JURNAL MESIN TEKNOLOGI
Not a member yet
    270 research outputs found

    STUDI KEKUATAN LAS RESISTANSI LISTRIK PADA PIPA BAJA API 5L-B DAN API 5L-X60

    Get PDF
    Mutu sambungan las biasanya diukur dari komposisi kimia dari logam, kekuatan dan keuletan serta struktur mikro yang terbentuk pada sambungan las untuk melakukan pengelasan yang berkualitas tinggi dengan menggunakan metode Pengelasan Kampuh Kontinyu (Continuous Seam Welding), dan untuk mengetahui sejauh mana kekuatan dari pipa baja API 5L-B (10″x9.30 mm) dan API 5L-X60 (20″x12.70 mm) maka dilakukan pengujian yang meliputi: pengujian radiografi, pengujian tarik, pengujian impact, pengujian kekerasan metode Vickers dan pengujian Metallografi dengan membandingkan kekuatan pada daerah HAZ dan Base Metal serta Weld Metal. Berdasarkan pengujian secara keseluruhan, menunjukkan bahwa data hasil pengujian sesuai standar. Untuk pengujian Radiografi menunjukkan bahwa tidak terdapatnya cacat pada benda uji. Pada pengujian tarik API 5L-X60 menunjukkan bahwa angka kekuatan tarik dan kekerasan cukup tinggi dibandingkan dengan API 5L-B dan juga kuat tarik pada daerah Weld lebih tinggi dari pada daerah Transe ini dikarenakan Post Weld Heat Treatment (perlakuan panas setelah pengelasan). Dalam pengujian Impact temperatur transisi semakin menurun sejalan dengan meningkatnya kalor yang terserap. Untuk pengujian kekerasan API 5L-X60 lebih keras dibandingkan dengan API 5L-B, daerah Base Metal adalah daerah yang paling keras, karena pada daerah Base Metal tidak terkena perlakuan panas

    PENGARUH PROSES TEMPERING PADA BAJA KARBON MEDIUM SETELAH QUENCHING DENGAN MEDIA OLI DAN AIR GARAM (NACL) TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO

    Get PDF
    Dalam penelitian ini temperatur pemanasan yang diberikan adalah 850oC pada baja type SC45 dengan waktu tahan 45 menit kemudian di dinginkan dengan media pendingin oli dan air garam, dilanjutkan dengan proses temper pada temperatur 600oC.  Pengujian  yang dilakukan meliputi : pengujian komposisi kimia, pengujian tarik, pengujian kekerasan dan pengujian metallografi.Hasil pengujian Pada spesimen tanpa perlakuan panas memiliki kuat tarik 736,12 N/mm dengan fasa yang terbentuk adalah pearlite dan ferrit. pada spesimen dengan perlakuan panas temperatur 850 oC quenching oli memiliki  nilai kekerasan 48,4 HRc dengan struktur mikro bainite dan martensite. Pada specimen dengan perlakuan panas temperatur 850 oC quenching air garam memiliki kekerasan 56,4HRc dengan struktur mikro martensite yang lebih dominan  dibandingkan dengan  bainite sehingga menghasilkan nilai kekerasan yang tinggi dibandingkan dengan spesimen lain.  pada spesimen dengan perlakuan panas temperatur 850 ºC quenching oli, dilanjutkan dengan proses temper pada temperatur 600 ºC, memiliki kuat tarik 837,73 N/mm² regangan sebesar 28 %, kekuatan luluh 757,18 N/mm² dan kekerasan 29,5HRc dengan struktur mikro ferrit dan sementite. pada spesimen dengan perlakuan panas temperatur 850 ºC quenching air garam, dilanjutkan dengan proses temper pada temperatur 600 ºC, memiliki kuat tarik 855,05 N/mm² dan regangan 28%, kekuatan luluh 758,26 N/mm². serta tingkat kekerasan 30,9 HRc dengan struktur yang terbentuk adalah Kristal ferrit dan fasa sementite tampak lebih halus di bandingkan dengan oli temper

    PENGARUH ANNEALING TERHADAP LAS MIG DENGAN GAS PELINDUNG CO2 (100%) TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO DAN MAKRO PADA BAJA STAM 390 G

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruhsuhu Annealing Pada Pengelasan MIG Dengan Gas Pelindung CO2(100%) Terhadap Sifat Mekanis Dan Struktur Mikro Dan Makro Pada Baja STAM 390 G.Penelitian menggunakan baja STAM 390 G yang mengandung karbon 0,25%. Jenis las pada spesimen ini adalah menggunakan las MIG (Metal Inert Gas) dan kemudian spesimen tersebut dilakukan proses annealing dengan suhu 770ºC dipanaskan selama 15 menit dan didinginkan di luar tungku atau temperatur ruangan yaitu 35°C. Hasil penelitian kekerasan menunjukan bahwa spesimen dilas tanpa perlakuan panas  pada masing-masing daerah logam induk (1) 143.6 HV, HAZ A 156 HV, daerah lasan 173.7 HV, daerah HAZ B 159.4 HV. Daerah logam induk (2) 134.6 HV. Setelah di annealing 770ºC holding time 15 menit ini, mengalami penurunan. Hasil foto mikro pada spesimen tanpa mengalami perlakuan panas struktur ferrit dan perlit tampak sama dominan sehingga mengakibatkan kekerasan dari bahan menjadi tinggi beda dengan spesimen yang di annealing yang semakin tinggi suhu pemanasan maka butiran perlit dan ferit semakin membesar sehingga menurunkan kekerasan dan meningkatkan keuletan bahan. Untuk hasil foto makro dapat dilihat penetrasi weldingnya yang tidak mengalami perlakuan panas penetrasi weldingnya dangkal sedangkan spesimen yang di annealing (perlakuan panas) penetrasi weldingnya lebih dalam dikarenakan bertambahnya masukan panas pada spesimen atau benda uji. Sesuai hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa annealing sangat berpengaruh terhadap perubahan struktur bahan sehingga terhadap kekuatan bahan.

    PENGARUH TEMPERING PADA BAJA St 37 YANG MENGALAMI KARBURASI DENGAN BAHAN PADAT TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO

    Get PDF
    Proses perlakuan panas yang diberikan pada St 37 pada penelitian ini ialah karburasi dengan bahan padat dengan temperatur 900ºC selama 2 jam, dilanjutkan proses quenching dengan media oli setelah itu ditemper pada temperatur 150ºC, 250ºC, 300ºC masing-masing selama 1jam. Kemudian dilakukan proses pengujian mekanis dan struktur mikro untuk mengetahui pengaruh perlakuan panas yang diberikan.Dari hasil pengujian didapatkan bahwa material yang ditemper pada suhu 150ºC memiliki nilai kekuatan tarik tertinggi (su) sebesar 598.53 N/mm² dan nilai kekerasan sebesar 294 HB, sedangkan temperatur tempering 250ºC menghasilkan nilai kekuatan tarik terendah (su) yaitu 542.8 N/mm² serta nilai kekerasan sebesar 254.66 HB.Peningkatan mekanis juga dipengaruhi oleh kadar karbon dalam baja, baja yang mengandung unsur karbon lebih banyak menghasilkan sifat mekanis lebih tinggi.Dari hasil pengamatan metalografi masing-masing benda uji terlihat struktur-struktur ferit, pearlit dan martensit

    PENGARUH VARIASI KECEPATAN PENGELASAN PADA PENYAMBUNGAN PELAT BAJA SA 36 MENGGUNAKAN ELEKTRODA E6013 DAN E7016 TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIKNYA

    Get PDF
    Pengaruh pengelasan terhadap  kekerasan, struktur mikro dan kekuatan tarik las. Penelitian ini menggunakan bahan baja karbon rendah yang mengandung kadar C 0,17 %. Material SA 36 diberikan proses pengelasan yang kecepatan rata-ratanya untuk E6013 adalah 2 menit 06 detik dan kecepatan rata-rata untuk E7016 adalah 3 menit 06 detik. Kedua elektroda tersebut menggunakan metode las SMAW (Shield Metal Arc Welding). Benda uji dilakukan penelitian terhadap kekerasan, struktur mikro, dan kekuatan tariknya. Dari hasil penelitian tersebut pengaruh dari kecepatan dan heat input sangat mempengaruhi nilai dari kekerasan, struktur mikro dan uji tariknya. Semakin rendah heat input yang diterima, makin tinggi nilai kekerasan dan kekuatan tariknya. Begitu pula sebaliknya, makin besar heat input yang diterima, maka makin rendah nilai kekerasan dan kekuatan tariknya

    PERANCANGAN PRESSURE VESSEL KAPASITAS 0,017 M3 TEKANAN 1 MPa UNTUK MENAMPUNG AIR KONDENSASI BOGE SCREW COMPRESSOR

    Get PDF
    Dalam rangka mendukung kebijakan perusahaan untuk melakukan penghematan biaya operasional dengan cara efisiensi dan melakukan perbaikan terus menerus pada mesin, termasuk saluran buang air hasil kondensasi mesin kompresor dan mencegah terbuangnya udara bertekanan secara kontinyu, maka dirancanglah sebuah pressure vessel dengan kapasitas 0,017 M3 tekanan 1 MPa untuk menampung air hasil kondensasi mesin boge screw compressor.Perancangan pressure vessel ini berdasarkan tekanan dalam dari mesin kompresor sebesar 1 MPa, diameter shell, tegangan yang diijinkan pada bahan shell sebesar 103,421 MPa, bahan flathead sebesar 120,658 MPa dan efisiensi sambungan las sebesar 0,6. Hal dasar tersebut diperlukan untuk menghitung tebal minimum yang dibutuhkan pada dinding shell dan tebal minimum yang dibutuhkan pada flathead agar tidak pecah saat di operasikan. Bahan yang digunakan adalah baja karbon rendah berbentuk silinder atau pipa untuk shell dan nozzle dengan diameter luar shell 219,1 mm dan tebal dinding shell adalah 6,4 mm, diameter luar nozzle 48,3 mm tebal 3,7 mm, diameter luar nozzle 26,7 mm tebal 2,9 mm, diameter luar nozzle 21,3 mm tebal 2,8 mm serta pelat dengan tebal 15 mm untuk flathead dan tebal 6 mm untuk support. Baja karbon dipilih karena punya sifat mampu las yang tinggi, kuat dan banyak digunakan di banyak industri

    PERENCANAAN KOMPRESOR PISTON PADA TEKANAN KERJA MAX 2 N/mm2

    Get PDF
    Kompresor adalah suatu alat untuk memampatkan udara atau gas. Azas kerja kompresor jika suatu udara atau gas di dalam suatu ruangan tertutup diperkecil volumenya, maka udara atau gas tersebut mengalami kenaikan tekanan. Di sini digunakan torak bolak-balik di dalam silinder untuk mengisap, menekan dan mengeluarkan udara atau gas berulang-ulang. Perencanaan ini bertujuan untuk menentukan dimensi-dimensi utama pada komponen kompresor torak (torak, batang penggerak, poros engkol, katup, cincin). Perencanaan ini dikhususkan pada kompresor torak dua tingkat dua silinder, dengan kapasitas kompresor 1,48 m3/min, tekanan 9,8 Bar dan putaran 900 rpm. Sehingga dari hasil analisa dan perhitungan diperoleh diameter torak untuk tingkat I = 143 mm, dan tingkat II = 112 mm, dengan panjang batang penggerak untuk tingkat I = 166,5 mm, dan tingkat II = 190,73 mm dengan efisiensi kompresor sebesar 87 %

    ANALISA PENGARUH HEAT TREATMENT TERHADAP KETEBALAN LAPISAN ZINC DAN KETAHANAN KOROSI PADA PERMUKAAN LINK ENGINE HANGER SEBELUM PROSES PELAPISANNYA

    Get PDF
    Kehidupan modern tidak terlepas dari industri elektroplating. Berbagai barang perhiasan, komponen sepeda motor, mobil dan peralatan pabrik memerlukan sentuhan akhir melalui teknologi lapis listrik elektroplating. Pelapisan ditujukan untuk memperbaiki permukaan benda sehingga lebih cemerlang, mengkilap, tahan terhadap korosi dan permukaan benda menjadi lebih keras. Logam yang dilapisi adalah plat SPCC yang pada pengaplikasiannya digunakan untuk Link engine hanger pada motor Honda Vario. Sebelum dilakukannya proses pelapisan, material  mengalami proses penyambungan logam (welding). Pengujian ini menggunakan spesimen berupa plat SPCC yang berrjumlah 3 buah. Dalam pelaksanaan pelapisan elektroplating menggunakan variasi perlakuan terhadap material, yaitu dengan Non Heat Treatment, Heat Treatment dengan Quenching Air, dan Heat Treatment dengan Annealing Udara. Heat Tretment ditujukan untuk memperoleh sifat-sifat yang sesuai dengan penggunaannya, khususnya untuk mendapatkan kekuatan, struktur mikro dan sifat liat yang diperlukan. Temperatur pemanasan yang diberikan adalah 800oC dengan waktu tahan selama 5 menit setiap sampel yang di berikan perlakuan panas kemudian di dinginkan dengan media pendingin air dan pendingin udara. Benda uji dilakukan pengujian komposisi kimia, ketahanan korosi, struktur mikro dan pengujian ketebalan lapisan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui ketahanan korosi baja karbon rendah, ketebalan lapisan lapisan Zinc Plating

    PERANCANGAN ULANG DAN PEMBUATAN MESIN PENGIRIS SINGKONG UNTUK MEMBUAT KRIPIK DENGAN METODE VDI 2221

    Get PDF
    Dalam proses perancangan ulang dan pembuatan mesin pengiris singkong tipe VDI 2221 ini yang perlu diperhatikan adalah proses putaran mesin terhadap proses penyayatan berlangsung, dan memaparkan proses pembuatan, waktu kerja pembuatan dan hasil dari pengujian. Maka pada akhirnya tidak akan banyak berguna maka sehubungan dengan hal tersebut, pengujian akan dilakukan dengan memakai komoditas singkong yang memiliki kelompok tanaman “root tuber” yang merupakan salah satu bahan baku percobaan untuk menghasilkan produk olahan dengan prospek yang lebih baik

    PERENCANAAN PEMANAS AIR TENAGA SURYA KAPASITAS 80 GALON PER HARI

    Get PDF
    Energi matahari adalah sumber energi yang gratis, sehingga dapat dimanfaatkan seefisien mungkin, walaupun butuh biaya tinggi dalam pemanfaatannya. Dalam hal ini energi matahari digunakan untuk memanaskan air dengan suhu keluaran 430C dengan kapasitas 80 gal per hari yang digunakan untuk industri rumah apartemen (bukan gedung apartemen) sebanyak kurang dari 20 apartemen, dengan 80 galon per hari setiap apartemennya. Proses pengumpulan panas dilakukan oleh kolektor dengan menyerap panas matahari, sehingga mengalir secara konduktif mengenai pelat penyerap (tembaga dengan lapisan chrom hitam), dengan suhu 1280C, dan melalui dinding silinder kemudian panas dipindahkan ke fluida didalam saluran pipa-pipa dengan cara konveksi paksa, pelat penyerap yang panas itu melepaskan panas kepelat penutup kaca dengan cara konveksi alamiah dan diteruskan ke atmosfir dengan cara radiasi yang hal ini merupakan salah satu kerugian kalor yang mencapai 4,4 W/(m2.K). Dan bersirkulasi terus selama perbedaan antara suhu di kolektor dan tangki penyimpan masih selisih 140C. Dari hasil penelitian di lapangan bahwa suhu air masuk sebesar 270C dan suhu air hangat 430C. Dan hasil perhitungan, radiasi matahari yang ditangkap pada kolektor dengan posisi 60LS (wilayah DKI Jakarta) sebesar 1047,9 W/m2 dan panas yang diperoleh sekitar 80% dengan kerugian total pada kolektor sebesar 5,14 W/(m2.K). Waktu yang diperlukan untuk memanaskan air hingga suhu keluaran mencapai 430C sebesar 1 jam dengan membutuhkan dua buah kolektor, dengan kerugian kalor pada tangki sebesar 20% dari panas yang diterima kolektor

    264

    full texts

    270

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL MESIN TEKNOLOGI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇