261 research outputs found

    Biodiesel dari Minyak Goreng Sawit Bekas dengan Katalis Heterogen CaO: Studi Penentuan Rasio Mol Minyak/Metanol dan Waktu Reaksi Optimum

    Get PDF
    Keterbatasan daya dukung bahan bakar fosil terhadap pemenuhan kebutuhan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, telah mengarahkan masyarakat pada upaya-upaya untuk menemukan dan mengembangkan sumber-sumber energi alternatif yang bersifat baru dan terbarukan. Salah satunya jenis energi terbarukan tersebut adalah biodiesel. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis biodiesel dengan memanfaatkan limbah minyak goreng sawit bekas. Penelitian dikhususkan pada penentuan rasio mol minyak/metanol dan waktu reaksi transesterifikasi dengan katalis basa heterogen CaO. Rasio mol minyak/metanol dipelajari pada variasi 1/5, 1/10, 1/15, dan 1/20. Sedangkan waktu reaksi divariasikan selama 1, 1,5, 2, 2,5, dan 3 jam. Reaksi dilakukan pada suhu 65oC dan kadar katalis CaO sebanyak 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum reaksi dicapai pada saat sintesis biodiesel dilakukan pada rasio mol minyak/metanol sebesar 1/15 dengan lama reaksi 2,5 jam. Pada kondisi reaksi tersebut diperoleh biodiesel dengan beberapa parameter kualitas yang diuji telah sesuai dengan SNI untuk Biodiesel (SNI-04-7182-2006), yaitu: densitas 0,867 g/cm3, viskositas 5,28 mm2/s (pada suhu 40oC), titik kilat 182oC, angka asam 0,28 mg KOH/g, gliserol bebas 0,014%, gliserol total 0,10%, kadar ester 97,8%, dan angka iod 31,62%, serta yield biodiesel sebesar 86,0%

    Pengaruh Limbah Industri Batik Menggunakan Pewarna Alami dari Desa Wukirsari terhadap Viabilitas Bakteri Tanah

    Get PDF
    Industri batik menggunakan pewarna alami sedang berkembang. Pewarna alami diperoleh dengan melakukan ekstraksi pada beberapa tanaman seperti jolawe (Terminalia bellirica), mahoni (Swieteniamacrophylla mahoni) dan indigo (Indigofera tinctoria). Beberapa tanaman penghasil pewarna alami sering digunakan sebagai antibiotik alami karena mampu menghambat pertumbuhan mikrobia. Kemampuan senyawa tersebut menghambat pertumbuhan mikrobia perlu diwaspadai karena ada kemungkinan bahwa paparannya dalam tanah dapat mengurangi populasi mikrobia. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh limbah industri batik pewarna alami terhadap viabilitas bakteri tanah. Pengujian viabilitas sel dilakukan dengan mengamati pertumbuhan bakteri total, penambat nitrogen dan pelarut fosfat dalam tanah yang ditambah dengan masing-masing limbah jolawe, indigo, mahoni dan limbah pewarna campuran. Limbah dan tanah yang digunakan berasal dari desa Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY. Dilakukan pula karakterisasi terhadap limbah dan tanah yang digunakan. Parameter utama yang diamati meliputi jumlah sel bakteri total, penambat nitrogen dan pelarut fosfat, pH, serta kadar fenolik dan flavonoid. Jumlah bakteri total, penambat nitrogen dan pelarut fosfat diamati dengan metode taburan berturut-turut dalam media  nutrien agar, Jensen’s dan Pikovskaya, sedangkan fenolik dan flavonoid dianalisis menggunakan metode spetrofotometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah meningkatkan pH tanah dari 5 menjadi 6,7. Kadar flavonoid dan fenolik limbah berturut-turut berkisar antara 0,14% sampai dengan 0,70% dan 0,18% sampai dengan 1,76%. Viabilitas sel bakteri tidak dipengaruhi oleh kadar flavonoid dan fenolik limbah. Pada umumnya limbah batik pewarna alami tidak menurunkan viabilitas bakteri tanah.Industri batik menggunakan pewarna alami sedang berkembang. Pewarna alami diperoleh dengan melakukan ekstraksi pada beberapa tanaman seperti jolawe (Terminalia bellirica), mahoni (Swieteniamacrophylla mahoni) dan indigo (Indigofera tinctoria). Beberapa tanaman penghasil pewarna alami sering digunakan sebagai antibiotik alami karena mampu menghambat pertumbuhan mikrobia. Kemampuan senyawa tersebut menghambat pertumbuhan mikrobia perlu diwaspadai karena ada kemungkinan bahwa paparannya dalam tanah dapat mengurangi populasi mikrobia. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh limbah industri batik pewarna alami terhadap viabilitas bakteri tanah. Pengujian viabilitas sel dilakukan dengan mengamati pertumbuhan bakteri total, penambat nitrogen dan pelarut fosfat dalam tanah yang ditambah dengan masing-masing limbah jolawe, indigo, mahoni dan limbah pewarna campuran. Limbah dan tanah yang digunakan berasal dari desa Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY. Dilakukan pula karakterisasi terhadap limbah dan tanah yang digunakan. Parameter utama yang diamati meliputi jumlah sel bakteri total, penambat nitrogen dan pelarut fosfat, pH, serta kadar fenolik dan flavonoid. Jumlah bakteri total, penambat nitrogen dan pelarut fosfat diamati dengan metode taburan berturut-turut dalam media  nutrien agar, Jensen’s dan Pikovskaya, sedangkan fenolik dan flavonoid dianalisis menggunakan metode spetrofotometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah meningkatkan pH tanah dari 5 menjadi 6,7. Kadar flavonoid dan fenolik limbah berturut-turut berkisar antara 0,14% sampai dengan 0,70% dan 0,18% sampai dengan 1,76%. Viabilitas sel bakteri tidak dipengaruhi oleh kadar flavonoid dan fenolik limbah. Pada umumnya limbah batik pewarna alami tidak menurunkan viabilitas bakteri tanah..Kata Kunci: limbah; pewarna alam; viabilitas; bakter

    BIOPELUMAS DARI MINYAK NABATI (REVIEW)

    Get PDF
    Pertumbuhan otomotif di Indonesia terus mengalami peningkatan. Maka tak heran jika kebutuhan pendukungnya seperti pelumas juga mengalami peningkatan pula. Di Indonesia, kebutuhan akan pelumas atau oli mencapai angka 300 juta liter pertahunnya. Kira kira 40% pelumas akan dibuang ke lingkungan menjadi limbah non biodegradable dan bersifat sebagai limbah B3. Untuk menunjang lingkungan yang mendukung pembangunan berkelanjutan, dunia membutuhkan pelumas biodegradable atau biopelumas. Biopelumas dapat menyamai karakristik dan menggantikan fungsi pelumas berbasis petroleum. Bahan dasar biopelumas pada saat ini adalah minyak nabati melalui serangkaian modifikasi secara kimia dapat diubah menjadi senyawa mono, di atau tri ester. Ester dari minyak nabati menunjukkan sifat sifat fisika dan kimia lebih baik dibandingkan dengan pelumas petroleum. Baik sifat fluida pada temperatur rendah meliputi titik tuang, titik beku dan viskositas. Juga sifat tribologi (keausan) dan stabilitas terhadap oksidator pada temperatur tinggi. Dalam makalah ini dijelaskan mengenai perkembangan terbaru beberapa proses produksi bio pelumas ramah lingkungan berbasis ester sebagai formula generasi baru yang  menunjang  pembangunan berkelanjuta

    Optimasi Rasio Air dan Karbon Berpori untuk Proses Pembentukan Metana Hidrat

    Get PDF
    Metana merupakan sumber energi alternatif yang sangat potensial dan melimpah serta  menghasilkan emisi CO2 yang lebih rendah ketika digunakan sebagai bahan bakar karena kandungan C dalam molekul metana jauh lebih kecil dari kandungan H nya. Selain ada dalam bentuk gas, metana di alam juga bisa berada dalam bentuk metana hidrat. Setiap  volume metana hidrat mengandung sebanyak 164 volume gas metana dalam keadaan standar (STP). Proses terbentuknya metana hidrat di alam dapat diadopsi sebagai metode penyimpanan gas metana. Pada penelitian ini akan dilakukan percobaan pembentukan metana hidrat pada karbon mesopori dengan jumlah air yang bervariasi untuk mengetahui kandungan air optimum untuk membentuk metana hidrat secara efektif. Penelitian dilakukan dengan mengadsorpsi gas metana pada karbon berpori yang basah dengan metode static volumetric. Untuk mengetahui rasio yang optimum terhadap proses terbentuknya metana hidrat, maka pada penelitian ini dilakukan percobaan dengan rasio berat air dibandingkan karbon berpori 0,5 ; 1 ; 1,5 ; 2. Sistem adsorpsi dikondisikan pada suhu 275 K dengan maksud untuk menghindari terbentuknya es (sistem dikondisikan diatas titik beku air). Hasil percobaan menunjukkan bahwa rasio air : karbon mesopori yang memberikan jumlah metana hidrat yang paling besar adalah pada R =

    Kinetika Reaksi Isomerisasi α-pinene

    Get PDF
    Terpentin merupakan hasil hutan non kayu yang berasal dari pohon pinus. Terpentin diperoleh  dari hasil produk non kayu berupa getah pinus dengan kandungan tertinggi berupa α-pinene dengan cara didistilasi dan menghasilkan produk atas berupa terpentin dan produk bawah berupa gondorukem. Terpentin yang dipakai pada penelitian ini memiliki komposisi α-pinen 80,03 %, camphen 1,95%, β-pinen 2,78 %, ∆-caren 11,91% dan limonen 1,99%. Reaksi isomerisasi α-pinen merupakan reaksi paralel yang menghasilkan beberapa produk isomer, yaitu camphen, limonen,α-terpinen, γ-terpinen, dan terpinolen. Produk hasil isomerisasi α-pinen merupakan produk intermediate yang digunakan dalam industri farmasi, chemical fragrance, anti bakteri dan industri parfum. Pada penelitian ini, dipelajari reaksi isomerisasi α-pinen menggunakan katalis resin amberlyst 36. Reaksi isomerisasi α-pinen dilakukan pada reaktor batch berpengaduk dengan variasi suhu 70 - 1000C. Kinetika reaksi isomerisasi α-pinen dari terpentin didekati dengan reaksi order satu irreversible. Model kinetika yang diusulkan menunjukkan kesesuaian dengan hasil eksperimen baik. Dari hasil perhitungan diperoleh parameter faktor tumbukan (A) dan Energi Aktivasi (E) untuk masing-masing camphene, limonene, α-terpinene, γ-terpinene, terpinolene yaitu 0,825x105 dm.s-1; 0,0061x105 dm.s-1;0,0645x105 dm.s-1;0,0595x105 dm.s-1; 0,0645x105 dm.s-1 dan 27,93 kJ/mol; 19,67 kJ/mol; 18,53 kJ/mol; 19,25 kJ/mol; 4,28 kJ/mol

    Peningkatan Phycocyanin pada Spirulina Platensis dengan Media Limbah Virgin Coconut Oil pada Photobioreactor Tertutup

    Get PDF
    Waste of Virgin Coconut Oil (VCO) industries has a high value of Chemical Oxygen Demand (COD), it is therefore a problem for the environment. This waste contains organic materials such as oil, proteins, carbohydrates and some minerals, that potentially to be used for the cultivation of blue-green algae Spirulina plantesis.  Spirulina plantesis is an excellent source of phycocyanin. The Phycocyanin has anti-aging, anti-oxidant and anti-inflammatory properties, it is therefore considered useful. This research is aimed to study the effects of the addition of urea and light intensity on the growth of Spirulina, the concentration of phycocyanin and decreasing of COD value. Spirulina platensis was cultivated in a closed photobioreactor with an air flow for 7 days.  The light intensity was varied as follows 5000 lux, 6000 lux, 7000 lux and 8000 lux, and the addition of urea as nutrients was also varied as follows 40 ppm, 50 ppm, 60 ppm and 70 ppm.  This research indicated that the optimum condition was obtained at the addition of urea of 70 ppm, light intensity  of 6000 lux. This research resulted μmax of 1,1375day-1 , the biomass  productivity of 0,0423 g/l/day,  biomass concentration of   0,1734 g/l  and  phycocyanin concentration of 5,047%. The largest of COD removal is was 98,06% and the COD value of  280 mg/l was finally achieved

    The Effect of Ratio of Formaldehyde/Urea (F/U) using Catalyst of NaOH and NH4OH against Production of Urea-Formaldehyde Resin in Laboratory-Scale

    No full text
    This study was conducted to investigate the ratio of formaldehyde/urea (F/U) and catalysts against the formation of urea-formaldehyde resin. The F/U was varied in 1.5, 2, 2.5, 3. The catalysts used were NaOH and NH4OH. The results showed that density of urea-formaldehyde resin at F/U of 1.5, 2, 2.5, 3 was 1360, 1370, 1360, 1330 kg/m3 in using catalyst of NaOH and1370, 1370, 1350, 1350 kg/m3 in using catalyst of NH4OH. Meanwhile, the absolute viscosity of urea-formaldehyde resin at F/U of 1.5, 2, 2.5, 3 was 0.007347672; 0.007723512; 0.007347672; 0.006873174kg/m.s in using catalyst of NaOH dan 0.00879; 0.00827; 0.00813; 0.00643 kg/m.s in using catalyst of menggunakan NH4OH. Resin formed (%)at F/U of 1.5, 2, 2.5, 3 was 25.92; 30.19; 28.85; 25 % in using catayst of NH4OH dan 10.71; 11.6; 9.45; 14.28  % in using catalyst of NaOH

    Pemanfaatan CPO (Crude Palm Oil) Untuk Desulfurisasi Pada Batubara Menggunakan Metode Flotasi

    Get PDF
    Sejalan dengan perkembangan pemanfaatan batubara di Indonesia, muncul pula beberapa kendala yang menghambat  perkembangan tersebut yaitu adanya gas SO2  hasil pembakaran batubara yang dapat menimbulkan pencemaran  udara. Flotasi adalah suatu proses untuk memisahkan padatan halus yang terpisah dari suatu padatan dengan padatan yang lain. Penelitian desulfurisasi pada batubara  yang berasal dari bahan baku PLTU menggunakan metode flotasi dilakukan secara kontinyu dalam sebuah alat kolom flotasi. Disini beberapa variabel flotasi diantaranya adalah perbandingan antara batubara dengan CPO yaitu 1:2, 1:4, 1:6 dengan laju alir umpan yang berbeda-beda. Diperoleh kondisi yang optimal pada pengurangan kadar sulfur pada proses flotasi ketika laju alir umpan sebesar 0,3612 L/menit dengan perbandingan CPO/Batubara pada 1:2 dengan sulfur yang terambil sebesar 45,269 %

    Kinetika Reaksi Pirolisis Enceng Gondok

    Get PDF
    Enceng gondok merupakan tanaman pengganggu dalam ekosistem air karena pertumbuhannya yang sangat cepat sehingga perlu dipikirkan cara untuk pemusnahan tanaman ini. Namun enceng gondok merupakan biomassa yang mempunyai kandungan hemiselulosa, selulosa dan lignin yang tinggi. Pirolisis adalah metode yang tepat untuk mengubah biomassa yang diproses secara termal menjadi produk yang bernilai. Pirolisis merupakan proses degradasi termal untuk mengahasilkan bio-char, bio-oil dan bio-gas tanpa adanya oksigen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari suhu optimum dari proses pirolisis dan mencari parameter kinetika untuk membantu peneliti dalam merancang reaktor dan memahami reaksi yang terjadi. Model yang diusulkan untuk mempresentasikan reaksi pirolisis enceng gondok adalah Compatting model. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa suhu 600°C merupakan suhu optimum untuk mengahasilkan bio-oil. Dengan menggunakan program matlab konstanta kinetika reaksi pada pembentukan gas pada proses pirolisis enceng gondok adalah  k1=3,4997exp-14069,21/RTmen-1,  konstanta kinetika reaksi pembentukan bio-oil adalah k2=0,3430exp-3059,451/RTmen-1  dan konstanta kinetika reaksi pembentukan char adalah k3=0,2526 exp-2313,395/RT men-1

    Ekstraksi Sederhana Antosianon dari Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) sebagai Pewarna Alami

    Get PDF
    Natural dyes can be obtained from the pigments that contained from leaves, fruit, and rind of the plants. Dragon fruit peel is one of the potential  natural pigment source. Almost 30-35% of the peel fruit is often simply thrown away as trash. Dragon fruit peel  provides natural red color produced by pigment called anthocyanin which can be used as a subtituent from synthetic dyes to natural dyes. This research was objected to find the optimum conditions for anthocyanin extraction of dragon fruit peel. Simple extraction was carried out by using 80% ethanol solvent with  variable ratio of the amount of material and solvent (1: 9 to 1:13), temperature (50◦ to 80◦ C) and time (1 to 5 hours). Optimum result was obtained from a ratio F: S 1:11, temperature 50◦C, for 3 hours.Pewarna alami dapat diperoleh dari pigmen yang berasal dari daun, buah, atau batang tanaman. Kulit buah naga adalah salah satu sumber pewarna alami yang berpotensi. Sekitar 30-35% kulit buah dibuang sebagai sampah. Kulit buah naga mengandung warna kuning yang berasal dari pigmen antosianin yang berpotensi digunakan sebagai pewarna alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi operasi optimum dari ekstraksi sederhana pengambilan antosianin. Operasi menggunakan 80% ethanol dengan rasio bahan: solven (1:9 - 1:13). Suhu (50-80◦ C), dan waktu (1-5 jam). Hasil optimum diperoleh dari rasio 1:11, suhu 50◦C, selama 3 jam

    227

    full texts

    261

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Eksergi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇