JURNAL SIPIL STATIK
Not a member yet
817 research outputs found
Sort by
KINERJA GROIN TERHADAP GELOMBANG DAN PASANG SURUT DI PANTAI KALASEY KECAMATAN PINELENG KABUPATEN MINAHASA SULAWESI UTARA
Indonesia sebagai Negara kepulauan mempunnyai lebih dari 3700 pulau dan wilayah pantai sepanjang 80.000 km. Wilayah pantai ini merupakan daerah yang sangat intesif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia. Sehingg menimbulkan permasalahan yang sering kali terjadi di pantai salah satunya ialah erosi pantai. Erosi pantai sendiri terjadi secara alami karena gelombang atau karena adanya kegiatan manusia. Groin adalah bangunan pelindung pantai berfungsi untuk menahan transpor sedimen sepanjang pantai, sehingga bisa mengurangi dan menghentikan erosi yang terjadi. Gelombang di perairan Pantai Kalasey didominasi oleh gelombang dari arah Utara dengan gelombang maksimum terjadi pada bulan Januari 2019 dengan tinggi 9,731 m dan periode 5,057 det.Tinggi gelombang pecah yang didapatkan dari hasil perhitungan berkisar pada 1,1706 m sampai 2,1578 m pada kedalaman 1 m sampai 10 m. Tinggi gelombang pecah (Hb) = 2,1578 m, dan gelombang pecah pada kedalaman (Db) = 1,01.dan berdasarkan hasil penelitian terhadap groin eksisiting pada area pengembangan menunjukkan bahwa groin dikatakan aman terhadap gelombang yang ada sekarang. Maka, efektifitas kinerja groin dikatakan masih efektif. Kata kunci: Groin, Fetch, Karakteristik Gelombang, Pasang Surut
PERENCANAAN PEMECAH GELOMBANG (BREAKWATER) DI DAERAH PANTAI DESA SAONEK KABUPATEN RAJA AMPAT PROVINSI PAPUA BARAT
Erosi garis pantai (abrasi) merupakan merupakan salah satu masalah yang terjadi di daerah pantai. Salah satu daerah pantai yang mengalami ialah daerah pantai desa Saonek yang berada di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Untuk mengatasi erosi pihak terkait sudah melakukan pembangunan Talud namun sudah rusak,oleh karena itu diperlukan perencanaan bangunan pantai yang baru. Berdasarkan hasil analisis bangunan pemecah gelombang (breakwater) yang terbaik dalam meminimalisir masalah abrasi. Maka perlu adanya perhitungan pemecah gelombang pada daerah tersebut. Dalam perencanaan pemecah gelombang diperlukan data-data seperti data gelombang angin, pasang surut, transport sedimen serta peta bathimetri, data-data ini kemudian di analisis. Setelah di analisis dapat direncanakan pemecah gelombang dengan tipe sisi miring yang dipilih serta material dari batu pecah dan tetrapod dengan tiga alternatif kemungkinan. Dari tiga alternatif tersebut dapat ditentukan dimensi serta parameter lain di bangunan pemecah gelombang di daerah Pantai Desa Saonek. Kata Kunci: Pemecah Gelombang, Abrasi, Saone
PENGARUH SUBSTITUSI PARSIAL SEMEN DENGAN ABU AMPAS TEBU TERHADAP KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS BETON POROUS
Meningkatnya luas daerah dengan permukaan yang kedap air mengakibatkan air tidak bisa berinfiltrasi ke dalam tanah dengan baik, sehingga menimbulkan genangan air. Penggunaan beton porous merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi hal tersebut. Beton porous merupakan beton yang memiliki celah diantara agregat sehingga memiliki kemampuan untuk meloloskan air agar dapat berinfiltrasi ke dalam tanah. Abu Ampas Tebu yang berasal dari PT.PG Gorontalo merupakan limbah yang memiliki kandungan silikat. Limbah yang dihasilkan hanya dihampar di pekarangan dan tidak dimanfaatkan sehingga dapat mencemari udara karena ukurannya yang halus. Dibutuhkan pengolahan agar dapat mengurangi masalah tersebut.Penelitian ini dilakukan dengan abu ampas tebu (AAT) sebagai bahan pengganti semen dengan persentase secara berturut-turut 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% terhadap berat semen.Dengan komposisi agregat 55% agregat lolos saringan ½’’ namun tertahan saringan 3/8’’ dan 45% lolos saringan ¾’’ namun tertahan ½’’.Nilai kuat tekan optimum beton porous tercapai pada campuran beton dengan persentase AAT 10% yang berusia 28 hari yaitu 13.143 MPa. Untuk beton porous dengan permeabilitas optimum adalah beton dengan persentase AAT 0% yaitu 5.334 cm/detik.Sedangkan untuk campuran beton porous yang memliki permeabilitas yang efektif dan kuat tekan yang cukup adalah campuran dengan persentase AAT 10% yang memiliki nilai kuat tekan 13.143 MPa dan permeabilitas 3.59 cm/ detik..Kata kunci: Beton porous, kuat tekan, permeabilitas, abu ampas teb
PERCEPATAN PELAKSANAAN PROYEK DENGAN PENAMBAHAN TENAGA KERJA PADA PEMBANGUNAN RUKO DI JALAN BUKIT MORIA, TIKALA BARU
Dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi akan sering didapati kondisi dimana dibutuhkan percepatan waktu untuk pelaksanaan pekerjaannya, hal ini diyakini oleh pelaksana proyek merupakan hal yang membutuhkan pemikiran yang sulit dan penambahan biaya yang cukup besar. Dalam melakukan percapatan proyek harus direncanakan dengan baik dengan menggunakan berbagai alternatif percepatan. Salah satu alternatif yang dapat dipakai untuk melakukan percepatan proyek yaitu dengan penambahan tenaga kerja. Dalam melakukan penambahan tenaga kerja digunakan metode crashing dengan cara menambah tenaga kerja pada kegiatan – kegiatan kritis.Pada proyek pembangunan ruko Jln. Bukit Moria, Tikala Baru setelah dilakukan perhitungan menggunakan metode crashing menggunakan alternatif percepatan penambahan tenaga kerja pada kegiatan kritis, proyek dapat dipercepat 14 hari dari durasi awal yaitu 73 hari menjadi 59 hari. Kata Kunci : Percepatan, Konstruksi, Tenaga Kerja, Crashing, Microsoft Projec
PERBANDINGAN TEBAL PERKERASAN LENTUR LAPIS TAMBAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA 2013 DAN AASHTO 1993 (STUDI KASUS: JALAN NASIONAL KAIRAGI-MAPANGET DENGAN NOMOR RUAS 5000500)
Jalan merupakan prasarana transportasi yang berperan dalam peningkatan kebutuhan masyarakat. Peningkatan volume lalu lintas pada ruas jalan kairagi-mapanget diasumsikan berkisar sebesar 442.777 kendaraan menurut rpjim yang mengakibatkan tidak stabilnya tingkat pelayanan jalan, guna mengatasi masalah tersebut maka upaya yang dilakukan ialah melakukan tebal lapis tambah (overlay).Overlay merupakan tebal yang dibutuhkan suatu permukaan perkerasan dengan pengujian lendutan FWD dan BB. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana menganalisis hingga membandingkan hasil tebal lapis tambah menggunakan metode AASHTO 1993 dan Bina Marga 2013 pada perkerasan lentur menggunakan data lendutan FWD dan BB.Pada ruas jalan kairagi-mapanget dengan nomor ruas 5000500 memiliki lalu lintas harian sebesar 13825 kend/hari dengan hasil CESA metode AASHTO 1993 sebesar 429670, CESA Bina Marga 2013 sebesar 697803 CESA4, 1256046 CESA5. Data lendutan BB dan FWD yang diperoleh metode Bina Marga 2013 sebesar 0,73 dan 0,44. Modulus efektif (Ep) lapisan struktur diatas tanah dasar mempengaruhi nilai struktural efektif eksisting (SNeff)yang berhubungan dengan data FWD sedangkan pada Bina Marga 2013 data lendutan sebelum overlay mempengaruhi nilai tebal lapis tambah. Tebal overlay yang diperoleh pada perkerasan permukaan (AC-WC dan AC-BC) sebesar 12 cm pada AASHTO 1993 dan 10,9 cm pada Bina Marga 2013. Sehingga pada penelitian ini pengaruh lalu lintas memiliki persentase yang besar dalam perencanaan tebal lapis tambah. Kata Kunci: Tebal lapis tambah, Perkerasan Lentur, CESA, AASHTO 1993, Bina Marga 2013
PENGUJIAN KUAT TARIK BELAH BETON GEOPOLIMER DENGAN PENAMBAHAN SEMEN PUTIH PADA PERAWATAN TEMPERATUR RUANGAN
Beton geopolimer adalah beton yang tidak menggunakan semen portland dalam campurannya. Beton geopolimer adalah suatu material yang relatif baru dikembangkan yang mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan beton konvensional yang menggunakan semen portland. Pada beton geopolimer unsur-unsur yang mengikat agregat kasar dan agregat halus terdapat pada silica dan alumina pada fly ash yang beraksi dengan carian alkali sehingga membentuk pasta geopolimer. Untuk mendukung terjadinya pengikatan, perawatan beton geopolimer dilakukan dengan perawatan temperature, 60˚C atau 90˚C.Pada penelitian ini meskipun beton geopolimer tidak menggunakan semen portland sebagai bahan pengikat, maka dalam penelitian ini dilakukan penambahan semen dengan jenis semen portland putih pada beton geopolimer dengan variasi penambahan semen putih 0%, 5%, 10% dan 15% dan untuk mendukung terjadinya pengikatan, perawatan beton geopolimer dilakukan dengan perawatan temperature ruangan. Menggunakan benda uji silinder 10/20cm dan umur pengujian 7 hari dan 28 hari.Hasil penelitian nilai kuat tarik belah beton geopolimer mengalami kenaikan hingga 11,77% dari umur beton 7 hari ke 28 hari, dengan kekuatan berkisar 1,97-2,24 MPa untuk umur 7 hari dan 2,03-2,5 MPa untuk umur 28 hari pada perawatan temperature ruangan. Pada temperatr tinggi nilai kuat tarik belah naik signifikan berkisar 2,78-3,103 MPa umur beton 7 hari dan 2,82-3,21 MPa untuk umur 28 hari dengan perawatan curing time 24 jam 90˚C. Kata Kunci : Beton Geopolimer, Semen Putih, Kuat Tarik Belah, Temperatur Ruan
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI PEKERJAAN PASANGAN BATU BATA DAN PEKERJAAN LANTAI PADA PROYEK PEMBANGUNAN PERUMAHAN CITRA REGENCY MINAHASA UTARA
Banyaknya proyek berskala besar yang dibangun oleh pemerintah, swasta maupun yang berasal dari perusahaan negara lain mengindikasikan bahwa Indonesia saat ini telah berada pada tahap perkembangan bidang konstruksi yang cukup signifikan. Dalam suatu pelaksanaan proyek konstruksi, terdapat serangkaian aktivitas yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat dan aman sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi, sehingga target waktu, biaya dan mutu sebagaimana ditetapkan dapat tercapai. Perumahan berada dan merupakan bagian dari permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Pembangunan perumahan diyakini mampu meningkatkan perekonomian dan mendorong lebih dari seratus macam kegiatan industri yang berkaitan dengan bidang perumahan dan permukiman. Pasangan batu bata merupakan susunan batu bata yang teratur dalam arah memanjang/mendatar yang direkatkan oleh spesi dengan perbandingan campuran tertentu. Fungsi utama pasangan batu bata utamanya sebagai dinding penyekat bangunan. Lantai merupakan bagian dasar sebuah ruang, yang memiliki peran penting untuk memperkuat eksistensi obyek yang berada di dalam ruang. Fungsi lantai secara umum adalah menunjang aktivitas dalam ruang dan membentuk karakter ruang. Dilihat dari sisi struktur, beban yang diterima oleh lantai kadang cukup besar. Dengan demikian lantai memiliki peran penting mendukung beban-beban langsung dari barang-barang dan aktivitas di atasnya. Kata Kunci : Pelaksanaan Proyek konstruksi, Perumahan, Pasangan Batu Bata, Lanta
ANALISIS KARAKTERISTIK GELOMBANG DI PANTAI MOINIT AMURANG, MINAHASA SELATAN
Pantai Moinit, berada di Desa Tewasen, Kecamatan Amurang Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, dan berada pada posisi 10 11’ 07.1” LU dan 1240 29’ 25.5” BT di Teluk Amurang. Daerah pantai ini merupakan salah satu lokasi pariwisata yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi, pada bulan tertentu terjadi gelombang yang cukup besar sehingga mengakibatkan mundurnya garis pantai yang berdampak pada lokasi tempat berjualan masyarakat setempat. Dimana pada bulan tertentu lokasi berjualan mereka digenangi air laut akibat dari gelombang yang cukup besar. Dengan masalah yang ada, maka dalam penataan serta pengembangan lokasi pariwisata didaerah tersebut maka diperlukan penelitian mengenai karakteristik gelombang yang terjadi di Pantai Moinit, sehingga informasi tentang karakteristik gelombang dapat digunakan untuk menangani masalah mundurnya garis pantai pada Pantai Moinit.
Dalam penelitian ini dilakukan survey lokasi penelitian, pendekatan teori, peramalan gelombang dan analisis transformasi gelombang yang terjadi di Daerah Pantai Moinit Amurang. Peramalan gelombang dihitung dengan metode hindcasting gelombang berdasarkan data angin selama 10 tahun dari Web Penyedia Data Klimatologi (ECMWF) untuk mendapatkan tinggi dan periode gelombang yang terjadi di pantai tersebut.
Dari hasil perhitungan tinggi dan periode gelombang di Daerah Pantai Moinit Amurang didominasi oleh gelombang arah Barat Barat Laut (WNW) dengan gelombang maksimum terjadi pada bulan Februari 2017 dengan tinggi gelombang (H) = 1.303 m dan periode (T) = 4.353 detik. Koefisien refraksi (Kr) bekisar antara 0.9866 sampai 0.9981 dan koefisien shoaling (Ks) bekisar antara 0.9131 sampai 1.2241. Tinggi gelombang pecah yang didapat dari hasil perhitungan adalah 0.9660 m sampai 1.2532 m pada kedalaman 0.5 m sampai 10 m
Kata kunci: Pantai Moinit, Karakteristik Gelombang, Refraksi, Shoaling, Gelombang Peca
PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI KELURAHAN TARATARA 3 KECAMATAN TOMOHON BARAT KOTA TOMOHON
Air adalah salah satu kebutuhan yang terpenting dari makhluk hidup yang ada di bumi ini. Mata air Po’poh adalah mata air yang berada di Kelurahan Taratara 3, akan tetapi masyarakat setempat belum mengelolah system jaringan air bersih dengan baik juga menyeluruh. Oleh karena itu diperlukan perencanaan untuk system penyediaan air bersih di Kelurahan Taratara 3. Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam mendisign system penyediaan air bersih, seperti studi lapangan dan literature. Sistem penyediaan air bersih direncanakan dapat memenuhi kebutuhan air bersih di Kelurahan Taratara 3 sampai tahun 2030. Kebutuhan air bersih dihitung berdasarkan proyeksi jumlah penduduk dengan menggunakan analisis regresi linear karena memiliki nilai r (koefisien korelasi) yang paling mendekati 1. Debit mata air sebesar 2,027 lt/det. Dari hasil perhitungan, prediksi jumlah penduduk Kelurahan Taratara 3 berjumlah 1873 jiwa pada tahun 2030, dan untuk kebutuhan air bersih mencapai 1,559 lt/det. Perencanaan sistem penyediaan air bersih yaitu menampung air dari mata air yang terletak di Kelurahan Taratara 3, kemudian dengan menggunakan pompa air akan dinaikkan ke reservoir distribusi, selanjutnya dari reservoir distribusi air akan didistribusikan ke penduduk melalui 19 Hidran Umum dengan sistem gravitasi. Jenis pipa yang digunakan adalah pipa HDPE. Untuk mendesain sistem penyediaan air bersih perpipaan menggunakan software Epanet 2.0. Secara umum, komponen sistem distribusi yang direncanakan mampu untuk melayani kebutuhan masyarakat.
Kata kunci: Air Bersih, Kelurahan Taratara 3, Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih, Regresi Linea
ANALISA PERBANDINGAN DESAIN LAPIS TAMBAH (OVERLAY) PERKERASAN LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA 2017 DAN AASHTO 1993 (STUDI KASUS : RUAS JALAN YOS SUDARSO MANADO, NOMOR RUAS JALAN 5000411)
Meningkatnya jumlah kendaraan setiap tahunnya baik dari segi jumlah serta kapasitas beban yang diangkut pada diruas jalan Yos Sudarso Manado, mengakibatkan konstruksi perkerasan jalan mengalami penurunan tingkat pelayanannya yaitu ditandai dengan terjadinya kerusakan pada lapisan perkerasan jalan. Jika hal tersebut dibiarkan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka akan dapat memperburuk kondisi lapisan perkerasan tersebut .Oleh karena itu dibutuhkan suatu tindakan pemeliharaan atau penambahan kekuatan jalan tersebut lewat pelapisan ulang (overlay) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja serta menghindari kerusakan yang lebih serius pada jalan tersebut.Penelitian ini dilakukan pada ruas Jalan Yos Sudarso Manado yang bertujuan membandingkan desain tebal overlay dengan  menggunakan    metode Bina Marga 2017 dan metode AASHTO 1993 yang dititik beratkan pada perbandingan konsep, parameter, prosedur dan hasil desain dengan menggunakan data lendutan Falling Weight Deflectometer (FWD) yang diperoleh dari survei tahunan Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Sulawesi UtaraHasil penellitian diperoleh untuk metode Bina Marga 2017 menghasilkan tebal overlay sebesar 6 cm dengan design traffic sebesar 4.601.105, sedangkan metode AASHTO 1993 menghasilkan tebal overlay sebesar 8,5 cm dengan design traffic sebesar 3.810.352,823. Perbedaan ini disebabkan karena konsep desain pada metode Bina Marga 2017 adalah metode mekanistik empiris, sedangkan metode AASHTO  1993 menggunakan metode empiris. Prosedur desain pada Bina  Marga 2017 yaitu dengan menggunakan grafik berdasarkan nilai CESA dan  nilai lendutan wakil, sedangkan untuk AASHTO 1993 menggunakan nilai MR tanah dasar, nilai Ep, nilai SNeff dan SNf . Kata Kunci: AASHTO 1993, Bina Marga 2017, Falling Weight Deflectometer (FWD), Overla