berbasisSparkol VideoScribe. Media ini memiliki karakter yang bagus dan menarik.Sparkol VideoScribe mengharuskan siswa untuk fokus pada saat pemutaran video pembelajaran. media pembelajaran sejarah dalam bentuk video masih sangat jarang diaplikasikan, dengan adanya media video maka dapat mengurangi dominasi buku dalam pembelajaran sejarah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengembangkan media video berbasis Sparkol VideoScribe. Kemudian untuk menambah bentuk media pembelajaran sejarah yang menarik dan variatif. Model penelitian yang digunakan adalah model pengembangan ADDIE yang mempunyai 5 tahap, yakni tahap analisis, tahap desain, tahap pengembangan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi.Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi ahli media, ahli materi, praktisi guru sejarah SMKN 4 Malang, dan lembar angket kelayakan siswa. Produk yang dihasilkan adalah video animasi gambar berjalan. Video inimemilikiisimateri yang disesuaikan dengan Kompetensi Inti (KI) 3 dan Kompetensi Dasar (KD) 3.7 yakni menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan pembentukan pemerintahan pertama Republik Indonesia.Produk ini berdurasi 14 menit 49 detik. Produk yang ditampilkan memiliki unsur Audio Visualberupa kombinasi antara gambardengan tulisan yang dipadukan dengan iringan musik dan dubbing. Hasil uji validasi ahli media menunjukkan rata-rata persentase sebesar 97%, hasil uji validasi ahli materi menunjukkan rata-rata persentase sebesar 91%, hasil ujivalidasi dari praktisi guru sejarah sebesar 93%, dan uji angket kelayakan produk siswakelas X MM A menunjukkan rata-rata persentase sebesar 85%. Dapat disimpulkan bahwa dengan hasil uji validasi oleh ahli media,ahli materi,praktisi guru sejarah, dan angketkelayakan siswa kelas X MM A menunjukkan produk yang dikembangkan berada dalam kategori sangat layak untuk diterapkan dalam pembelajaran sejarah tingkat SMK/SMA

    CLASH OF CULTURE: PERMASALAHAN KESEHATAN MASYARAKAT BADUY, DESA KANEKES, KECAMATAN LEUWIDAMAR, KABUPATEN LEBAK, BANTEN 1960-2014

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penyakit frambusia dapat muncul dan berkembang pada masyarakat Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak tahun 1960-2014. Ada 3 hal yang menjadi rumusan masalah pada peneltian ini, yaitu (1) Kondisi kesehatan masyarakat Baduy sebelum tahun 1960 (2) Perubahan dan keberlanjutan pelayanan kesehatan pada masyarakat Baduy sejak tahun 1960 (3) Penyebab penyakit dapat muncul dan berkembang pada masyarakat Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Penelitian ini merupakan bentuk penulisan sejarah yang bersifat deskriptif naratif dan analitis dengan menggunakan pendekatan sejarah kesehatan. Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian sejarah. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Cukup sedikit catatan mengenai kondisi kesehatan Masyarakat Baduy sebelum 1960 yang dapat ditemukan. (2) Sentuhan medis pertama yang tercatat pernah didapat oleh Masyarakat Baduy adalah vaksin cacar yang diberikan oleh pemerintah kolonial kepada Masyarakat Baduy Luar pada kisaran tahun 1929. (3) Penyakit dapat muncul dan berkembang pada Masyarakat Baduy disebabkan terutama oleh faktor lingkungan, budaya, dan perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, munculnya permasalahan sehingga sebuah penyakit tidak dapat segera diberantas disebabkan oleh perbedaan konsep kesehatan tradisional yang dianut masyarakat Baduy dan tertuang dalam pikukuh adat dengan konsep kesehatan masyarakat modern yang dipegang oleh pihak pemerintah. Kata Kunci:  Masyarakat Baduy, Frambusia, Permasalahan Kesehata

    Peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Sejarah di Kabupaten Sumenep

    No full text
    Abstrak Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Setiap guru dituntut meningkatkan profesionalisme, yaitu setiap guru harus meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial maupun profesional. MGMP sebagai organisasi yang bertujuan mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme guru. Fokus pembahasan dalam artikel ini pertama, mengenai kondisi (Kompetensi dan kualitas) guru Sejarah sebelum mengikuti MGMP, kedua, mengenai profesionalisme guru Sejarah di Kabupaten Sumenep setelah mengikuti MGMP Sejarah SMA di Kabupaten Sumenep. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Proses penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara dengan subyek penelitian yaitu guru anggota dan pengurus MGMP Sejarah SMA Kabuapten Sumenep. Data yang diperoleh akan dipaparkan kemudian dilakukan analisis untuk menjawab fokus penelitian. Berdasarkan hasil analisis data, kesimpulan yang diperoleh adalah Peran MGMP Sejarah SMA Kabuapten Sumenep sudah sesuai  dan sudah mengacu terhadap peraturan pemerintah.  Abstrack The teacher is a professional educator with the main task of educating, teaching, guiding, directing, training, evaluating, and evaluating students. Every teacher is demanded to increase professionalism, that is, every teacher must increase his competence, both pedagogical, personality, social and professional competencies. MGMP as an organization that aims to develop and improve teacher professionalism. The focus of the discussion in this article is first about the condition (Competence and quality) of History teachers before participating in the MGMP, both about the professionalism of History teachers in Sumenep Regency after attending the High School History MGMP in Sumenep Regency. This study uses descriptive qualitative methods. The research process was carried out by conducting interviews with research subjects, namely teacher members and administrators of the MGMP History Sumenep District High School. The data obtained will be presented and then analyzed to answer the focus of the study. Based on the results of data analysis, the conclusion obtained is that the Role of the MGMP History of the Sumenep District High School is appropriate and already refers to government regulations.Kata kunci: Peran MGMP, Profesionalisme Gur

    PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) UNTUK MEMPERKUAT NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

    No full text
    PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) BERBASIS BABAD DIPONEGORO UNTUK MEMPERKUAT NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Khoirunnis Salamah¹, Ari Sapto² Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang 65145E-mail: [email protected] ABSTRAK:Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berupa lembar kerja peserta didik (LKPD) yang berbasis Babad Diponegoro sebagai sumber sejarah yang dimana bahan ajar ini bertujuan untuk menambah pengetahuan serta memperkuat nilai karakter peserta didik kelas X Jasa Boga 2 di SMKN 1 Kudus dalam pembelajaran sejarah. LKPD ini diujicobakan kepada ahli, praktisi, dan peserta didik. Hasil uji coba kelayakan isi, bahasa, dan tampilan LKPD secara kesuluruhan menunjukkan bahwa LKPD  layak digunakan dalam pembelajaran sejarah. Kata Kunci : pengembangan LKPD, Babad Diponegoro, Nilai Karakter, Kelas X Jasa Boga 2, SMKN 1 KudusABSTRACT:This research aims to produce student worksheet based of historical source called Babad Diponegoro to strengthen character value the student of tenth grade culinary 2 at Vocational High School 1 Kudus in history learning. Such student worksheet was tried out to experts, practitioners, and students. The results of the test to the feasibility of content, language, and the performance show that the student worksheet generally is feasible enough to be used in History learning. Keywords: development of student worksheet, Babad Diponegoro, Character Value, Tenth Grade of Culinary 2, State Vocational High School of 1 Kudus PENDAHULUANSejarah merupakan salah satu wahana untuk mencerdaskan bangsa dalam arti luas. Dengan sifatnya yang unik, sejarah berpijak pada fakta masa lampau yang dianalisis untuk memahami masa kini dan diproyeksikan untuk merencanakan masa depan. Pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran tentang masa lampau, sehingga perlu  untuk diperhatikan bagaimana seorang guru memandang masa lampau tersebut dan bagaimana materi tentang masa lampau tersebut (Widja, 1989:20).Lembar Kerja Peserta Didik adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya (Depdiknas, 2004:18). Babad merupakan nama yang digunakan di buku cerita sejarah atau kronik dalam tradisi penulisan sejarah suku bangsa. Biasanya penulis babad merupakan pujangga-pujangga keraton (Ensiklopedia Nasional Indonesia, 1989:2). Dalam babad cenderung banyak menceritakan peran orang-orang besar atau tokoh yang terkenal, yang memiliki peranan penting dalam masanya. Dan biasanya isi babad dituangkan dalam bentuk tembang Macapat. Namun berdasarkan observasi di lapangan sumber sejarah berupa Babad sangat jarang digunakan dalam materi ajar Sejarah.Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dilakukan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan lembar kerja peserta didik berbasis Babad Diponegoro dengan materi utama Pangeran Diponegoro yang terkenal dengan perjuangannya pada saat Perang Diponegoro (1825 – 1830). Dalam penggunaannya, LKPD memiliki setidaknya empat fungsi (Prastowo,  2015:205-206) antara lain :(a) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lenih mengaktifkan peserta didik,(b) Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan,(c) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih,(d) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.Penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti yaitu Skripsi yang disusun oleh Benedikta Ango (2013) jurusan Pendidikan Teknik Informatika, fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta yang berjudul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Berdasarkan Standar Isi Untuk SMA Kelas X Semester Gasal”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengembangan lembar kerja peserta didik teknologi informasi dan komunikasi berdasarkan standar isi untuk SMA kelas X semester 1 dan tanggapan guru TIK terhadap lembar kerja peserta didik. Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian tersebut yaitu mengenai mata pelajaran yang menjadi objek penelitian yang dimana LKPD milik Benedikta Ango digunakan untuk mata pelajaran TIK sedangkan peneliti akan menghasilkan LKPD yang akan digunakan dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia. Selain itu, adapun perbedaan jenis sekolah yang digunakan sebagai objek penelitian. Penelitian terdahulu memilih sekolah SMA sedangkan peneliti memilih sekolah SMK sebagai objek penelitian.Adapun tujuan dari penelitian dan pengembangan ini, diantaranya : Menghasilkan LKPD dengan menggunakan Babad Diponegoro untuk(1) meningkatkan pengetahuan peserta didik kelas X Jasa Boga 2 SMK N 1 Kudus mengenai peristiwa sejarah “Perang Diponegoro (1825-1830)” yaitu materi yang diperuntukkan bagi kelas 10 pada mata pelajaran Sejarah Indonesia.(2) mengetahui efektivitas bahan ajar LKPD berbasis Babad Dipoengoro dalam memperkuat nilai karakter dalam pembelajaran Sejarah kelas X Jasa Boga 2 SMK N 1 Kudus. METODEPenelitian ini menggunakan model penelitian pengembangan menurut Borg & Gall (dalam Setyosari, 2010:194) yang merupakan suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. penelitian pengembangan itu sendiri dilakukan berdasarkan suatu model pengembangan berbasis industri, yang kemudian secara sistematis dilakukan uji lapangan, dievaluasi, disempurnakan untuk memenuhi kriteria keefektifan, kualitas, dan standar tertentu (Setyosari, 2010:195).Adapun 10 tahapan dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan, antara lain (Rachman, 2015:342) :(1) Studi pendahuluan dan pengumpulan data (Research and information collecting),(2) Perencanaan (Planning),(3) Pengembangan draf produk (Develop preliminary form of product),(4) Uji  coba lapangan awal (Preliminary field testing),(5) Merevisi hasil uji coba (Main product revision),(6) Uji coba lapangan (Main field testing),(7) Penyempurnaan produk hasil uji lapangan (Operasional product revision).(8) Uji Pelaksanaan lapangan (Operasional field testing),(9) Penyempurnaan produk akhir (Final product revision).(10) Diseminasi dan implementasi (Dissemination and implementation). Namun pada penelitian ini, peneliti membatasi penggunaan tahapan pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan pada poin nomor 1 sampai dengan 6 dan nomor 10. Hal tersebut karena peneliti menyadari adanya keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang dimiliki oleh peneliti, maka dari itu belum dimungkinkannya penggunaan semua bagian dalam strategi Borg and Gall seperti yang sudah dijelaskan di atas.Berdasarkan peraturan Depdiknas (2004) dalam Prastowo (2014:212) yang memuat penjelasan mengenai langkah-langkah penyusunan LKPD, adapun langkah-langkah penyusunan LKPD sebagai berikut :(a) Melakukan Analisa Kurikulum,.(b) Menyusun Peta Kebutuhan LKPD,(c) Menentukan Judul-Judul LKPD,(d) Penulisan LKPD, untuk menulis LKPD, menurut Prastowo (2014:276) tahapan-tahapan yang dilakukan yaitu antara lain :(1) Merumuskan kompetensi dasar,(2) Menentukan alat penilaian, menentukan alat penelitian yang didasarkan pada pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, maka penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensinya, dan penilaian yang sesuai adalah menggunakan pendekatan. Penilaian yang sesuai adalah menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced Assesment.(3) Menyusun Materi.Sumber data uji coba dalam penelitian pengembangan dilakukan pada 3 responden yaitu ahli (Ibu Lutfiah Ayundasari, S.Pd., M.Pd sebagai ahli bahan ajar dan Bapak Ronal Ridho’i, S.Hum., MA sebagai ahli materi yang merupakan dosen Sejarah FIS Universitas Negeri Malang), praktisi (Ibu Tri Anna Kusumadewi, S.Pd selaku guru Sejarah di SMKN 1 Kudus), serta peserta didik (Kelas X Jasa Boga 2).Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua instrumen, yaitu instrumen tahap praperkembangan dan tahap pelaksanaan. Instrumen yang digunakan pada tahap praperkembangan berupa pedoman wawancara dengan guru sejarah. Instrumen yang digunakan pada tahap pelaksanaan yang terdiri dari angket uji kelayakan dari segi materi dan bahan ajar, angket tanggapan guru sejarah serta angket tanggaapn peserta didik.Teknik analisis data dalam penelitian pengembangan ini adalah teknik analisis kualitatif dan analisis data kuantitatif.(1) Teknik Analisis Data Kualitatif, teknik analisis data menggunakan kualitatif yaitu dilakukan sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan ketika sudah selesai di lapangan.(2) Teknik Analisis Data Kuantitatif, analisis data kuantitatif yaitu analisis data dengan mengadakan perhitungan-perhitungan yang relevan dengan masalah yang dianalisis. Analisis kuantitif digunakan untuk menganalisis data yang terkumpul dengan angket, maka akan digunakan analisis kuantitatif. Data dan angket dianalisis untuk mendapatkan gambaran tentang bahan ajar. Validitas angket ahli, validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau keahlian instrumen. Data yang dihasilkan dari sebuah instrumen yang valid maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut valid, karena dapat memberikan gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan sesungguhnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika data yang dihasilkan oleh instrumen yang digunakan tersebut juga valid.Dalam pengembangan Bahan Ajar LKPD berbasis Babad Diponegoro maka validitas dimaksudkan untuk menguji kelayakan bahan ajar yang dihasilkan dalam kompetensi dasar (KD), apabila bahan ajar tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan ajar yang layak atau tidak, sehingga dapat diketahui tingkat kebenaran dan ketepatan penggunaan bahan ajar tersebut. Jawaban dari angket validasi menggunakan skala Likert. Menurut Riduwan (2010: 12) “skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial.Alternatif jawaban dalam angket ini ditetapkan skor yang diberikan untuk masing-masing pilihan dengan menggunakan modifikasi skala likert atau alternatif netral dihilangkan dengan maksud agar responden memberikan jawaban secara mantap.  Data yang digunakan, ditransformasikan lebih dahulu dengan bobot skor yang telah ditetapkan menjadi data kuantitatif (skor 1-4).Kategori penilaian Sangat Baik (SB) dengan rentang skor X > (Mᵢ + 1,5 SDᵢ), kategori penilaian Baik (B) dengan rentang skor Mᵢ < X < (Mᵢ + 1,5 SDᵢ), kategori Kurang Baik (B) dengan rentang skor Mᵢ - 1,5 (SDᵢ) < X < Mᵢ, dan kategori Tidak Baik (TB) dengan rentang skor X > (Mᵢ - 1,5 SDᵢ)Keterangan :Mᵢ =  meanSDᵢ =  standar deviasiMᵢ =  ½ (skor tertinggi + skor terendah)SDᵢ =  ½ x ⅓ (skor tertinggi - skor terendah)(Arikunto, 2013: 10) Skor penilaian pendapat terhadap bahan ajar menggunakan rumus diatas. Penggunaan rumus diatas dapat lebih mudah mempermudah pemberian criteria bahwa LKPD yang telah dihasilkan dapat digunakan untuk proses pembelajaran. HASILDeskripsi Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)Pengembangan LKPD ini berawal dari adanya potensi peserta didik sebagai generasi yang produktif, efektif, disiplin, serta tanggung jawab sehingga mereka mampu menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Tujuan pengembangan LKPD sebagai bahan ajar untuk melatih kemandirian peserta didik di dalam belajar. Media LKPD yang dibuat ini sangat fleksibel dalam penggunaannya, baik di kelas maupun di rumah dapat membantu peserta didik untuk lebih gemar membaca dan melatih pemahaman dalam mempelajari mengenai LKPD ini. Dari segi penilaian bahan ajar yang harus diperhatikan mengenai(1) aspek kontruksi seperti ketepatan penggunaan bahasa dan kalimat, memperhatikan kemampuan peserta didik, memiliki manfaat, tujuan dan identitas.(2) aspek teknis seperti ketepatan penggunaan tulisan gambar dan ilustrasi, ukuran lembar kerja peserta didik dan kemenarikan tata letak. Hasil Uji Coba Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)Validasi lembar kerja peserta didik dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasi secara sistematis isntrumen dan produk media yang dihasilkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.(1) Validasi oleh ahli bahan ajar tentang aspek fungsi dan manfaat bahan ajar, aspek karakteristik tampilan lembar kerja peserta didik sebagai bahan ajar dalam pembelajaran sejarah. Ahli bahan ajar yang menjadi validator dalam penelitian ini yaitu 1 dosen. Data validasi ahli bahan ajar diperoleh dengan cara memberikan lembar kerja peserta didik  beserta instrumen penilaian. Ahli bahan ajar memberikan penilaian, saran dan komentar terhadap bahan ajar dengan cara mengisi angket yang telah disediakan. Secara rinci dari 21 butir penilaian untuk bahan ajar yang dinilai oleh 1 ahli bahan ajar (dosen).Data yang diperoleh dari penilaian bahan ajar yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 15 sehingga perolehan persentase sebesar 71,4 %, kategori baik dengan frekuensi 6 sehingga perolehan persentase 28,6 %, kategori kurang baik dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa validasi lembar kerja peserta didik oleh ahli bahan ajar secara kesuluruhan baik.(2) Validasi ahli materi, menilai tentang materi yang telah disusun di dalam lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan. Ahli materi yang menjadi validator dalam penelitian ini yaitu 1 dosen.Data validasi ahli materi diperoleh dengan cara memberikan lembar kerja peserta didik  beserta instrument penilaian. Ahli materi memberikan penilaian, saran dan komentar terhadap bahan ajar dengan cara mengisi angket yang telah disediakan. Secara rinci dari 21 butir penilaian untuk materi yang dinilai oleh 1 ahli materi (dosen). Data yang diperoleh dari penilaian oleh ahli materi yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 16 sehingga perolehan persentase sebesar 76,2 %, kategori baik dengan frekuensi 5 sehingga perolehan persentase sebesar 23,8 %, kategori kurang baik dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa validasi lembar kerja peserta didik oleh ahli materi secara kesuluruhan baik.Setelah lembar kerja peserta didik ini dinyatakan valid dari segi materi dan bahan ajar, serta layak digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. Maka tahap selanjutnya adalah penilaian tentang tanggapan guru Sejarah terhadap lembar kerja peserta didik. Data diperoleh dengan menggunakan instrumen angket. Sebelum memberikan angket kepada guru Sejarah, bahan ajar lembar kerja peserta didik dinilai oleh ahli materi (1 dosen) dan ahli bahan ajar (1 dosen).Hasil deskripsi data diperoleh skor tertinggi yaitu 82 dan skor terendah yaitu 79. Berikut ini perhitungan kategori penilaian hasil tanggapan guru Sejarah terhadap lembar kerja peserta didik.Mᵢ  =  ½ (skor tertinggi + skor terendah)=  ½ (82+79)=  80,5SDᵢ = ½ x ⅓ (skor tertinggi – skor terendah)= ⅙ (82 – 79)=  0,5a. Sangat baik = X> (Mᵢ + 1,5 SDᵢ)= X> (80,5 + 1,5 (0,5))= X> 81,25b. Baik= Mᵢ < X< (Mᵢ+1,5 SDᵢ)= 80,5 < X < 81,25c. Kurang Baik =  Mᵢ - 1,5 (SDᵢ) <X<Mᵢ= 80,5 - 1,5 (0,5) < X< Mᵢ=  79,75 <X<81,25d. Tidak baik = X> Mᵢ - 1,5 SDᵢ)= X> (80,5 – 1,5 (0,5)= X> 79,75Data penilaian oleh guru sejarah diperoleh dengan cara memberikan lembar kerja peserta didik  beserta instrumen penilaian. Guru sejarah memberikan penilaian, saran dan komentar terhadap bahan ajar dengan cara mengisi angket yang telah disediakan, secara rinci terdiri dari 25 butir penilaian. Data yang diperoleh dari penilaian oleh guru sejarah yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 6 sehingga perolehan persentase sebesar 24 %, kategori baik dengan frekuensi 19 sehingga perolehan persentase sebesar 76 %, kategori kurang baik dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa validasi lembar kerja peserta didik oleh ahli materi secara kesuluruhan baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan guru sejarah terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik.Setelah lembar kerja peserta didik ini dinyatakan valid dari segi materi dan bahan ajar, serta layak digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. Maka tahap selanjutnya disamping penilaian tentang tanggapan guru Sejarah terhadap lembar kerja peserta didik yaitu tanggapan peserta didik kelas X Jasa Boga 2. Data diperoleh dengan menggunakan instrumen angket. Sebelum memberikan angket kepada guru Sejarah, bahan ajar lembar kerja peserta didik dinilai oleh ahli materi (1 dosen) dan ahli bahan ajar (1 dosen). Adapun metode uji coba pemakaian produk bahan ajar yaitu dengan uji coba pemakaian kelompok besar dan kelompok kecil dan melibatkan responden peserta didik kelas X Jasa Boga 1 (6 peserta didik) sebagai kelompok kecil dan X Jasa Boga 2 (30 peserta didik) sebagai kelompok besar. Kedua proses uji coba ini ditujukan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dan menguji kelayakan produk bahan ajar ini untuk pembelajaran sejarah. Secara rinci ada 10 butir penilaian.Data yang diperoleh dari penilaian kelompok kecil (6 peserta didik) dengan frekuensi keseluruhan total 60 frekuensi yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 4 sehingga perolehan persentase sebesar 6,7 %, kategori baik dengan frekuensi 51 sehingga perolehan persentase sebesar 85 %, kategori kurang baik dengan frekuensi 5 sehingga perolehan persentase sebesar 8,3 % dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa penilaian kelompok kecil secara kesuluruhan baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan guru sejarah terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik.Data yang diperoleh dari penilaian kelompok besar (30 peserta didik) dengan frekuensi keseluruhan total 300 frekuensi yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 131 sehingga perolehan persentase sebesar 43,7 %, kategori baik dengan frekuensi 162 sehingga perolehan persentase sebesar 54 %, kategori kurang baik dengan frekuensi 7 sehingga perolehan persentase sebesar 2,3 % dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa penilaian kelompok kecil secara kesuluruhan baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan guru sejarah terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik. Revisi ProdukRevisi dilakukan oleh peneliti untuk memperbaiki lembar kerja peserta didik sesuai dengan masukan saat pelaksanaan validasi.Saran dan komentar dari ahli bahan ajar yaitu sebagai berikut :(1) Tujuan pembelajaran belum dicantumkan,(2) Cermati penggunaan kata hubung di awal kalimat,(3) Beberapa referensi belum tercantum.(4) Cermati penggunaan rujukan. Revisi yang telah dilakukan oleh peneliti berdasarkan saran dari ahli bahan ajar yaitu sebagai berikut:(1) Menambahkan tujuan pembelajaran dalam lembar kerja peserta didik,(2) Memperbaiki kesalahan tulis,(3) Menambahkan daftar referensi yang belum tercantum,(4) Memperhatikan penggunaan rujukan.Saran dan komentar dari ahli materi yaitu sebagai berikut:(1) Foto atau ilustrasi mengenai Pangeran Diponegoro dalam lembar kerja peserta didik belum tercantum(2) Latihan soal dalam lembar kerja peserta didik belum tercantum. Revisi yang telah dilakukan oleh peneliti berdasarkan saran dari ahli bahan ajar yaitu sebagai berikut:(1) Menambahkan foto atau ilustrasi terkait Pangeran Diponegoro dalam lembar kerja peserta didik,(2) Menambahkan latihan soal dalam lembar kerja peserta didik.Setelah dilakukan revsisi dari pernyataan ahli bahan ajar dan ahli materi dapat disimpulkan bahwa lembar kerja peserta didik hasil pengembangan telah baik digunakan untuk proses pembelajaran sejarah. PEMBAHASANLembar kerja peserta didik merupakan bahan ajar yang bertujuan membantu para peserta didik untuk bisa belajar mandiri dan kreatif. Dalam mengahsilkan bahan ajar lembar kerja peserta didik ada beberapa langkah yang harus dilakukan peneliti, agar bahan ajar lembar kerja peserta didik layak digunakan dalam proses pembelajaran peserta didik. Untuk mengetahui kelayakan bahan ajar lembar kerja peserta didik. Untuk mengetahui kelayakan bahan ajar lembar kerja peserta didik tersebut pertama harus divalidasi. Setelah bahan ajar lembar kerja peserta didik divalidasi, lembar kerja peserta didik diberikan kepada guru Sejarah untuk dinilai dengan mengisi angket yang telah disediakan beserta lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan.1. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)Dalam pengembangan lembar kerja peserta didik yang harus diperhatikan tahap demi tahapan karena dengan begitu akan menghasilkan lembar kerja peserta didik yang berkualitas dan dapat digunakan untuk proses pembelajaran. Ada pun tahap – tahap pengembangan lembar kerja peserta didik yaitu, analisis kebutuhan, penyusunan draf, validasi, revisi dan produk.Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli bahan ajar secara kesuluruhan lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan dikategorikan sangat baik dengan persetanse 71,4 % dengan frekuensi 15. Hasil ini dikarenakan pada aspek penilaian secara kontruksi dan teknis sudah memenuhi dalam pengembangan, dilihat dari segi penggunaan bahasa dan kalimat, tujuan, materi yang diuraikan dan kemenarikan lembar kerja peserta didik itu sendiri. Hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli bahan ajar kategori baik dengan persentase 28,6 % dengan frekuensi 6. Hasil ini dikarenakan dari aspek kontruksi dan teknis, terutama pada permasalahan ilustras

    Dinamika Politik Nahdlatul Ulama tahun 1952-1958 di Surabaya

    No full text
    DINAMIKA POLITIK NAHDLATUL ULAMA TAHUN 1952-1958 DI SURABAYA Ahmad Fatkhur Rozak Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial  Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No. 5 Malang E-Mail : [email protected]   Abstract This thesis discusses the political dynamics that occurred in the Nahdlatul Ulama party in the years 1952-1958. This research was motivated by the problem of the extent to which NU was able to achieve success in the competitive political constellation that occurred at the national level and at the City level which was focused on Surabaya. The research method used in this study is the historical method. Historical methods used in the research process include topic selection, heuristics, criticism (internal and external), interpretation, and historiography. This research resulted in an analysis of the background of the formation of the Nahdlatul Ulama party, as well as its political journey since leaving the Masyumi party until the 1958 general election. In this study also produced an analysis of mass participation supporting the Nahdlatul Ulama party at the national level and at the Surabaya City level.   Keywords: Political Dynamics, Nahdlatul Ulama, Surabaya City, 1952-1958 Abstrak Skripsi ini membahas mengenai dinamika politik yang terjadi pada partai Nahdlatul Ulama pada kisaran tahun 1952-1958. Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan tentang sejauh mana NU mampu meraih keberhasilan dalam persaingan konstelasi politik yang terjadi pada tingkat nasional maupun pada tingkat Kota yang difokuskan di Surabaya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode sejarah yang digunakan dalam proses penelitian ini meliputi pemilihan topik, heuristik, Kritik (interen dan eksteren), intepretasi, dan historiografi. Penelitian ini menghasilkan analisis tentang latar belakang pembentukan partai Nahdlatul Ulama, serta perjalanan politiknya sejak keluar dari partai Masyumi hingga pemilihan umum 1958. Dalam penelitian ini juga menghasilkan analisi mengenai partisipasi masa yang mendukung partai Nahdlatul Ulama di tingkat nasional maupun di tingkat Kota Surabaya.   Kata Kunci: Dinamika Politik, Nahdlatul Ulama, Kota Surabaya, 1952-1958 Perkembangan sistem demokrasi di Indonesia dapat dilihat pada masa pra-kemerdekaan dimana pada masa ini masyarakat memiliki peran yang cukup besar dipemerintahan. Budihardjo, (1988:69) menjelaskan bahwa perkembangan demokrasi di Indonesia telah mengalami pasang surutnya. Dipandang dari sudut perkembangnya demokrasi di Indonesia dalam sejarahnya dapat dibagi kedalam tiga masa yaitu (1). Masa Republik Indonesia I adalah masa demokrasi (konstitusional) yang menonjolkan peranan parlemen serta partai-partai dan karena itu dapat dikatakan sebagai masa demokrasi parlementer. Masa ini berjalan sejak tahun 1945-1959; (2) Masa Republik Indonesia II yaitu masa demokrasi terpimpin yang dalam banyak aspek telah mengalami banyak penyimpangan dari demokrasi konstitusional yang secara formal merupakan landasanya. Masa ini berlaku dari tahun 1959-1965; (3). Masa Republik Indonesia III yaitu masa demokrasi Pancasila yang merupakan demokrasi konstutisional yang menonjolkan sistem presidensial. Masa ini berlaku dari tahun 1965 hingga saat ini. Keluarnya NU dari Partai Masyumi merupakan sebuah penanda babak baru yang dimulai oleh NU dalam perannya di kanca politik nasional. Karena dengan keluarnya NU dari partai Masyumi maka NU sudah tidak lagi menjalankan langkah politiknya dibawah partai lain melainkan berjalan lewat partainya sendiri. NU melakukan penarikan diri dari partai Masyumi pada bulan Oktober 1952. Langkah ini diambil dan dikukuhkan dalam kongres NU yang dilakukan di Kota Palembang (Noer, 1987:81). Terdapat berbagai alasan yang melatarbelakangi penarikan diri yang dilakukan oleh NU dari partai Masyumi. Salah satu alasan kuat adalah mengenai kursi Menteri Agama dalam kabinet. Bruinessen (2008:57) menjelaskan bahwa Departemen Agama merupakan satu-satunya bidang pemerintahan yang dapat diakui NU sebagai haknya. Namun pada proses pergantian kabinet NU tidak mendapatkan hak yang sudah menjadi lahanya di dalam kabinet. Lebih jauh lagi Ali Haidar menjelaskan bahwa sebagian besar anggota DPP Masyumi menghendaki agar NU melepaskan jabatan Menteri Agama yang sudah didapatkan oleh NU sebanyak tiga kali berturut-turut mulai periode 1949-1950, 1950-1951, hingga periode 1951-1952. Dilain pihak NU tetap menghendaki agar jabatan Menteri Agama tetap diberikan kepada NU, karena dengan cara itu eksistensi NU dalam pentas politik nasional dapat tetap berlanjut. Selain itu dengan adanya issue tentang akan dibentuknya zaken kabinet semakin memperbesar kekhawatiran NU karena kurangnya tenaga terampil dan ahli untuk memimpin suatu kementrian, maka NU memberikan harapan yang begitu besar akan tempatnya di kursi Menteri Agama karena NU merasa memiliki tenaga dibidang itu. Menanggapi sikap NU yang tetap ingin mendapatkan kursi Menteri Agama, kubu Muhammadiyah memiliki pendapat lain dimana Muhammadiyah juga menghendaki jabatan Menteri Agama dengan alasan karena NU telah memimpin Menteri Agama selama tiga kali berturut-turut maka sudah sepantasnya Muhammadiyah mendapatkan gilirannya memegang jabatan Menteri Agama (Haidar, 1998:109). Setelah dengan resmi NU melakukan penarikan diri dari partai Masyumi dan berkeinginan untuk melanjutkan kiprah politiknya di kancah nasional, NU dihadapkan dengan masalah pembentukan partai dan penyusunan kembali anggota yang akan dibutuhkan untuk membentuk sebuah partai baru. Selain itu NU juga dihadapkan dengan ketidakpastian mengenai bagaimana jalan dan perilaku yang harus diambil sebagai partai politik. Pada awal berdirinya, NU belum memiliki program kebijakan yang rinci dan posisinya belum jelas dalam kanca politik nasional. Salah satu yang menjadi sorotan mengenai ketidakjelasan posisi NU, adalah menyangkut sikap politiknya terhadap dua partai besar pada masa ini yaitu PNI dan Masyumi. Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh NU, menyatakan akan memelihara solidaritas Islam melalui kerjasama dengan Masyumi dan partai-partai Islam lainya. Namum disisi lain NU memiliki kecenderungan kurang serasi dengan Masyumi dimana banyak perselisihan-perselisihan tajam antara kedua partai ini. Dengan posisi ini maka banyak kemungkinan NU akan cenderung condong untuk berkoalisi dengan PNI dengan asumsi bahwa NU dapat menguatkan kedudukan PNI sebagai partai besar dan memberikan kerugian kepada Masyumi (Fealy, 2009:129-130). Perselisihan yang terjadi antara NU dengan Masyumi terus berlanjut meskipun NU telah resmi manarik diri dari Masyumi dan mendirikan partai sendiri. Kemelut yang terjadi antara kedua pihak terus terjadi bahkan dibeberapa daerah cukup intens. Muncul isu dan tuduhan dari pihak Masyumi bahwa NU keluar dari Masyumi memiliki tujuan untuk mendirikan darul-Islam dengan alasan bahwa Kartosuwirjo pada masa sebelumnya keluar dari Masyumi dan mendirikan DI (darul-Islam). Provokasi yang timbul dan bersifat menyudutkan NU mengakibatkan NU mengambil jalan untuk menghentikan provokasi ini lewat Jaksa Agung. Provokasi yang timbul dari Masyumi ini dapat dikatakan sebagai penyebab adanya kekhawatiran Masyumi tentang perkembangan dari NU yang dapat menjadi pesaing Masyumi di pemerintahan (Haidar,1998:147). Pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat yang merupakan inti dari kehidupan demokratis (Jurdi, 2014:139). Dengan dasar konsep ini maka pembahasan mengenai pemilihan umum mutlak diperlukan untuk mengetahuai sejauh mana keberhasilan partai NU dapat mewakili kepentingan masyarakat pendukungnya untuk mencapai tujuan di dalam pemerintahan Indonesia. Selain itu pembahasan mengenai pemilihan umum juga diperlukan untuk mengetahui dinamika politik yang terjadi dalam partai NU. Pemilihan umum 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sekala nasional yang diselenggarakan di Indonesai. Hal ini menciptkan suasana kehawatiran tidak hanya bagi NU yang baru berdiri menjadi sebuah partai independen namun juga menjadi kehawatiran bagi partai-partai besar yang sudah lebih dulu berdiri namun belum pernah menghadapi pemilihan umum secara nasional. Meskipun NU hanya memiliki persipan sekitar tiga tahun setelah berdiri menjadi partai politik NU berhasil meraih prestasi yang cukup gemilang pada pemilihan umum 1955.  Dalam pemilihan umum ini akan terlihat bagaimana NU dalam waktu yang singkat mampu memberikan pengaruh yang besar dalam pemilihan umum. Selain itu juga dapat terlihat bagaimana dinamika politik yang terjadi dalam NU dari masa awal menjelang pemilihan umum hingga munculnya hasil pemilihan umum (Haidar, 1998:169). Hasil pemilihan umum 1955 juga memiliki peranan penting yang dapat digunakan sebagai alat untuk melihat perkembangan politik aliran di Indonesia. pasca kemerdekaan hinggatahun 1950 terdapat tiga aliran politik di Indonesia, pertama adalah aliran politik dengan dasar ketuhanan seperti Masyumi, PSII, Partai Katolik Republik Indonesia, Parkindo, kedua adalah aliran partai yang memiliki dasar Kebangsaan, yang termasuk dalam aliran ini antara lain PNI, PIR, Parindra, Partai Wanita Rakyat, ketiga adalah aliran partai yang memiliki dasar Marxisme, antara lain PKI, Partai Sosialis, PSI, Partai Murba, Partai Buruh Indonesia, Partai Buruh. NU sebagai partai politik baru masuk pada tahun 1953 yang termasuk dalam aliran yang berlandaskan ketuhanan. Dan perkembangan aliran politik selanjutnya dapat dilihat setelah munculnya hasil pemilihan umum 1955 (Maulida, 2018:90). Selain itu penggambaran aliran politik partai di Indonesia juga dapat dilakukan dengan dasar agama sebagai pembeda aliran seperti dalam tabel berikut : Tabel 1 Aliran dan Identifikasi Partai Di Indonesia (sumber:Sanit,2012:26) Agama Partai Tradisional Partai Moderen Santri NU Masyumi Kristen Parkindo, Partai Katolik Sekuler/Islam non Santri PNI PKI,PSI Menghadapi pemilihan umum yang tidak lama lagi akan diselenggarakan NU mengambil langkah untuk mendapat simpati sebanyak-banyaknya dari masyarakat dengan melakukan kampanye. Untuk itu NU pada tanggal 16 Mei 1953 membentuk sebuah dewan yang diberi tugas khusus untuk menangani masalah pemilihan umum, dewan khusus yang dibentuk oleh NU diberi nama Lajnah Pemilihan Umum Nahdlatul Ulama yang disingkat Lapunu. Dalam tugasnya Lapunu memiliki tanggung jawab untuk mengatur segala permasalahan yang menyangkut pemilihan umum meliputi, pengaturan logistik, pelatihan juru kampanye, perumusan strategi, penyusunan dan pemeriksaan daftar para calon, pengumpulan dana, mengatur hubungan dengan pejabat yang berwenang, serta pengumpulan hasil surat suara yang diperoleh dalam pemilihan umum. Lapunu pada awal pendirianya diketuai oleh Surjaningprodjo, Bachdim sebagai Wakil Ketu, dan H. Idham Chalid sebagai Sekertarisnya anamun kemudian mengalami pergantian pada tahun 1954 dengan menjadikan Idham Chalid sebagai ketuanya (Fealy, 2009:178). Gambaran hasil pemilihan umum 1955 secara nasional sudah dapat terlihat pada 8 Oktober 1955. Hasil yang paling menarik untuk dicermati dari perolehan suara setiap partai adalah perolehan suara dari partai NU yang secara mengejutkan mampu mendongkrak jumlah wakilnya di parlemen yang sebelumnya hanya berjumlah 8 menjadi 45 kursi. Disisi lain hasil yang juga mengejutkan juga diperoleh partai Masyumi yng memperoleh hasil kurang memuaskan pada pemilihan umum 1955, khususnya diwilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur (Feith, 1971:83). Berikut adalah hasil pemilihan umum 1955 yang dipaparkan dalam bentuk tabel: Tabel 2 Hasil Pemilihan Umum Parlemen (sumber:Feith,1971:84) No PARTAI          Jumlah Suara Sah Presentase Seluruh Suara Jumlah kursi Jumlah Kursi Dalam Parlemen Sementara 1 PNI (Partai Nasional Indonesia)              8.434.653 22,3 57 42 2 Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) 7.903.886 20,9 57 44 3 Nahdlatul Ulama 6.955.141 18,4 45 8 4 PKI (Partai komunis Indonesia) 6.179.914 16,4 39 17 5 PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) 1.091.160 2,9 8 4 6 Parkindo (Partai Kristen Indonesia) 1.003.325 2,6 8 5 7 Partai Katolik 770.740 2,0 6 8 8 PSI (Partai Sosialis Indonesia) 753.191 2,0 6 14 9 IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) 541.306 1,4 4 - 10 Perti (Perhimpunan Tarbiyah Islamiyah) 483.014 1,3 4 1 11 PRN (Prtai Rakyat Nasional) 242.125 0,6 2 13 12 Partai Buruh 224.167 0,6 2 6 13 GPPS (Gerakan Pembela Panca Sila) 219.985 0,6 2- 14 PRI (Partai Rakyat Indonesia) 206.261 0,5 2 - 15 PPPRI (Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia) 200.419 0,5 2 - 16 Partai Murba 199.588 0,5 2 4 17 Baperki (Badan Permusyawarata Kewarganegaraan Indonesia) 178.887 0,5 1- 18 PIR (Partai Indonesia Raya)- Wongsonegoro 178.481 0,5 1 1 19 Gerinda 154.792 0,4 1 - 20 Permai (Persatuan Marhaen) 149.287 0,4 1 - 21 Partai Persatuan Daya 1 - 22 PIR (partai Indonesia Raya)- Hazairin 114.644 0,3 1 18 23 PPTI (Partai Persatuan Tarikah Islam) 85.131 0,2 1 - 24 AKUI 81.454 0,2 1 - 25 PRD (Partai Rakyat Desa) 77.919 0,2 1 - 26 PRIM (Partai Rakyat Indonesia Merdeka) 72.523 0,2 1 - 27 Acoma (Angkatan Communis Muda) 64.514 0,2 1 - 28 R. Soedjono Prawirosoedarso dan kawan-kawan 53.305 0,1 1 - 29 Partai-partai, organisasi-organisasi, dan Calon-calon Perorangan 1.022.433 2,7 -46 Total 37.785.299 100,00 257 233 Dari tabel ini dapat dilihat bahwa NU sebagai partai baru mampu meraih suara yang cukup besar dengan duduk pada peringkat ke tiga dengan meraih suara sebesar 18,4% dan berhasil mendapatkan 45 kursi diparlemen sebelumnya hanya memiliki 8 kursi di parlemen. Keberhasilan yang didapat NU kemudian berlanjut pada pemilihan anggota konstituante pada 15 Desember 1955. Tabel 3 Suara Keseluruhan Partai-partai pada Pemilihan Umum Parlemen dan Konstituante (sumber:Feith, 1971:94). No Partai Suara dalam Parlemen Suara dalam Konstituante Perbedaan 1 PNI (Partai Nasional Indonesia) 8.434.653 9.070.218 +63.565 2 Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) 7.903.886 7.789.619 -114.267 3 Nahdlatul Ulama 6.955.141 6.989.333 +34.192 4 PKI (Partai komunis Indonesia) 6.179.914 6.232.512 +55.598 5 PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) 1.091.160 1.059.922 -31.238 6 Parkindo (Partai Kristen Indonesia) 1.003.325 988.810 -14.515 7 Partai Katolik 770.740 748.591 -22.149 8 PSI (Partai Sosialis Indonesia) 753.191 695.932 -57.259 9 IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) 541.306 544.803 +4.979 10 Perti (Perhimpunan Tarbiyah Islamiyah) 483.014 465.359 -17.655 11 GPPS (Gerakan Pembela Panca Sila) 219.985 152.892 -67.093 12 PRN (Prtai Rakyat Nasional) 242.125 220.652 -21.473 13 PPPRI (Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia) 200.419 179.346 -21.073 14 Partai Murba 199.588 248.633 -49.045 15 Partai Buruh 224.167 332.047 +107.880 16 PRI (Partai Rakyat Indonesia) 206.261 134.011 -72.250 17 PIR (Partai Indonesia Raya)- Wongsonegoro 178.481 162.420 -16.061 18 PIR (partai Indonesia Raya)- Hazairin 114.644 101.509 -13.135 19 Permai (Persatuan Marhaen) 149.287 164.386 +15.099 20 Baperki (Badan Permusyawarata Kewarganegaraan Indonesia) 178..887 160.456-18.431 21 Gerinda 154792 157.976 +3.184 22 Partai Persatuan Daya 146.054 169.222 +23.168 23 PRIM (Partai Rakyat Indonesia Merdeka) 72.523 143.907 +71.375 24 AKUI 81.454 143.907 +71.375 25 Acoma (Angkatan Communis Muda) 64.514 55.844 -8.670 26 PPTI (Partai Persatuan Tarikah Islam) 85.131 74.913 -10.218 27 PRD (Partai Rakyat Desa) 77.919 39.278 -38.641 28 R. Soedjono Prawirosoedarso dan kawan-kawan 53.305 38.356 -14.949   Dari tabel hasil pemilihan umum parlemen dan konstituante memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda. Pola dari hasil pemilihan anggota parleman berlanjut ke pemilihan anggota konstituante dengan memperlihatkan sedikit perubahan. Secara umum empat partai besar yang mendapatkan suara terbanyak pada pemilihan parlemen kembali menjadi partai pemenang pada pemilihan konstituante dengan mendapatkan sedikit tambahan suara. Sedangkan partai partai lainya mengalami penurunan jumlah suara yang di dapat. Salah satu yang menarik dari hasil pemilihan konstituante adalah jumlah suara yang didapat oleh Masyumi yang mengalami penurunan sebanyak 114.267 suara. Hasil yang cukub baik didapat oleh NU dengan berhasil menambah perolehan suarnya sebanyak 34.192 suara, meskipun kenaikan suara yang diperoleh NU tidak lebih besar dari perolehan kenaikan suara yang didapat oleh PNI dan PKI yang masing-masing mendapat kenaikan suara sebasar 638.565 dan 55.598 suara (Feith, 1971:94). Dinamika politik yang terjadi secara makro atau nasional dalam pemilihan umum 1955 memiliki perbedaan dengan dinamika yang terjadi dalam sekala yang lebih kecil dalam hal ini lingkup Kota Surabaya. Perbedaan dinamika yang ada pada lingkup Kota Surabaya dapat dilihat dari hasil pemilihan umum 1955 yang diadakan di Surabaya. Keberhasilan NU meraih peringkat ke tiga perolehan suara di tingkat nasional belum tentu dapat diraih di tingkat Kota Surabaya. Berbagai faktor mulai dari sosial, ekonomi, politik, serta agama dapat mempengaruhi NU sebagai partai politik untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Surabaya. Berikut tampilan dalam bentuk tabel hasil pemilihan umum di Kota Surabaya. Tabel 4 Perolehan Suara Pemilihan Umum 1955 di Masing-masing Lingkungan di Kota Surabaya (sumber:koran Perdamaian, 3 Oktober 1955) No Lingkungan PKI NU PNI Masyumi PSI   1 Tambaksari 3.878 842 741 159 76 2 Rangkah 4.361 803 1.342 234 41 3 Jagalan 2.347 1.523 910 268 121 4 Peneleh 828 617 100 273 470 5 Ketabang 1.355 463 565 108 90 6 Pacarkembang 3.696 1.211 1.209 356 59 7 Tegalsari 7.292 1.536 1.933 389 151 8 Genteng 2.058 804 1.074 3421 124 9 Sawahan 3.009 691 1.327 385 234 10 Eembong Kaliasin 4.542 1.226 1.283 368 176 11 Kedungdoro 6.173 1.512 1.960 514 115 12 Simo 5.881 905 1.839 281 47 13 Wonokromo 4.451 1.965 509 641 174 14 Ngagel 5.565 2.205 1.103 336 68 15 Darmo I 2.982 444 1.321 251 283 16 Darmo II 3.532 1.224 858 233 69 17 Darmo III 5.857 505 3.051 631 262 18 Gubeng 6.870 1.113 2.360 414 362 19 Bongkaran 298 637 180 100 29 20 Pabean Cantian 148 479 56 63 14 21 Ampel 553 1.607 274 2.102 15 22 Nyamplungan 1.115 3.551 517 1.081 8 23 Kampung Baru 3.534 1.677 755 359 37 24 Semampir 2.415 3.524 692 323 8 25 Ujung 788 433 966 338 55 26 Kapasan 1.984 652 496 119 138 27 Srengganan 1.317 3.208 394 206 6 28 Simokerto 2.658 940 729 288 101 29 Sidodadi 1.280 1.922 306 389 31 30 Kapasari 2.415 1.305 699 176 122 31 Sidokapasan 2.479 3.223 527 299 47 32 Tembokdukuh 3.879 1.862 1.169 406 50 33 Krembangan Utara 3.534 1.677 755 359 37 34 Krembangan Selatan 2.649 1.223 1.064 340 120 35 Tanjung Perak 2.451 960 590 167 67 36 Bubutan 1.430 1.118 765 279 128 37 Aloon-Aloon Contong 640 980 477 231 168 Jumlah 109.092 50.567 32.772 16.887 4.103 Dari hasil yang suda di tampilkan secara rinci dalam tabel sebelumnya memperlihatkan NU hanya dapat meraih tempat ke dua perolehan suara terbanyak di Surabaya dibawah PKI. NU tidak mampu mengungguli PKI yang mendapatkan suara dengan jumlah 109.092 dan hanya mampu mendapat suara setengah dari jumlah suara yang diperoleh PKI sejumlah 50.567. Dari hasil ini memperlihatkan keberhasilan PKI dalam merebut hati dari masyarakat Surabaya. PKI lewat usaha kampanye yang dilakukan dengan strategi jemput bola lewat usaha membantu buruh yang bermasalah dengan atasannya terbukti mampu meraih simpati dari masyarakat. Selain itu PKI juga memantapkan strateginya dengan melakukan gerakan ditingkat bawah dengan membentuk struktur partai ditingkat ranting dan grup (Margana, 2010:278). Sumber lain yang menyajikan hasil dari pemilihan umum 1955 di Surabaya dapat dilihat dalam koran De Tijd edisi 30 Juli 1957 yang memberikan hasil kemenangan bagi PKI dan menempatkan NU diposisi ke dua serta PNI diposisi ke tiga. PKI berhasil meraih kemenangan dengan jumlah suara 23.000 yang dibuntuti NU diperingkat ke dua dengan perolehan 9.000 (De Tijd,1957). Jika dibandingkan dengan sumber sebelumnya maka jumlah suara yang didapatkan oleh setiap partai terdapat perbedaan yang cukup besar namun secara keseluruhan urutan pemenang pemilihan umum 1955 di Surabaya terdapat kesamaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa dari beberapa sumber yang didapat semuanya memiliki kesamaan dengan menempatkan PKI pada peringkat pertama, NU di peringkat ke dua dan  PNI di peringkat ke tiga.   SIMPULAN Dinamika politik NU pada tahun 1952 hingga 1955 memperlihatkan bagaimana NU yang baru berdiri sebagai partai politik melakukan berbagai usaha untuk dapat bersaing pada pemilihan umum 1955. Pemilihan umum 1952 memperlihatkan hasil yang cukup baik bagi NU yang sebelumnya hanya memiliki 8 kursi dalam parlemen berhasil menempati peringkat ke tiga pemenang pemilihan umum dan mendapatkan 45 kursi di parlemen. Kesuksesan NU sebagai partai politik baru tidak hanya diraih di tingkat nasional, hasil yang cukup baik juga didapat NU di tingkat lokal. Meskipun tidak meraiah suara terbanyak di Kota Surabaya NU mendapatkan hasil yang cukup baik di Surabaya dengan mendapatkan suar terbanyak ke dua setelah PKI yang mendapatkan suara terbanyak di Kota Surabaya. Hasil yang didapat oleh NU dalam pemilihan umum 1955 merupakan puncak dari dinamika politik yang berhasil diraih oleh NU setelah keluar dari Masyumi pada tahun 1952.   RUJUKAN Bruinessen, Martin V. 2008. NU Tradisi Relasi-relasi kuasa Pencarian Wacana Baru.Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang. Budihardjo, Miriam. 1988. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia De Tijd, Edisi 30 Juli 1957 Fealy, Greg. 2009. Ijtihad Politik Ulama Sejarah NU 1952-1967. Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang. Feith, Herbert. 1971. Pemilihan Umum 1955 di Indonesia. Bogor: Kepustakaan Populer Gramedia Haidar, M. Ali,1998. Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia (Pendekatan Fikih dalam Politik).  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Margana, Sri dan  M. Nursam.2010. Kota-Kota di Jawa Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan

    Peran Guru Sejarah dalam Menumbuhkan Cinta Tanah Air Siswa melalui Pembelajaran Sejarah berbasis Situs Masa Indonesia Hindu-Buddha di Kabupaten Pasuruan bagi Siswa SMA Negeri 1 Purwosari

    No full text
    ABSTRAKAilil, Rohana Nur.2018.Peran Guru Sejarah dalam Menumbuhkan Cinta Tanah Air Siswa melalui Pembelajaran Sejarah berbasis Situs Masa Indonesia Hindu-Buddha di Kabupaten Pasuruan bagi Siswa SMA Negeri 1 Purwosari. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum. Kata kunci: peran guru, cinta tanah air, situs sejarahSikap cinta tanah air yang terdapat dalam diri siswa pada masa ini semakin berkurang. Siswa yang cenderung acuh terhadap budaya Nusantara dan lebih tertarik terhadap budaya asing. Permasalahan ini menjadi tugas bagi orangtua, guru, dan pemerintah dalam menumbuhkan sikap cinta tanah air dalam diri siswa. Guru sejarah memiliki peran penting dalam menumbuhkan sikap cinta tanah air melalui pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru dengan metode pembelajaran yang menarik dan variatif seperti mengajak siswa ke situs bersejarah di sekitar. Selain itu, pemerintah juga memiliki tugas dalam menumbuhkan sikap cinta tanah air pada siswa yaitu dengan adanya program pendidikan karakter.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk untuk mengetahui upaya guru sejarah dalam menumbuhkan cinta tanah air pada siswa SMA Negeri 1 Purwosari, kendala guru sejarah dalam menumbuhkan cinta tanah air pada siswa SMA Negeri 1 Purwosari, dan menjelaskan peran guru sejarah dalam menumbuhkan cinta tanah air siswa melalui pembelajaran sejarah berbasis situs masa Indonesia Hindu-Buddha di Kabupaten Pasuruan bagi siswa SMA Negeri 1 Purwosari.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi pada proses pembelajaran di kelas dan teknik wawancara kepada guru dan siswa. Analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan diolah dan keabsahan data diperiksa dengan teknik triangulasi.Berdasarkan hasil analisis data tersebut, peneliti memperoleh tiga simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, upaya guru sejarah dalam menumbuhkan cinta tanah air pada siswa SMA Negeri 1 Purwosari adalah mengenalkan tentang situs bersejarah, para pahlawan, kebudayaan bangsa, dan tertib ketika pembelajaran.Kedua, kendala guru sejarah dalam menumbuhkan cinta tanah air pada siswa SMA Negeri 1 Purwosari adalah adanya ketidakpahaman guru akan kebijakan pendidikan karakter, ketidaktahuan siswa akan situs bersejarah di sekitar, serta kurangnya antusias dan perhatian siswa terhadap pelajaran sejarah. Ketiga, peran guru sejarah dalam menumbuhkan cinta tanah air siswa melalui pembelajaran sejarah berbasis situs masa Indonesia Hindu-Buddha di Kabupaten Pasuruan bagi siswa SMA Negeri 1 Purwosari adalah melalui peranan seorang guru sebagai fasilitator, inisiator, informator, organisator, mediator, transmitter, dan motivator

    0

    full texts

    1,821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇