Eksergi
Not a member yet
261 research outputs found
Sort by
Metode Modifikasi Membran Polietersulfon (PES) Untuk Meningkatkan Antifouling−Mini Review Modifikasi Membran
Polyethersulfone (PES) is the most common material in various medical and water treatment applications because of its excellent mechanical and thermal properties. The hydrophobicity of polyethersulfone is considered as one of the main drawbacks because the hydrophobic surface causes a high biofouling effect on the membrane, so it has limitations in using Polietersulfon PES membrane technology. Modification of PES membranes is an important topic to be continuously developed to improve the properties of PES membranes. Membrane modifications focus on increasing the hydrophilicity, selectivity, and stability of membranes that are expected to be used commercially. Modifications were made to change the hydrophobic membrane surface into a hydrophilic membrane with good mechanical properties by introducing hydrophilic properties and functional groups to the polyethersulfone membrane surface. This review includes reviews and discussions on modifying PES membranes by mixing, coating, and grafting methods. In particular, adding functional groups to polyethersulfone is a suitable method for introducing hydrophilic properties. The addition of nanomaterials to the surface of the polyethersulfone membrane by mixing, coating, grafting, and combinations significantly increases the surface of the membrane, and all modifications affect the surface roughness of the membrane.ABSTRAK: Polyethersulfone telah banyak digunakan sebagai bahan yang paling umum dalam berbagai aplikasi medis, pengolahan air karena sifat mekanik dan termal yang sangat baik. Hidrofobisitas Polietersulfon dianggap sebagai salah satu kelemahan utama karena permukaan hidrofobik menyebabkan efek biofouling pada membran tinggi sehingga memiliki keterbatasan dalam penggunaan teknologi membran PES. Modifikasi membran PES menjadi bahasan yang penting untuk terus dikembangkan untuk memperbaiki sifat membran PES. Modifikasi membran fokus pada peningkatan hidrofilitas, selektifitas, dan kestabilan membran yang diharapkan dapat digunakan secara komersial. Modifikasi dilakukan untuk mengubah permukaan membran yang hidrobik menjadi membran hendrofilik yang memiliki sifat mekanik yang baik dengan pendekatan perkenalan sifat hidrofilik dan kelompok fungsional ke permukaan membran Polietersulfon. Review ini meliputi ulasan dan pembahasan modifikasi membran PES dengan metode pencampuran, coating, dan grafting. Secara khusus, penambahan kelompok fungsional untuk Polietersulfon digunakan sebagai metode yang baik untuk memperkenalkan sifat hidrofilik. Penambahan Nanomaterials ke permukaan membran Polietersulfon secara pencampuran, coating, grafting, dan gabungan memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap peningkatan permukaan membran dan seluruh modifikasi mempengaruhi kekasaran permukaan membran
Evaluasi Nilai Difusifitas Pelarut dan Konstanta Kecepatan Ekstraksi pada Isolasi Piperin Lada Hitam
Piperine is a type of bioactive compound that can be isolated from black pepper. Currently the utilization of piperine is dominated by the health sector. In this study, piperine was isolated using the Soxhlet method. The purpose of this research is to propose a mathematical model to determine the value of the diffusivity (DA) of piperine, the extraction rate constant (k) and the piperine isolation equilibrium constant for commercial designs. Based on the results obtained the value of DA was obtained at 0.1878 m2/minute, the value of k was obtained at 0.0012 m/minute and the value of K was obtained at 0.900. Extraction was carried out using 96% ethanol solvent with a ratio of 25:1 to black pepper samples using the soxhletation method of 5 circulations. The resulting piperine extract was 55.46 mol/literEvaluasi terhadap nilai difusivitas (DA), konstanta kecepatan ekstraksi (ka) dan konstanta kesetimbangan ekstraksi (K) khususnya pada ekstraksi piperin dari lada hitam menggunakan metode soxhlet belum dilakukan. Nilai difusivitas dan konstanta kecepatan ekstraksi yang ditemukan kemudian akan digunakan untuk scale up peralatan ekstraktor sehingga tidak memerlukan data yang terlalu banyak saat optimasi peralatan untuk desain komersil. Tujuan dari penelitian ini adalah guna pengajuan model matematis yang dirasa sesuai dengan data yang dihasilkan. Metode ekstraksi dilakukan dengan menggunakan soxhletasi dengan pelarut etanol 96 % sebanyak 6 sirkulasi dengan perbandingan massa lada hitam terhadap pelarut adalah 1:25. Analisis spektroskopi UV VIS digunakan untuk mengukur konsentrasi piperin pada sampel kinetika yang diambil setiap waktu pada panjang gelombang 375 nm. Variabel uji pada penelitian ini adalah perbedaan ukuran dari bubuk lada yang digunakan yaitu pada 40, 50 dan 60 mesh. Berdasarkan hasil yang didapatkan nilai dari ka secara berturut turut pada 40,50, dan 60 mesh sebesar 0,1878; 0,302; dan 0,650 m/menit. Nilai DA didapatkan 0,0045; 0,0055; 0,0060 m2 /menit dan nilai dari K didapatkan 0,900; 1,000 dan 1,00
Pemanfaatan Sludge Ash Pond PT. Cirebon Electrical Power (CEP) sebagai Bahan Bakar Alternatif
As one of the power plants that uses coal as an energy source, PT Cirebon Electric Power (PT CEP) is committed to addressing waste problems with the 3R principle. Sludge ash ponds which is waste of the process production has the potential for alternative fuel. This study aims to evaluate the utilization of sludge ash ponds with the main target parameter in the form of calorific value. Based on proximate analysis, sludge pond ash only had a low heating value, around 210 kcal/kg, thus unbeneficial to be used as fuel directly. In order to make efficient utilization, a pyrolysis process was carried out to increase the existing heating value and was obtained at 700 – 870 kcal/kg. Generally, the standard of alternative fuel had minimum heating value of 4500 kcal/kg, therefore the blending process was carried out based on the fuel availability in the industrial site. The results of blending using coal showed that the high heating value of mixed briquette product was achieved at elevated more coal content used. By paying attention to the standard heating value, the ratio composition of ash pond to coal, 20/80 satisfy for utilization, where the heating value was around 4600 kcal/kg. The blending proses using pyrolysis char of ash pond showed un significant effect on the increasing of heating value, for example in a 40/60 ratio, the difference between the two types materials was only 210 kcal/kg. Therefore, pyrolysis pretreatment of sludge ash pond had unsignificant impact compared to the energy expended to run the processSebagai salah satu PLTU yang menggunakan batubara sebagai sumber energi, PT Cirebon Electric Power (PT CEP) berkomitmen untuk mengatasi permasalahan limbah dengan prinsip 3R. Sludge ash ponds yang merupakan limbah proses produksi memilik potensi untuk subtitusi bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan sludge ash ponds dengan target parameter berupa nilai kalor. Berdasarkan proximate analysis, sludge ash pond hanya mempunyai nilai kalor cukup rendah, berkisar 210 kkal/kg. Hal tersebut menyebabkan sludge ash pond tidak menguntungkan untuk dijadikan bahan bakar secara langsung. Agar pemanfaatan lebih efisien, maka dilakukan proses pirolisis untuk menaikkan nilai kalor yang ada dan didapatkan sebesar 700 – 870 kkal/kg. Agar sesuai dengan standar minimum alternatif bahan bakar dengan nilai kalor sebesar 4500 kkal/kg, dilakukan blending dengan bahan bakar yang tersedia di industri. Hasil blending dengan menggunakan batubara menunjukkan jika semakin tinggi kandungan batubara yang digunakan jelas meningkatkan nilai kalor produk briket campuran. Dengan memperhatikan standar nilai kalor, terlihat campuran komposisi 20/80 berpotensi untuk digunakan, dimana nilai kalornya berkisar 4600 kkal/kg. Hasil blending menggunakan char pirolisis sludge ash pond tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada peningkatan nilai kalor dari produk, misalnya pada perbandingan 40/60, selisih antara kedua bahan hanya 210 kkal/kg. Oleh karena itu, pretreatment pirolisis pada sludge ash pond tidak memberikan dampak yang signifikan dibandingkan dengan energi yang dikeluarkan untuk menjalankan proses tersebut
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol dari Daun Sembukan (Paederia foetida L) Sebagai Inhibitor Korosi Logam Besi padaLarutan HCl 1M dan Air Laut
The massive development of industry creates human using various of metal which available in the nature for being contruction, for example a Iron metal. The iron is a transition metal on periodic table which often used on industry and building construction, however iron is a corrodiable metal. The metal corrotion must be solved cause create many of loss. Therefore, the study aimed to examine sembukan leaf extract in various consentration, 0%, 2%, 4%, 6%, 8% to seawater and HCl 1M during 7 days of contact moment. The correlation strenght between variable using regression linier method. Based on study that the higher consentration inhibitor and the corrotion rate decreases. He highest efficiency using seawater is 89,9% and using HCl 1 is 68,9%. The highest correlation between variable is 93,2% using seawater. Th e conclution is sembukan leaf extract effective to protect iron corrotion of seawaterPerkembangan pesat industri logam mendorong manusia menggunakan berbagai logam yang tersedia di alam untuk menjadi bahan konstruksi. Salah satu logam yang digunakan adalah besi. Besi merupakan logam transisi yang sering digunakan didunia industri maupun konstruksi bangunan, namun besi merupakan logam yang mudah terkorosi. Korosi pada logam harus segera diatasi karena menimbulkan kerugian. Oleh karena itu, pada penelitian ini bertujuan menguji kandungan ekstrak daun sembukan berbagai konsentrasi yakni 0%, 2%, 4%, 6%, dan 8% terhadap media air laut dan HCl 1M dengan waktu kontak dengan media selama 7 hari. Metode penelitian menggunakan teknik ekstraksi sokhletasi dan perendaman. Analisis kekuatan korelasi antar variabel menggunakan metode regresi linier. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa semakin besar konsentrasi inhibitor maka laju korosi mengalami penurunan. Efisiensi tertinggi dengan menggunakan air laut dan HCl 1M adalah 89,9% dan 68,9%, Korelasi tertinggi antar variabel yaitu 93,2% menggunakan air laut. Hal ini disimpulkan bahwa ekstrak daun sembukan efektif untuk melindungi besi dari korosi dengan media air laut
Color Degradation of Napthol Jeans with TiO2-SiO2 Photocatalyst from Karangwuni Beach Sand, Kulon Progo
The industries that produce the most liquid waste in Indonesia are the batik and textile industries. Napthol dyes are the most widely used dyes as dyes or batik dyes which are completely non-biodegradable and can cause cancer, digestive disorders, and weakening of the body\u27s resistance due to disease and environmental pollution. One of the processing methods currently being developed to degrade color in liquid waste is the photocatalyst method. The photocatalyst method can use a photocatalyst semiconductor in the form of TiO2 with a supporting material in the form of SiO2. SiO2 as a supporting material can be obtained from the utilization of the local potential of Karangwuni Kulon Progo beach sand. Dye processing was carried out by varying the irradiation time and concentration of Naphtol Jeans. The degradation process was applied to a 25 ml sample solution with the addition of 5 gr/L catalyst for 24 hours, 48 hours, 72 hours, 96 hours, and 120 hours of irradiation. This study resulted in the highest reduction in naphtol concentration at the concentration variable of 100 ppm with a percentage of 44.4687% and a long irradiation time of 120 hours
Investigasi dan Karakterisasi Pirolisis Ban Truk Fuso Canter FE71
Pengembangan dan keberlanjutan bidang energi di seluruh dunia merupakan hal yang sangat penting saat ini. Limbah yang berasal dari produk berbasis minyak bumi memiliki potensi yang cukup besar untuk menghasilkan energi. Limbah ban merupakan limbah yang susah membusuk, sehingga membutuhkan tempat yang luas untuk menyimpannya dan jika dibakar akan menimbulkan masalah baru. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu mengkonversi limbah ban bekas menjadi bentuk lain, yaitu tar dan arang sebagai energi alternative melalui proses pirolisis. Dalam studi ini, fokus kami adalah mengetahui pengaruh variasi suhu pirolisis, komposisi pada tar, dan nilai kalor pada arang dan tar hasil pirolisis ban truk Fuso Canter FE71. Suhu pirolisis yang digunakan yaitu 500, 600, 700, 800 °C selama 3 jam. Rendemen arang dan tar meningkat hingga titik optimum pada suhu 600 °C, kemudian menurun hingga suhu 800 °C. Komposisi tar dianalisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry yang menghasilkan 45,38% limonene; 19,82% benzene; 4,81% toluene; 10,91% xylene; dan 14,48% alkene. Nilai kalor tar dan arang diuji menggunakan alat Bomb Calorimeter. Tar dengan metode ASTM D040-19 menghasilkan nilai kalor 7.413,870 kal/g dan arang dengan metode ASTM D-2015-66 menghasilkan nilai kalor 7.878,918 kal/g
Investigasi Model Machine Learning Berbasis QSPR pada Inhibitor Korosi Pirimidin
Since corrosion causes considerable losses in many fields, including the economy, environment, society, industry, security, and safety, it is a major concern for the industrial and academic sectors. Damage control of materials based on organic compounds is currently a field of great interest. Because it is non-toxic, affordable, and effective in a variety of corrosive situations, pyrimidine has potential as a corrosion inhibitor. It takes a lot of time and resources to carry out experimental investigations in the exploration of potential corrosion inhibitor candidates. In this study, we evaluate the gradient boosting regressor (GBR), support vector regression (SVR), and k-nearest neighbor (KNN) algorithms as predictive models for corrosion inhibition efficiency using a machine learning (ML) approach based on the quantitative structure-property relationship model (QSPR). Based on the metric coefficient of determination (R2) and root mean square error (RMSE), we found that the GBR model had the best predictive performance compared to the SVR and KNN models as well as models from the literature for pyrimidine compound datasets. Overall, our study offers a new perspective on the ability of ML models to predict corrosion inhibition of iron surfacesKarena korosi menyebabkan kerugian yang cukup besar di banyak bidang, termasuk ekonomi, lingkungan, masyarakat, industri, keamanan, dan keselamatan, hal itu menjadi perhatian utama bagi sektor industri dan akademik. Pengendalian kerusakan material berbasis senyawa organik saat ini menjadi bidang yang banyak diminati. Karena tidak beracun, terjangkau, dan efektif dalam berbagai situasi korosif, pirimidin berpotensi sebagai penghambat korosi. Dibutuhkan banyak waktu dan sumber daya untuk melakukan investigasi eksperimental dalam eksplorasi kandidat penghambat korosi potensial. Dalam studi ini, kami mengevaluasi algoritma gradient boosting regressor (GBR), support vector regression (SVR), dan k-nearest neighbor (KNN) sebagai model prediktif efisiensi inhibisi korosi menggunakan pendekatan machine learning (ML) berbasis model quantitative structure-property relationship (QSPR). Berdasarkan metrik coefficient of determination (R2) dan root mean square error (RMSE), kami menemukan bahwa model GBR memiliki performa prediksi terbaik dibandingkan model SVR dan KNN maupun model dari literatur untuk dataset senyawa pirimidin. Secara keseluruhan, penelitian kami menawarkan perspektif baru tentang kemampuan model ML untuk meramalkan penghambatan korosi pada permukaan besi
Adsorpsi Zat Warna Remazol Brilliant Blue R Pada Limbah Industri Batik Menggunakan Adsorben dari Mahkota Buah Nanas
Industri batik banyak yang menggunakan zat warna reaktif Remazol Brilliant Blue R (RBBR) pada proses pewarnaan. RBBR merupakan zat warna yang memberikan warna cerah namun sulit terdegradasi dan bersifat karsinogenik. Proses pewarnaan ini menghasilkan limbah cair yang berbahaya sehingga perlu dilakukan pengolahan. Adsorpsi menggunakan karbon aktif sebagai adsorben menjadi salah satu cara untuk menurunkan konsentrasi RBBR dalam limbah cair industri batik. Dalam penelitian ini adsorben yang digunakan berasal dari mahkota buah nanas, dengan pertimbangan kandungan selulosanya tinggi serta mahkota buah nanas masih jarang dimanfaatkan dan hanya menjadi sumber limbah di lingkungan. Variabel dalam penelitian ini adalah massa adsorben 1, 2, 3, 4, dan 5 gram serta waktu kontak proses adsorpsi 10, 20, 30, hingga 110 menit. Penelitian dimulai dari pembuatan adsorben mahkota buah nanas, penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva standar, serta pengukuran kadar RBBR sebelum dan setelah adsorpsi dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Adsorben mahkota buah nanas berukuran -80 + 100 mesh, dengan kadar air 13,33 ± 0,0245%, luas permukaan 297,9 m2/g, volume pori 29,91 cm3/g dan berdiameter pori 2079,47 Å. Dengan penggunaan adsorben 4 gram dan waktu kontak 100 menit, menghasilkan kemampuan adsorpsi maksimum 74,55% dengan kadar RBBR akhir pada limbah 47,0209 ppm
Pengaruh Perbedaan Jenis dan Konsentrasi Sumber Nitrogen (NaNO3 dan urea) terhadap Produksi Biomasa Spirulina Platensis
The goal of this study was to investigate the effect of the concentration and the type of nitrogen sources in the cultivation medium on the production of biomass and biochemical content (carbohydrates, proteins, fats) in the Spirulina platensis biomass. Types of nitrogen sources included NaNO3 and urea, where the concentrations were varied from 0.5 to 3.5 g/L. The results showed that the use of urea tended to produce more S. platensis biomass than the use of NaNO3. The best concentrations that produced the highest biomass were NaNO3 2.5 g/L (biomass 0.6745 g/L) and urea 0.5 g/L (biomass 0.7158 g/L). The use of urea also tended to produce a higher specific growth rate and a shorter doubling time than the use of NaNO3. The high concentration of nitrogen sources caused the pH of the medium to increase more rapidly due to the accumulation of ammonium in the medium. Using NaNO3 can produce biomass with a higher protein content (28.34-36.98%) than using urea (25.86-33.52%).Tujuan penelitian ini adalah menginvestigasi pengaruh konsentrasi dan jenis sumber nitrogen pada medium kultivasi terhadap produksi biomasa dan kandungan biokimia (karbohidrat, protein, lemak) dalam biomasa Spirulina platensis. Jenis sumber nitrogen meliputi NaNO3 dan urea, dimana konsentrasinya divariasikan 0,5-3,5 g/L. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan urea cenderung menghasilkan biomassa S. platensis lebih banyak dibandingkan penggunaan NaNO3. Konsentrasi terbaik yang menghasilkan biomasa tertinggi adalah NaNO3 2,5 g/L (biomasa 0,6745 g/L) dan urea 0,5 g/L (biomasa 0,7158 g/L). Penggunaan urea juga cenderung menghasilkan laju pertumbuhan spesifik yang lebih besar dan waktu berganda yang lebih singkat dibandingkan penggunaan NaNO3. Konsentrasi sumber nitrogen yang tinggi menyebabkan pH medium dapat meningkat lebih cepat karena akumulasi ammonium di dalam medium. Penggunaan NaNO3 dapat menghasilkan biomasa dengan kandungan protein yang lebih tinggi (28,34-36,98%) dibandingkan penggunaan urea (25,86-33,52%)
Edible Oil sebagai Pelarut Ekstraksi Karotenoid dari Kulit Labu Kuning (Cucurbita moschata)
Carotenoids are pigments found in various types of fruits and vegetables that provide yellow, orange, and red colors. This study aimed to extract yellow pumpkin skin using edible oil solvents. The extraction process was carried out using ultrasound-assisted extraction (UAE) method with virgin coconut oil (VCO) and palm kernel oil (PKO). Yellow pumpkin peel powder with sizes of 40 mesh and 100 mesh were extracted with variations in extraction time (30 minutes, 60 minutes, and 90 minutes) and variations in solid-to-solvent ratio (1:10, 1:20, 1:30, 1:40, and 1:50). UV-Vis spectrophotometer analysis was used to determine the concentration of the extraction results. According to the research results, the best carotenoid concentration of 2513.44 ppm was obtained using PKO solvent with a powder size of 100 mesh, extraction time of 30 minutes, and powder-to-solvent ratio of 1:10.Karotenoid merupakan pigmen yang dapat memberikan warna kuning, oranye, dan merah pada berbagai jenis buah dan sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi kulit labu kuning dengan pelarut edible oil. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode ultrasound assisted extraction (UAE) menggunakan virgin coconut oil (VCO) dan palm kernel oil (PKO). Serbuk kulit labu kuning dengan ukuran 40 mesh dan 100 mesh di ekstraksi dengan variasi waktu ekstraksi 30, 60 dan 90 menit serta variasi rasio padatan: pelarut yaitu 1:10, 1:20, 1:30, 1:40 dan 1:50.Konsentrasi hasil ekstraksi diketahui dengan menggunakan analisa Spektrofotometer UVVis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi dengan pelarut PKO menghasilkan konsentrasi karotenoid terbaik sebesar 2513,44 ppm pada ukuran serbuk 100 mesh, waktu ekstraksi 30 menit, dan rasio serbuk terhadap pelarut 1:10