JURNAL SIPIL STATIK
Not a member yet
817 research outputs found
Sort by
ANALISIS KINERJA JALUR PEDESTRIAN KAWASAN PERTOKOAN PASAR 45 (STUDI KASUS: JL. WALANDA MARAMIS DAN JL. DOTULOLONG LASUT)
Pedestrian adalah seluruh bangunan lengkap yang disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan pelayanan demi kelancaran, keamanan dan kenyamanan, serta keselamatan bagi pejalan kaki. Untuk mengetahui tingkat kenyamanan pejalan kaki terhadap jalur pedestrian perlu adanya perbandingan antara kondisi eksisting jalur pedestrian dengan harapan dan keinginan pejalan kaki pedestrian. Jl. Walanda Maramis khususnya ruas segmen Toko Golden sampai Toko Cahaya Indah Mas dan ruas segmen Toko Glory sampai toko sepatu Bata, dan Jl. Dotulolong Lasut khususnya dari ruas segmen Toko Sepatu Bata sampai Toko Sinar Wenang dan ruas segmen Toko Murni Abadi sampai Toko Metro Elektro terbilang tidak kondusif. Karena banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang menempati trotoar untuk berjualan disepanjang ruas jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pelayanan (Level Of Service) jalur pedestrian serta tingkat kepuasan pejalan kaki terhadap fasilitas jalur pedestrian.Penelitian ini menggunakan metode HCM (Highway Capacity Manual )2000 untuk mengetahui tingkat pelayanan (Level Of Service) pedestrian dengan 5 titik lokasi pengamatan. Kemudian menggunakan metode kuadran IPA (Importance Performance Analysis) dengan mengambil data pada pejalan kaki menggunakan kuisioner.Hasil penelitian dan analisa di lokasi selama 7 hari, berdasarkan kondisi eksisting lokasi mempunyai rata-rata tingkat pelayanan A berdasarkan arus. Tingkat Pelayanan berdasarkan ruang L1, L2, dan L5 mempunyai tingkat pelayanan A, L3 dan L4 mempunyai tingkat pelayanan B. Berdasarkan ratio tingkat pelayanan rata-rata B, Sedangkan berdasarkan kecepatan rata-rata tingkat pelayanan di trotoar tersebut mempunyai rata-rata di bawah tingkat pelayan yaitu E dan tinglat pelayanan C berdasarkan efek platoon.Untuk tingkat kepuasan pejalan kaki terhadap tingkat pelayanan (Level Of Service) pedestrian yang masih menjadi prioritas utama adalah larangan bagi pedagang kaki lima, tersedianya jalur penyandang cacat dan larangan parkir ditrotoar untuk Jl. Dotulolong Lasut.  Kata Kunci: Pedestrian, Tingkat Pelayanan LOS, Tingkat Kepuasan Pejalan Kak
PENGARUH PENERAPAN ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA KONSTRUKSI GEDUNG BERTINGKAT PEMBANGUNAN GEDUNG PENDIDIKAN FPIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI
Sekarang ini perkembangan konstruksi di Kota Manado sangat berkembang ditandai oleh banyaknya proyek konstruksi pada umumnya hal posistif ini terlihat dengan adanya peningkatan pembagunan sarana infrastruktur, sehingga memberi peluang terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat karena dari sektor inilah banyak tenaga kerja yang dapat diserap Keberhasilan proyek tidak hanya diukur dengan tercapainya target waktu dan kualitas proyek,tapi juga dengan tidak terjadinya kecelakaan (zero accident) dalam pelaksanaan proyek. Hasil analisa produktivitas tenaga kerja 1 Tukang dan 2 pekerja untuk pekerjaan plesteran dinding dengan tebal dinding 2,0 cm,  yang tidak memakai APD 6,2m dan memakai APD 6,5m Nilai Produktivitas acian yang tidak memakai APD 6,6m dan yang menggunakan APD 6,9m Dari hasil perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa  dengan menggunakan APD nilai produktivitas tenaga kerja meningkat karena Para pekerja merasa  aman dalam mengerjakan pekerjaan. Kata kunci: Keselamatan dan Kesehatan Kerja, APD, Produktivitas Tenaga Kerja, Konstruks
EVALUASI GEOMETRIK PADA RUAS JALAN MANADO – TOMOHON km 8 – km 10
Ruas jalan raya Manado - Tomohon merupakan jalan penghubung antar kota Manado dengan kota Tomohon maupun daerah-daerah yang dilewati oleh jalur jalan ini. Kondisi geometrik pada ruas jalan ini menurut pengamatan visual peneliti, belum memenuhi standar geometrik jalan untuk jalan arteri dengan kecepatan 60 km/jam-80 km/jam, dikarenakan banyaknya tikungan yang memiliki radius kecil, serta jarak antar tikungan yang berdekatan sehingga perlu untuk dilakukan perbaikan geometrik.Untuk memperoleh data kondisi geometrik lapangan maka dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur theodolite dan GPS, data yang diperoleh dari pengukuran yaitu data koordinat dan data elevasi. selanjutnya data hasil pengukuran tersebut diolah menggunakan Microsoft exel untuk digambarkan dalam program autocad land development 2009, dari hasil penggambaran tersebut, dilakukan analisa geometriknya.Lokasi yang ditinjau berada pada km 8 – km 10 dimana terdapat 20 tikungan, 16 diantaranya tidak memenuhi syarat jari-jari minimum yang dianjurkan Bina Marga untuk jalan arteri dengan kecepatan rencana 60 km/jam – 80 km/jam yaitu 110 m (Tata cara perencanaan geometrik jalan antar kota, 1997), serta parameter-prameter lain seperti jarak antar lengkung, superelevasi, jarak pandang serta kelandaian yang masih belum memenuhi syarat. Hasil desain ulang menghasilkan trase jalan sepanjang 1642,2 m, dengan 6 lengkung horizontal dan 5 lengkung vertikal. Kata kunci: Geometrik, Lengkung Horizontal, Lengkung Vertikal, Jalan Arter
PENATAAN DRAINASE DI JALAN WELONG ABADI KELURAHAN MALENDENG KOTA MANADO
Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya genangan di beberapa titik lokasi kawasan perumahan Jl. Welong Abadi kelurahan Malendeng. Saluran dengan dimensi yang tidak sesuai dan terdapat adanya pendangkalan serta penyumbatan saluran akibat sedimen, mengakibatkan debit yang timbul tidak mampu untuk dilewati seutuhnya. Hal ini membuat konstruksi jalan tidak terlihat baik.Penataan sistem drainase pada lokasi ini bertujuan untuk merencanakan kapasitas dimensi saluran yang sesuai dan juga menambahkan beberapa ruas saluran baru dengan mempertahankan sistem yang ada. Analisis yang dilakukan meliputi analisis hidrologi dengan jenis sebaran data distribusi normal untuk mendapatkan hasil akhir yaitu debit rencana dengan persamaan rasional. Analisis hidraulika dengan menggunakan persamaan Manning, bertujuan untuk mendapatkan kapasitas saluran yang sesuai dengan melihat kapasitas saluran eksisting dan menambahkan saluran baru dengan perbandingan QDimensi ≥ Qrencana.Berdasarkan hasil analisis dari lima puluh ruas saluran eksisting terdapat lima belas ruas saluran yang tidak mampu mengalirkan seluruh debit yang ada sehingga dilakukan perubahan dimensi. Diperlukan penambahan tujuh ruas saluran baru sehingga dapat membantu mengalirkan debit pada saluran di lokasi Jl. Welong Abadi kawasan perumahan Welong Abadi kelurahan Malendeng kota Manado.Kata kunci: Genangan, Kapasitas Dimensi Saluran, Debit rencana, Sistem Drainas
PENGARUH PENGGUNAAN AGREGAT KASAR DAN HALUS YANG BERBEDA SIFAT FISIK DAN MEKANIK TERHADAP CAMPURAN ASPAL PANAS MODIFIKASI
Proses pembuatan lapis perkerasan jalan dengan Campuran Beraspal Panas, dapat saja terjadi kemungkinan penggunaan agregat kasar dan agregat halus yang berbeda lokasi sumbernya, sehingga sifat fisik dan mekaniknya juga berbeda. Hal ini bisa terjadi akibat ketersediaan material yang terbatas disuatu lokasi, namun dapat disupply dari lokasi lainnya. Sehubungan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat lebih menggalakkan pembuatan Campuran Beraspal Panas yang menggunakan hasil olahan Aspal Buton, dalam Spesifikasi Teknik Tahun 2010 Revisi 3 disebut Campuran Beraspal Panas Modifikasi. Persyaratan campuran ini sedikit berbeda yang terlihat pada nilai stabilitas, juga tingkat keausan (abrasi) bahan agregat pada Campuran Aspal Panas Modifikasi disyaratkan ≤30% (pada Campuran Aspal biasa abrasi <40%). Penelitian ini menggunakan aspal Buton Retona Blend yang diproduksi oleh PT. Olah Bumi. Material yang digunakan adalah material yang berbeda sifat fisik (Berat Jenis dan Penyerapan agregat) dan mekaniknya (Abrasi Agregat, dalam hal ini material akan dipilih dari beberapa lokasi dengan cara memeriksanya. Hasil pemeriksaan dari Lokasi Lansot yang mewakili pemeriksaan sifat fisik dan mekanik agregat yang baik, didapatkan nilai abrasi=19%, kadar aspal terbaik untuk campuran agregat ini adalah 5,5%, hasil pengujian Marshall ; Stabilitas=1344Kg, Flow=3.59mm, VIM=3,75%, dan density=2.40Kg/m³, dan untuk hasil pemeriksaan agregat yang mewakili pemeriksaan sifat fisik yang kurang baik, diambil dari Lokasi Kakaskasen nilai abrasi 39%. Untuk sifat mekanik dari campuran agregat gabungan (agregat kasar dan agregat sedang dari Lokasi Lansot dan Abu batu dari Kakaskasen), kadar aspal terbaiknya  adalah 5,7%, hasil pengujian Marshall ; Stabilitas=1155Kg, Flow=3.48mm, VIM=5.34%, dan density=2.23Kg/m³.Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan material/agregat yang memiliki sifat fisik dan mekanik yang baik sangat berpengaruh pada kadar aspal optimum dan kriteria Marshall Campuran AC-Modifikasi. Namun jika ketersediaan material/agregat halus disuatu lokasi tidak cukup maka dapat menggunakan material/agregat halus dari lokasi berbeda walaupun hasil abrasi dari lokasi tersebut lebih dari >30%Kata Kunci:  Sifat Fisik Agregat, Sifat Mekanik Agregat, Abrasi (keausan), Campuran Beraspal Panas Modifikas
OPTIMASI BIAYA UNTUK PENGADAAN MATERIAL DENGAN METODE APROKSIMASI VOGEL DAN STEPPING-STONE PADA PENINGKATAN KUALITAS RUSUNAWA BITUNG 1 KOTA BITUNG
Dalam pelaksanaan satu kegiatan proyek, salah satu sumber daya yang penting adalah sumber daya biaya. Untuk itu pemanfaatan biaya proyek harus seefisien mungkin. Biaya material merupakan suatu komponen biaya yang harus diperhatikan, karena biaya material sangat mempengaruhi biaya proyek keseluruhan. Masalah yang sering timbul menyangkut biaya material proyek adalah pendistribusian material yang tidak efisien. Karena itu diperlukan suatu metode yang dapat memecahkan masalah pendistribusian material.Metode Aproksimasi Vogel merupakan solusi awal dan metode Stepping Stone sebagai solusi akhir, merupakan salah satu alternatif pemecah masalah transportasi. Metode ini digunakan untuk mengatur distribusi material dari sumber-sumber material ke lokasi proyek yang membutuhkan, sehingga akan didapat biaya transportasi material yang optimum.Dari hasil perhitungan biaya pasir ke lokasi proyek menggunakan metode Aproksimasi Vogel sebagai metode solusi awal sebesar Rp. 139.249.769, dan biaya batu pecah ke lokasi proyek menggunakan metode Aproksimasi Vogel sebagai solusi awal sebesar Rp 128.035.972. Metode Stepping Stone tidak dapat digunakan dalam perhitungan ini karena tidak ada sel yang kosong. Kata kunci: Distribusi Material, Aproksimasi Vogel, Stepping Ston
TINJAUAN TERHADAP DESAIN REKLAMASI KOTA SORONG PROVINSI PAPUA BARAT
Kota Sorong merupakan kota industri, perdagangan dan jasa, karena Kota Sorong dikelilingi oleh kabupaten lain yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Dengan meningkatnya perekonomian, dilakukan reklamasi pada kota sorong adalah suatu usaha memanfaatkan kawasan yang relatif tidak berguna atau masih kosong dan berair menjadi lahan berguna. Reklamasi pantai juga memberikan keuntungan dan dapat membantu kota dalam rangka penyediaan lahan untuk berbagai keperluan (pemekaran kota), penataan daerah pantai, pengembangan wisata bahari, dan lain-lain. Dalam penelitian ini dilakukan analisis dengan metode hindcasting gelombang dengan menggunakan data angin 10 tahun terakhir dari BMKG sorong untuk mendapatkan tinggi dan periode gelombang serta perhitungan, run-up, overtopping gelombang, dan kontrol stabilitas terhadap desain reklamasi. Berdasarkan hasil penelitian terhadap tinjauan desain reklamasi dikatakan tidak aman terhadap gelombang yang mengakibatkan overtopping dan dari perhitungan terhadap stabilitas batu pelindung terdapat perbedaan dari jumlah lapisan pada hasil yang di desain dan yang sudah ada (existing). Kata kunci : Kota Sorong, Reklamasi, Run-Up, Overtopping, Stabilitas Batu Pelindun
STUDI MENGENAI PENGARUH PENEMPATAN DAN LUASAN VOID TERHADAP STRUKTUR BANGUNAN TAHAN GEMPA YANG MEMILIKI DINDING GESER SIMETRIS
Penempatan dan luasan void pada struktur bangunan dapat membuat struktur menjadi tidak simetris terhadap pusat massanya dan menimbulkan efek torsional, serta mempengaruhi simpangan, sehingga perlu dilakukan studi mengenai penempatan dan luasan void terhadap perilaku struktur terlebih pada struktur bangunan tahan gempa yang memiliki dinding geser simetris. Penelitian parametrik dilakukan pada model struktur bangunan 10 lantai dengan dinding geser simetris dan diberikan variasi luasan dan posisi void yang seragam dari lantai 1 sampai dengan lantai 9 untuk dianalisis. Evaluasi dilakukan terhadap periode struktur dan perilaku struktur yang meliputi simpangan struktur dan efek torsional struktur. Hasil analisis dan evaluasi memperlihatkan bahwa penempatan void yang tidak simetris pada struktur bangunan dapat menyebabkan efek torsional pada struktur dan mempengaruhi simpangan struktur. Untuk mengurangi efek torsional yang terjadi, sebaiknya model void ditempatkan pada titik pusat massa. Luasan void memberikan pengaruh yang lebih terlihat pada simpangan struktur, dimana semakin besar void semakin kecil simpangan dan juga mempengaruhi ragam gerak struktur. Semakin besar void semakin kecil periodenya.   Kata kunci: Void, Dinding Geser, Simpangan, Efek Torsional, Periode Struktu
PERBANDINGAN KRITERIA MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL PANAS (AC-WC) YANG MENGGUNAKAN ASBUTON MODIFIKASI (RETONA BLEND) DENGAN ASPAL PENETRASI 60/70 (Studi Kasus: Penggunaan Material Agregat Dari Kema Sulawesi Utara)
Aspal Batu Buton (disingkat Asbuton) telah diolah secara pabrikasi dan salah satu produk dikenal dengan Retona Blend oleh PT Olah Bumi Mandiri sebagai produsen. Setelah melalui proses penelitian di Litbang Jalan kemudian oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia telah menganjurkan melalui Spesifikasi Teknik Jalan Tahun 2010 Revisi 3 untuk memanfaatkan produk hasil olahan Asbuton tersebut sebagai salah satu alternatif pengganti aspal panas penetrasi 60/70 atau 80/100 yang sudah sering digunakan sebelumnya. Jenis campuran yang menggunakan hasil olahan Asbuton dikenal dengan Campuran Beraspal Panas Modifikasi (Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 3) disyaratkan nilai abrasi agregat kasarnya ≤ 30%. Di Sulawesi Utara salah satu lokasi sumber agregat yang memenuhi syarat tersebut adalah dari Kema di Kabupaten Minahasa Utara; dan selanjutnya, karena metode Marshall masih digunakan sampai saat ini untuk mengukur kinerja campuran, maka akan dilakukan penelitian terhadap Campuran Beraspal Panas dengan penggunaan agregat dari lokasi sumber Kema yang sebelumnya secara umum hanya menggunakan aspal penetrasi 60/70 sebagai bahan pengikat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan kriteria Marshall campuran beraspal panas dengan agregat dari lokasi sumber yang sama (Kema) dan diatur dilaboratorium sehingga memiliki parameter komposisi campuran yang sama sebagai bahan pengisi, tetapi menggunakan bahan pengikat yang berbeda yakni yang satu menggunakan Retona Blend dan lainnya menggunakan aspal penetrasi 60/70.Proses penelitian dimulai dengan pemeriksaan material, kemudian dibuat rancangan campuran berdasarkan komposisi agregat sesuai dengan persyaratan gradasi LASTON (Asphalt Concrete - Wearing Course) disingkat AC-WC dan dicari kadar aspal perkiraan dibuat benda uji Marshall. Dari perkiraan kadar aspal ditetapkan dahulu menggunakan Retona Blend sebagai bahan pengikat dan dibuat benda uji Marshall dengan 5 varisai kadar aspal. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian Marshall sehingga diperoleh kriteria Marshall campuran tersebut. Selanjutnya dibuat rancangan komposisi campuran menggunakan aspal penetrasi 60/70 dengan proses yang sama.Hasil penelitian menunjukkan pada campuran yang menggunakan aspal buton modifikasi jenis Retona Blend didapat kadar aspal terbaik 6.45% diperoleh nilai Stabilitas 1669 Kg, Flow 3,43 mm, Ratio Filler-Bitumen Effective = 1,25, VIM = 4,715 %, VMA = 15.13%, VFB = 68.84% dan Density 2,387 grn/cm3 Kemudian untuk campuran yang menggunakan aspal penetrasi 60/70 diperoleh kadar aspal terbaik sebesar 6.40% dan nilai Stabilitas = 1624 kg, Flow =3,50 mm, Ratio Filler/Bitumen Effektive = 1,30, VIM = 4,726%, VMA = 15.26%, VFB = 69.02% dan Density = 2,386 gr/cm3. Semua besaran nilai kriteria Marshall yang didapat, memenuhi batas-batas Spesifikasi Teknik Bina Marga. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa Campuran Beton Aspal Modifikasi atau yang menggunakan Retona Blend sebagai bahan pengikat menunjukkan kinerja yang lebih baik ditinjau dari stabilitas dibandingkan dengan Campuran Beton Aspal yang menggunakan aspal penetrasi 60/70. Dengan demikian disarankan jika menghendaki mutu lapis perkerasan campuran aspal panas dengan kinerja yang relatif lebih baik untuk jenis campuran AC-WC, disarankan untuk menggunakan Retona Blend sebagai bahan pengikat. Kata Kunci : AC-WC Modifikasi, Retona Blend, Aspal Penetrasi 60/70, Kriteria Marsha
PEMERIKSAAN KUAT TARIK BELAH BETON SERAT KAWAT BENDRAT DENGAN VARIASI SUDUT TEKUK PADA KEDUA UJUNGNYA
Beton merupakan bahan konstruksi masyarakat modern dan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pembuatan elemen struktur. Disamping mempunyai kelebihan, beton juga mempunyai kelemahan yaitu kuat tarik yang rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan kuat tarik beton adalah dengan menambahkan serat-serat pada adukan beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat kawat bendrat dengan variasi sudut tekuk pada kedua ujungnya terhadap kuat tekan dan kuat tarik belah beton. Panjang serat kawat bendrat total masing-masing 60 mm dengan 3 variasi sudut (0â°,45â°,90â°). Untuk panjang kawat bendrat (0â°) adalah 60 mm, sedangkan untuk panjang kawat bendrat sudut tekuk (45â° dan 90â°) adalah 40 mm lurus dari tengah kawat bendrat dan tekukan pada kiri kanan kawat bendrat adalah 10 mm. Serat kawat bendrat berdiameter ± 1 mm. Persentase penggunaan bahan tambah serat kawat bendrat dengan variasi sudut tekuk pada kedua ujungnya: 0,00%, 0,25%, 0,50%, 0,75% dan 1,00% dari berat total benda uji silinder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adanya penambahan serat kawat bendrat dengan variasi sudut tekuk pada kedua ujungnya (45â° dan 90â°) tidak berpengaruh secara signifikan pada nilai kuat tekan dan nilai kuat tarik belah beton, akan tetapi pada sudut 0â° mengalami peningkatan secara signifikan pada nilai kuat tekan. Semua variasi sudut, hasil persentase optimal penambahan serat kawat bendrat dengan variasi sudut tekuk pada kedua ujungnya terhadap pemeriksaan kuat tekan dan kuat tarik belah beton didapat pada variasi sudut 0â° dengan persentase kawat bendrat sebesar 0,25% dan 0,75% dengan hasil 29,707 MPa dan 3,437 MPa. Dilihat dari beton normal, persentase peningkatan kuat tekan beton sebesar 11,429% dan kuat tarik belah beton sebesar 3,743%. Kata Kunci : Serat Kawat Bendrat, Kuat Tekan, Kuat Tarik Bela