261 research outputs found

    Analisis Termogravimetri dan Dekomposisi Termal pada Produksi Bio-Oil dari Daun Tebu Menggunakan Proses Pirolisis Cepat

    Get PDF
    Sugarcane leaves are one of the agro-industrial wastes derived from sugarcane plants. In this research, sugarcane leaves are used as raw material for pyrolysis which produces three main products: liquid, solid, and gas. The focus of this research is to identify the effect of temperature on pyrolysis, identify mass changes, identify decomposition, and identify the chemical composition of bio-oil. The pyrolysis was carried out using a Circulating Fluidized Bed (CFBr) reactor with pyrolysis temperature variations from 440oC to 520oC. Analysis of pyrolysis characteristics of sugarcane leaves are used thermogravimetric analysis (TGA), DTA, and GC-MS analysis. The results showed that the operating temperature had a significant effect on the pyrolysis process. The highest bio-oil found at 480oC, namely 34.33%. TGA results show that the decomposition process of sugarcane leaves is divided into 3 stages: 1) dehydration of water content occurs at <200oC, 2) active pyrolysis occurs from 200oC to 380oC, and 3) passive pyrolysis occurs at temperature from 380oC to 500oC. DTA results show that the thermal changes are affected by the pyrolysis heating rate. The highest bio-oil compounds are β-D-Glucopyranose 1,6-anhydro, acetic acid, and 2-Propanone 1-hydroxy-. This research proves that temperature has an important role in the pyrolysis process.Daun tebu merupakan salah satu limbah agroindustri yang berasal dari tanaman tebu. Pada penelitian ini daun tebu dimanfaatkan sebagai bahan baku pirolisis yang menghasilkan tiga produk utama yaitu liquid, padat, dan. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh suhu pirolisis, mengidentifikasi perubahan massa, mengidentifikasi dekomposisi, dan mengidentifikasi komposisi kimia bio-oil. Pirolisis dilakukan menggunakan reaktor Circulating Fluidized Bed (CFBr) dengan variasi suhu dari 440oC sampai 520oC. Analisis karaktersitik pirolisis daun tebu menggunakan analisis termogravimetri (TGA), DTA, dan analisis GC-MS. Hasil penelitian menunjukan bahwa suhu operasi memiliki pengaruh yang signifikan pada pirolisis. Bio-oil tertinggi terdapat pada suhu 480oC yaitu 34,33%. Hasil TGA diketahui bahwa proses dekomposisi daun tebu dibagi menjadi 3 tahap yaitu: 1) dehidrasi kadar air terjadi pada suhu <200oC, 2) pirolisis secara aktif terjadi pada suhu 200oC sampai 380oC, dan 3) proses pirolisis secara pasif terjadi pada suhu 380oC sampai 500oC. Hasil DTA diketahui bahwa perubahan termal dipengaruhi oleh laju pemanasan pirolisis. Senyawa bio-oil tertinggi adalah β-D-Glucopyranose 1,6-anhydro, acetic acid, dan 2-Propanone 1-hydroxy-. Penelitian ini membuktikan bahwa suhu memiliki peran penting pada proses pirolisis

    Conversion of Glycerol to Ethanol by Integrating Ultrasonic and Ni/ZSM-5 Catalyst

    Get PDF
    The increased production of biodiesel which is used as an alternative fuel has led to an increase in the by-product in the form of glycerol. This glycerol byproduct can be utilized by converting it into other compounds such as ethanol. The production of ethanol from glycerol requires a catalyst that can break down the molecular size of glycerol, one of which is zeolite. One type of zeolite that is good to use is ZSM-5, because this type of zeolite has a high degree of thermal stability, acid stability and selectivity. The catalytic properties of ZSM-5 can be improved by impregnating metals from the transition group, in this study using Ni (nickel). The results obtained that the catalyst Ni/ZSM-5 has a total acidity value of 0.920 mmol/g and has a specific surface area of 138.754 m2/g. The highest ethanol product was produced at 4 hours of sonication, which was 20.362%

    Kinetic and Thermodynamic Studies in Cellulose Acetate-Polybutylene Succinate(CA-PBS)/Single Solvent/Water System for Desalination Membrane

    Get PDF
    The most important part of the membrane synthesis process so that it has the desired pores is the solidification process of the membrane, the process begins with a change from one liquid phase into two liquid phases (liquid-liquid demixing). At a certain period during demixing, the polymer-rich phase solidifies; thus, a dense membrane matrix is formed. Parameters that determine the mechanism of membrane formation are based on thermodynamics including phase separation of Solvent-Polymer-Non-solvent which is explained through a phase diagram (Flory-Huggins Theory). This study aims to determine the initial prediction of the formation of CA-PBS membranes with various solvents used and variations of non-solvents in the best system, which is proven by its characteristics and performance when applied to desalination membranes which include ternary diagrams using cloud point data, solubility parameters with Hansesn solubility, the solvent-non-solvent diffusivity using the Tyn Calus Equation approach and the morphological proofing of the membrane through SEM photos, and the performance of the resulting membrane through salt rejection and permeate flux. The results of the difference in solubility parameters are can be predicted that using DMF solvent on the CA-PBS membrane can reduce the pore size and eliminate voids and macrovoids in the membrane morphology

    Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan Pada Bioplastik dari Pati Jagung Terhadap Waktu Biodegradasi

    Get PDF
    The disposal plastic waste into the environtment is an important issue due to the natureof the origin of plastics that are difficult to decomposes naturally. Therefore, efforts are made to accelerate the degradation time by using natural polymers. Corn is one of the easily found sources of starch. Starch is one of the natural polymres that can be used for the manufacture of biodegradable plastics (bioplastics) because it is easily degradable, readily available and affordable but has shortcomings in mechanical properties and water absorption ability.The purpose of this study was to observe the effect of temperature variations 60; 70; 80 and 90°C with a drying time of 1; 2; 3 and 4 hours of biodegradation time. From this study, the best results were found at a temperature of 60°C with a drying time of 1 hour which obtained a degradation time of 5 days; average thickness 0.12 mm – 0.30 mm; the overall average water absorption is 4.04% and the average water resistance is 95.99%; tensile strength of 5.69 MPa and 5.54 MPa; elongation at break of 4% and 1.6%.Masalah lingkungan dari pembuangan limbah plastik menjadi isu penting karena sifatnya yang sulit diuraikan. Oleh karena itu, dilakukan upaya untuk mempercepat tingkat degradasi dengan penggunaan polimer alami. Jagung merupakan salah satu sumber pati yang mudah ditemukan. Pati merupakan salah satu  polimer alami yang dapat digunakan untuk pembuatan plastik biodegradable karena sifatnya yang mudah terdegradasi, mudah didapatkan dan terjangkau tetapi memiliki kekurangan pada sifat mekanis dan kemampuan menyerap air. Tujuan dari penelitian ini adalah dilakukan pengamatan terhadap pengaruh variasi suhu 60; 70; 80 dan 90 ˚C dengan waktu pengeringan 1; 2; 3 dan 4 jam terhadap waktu biodegradasi. Dari penelitian ini diperoleh hasil terbaik terdapat pada perlakuan suhu 60 ˚C dengan waktu pengeringan 1 jam yang memperoleh waktu degradasi selama 5 hari; ketebalan rata – rata 0,12 mm – 0,30 mm; rata – rata keseluruhan serapan air sebesar 4,04 % dan ketahanan air rata – rata sebesar 95,99 %; kuat tarik 5,69 MPa dan 5,54 Mpa; perpanjangan putus 4 % dan 1,6

    Penentuan Konstanta Isoterm Freundlich dan Kinetika Adsorpsi Karbon Aktif Terhadap Asam Asetat

    Get PDF
    Karbon aktif merupakan salah satu adsorben yang paling sering digunakan. Salah satu senyawa yang dapat diserap yaitu asam asetat. Untuk mengetahui kinerja adsoben lebih lanjut, maka diperlukan studi kinetika berdasarkan persamaan isotherm Freundlich. Isoterm Freundlich mampu menunjukkan jenis adsopsi apakah secara kimisorpsi atau fisisorpsi dan berlangsung secara multilayer. Studi kinetika pseudo first orde dan pseudo second orde dimaksudkan untuk mengetahui mekanisme dan karakteristik adsorpsi yang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstanta isotherm Freundlich dan kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam asetat. Konsentrasi asam asetat yang digunakan untuk mengetahui konstanta freundlich yaitu 0,5M, 0,25M, 0,125M, 0,0625M, 0,03125M dengan lama waktu kontak selama 10 menit. Sedangkan kinetika adsorpsi dilakukan dengan menggunakan asam asetat yang berkonsentrasi 0,5 M dengan waktu adsorpsi 2 menit, 4 menit, 6 menit, 8 menit dan 10 menit. Kemudian filtrat di titrasi dengan NaOH 0,1N. Ukuran karbon aktif yang digunakan antara lain 180 mess, 420 mess dan 600 mess.  Data yang diperoleh dianalisis dengan persamaan freundlich, pseudo first orde dan pseudo second orde. Data analisis yang didapatkan nilai konstanta freundlich yaitu sebesar 50,00342 dan memenuhi kinetika orde dua yang artinya, proses adsorpsi dipengaruhi lebih dari satu faktor

    Distribusi Ukuran Granul dari Tepung Singkong dengan Tepung Tapioka sebagai Pengikat pada Rotary Drum Granulator

    Get PDF
    Granulation is a process of monoparticle attachment with a particular mechanism to form a bigger and compact particle which is called granule. Granulation application has been used on many industries like pharmacy and agriculture industries. Research about granulation has been done continuously to get predictive models for various cases. The model which is only applicable to the specific material used in this research is expected to be useful to optimize the perfomances of the granulator in the industries. This research aims to develop the kinetics model of granule size distribution of cassava flour and its connection to granulation time by varying the mass of tapioca starch as the binder in rotary drum granulator. 2 grams of Cassava flour and tapioca starch were mixed in the rotary drum granulator and then water was sprayed during the granulation process. The duration of granulation were 5, 10, 15, 20, and 25 minutes. The variations of mass of the binder used in this research were 1, 1,5, and 2 gram. The granules were dried in the oven at 80°C until 30 minutes, and afterwards the granules were screened through various screen layers with different mesh size. The results of this research show that binder mass variations do not influence the layering rate of granule, and the increase of binder mass will decrease the birth rate.Granulasi merupakan proses pelekatan partikel-partikel serbuk tunggal denganmekanisme tertentu menjadi partikel yang lebih besar dan saling menyatu yang disebut granul. Penelitian seputar granulasi terus dilakukan agar diperoleh model matematis yang bersifat prediktif. Model yang hanya berlaku spesifik terhadap bahan yang dikaji ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk perancangan dan optimasi granulator di industri. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi distribusi ukuran granul tepung singkong dengan variasi jumlah tepung tapioka sebagai pengikat (binder). Tepung singkong sebanyak 2 gram dan tepung tapioka dengan jumlah yang divariasikan diaduk hingga merata kemudian diputar dengan putaran konstan dalam rotary drum granulator sambil disemprot air. Lamanya proses granulasi diatur selama 5, 10, 15, 20, dan 25 menit. Variasi pengikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1, 1,5, dan 2 gram tepung tapioka. Pengeringan dilakukan menggunakan oven selama 30 menit dengan suhu 80°C. Granul kering diayak dengan berbagai ukuran ayakan untuk mengetahui distribusi populasi granul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jumlah pengikat tidak berpengaruh terhadap laju layering. Penambahan pengikat akan menurunkan birth rate

    Sintesis Bioetanol dari Rumput Laut Coklat (Sargassum sp) Asal Pulau Timor Sebagai Energi Terbarukan

    Get PDF
    Pasokan bahan bakar minyak (BBM) saat ini masih bergantung pada bahan bakar fosil yang mengakibatkan menipisnya cadangan minyak di perut bumi. Konsumsi energi di sektor transportasi saat ini sebesar 44,2%. Hal ini mengakibatkan meningkatan emisi gas karbon dioksida yang berdampak pada penipisan ozon. Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar terbarukan yang dapat menggantikan bahan bakar fosil. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kadar gula dan kadar bioetanol yang tinggi. Sargassum sp dinilai ideal untuk dikonversi menjadi bioetanol karena memiliki kandungan karbohidrat 53,28% dan selulosa 23,97-35,22%. Kandungan karbohidrat yang tinggi ini dapat diubah menjadi bioetanol melalui beberapa metode yaitu preparasi, hidrolisis, fermentasi dan distilasi. Preparasi sampel dilakukan dengan tujuan mengurangi ukuran dan memperluas permukaan sampel menggunakan saringan 35 mesh.  Hidrolisis dilakukan pada suhu 150 0C selama 50 menit menggunakan katalis H2SO4 2% dengan bantuan microwave. pH yang digunakan dalam proses fermentasi adalah 4,5 dan mikroorganisme yang digunakan yaitu Saccharomyces cerevisiae. Hidrolisat gula dianalisis dengan metode DNS menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Uji kualitatif etanol dilakukan secara kimiawi menggunakan kalium dikromat dan uji kuantitatif etanol menggunakan hand refraktometer. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar gula pereduksi adalah 6296,67 ppm. Hasil uji kualitatif etanol dikonfirmasi dari perubahan warna dari orange menjadi hijau kebiruan. Hasil analisis etanol kuantitatif menggunakan refraktometer tangan sebesar 34%

    Degradasi Limbah Detergen dengan Metode Fotokatalis Menggunakan TiO2 / Silica Gel

    Get PDF
    Limbah detergen dihasilkan dari laundry dan limbah rumah tangga yang menyebabkan pencemaran air yang merusak organisme dalam perairan. Detergen terdiri atas tiga komponen utama, yaitu surfaktan, builders dan aditif. Surfaktan jenis Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) dan Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS) merupakan senyawa aktif detergen. Tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari proses degradasi fotokatalis dalam menurunkan konsentrasi LAS dan ABS dengan variabel bebas konsentrasi bahan aktif detergen dan waktu penyinaran. Pengolahan limbah detergen yang digunakan pada penelitian ini adalah metode fotokatalis TiO2 dengan penyangga silica gel. Variasi konsentrasi LAS dan ABS yaitu 50 ppm dan 100 ppm menggunakan katalis silica gel /SiTiO2 sebanyak 0,05gram dengan variasi waktu penyinaran sinar UV sampai 24 jam. Persentase degradasi yang dihasilkan dalam waktu 24 jam dengan katalis silica gel-TiO2 pada ABS 50 ppm yaitu 96,08% dan ABS 100 ppm yaitu 99,00%. Sedangkan Persentase degradasi yang dihasilkan dalam waktu 24 jam dengan katalis silica gel-TiO2 pada LAS 50 ppm yaitu, 96,61% dan LAS 100 ppm yaitu 99,61%. Penggunaan katalis silica gel - TiO2 dalam LAS lebih efektif dan  mempunyai sifat yang lebih baik dibandingkan ABS karena LAS mudah terurai sehingga semakin lama penyinaran warna larutan menjadi pudar dan proses degradasi fotokatalis menjadi lebih mudah

    Decreasing Of Oxalate Content in Porang Based on Different Sample Shape, Soaking Time, Temperature, and Soaking Solutions

    Get PDF
    Porang, known for its high oxalate content that poses digestive challenges, served as the underlying problem in this study. The research investigated the impact of immersion conditions on oxalate reduction in porang, both in the form of longitudinal slices and diced pieces, using various soaking media, including vinegar, alcohol, and water, with temperature variations. The study identified that the optimal immersion time for achieving maximum oxalate reduction in longitudinal slices was 150 minutes at 50°C in water, resulting in a 0.00495% decrease. In the case of diced porang, the most significant reduction occurred after 120 minutes at 70°C in alcohol, leading to a 0.0045% decrease. These findings shed light on the influence of porang shape and soaking conditions on oxalate release, with diced porang demonstrating faster oxalate reduction, likely due to its smaller surface area. The study offers valuable insights into effectively reducing oxalate levels in porang, contributing to safer consumption

    Penelitian Terkini tentang Pengembangan Pemisahan dan Penangkapan Karbon dengan Membran Berbahan Dasar Polimer: Tinjauan Kebaruan

    Get PDF
    Separation and capture of carbon dioxide (CO2) has become a very hot topic of discussion recently. The increasing amount of carbon dioxide in the environment makes environmental pollution very significant. Membrane technology is one of the alternative carbon separation processes that are increasingly in demand, because membrane technology provides excellent advantages in terms of energy requirements used, capital investment invested, and ease of operating equipment compared to other processes. Many membrane constituent materials can be used to be the basic material for making membranes, including polymeric materials. This review discusses the various polymeric materials that can be used as basic materials for gas membranes in terms of plasticization, constituent components, flexibility, and mechanical strength. It also provides an understanding of alternatives to improve the properties of polymer-based membranes.Kajian dan penelitian mengenai pemisahan dan penangkapan karbon dioksida (CO2) semakin meningkat. Peningkatan jumlah karbon dioksida dilingkungan membuat pencemaran lingkungan yang sangat berarti. Teknologi membran menjadi salah satu alternatif proses pemisahan karbon yang semakin diminati, dikarenakan teknologi membran memberikan keuntungan yang sangat baik dalam hal kebutuhan energi yang digunakan, investasi modal yang ditanam, serta kemudahan dalam mengoperasikan peralatan dibandingkan dengan proses yang lain. Banyak bahan penyusun membran yang dapat digunakan untuk menjadi bahan dasar pembuatan membran, diantaraya adalah bahan polimer. Tinjauan ini membahas menganai macam-macam bahan polimer yang dapat digunakan sebagai bahan dasar penyusun membran gas yang ditinjau dari sisi plastisisasi, komponen penyusun, fleksibilitas, dan kekuatan mekanik. Tinjauan ini juga memberikan pemahaman alternatif untuk menaikkan properti dari membran yang berbahan dasar polimer

    227

    full texts

    261

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Eksergi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇