FON : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
    159 research outputs found

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT MELALUI METODE LATIHAN DI KELAS VIII A SMP NEGERI 2 DARMA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Darma dalam membaca, mengetahui kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Darma, dan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat melalui metode penugasan di kelas VIII A SMP Negeri 2 Darma.Dalam pelaksanaannya menggunakan metode penelitian deskriptif, dan subjek penelitian adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Darma sebanyak 29 orang .Hasil penilaian pembelajaran dalam kemampuan siswa membaca cepat dengan menggunakan metode latihan di kelas VIII A SMP Negeri 2 Darma telah menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada prosentase keberhasilan yang kecepan membacanya 200 kpm atau lebih dari siklus I sampai siklus III yaitu, pada siklus I 22 orang (75 % ) meningkat menjadi 23 orang (79%) pada siklus II, dan pada siklus III menjadi 28 orang (96%). Hal ini menunjukkan bahwa metode latihan sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa

    ANALISIS PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA PADA ANAK USIA SATU TAHUN SAMAPAI USIA LIMA TAHUN DI KELURAHAN

    Full text link
    Pemerolehan bahasa pertama sangat penting bagi seorang anak karena akan menentukan penguasaan bahasa kedua dan bahasa selanjutnya. Khusus di Indonesia bahasa pertama selalu identik dengan bahasa daerah, misalnya orang Sunda bahasa pertamanya bahasa Sunda atau orang Jawa bahasa pertamanya bahasa Jawa, namun seiring berjalannya waktu banyaknya perkawinan campuran, modernisasi dll saat ini banyak ibu-ibu yang mengajarkan bahasa pertamanya bukan bahasa daerah tetapi bahasa Indonesia bahkan bahasa Asing misalnya bahasa Inggris, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya, tetapi tidak menutup kemungkinan kota kecil pun sudah mulai jarang yang mengajarkan bahasa pertamanya bahasa daerah, contohnya di Kabupaten Kuningan banyak orang tua yang mengajarkan bahasa pertama bahasa Indonesia. Penelitian dibidang pemerolehan bahasa sangat jarang dilakukan oleh karen itu peneliti tertarik untuk meneliti pemerolehan bahasa pertama pada anak. Rumusan masalah pada penelitian ini ada tiga yaitu (1)Bagaimanakah pemerolahan bahasa secara fonologis pada ujaran anak usia satu tahun sampai lima tahun di Kelurahan Cigintung ?(2) Bagaimanakah pemerolehan bahasa secara morfologis pada ujaran anak usia satu tahun samapai lima tahun di Kelurahan Cigintung ?(3) Bagaimanakah pemerolehan bahasa secara sintaksis pada ujaran anak usia satu tahun sampai lima tahun di Kelurahan Cigintung?tujuan dari penelitian ini adalah (1)Untuk mendeskripsikan pemerolahan bahasa secara fonologis pada ujaran anak usia satu tahun sampai lima tahun di Kelurahan Cigintung (2)Untukmendeskripsikan pemerolahan bahasa secara morfologis pada ujaran anak usia satu tahun sampai lima tahun di Kelurahan Cigintung (3) Untuk mendeskripsikan pemerolahan bahasa secara sintaksis pada ujaran anak usia satu tahun sampai lima tahun di Kelurahan Cigintung.metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif analitis. Teknik pemerolehan data dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian Hasil analisis pemerolehan bahasa secara fonologis pada anak usia satu sampai lima tahun di kelurahan cigintung rata-rata semua anak sama, untuk pemerolehan bunyi vokal paling banyak bunyi a misalnya pada kata aa, ayah, mau, minta, maen dll. bunyi konsonan dari usia satu sampai lima tahun paling banyak bunyi bilabial nasal (m) misalnya pada kata makan, minum, mau, mimi, maen dll. Berikutnya bunyi konsonan yang lumayan mereka kuasai yaitu bunyi bilabial hambat (p/b) misalnya pada kata bapa, abis, beyum,beli, bobo, papih dll. Bunyi glotal (h) misalnya kata ayah,rumah, mamih, sepedah, papih dll. Bunyi alveolar (t/d) misalnya pada kata teteh, duduk, mandi dll. Bunyi bilabial semivokal (y/w) misalnya pada kata ayah, ayam, beyum, warna dll.pemerolehan dibidang morfologis yaitu prefiks di- dan sufiks –nya, pengulangan seluruh dn sebagian, tidak ditemukan sisipan dan kata majemuk.pemerolehan dibidang sntaksis anak banyak menggunakn kalimat imperatif, deklaratif, interogatif dan sedikit kalimat negatif.Kata kunci : pemerolehan bahasa pertama, anak usia satu sampai lima tahun

    PEMBELAJARAN BAHASA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI SISWA

    Full text link
    Gerakan Literasi merupakan kegiatan yang bersifat partisipatif melibatkan seluruh warga sekolah (peserta didik, Guru, Kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite sekolah, dan orang tua wali murid). Hal ini terkait dengan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah bahwa Literasi identik dengan aktifitas membaca dan menulis mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).Kemampuan Siswa sebagai subjek pembelajar dalam Gerakan Literasi Sekolah diantaranya kemampuan menentukan, mengidentifikasi , menemukan, mengevaluasi, menciptakan Informasi secara terorganisir guna mengkomunikasikannya pada tiap individu untuk berpartisifasi aktif dalam belajar di sekolah dan di masyarakatGerakan kolaboratif pembelajaran berbahasa di SDN 1 Kalapagunung ditekankan dalam pengefektifan Literasi dengan mewujudkan pembiasaan membaca peserta didik dalam waktu 15 menit membaca mampu mengarahkan pengembangan belajar pada tahap keterampilan reseptif, produktif maupun responsif Siswa. Pembelajaran berbahasa, pada Penelitian Tindakan Sekolah yang dilaksanakan di SDN 1 Kalapagunung bertujuan untuk meningkatkan Kemampuan Literasi tiap peserta didik melalui cara dan teknik pengajaran yang dilaksanakan Guru dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menumbuhkembangkan budaya Literasi di SDN 1 Kalapagunung Kata Kunci : Pembelajaran Bahasa, Kemampuan Literas

    MAKNA SYAIR MADIHIN BAINTAN KEBUDAYAAN BANJARMASIN MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRUKTURALISME

    Full text link
    Penelitian dengan judul “Makna Syair madihin Baintan Kebudayaan Banjarmasin Menggunakan Pendekatan Struktural”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna denotasi dan konotasinya. Teori yang digunakan ialah teori Roland Barthes dengan pendekatan struktural. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jenis penelitian kualitatif yang mengkaji berupa kalimat dan bukan berupa angka. Sumber data yang diambil adalah Video Baintan Baintan karya Gozali Rahman. Teknik pengumpulan data yaitu melalui rekaman dan wawancara. Dari hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa kesenian tradisional Baintan terdapat makna konotasi dan denotasi. Makna Konotasi dari Baintan Baintan tersebut yakni terjemahan bahasa Indonesia yang belum dimaknai sedangkan makna denotasi dari Baintan Baintan tersebut yakni terdapat makna gurauan dan makna budaya yang memiliki makna sebagai kegiatan hiburan juga makna untuk memperkenalkan identitas daerah pemadihin.Kata Kunci : Baintan, Makna, Konotasi Denotas

    STRUKTUR TEMATIK BERITA PENYALAHGUNAAN NARKOBA HARIAN MEDIA INDONESIA (ANALISIS WACANA KRITIS TEUN A. VAN DIJK)

    Full text link
    Struktur Tematik Berita Penyalahgunaan Narkoba Harian Media Indonesia: Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk. Penelitian ini mengkaji tentang struktur tematik yang digunakan wartawan dalam menulis berita, khususnya berita tentang penyalahgunaan narkoba pada harian media Indonesia. Penggunaan struktur tematik tersebut berdasarkan pada analisis wacana kritis dengan model yang dikemukakan oleh Teun A. Van Dijk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskiptif analisis. Berdasakan hasil pembahasan, wartawan harian media Indonesia yang menulis berita tentang penyalahgunaan narkoba menggunakan struktur teks makro atau struktur teks global dalam menulis berita. Kata kunci: struktur tematik, wacana kritis, Teun A. Van Dijk

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI MAHASISWA MENGGUNAKAN GOOGLE CLASSROOM

    Full text link
    Penelitian iniadalah gagasan ilmiah yang berupaya mencari pemecahan masalah literasi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Majalengka. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menumbuhkan semangat literasi sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut melalui kegiatan menulis. Fokus utama kegiatan literasi yang dituju dalam penelitian ini adalah literasi daring atau pemanfaatan sumber-sumber bahan bacaan baik itu buku, jurnal, prosiding, dan sumber bacaan lainnya yang tersedia melalui daring dengan menggunakan aplikasi google classroom. Google classroom merupakan aplikasi pembelajaran virtual yang dikeluarkan oleh Google. Kemudahan yang ditawarkan aplikasi ini menjadi dasar pemikiran penulis untuk mengembangkan kegiatan literasi pada mahasiswa menggunakan aplikasi ini. Beberapa keunggulan aplikasi ini diantaranya sebagai berikut. Pertama, kemudahan untuk mengakses aplikasi, yaitu melalui gawai atau telepon pintar yang dimiliki mahasiswa. Kedua, aplikasi ini memungkinkan dosen untuk mengirim tugas baca atau bahan literasi kepada seluruh mahasiswa secara cepat dalam satu kali klik. Ketiga, dosen dapat memanfaatkan aplikasi ini sebagai ruang diskusi literasi dengan mahasiswa secara bersamaan sehingga dosen dapat memantau aktivitas literasi mahasiswa. Keempat, melalui google classroom dosen dapat menginstruksikan, menetapkan, dan membicarakan dengan mahasiswa secara daring diwaktu yang sama secara bersamaan (kelas virtual).Kata Kunci: google classroom, kemampuan literasi, daring, kelas virtua

    KESADARAN FONOLOGI PADA ANAK USIA 3 TAHUN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran fonologi pada anak usia 3 tahun. Kesadaran fonologi merupakan salah satu keterampilan penting dalam kegiatan persiapan belajar membaca bagi anak usia dini. Responden dalam penelitian ini adalah tiga orang anak usia tiga tahun yang terdiri atas dua perempuan dan satu laki-laki. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan uji kerja. Uji kerja terhadap responden dilakukan dengan menggunakan pedoman uji kerja yang diadaptasi dari PAST (Phonological Awareness Skill Test) yang dikembangkan oleh GRRC (Green River Regional Education Center), Kentucky, Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak usia 3 tahun sudah memiliki kesadaran fonologi yang baik pada tingkatan pemenggalan kalimat, pengenalan bunyi berima, produksi bunyi berima, dan penggabungan suku kata. Kata kunci : kesadaran fonologi, anak usia dini, fonolog

    MENCIPTAKAN GENERASI LITERAT MELALUI MEDIA MASSA SURAT

    Full text link
     “Bangsa yang berbudaya ialah bangsa yang membiasakan budaya literasi (melekwacana) bukan sekadar budaya orasi (berbicara). Pada hakikatnya penyebaran budaya literasi meliputi budaya baca dan tulis. Sedangkan budaya orasi meliputi kebudayaan masyarakat dalam bertutur kata, dan menerima informasi. Dalam konteks keterampilan berbahasa bahwa literasi secara sederhana diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Seseorang dikatakan literat apabila bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman terhadap isi bacaan tersebut. Surat kabar merupakan salah satu media massa turut berperan dalam mempublikasikan budaya literasi hadir di masyarakat. Melalui surat kabar, gagasan yang disampaikan mengenai persoalan yang hangat dibicarakan di tengah masyarakat dapat dipahami lebih luas. Kehadirannya membuat masyarakat menjadi kritis, peka terhadap informasi, dan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas intlektual. Selain itu, media massa surat kabar mampu membentuk kebiasaan berliterasi dimulai dari kebiasaan berpikir dari pemahaman isu/persoalan yang diikuti oleh sebuah proses membaca, kemudian menulis yang pada akhirnya akan menciptakan karya. Literasi juga erat kaitannya dengan pola pembelajaran di sekolah yaitu ketersediaan bahan bacaan dan tumbuhnya masyarakat gemar membaca (reading society). Dengan demikian, budaya literasi sebagai pembentuk generasi literat bisa dikatakan sebagai akar dari peradaban yang mampu mentransformasi pola pikir dan perilaku. Kata Kunci : Generasi Literasi, Media Massa, Surat Kabar

    PENINGKATAN MINAT BACA MURID SEKOLAH DASAR MELALUI CERITA RAKYAT TORAJA DALAM BENTUK KOMIK DENGAN MEMANFAATKAN ANAK SEBAGAI TOKOH CERITA

    Full text link
    Peningkatan Minat Baca Murid Sekolah Dasar Melalui Cerita Rakyat Toraja dalam Bentuk Komik dengan Memanfaatkan Anak sebagai Tokoh Cerita. Kemampuan membaca murid Sekolah Dasar dari beberapa penelitian menunjukkan hasil yang rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan PIRLS (Progress in Internasional Reading Literacy Study) tahun 2011 menunjukkan minat baca murid Sekolah Dasar di Indonesia menduduki peringkat 41 dari 45 negara. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak melalui cerita rakyat Toraja dalam bentuk media komik, serta dapat menumbuhkan karakter anak melalui alur cerita yang ada dalam komik. Penelitian ini didesain dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan subjek murid Sekolah Dasar kelas V di Rantepao,Toraja Utara dan objek penelitian ini adalah cerita rakyat dalam bentuk komik. Pengumpulan data dilakukan melalui tes dan observasi serta dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan media komik,  hasil pretest dan posttest, menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) . Sehingga dapat disimpulkan penggunaan media komik berpengaruh dalam meningkatkan minat baca murid.Kata Kunci: cerita rakyat, komik, minat baca

    KAJIAN TOKOH WAYANG GOLEK PURWA DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR DALAM MENYAMPAIKAN PENGAJARAN SASTRA UNTUK MENINGKATKAN NILAI-NILAI BUDI PEKERTI PESERTA DIDIK

    Full text link
    Bahan ajar merupakan bagian dalam pembelajaran yang memiliki peranan penting untuk menjawab tuntutan kurikulum. Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar pendidikan Bahasa Indonesia merupakan pintu masuk untuk mencapai permintaan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam kurikulum 2013. Seyogiyanya bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik merupakan bahan ajar yang dirancang oleh guru mata pelajaran yang dimaksud dengan memperhatikan tuntutan permintaan KI dan KD dalam kurikulum yang digunakan, dalam hal ini kurtilas. Ketepatan pembuatan bahan ajar sangat berperan sehingga permintaan dalam kurikulum bisa tercapai siswa pun dapat memahaminya dengan mudah. Hasil dalam penelitian ini penulis membuat modul yang dilengkapi RPP yang akan menjawab tuntutan KI dan KD, dalam hal ini KD 3.7, 4.7 dan 3.8,.4.8. materi di dalamnya menghadirkan contoh cerita wayang golek purwa. Hadirnya cerita wayang golek purwa dapat melestarikan khasanah kebudayaan Indonesia khususnya ditatar Jawa Barat. Disamping itu keberadaannya akan mudah diterima oleh peserta didik (peserta didik yang dimaksud yang berada ditatar Jawa Barat). Hadirnya bagah ajar yang disusun semoga dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi KD 3.7, 3.8, 4.7, dan 4.8 dengan mudah dan dapat dipahami oleh peserta didik, karena contoh yang disediakan cerita wayang golek purwa dapat dipakai dijenjang kelas X semester I

    155

    full texts

    159

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    FON : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇