Eksergi
Not a member yet
261 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Asap Cair Food Grade yang Dimurnikan dengan Arang Aktif sebagai Pengawet Ikan Nila
Bau asap serta warna kuning pada asap cair dapat dikurangi dengan penyerapan menggunakan arang aktif. Arang aktif yang telah diaktivasi dapat mengurangi bau dan warna asap cair sebesar 20%. Asap cair tersebut mengalami peningkatan kemampuan pengawetan dengan meningkatnya kadar asam asetat hampir 3 kali lipat. Dalam penelitian ini dilakukan pemanfaatan asap cair food grade yang dimurnikan dengan arang aktif untuk pengawetan bahan makanan yaitu ikan Nila. Percobaan dilakukan dengan mencampurkan arang aktif yang telah diaktivasi dengan asap cair, kemudian diaduk dan disaring. Ikan Nila direndam dalam asap cair yang telah dimurnikan dengan variasi waktu penyimpanan yaitu 3,6,9,12 dan 15 jam. Perlakuan diulang dengan variasi kadar asap cair yaitu 5%,7,5%, 10%, 12,5%, 15% dan 17,5%. Ikan Nila yang telah diawetkan dianalisis kadar protein, jumlah total bakteri, uji fisik dan pH. Dari penelitian ini diperoleh konsentrasi optimum asap cair sebagai pengawet adalah 15%. Kadar protein pada ikan Nila yang direndam menggunakan asap cair selama masa simpan 15 jam adalah 15,15%. Jumlah total bakteri dalam ikan Nila adalah antara 4,5x106 – 5,4x108CFU/ g. Penggunaan asap cair 10% pada ikan Nila mampu mempertahankan kondisi fisik ikan selama waktu simpan 3 jam dengan pH 5. Semakin banyak jumlah total bakteri maka kadar proteinnya semakin rendah
PENGARUH TINGKAT KEASAMAN PADA KARAKTERISTIK ZEOLIT ALAM SEBAGAI ADSORBEN AMMONIUM HIDROKSIDA (NH4OH)
Natural zeolite is a mineral that are widely available in Indonesia. Among many other benefits, the natural zeolite can be used as an adsorbent to reduce water pollutant caused by ammonia compounds and combination of derivatives. This research aimed to study the effect of different acids on zeolite characterizatics as adsorbent of ammonium hydroxide (NH4OH). The effect of acids addition on natural zeolite was studied by varying the concentration of H2SO4(0,5 N; 3 N and 5 N) and concentration of H3PO4 (0,5 N; 3 N and 5 N). In this study, zeolite surface was observed by Fourier Transform Infrared (FTIR). Results were showed that the amount of NH4OH adsorbed on H- zeolite has a maximum (23,6 mg/gram zeolit) at 5 N H2SO4. From the NH4OH uptake experiment, it was noted that zeolite obtained from H-Zeolite-H2SO4 has higher NH4OH adsorption capacity than that of zeolite obtained from H-Zeolite-H3PO4. The adsorption capacity of H-Zeolite-H2SO4, H-Zeolite-H3PO4, are 23,6 mg/g and 12,9 mg/g, respectively. FTIR analysis was showed that NH4OH adsorbed on the surface of H- zeolite on Brønsted acid peak
AKTIVASI DAN APLIKASI ZEOLIT ALAM SEBAGAI ADSORBEN LOGAM KROMIUM DALAM AIR LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT
Industri penyamakan kulit menghasilkan limbah cair dengan jumlah yang cukup besar dan mengandung logam berat kromium yang bersifat non-biodegradable sehingga keberadaanya di lingkungan akan terakumulasi hingga mencapai kadar yang berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Salah satu metode untuk menangani masalah ini adalah adsorpsi dengan memanfaatkan zeolit alam sebagai adsorben. Zeolit alam dipilih karena memiliki potensi sebagai penjerap dan keberadaanya di alam cukup melimpah. Variasi metode aktivasi dengan pemanasan dan penambahan larutan KOH sebagai aktivator dengan konsentrasi 2M, 4M, 6M akan diuji untuk meningkatkan kemampuan penjerapan. Metode aktivasi secara kimia menggunakan konsentrasi KOH 6M memberikan presentase penjerapan paling baik dengan daya serap terhadap kromium sebesar 12,1065 mg/g. Pengujian model Isotherm yang mewakili proses adsorpsi ini adalah Model Freundlich
Pengaruh Variasi Komposisi Pada Campuran Limbah Cair Aren dan Kotoran Sapi Terhadap Produksi Biogas
Limbah cair aren dan kotoran sapi merupakan substrat yang baik dalam pembuatan biogas, karena tanaman aren mengandung bahan organik yang tinggi dan kotoran sapi mengandung bakteri penghasil gas metan. Nilai rasio C/N dari limbah cair aren yaitu 15 dan perlu dicampur dengan limbah yang memiliki rasio C/N lebih tinggi dari kotoran sapi yaitu 24. Penelitian dilakukan dengan proses anaerobic reactor. Penelitian ini menguji 5 variasi komposisi campuran kotoran sapi dan limbah cair aren yaitu 1 : 0,25, 1: 0,5, 1 : 0.75, 1 : 1 dan 1: 1,25. Masing-masing sampel dimasukkan ke dalam digester dengan kapasitas 14 liter terdiri dari 11 liter campuran limbah dan 3 liter air, kemudian diinkubasi secara anaerob dalam ruang bersuhu antara 25oC – 30oC selama 50 hari. Parameter yang diukur berupa volume biogas, gas metan, nilai C/N rasio, pH dan suhu. Pengamatan volume gas dilakukan setiap hari dengan menggunakan gas holder dan konsentrasi gas metan diuji dengan Gas Chromatography (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi campuran kotoran sapi dan limbah cair aren 1:1,25 menghasilkan biogas tertinggi dengan kadar gas metan 42%
Robotic spraying application for Fabrication Proton Exchange Membrane Fuel Cell
One of the processes that work in the field of engineering Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) is to produce a variety of designs MEA. The best design will be found in the manufacturing process. The project introduced a spray with a robotic instrument configuration x-y axis to issue MEA design. MEA layer forms which can be produced by this spray will follow a periodic function, whereas the layers including the thickness, porosity, pore diameter, specific active surface area which will be used to hold the chemical reaction to produce electricity. The character size coating layer is represented by the amount of spraying. This number is a function of the frequency of the robot, and the nozzle crosses the x-y dimensions of the substrate. Sprays produce two forms of MEA design. From the results of this study MEA quality can be assessed using a robot with a spray nozzle configuration as a contribution for Fuel Cell (PEMFC)
Pengaruh Penambahan Vermiculite Termodifikasi Cu2+ sebagai Media Imobilisasi Bakteri Anaerob pada Produksi Biogas terhadap Parameter Kinetika
Modifikasi vermiculite dilakukan untuk meningkatkan afinitasnya sebagai media imobilisasi bakteri anaerob. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh vermiculite termodifikasi Cu2+ dalam proses produksi biogas terhadap parameter kinetika. Penelitian ini dilakukan menggunakan tiga digester, yaitu digester tanpa penambahan vermiculite termodifikasi Cu2+, digester dengan penambahan vermiculite termodifikasi Cu2+ 0,01 mg/L dan digester dengan penambahan vermiculite termodifikasi Cu2+ 0,5 mg/L. Hasil yang diperoleh adalah semua digester dengan penambahan vermiculite termodifikasi Cu2+ sebanyak 40 g memberikan peningkatan pada nilai laju pertumbuhan spesifik bakteri asidogen dibandingkan dengan digester tanpa penambahan vermiculite termodifikasi yaitu sebesar 48 %. Penurunan laju pentumbuhan spesifik bakteri metanogen hanya terjadi pada digester dengan penambahan vermiculite termodifikasi Cu2+ 0,5 mg/L hingga 88,87 %
Pra-Rancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) Industri Batik (Studi Kasus Batik Sembung, Sembungan Rt.31/Rw.14, Gulurejo, Lendah, Kulonprogo)
Perancangan ini bertujuan untuk memberikan rancangan pengolahan limbah cair batik bagi industri batik di Yogyakarta. Beberapa parameter limbah cair batik sebelum diolah masih melebihi baku mutu, yaitu : TDS 5.325 mg/l, BOD 2.712,02 mg/l, COD 10.464,00 mg/l, dan pH 10,5. IPAL dirancang secara batch dengan sistem ekualisasi, koagulasi-flokulasi, sedimentasi, kontrol, dan pengering lumpur. Tahap perancangan IPAL meliputi menghitung ukuran dimensi masing-masing unit IPAL, merancang gambar masing-masing unit, dan menghitung rencana anggaran biaya yang diperlukan. Terdapat beberapa unit pada perancangan IPAL, salah satunya limbah cair batik sebanyak 5,5 m3 beserta dimensi yaitu : bak ekualisasi (panjang = 2,2m, lebar = 1,1m, tinggi = 2,5m), bak koagulasi-flokulasi (diameter = 1,2m, tinggi = 1,95m), bak sedimentasi (panjang = 2,013m, lebar = 1,0065m, tinggi = 1m), bak pengering lumpur (panjang = 0,92m, lebar = 0,46m, tinggi = 0,77m), bak filtrasi (panjang = 2,36m, lebar = 1,18m, tinggi = 2,4m), dan bak kontrol (panjang = 1,138m, lebar = 1,138m, tinggi = 1,138m). Adapun total rencana anggaran biaya yang dibutuhkan dalam perancangan IPAL limbah cair industri batik adalah sebesar Rp 67.833.300,34.Perancangan ini bertujuan untuk memberikan rancangan pengolahan limbah cair batik bagi industri batik di Yogyakarta. Beberapa parameter limbah cair batik sebelum diolah masih melebihi baku mutu, yaitu : TDS 5.325 mg/l, BOD 2.712,02 mg/l, COD 10.464,00 mg/l, dan pH 10,5. IPAL dirancang secara batch dengan sistem ekualisasi, koagulasi-flokulasi, sedimentasi, kontrol, dan pengering lumpur. Tahap perancangan IPAL meliputi menghitung ukuran dimensi masing-masing unit IPAL, merancang gambar masing-masing unit, dan menghitung rencana anggaran biaya yang diperlukan. Terdapat beberapa unit pada perancangan IPAL, salah satunya limbah cair batik sebanyak 5,5 m3 beserta dimensi yaitu : bak ekualisasi (panjang = 2,2m, lebar = 1,1m, tinggi = 2,5m), bak koagulasi-flokulasi (diameter = 1,2m, tinggi = 1,95m), bak sedimentasi (panjang = 2,013m, lebar = 1,0065m, tinggi = 1m), bak pengering lumpur (panjang = 0,92m, lebar = 0,46m, tinggi = 0,77m), bak filtrasi (panjang = 2,36m, lebar = 1,18m, tinggi = 2,4m), dan bak kontrol (panjang = 1,138m, lebar = 1,138m, tinggi = 1,138m). Adapun total rencana anggaran biaya yang dibutuhkan dalam perancangan IPAL limbah cair industri batik adalah sebesar Rp 67.833.300,34
Perbaikan Mutu Bodi Keramik Lempung Pundong Dengan Penambahan Pecahan Kaca Lampu Neon Bekas
Lempung Pundong, Bantul merupakan bahan utama dalam pembuatan keramik, dimana lempung Pundong masih kurang baik kekuatannya pada bodi keramik. Kaca neon mengandung banyak mineral silica dan alumina sebagai bahan pengikat dalam campuran tanah liat sehingga sangat baik bila digunakan penambah pada bodi keramik. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan bodi keramik dengan bahan baku lempung Pundong, Bantul ditambah pecahan kaca neon untuk memperbaiki kualitas. Proses pembuatan bodi keramik meliputi penyiapan bahan baku, pembuatan adonan dengan campuran antara lempung Pundong dan pecahan kaca neon. Kemudian diaduk dan ditambahkan air sedikit demi sedikit sampai cukup plastis, setelah itu tahap pencetakan, pengeringan dan pembakaran pada suhu 1100oC. Penelitian ini menggunakan waktu penahanan suhu pembakaran antara 10 menit dan 20 menit dan perbandingan komposisi antara lempung Pundong dan pecahan kaca neon pada sampel I ( 100gr : 0gr ) ; pada sampel II ( 95gr : 5gr ) ; sampel III ( 90gr : 10gr ) ; sampel IV ( 85gr : 15gr ) ; sampel V (80gr : 20gr ). Dari hasil penelitian didapat bahwa semakin banyak pecahan kaca neon yang ditambahkan dan penahanan suhu yang semakin lama, hasil modulus patah semakin besar dan porositas semakin kecil. Diperoleh hasil terbaik dengan modulus patah 149,04 kg/cm2 , susut bakar 4,62% dan porositas 9,37% pada perbandingan komposisi (80gr : 20gr) dan penahanan suhu selama 20 meni
Dewatering Batubara Jorong, Kalimantan Selatan Dengan Menggunakan Minyak Goreng Bekas Dan Minyak Tanah
Potensi sumber daya batubara di Indonesia sangat melimpah. Namun, cadangan batubara tersebut pada umumnya termasuk batubara peringkat rendah dengan kadar air yang tinggi. Untuk mengatasi kadar air, salah satu teknologi yang telah dikembangkan saat ini ialah slurry dewatering yaitu pemanasan dengan menambahkan zat aditif berupa minyak residu. Proses slurry dewatering dilakukan dengan mencampurkan batubara ukuran 35 mesh seberat 100 gr ke dalam minyak goreng bekas, dan minyak tanah pada perbandingan berat sebesar 1 : 1 : 1 , 1 : 1 : 0,5 ,dan 1 : 0,5 : 0,5. Campuran dipanaskan pada suhu 120oC, 130oC, 140oC, 150oC, dan 160oC. Selanjutnya dilakukan pengadukan dengan kecepatan putaran 500 rpm dengan waktu 1,5 jam. Hasil slurry setelah proses dimasukan ke dalam centrifuge untuk memisahkan cairan dengan padatannya. Kemudian setelah didapatkan hasil optimal dilakukan percobaan kembali pada suhu 170oC dan 180oC. Hasil penelitian paling optimum didapatkan pada perbandingan 1 : 1 : 1 dan suhu operasi 160oC. Hasil analisa awal kadar air batubara sebesar 13,09 % dan nilai kalor sebesar 5554,36 kal/g lalu diperoleh hasil analisis akhir penelitian kadar air batubara sebesar 0,61 % dengan nilai kalor 7391,09 kal/gr. Data menunjukan penurunan kadar air batubara Jorong, Kalimantan Selatan mecapai 95,34% dan kenaikan nilai kalori sebesar 24,85%
Pengembangan Pemanfaatan Pengolahan Air Dalam Upaya Pemenuhan Kebutuhan Air di Dusun Temuireng, Desa Girisuko, Panggang, Gunungkidul
Air merupakan kebutuhan penting bagi hajat hidup warga di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Temuireng merupakan salah satu desa di kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung kidul, yang kebutuhan airnya masih jauh dari cukup. Di desa ini terdapat 269 kepala keluarga dengan rata-rata 4 jiwa di setiap kepala keluarga, sehingga terdapat kurang lebih 1076 jiwa yang kebutuhan airnya masih belum terpenuhi. Air untuk suplai ke desa ini terkendala oleh kemampuan pemompaan dan kualitas air baku. Kualitas air baku dimusim curah hujan tinggi yang berasal dari Baron maupun gua Ngobaran masih mengandung bakteri E-Coli 9000 per 100 ml sedang total bakteri Coliform 28000 per 100 ml. Dari analisa air dimusim curah hujan sedang total coliform 4000 per 100 ml, dan analisa air dimusim curah hujan rendah (kemarau) total coliform berkisar 400 per 100 ml. Dari persyaratan maksimum 50 per 100 ml. Material terjerap dalam media karst saling berkaitan, antara bahan organik (parameter coliform) dan anorganik (parameter TDS). Dengan proses pengolahan secara laboratorium yang melibatkan proses flokulasi, sedimentasi, untuk dosis tawas, PAC dan biji Kelor sebesar 0,5 – 1 ppm mampu menurunkan TDS dari kisaran 262-288 ppm menjadi dibawah 200 ppm, dan jika dilanjutkan dengan filtrasi dengan media filter zeolit mampu menurunkan TDS hingga dibawah 180 ppm dalam waktu pengendapan 30 menit. Dan untuk dosis kelor jika dilanjutkan dengan perlakuan filter karbon mampu menurunkan TDS hingga dibawah 160 ppm dalam waktu filtrasi 30-60 menit. Sedang untuk proses olahan dengan destilasi percik tenaga surya, dimungkinkan terjadi penurunan TDS maupun coliform namun diperlukan intensitas sinar matahari yang cukup tinggi untuk proses penguapan.ABSTRACT: Water is an important resource for the people in Gunung Kidul Regency, Special Region of Yogyakarta, Indonesia. Water scarcity is one of big issue in Temuireng, one of panggang’s district in the Gunung Kidul regency. There is 269 family living in this villge and every family consist of four person so there are approximately 1076 person who need the clean water. The clean water supply for this village constrained by pump power and raw water quality. Raw water quality in rainy season (high rainfall intensity) contains of E-Coli 9000 per 100 ml and total Coliform bacteri 28000 per 100 ml. Raw water quality in medium rainfall intensity season contains of total Coliform 4000 per 100 ml and raw water quality in summer season (low rainfall intensity) contains of total Coliform 400 per 100 ml, from maximum regulation 50 per 100 ml. Material absorbed in karst include organic (coliform parameter) and anorganic (TDS parameter), which related in each other, can contaminate the water. Flocculation and sedimentation using 0.5-1 ppm doses of alum, PAC and kelor are performed to purify the water. The coagulant can decrease TDS parameter from 262-288 ppm to under 200 ppm, and if this process continued with filtration (filter zeolit), it can decrease TDS parameter to under 180 ppm in 30 minute. If the process continued by filtration process (carbon filter) using kelor, it can decrease TDS parameter to under 160ppm in 30-60 minute. Using spark destilation solar energy process can decrease TDS parameter and coliform bacteria, but this process need high sunlight intensity for evaporation