261 research outputs found

    Effect of Flow Rate Ratio of Air and Waste Cooking Oil on Combustion Temperature and Furnace Efficiency

    No full text
    Using waste cooking oil as an alternative fuel can reduce dependence on fossil fuels and address the problem of waste oil. This study aims to analyze the effect of the flow rate ratio of air and waste cooking oil on combustion characteristics and efficiency of domestic furnace. The experiment started with fuel characterization, including density, viscosity, flash point, and calorific value tests. The combustion process was carried out by varying the fuel and airflow to the furnace. Experiments included flame temperature measurements, water boiling tests, and measurements of heat uptake efficiency by the pot water. The results showed that the highest combustion temperature of 925.55℃ was achieved at an airflow rate of 21.3 m/s with a fuel flow rate of 1.05 L/hour. The flue gas emission temperature and furnace efficiency increased as the airflow rate and fuel discharge increased. The ratio also produces the fastest water boiling time of 2 minutes with the efficiency of heat uptake by water in the pot of 34.12%. The highest heat uptake efficiency by the water in the pot was obtained at the ratio of used cooking oil discharge of 0.6 L/hour with an airflow rate of 12.1 m/s at 43.12%. These results demonstrate the potential of waste cooking oil as an alternative fuel for efficient domestic combustion devices, with proper air supply to achieve optimal combustion

    Optimasi Komposisi MDEA dan MEA Sebagai Absorbent untuk Proses Penghilangan CO2 dalam Produksi Gas di Lapangan A

    Get PDF
    Optimalisasi komposisi metil dietanolamin (MDEA) dan monoetanolamin (MEA) sebagai penyerap dalam proses pemurnian gas CO2 merupakan merupakan upaya penting bagi industri yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi dalam operasi tersebut. MDEA dan MEA sangat penting dalam menghilangkan gas asam seperti karbon dioksida (CO2) dari aliran gas alam. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja paling optimal antara MEA 20% wt tunggal dan MDEA 40% wt atau campuran MEA 5% wt / MDEA 30% wt dan MDEA 25% wt / MEA 10% wt. Mengetahui nilai parameter kebutuhan energi dan nilai kalor pelarut amina serta estimasi biaya untuk evaluasi keekonomian CAPEX dan OPEX. Semua simulasi proses penyerapan dan desorpsi menggunakan peredam dan regenerator dengan fluid packages gas asam – cairan pelarut kimia pada software HYSYS. Hasil yang diperoleh menunjukkan konsentrasi sweet gas CO2 yang rendah (2,5 mol % CO2), potensi korosif yang rendah dan kebutuhan energi yang relatif kecil dengan menggunakan campuran MDEA 25 % wt dan MEA 10% wt, sehingga kombinasi tersebut menghasilkan energi sebesar 7303.85 kW dan nilai kalor 1499 BTU/scf. Hasil juga menunjukkan bahwa CAPEX dan OPEX dihitung mencapai 4,908 MMdan176,418MM dan 176,418 MM lebih rendah dibandingkan MEA tunggal 20% wt (5,905 MMdan201,563MM dan 201,563 MM)

    Pengaruh Jenis Pengemban Pada Degradasi Limbah Detergen dengan Menggunakan Reaksi Fenton Heterogen

    No full text
    Air adalah sumber kehidupan, namun menjadi masalah ketika kualitas dan kuantitasnya tidak sesuai standar. Salah satu penyebab pencemaran air yang perlu diperhatikan adalah limbah detergen yang mengandung Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) dan Linear Alkyl Benzene Sulfonate (LAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jenis pengemban katalis dalam proses degradasi ABS dan LAS menggunakan reaksi Fenton heterogen. Metode ini dipilih karena menggabungkan proses adsorpsi dan reaksi kimia, sehingga lebih efektif dalam mendegradasi limbah detergen. Prosedur penelitian diawali dengan persiapan katalis melalui pencampuran larutan besi nitrat ke dalam pengemban, lalu dilakukan uji degradasi katalis dengan pengambilan sampel secara berkala. Sampel dianalisis menggunakan metode MBAS SNI 06-6989.51-2005. Hasil penelitian menunjukkan, setelah 180 menit, degradasi ABS dengan karbon aktif mencapai 90,2% dan dengan zeolit 75,5%, sementara degradasi LAS dengan karbon aktif 42,15% dan dengan zeolit 30,85%. Karbon aktif lebih efektif dibandingkan zeolit dalam degradasi ABS dan LAS

    Pembuatan Bioplastik Berbahan Dasar Pati Bonggol Jagung dengan Penambahan Ekstrak Jahe, Jeruk Nipis, dan Cengkeh Sebagai Antioksidan

    No full text
    Pengembangan bioplastik sebagai kemasan merupakan solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Kemasan bioplastik dengan penambahan minyak atsiri sebagai antioksidan dapat menghambat terjadinya oksidasi sehingga dapat meningkatkan daya simpan suatu produk. Pati digunakan pada penelitian ini sebagai matriks penyusun bioplastik yang berasal dari bonggol jagung dengan penambahan gliserol sebagai plasticizer dan carboxymetyl cellulose (CMC) sebagai filler serta ekstrak jahe, jeruk nipis dan cengkeh sebagai zat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi ekstrak jahe, jeruk nipis dan cengkeh terhadap sifat kuat tarik, sifat water absorption, sifat biodegradabilitas, dan pengaplikasiannya pada buah dan sayur. Proses pembuatan bioplastik dilakukan menggunakan metode casting yaitu dengan melarutkan pati bonggol jagung dalam aquades dan dipanaskan pada suhu 70°C, kemudian ditambahkan ekstrak jahe, jeruk nipis dan cengkeh dengan variabel 0 (tanpa antioksidan), 5, 10 dan15% dari volume pati dengan penambahan gliserol dan CMC sampai homogen. Selanjutnya larutan dituang dalam cetakan dan dikeringkan. Dari hasil pengujian bioplastik diperoleh nilai water absorption, biodegradabilitas, kuat tarik yang paling baik yaitu pada penambahan ekstrak jahe 15% yaitu sebesar 26,02 %, 96,31%, 11,96 Mpa. Sedangkan untuk kemampuan antioksidan yang baik dengan penambahan ekstrak cengkeh 15% yang memiliki nilai IC50 sebesar 31,21 ppm.

    Utilization of Coffee Grounds and Fly Ash as Adsorbents to Reduce Phosphate Content in Laundry Wastewater

    Get PDF
    Industrial laundry wastewater contains 70-80% phosphate which can cause environmental pollution and trigger the growth of algae blooms or eutrophication if it is discharged into the environment. The adsorption method was chosen to reduce the phosphate content in laundry waste because it is relatively simple and low cost. The adsorbent used can use coffee grounds and fly ash, where coffee grounds have 47.8-58.9%. The composition used for the adsorption process is a ratio of coffee grounds: fly ash (w/w) of 1:0 and 1:1. Contact time in the adsorption process varies between 30 minutes, 60 minutes, 90 minutes, 120 minutes, 150 minutes. Based on research results, the best reduction in phosphate levels from laundry waste was 45.88%, where the initial phosphate level in the waste was 10.2 mg/L. Apart from that, the efficiency of reducing COD levels with the best removal efficiency was 80.39% with the initial COD content in the waste being 4080 mg/L. The best composition for testing laundry waste is 1:1 coffee grounds and fly ash (w/w) and the best contact time for testing laundry waste is 150 minute

    A Comparative Study of Coconut Shell and Melinjo Shell as Carbon Sources for Bio-Briquette Production

    Get PDF
    The aim of this research was to investigate the influence of adding Melinjo shells on the quality and efficiency of charcoal-based bio-briquettes. A combination of coconut shells and Melinjo shells in various ratios was utilized in the study. The briquettes were produced through a carbonization process at a temperature of 300°C for 60 minutes, with tapioca flour used as a binder. Subsequently, the briquettes underwent testing to determine moisture content, ash content, volatile matter, and calorific value. The research findings indicated that all briquettes met the calorific value requirements set by the Indonesian National Standard (SNI), exceeding 5,000 cal/g. The addition of Melinjo shells resulted in a reduction in ash and volatile matter content but also led to a decrease in calorific value. Based on the analysis, the optimal composition obtained was 90 grams of coconut shells and 10 grams of Melinjo shells, producing briquettes with a calorific value of 5,582 cal/g, ash content of 3.76%, and volatile matter content of 6.65%. Therefore, further research is recommended to identify easily combustible components in Melinjo shells to ensure their potential in reducing the amount of ash produced when the briquettes are burned

    Penyisihan Ion Logam Cr(VI) dari Larutan Menggunakan Biosorben Berbasis Limbah Pertanian Bagase Sorgum Teraktivasi NaOH

    Get PDF
    Kontaminasi logam kromium sangat berbahaya bagi lingkungan perairan yang terjadi melalui aktivitas industri. Saat ini penyisihan logam kromium dalam perairan banyak dipelajari untuk mengurangi tingkat toksisitasnya. Pada penelitian ini, limbah pertanian bagase sorgum yang diaktivasi dengan NaOH digunakan untuk mengadsorpsi ion logam Cr(VI) dalam larutan. Bagase sorgum teraktivasi NaOH dikarakterisasi menggunakan uji pHpzc, FT-IR, SEM-EDX, XRD, dan metode BET untuk menganalisis gugus fungsi, morfologi permukaan, luas permukaan, serta ukuran pori pada material. Menggunakan sistem batch, parameter adsorpsi seperti massa adsorben, waktu kontak, konsentrasi awal ion logam, pH, dan suhu larutan diamati. Adsorpsi Cr(VI) memiliki kondisi optimum pada pH 2, waktu kontak 70 menit, massa adsorben 900 mg, konsentrasi awal larutan 10 mg/L, dan suhu larutan 30 °C. Persentase kapasitas adsorpsi maksimum yang diperoleh adalah 99,03%. Model orde dua semu cocok untuk mengidentifikasi kinetika adsorpsi ion Cr(VI). Model isoterm adsorpsi ion Cr(VI) sesuai dengan model Freundlich. Energi bebas Gibbs diperoleh nilai positif dan entalpi memiliki nilai negatif, hal ini menunjukkan bahwa adsorpsi ion Cr(VI) merupakan proses eksotermik. Oleh karena itu, upaya pengurangan kadar ion logam Cr(VI) di lingkungan perairan menggunakan adsorben bagase sorgum teraktivasi NaOH dapat dijadikan sebagai alternatif baru dengan perlakuan yang mudah dan bersifat ekonomis

    Pengaruh Konsentrasi dan Suhu Alkalisasi pada Warna Nib Kakao (Theobroma cacao L.)

    Get PDF
    Kondisi tanah para petani kakao yang bervariasi berakibat pada ketidakseragaman biji kakao (Theobroma cacao L.). Alkalisasi dapat menjadi solusi untuk memodifikasi nib kakao sehingga dihasilkan warna yang lebih gelap dan seragam. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi alkali dan suhu alkalisasi terhadap warna pada nib kakao setelah alkalisasi nib. Larutan alkali yang digunakan yaitu Na2CO3 dengan konsentrasi 2% dan 6% pada suhu 75 °C dan 100 °C selama 60 menit menggunakan oven. Alat kolorimeter digunakan untuk mengukur warna dengan indikatornya yaitu L* (kecerahan), a* (kemerahan), dan b* (kebiruan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin meningkatnya konsentrasi larutan alkali maka nilai L* akan menurun atau semakin gelap (p<0,05). Nilai L* kontrol (37,72) mengalami penurunan hingga ke angka 22 setelah dialkalisasi pada suhu 75 °C dengan konsentrasi 6%.  Suhu alkalisasi menghasilkan perbedaan signifikan pada semua indikator warna dan pH (p<0,05). Interaksi antara suhu dan konsentrasi berpengaruh pada nilai L*, a*, dan ΔE. Derajat alkalisasi pada penelitian ini masuk pada kategori berat/kuat karena pH nib kakao teralkalisasi yaitu >7,6. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warna nib kakao yang gelap dapat dihasilkan dari perlakuan alkalisasi dengan suhu dan konsentrasi yang tinggi

    Evaluation of Chicken Bone-Derived CaO Catalyst for biodiesel production from waste cooking oil

    No full text
    This research explores the use of waste cooking oil (WCO) into biodiesel and adding a calcium oxide (CaO) catalyst derived from chicken bone waste. The synthesized CaO catalyst was characterized using FTIR and SEM to determine its structural and chemical properties. Biodiesel production experiments were carried out at a temperature of 60°C with an oil-to-methanol ratio of 9:1 and a CaO catalyst load of 5% concentration. The biodiesel produced is characterized by its main quality parameters, including flash point, density, acid number, viscosity, and heating value. The research results show that the CaO catalyst contains various organic compounds, including haloalkanes, 1,2-disubstituted functional groups, primary alcohols, aromatic compounds, and alcohols. In addition, the CaO catalyst contains mineral compositions such as calcium, carbon, oxygen, sodium, magnesium, and phosphorus. Biodiesel yield increases significantly with increasing catalyst loading, reaching a maximum of 92.70% at 15% catalyst loading. This research shows the effectiveness of the CaO catalyst derived from chicken bone waste for environmentally friendly biodiesel production using microwave technology

    Analisis Efisiensi Eksergi Water Tube Boiler Pada Unit Penyediaan Steam di Salah Satu Plant Gas Processing Aceh, Indonesia

    Get PDF
    Artikel ini membahas analisis efisiensi eksergi water tube boiler pada unit penyediaan steam di plant pengolahan gas di Aceh, Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi penggunaan energi aktual dan kerusakan eksergi akibat ireversibilitas. Boiler merupakan sumber utama kerusakan eksergi dalam sistem penyediaan uap, sehingga ada peluang besar untuk meningkatkan efisiensi kinerja dan mengurangi konsumsi bahan bakar. Hasil analisis menunjukkan efisiensi eksergi sekitar 65,9%. Total kerusakan eksergi mencapai 13,90 MW atau 62% dari eksergi masuk sebesar 22,40 MW, dengan kerusakan pada Combustor sebesar 37% dan Heat Exchanger sebesar 25%. Angka ini lebih rendah dibandingkan penelitian lain yang menunjukkan kerusakan eksergi hingga 89,13% dari eksergi masuk sebesar 279,58 MW. Kerusakan terbesar terjadi pada Combustor dan Heat Exchanger, dipicu oleh udara berlebih yang meningkatkan kehilangan gas buang, kerusakan isolasi termal yang menyebabkan kehilangan panas, pengaturan rasio pembakaran yang tidak seimbang sehingga terjadi pembakaran tidak sempurna, serta aktivitas blowdown yang hanya dilakukan saat konduktivitas tinggi, yang menurunkan efisiensi boiler

    227

    full texts

    261

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Eksergi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇