261 research outputs found

    Simulation of A Solar Drier for Iroko Wood (Chlorophora Excelsa) in A Tropical Environment

    Get PDF
    In a previous study conducted by Simo Tagne to designing a solar dryer based on mathematical equations for iroko wood in Cameroon, Africa. However, there is no complete simulation of the drying process on the tool, resulting in the lack of detailed elaboration of the iroko wood drying process. The purpose of this study is to simulate in detail the drying process on the tool using an ANSYS simulation. The model used in this simulation still uses the same mathematical model that has been studied before. This research begins by setting up the ANSYS application with the previous mathematical model, environmental conditions, and tool specifications. Furthermore, simulations are carried out using the ANSYS application with measurements of pressure, temperature, velocity and mass transfer. From this simulation obtained results for the distribution of pressure, temperature, velocity, and mass transfer. From all these distributions, it is sufficient to describe the drying process of the tool according to the mathematical model that has been studied previously

    Pemanfaatan Karbon Aktif Kulit Pisang Kepok dan Karbon Aktif Tempurung Nipah sebagai Biosorben untuk Pengolahan Limbah Cair Laundry

    Get PDF
    The use of kepok banana peel activated carbon (AC-KPK) and nipa shell activated carbon (AC-TN) to adsorb phosphate ions in laundry waste has been successfully carried out. Characterization of activated carbon was carried out with SEM-EDX. The results of the morphological analysis showed that the pore sizes in AC-KPK and AC-TN were included in the macropore category. The elemental content of the AC-KPK adsorbent is C 74.9%; 23.6% O and 1.5% K, whereas in the AC-TN adsorbent it was observed that C elements were 70.7%; O 25.5%; K 2.0% and other elements such as Ca, Na, Mg and Cl are contained in small quantities. The optimum contact time needed by AC-KPK to adsorb phosphate ions in laundry wastewater is 15 minutes with an adsorption efficiency of 98.83%, the AC-TN adsorbent is 5 minutes with an adsorption efficiency of 99.52%, and the combination of AC-KPK&AC- TN resulted in a contact time of 5 minutes with an adsorption efficiency of 99.91%. The adsorption kinetics of phosphate ions with the three adsorbent media followed the pseudo second order model with adsorption rates for the adsorbents AC-KPK, AC-TN, and the combination AC-KPK & AC-TN respectively 3.9400 g/mg.min; -28.7119 g/mg.minute; and -10.8895 g/mg.min.Penggunaan karbon aktif kulit pisang kepok (AC-KPK) dan karbon aktif tempurung nipah (AC-TN) untuk mengadsorpsi ion fosfat dalam limbah laundry telah berhasil dilakukan. Karakterisasi karbon aktif dilakukan dengan SEM-EDX. Hasil analisis morfologi menunjukkan ukuran pori pada AC-KPK dan AC-TN termasuk dalam kategori makropori. Kandungan unsur pada adsorben AC-KPK adalah C 74,9%; O 23,6% dan K 1,5%, sedangkan pada adsorben AC-TN teramati bahwa unsur-unsur C 70,7%; O 25,5%; K 2,0% dan elemen lain seperti Ca, Na, Mg, dan Cl dalam jumlah kecil terkandung di dalamnya. Waktu kontak optimum yang dibutuhkan AC-KPK untuk mengadsorpsi ion fosfat dalam limbah cair laundry adalah 15 menit dengan efisiensi adsorpsi sebesar 98,83%, adsorben AC-TN adalah 5 menit dengan efisiensi adsorpsi sebesar 99,52%, dan kombinasi AC-KPK&AC-TN menghasilkan waktu kontak 5 menit dengan efisiensi adsorpsi 99,91%. Kinetika adsorpsi ion fosfat dengan ketiga media adsorben mengikuti model pseudo second order dengan nilai kecepatan adsorpsinya untuk adsorben AC-KPK, AC-TN, dan kombinasi AC-KPK & AC-TN berturut-turut adalah 3,9400 g/mg.min; -28,7119 g/mg.min; dan -10,8895 g/mg.min

    Optimasi Aplikasi Pelapisan Nanopartikel Seng Oksida pada Kain Katun-Indigo dengan Response Surface Methodology

    Get PDF
    The use of nanomaterial as a finishing agent in the textile industry continues to be developed. Nanoparticle zinc oxide (ZnONP) has anti-UV properties so that it can be used to protect the color of the fabric from fading. Constraints of using nanomaterial as a functionalization agent on fabric are the process of application and also its poor adhesion. This research aims to optimize ZnONP coating on cotton-indigo fabric so that ZnONP can be maximized adsorbed with good durability. Optimization is carried out by the Response Surface Methodology (RSM) method, with the independent variables are: ZnoNP Dispersion volume, the number of coating, and the method of coating (with and without sonication assisted). The response variable is the adsorbed ZnONP in fabric sample after the washing process. The number of coating and sonication-assisted coating gives significant results in increasing the number of adsorbed ZnONP.Penggunaan material nano sebagai finishing agent pada industri tekstil terus dikembangkan. Nano partikel seng oksida (ZnONP) memiliki sifat anti-UV sehingga dapat digunakan untuk melindungi warna kain dari kepudaran. Kendala penggunaan nano material sebagai agen fungsionalisasi pada kain adalah proses aplikasinya dan juga daya lekat yang masih kurang baik. Penelitian ini melakukan optimasi pelapisan ZnONP di kain katun-indigo sehingga ZnONP yang terjerap dapat semaksimal mungkin dengan durabilitas yang baik. Optimasi dilakukan dengan metode Response Surface methodology (RSM), dengan variabel bebas berupa volume dispersi ZnONP, jumlah pelapisan, dan metode pelapisan dengan dan tanpa sonikasi. Variabel terikat berupa jumlah ZnONP yang terkandung di kain setelah kain dicuci. Jumlah pelapisan dan pelapisan dengna sonikasi memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan jumlah ZnONP terjerap.

    Kajian Isoterm Adsorpsi Linear Alkilbenzena Sulfonate (LAS) dalam Limbah Cair Detergen Menggunakan Biosorben Ampas Kopi dan Ampas Kelapa

    Get PDF
    One of the efforts to minimize the impact of detergent waste pollution is by adsorption using coffee dregs and coconut dregs adsorbents. The purpose of this study was to determine the optimum mass of coffee grounds and coconut pulp as adsorbents, to compare the effectiveness of their absorption in decreasing levels of Linear Alkyl Benzene Sulfonate, and to study their adsorption isotherm models. This research was conducted in batches with variations in the mass of each adsorbent, namely 1 gram, 2 grams, 3 grams, 4 grams and 5 grams. This research was conducted in batches with variations in the mass of each adsorbent, namely 1 gram, 2 grams, 3 grams, 4 grams and 5 grams. The detergent waste samples were contacted with the adsorbent for 30 minutes and then the absorption capacity was tested using the Methylene Blue test method. The results showed that the optimum absorption of LAS content from coffee grounds and coconut pulp adsorbents occurred at a mass of 2 grams with the greatest increase in absorption efficiency index Coconut dregs adsorbent is more effective than coffee dregs because it can absorb up to 37%, while coffee dregs are only 10% with the same adsorbent mass of 5 grams. The adsorption isotherm model of the 2 types of adsorbents refers to the Langmuir equilibrium with R2 values for coffee grounds 0.8651 and coconut pulp 0.9868.Salah satu upaya meminimalisir dampak pencemaran limbah detergen yaitu dengan melakukan adsorpsi menggunakan Adsorben Ampas Kopi dan Ampas Kelapa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui massa optimum ampas kopi dan ampas kelapa sebagai adsorben, mengetahui perbandingan efektivitas daya serapnya dalam penurunan kadar Linear Alkyl Benzena Sulfonat, serta mengkaji model isoterm adsoprsinya. Penelitian ini dilakukan secara batch dengan variasi massa masing-masing adsorben yaitu 1 gram, 2 gram, 3 gram, 4 gram, dan 5 gram. Sampel limbah detergen dikontakkan pada adsorben selama 30 menit lalu dilakukan uji daya serap menggunakan metode uji Methylene Blue.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan kadar LAS optimum dari adsorben ampas kopi dan ampas kelapa terjadi pada massa 2 gram dengan indeks kenaikan efisiensi penyerapan paling besar. Adsorben ampas kelapa lebih efektif dari ampas kopi karena mampu menyerap hingga 37% sedangkan ampas kopi hanya 10% dengan massa adsorben yang sama sebanyak 5 gram. Model Isoterm adsorpsi dari 2 jenis adsorben tersebut mengacu pada kesetimbangan Langmuir dengan nilai R2 untuk ampas kopi 0.8651 dan ampas kelapa 0.9868

    Studi Isoterm Adsorbsi dan Termodinamika Pada Proses Penyisihan Ion Fe (III) Menggunakan Pektin dari Kulit Pisang

    Get PDF
    Adsorben berupa pektin berhasil diekstraksi dari kulit pisang menggunakan larutan asam kuat dan telah digunakan untuk menyisihkan ion Fe3+ dalam air. Pengaruh berbagai parameter terhadap proses adsorbsi, seperti waktu kontak, pH larutan, dosis adsorben, dan temperatur adsorbsi diinvestigasi dalam suatu sistem batch. Konsentrasi ion Fe3+ dalam larutan air diukur menggunakan Atomic Absorption Spectrometry . Efisiensi adsorbsi terbaik diperoleh pada waktu kontak selama 4 jam, pH larutan 2, dosis adsorben sebesar 3 g, dan temperatur 20oC. Mekanisme proses adsorbsi dan perubahan energi bebas Gibbs, entalpi, serta entropi telah dievalusi. Model isoterm Freundlich dan Temkin paling sesuai untuk menggambarkan mekanisme adsorbsi ion Fe3+ pada pektin dengan R2 berturut-turut 0,9871 dan 0,9591. Data parameter termodinamika membuktikan bahwa adsorpsi ion Fe3+ bersifat eksotermis dan berlangsung secara tidak spontan pada rentang temperatur 20 hingga 60ᵒC. Penelitian ini menunjukkan bahwa kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai adsorben murah yang menjanjikan untuk menghilangkan ion Fe3+ dalam air

    Signifikansi Kadar Kafein pada Kopi Kerinci Robusta dalam Berbagai Interval Waktu

    Get PDF
    Kopi Kerinci Robusta merupakan salah satu kopi yang digemari masyarakat Indonesia yang tumbuh di daerah Kerinci. Selama ini masyarakat hanya mengenal kopi ini untuk dinikmati saja, tanpa memperhitungkan jumlah kandungan kafein yang akan terkonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio terbaik pada ekstraksi kopi Kerinci Robusta menggunakan pelarut etil asetat. Rasio umpan: pelarut (b/v) yang digunakan adalah 1:5; 1:7.5; 1:10; 1:12.5. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah etil asetat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode ekstraksi dengan kondisi operasi 50⁰C selama 2 jam dengan interval pengambilan sampel setiap 20 menit. Kadar kafein hasil penelitian diukur dengan menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 273 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio optimum adalah rasio 1:5 yang menghasilkan kadar kafein sebesar 3737.41 ppm

    Pemanfaatan Nanokitosan Sebagai Coating Agent dalam Pembuatan Pupuk NPK Berbasis Control Release Fertilizer

    Get PDF
    Kitosan merupakan biopolimer yang terdiri atas monomer glukosamin serta memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan sebagai biomaterial. Berdasarkan karakternya, kitosan larut dalam asam lemah dan tidak larut dalam air. Pada penelitian ini, kitosan dimodifikasi menjadi ukuran nano (nanokitosan) untuk meningkatkan kapabilitasnya sebagai membran dan digunakan sebagai coating agent dalam pembuatan pupuk NPK yang berbasis Control Release Fertilizer. Sintesis nanokitosan dilakukan dengan metode gelasi ionik dengan memberikan variasi pada lama pengadukan dan konsentrasi crosslinker. Variasi lama waktu pengadukan yang diberikan adalah 5 menit, 10 menit, dan 15 menit. Crosslinker yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sodium Tripolyphosphate (STPP) dengan variasi konsentrasi 0,2%; 0,25%; 0,3%. Dari hasil uji release yang dilakukan, didapatkan nanokitosan dengan variasi lama pengadukan 15 menit dengan konsentrasi STPP 0,3% sebagai variasi yang paling optimal dengan release paling kecil. Melalui karakterisasi PSA, didapatkan ukuran nanokitosan tersebut sebesar 202,1 nm, dengan bentuk morfologi yang berbentuk bulatan teraglomerasi pada hasil SEM. Karakterisasi XRD yang didapatkan menunjukkan bahwa partikel bersifat amorf. Sedangkan pada hasil FTIR, didapatkan perbedaan vibrasi antara kitosan dengan nanokitosan pada bagian ikatan crosslink yang terbentuk

    The Effect of Concentration and Type of Immersion Media (Water, Alcohol, Salt, and Vinegar Acid) on Decreasing Oxalate Levels in Porang

    Get PDF
    Porang tubers (Amorphophallus oncophyllus) contain very high levels of glucomannan and have many benefits in various fields of health, pharmaceuticals, industry, and food. Apart from having great benefits, porang tubers contain calcium oxalate which can cause itching if consumed directly, irritation, and kidney stones. This study aimed to determine the decrease in oxalate levels in porang tubers using various concentrations and types of immersion media in porang. The types of immersion media are water, salt, alcohol, and vinegar. Water immersion was carried out at 30°C, 40°C, 50°C, 60°C, and 70°C. Immersion with salt was carried out at concentrations of 6%, 8%, 10%, 12%, and 14%. Immersion with alcohol was carried out at concentrations of 20%, 30%, 40%, 50%, and 60%. The vinegar immersion was carried out at concentrations of 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%. Oxalate levels were analyzed by the permanganate titration method. The results of immersion porang with dice and long slices in this study showed that water with a temperature of 50°C in the 5th immersion, alcohol with a concentration of 60% in the 5th immersion, salt solution with a concentration of 14% in the 5th immersion, and acetic acid with a concentration of 30% in the 5th immersion is the optimal result.Porang tubers (Amorphophallus oncophyllus) contain very high levels of glucomannan and have many benefits in various fields of health, pharmaceuticals, industry, and food. Apart from having great benefits, porang tubers contain calcium oxalate which can cause itching if consumed directly, irritation, and kidney stones. This study aimed to determine the decrease in oxalate levels in porang tubers using various concentrations and types of immersion media in porang. The types of immersion media are water, salt, alcohol, and vinegar. Water immersion was carried out at 30°C, 40°C, 50°C, 60°C, and 70°C. Immersion with salt was carried out at concentrations of 6%, 8%, 10%, 12%, and 14%. Immersion with alcohol was carried out at concentrations of 20%, 30%, 40%, 50%, and 60%. The vinegar immersion was carried out at concentrations of 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%. Oxalate levels were analyzed by the permanganate titration method. The results of immersion porang with dice and long slices in this study showed that water with a temperature of 50°C in the 5th immersion, alcohol with a concentration of 60% in the 5th immersion, salt solution with a concentration of 14% in the 5th immersion, and acetic acid with a concentration of 30% in the 5th immersion is the optimal result

    Efek Penambahan Bahan Aditif Non-Alami terhadap Perilaku Lempung Plastisitas Tinggi yang Distabilisasi dengan Semen

    Get PDF
    Cement is proven increasing the strength of soft clays. Monmorillonite has a high shrinkage. Another hand, Kaolin has a small shrinkage. Waste material usage for stabilization agent was widely carried out this decade. BAFA (bottom ash fly ash) and POFA (palm oil fuel ash) are rich in Silica and Alumina, so they used to substitute of cement. The study examined the effect of Monmorillonite, Kaolin, BAFA and POFA on stabilization of clay with cement. Bentonite from 4% to 16% (is equated to BAFA and POFA, in ratio of 2:1) and Kaolin by 2.5%, used to reduce clay shrinkage, mixed with cement by 3% and 5%. Soil behavior will be reviewed from laboratory tests on curing-noncuring and soaked-unsoaked conditions. The results show changes in Atterberg Limits and Hydraulic Conductivity (permeability, k). Cement as well as BAFA and POFA reduce Plastic Limit greater than Liquid Limit. So, Plasticity Index decreased. It’s can be seen that cement and ash waste decreasing the permeability value. More Ash and less cement, make more impermeable soil. Addition of 3% and 5% cement increased the UCS values from 14.32 kPa to 81.20 kPa and 589.68 kPa and CBR value from 0.78% to 4.20% and 589.68 42.12% respectivelyPenggunaan semen terbukti meningkatkan kekuatan lempung lunak. Monmorillonite mempunyai kembang susut tinggi sementara Kaolin, mineral lempung yang lain, kembang susutnya sangat kecil. Pemanfaatan limbah sebagai bahan konstruksi atau bahan stabilisasi banyak dilakukan dekade ini. BAFA dan POFA kaya akan Silika dan Alumina, sehingga bisa sebagai pengganti semen. Penelitian mengkaji pengaruh Monmorillonite, Kaolin, limbah abu batubara (BAFA) dan abu sawit (POFA) dicampur semen pada stabilisasi lempung. Bentonite dari 4% sampai 16% disamakan dengan kadar BAFA dan POFA, pada rasio 2:1. Kaolin sebesar 2,5%, dipakai untuk mereduksi kembang susut lempung. Kadar semen yang dipakai sebesar 3% dan 5%. Perilaku tanah akan dikaji dari uji Laboratorium pada kondisi curing-noncuring dan soaked-unsoaked. Hasil pengujian menunjukan perubahan nilai Atterberg Limits serta nilai Hydraulic Conductivity (permeabilitas, k). Kadar semen serta BAFA dan POFA berhasil menurunkan Plastic Limit lebih besar daripada Liquid Limit sehingga Plasticity Index menurun. Pengujian permeabilitas menunjukan, penggunaan semen dan limbah abu menurunkan nilai permeabilitas. Semakin rendah semen dan semakin tinggi limbah abu, tanah akan semakin kedap air. Penambahan semen 3% dan 5% pada kadar Bentonite dan limbah abu yang sama, meningkatkan nilai UCS serta CBR berturut-turut dari 14,32 kPa dan 0,78% menjadi 81,20 kPa dan 4,20% dan 589,68 kPa dan 42,12%

    Penghilangan Kadar Klorine pada Precipitate Calcium Carbonate (PCC) dengan Proses Pencucian dan Filtrasi

    Get PDF
    Kualitas Precipitated Calcium Carbonate yang dapat digunakan di industri kertas dan cat harus bebas dari klorin, karena dapat menyebabkan korosi pada peralatan. Hasil penelitian skala pilot plant kapasitas 2 kg/jam, produk PCC masih mengandung klorin (0,73 s/d 2,02 %), sedangkan standar industri <0,001%. Penelitian ini bertujuan untuk menghilangkan kadar klorin dengan metoda pencucian dan filtrasi tanpa vacuum dan metode kedua pencucian dan filtrasi dengan vacuum filter. Proses pencucian menggunakan air PDAM, air hujan dan aquadest dengan rasio PCC dengan air pencucinya yaitu 1:1, 1:2, 1:3 dan 1:4. PCC yang dihasilkan dari pilot plant dengan dua jenis PCC yaitu PCC dengan konsentrasi pelarut NH4Cl 12,5 g/L dan 50 g/L. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan air PDAM dapat menurunkan kadar klorin 0,0322% (NH4Cl 12,5 g/L) dan 0,0959% (NH4Cl 50 g/L) dengan metoda pencucian dan filtrasi tanpa vakum dengan rasio 1:4. Kadar klorin yang diperoleh pada metode pencucian dan filtrasi dengan vacuum filter kadar klorin menjadi 0,0203% (pelarut NH4Cl 12,5 g/L) dan 0,0364% (pelarut NH4Cl 50 g/L). Morfologi PCC dipengaruhi konsentrasi NH4Cl. Kristal kalsit untuk konsentrasi NH4Cl (12,5 g/L) dan kristal aragonit untuk konsentrasi NH4Cl 50 g/L. Ukuran partikel yang diperoleh PCC 0 - 16 µm

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Eksergi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇