JURNAL MESIN TEKNOLOGI
Not a member yet
270 research outputs found
Sort by
ANALISIS LAJU ALIRAN PANAS PADA REAKTOR TANKI ALIR BERPENGADUK DENGAN HALF-COIL PIPE
Untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi dalam jumlah besar dan continue (mass production), perusahaan melakukan pengendalian kualitas dengan langkah awal berupa pengidentifikasian kecacatan produk dan lamanya waktu proses agar dapat mengurangi siklus waktu proses produksi seminimal mungkin. Oleh karena itu, penulis melakukan analisis laju aliran panas, jenis aliran fluida, pipa perambatan panas, daya pengaduk untuk mengetahui seberapa besar pengaruh faktor tersebut dalam proses pencairan material lateks. Metode dari pengujian ini meliputi : pengumpulan data di lapangan, melakukan perhitungan dari data yang terkumpul, dan menarik kesimpulan. Dari hasil pengujian ini diketahui bahwa waktu proses dan pencampuran bahan lateks di dalam tanki dipengaruhi oleh viskositas dinamik lateks, laju perpindahan panas steam pada half-pipe coil dan daya agitator atau pengaduk
ANALISIS PEMILIHAN POMPA UNTUK SHELL AND TUBE HEAT EXCHANGER SKALA LABORATORIUM
Penelitian ini menganalisa tentang pemilihan pompa alat penukar kalor Shell dan Tube kapasitas Skala Laboraturium. Pompa yang digunakan dalam sistem Shell and Tube Heat exchanger ini menggukan dua jenis pompa , yaitu : pompa sentrifugal untuk distribusi air dingin dan pompa oli atau Gear Pump untuk distribusi oli panas (fluida panas).Heat Exchanger atau Alat Penukar Kalor merupakan suatu alat untuk memindahkan energi termal dari sumber panas ke sumber yang lebih dingin, atau alat yang memungkinkan terjadinya perpindahan energi kalor atau panas antara dua fluida atau lebih yang mempunyai temperatur berbeda. Oleh sebab itu perlu adanya anilisa pemilihan pompa yang tepat agar sistem beropersi dengan maksimal.Dalam perancangan ini aspek-aspek yang perlu dihitung antara lain: Menentukan kapasitas Heat Exchanger sehinnga bisa diketahui kebutuhan aliran air yang dibutuhkan untuk mendinginkan fluida panas, sehingga effisiensi dari Heat exchanger bisa mencapai nilai maksimal
ANALISA PERUBAHAN GAS SHIELD Ar 80% + CO2 20% MENJADI GAS SHIELD CO2 100% DENGAN PENGELASAN MIG PADA BAJA STAM 390 G TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN PENETRASI SERTA PENGARUH BIAYA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar biaya produksi mengalami penurunan pada penggunaan gas shield Ar 80% + CO2 20 % menjadi gas shield CO2 100% dengan pengelasan MIG pada steering head main frame baja STAM 390 G terhadap sifat mekanis dan penetrasinya. Penelitian ini menggunakan bahan baja karbon rendah yang mengandung kadar C = 0,25 %. Bahan diberi perlakuan pengelasan dengan kecepatan las 90 mm/menit dengan menggunakan las MIG (Metal Inert Gas) dan elektroda jenis kawat kontinu MG-51T berdiameter 1,2 mm. Benda uji dilakukan pengujian kekerasan, foto makro untuk mengetahui penetrasi welding dan foto mikro.Dari hasil penelitian tersebut pengaruh dari penggunaan gas shield Ar 80% + CO2 20 % menjadi gas shield CO2 100% dan kecepatan sangat mempengaruhi nilai dari kekerasan, struktur mikro dan penetrasinya. Tingkat tertinggi kekerasan dengan kecepatan 90 mm/menit terdapat pada daerah lasan area (C), hal ini terlihat pada struktur mikronya yang banyak terdapat martensit dan bainit yang cenderung keras karena mengandung karbon. Dan dari hasil foto makro dapat dilihat penetrasi weldingnya pada kecepatan las 90 mm/menit tembusan lasnya dangkal, dikarnakan gerakan elektroda terlalu cepat. Sesuai hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pengaruh kecepatan pengelasan terjadi perubahan struktur sehingga berpengaruh terhadap kekuatan bahan. Serta penurunan harga dari penggunaan gas shield Ar 80% + CO2 20% menjadi gas shield CO2 100% adalah 384%
PENGARUH PROSES HARDENING PADA BAJA HQ 7 AISI 4140 DENGAN MEDIA OLI DAN AIR TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO
Proses hardening dilakukan pada temperatur pemanasan 850oC terhadap baja AISI 4140 dengan memberikan holding time selama 1 jam serta 2 macam media pendingin yaitu oli dan air. Selanjutnya dilakukan proses tempering pada temperatur 600oC dengan pemberikan waktu penahanan selama 1 jam. Perubahan sifat mekanis yang diamati sebelum dan sesudah mengalami proses perlakuan panas terdiri dari nilai kekuatan tarik, nilai kekerasan serta struktur mikronya. Nilai kekuatan tarik sebelum proses hardening 1069,38 N/mm2 sedangkan setelah proses hardening nilai kekuatan tariknya sebesar 1524,63 N/mm2 untuk pendinginan oli dan sebesar 990,85 N/mm2 untuk pendinginan air. Nilai kekerasan sebelum proses hardening sebesar 19,2 HRc setelah proses hardening dengan temperatur dan holding time yang sama berurutan untuk pendinginan air dan oli adalah 36,06 HRc dan 34,44 HRc. Sedangkan nilai kekerasan setelah proses tempering dengan temperatur 600oC dan holding time 1 jam untuk pendinginan oli dan air adalah 38,06 HRc dan 34,74 HRc. Dari hasil pengamatan struktur mikro terlihat pembentukan martensit pada kondisi pendinginan oli dan air, dan pembentukan martensit temper pada proses tempering dengan pendinginan yang sama
ANALISIS UNJUK KERJA HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR (HRSG) PADA PLTGU MUARA TAWAR BLOK 5
Heat Recovery Steam Generator (HRSG) merupakan ketel uap yang memanfaatkan gas buang dari turbin gas untuk memanaskan air menjadi uap panas lanjut. Dalam penelitian ini kita dapat menghitung efisiensi HRSG dengan cara membandingkan total aliran energi panas untuk menghasilkan uap dengan total aliran energi panas yang berasal dari keluaran turbin gas. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa efisiensi tertinggi yaitu sebesar 85.71 % , dengan laju aliran energi yang dibutuhkan air menjadi uap panas lanjut sebesar 222868.53 kJ/s, laju aliran gas buang pada HRSG sebesar 260017.1 kJ/s dan efisiensi terendah sebesar 82.31% dengan laju aliran energi yang dibutuhkan air menjadi uap panas lanjut sebesar 213550.62 kJ/s, laju aliran gas buang pada HRSG sebesar 259432.8 kJ/s. rata- rata efisiensi yang terjadi pada tahun 2012 adalah 84.19%
DESIGN KONSTRUKSI BEJANA TEKAN UNTUK SEPARATOR GAS (KAP. 9 MMSCFD), OIL (KAP. 200 BARREL/HARI) DAN WATER (KAP. 200 BARREL/HARI)
Separator adalah suatu bejana dimana campuran fluida yang tidak larut kedalam satu sama lainnya dapat dipisahkan. fluida hidrokarbon tersebut dialirkan dari reservoir ke permukaan melalui banyak sumur. Dari kepala sumur fluida hidrokarbon tersebut dialirkan ke peralatan pemisah dan selanjutnya dialirkan ke tempat pengumpulan, pengolahan ataupun penjualan. Persyaratan jual untuk minyak dan gas serta peralatan pengolahan fluida hidrokarbon yang hanya dapat bekerja untuk satu fasa hidrokarbon saja, maka tiap-tiap fasa perlu dipisahkan terlebih dahulu sebelum dikirim ke peralatan pengolahan ataupun pengapalan. Karena fluida dari sumur minyak atau sumur gas terdiri dari campuran minyak, air, gas, uap minyak, uap air dan padatan maka untuk memisahkan masing-masing komponen perlu peralatan khusus, yaitu separator. Proses pemisahan dengan pemecahan Emulsi dengan metode gravitasi
ANALISIS EFISIENSI TURBIN GAS TERHADAP BEBAN OPERASI PLTGU MUARA TAWAR BLOK 1
Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Tawar (PLTGU Muara Tawar) merupakan salah satu unit pembangkit di Indonesia. Sebagai salah satu pembangkit listrik terbesar di Indonesia kesiapan PLTGU Muara Tawar sangat diperlukan. PLTGU merupakan pembangkit yang memiliki respons yang cepat terhadap perubahan beban. Oleh karena itu perubahan beban pada PLTGU sering sekali terjadi. Untuk menjaga performance pada PLTGU, peralatan yang ada dalam PLTGU harus dijaga kondisinya agar dapat bekerja secara optimal. Pada Tugas Akhir ini akan dilakukan analisis efisiensi turbin gas terhadap beban operasi PLTGU Muara Tawar Blok 1 dengan menganalisis efisiensi yang dihasilkan turbin gas berbahanbakar natural gas.Dari hasil penelitian ini didapat bahwa efisiensi thermal turbin gas PLTGU Muara Tawar Unit 1, 2, dan 3 pada beban 136 MW adalah 36.35%, 35.55%, dan 35.13%
ANALISIS UNJUK KERJA ALAT PENUKAR KALOR PELAT KAPASITAS 2400 KW DENGAN ALIRAN BERLAWANAN (COUNTERFLOW)
Base Transmission station (BTS) di daerah terpencil atau remote area memiliki kesulitan dalam penyediaan sumber listrik karena letak site yang relatif jauh dari jala-jala AC atau meskipun sumber listrik AC tersedia, namun tidak dapat diandalkan karena fluktuasi tegangan dan sering terjadinya pemadaman listrik, sehingga diperlukan cadangan energi listrik yang lain. Untuk mengatasi hal tersebut maka di site-site remote area dilengkapi diesel genset dengan kondisi running secara terus-menerus atau lebih dikenal dengan sistem konvensional akibatnya biaya operasional menjadi tinggi. Untuk mengatasi biaya operasional yang tinggi dilakukan langkah modifikasi berupa penerapan teknologi Hybrid Charge Discharge atau Hybrid CDC. Penelitian ini dibuat untuk melakukan analisa konsumsi bahan bakar diesel genset terhadap modifikasi sistem konvensional, sehingga dapat dijadikan referensi untuk kegiatan pengembangan teknologi di bidang konversi energi. Dari hasil monitoring 2 site BTS dengan sistem Hybrid CDC di area tidak terdapat jaringan listrik diperoleh data berupa durasi Hybrid Charge discharge, konsumsi bahan bakar diesel genset, karakteristik beban harian, karakteristik beban rectifier, dan karakteristik beban Battery. Dengan sistem Hybrid CDC dapat mengurangi jam operasional diesel genset sebanyak ±70% dalam 24 jam. Akibat dari berkurangnya jam operasional tersebut maka akan berimbas kepada konsumsi bahan bakar diesel genset dan frekuensi perawatan diesel genset. Untuk konsumsi bahan bakar diperoleh penghematan sebesar ±78% dalam 24 jam, secara keseluruhan dengan melakukan modifikasi sistem konvensional menjadi Hybrid CDC dapat diperoleh total penghematan biaya operasional BTS rata-rata sebesar Rp 350.000.000,-
PENYESUAIAN TOOL DIES EVO 023 W12 PADA MESIN BENDING UNTUK UKURAN 25 MM MENJADI 20 MM
Penyesuaian Tool Dies EVO 023 W12 pada Mesin Bending Untuk Ukuran 25 mm Menjadi 20 mm. Mesin bending TruBend 5085 adalah mesin buatan TRUMPF yang memiliki fungsi lebih banyak. Mesin ini dapat mengerjakan pekerjaan menekuk, mengoverlapping, dan melipat material plat. Untuk memaksimalkan fungsi dari peralatan yang digunakan diperlukan modifikasi pada peralatan tersebut. Kegiatan memodifikasi tool dies ukuran 25 mm menjadi 20 mm dilatar belakangi dengan tidak tersedianya tool dies yang memiliki ukuran 20 mm. Modifikasi ini dilakukan dengan merubah ukuran dies yang terkecil yaitu 25 mm. Modifikasi ini tidak merubah komponen-komponen pada mesin tetapi hanya mengurangi ukuran sehingga tool dies yang dimodifikasi berfungsi dengan maksimal. Disamping itu juga perlu diperhitungkan dalam pengerjaannya cukup aman, ekonomis, dan praktis. Dengan terselesaikannya modifikasi ini maka kegiatan proses produksi dapat berjalan dengan lancar
PERENCANAAN DAYA POMPA UNTUK KOLAM RENANG KONVENSIONAL DENGAN KAPASITAS 2000M
Dalam perencanaan sistem sirkulasi yang menggunakan pompa ini ada beberapa tahapan yang diperlukan seperti, Perhitungan kapasitas, Perhitungan head, pemilihan jenis pompa pemilihan motor penggerak, perhitungan impeller, penentuan efisiensi pompa dan yang terakhir perhitungan daya motor penggerak.Pada proses perencanaan ini ada beberapa peralatan pendukung yang digunakan seperti Sand Filter, Carbon Filter dan juga Chlorinator yang masing-masing fungsinya sebagai penyaring dan pembersih, selain itu dalam perencanaan ini ada tiga saluran utama yang digunakan dalam prosesnya yaitu Main Drain, Inlet Fitting dan Over Flow. Untuk menjalankan sistem sirkulasi ini digunakan dua buah pompa yang akan dijalankan secara bergantian agar umur pompa bisa bertahan lama dan juga bisa difungsikan sebagai pompa cadangan