4351 research outputs found
Sort by
Sosiologi Sejarah Teori dan Metodologi
Buku ini dipersiapkan sebagai bahan kuliah Pengantar Sosiologi untuk mahasiswa baru di perguruan tinggi. Oleh karena itu, materinya dibahas pada sejumlah isu yang menjadi daar studi sosiologi dan disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Beberapa isu fundamental tersebut antara lain: sejarah kelahiran sosiologi, hubungan sosiologi dengan ilmu-ilmu sosial lain, objek studi sosiologi, pelbagai pandangan dari the founding fathers sosiologi (Emile Durkheim, Karl Marx, Max Weber), dan juga pokok-pokok masalah kunci dalam sosiologi seperti kebudayaan, kelompok sosial, stratafikasi sosial serta perubahan sosial. Lebih lanjut, sebagai upaya mencakup perkembangan terkini, dibahaslah pula keberadaan komunitas maya
Metodologi Penelitian Kuantitatif Untuk Ekonomi,Manajemen,Komunikasi,Dan Ilmu Sosial Lainnya
Metodologi Penelitian Kuantitatif Untuk Ekonomi,Manajemen,Komunikasi,Dan Ilmu Sosial Lainny
Pengembangan kurikulum di era Otda dari kurikulum 2004, 2006, ke kurikulum 2013
Penyempurnaan kurikulum sesungguhnya merupakan hal yang biasa, bahkan justru merupakan suatu keharusan. Ketika kurikulum diimplementasikan pada tahun pertama, kondisinya akan sesuai dengan kondisi saat ini. yakni sesuai dengan tuntutan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya. Akan tetapi, setelah kurikulum diimplementasikan beberapa tahun kemudian, ada bagian-bagian tertentu dari dokumen kurikulum tersebut, yang mungkin tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Indonesia baru: Empat konsensus satu dasar berbangsa dan bernegara Indonesia (Pancasila, Proklamasi Kemerdekaan, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika)
Buku Indonesia Baru: Empat Konsensus Satu Dasar Berbangsa dan Bernegara Indonesia (Pancasila, Proklamasi Kemerdekaan, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) disusun dalam rangka pencapaian tujuan nasional bangsa Indonesia, terutama agar seluruh bangsa Indonesia memahami dan menyadari pentingnya Pancasila sebagai dasar negara, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia untuk tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta Bhinneka Tunggal Ika di wilayah Nusantara tercinta ini
Geologi ilmu tanah dan sumber daya lahan
Melaui buku ini pembaca dapat mengetahui proses pembentukan batuan, tektonik lempeng, dan realitas secara regional, hubungan geologi dengan evolusi lingkungan, interpretasi citra serta pemetaan geolog
Pengelolaan bencana lahar gunung api Merapi
Salah satu gunung api di Indonesia yang aktif adalah Gunung Api Merapi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gunung Api Merapi membawa dampak positif maupun negatif bagi penduduk (Hadi, 1992; Bambang, 2007; Wahid, 2008). Contoh dampak positif hasil aktivitas kegunungapian adalah ketersediaanbahan konstruksi, sedangkan dampak negatif adalah kebencanaan primer dan sekunder. Hasil aktivitas gunung api mampu mengancam setiap daerah dari wilayah sempit hingga luas.Buku ini merupakan kumpulan hasil penelitian yang mengangkat tema besar Gunung Api Merapi. Di dalamnya diungkapkan kondisi lingkungan fisik, kondisi sosial masyarakat, kondisi ekonomi masyarakat hingga ke pengelolaan bencana lahar ketika erupsi dan pascaerupsi.Pengelolaan Bencana Lahar Gunung Api Merapi sangat cocok digunakan oleh mahasiswa, dosen, maupun masyarakat pada umumnya
Etnografi masyarakat Desa Randualas: Kajian budaya Santetan - Jagong
Keberadaan hajatan mantenan, khitanan, dan “tedak siten†di Desa Randualas, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun menarik perhatian untuk diteliti karena telah mengalami pergeseran bentuk undangan hajatan dari bentuk kertas undangan ke makanan, yang dikenal dengan istilah “santetan“. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana masyarakat di Desa Randualas melakukan hajatan santetan-jagong, dan bagaimana mereka memberi makna terhadap hajatan tersebut sehingga mempengaruhi keberadaan hajatan tersebut. Melalui studi etnografi, telah dikumpulkan data dan informasi lewat wawancara mendalam terhadap informan kunci di Desa Randualas, yang dilengkapi dengan observasi langsung pada hajatan tersebut, dan dicek kembali kebenaran informasinya melalui “focus group discussion†maka penelitian ini telah menemukan bahwa masyarakat tetap akan mempertahankan hajatan santetan-jagong. Hal ini disebabkan oleh kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam hajatan tersebut yang merupakan warisan nenek moyang mereka. Mereka juga memaknai hajatan ini sebagai wujud dad nilai saling balas-membalas kebaikan, sating menghargai, dan saling tolong menolong meringankan beban dari hajatan tersebut. Meski demikian, tidak semua kalangan masyarakat yang mampu membiayai hajatan tersebut, teriebih masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi. Dalam kondisi tekanan ekonomi tersebut, masyarakat dihadapkan pada tawaran pemilik modal untuk memberi pinjaman uang membantu membiayai hajatan dan mengambil keuntungan dan hajatan tersebut. Masyarakat yang meminjam uang dari pemilik modal, tetap merasa terbantu meskipun harus menanggung beban mengembalikan modal dengan bunga yang relatif besar. Nilai, kondisi tekanan ekonomi dan keberadaan pemilik modal telah berperan melanggengkan hajatan tersebut. Penelitian ini menyarankan kepada peneliti yang tertarik terhadap topik ini untuk tidak hanya menggunakan pendekatan budaya dan sosiologi, tetapi juga ekonomi-politik agar lebih memaknai hajatan santetan-jagong secara lebih utuh. Pemerintah dan tokoh masyarakat serta tokoh adat harus mengevaluasi dampak dari keberadaan hajatan tersebut, dan membantu masyarakat mengatasi beban mereka tetapi tidak mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam hajatan tersebut
Marginalisasi dan keberadaan masyarakat
Kemampuan daya tahan hidup (survival) merupakan manifestasi kebersatuan dari mereka yang ditekan oleh berbagai pihak. Namun Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mampu menunjukkan bahwa kekuatan civil society mereka terbangun lewat budaya dan nilai-nilai keberadaban (civility) yang dipercaya pengikutnya. Kendatipun mengalami marginalisasi, JAI sebagai organisasi turut bergerak di beberapa bidang kehidupan masyarakat tanpa menonjuolkan atribut-atribut organisasi, misalnya: gerakan untuk pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan sosial-ekonomi. Ironinya, era reformasi justru menunjukkan tingkat tekanan yang lebih kuat, walaupun begitu survivelitas JAI berikut aktivitas kejemaahannya tetap berjalan. Kondisi ini menunjukkan bahwa JAI sebagai komunitas Islam marginal masih mampu mempertahankan keberadaannya sebagai civil society